Aku
membaringkan tubuhku di tempat tidur sejak semalam, hingga matahari menyapaku,
yang aku tidak tahu sudah pukul berapa sekarang. Aku tidak tidur semalaman
karena aku tahu bahwa gadis yang kutabrak bernama Freya dan dia adalah gadis
yang dicintai tetangga baruku sekaligus lelaki yang mengisi hatiku sebulan ini.
Perasaan bersalah yang sudah tertimbun hampir empat tahun ini bertambah.
Aku
mendengar pintu apartemenku terbuka. Pasti Nata, dia memang memegang kunci
cadangan apartemenku, dan aku yang memintanya untuk datang. Aku mendengar ada
yang mengetuk pintu kamar, lalu ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu,
“Ray..” dia memanggil namaku, namun aku enggan untuk bangun dari ranjang.
Aku
tahu mata Nata menatapku, dia sedang menunggu. Menungguku untuk bercerita apa
yang sedang terjadi pada sahabatnya. Namun, aku masih menyibukkan diriku dengan
memutar-mutar cangkir berisikan teh manis hangat.
“Nat..”
“Hmm?”
“Gadis
yang gue tabrak tiga tahun yang lalu, namanya Freya.” Dalam diamnya, Nata
mendengarkanku, “Freya itu mantannya Yuda.”
“Yuda
itu, laki-laki yang beberapa hari ini jadi topik utama obrolan kita Ray?” aku
hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
“Gue
harus gimana Nat?” air mata yang tidak bisa keluar sejak semalam akhirnya tidak
bertahan. Aku merasakan tangan Nata mengelus ubun-ubun kepalaku, dia pernah
bilang, dengan cara seperti ini orang yang sedang sedih akan merasakan
kenyamanan.
“Bilang
sama dia Ray.” Aku menatap Nata dengan mata penuh dengan air yang dihasilkan
oleh mata.
“Gue
nggak mau Nat. Lebih baik gue ngehindarin dia.”
“Sampe
kapan? Gue yakin, perasaan bersalah lo nggak bakal ilang kalo lo belum bilang
sama dia.” Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku juga tidak tahu, harus sampai
kapan. “Cape Ray lari terus. Pelari jarak jauh aja ada capek nya.” Ia
membalikkan tubuhku untuk menatapnya, “Ini nandain kalo udah waktunya lo harus
berenti lari.” Nata ada benarnya. Aku tidak mau lagi lari. Setidaknya Yuda dan
Freya harus tahu siapa aku, agar aku tidak terus membohonginya.
“Gue
nggak berani Nat..” Tubuh Nata mendekap tubuhku, dan tangisku semakin kencang.
***
Aku
tersenyum pada laki-laki yang berdiri didepan pintu apartemenku. Sudah seminggu
aku menghindari Yuda. Tidak ingin melihatnya, dan aku juga tidak ingin dilihat
olehnya. Matanya menyoroti tubuhku yang mungkin baginya terlihat tidak sehat,
“Apa kabar Raya?” Ya Tuhan, aku sebenarnya merindukannya. Tapi aku tahu, ini
tidak boleh.
“Mau
masuk?” aku menjawabnya dengan sebuah pertanyaan yang berbeda dengan apa yang
aku inginkan. Ia mengangguk. Kemudian duduk di depan tv, “Mau minum apa?” aku
tahu, aku terlihat canggung didepannya tapi berusaha untuk tidak terlalu
terlihat seperti itu.
“Nggak
perlu. Sini duduk.” Ia menyuruhku duduk disebelahnya, aku tidak kuat lagi.
“Kebetulan.
Ada yang mau saya kasih tau ke kamu.” aku menghampirinya. Sekarang atau tidak
sama sekali Raya. Mau kapanpun kamu kasih tahu dia, resiko yang akan diterima
akan sama. “Sebelumnya saya mau minta maaf sama kamu Yud.” Seperti biasa,
wajahnya tidak berekspresi, jadi susah untukku, untuk tahu apa yang ada didalam
hatinya,
“Sebenernya,
saya kabur ke Bandung punya dua alasan. Salah satunya yang udah saya ceritain
ke kamu..” aku menarik nafas, mempersiapkan diri memberitahu plot dari obrolan
ini, “Tiga tahun yang lalu, saya menabrak seorang gadis yang menyebabkannya
amnesia..” raut wajah Yuda terlihat berbeda, “…gadis itu ternyata Freya.” Yuda
bangkit dari duduknya, dan meninggalkan apartemenku. Dia pergi tanpa bertanya
atau menanggapi apa yang sudah kukatakan padanya. Membuat hatiku semakin sakit.
Meyakinkan diriku bahwa aku harus pergi sejauh mungkin dari hadapannya.
Suara
telepon genggamku terdengar, aku usap air mataku. Kulihat nomor internasional
lagi, pasti Papa. “Pa.. Raya mau ke Kanada.”
***
[Yuda]
Aku
memasukkan baju-bajuku ke dalam koper kecil. Aku ingin pulang ke Jakarta hari
ini, karena sabtu besok adalah acara yang tidak aku ingin datangi, tapi, tidak
baik juga untuk terus menghindar. Sudah lima hari sejak Raya mengaku bahwa
dirinya yang menabrak Freya tiga tahun yang lalu. Awalnya aku juga tidak ingin
percaya, tapi ingat kejadian saat Freya datang, ah sudahlah, aku sendiri tidak
tahu perasaan yang ada dalam dadaku saat tahu kebenarannya, campur aduk. Kesal
dan tidak percaya.
Aku
membuka pintu, saat keluar apartemen, kulihat ada secarik kertas dibawah pintu,
tertulis dari Raya. Aku tidak ingin membukanya. Kutaruh sembarang kertas itu,
kemudian pergi.
***
Aku
datang kerumahnya yang sudah mulai dipasangkan tenda dan beberapa kerabatnya
yang mulai berdatangan. Freya memintaku datang, dia bilang, aku harus
menyaksikan upacara adat siraman hari ini. aku siap, memaksakan diri untuk siap
melihatnya mengenakan kebaya berwarna putih dan riasan yang tidak biasa.
Freya
menghampiriku, “Makasih ya udah dateng..” aku menatap matanya, tidak aku tidak
boleh seperti ini, “Temen kamu nggak diajak? Kan aku minta kamu dateng sama
dia.”
“Maksud
kamu Raya?” terasa sangat lama aku tidak mengucapkan namanya, Freya mengangguk.
“Aku nggak akan mau kenal lagi sama dia Fre.”
“Kenapa?”
freya mengerutkan keningnya.
“Ternyata
dia orang yang nabrak kamu.” wajah Freya tampak terkejut, “Dia yang buat kamu
amnesia, dan dia yang bikin aku kehilangan kamu.” aku tidak bisa lagi
membohongi diriku yang masih menaruh perasaan pada Freya.
“Nggak
sepenuhnya salah temen kamu Yud.”
“Maksud
kamu Fre?” aku tidak mengerti, kenapa banyak sekali alasan yang tidak aku tahu.
“Mungkin
kejadian tabrakan itu adalah kejadian yang memang tidak sengaja terjadi dan
bikin aku beralasan bahwa itu adalah faktor utamanya.” Aku semakin tidak paham
apa yang sedang dibicarakan Freya, bertele-tele. “Seharusnya aku udah bilang
dari awal sama kamu.” sebenarnya kemana arah obrolan ini kemana, “Yud, aku
sebenernya udah inget semuanya dari setahun yang lalu.”
“Maksud
kamu?”
“Pas
aku kecelakaan, sehari setelah kamu ngelamar aku. Aku bertengkar hebat sama
Dhika…” Freya berhenti bicara, untuk apa
dia bertengkar sama Dhika “…maafin aku Yud. Pas kita masih pacaran, aku
sama Dhika juga pacaran.” Aku memegangi kepalaku. “Ya, aku selingkuh sama
Dhika. Jadi, aku menggunakan amnesiaku, buat balikan sama Dhika. Aku selingkuh
sama Dhika karena-“
“Cukup
Fre!” tanpa sadar aku membentaknya, “Nggak ada lagi kita bertiga. Nggak ada
lagi aku kenal kamu!” dengan segera aku pergi dari hadapannya. Tidak perduli
dengan mata orang- orang yang menatap kami ditambah kondisi Freya yang
menangis. Kupikir selama ini aku yang pengecut, Dhika tidak salah begitu juga
dengan Freya. Kenapa begitu banyak rahasia mereka simpan. Apa salahku, kenapa
mereka begitu jahat?
***
Berulang
kali aku memencet bel pintu apartemen Raya. Namun tidak ada jawaban darinya.
Mungkin dia tidak mau bertemu lagi denganku. Terakhir kali aku bertemu
dengannya aku tidak mengucapkan kata apapun padanya, bahkan menatapnya lagi
saja tidak. Aku tahu aku salah karena sudah melimpahkan semua kesalahan
padanya, dia memang bersalah, tapi seperti kata Freya, hubungan Freya dan Dhika
bukan sepenuhnya salah Raya.
Aku
ingin menemuinya, meminta maaf padanya. Aku ingat ada secarik kertas dari Raya
yang ia tinggalkan di bawah pintu apartemenku. Tapi, lupa kutaruh dimana. Hingga
aku melihat benda tipis berwarna putih terselip di rak sepatuku. Perlahan
kubuka,
Hai tetangga baru yang berhati kutub
utara. Maafkan si pengecut yang lagi-lagi kabur karena nggak bisa lagi nunjukin
wajahnya dihadapan kamu. Kali ini saya kaburnya jauh banget, bukan ke Saturnus
kok, masih di Bumi. Ke Kanada. Saya mau sekolah lagi, Yud. Saya harap kamu
maafin saya.
Saya lelah Yud,
saya nggak mau lari lagi. Kali ini, saya bakalan berhenti lari dan
menghadapinya. Saya siap sekarang, makanya saya berani kabur jauh.
By
the way, maafin saya Yud, saya udah
lancang suka sama kamu. Saya merasa, saya nggak pantes suka sama orang yang
udah saya hancurin hatinya. Sampaikan maaf saya buat Freya juga buat ibunya ya.
Salam,
Raya Utami
Aku
tidak tahu harus kemana mengabarinya. Aku tidak tahu harus menjawab permintaan
maafnya kemana. Memoriku kembali ke Raya yang menitipkan sebuah data ke
emailku. Benar, tidak ada salahnya untuk mengiriminya sebuah email.
Hai astronot. Apa kabar? Kenapa kabur
lagi? Kenapa nggak ngajak saya untuk ikut sama kamu? saya juga pengin kabur
sama kamu. Saya terima maaf kamu, karena sepenuhnya bukan salah kamu.
Ray, kadang kejujuran emang nyakitin ya.
Tapi, dari kejujuran itu saya belajar, kalo nggak selamanya apa yang kita
cintai bisa kita miliki.
Saya harap, saya bisa ketemu lagi, Ray.
Apartemen saya sepi nggak ada kamu.
***
Sebuah
email baru masuk ke kotak masuk emailku. Berharap dari Raya. Ini hari ke-10 dia
tidak membalas emailku. Mataku membulat begitu melihat alamat email yang
kutunggu,
Hai Yuda. Aku lebih baik dari
sebelumnya. Aku sedang terapi mengobati traumaku disini, dan sedikit demi
sedikit saya bisa menghadapinya.
Kamu tahu? Akhirnya saya bisa melihat
aurora, walaupun bukan di Kutub Utara. Saya cukup senang melihatnya di sini.
Ada penguin juga loh, mereka lucu sekali. Cara jalan mereka kaku kayak kamu.
Saya juga berharap bisa ketemu kamu
lagi. Tapi, kamu harus sabar menunggu ya.
Tanpa
sadar bibirku menyunggingkan sebuah senyum kebahagiaan yang empat tahun ini
jarang sekali aku tunjukkan. Senyuman kebahagiaan yang tulus. Aku menyimpan
foto yang Raya kirimkan, fotonya didepan fenomena alam yang menyerupai sebuah
pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer. Wajahnya tampak
sangat bahagia, menurutku malah sepertinya berat badannya naik, terlihat dari
pipinya yang tampak semakin chubby.
***
Satu tahun kemudian…
Sejak
kepergian Raya ke Kanada, apartemenku sepi. Terkadang juga aku pergi ke Boscha
untuk sekedar mengingat kami yang pernah pergi kesana melihat hujan meteor.
Kami saling berkomunikasi, setidaknya setiap hari dia mengabariku, lewat
teknologi komunikasi yang sudah canggih, atau sesekali kami mengobrol lewat
aplikasi yang terdapat di benda yang dinamai dengan smart phone. Dengan aplikasi itu aku bisa melihat wajahnya dan
mengobrol dengannya, seperti sekarang,
“Yud…”
wajahnya menunduk.
“Hmm?”
jawabku. Masih asik memandang wajahnya. Ia tidak berbicara,
“Nungguin
yaa? Hahahaha…” Dia meledekku kemudian. Dia memang suka mengerjaiku. “Yud…
sekarang serius nih.”
“Bener
nih serius?”
“Iya..”
ia terdiam lagi, “Sahabatan lagi dong sama Freya sama Dhika.” Aku terdiam.
Cukup lama tidak mendengar kabar mereka. Setiap aku mendengar nama mereka, yang
kuingat hanya kesalahan mereka berdua.
“Kok
tiba-tiba?” tanyaku kemudian.
“Ya,
jadi kalo saya pergi kamu nggak kesepian.” Ia tersenyum.
“Pergi
kemana?” Ia menjawab dengan mengangkat bahunya.
“Lagian,
emang nggak mau liat anak mereka? Lucu loh.”
Kabar terakhir yang kudengar dari mereka memang itu. Freya melahirkan seorang
anak perempuan.
“Tapi,
kok kamu tahu mereka udah punya anak? Darimana kamu tau kalo anak mereka lucu?”
Raya nyengir kuda, sangat lebar hingga gigi gingsulnya terlihat.
“Maafin
saya Yud. Beberapa bulan ini saya banyak ngobrol sama Freya.” Raya, banyak
sekali kejutan darinya. Aku tidak bisa melarangnya, bagaimana pun juga ia ingin
sekali membalas kesalahannya, dan yang bermasalah dengan mereka itu aku.
“Saya
akan coba Ray.” Aku mengalah. Mungkin mereka juga merasakan rasa bersalah
seperti yang dirasakan Raya padaku dan Freya dulu.
***
Sudah tiga hari ini Raya tidak ada kabar. Mungkin
dia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya, atau sedang mempersiapkan tesisnya,
mengingat dia sangat ingin buru-buru membereskan sekolah S2 nya itu.
Hari
ini aku berniat untuk kembali ke Jakarta. Sudah kubiasakan untuk pulang ke
Jakarta dua minggu sekali sejak saat itu. Aku mengunci pintu apartemen, dan
berjalan menuju lift. Tubuhku
terhenti didepan apartemen yang letaknya persis disebelah apartemenku.
Pintunya
terbuka. Raya datang. Dia memberikan aku kejutan rupanya. Tanpa pikir panjang
aku langsung masuk untuk bertemu dengannya,
“Raya...”
Aku mengedarkan pandanganku, banyak kardus diruang tv, aku mencarinya ke kamar
tidur, dia tidak ada disana, ruang tidur tamu, dia juga tidak ada disana. Aku
duduk di kursi meja makan. Hingga seseorang masuk sambil membawa dua buah
kardus ditangannya, menyadarkan lamunanku. Kami bertatapan.
Ia
menyuguhkan secangkir kopi hitam dihadapanku.
“Perkenalkan
saya Nata.” Ia mengulurkan tangannya, aku membalasnya,
“Saya
Yuda.” Matanya membulat, seperti sering mendengar namaku,
“Ternyata
anda Yuda. Raya banyak bercerita tentang anda.” Aku tersenyum, senang mendengar
bahwa Raya sering menyebutkan namaku.
“Raya?”
Aku bermaksud menanyakan kabarnya. Karena, terakhir aku mendengar kabarnya
adalah tiga hari yang lalu. Ia terdiam. Menundukkan kepalanya, seperti
menyimpan sesuatu.
“Raya…”
ia terdiam lagi,”…besok dia sampai Jakarta.” Senyumku semakin mengembang.
Akhirnya kami bertemu lagi.
“Jam
berapa? Saya mau jemput dia di Bandara. Karena kebetulan hari ini saya kembali
ke Jakarta.” Lagi-lagi Nata lama menjawab pertanyaanku. Terlihat ia mengusap
pipinya.
“Raya
udah nggak ada Yud.”
“Maksudnya?”
Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Nata, lagipula suaranya sedikit
tidak jelas kudengar.
“Raya
meninggal, tiga hari yang lalu.” Seketika pikiranku kosong. Hanya bisa menatap
Nata dengan kedua mataku yang mulai perih ingin mengeluarkan air mata.
***
“Judul tesis saya di acc Yud.” Aku tahu dia
sedang senang, walaupun hanya bisa aku dengar lewat telepon jarak jauh.
“Selamat yah!” Jawabku santai sambil
membereskan beberapa berkas yang akan aku bawa pulang.
“Makasih Yud!” kami terdiam, “Saya tiba-tiba
pengin balik Jakarta deh Yud.”
“Tumben?”
“Pengin aja pulang. Kalo saya pulang, jemput saya
dibandara yah Yud.” Ini pertama kalinya dia bilang padaku ingin sekali kembali
ke Ibukota.
“Pasti! Emang kapan?”
“Yud, saya pergi dulu yah. Jangan nangis..”
ledeknya.
“Berlebihan! Nggak lah. Yaudah
hati-hati.”
“Saya sayang kamu.”
“Iya, saya juga.”***

