Sore ini tepat pukul 17.00 WIB aku menunggu hujan yang lebat ini berhenti agar aku bisa pulang ke rumah karna ibu berharap aku pulang cepat hari ini. Tapi apa daya, manusia hanya bisa berencana, tuhan yang menentukan, itu kata orang-orang. Aku menunggu hujan berhenti di halte dekat kampus ku di daerah Slipi. Hujan, entah mengapa aku begitu menyukainya. Aku menengadahkan kepala ku ke atas sambil memejamkan mata. Aku rasakan setiap detailnya suara hujan yang jatuh di atap halte yang lumayan sudah tua. Mungkin orang-orang di halte ini hanya menganggap ku aneh.
Tiba-tiba
seorang lelaki bertubuh kurus tinggi memakai jaket jeans berwarna biru tua
menatap ku dalam-dalam. Walaupun mata ku terpejam aku sadar ada yang
memperhatikan ku sejak beberapa menit yang lalu, mungkin ia seperti orang-orang
yang ada di halte ini, memandangi ku aneh. Aku hanya bisa tertawa dalam hati,
dan berniat membuka mata ku kembali agar lelaki di sebelah ku gugup karna dia tertangkap
sedang memperhatikan ku tanpa berkedip sedetikpun. Dugaan ku benar, saat aku
membuka mata, lelaki disamping ku itu langsung gugup tidak karuan, aku
tersenyum. Wajahnya sedikit familiar
bagiku, ia memakai kacamata berbentuk kotak dan rambutnya cepak. Menarik, ucap ku dalam hati. Tidak lama
kemudian bus yang kutunggu datang, aku bergegas masuk ke dalam. Diikuti oleh
lelaki tadi dan beberapa orang yang menunggu bus di halte.
Bus
sore ini penuh sekali, maklum saja jam segini adalah jam orang pulang kantor,
jadi wajar saja jika aku berdiri dan tidak dapat tempat duduk. Lelaki tadi
berdiri tepat disamping ku lagi, wangi perfume
merk terkenal yang ia pakai tercium dengan mulus lewat hidung ku. Hujan mulai
sedikit reda, tinggal gerimis yang tersisa. Perjalanan pulang kali ini membuat
ku ingin lebih lama berada dalam bus, entah mengapa. Karena biasanya aku ingin
cepat-cepat sampai dirumah karena tidak betah berlama-lama di dalam bus.
Perjalanan kali ini tidak mendukung ku sama sekali, karena bus akhirnya terhenti
di halte daerah dekat rumah ku. Rasanya cepat sekali, aku pun diharuskan untuk
turun, lelaki disebelahku memandangiku dengan kedua matanya yang sedikit sipit
dan ditutupi kacamata itu. Aku turun dari bus dan berjalan lunglai sambil
memegang payung polos ku yang berwarna hijau tua, dan berjalan menuju rumah
yang jaraknya lumayan jauh dari halte.
***
Aku
berlari kecil ditengah derasnya hujan menuju halte di daerah Slipi yang mulai
ramai disinggahi orang karena derasnya hujan. Lalu aku berdiri disamping
seorang gadis yang memakai celana jeans dan kaos polosnya yang berwarna
cokelat. Dia menatap ku sebentar dengan bola matanya yang bulat dan warna
matanya yang coklat, lalu ia menengadahkan kepalanya ke atas dan memejamkan
matanya, aku terpaku melihatnya, penasaran dengan apa yang sedang ia lakukan
sekarang. Aku menatapnya dalam-dalam, memperhatikan dengan seksama karena masih
penasaran dengan tingkahnya.
Beberapa
menit sudah berlalu, tapi ia masih betah
dengan kegiatannya sedari tadi. Hujan, mungkin dia suka hujan. Sama seperti ku,
aku kagum dengan gadis yang menyukai hujan. Entah ke-sotoy-an ku benar atau tidak, tapi dilihat dari luar aku sepertinya
tahu bahwa dirinya memang sangat suka hujan. Wajahnya cukup manis, pasti dia kuliah disekitar sini kata ku dalam
hati. Tapi tidak lama kemudian ia kembali sadar, dan menatap ku cukup lama. Aku
salah tingkah, menggaruk-garukkan rambut ku yang sama sekali tidak gatal.
Sepertinya ia sadar sudah kuperhatikan dirinya sejak tadi, sejak aku sampai di
halte ini.
Tapi
untunglah tidak lama kemudian bus yang kutunggu-tunggu datang juga. Aku terkejut,
ternyata gadis ini juga menaiki bus yang sama denganku. Aku semakin gugup, dan
ikut berjalan dibelakangnya. Dan ternyata bus sore ini penuhnya tidak bisa
dibendung, terpaksa aku harus berdiri, dan untuk kedua kalinya aku berdiri
disampingnya. Jantung ku berdebar, kenapa bisa? Aku semakin bertanya-tanya. Lalu,
aku memegangi dada ku, berharap degupan jantung ini tidak terdengar sampai ke
telinganya. Pasti wajah ku pucat saat ini, atau bisa jadi memerah seketika.
Sesekali aku mencuri pandang kearahnya, ia masih asik memandangi jalanan dan
keadaan diluar. Hujan sudah berganti menjadi gerimis sekarang. Tiba-tiba bus
berhenti di halte daerah Bulungan, gadis itupun kemudian beranjak dari tempat
ia berdiri. Aku memandanginya dengan tatapan kosong. Menyesal karena tidak
sempat mengajaknya untuk berkenalan. Terkadang aku sebal dengan sifat ku yang
malu dan gugup jika berhadapan atau berkenalan seorang gadis, karena itu lah
hingga saat ini masih belum memiliki kekasih.
***
Aku
berlari kecil menuju sebuah café, lagi-lagi hari ini hujan. Tapi wajar saja,
ini adalah bulan Januari, curah hujan sedang tinggi. Aku merapikan rambut ku
yang sedikit basah dan meletakkan payung hijau tua ku di depan pintu café ini.
Café ini lumayan jauh dari kampus ku, tapi café ini adalah tempat aku dan
teman-teman ku biasa untuk berkumpul. Citra dan Fika sudah sampai sedari tadi,
aku terlambat karna harus ada yang ku urus terlebih dahulu di kampus. Fika
melambaikan tangannya, menandakan mereka ada di meja pojok café, aku
menghampiri mereka sambil mengibas-ngibas rok polos ku yang juga lumayan basah.
“kami
sudah setengah jam disini, kemana saja dirimu?” ucap Citra protes
“maaf.
Ternyata pak Rahmat sangat susah ku temui tadi” jawabku sambil memiminum green tea hangat milik Fika, “Raka dan
Neno belum datang?” tanyaku kemudian
“katanya
mereka sedang menuju ke sini, tapi kamu hafal bagaimana mereka, sudah dapat dipastikan bahwa sejam kemudian mereka baru datang” jawab Fika santai. Mulut ku membentuk huruf O tanda
mengerti. Lalu aku mengeluarkan dompet merah ku dan menuju kasir.
“selamat
datang. Pesan apa mba?” Tanya penjaga kasir yang kemudian mengangkat kepalanya,
lelaki berkacamata berambut cepak ini membulatkan matanya, akupun begitu. Lelaki halte, kataku dalam hati.
Tiba-tiba hening, aku pun tersadar
“hot chocolate satu” jawabku singkat.
“large atau regular?” tanyanya lagi, dan suaranya sangat renyah
“regular”
“dua
puluh dua ribu rupiah mba” suara renyah itu membuat ku sedikit gugup. Aku pun
mengeluarkan uang lima puluhan dan dua ribuan. Memberikannya kepada si penjaga
kasir. Lalu memberika bon kepada teman sebelahnya untuk mengerjakan pesanan ku.
Dan kemudian ia memberikan uang kembalian berjumlah tiga puluh ribu kepadaku.
***
Pukul
17.00 hujan di sore ini masih cukup deras, aku menunggu di halte tempat aku
biasa menunggu bus. Halte hari ini ramai nya melebihi kemarin, akhirnya aku
terpaksa menunggu dibawah pohon rindang dekat halte dan memakai topi yang
menempel di jaket. Mata ku menyapu seluruh daerah Slipi. Hujan dan jam orang
pulang kantor, pantas saja macet. Tiba-tiba pandangan ku terhenti lurus
disebelah kanan, walaupun samar-samar kulihat seorang gadis memakai rok
beberapa senti di atas lutut berwarna coklat tua, dipadukan dengan kaus dan ditutupi
dengan jaket rajutan yang bermotif berwarna bitu-putih berjalan ke arah halte
sambil membawa payung yang biasa pakai, hijau tua.
Jantung
ku berdegup lagi, aku senang bisa bertemu dengannya lagi, walaupun tadi sudah
bertemu dengannya di café tempat aku bekerja. Ia lewat didepan ku, menundukkan
wajahnya. Memperhatikan jalan, seperti orang yang takut jatuh. Tapi kemudian ia
kembali, dan berdiri lagi tepat disamping ku, masih memegang payungnya. Lalu ia
melakukan rutinitas kemarin yang ia lakukan, menengadahkan kepalanya ke atas dan
menutup matanya. Aku memandanginya sambil tersenyum ramah, lalu mengumpulkan
keberanian untuk berbicara dengannya,
“kamu
suka hujan?” suara ku mengaburkan lamunanya, ia membuka mata dan menatap ku,
lalu tersenyum. Gadis itu mengangguk
“iya.
Kenapa tahu?” tanyanya. Suaranya lembut
“Karena
saya juga suka hujan” jawab ku kemudian
“saya
suka suara hujan. Suara hujan yang jatuh di atas payung. Suaranya renyah. Mengingatkan
saya pada orang yang saya kagumi, suaranya renyah, seperti suara hujan. Pasti
kamu akan mengangga saya aneh hehe” katanya malu-malu sambil sesekali
menundukkan kepalanya dan tersenyum
Aku
menggeleng, “tidak sama sekali. Karena saya juga suka hujan, hujan itu sudah
seperti teman di saat kita sedang kesepian, karena hujan saya tidak merasa
sendiri” aku menatapnya malu-malu, pasti wajah ku merah saat ini.
***
“jarang
sekali seorang laki-laki sepertimu suka hujan” kata ku sedikit bercanda,
mencairkan suasana yang sedikit kaku. Akhirnya aku dapat berbincang dengannya,
aku cukup kaget memang saat dia mengajak ku mengobrol duluan dan tadi pun kami
sempat bertemu di café tempat aku dan teman-teman ku biasa berkumpul, pantas
saja wajahnya sedikit familiar.
Ternyata dia sedikit berbeda saat memakai seragam dan baju bebas seperti ini.
“kata
teman-teman saya, saya memang laki-laki yang melancholies, mendengarkan lagu-lagu mellow dan instrument-instrument”
katanya dengan wajah yang memerah, walaupun sepertinya sedang ia sembunyikan
agar tidak ketahuan. Suaranya renyah, seperti suara dia. Dia yang selalu
membuatku memperhatikannya setiap dia berbicara.
“saya
pikir, kamu bukan tipikal orang yang seperti itu. ternyata persamaan kita bukan
hanya pada hujan, tapi juga musik” kata ku. Dan aku beruntung, tadi menolak
Raka yang ingin mengantarkan aku pulang, karena aku bisa berbincang dengan dia
yang aku tidak tahu namanya.
Tiba-tiba
keheningan menyelimuti kami. Udara Jakarta sore ini dingin sekali, padahal aku
sudah memakai jaket rajutan buatan ibu, tapi tetap saja dingin. Aku pun menggeser,
membiarkan lelaki disebelah ku berada dalam satu payung denganku, dia menatap ku
kaget lalu aku tersenyum sambil menunjukkan gigi-gigi ku yang lumayan tidak
rapi,
“coba
dengarkan suara hujan yang jatuh di atas payung saya. Indah bukan?” kata ku
mengawali pembicaraan
“ya
indah. Saya jadi suka. Benar katamu, suaranya renyah. Dan yang membuat nya
semakin indah adalah saya mendengarnya di bawah payungmu” lelaki itu menatap ku
tanpa berkedip sedikitpun, aku juga,
“saya
Angga” ia memperkenalkan diri, lalu menyodorkan tangannya yang besar dan kurus
untuk berjabat tangan dengan ku, aku pun membalasnya, sambil tersenyum dan
menjawab, “saya Raindra” jawab ku.***
0 komentar:
Posting Komentar