Aku
masih memperhatikan tangannya, hingga seseorang meneriaki namanya dan membuatku
kembali berpaling pada bukuku, “DINAR..! NGAPAIN LO DI SITU? AYO KITA BALIK KE
KELAS!” Teriak salah satu temannya. Dinar pergi tanpa mendengar jawaban dari
mulutku. Tidak lama aku mengikutinya dari belakang. Tanpa sadar aku terus
menatapnya tanpa berkedip dari belakang, saat kami lewat depan lapangan basket
menuju kelas terdengar suara dari sebrang menggunakan pengeras suara, “Dinar,
Ari, dan Sandy... Rapikan baju kalian ditengah lapangan.” suara seperti ini
sudah biasa di dengar di sekolah tiap jam istirahat atau pagi hari sebelum bel
sekolah berbunyi. Kepala Sekolah akan inspeksi didepan ruangannya dan memanggil
murid-murid yang bajunya tidak rapih. Mereka bertiga terlihat seperti sedang
saling menyalahkan tapi masih ada sela tawa. Aku tersenyum melihat tingkah
mereka bertiga.
Pelajaran
pertama Akuntansi. Aku adalah murid IPS. Aku tidak suka dengan fisika, biologi
apalagi kimia. Aku lebih suka mempelajari ilmu sosial. Saat bu Yanti sedang
menjelaskan, aku sedikit mencuri pandanganku ke arah Dinar, ternyata kami
memang sekelas. Bagaimana bisa aku tidak mengenalnya, padahal sudah dua minggu
aku sekelas dengannya. aku terus menatapnya, melihat setiap detail yang ia
lakukan, lalu ia membalas menatapku, aku langsung buang muka dan menoyor sendiri jidatku karna sudah
bertindak bodoh.
“Sehat
Ya?” bisik Saka. Teman sebangku sekaligus sahabatku sejak SMP
“Emang
gue kenapa Ka?” aku malah balik bertanya padanya. Saka hanya menggelengkan kepalanya
dan melanjutkan memperhatikan pelajaran yang sedang di terangkan.
***
Aku
membaringkan kepalaku sebentar di meja saat pelajaran Akutansi selesai. Tiba-tiba
sebuah wajah mengagetkanku saat aku membuka mata. Aku langsung memasang muka
bingung, dia tersenyum, “Ada yang mau lo omongin sama gue?” wajahku masih
bingung dengan pertanyaan yang ia berikan.
“Emang
apa?” tanya ku balik
“Tadi
lo ngeliatin gue. Ada yang mau lo sampein?”
“Oh
itu..” aku tidak bisa berkata-kata karna aku ketahuan sedang memperhatikannya,
“Cuma mastiin aja kalo emang lo temen kelas gue.” Lanjut ku sambil merapihkan
poniku yang tidak berantakan. Kalau aku grogi hal ini lah yang akan aku
lakukan. Dia tertawa, lucu, ucapku dalam hati.
“Okey.
Gue kira kenapa.” Ia tersenyum dan beranjak dari tempat duduk Saka. Aku adalah
orang yang canggung dan susah untuk berkenalan duluan, maka dari itu, temanku
di sekolah tidak banyak.
***
“Maaf
yaah Ya gue nggak bisa pulang bareng lo.” Kata Saka dengan muka memelasnya. Aku
menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “Abisnya Sakti tiba-tiba minta
anter nyari sepatu bola.” Aku pun mengangguk, dan beranjak dari tempat duduk
sambil menggendong tas Jansport biru ku. “Hati-hati yaa sayangku Aya. Kabarin
kalo udah sampe rumah yaa.” Teriak Saka, aku berbalik, “Berisik..” dan kembali
berjalan.
Berjalan
perlahan sambil sesekali beberapa teman menyapaku, sudah biasa pulang sendiri
seperti ini sejak Saka pacaran sama Sakti. Aku menarik nafas lalu
menghembuskannya. “Sendirian aja?” suara yang kukenal sedikit mengagetkanku.
Kulihat Dinar ada disebelah sambil menaiki sepeda lipatnya. Aku tidak menjawab
dan kembali menundukkan kepalaku. “kok pertanyaan gue nggak dijawab?”
“Keliatannya?”
aku tidak bermaksud menjawab seperti itu, aku sedang grogi. Maafkan aku Dinar.
Tapi Ia malah tersenyum.
“Mau
gue temenin sampe ke gerbang depan?” Tanyanya lagi. Sekolah kami memiliki dua
gerbang, gerbang utama yang menjadi jalan masuk dari jalan raya dan gerbang
kedua yang menjadi pintu masuk ke sekolah. Aku terdiam lagi, tidak tahu harus
menjawab apa. “Yaudah gue nggak maksa. Duluan yaa Ayasha.” Pipiku memerah. Baru
kali ini ada teman laki-laki memanggil nama depanku. Aku selalu suka orang yang
memanggil nama depanku dengan lengkap.
***
Hari
ini aku datang seperti biasa dan aku duduk di tempat favoritku. Namun ada yang
tidak biasa, Dinar ada disana dan dia sudah melihatku jadi tidak mungkin aku
berbalik arah bisa-bisa ia mengira aku menghindarinya, walaupun kenyataannya
memang seperti itu. aku tetap berjalan ke arah ayunan dengan menundukkan
kepalaku, “Gue boleh duduk disini?” tanyaku secepat mungkin. Ia selalu
tersenyum setiap mendengar kalimat yang keluar dari bibirku.
“Duduk
aja. ini kan punya sekolah.” aku pun duduk dan membuka buku novel yang aku beli
seminggu lalu dan baru ada mood untuk
membacanya.
“Suka
banget baca ya?” Ia mencoba memulai pembicaraan, “Kalo gue sih sukanya baca
komik.” aku masih mencoba untuk fokus pada novel yang sedang aku baca, ia
mengambil bukuku secara tiba-tiba, aku terkejut dan mencoba untuk mengambil
kembali, “Novel romansa? Memangnya didunia
nyata ada cerita romantis seperti dibuku?” tanyanya. Kuambil kembali
bukuku
“Lalu
memang ada cerita seperti naruto atau sailormoon di dunia nyata?” Aku berbalik
bertanya, aku masih saja gugup berbicara dengannya. Ya Tuhan, jantungku tidak
bisa berhenti berdetak, bahkan detakannya lebih cepat dari biasanya.
“Kalau
Naruto kan cerita fiksi, fantasi.” Jawab Dinar,
“Apa
bedanya dengan novel yang lagi gue baca? Sama aja kan?” aku tidak mau kalah.
Aku tidak pernah mau kalah kalau sedang berdebat mengenai hal apapun,
“Lo
ternyata cerewet yah?” Ia menatap mataku dengan kedua matanya, aku salah
tingkah, tidak biasa dilihat begitu hangat oleh seorang lelaki,
“Kalo
lo ngajak ngobrol kapan gue bacanya?” mengalihkan suasana,
“Ayasha,
lo cerewet.” Dinar mengulang pernyataannya, kemudian ia pergi sambil tertawa
nakal. Ia terlihat senang karna sudah menggodaku dengan kalimat itu, ia seperti
tahu bahwa aku sedang salah tingkah.
***
“Okay class.. enough for today..
assalammualaikum..” Miss Riana mengakhiri kelasnya. Ketua kelas kami, Agung,
maju ke depan kelas, ia mengetuk-ketuk papan tulis untuk mendapat perhatian
karna suasana kelas selalu ramai jika tidak ada guru,
“Temen-temen..
gue kemarin dikasih tau sama ketua osis kita kalo sebentar lagi bakalan ada
acara lomba-lomba kaya tahun-tahun sebelumnya, nah mereka butuh partisipan dari
tiap kelas dua orang.. siapa yang mau?” Tanya Agung. Anak-anak yang lain sibuk
berbicara. Saka mengangkat tanganku, aku terkejut,
“Aya
mau katanya Gung..” kata Saka cepat,
“Apaan
sih Ka?” Protesku
“Ini
permulaan buat lo nyari temen yang banyak..” jawab Saka
“Oke
Aya.. udah gue tulis yah.. yang lain?” Agung menyapukan pandangannya ke
seantero kelas. Seseorang mengangkat tangannya, “Gue mau Gung..” suara itu. aku
reflex menatapnya kaget, dan dia
tersenyum sedikit nakal. Aku mulai gelisah.
“Udah
kepilih yah Dinar sama Aya. Nanti sepulang sekolah lo berdua dateng aja ke
ruang osis ya.” Agung mengakhiri pengumumannya. Aku semakin gelisah. Aku
terlalu gengsi untuk berdua dengannya sehabis kejadian tadi pagi.
***
Bel
sekolah berbunyi, pertanda sekolah berakhir. Keadaan selalu ricuh kalau jam
sekolah sudah berakhir seperti sekarang. Aku membereskan semua buku yang ada di
atas meja. Dinar berdiri di samping mejaku, menungguku selesai membereskan apa
yang harus aku bereskan. Aku berjalan duluan, Dinar mengejar dan menghadangku,
“Barengan aja sih, kan kita sama-sama panitia,” ia mengikutiku berjalan,
seperti anak kucing yang mengikuti majikannya, “Punya ikat rambut?” tanyanya.
Aku menatapnya bingung tapi tetap aku berikan padanya. Ia mengikat rambut
lurusku yang menutupi wajah dengan ikat satu. “Kalo gini kan enak diliatnya,
jadi lo nggak keliatan kaya sadako”
“Suka
gue iket kok” bantahku dan aku kembali jalan.
“Iya.
Gue suka kalo rambut lo diiket kaya gini.” Ia tersenyum dan kami berjalan
beriringan, namun masih ada beberapa jarak.
---Ruang Osis..
Sudah
lumayan banyak murid yang datang. Seseorang memanggil Dinar dan ia
menghampirinya. Aku mulai bingung untuk duduk dimana, aku melihat bangku paling
depan kosong, dan duduk disebelah seorang gadis berkerudung dan memakai behel,
ia tersenyum padaku, “Dari kelas berapa?” aku hanya tersenyum. Aku bingung. Aku
masih terlalu canggung.
Ketua
osis membuka rapat, dan menjelaskan ada divisi apa saja yang diperlukan untuk
acara lomba nanti. Ia juga meminta ide dari yang lain lomba apa saja yang akan
dilaksanakan nanti. Aku malah sibuk menggambar karakter dalam novel yang sedang
aku baca dan sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Saat selesai
rapat tiba-tiba sudah ada namaku dipapan tulis, mataku yang belo semakin
membulat, bagaimana bisa aku satu divisi lagi sama Dinar? Aku masih kaku
didepan papan tulis.
Dinar
menepuk pundakku, “nggak apa kan kita
satu divisi?” aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “lo suka banget
sih narik nafas.” Ledeknya dan ia meninggalkan aku yang masih terpaku dengan
kenyataan bahwa aku masih harus terus bersamanya hingga acara ini selesai.
Bukan, mungkin hingga tahun depan, saat tahun ajaran berakhir.
***
“Jadi si Dinar naro lo di divisi lomba? Hahaha” kata Saka yang terlihat senang apa
yang terjadi padaku. Aku adalah orang yang sangat canggung, aku orang yang takut
untuk memulai segalanya duluan, aku tidak suka dijadikan pusat perhatian, aku
juga tidak mau orang-orang beranggapan aneh terhadapku, sebenarnya aku bukan
orang anti sosial, aku juga tidak ingin seperti ini.
“Iya.
Entah dia dendam sama gue atau apa.” Jawabku sambil menggambar karakter lain
yang ada di novel. Dinar tiba-tiba saja duduk di depanku, aku tidak sadar akan
kehadirannya sampai aku merasa wajahnya terlalu dekat dengan wajahku karna ia
sedang melihat apa sedang aku gambar. Aku langsung menjauhkan wajahku dari
wajahnya.
“Wah..
lo pinter gambar juga yah ternyata.” Katanya yang kagum melihat gambarku. Saka
hanya bisa tertawa melihat apa yang diutarakan Dinar padaku. “Ayasha.. nanti ke
ruang rapatnya bareng yah.” ia tersenyum dan pergi dari hadapan aku dan Saka.
“Tuh
liat Ka, aneh kan orangnya.” Kataku sambil melihatnya yang pergi bersama Sandy
keluar kelas.
“Dia
emang orangnya gitu kali. Pecicilan. Nggak
mau diem.” Aku menghela nafas dan melanjutkan gambar.
---Ruang Osis..
“Ada
yang bisa ngasih ide nggak buat
gambar icon acara kita dan ada yang bisa gambar? Karna tiap tahun, pasti ada icon.” Aku hanya diam. Menganggap diriku
tidak bisa membuat atau menggambar karakter, agar aku tidak masuk ke hal yang
memiliki tanggung jawab penuh seperti itu.
“Ayasha.”
Seseorang menyebut namaku, aku melihatnya dengan muka yang sedikit kesal, ia
malah tersenyum padaku, dengan senyuman nakalnya yang menyebalkan.
“Aya?
Kamu bisa?” aku grogi hampir semua panitia menatapku dan menunggu jawaban
dariku. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
“Bisa
kak.” jawabku singkat.
“Oke
divisi publikasi joinan yah sama Aya.” aku mengangkat tanganku, dan mencoba
untuk membela diri dan menghindari hal seperti ini,
“Tapi
kak, saya kan divisi lomba. apa bisa?”
“Kalo
untuk ide icon gue berharap semua
panitia bisa mengeluarkan ide nya, kebetulan Krisna bilang staff nya nggak ada
yang bisa gambar, makanya gue berharap banget ada panitia lain yang bisa ngebantu
divisi publikasi” jawab kak Naya dengan kewibawaannya, “jadi Aya, gue harap lo nggak keberatan yaah ngebantu divisi
publikasi.” Stuck. Aku nggak tahu
harus menjawab apa. Aku tidak bisa lagi menghindar dan mundur. Aku menatap
Dinar dengan tatapan sedikit kesal.***
0 komentar:
Posting Komentar