Rabu, 15 April 2015

Runaway #5 (Finale)

0

Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur sejak semalam, hingga matahari menyapaku, yang aku tidak tahu sudah pukul berapa sekarang. Aku tidak tidur semalaman karena aku tahu bahwa gadis yang kutabrak bernama Freya dan dia adalah gadis yang dicintai tetangga baruku sekaligus lelaki yang mengisi hatiku sebulan ini. Perasaan bersalah yang sudah tertimbun hampir empat tahun ini bertambah.
Aku mendengar pintu apartemenku terbuka. Pasti Nata, dia memang memegang kunci cadangan apartemenku, dan aku yang memintanya untuk datang. Aku mendengar ada yang mengetuk pintu kamar, lalu ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu, “Ray..” dia memanggil namaku, namun aku enggan untuk bangun dari ranjang.
Aku tahu mata Nata menatapku, dia sedang menunggu. Menungguku untuk bercerita apa yang sedang terjadi pada sahabatnya. Namun, aku masih menyibukkan diriku dengan memutar-mutar cangkir berisikan teh manis hangat.
“Nat..”
“Hmm?”
“Gadis yang gue tabrak tiga tahun yang lalu, namanya Freya.” Dalam diamnya, Nata mendengarkanku, “Freya itu mantannya Yuda.”
“Yuda itu, laki-laki yang beberapa hari ini jadi topik utama obrolan kita Ray?” aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
“Gue harus gimana Nat?” air mata yang tidak bisa keluar sejak semalam akhirnya tidak bertahan. Aku merasakan tangan Nata mengelus ubun-ubun kepalaku, dia pernah bilang, dengan cara seperti ini orang yang sedang sedih akan merasakan kenyamanan.
“Bilang sama dia Ray.” Aku menatap Nata dengan mata penuh dengan air yang dihasilkan oleh mata.
“Gue nggak mau Nat. Lebih baik gue ngehindarin dia.”
“Sampe kapan? Gue yakin, perasaan bersalah lo nggak bakal ilang kalo lo belum bilang sama dia.” Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku juga tidak tahu, harus sampai kapan. “Cape Ray lari terus. Pelari jarak jauh aja ada capek nya.” Ia membalikkan tubuhku untuk menatapnya, “Ini nandain kalo udah waktunya lo harus berenti lari.” Nata ada benarnya. Aku tidak mau lagi lari. Setidaknya Yuda dan Freya harus tahu siapa aku, agar aku tidak terus membohonginya.
“Gue nggak berani Nat..” Tubuh Nata mendekap tubuhku, dan tangisku semakin kencang.
***
Aku tersenyum pada laki-laki yang berdiri didepan pintu apartemenku. Sudah seminggu aku menghindari Yuda. Tidak ingin melihatnya, dan aku juga tidak ingin dilihat olehnya. Matanya menyoroti tubuhku yang mungkin baginya terlihat tidak sehat, “Apa kabar Raya?” Ya Tuhan, aku sebenarnya merindukannya. Tapi aku tahu, ini tidak boleh.
“Mau masuk?” aku menjawabnya dengan sebuah pertanyaan yang berbeda dengan apa yang aku inginkan. Ia mengangguk. Kemudian duduk di depan tv, “Mau minum apa?” aku tahu, aku terlihat canggung didepannya tapi berusaha untuk tidak terlalu terlihat seperti itu.
“Nggak perlu. Sini duduk.” Ia menyuruhku duduk disebelahnya, aku tidak kuat lagi.
“Kebetulan. Ada yang mau saya kasih tau ke kamu.” aku menghampirinya. Sekarang atau tidak sama sekali Raya. Mau kapanpun kamu kasih tahu dia, resiko yang akan diterima akan sama. “Sebelumnya saya mau minta maaf sama kamu Yud.” Seperti biasa, wajahnya tidak berekspresi, jadi susah untukku, untuk tahu apa yang ada didalam hatinya,
“Sebenernya, saya kabur ke Bandung punya dua alasan. Salah satunya yang udah saya ceritain ke kamu..” aku menarik nafas, mempersiapkan diri memberitahu plot dari obrolan ini, “Tiga tahun yang lalu, saya menabrak seorang gadis yang menyebabkannya amnesia..” raut wajah Yuda terlihat berbeda, “…gadis itu ternyata Freya.” Yuda bangkit dari duduknya, dan meninggalkan apartemenku. Dia pergi tanpa bertanya atau menanggapi apa yang sudah kukatakan padanya. Membuat hatiku semakin sakit. Meyakinkan diriku bahwa aku harus pergi sejauh mungkin dari hadapannya.
Suara telepon genggamku terdengar, aku usap air mataku. Kulihat nomor internasional lagi, pasti Papa. “Pa.. Raya mau ke Kanada.”
***
[Yuda]
Aku memasukkan baju-bajuku ke dalam koper kecil. Aku ingin pulang ke Jakarta hari ini, karena sabtu besok adalah acara yang tidak aku ingin datangi, tapi, tidak baik juga untuk terus menghindar. Sudah lima hari sejak Raya mengaku bahwa dirinya yang menabrak Freya tiga tahun yang lalu. Awalnya aku juga tidak ingin percaya, tapi ingat kejadian saat Freya datang, ah sudahlah, aku sendiri tidak tahu perasaan yang ada dalam dadaku saat tahu kebenarannya, campur aduk. Kesal dan tidak percaya.
Aku membuka pintu, saat keluar apartemen, kulihat ada secarik kertas dibawah pintu, tertulis dari Raya. Aku tidak ingin membukanya. Kutaruh sembarang kertas itu, kemudian pergi.
***
Aku datang kerumahnya yang sudah mulai dipasangkan tenda dan beberapa kerabatnya yang mulai berdatangan. Freya memintaku datang, dia bilang, aku harus menyaksikan upacara adat siraman hari ini. aku siap, memaksakan diri untuk siap melihatnya mengenakan kebaya berwarna putih dan riasan yang tidak biasa.
Freya menghampiriku, “Makasih ya udah dateng..” aku menatap matanya, tidak aku tidak boleh seperti ini, “Temen kamu nggak diajak? Kan aku minta kamu dateng sama dia.”
“Maksud kamu Raya?” terasa sangat lama aku tidak mengucapkan namanya, Freya mengangguk. “Aku nggak akan mau kenal lagi sama dia Fre.”
“Kenapa?” freya mengerutkan keningnya.
“Ternyata dia orang yang nabrak kamu.” wajah Freya tampak terkejut, “Dia yang buat kamu amnesia, dan dia yang bikin aku kehilangan kamu.” aku tidak bisa lagi membohongi diriku yang masih menaruh perasaan pada Freya.
“Nggak sepenuhnya salah temen kamu Yud.”
“Maksud kamu Fre?” aku tidak mengerti, kenapa banyak sekali alasan yang tidak aku tahu.
“Mungkin kejadian tabrakan itu adalah kejadian yang memang tidak sengaja terjadi dan bikin aku beralasan bahwa itu adalah faktor utamanya.” Aku semakin tidak paham apa yang sedang dibicarakan Freya, bertele-tele. “Seharusnya aku udah bilang dari awal sama kamu.” sebenarnya kemana arah obrolan ini kemana, “Yud, aku sebenernya udah inget semuanya dari setahun yang lalu.”
“Maksud kamu?”
“Pas aku kecelakaan, sehari setelah kamu ngelamar aku. Aku bertengkar hebat sama Dhika…” Freya berhenti bicara, untuk apa dia bertengkar sama Dhika “…maafin aku Yud. Pas kita masih pacaran, aku sama Dhika juga pacaran.” Aku memegangi kepalaku. “Ya, aku selingkuh sama Dhika. Jadi, aku menggunakan amnesiaku, buat balikan sama Dhika. Aku selingkuh sama Dhika karena-“
“Cukup Fre!” tanpa sadar aku membentaknya, “Nggak ada lagi kita bertiga. Nggak ada lagi aku kenal kamu!” dengan segera aku pergi dari hadapannya. Tidak perduli dengan mata orang- orang yang menatap kami ditambah kondisi Freya yang menangis. Kupikir selama ini aku yang pengecut, Dhika tidak salah begitu juga dengan Freya. Kenapa begitu banyak rahasia mereka simpan. Apa salahku, kenapa mereka begitu jahat?
***
Berulang kali aku memencet bel pintu apartemen Raya. Namun tidak ada jawaban darinya. Mungkin dia tidak mau bertemu lagi denganku. Terakhir kali aku bertemu dengannya aku tidak mengucapkan kata apapun padanya, bahkan menatapnya lagi saja tidak. Aku tahu aku salah karena sudah melimpahkan semua kesalahan padanya, dia memang bersalah, tapi seperti kata Freya, hubungan Freya dan Dhika bukan sepenuhnya salah Raya.
Aku ingin menemuinya, meminta maaf padanya. Aku ingat ada secarik kertas dari Raya yang ia tinggalkan di bawah pintu apartemenku. Tapi, lupa kutaruh dimana. Hingga aku melihat benda tipis berwarna putih terselip di rak sepatuku. Perlahan kubuka,

Hai tetangga baru yang berhati kutub utara. Maafkan si pengecut yang lagi-lagi kabur karena nggak bisa lagi nunjukin wajahnya dihadapan kamu. Kali ini saya kaburnya jauh banget, bukan ke Saturnus kok, masih di Bumi. Ke Kanada. Saya mau sekolah lagi, Yud. Saya harap kamu maafin saya.
Saya lelah Yud, saya nggak mau lari lagi. Kali ini, saya bakalan berhenti lari dan menghadapinya. Saya siap sekarang, makanya saya berani kabur jauh.
By the way, maafin saya Yud, saya udah lancang suka sama kamu. Saya merasa, saya nggak pantes suka sama orang yang udah saya hancurin hatinya. Sampaikan maaf saya buat Freya juga buat ibunya ya.

Salam,
Raya Utami

Aku tidak tahu harus kemana mengabarinya. Aku tidak tahu harus menjawab permintaan maafnya kemana. Memoriku kembali ke Raya yang menitipkan sebuah data ke emailku. Benar, tidak ada salahnya untuk mengiriminya sebuah email.


Hai astronot. Apa kabar? Kenapa kabur lagi? Kenapa nggak ngajak saya untuk ikut sama kamu? saya juga pengin kabur sama kamu. Saya terima maaf kamu, karena sepenuhnya bukan salah kamu.
Ray, kadang kejujuran emang nyakitin ya. Tapi, dari kejujuran itu saya belajar, kalo nggak selamanya apa yang kita cintai bisa kita miliki.
Saya harap, saya bisa ketemu lagi, Ray. Apartemen saya sepi nggak ada kamu.
***
Sebuah email baru masuk ke kotak masuk emailku. Berharap dari Raya. Ini hari ke-10 dia tidak membalas emailku. Mataku membulat begitu melihat alamat email yang kutunggu,

Hai Yuda. Aku lebih baik dari sebelumnya. Aku sedang terapi mengobati traumaku disini, dan sedikit demi sedikit saya bisa menghadapinya.
Kamu tahu? Akhirnya saya bisa melihat aurora, walaupun bukan di Kutub Utara. Saya cukup senang melihatnya di sini. Ada penguin juga loh, mereka lucu sekali. Cara jalan mereka kaku kayak kamu.
Saya juga berharap bisa ketemu kamu lagi. Tapi, kamu harus sabar menunggu ya.

Tanpa sadar bibirku menyunggingkan sebuah senyum kebahagiaan yang empat tahun ini jarang sekali aku tunjukkan. Senyuman kebahagiaan yang tulus. Aku menyimpan foto yang Raya kirimkan, fotonya didepan fenomena alam yang menyerupai sebuah pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer. Wajahnya tampak sangat bahagia, menurutku malah sepertinya berat badannya naik, terlihat dari pipinya yang tampak semakin chubby.
***
Satu tahun kemudian…
Sejak kepergian Raya ke Kanada, apartemenku sepi. Terkadang juga aku pergi ke Boscha untuk sekedar mengingat kami yang pernah pergi kesana melihat hujan meteor. Kami saling berkomunikasi, setidaknya setiap hari dia mengabariku, lewat teknologi komunikasi yang sudah canggih, atau sesekali kami mengobrol lewat aplikasi yang terdapat di benda yang dinamai dengan smart phone. Dengan aplikasi itu aku bisa melihat wajahnya dan mengobrol dengannya, seperti sekarang,
“Yud…” wajahnya menunduk.
“Hmm?” jawabku. Masih asik memandang wajahnya. Ia tidak berbicara,
“Nungguin yaa? Hahahaha…” Dia meledekku kemudian. Dia memang suka mengerjaiku. “Yud… sekarang serius nih.”
“Bener nih serius?”
“Iya..” ia terdiam lagi, “Sahabatan lagi dong sama Freya sama Dhika.” Aku terdiam. Cukup lama tidak mendengar kabar mereka. Setiap aku mendengar nama mereka, yang kuingat hanya kesalahan mereka berdua.
“Kok tiba-tiba?” tanyaku kemudian.
“Ya, jadi kalo saya pergi kamu nggak kesepian.” Ia tersenyum.
“Pergi kemana?” Ia menjawab dengan mengangkat bahunya.
“Lagian, emang nggak mau liat anak mereka? Lucu loh.” Kabar terakhir yang kudengar dari mereka memang itu. Freya melahirkan seorang anak perempuan.
“Tapi, kok kamu tahu mereka udah punya anak? Darimana kamu tau kalo anak mereka lucu?” Raya nyengir kuda, sangat lebar hingga gigi gingsulnya terlihat.
“Maafin saya Yud. Beberapa bulan ini saya banyak ngobrol sama Freya.” Raya, banyak sekali kejutan darinya. Aku tidak bisa melarangnya, bagaimana pun juga ia ingin sekali membalas kesalahannya, dan yang bermasalah dengan mereka itu aku.
“Saya akan coba Ray.” Aku mengalah. Mungkin mereka juga merasakan rasa bersalah seperti yang dirasakan Raya padaku dan Freya dulu.
***
 Sudah tiga hari ini Raya tidak ada kabar. Mungkin dia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya, atau sedang mempersiapkan tesisnya, mengingat dia sangat ingin buru-buru membereskan sekolah S2 nya itu.
Hari ini aku berniat untuk kembali ke Jakarta. Sudah kubiasakan untuk pulang ke Jakarta dua minggu sekali sejak saat itu. Aku mengunci pintu apartemen, dan berjalan menuju lift. Tubuhku terhenti didepan apartemen yang letaknya persis disebelah apartemenku.
Pintunya terbuka. Raya datang. Dia memberikan aku kejutan rupanya. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk untuk bertemu dengannya,
“Raya...” Aku mengedarkan pandanganku, banyak kardus diruang tv, aku mencarinya ke kamar tidur, dia tidak ada disana, ruang tidur tamu, dia juga tidak ada disana. Aku duduk di kursi meja makan. Hingga seseorang masuk sambil membawa dua buah kardus ditangannya, menyadarkan lamunanku. Kami bertatapan.
Ia menyuguhkan secangkir kopi hitam dihadapanku.
“Perkenalkan saya Nata.” Ia mengulurkan tangannya, aku membalasnya,
“Saya Yuda.” Matanya membulat, seperti sering mendengar namaku,
“Ternyata anda Yuda. Raya banyak bercerita tentang anda.” Aku tersenyum, senang mendengar bahwa Raya sering menyebutkan namaku.
“Raya?” Aku bermaksud menanyakan kabarnya. Karena, terakhir aku mendengar kabarnya adalah tiga hari yang lalu. Ia terdiam. Menundukkan kepalanya, seperti menyimpan sesuatu.
“Raya…” ia terdiam lagi,”…besok dia sampai Jakarta.” Senyumku semakin mengembang. Akhirnya kami bertemu lagi.
“Jam berapa? Saya mau jemput dia di Bandara. Karena kebetulan hari ini saya kembali ke Jakarta.” Lagi-lagi Nata lama menjawab pertanyaanku. Terlihat ia mengusap pipinya.
“Raya udah nggak ada Yud.”
“Maksudnya?” Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Nata, lagipula suaranya sedikit tidak jelas kudengar.
“Raya meninggal, tiga hari yang lalu.” Seketika pikiranku kosong. Hanya bisa menatap Nata dengan kedua mataku yang mulai perih ingin mengeluarkan air mata.
***
Judul tesis saya di acc Yud.” Aku tahu dia sedang senang, walaupun hanya bisa aku dengar lewat telepon jarak jauh.
Selamat yah!” Jawabku santai sambil membereskan beberapa berkas yang akan aku bawa pulang.
Makasih Yud!” kami terdiam, “Saya tiba-tiba pengin balik Jakarta deh Yud.”
Tumben?”
Pengin aja pulang. Kalo saya pulang, jemput saya dibandara yah Yud.” Ini pertama kalinya dia bilang padaku ingin sekali kembali ke Ibukota.
Pasti! Emang kapan?”
“Yud, saya pergi dulu yah. Jangan nangis..” ledeknya.
“Berlebihan! Nggak lah. Yaudah hati-hati.”
“Saya sayang kamu.”

“Iya, saya juga.”***

Rabu, 01 April 2015

Runaway #4

0

[Yuda]
Kami memutuskan untuk merasakan kehangatan teh jahe yang menjadi salah satu menu disebuah saung di pinggiran jalan di daerah Lembang sebelum kembali pulang, lagipula di jam ini perjalan turun ke Bandung akan macet sekali,
“Aaah! indah bangeet!” Teriak Raya ke hamparan lampu-lampu kota yang menjadi pemandangan manis untuk kami,
“Berisik. Kayak belum pernah pergi ke Lembang.”
“Biarin. Itu tandanya, saya orang yang ekspresif. Nggak kayak kamu.” aku tersenyum, kuakui kalau aku adalah orang yang kaku, “by the way Yud…” aku menatapnya, ia tampak ragu saat ingin mengajukan pertanyaan padaku, “…Boleh tau nggak alasannya?”
“Alasan apa?” aku berbalik bertanya padanya,
“Alasan kamu ingin pergi dan nggak ingin kembali?”
Aku lama menjawab, mempersiapkan mental dan kepercayaan. Apakah aku bisa percaya padanya untuk menceritakan hal pribadi, dan apa aku siap untuk mengingat kembali kejadian-kejadian itu.
“Saya punya sahabat, namanya Freya sama Dhika.” Tiba-tiba saja bibirku memutuskan untuk bercerita padanya, “singkat cerita saya pacaran sama Freya. Sekitar empat tahun kami jadian, saya mutusin buat ngelamar dia dan pengin dia yang nemenin saya sampai saya tua.” Aku menarik nafas,  “besoknya, saya dapet telepon dari Dhika kalo Freya kecelakaan, ditabrak mobil. Udah pasti saya langsung pergi. Untungnya dia selamat, tapi yang bikin kami, saya sama Dhika sedih, dia nggak inget siapa kami. Bahkan dia nggak tau siapa dirinya.” Aku meneguk teh jahe pesanan kami yang baru saja disajikan oleh pemilik saung,
“Kami berusaha banget ngeyakinin Freya dan ngebantu dia buat inget lagi. Sampe suatu waktu, dia bilang sama saya kalo dia suka sama Dhika. Saya nggak tahu harus gimana.” Perasaan kecewa dan hati yang tercabik-cabik datang jika aku menceritakannya.
***
[Raya]
Baru kali ini aku melihat wajah Yuda penuh ekspresi kekecewaan saat ia bercerita padaku mengenai alasannya menetap di Bandung. Entah mengapa, aku merasa ada keterkaitan dengan nama perempuan yang ia sebut,
“Freya sama Dhika akhirnya jadian, ternyata Dhika juga suka sama Freya. Saya nggak bisa apa-apa, cuma bisa melihat kebahagiaan mereka dari kesakitan yang Saya rasain. Saya nggak bisa nerimanya Ray. Bagaimanapun juga, Saya sayang banget sama Freya. Nggak rela dia buat Dhika.”
“Dhika sendiri gimana?”
“Dia berulang kali minta maaf sama Saya. pengin rasanya Saya nonjok muka dia, tapi Saya nggak bisa nyalahin dia juga, itu pilihan Freya.”
“Kalo boleh tau, kejadiannya kapan Yud?” aku memberanikan untuk bertanya lebih lanjut,
“Tiga tahun yang lalu Ray, Oktober 2011.” Aku tersentak saat mendengar bulan dan tahun yang disebutkan Yuda, sama persis dengan tragedi itu. Tidak, ini mungkin hanya sebuah kebetulan dengan kasus, bulan bahkan tahun yang sama. Tapi, gadis yang aku tabrak juga amnesia. Jangan ambil kesimpulan terlalu jauh, ini hanya sebuah kebetulan. Mungkin Freya ditabrak oleh pengendara lain, bukan aku.
Seketika pula, sekelilingku berputar, aku memegang ujung meja agar tidak terjatuh dari dudukku. Aku harus bertingkah bahwa semuanya baik-baik saja. Jangan sampai Yuda bertanya, dan aku juga tidak ingin bercerita. Ia cukup tahu, alasan kaburku ke Bandung karena perceraian orangtua dan Mama yang menikah lagi.
“Sampe sekarang nggak tau, kalo kamu pacarnya?” Yuda menjawabnya dengan gelengan, “Kamu percaya takdir? Mungkin, Tuhan lagi nyiapin orang yang lebih baik dari Freya buat kamu.” Aku mencoba bijaksana didepannya. Walaupun mungkin kalimat-kalimat yang aku berikan padanya sudah berulang kali ia dengar. Dia menegukan sisa teh jahenya,
“Haah! Sudah yah. Saya nggak mau lagi ngomongin soal itu.” aku tidak bertanya lagi. Ada perasaan takut juga didalam dadaku. Takut kalau semuanya benar-benar sama.
***
Aku membaringkan tubuhku di kasur, menatap langit-langit yang kulukis sendiri, bergambarkan tata surya. Memikirkan pembicaraanku dengan Yuda beberapa jam yang lalu, dan aku jadi merasa sedikit segan padanya. Telepon genggamku berbunyi, Mama. Selalu saja menghubungiku siang dan malam. Membujukku untuk kembali pulang. Kulihat layar, nomor internasional,
“Halo.”
“Raya.” Suara Papa. Aku rindu dengan suara lelaki yang selalu aku idolakan ini,
“Pap. Apa kabar?” tanyaku, sedikit ada kecanggungan diantara kami, karena ini telepon yang pertama setelah lima bulan yang lalu.
“Baik, Sayang. Kamu sendiri?”
“Baik. Tumben Pa, telepon Raya. Apa Mama ngadu lagi sama Papa?” tanyaku. Mama sama Papa memang sudah bercerai, tapi mereka tetap berkomunikasi satu sama lain. Tetap menjaga hubungan baik demi aku. Itu yang mereka katakan.
“Emangnya Papa kalo telepon harus selalu ada aduan dari Mama kamu?” andalannya Papa untuk membalikkan senjata,
“Biasanya sih kayak gitu, contohnya terakhir kali Papa telepon aku.”
“Raya. Ada yang mau Papa tanyain sama kamu.”
“Apa? Aku kasih Papa pilihan, satu, kenapa Raya gak mau pulang? Dua, kenapa Raya gak mau berobat lagi? Coba Papa pilih salah satu.” Aku mendengar tawa dari sebrang sana.
“Raya, kamu nggak ada niat buat ngelanjutin S2?”
Pertanyaan yang berbeda rupanya. Ini pertama kalinya papa bertanya niatku untuk melanjutkan studi. Aku berpikir. “Pengin sih Pa. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Raya belum bisa mutusin sekarang Pa.” Belum bisa, aku belum berani untuk pergi terlalu jauh sekarang. Walaupun aku ingin pergi jauh.
“Kamu ambil lah S2 di Kanada, sekalian temenin Papa. Ya sayang?” aku terdiam. Memang sejak orang tuaku bercerai, Papa tidak lagi menikah dan hidup sendiri di Kanada. Akan aku pikirkan detail-nya nanti mungkin, karena aku ingin memastikan sesuatu agar aku berani pergi ke jauh.
***
[Yuda]
Seseorang memencet bel apartemenku. Mengganggu kesenangan hari mingguku. Membaca. Karena, minggu kemarin aku tidak bisa melakukannya. Aku terlalu malas untuk bangun dari dudukku diatas kursi panjang yang ada di kamar tidur, sambil mendengarkan beberapa instrument.
Dari balik pintu kulihat seorang perempuan berambut panjang sebahu, matanya sipit dan bibirnya yang kecil tersenyum padaku. Freya. Apa yang membawanya ke sini, tidak kulihat Dhika bersamanya, “Kamu nggak akan mempersilahkan aku masuk?” tanyanya yang menyadarkan lamunanku.
Sorry. Silahkan masuk Fre.” Kataku yang kembali pada kesadaranku dengan nada canggung. Freya masuk kedalam apartemenku. Matanya menyapu ke setiap sudut tempat yang sudah kutinggali hampir empat bulan ini. “Duduk Fre. Maaf nggak ada ruang tamu, apalagi meja makan. jadi duduk di situ aja.” Kataku menjelaskan. Mempersilahkannya untuk duduk di sofa yang kutaruh di ruang tv. Aku pergi ke dapur, membuatkannya minuman hangat. Itu kan sopan santun yang harus dilakukan jika tamu datang, sekaligus aku mempersiapkan mental dan menyusun bicaraku dihadapan Freya.
“Ini Fre, minum.” Kataku sambil menyuguhkan teh manis hangat dihadapannya. ia berdandan sekarang, sangat berubah. Pakaiannya pun jadi feminim.
“Apa kabar, Yud?” ia menanyakan kabarku, membuat apartemen ku yang lumayan lengang tadi, berganti dengan suaranya.
“Baik. Kamu sendiri gimana?”
“Baik. Sangat baik.”
“Dhika nggak ikut?”
“Dhika nggak siap ketemu kamu.” aku mengangguk mengerti. Dingin, ruanganku jadi terasa tambah dingin sejak kedatangan Freya. Kemudian dia merogoh tasnya, seperti sedang mencari seonggok berlian didalam karung yang dipenuhi pasir. Lalu memberikanku sebuah undangan pernikahan, aku tersenyum kecut saat melihat nama dua calon pengantin yang tertulis,
“Maaf tiba-tiba. Maaf kami nggak bilang-bilang dulu sama kamu. Karena kamu juga ngehindar Yud.”
“Nggak apa-apa kok Fre. Aku ikut seneng tau kalian mau nikah.” Seseorang memencet bel apartemenku. Siapa yang datang di saat yang tidak tepat seperti sekarang.
***
[Raya]
Akhirnya Yuda membukakan pintu apartemennya. Aku tersenyum, namun wajahnya terlihat seperti ada sesuatu didalam. “Ada apa?” tanyanya. Ah ya benar, aku juga tidak tahu kenapa aku ingin kemari. Aku hanya ingin sekedar melihat wajahnya karena aku pergi ke Jogja sejak tiga hari yang lalu. Ayo pikirkan sebuah alasan yang masuk akal Raya, biar dia nggak curiga.
“Aku baru pulang dari Jogja, trus mau masak. Pas liat stock garam, ternyata habis. Boleh minta?” alasan apa itu Raya. Aku memang suka masak, tapi tidak di hari minggu. Yuda menaikkan alisnya, apa dia curiga, karena dia bukan orang yang gampang dibohongi.
“Masuk.” Aku mengikutinya dari belakang, seperti anak itik yang baru saja menetas dari telur dan melihat sang induk untuk pertama kali, menguntit kemanapun sang induk pergi.
“Maaf yaa Yud, saya nggak bisa beliin kamu oleh-oleh. Boro-boro jalan-jalan, acaranya aja bener-bener tiga hari, dan harus cepet-cepet balik ke Bandung buat nyelesein kerjaannya.” Yuda menghentikan langkahnya, dan memberikanku satu toples kecil berisikan garam didalamnya. Aku mengukir bibirku dengan manis, yang orang-orang sebut dengan sebuah senyuman. “Terimakasih.” Aku memandangi wajahnya.
“Lalu?” Ia bertanya. Aku rindu gaya bicaranya yang dingin. Aku menggeleng, dan memutuskan untuk kembali ke planetku yang terletak persis disebelah planetnya. Hingga aku sadari ada seorang gadis sedang duduk di sofa putihnya dan memandangi kami. Wajah itu. Tiba-tiba wajah seorang gadis terbaring di tempat tidur rumah sakit, dengan perban di kepalanya dan infus di tangan kirinya hadir dalam ingatanku, dengan sangat jelas aku mengingat wajahnya. Wajah tamu Yuda persis seperti gadis yang baru saja hadir dalam memori otakku.
Prang!! Otakku sedang tidak bisa memberikan sinyal pada tanganku agar lebih erat menggenggam toples berisikan garam hingga toples itu jatuh ke lantai dan hancur. Aku acuhkan, dan langsung pergi dari apartemen Yuda. Dipikiranku hanya ada harus pergi dengan segera dari tempat Yuda. Tidak ingin lebih lama menatap wajah gadis itu.
Aku duduk dikursi meja makan. Mengatur nafasku yang terengah-engah karena berlari dari apartemen Yuda. Aku tahu bahwa jaraknya tidak sepanjang track lari di Saparua, tapi dadaku terasa sesak. Apa dia Freya, seseorang yang diceritakan Yuda beberapa minggu yang lalu.
***
Yuda menyuguhkan secangkir kopi hangat dihadapanku. Aku memberanikan diri untuk bertanya tentang gadis yang datang ke apartemennya beberapa hari yang lalu. Memberanikan diri untuk tahu bahwa gadis itu adalah orang yang aku tabrak, tiga tahun yang lalu.
Keheningan menyelimuti kami. Aku merasakan mata Yuda menyoroti wajahku yang menampakkan keraguan dan ketakutan. “Kamu kenapa Ray?” Ia bertanya. Aku diam.
“Saya cuma mau nanya…” aku berhenti berbicara, apa tidak apa jika aku langsung menanyakannya, “…gadis yang datang dua hari yang lalu, dia…” aku menarik nafas panjang, “…apa dia Freya?” akhirnya, aku menyebut namanya.
Yuda menundukkan kepalanya. Lama berbicara, aku tahu ini pasti sulit untuknya. Raya bodoh! bodoh! bodoh! “Maaf Yud. Saya tau saya lancang.” Tapi, aku harus memastikan dia Freya atau bukan, karena jika iya. Aku sudah benar-benar menghancurkan hidup orang yang membuat hatiku berdebar setiap melihat wajahnya atau hanya mencium harumnya yang khas dari jarak yang jauh.

“Iya Ray. Dia Freya.”***
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com