Selasa, 30 Desember 2014

Reuni #2

0

By: SHanifa_

Aku masih memperhatikan tangannya, hingga seseorang meneriaki namanya dan membuatku kembali berpaling pada bukuku, “DINAR..! NGAPAIN LO DI SITU? AYO KITA BALIK KE KELAS!” Teriak salah satu temannya. Dinar pergi tanpa mendengar jawaban dari mulutku. Tidak lama aku mengikutinya dari belakang. Tanpa sadar aku terus menatapnya tanpa berkedip dari belakang, saat kami lewat depan lapangan basket menuju kelas terdengar suara dari sebrang menggunakan pengeras suara, “Dinar, Ari, dan Sandy... Rapikan baju kalian ditengah lapangan.” suara seperti ini sudah biasa di dengar di sekolah tiap jam istirahat atau pagi hari sebelum bel sekolah berbunyi. Kepala Sekolah akan inspeksi didepan ruangannya dan memanggil murid-murid yang bajunya tidak rapih. Mereka bertiga terlihat seperti sedang saling menyalahkan tapi masih ada sela tawa. Aku tersenyum melihat tingkah mereka bertiga.
Pelajaran pertama Akuntansi. Aku adalah murid IPS. Aku tidak suka dengan fisika, biologi apalagi kimia. Aku lebih suka mempelajari ilmu sosial. Saat bu Yanti sedang menjelaskan, aku sedikit mencuri pandanganku ke arah Dinar, ternyata kami memang sekelas. Bagaimana bisa aku tidak mengenalnya, padahal sudah dua minggu aku sekelas dengannya. aku terus menatapnya, melihat setiap detail yang ia lakukan, lalu ia membalas menatapku, aku langsung buang muka dan menoyor sendiri jidatku karna sudah bertindak bodoh.
“Sehat Ya?” bisik Saka. Teman sebangku sekaligus sahabatku sejak SMP
“Emang gue kenapa Ka?” aku malah balik bertanya padanya. Saka hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan memperhatikan pelajaran yang sedang di terangkan.
***
Aku membaringkan kepalaku sebentar di meja saat pelajaran Akutansi selesai. Tiba-tiba sebuah wajah mengagetkanku saat aku membuka mata. Aku langsung memasang muka bingung, dia tersenyum, “Ada yang mau lo omongin sama gue?” wajahku masih bingung dengan pertanyaan yang ia berikan.
“Emang apa?” tanya ku balik
“Tadi lo ngeliatin gue. Ada yang mau lo sampein?”
“Oh itu..” aku tidak bisa berkata-kata karna aku ketahuan sedang memperhatikannya, “Cuma mastiin aja kalo emang lo temen kelas gue.” Lanjut ku sambil merapihkan poniku yang tidak berantakan. Kalau aku grogi hal ini lah yang akan aku lakukan. Dia tertawa, lucu, ucapku dalam hati.
“Okey. Gue kira kenapa.” Ia tersenyum dan beranjak dari tempat duduk Saka. Aku adalah orang yang canggung dan susah untuk berkenalan duluan, maka dari itu, temanku di sekolah tidak banyak.
***
“Maaf yaah Ya gue nggak bisa pulang bareng lo.” Kata Saka dengan muka memelasnya. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “Abisnya Sakti tiba-tiba minta anter nyari sepatu bola.” Aku pun mengangguk, dan beranjak dari tempat duduk sambil menggendong tas Jansport biru ku. “Hati-hati yaa sayangku Aya. Kabarin kalo udah sampe rumah yaa.” Teriak Saka, aku berbalik, “Berisik..” dan kembali berjalan.
Berjalan perlahan sambil sesekali beberapa teman menyapaku, sudah biasa pulang sendiri seperti ini sejak Saka pacaran sama Sakti. Aku menarik nafas lalu menghembuskannya. “Sendirian aja?” suara yang kukenal sedikit mengagetkanku. Kulihat Dinar ada disebelah sambil menaiki sepeda lipatnya. Aku tidak menjawab dan kembali menundukkan kepalaku. “kok pertanyaan gue nggak dijawab?”
“Keliatannya?” aku tidak bermaksud menjawab seperti itu, aku sedang grogi. Maafkan aku Dinar. Tapi Ia malah tersenyum.
“Mau gue temenin sampe ke gerbang depan?” Tanyanya lagi. Sekolah kami memiliki dua gerbang, gerbang utama yang menjadi jalan masuk dari jalan raya dan gerbang kedua yang menjadi pintu masuk ke sekolah. Aku terdiam lagi, tidak tahu harus menjawab apa. “Yaudah gue nggak maksa. Duluan yaa Ayasha.” Pipiku memerah. Baru kali ini ada teman laki-laki memanggil nama depanku. Aku selalu suka orang yang memanggil nama depanku dengan lengkap.
***
Hari ini aku datang seperti biasa dan aku duduk di tempat favoritku. Namun ada yang tidak biasa, Dinar ada disana dan dia sudah melihatku jadi tidak mungkin aku berbalik arah bisa-bisa ia mengira aku menghindarinya, walaupun kenyataannya memang seperti itu. aku tetap berjalan ke arah ayunan dengan menundukkan kepalaku, “Gue boleh duduk disini?” tanyaku secepat mungkin. Ia selalu tersenyum setiap mendengar kalimat yang keluar dari bibirku.
“Duduk aja. ini kan punya sekolah.” aku pun duduk dan membuka buku novel yang aku beli seminggu lalu dan baru ada mood untuk membacanya.
“Suka banget baca ya?” Ia mencoba memulai pembicaraan, “Kalo gue sih sukanya baca komik.” aku masih mencoba untuk fokus pada novel yang sedang aku baca, ia mengambil bukuku secara tiba-tiba, aku terkejut dan mencoba untuk mengambil kembali, “Novel romansa? Memangnya didunia  nyata ada cerita romantis seperti dibuku?” tanyanya. Kuambil kembali bukuku
“Lalu memang ada cerita seperti naruto atau sailormoon di dunia nyata?” Aku berbalik bertanya, aku masih saja gugup berbicara dengannya. Ya Tuhan, jantungku tidak bisa berhenti berdetak, bahkan detakannya lebih cepat dari biasanya.
“Kalau Naruto kan cerita fiksi, fantasi.” Jawab Dinar,
“Apa bedanya dengan novel yang lagi gue baca? Sama aja kan?” aku tidak mau kalah. Aku tidak pernah mau kalah kalau sedang berdebat mengenai hal apapun,
“Lo ternyata cerewet yah?” Ia menatap mataku dengan kedua matanya, aku salah tingkah, tidak biasa dilihat begitu hangat oleh seorang lelaki,
“Kalo lo ngajak ngobrol kapan gue bacanya?” mengalihkan suasana,
“Ayasha, lo cerewet.” Dinar mengulang pernyataannya, kemudian ia pergi sambil tertawa nakal. Ia terlihat senang karna sudah menggodaku dengan kalimat itu, ia seperti tahu bahwa aku sedang salah tingkah.
***
Okay class.. enough for today.. assalammualaikum..” Miss Riana mengakhiri kelasnya. Ketua kelas kami, Agung, maju ke depan kelas, ia mengetuk-ketuk papan tulis untuk mendapat perhatian karna suasana kelas selalu ramai jika tidak ada guru,
“Temen-temen.. gue kemarin dikasih tau sama ketua osis kita kalo sebentar lagi bakalan ada acara lomba-lomba kaya tahun-tahun sebelumnya, nah mereka butuh partisipan dari tiap kelas dua orang.. siapa yang mau?” Tanya Agung. Anak-anak yang lain sibuk berbicara. Saka mengangkat tanganku, aku terkejut,
“Aya mau katanya Gung..” kata Saka cepat,
“Apaan sih Ka?” Protesku
“Ini permulaan buat lo nyari temen yang banyak..” jawab Saka
“Oke Aya.. udah gue tulis yah.. yang lain?” Agung menyapukan pandangannya ke seantero kelas. Seseorang mengangkat tangannya, “Gue mau Gung..” suara itu. aku reflex menatapnya kaget, dan dia tersenyum sedikit nakal. Aku mulai gelisah.
“Udah kepilih yah Dinar sama Aya. Nanti sepulang sekolah lo berdua dateng aja ke ruang osis ya.” Agung mengakhiri pengumumannya. Aku semakin gelisah. Aku terlalu gengsi untuk berdua dengannya sehabis kejadian tadi pagi.
***
Bel sekolah berbunyi, pertanda sekolah berakhir. Keadaan selalu ricuh kalau jam sekolah sudah berakhir seperti sekarang. Aku membereskan semua buku yang ada di atas meja. Dinar berdiri di samping mejaku, menungguku selesai membereskan apa yang harus aku bereskan. Aku berjalan duluan, Dinar mengejar dan menghadangku, “Barengan aja sih, kan kita sama-sama panitia,” ia mengikutiku berjalan, seperti anak kucing yang mengikuti majikannya, “Punya ikat rambut?” tanyanya. Aku menatapnya bingung tapi tetap aku berikan padanya. Ia mengikat rambut lurusku yang menutupi wajah dengan ikat satu. “Kalo gini kan enak diliatnya, jadi lo nggak keliatan kaya sadako”
“Suka gue iket kok” bantahku dan aku kembali jalan.
“Iya. Gue suka kalo rambut lo diiket kaya gini.” Ia tersenyum dan kami berjalan beriringan, namun masih ada beberapa jarak.

---Ruang Osis..
Sudah lumayan banyak murid yang datang. Seseorang memanggil Dinar dan ia menghampirinya. Aku mulai bingung untuk duduk dimana, aku melihat bangku paling depan kosong, dan duduk disebelah seorang gadis berkerudung dan memakai behel, ia tersenyum padaku, “Dari kelas berapa?” aku hanya tersenyum. Aku bingung. Aku masih terlalu canggung.
Ketua osis membuka rapat, dan menjelaskan ada divisi apa saja yang diperlukan untuk acara lomba nanti. Ia juga meminta ide dari yang lain lomba apa saja yang akan dilaksanakan nanti. Aku malah sibuk menggambar karakter dalam novel yang sedang aku baca dan sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Saat selesai rapat tiba-tiba sudah ada namaku dipapan tulis, mataku yang belo semakin membulat, bagaimana bisa aku satu divisi lagi sama Dinar? Aku masih kaku didepan papan tulis.
Dinar menepuk pundakku, “nggak apa kan kita satu divisi?” aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “lo suka banget sih narik nafas.” Ledeknya dan ia meninggalkan aku yang masih terpaku dengan kenyataan bahwa aku masih harus terus bersamanya hingga acara ini selesai. Bukan, mungkin hingga tahun depan, saat tahun ajaran berakhir.
***
 “Jadi si Dinar naro lo di divisi lomba? Hahaha” kata Saka yang terlihat senang apa yang terjadi padaku. Aku adalah orang yang sangat canggung, aku orang yang takut untuk memulai segalanya duluan, aku tidak suka dijadikan pusat perhatian, aku juga tidak mau orang-orang beranggapan aneh terhadapku, sebenarnya aku bukan orang anti sosial, aku juga tidak ingin seperti ini.
“Iya. Entah dia dendam sama gue atau apa.” Jawabku sambil menggambar karakter lain yang ada di novel. Dinar tiba-tiba saja duduk di depanku, aku tidak sadar akan kehadirannya sampai aku merasa wajahnya terlalu dekat dengan wajahku karna ia sedang melihat apa sedang aku gambar. Aku langsung menjauhkan wajahku dari wajahnya.
“Wah.. lo pinter gambar juga yah ternyata.” Katanya yang kagum melihat gambarku. Saka hanya bisa tertawa melihat apa yang diutarakan Dinar padaku. “Ayasha.. nanti ke ruang rapatnya bareng yah.” ia tersenyum dan pergi dari hadapan aku dan Saka.
“Tuh liat Ka, aneh kan orangnya.” Kataku sambil melihatnya yang pergi bersama Sandy keluar kelas.
“Dia emang orangnya gitu kali. Pecicilan. Nggak mau diem.” Aku menghela nafas dan melanjutkan gambar.

---Ruang Osis..
“Ada yang bisa ngasih ide nggak buat gambar icon acara kita dan ada yang bisa gambar? Karna tiap tahun, pasti ada icon.” Aku hanya diam. Menganggap diriku tidak bisa membuat atau menggambar karakter, agar aku tidak masuk ke hal yang memiliki tanggung jawab penuh seperti itu.
“Ayasha.” Seseorang menyebut namaku, aku melihatnya dengan muka yang sedikit kesal, ia malah tersenyum padaku, dengan senyuman nakalnya yang menyebalkan.
“Aya? Kamu bisa?” aku grogi hampir semua panitia menatapku dan menunggu jawaban dariku. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
“Bisa kak.” jawabku singkat.
“Oke divisi publikasi joinan yah sama Aya.” aku mengangkat tanganku, dan mencoba untuk membela diri dan menghindari hal seperti ini,
“Tapi kak, saya kan divisi lomba. apa bisa?”

“Kalo untuk ide icon gue berharap semua panitia bisa mengeluarkan ide nya, kebetulan Krisna bilang staff nya nggak ada yang bisa gambar, makanya gue berharap banget ada panitia lain yang bisa ngebantu divisi publikasi” jawab kak Naya dengan kewibawaannya, “jadi Aya, gue harap lo nggak keberatan yaah ngebantu divisi publikasi.” Stuck. Aku nggak tahu harus menjawab apa. Aku tidak bisa lagi menghindar dan mundur. Aku menatap Dinar dengan tatapan sedikit kesal.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com