Selasa, 09 Desember 2014

Hujan dan Suara

0

By: SHanifa_

Sore ini tepat pukul 17.00 WIB aku menunggu hujan yang lebat ini berhenti agar aku bisa pulang ke rumah karna ibu berharap aku pulang cepat hari ini. Tapi apa daya, manusia hanya bisa berencana, tuhan yang menentukan, itu kata orang-orang. Aku menunggu hujan berhenti di halte dekat kampus ku di daerah Slipi. Hujan, entah mengapa aku begitu menyukainya. Aku menengadahkan kepala ku ke atas sambil memejamkan mata. Aku rasakan setiap detailnya suara hujan yang jatuh di atap halte yang lumayan sudah tua. Mungkin orang-orang di halte ini hanya menganggap ku aneh.
Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh kurus tinggi memakai jaket jeans berwarna biru tua menatap ku dalam-dalam. Walaupun mata ku terpejam aku sadar ada yang memperhatikan ku sejak beberapa menit yang lalu, mungkin ia seperti orang-orang yang ada di halte ini, memandangi ku aneh. Aku hanya bisa tertawa dalam hati, dan berniat membuka mata ku kembali agar lelaki di sebelah ku gugup karna dia tertangkap sedang memperhatikan ku tanpa berkedip sedetikpun. Dugaan ku benar, saat aku membuka mata, lelaki disamping ku itu langsung gugup tidak karuan, aku tersenyum. Wajahnya sedikit familiar bagiku, ia memakai kacamata berbentuk kotak dan rambutnya cepak. Menarik, ucap ku dalam hati. Tidak lama kemudian bus yang kutunggu datang, aku bergegas masuk ke dalam. Diikuti oleh lelaki tadi dan beberapa orang yang menunggu bus di halte.
Bus sore ini penuh sekali, maklum saja jam segini adalah jam orang pulang kantor, jadi wajar saja jika aku berdiri dan tidak dapat tempat duduk. Lelaki tadi berdiri tepat disamping ku lagi, wangi perfume merk terkenal yang ia pakai tercium dengan mulus lewat hidung ku. Hujan mulai sedikit reda, tinggal gerimis yang tersisa. Perjalanan pulang kali ini membuat ku ingin lebih lama berada dalam bus, entah mengapa. Karena biasanya aku ingin cepat-cepat sampai dirumah karena tidak betah berlama-lama di dalam bus. Perjalanan kali ini tidak mendukung ku sama sekali, karena bus akhirnya terhenti di halte daerah dekat rumah ku. Rasanya cepat sekali, aku pun diharuskan untuk turun, lelaki disebelahku memandangiku dengan kedua matanya yang sedikit sipit dan ditutupi kacamata itu. Aku turun dari bus dan berjalan lunglai sambil memegang payung polos ku yang berwarna hijau tua, dan berjalan menuju rumah yang jaraknya lumayan jauh dari halte.
***
Aku berlari kecil ditengah derasnya hujan menuju halte di daerah Slipi yang mulai ramai disinggahi orang karena derasnya hujan. Lalu aku berdiri disamping seorang gadis yang memakai celana jeans dan kaos polosnya yang berwarna cokelat. Dia menatap ku sebentar dengan bola matanya yang bulat dan warna matanya yang coklat, lalu ia menengadahkan kepalanya ke atas dan memejamkan matanya, aku terpaku melihatnya, penasaran dengan apa yang sedang ia lakukan sekarang. Aku menatapnya dalam-dalam, memperhatikan dengan seksama karena masih penasaran dengan tingkahnya.
Beberapa menit sudah berlalu, tapi ia masih betah dengan kegiatannya sedari tadi. Hujan, mungkin dia suka hujan. Sama seperti ku, aku kagum dengan gadis yang menyukai hujan. Entah ke-sotoy-an ku benar atau tidak, tapi dilihat dari luar aku sepertinya tahu bahwa dirinya memang sangat suka hujan. Wajahnya cukup manis, pasti dia kuliah disekitar sini kata ku dalam hati. Tapi tidak lama kemudian ia kembali sadar, dan menatap ku cukup lama. Aku salah tingkah, menggaruk-garukkan rambut ku yang sama sekali tidak gatal. Sepertinya ia sadar sudah kuperhatikan dirinya sejak tadi, sejak aku sampai di halte ini.
Tapi untunglah tidak lama kemudian bus yang kutunggu-tunggu datang juga. Aku terkejut, ternyata gadis ini juga menaiki bus yang sama denganku. Aku semakin gugup, dan ikut berjalan dibelakangnya. Dan ternyata bus sore ini penuhnya tidak bisa dibendung, terpaksa aku harus berdiri, dan untuk kedua kalinya aku berdiri disampingnya. Jantung ku berdebar, kenapa bisa? Aku semakin bertanya-tanya. Lalu, aku memegangi dada ku, berharap degupan jantung ini tidak terdengar sampai ke telinganya. Pasti wajah ku pucat saat ini, atau bisa jadi memerah seketika. Sesekali aku mencuri pandang kearahnya, ia masih asik memandangi jalanan dan keadaan diluar. Hujan sudah berganti menjadi gerimis sekarang. Tiba-tiba bus berhenti di halte daerah Bulungan, gadis itupun kemudian beranjak dari tempat ia berdiri. Aku memandanginya dengan tatapan kosong. Menyesal karena tidak sempat mengajaknya untuk berkenalan. Terkadang aku sebal dengan sifat ku yang malu dan gugup jika berhadapan atau berkenalan seorang gadis, karena itu lah hingga saat ini masih belum memiliki kekasih.
***
Aku berlari kecil menuju sebuah café, lagi-lagi hari ini hujan. Tapi wajar saja, ini adalah bulan Januari, curah hujan sedang tinggi. Aku merapikan rambut ku yang sedikit basah dan meletakkan payung hijau tua ku di depan pintu café ini. Café ini lumayan jauh dari kampus ku, tapi café ini adalah tempat aku dan teman-teman ku biasa untuk berkumpul. Citra dan Fika sudah sampai sedari tadi, aku terlambat karna harus ada yang ku urus terlebih dahulu di kampus. Fika melambaikan tangannya, menandakan mereka ada di meja pojok café, aku menghampiri mereka sambil mengibas-ngibas rok polos ku yang juga lumayan basah.
“kami sudah setengah jam disini, kemana saja dirimu?” ucap Citra protes
“maaf. Ternyata pak Rahmat sangat susah ku temui tadi” jawabku sambil memiminum green tea hangat milik Fika, “Raka dan Neno belum datang?” tanyaku kemudian
“katanya mereka sedang menuju ke sini, tapi kamu hafal bagaimana mereka, sudah dapat dipastikan bahwa sejam kemudian mereka baru datang” jawab Fika santai. Mulut ku membentuk huruf O tanda mengerti. Lalu aku mengeluarkan dompet merah ku dan menuju kasir.
“selamat datang. Pesan apa mba?” Tanya penjaga kasir yang kemudian mengangkat kepalanya, lelaki berkacamata berambut cepak ini membulatkan matanya, akupun begitu. Lelaki halte, kataku dalam hati. Tiba-tiba hening, aku pun tersadar
hot chocolate satu” jawabku singkat.
large atau regular?” tanyanya lagi, dan suaranya sangat renyah
regular
“dua puluh dua ribu rupiah mba” suara renyah itu membuat ku sedikit gugup. Aku pun mengeluarkan uang lima puluhan dan dua ribuan. Memberikannya kepada si penjaga kasir. Lalu memberika bon kepada teman sebelahnya untuk mengerjakan pesanan ku. Dan kemudian ia memberikan uang kembalian berjumlah tiga puluh ribu kepadaku.
***
Pukul 17.00 hujan di sore ini masih cukup deras, aku menunggu di halte tempat aku biasa menunggu bus. Halte hari ini ramai nya melebihi kemarin, akhirnya aku terpaksa menunggu dibawah pohon rindang dekat halte dan memakai topi yang menempel di jaket. Mata ku menyapu seluruh daerah Slipi. Hujan dan jam orang pulang kantor, pantas saja macet. Tiba-tiba pandangan ku terhenti lurus disebelah kanan, walaupun samar-samar kulihat seorang gadis memakai rok beberapa senti di atas lutut berwarna coklat tua, dipadukan dengan kaus dan ditutupi dengan jaket rajutan yang bermotif berwarna bitu-putih berjalan ke arah halte sambil membawa payung yang biasa pakai, hijau tua.
Jantung ku berdegup lagi, aku senang bisa bertemu dengannya lagi, walaupun tadi sudah bertemu dengannya di café tempat aku bekerja. Ia lewat didepan ku, menundukkan wajahnya. Memperhatikan jalan, seperti orang yang takut jatuh. Tapi kemudian ia kembali, dan berdiri lagi tepat disamping ku, masih memegang payungnya. Lalu ia melakukan rutinitas kemarin yang ia lakukan, menengadahkan kepalanya ke atas dan menutup matanya. Aku memandanginya sambil tersenyum ramah, lalu mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengannya,
“kamu suka hujan?” suara ku mengaburkan lamunanya, ia membuka mata dan menatap ku, lalu tersenyum. Gadis itu mengangguk
“iya. Kenapa tahu?” tanyanya. Suaranya lembut
“Karena saya juga suka hujan” jawab ku kemudian
“saya suka suara hujan. Suara hujan yang jatuh di atas payung. Suaranya renyah. Mengingatkan saya pada orang yang saya kagumi, suaranya renyah, seperti suara hujan. Pasti kamu akan mengangga saya aneh hehe” katanya malu-malu sambil sesekali menundukkan kepalanya dan tersenyum
Aku menggeleng, “tidak sama sekali. Karena saya juga suka hujan, hujan itu sudah seperti teman di saat kita sedang kesepian, karena hujan saya tidak merasa sendiri” aku menatapnya malu-malu, pasti wajah ku merah saat ini.
***
“jarang sekali seorang laki-laki sepertimu suka hujan” kata ku sedikit bercanda, mencairkan suasana yang sedikit kaku. Akhirnya aku dapat berbincang dengannya, aku cukup kaget memang saat dia mengajak ku mengobrol duluan dan tadi pun kami sempat bertemu di café tempat aku dan teman-teman ku biasa berkumpul, pantas saja wajahnya sedikit familiar. Ternyata dia sedikit berbeda saat memakai seragam dan baju bebas seperti ini.
“kata teman-teman saya, saya memang laki-laki yang melancholies, mendengarkan lagu-lagu mellow dan instrument-instrument” katanya dengan wajah yang memerah, walaupun sepertinya sedang ia sembunyikan agar tidak ketahuan. Suaranya renyah, seperti suara dia. Dia yang selalu membuatku memperhatikannya setiap dia berbicara.
“saya pikir, kamu bukan tipikal orang yang seperti itu. ternyata persamaan kita bukan hanya pada hujan, tapi juga musik” kata ku. Dan aku beruntung, tadi menolak Raka yang ingin mengantarkan aku pulang, karena aku bisa berbincang dengan dia yang aku tidak tahu namanya.
Tiba-tiba keheningan menyelimuti kami. Udara Jakarta sore ini dingin sekali, padahal aku sudah memakai jaket rajutan buatan ibu, tapi tetap saja dingin. Aku pun menggeser, membiarkan lelaki disebelah ku berada dalam satu payung denganku, dia menatap ku kaget lalu aku tersenyum sambil menunjukkan gigi-gigi ku yang lumayan tidak rapi,
“coba dengarkan suara hujan yang jatuh di atas payung saya. Indah bukan?” kata ku mengawali pembicaraan
“ya indah. Saya jadi suka. Benar katamu, suaranya renyah. Dan yang membuat nya semakin indah adalah saya mendengarnya di bawah payungmu” lelaki itu menatap ku tanpa berkedip sedikitpun, aku juga,
“saya Angga” ia memperkenalkan diri, lalu menyodorkan tangannya yang besar dan kurus untuk berjabat tangan dengan ku, aku pun membalasnya, sambil tersenyum dan menjawab, “saya Raindra” jawab ku.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com