WAKE UP!! WAKE UP!!
WAKE UP!! Alarm hand
phone ku berbunyi sangat nyaring. Ku intip sedikit jam digital yang tertera
di layar hand phone, masih jam lima, mungkin lima menit lagi
tidak apa-apa, pikirku. Lalu aku tekan snooze
pada layar hp dan kembali tertidur untuk beberapa menit yang berharga. Aku
sangat lelah, baru sampai rumah pukul sebelas malam, kampusku di daerah Jakarta
Barat sedangkan rumahku dipinggiran kota Jakarta. Setiap hari harus bersahabat
dengan macetnya Jakarta.
Seseorang
membuka pintu kamarku, dan naik keatas tempat tidur dan mencium pipiku,
“tante.. bangun..” suara anak kecil membuatku tersadar dan menyunggingkan
senyum. Hagumi menarik tanganku agar aku bangun, “disuruh bangun sama Oma…
tante bangun…” aku mengalah dan memutuskan untuk bangun dari tempat tidur. Hagumi
masih memegang tanganku dan menyeretku ke kamar mandi.
Hagumi
adalah keponakan perempuan dari kakak laki-lakiku. Ibunya meninggal saat ia
berumur satu tahun, sekarang umurnya sudah lima tahun. Aku sangat sayang
padanya dan sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. saat aku lelah, dia
adalah obatku.
“Ayasha…”
teriak bunda dari ruang makan. untungnya aku sudah selesai mandi. Aku keluar kamar
sambil membawa hairdryer. “Kamu
ngapain bawa-bawa hairdryer?”
“Saklar di kamar aku rusak bun..” aku
colokkan pada saklar yang terletak di dekat tv, Hagumi
memperhatikan aku yang sedang mengeringkan rambut yang basah.
“Tante..
itu apa?” tanyanya lugu,
“Ini
namanya hairdryer, buat ngeringin
rambut yang basah.” aku arahkan hairdryer yang menyala ke wajah Hagumi dan ia
memejamkan matanya karna panasnya udara yang dikeluarkan dari hairdryer,
“Enakan
pake kipas angin.. adem…” kemudian ia pun pergi ke meja makan. aku hanya
tertawa.
***
Aku
menyalakan motor matic ku,
bersiap-siap pergi. Sebelumnya aku harus mengantar Hagumi kesekolahnya. Dia
sudah masuk Taman Kanak-kanak sekarang, padahal baru kemarin aku suka
mengurusnya dari mulai menyuapinya makan, memandikannya, dan sekedar
mengajaknya bermain hingga teman-temanku mengira Hagumi benar-benar anakku.
“Kami
berangkat yaa oma.. Assalamualaikum…” aku pamitan pada bunda.
Kulajukan
motor ku ke arah sekolah Hagumi yang tidak jauh dari rumah. Hagumi memelukku
dari belakang, “Tante… kenapa otou-san
(Ayah dalam bahasa Jepang .red) nggak pulang yaa semalam?”
“Otou-san lagi banyak pasien mungkin, nanti
Otou-san pasti pulang.”
“Gumi
kangen Otou-san…” aku sedih
mendengarnya. Kak Aryo seorang dokter, sejak istrinya meninggal ia lebih
memilih menyibukkan dirinya di rumah sakit. Itulah mengapa Hagumi lebih dekat
denganku dan bunda. Kadang aku mengerti keadaan Kak Aryo yang ditinggal pergi
istrinya, tapi Hagumi juga butuh ayahnya.
Kami
sampai disekolah Hagumi. Ia mencium pipi dan tanganku. Wajahnya yang mirip
dengan ibu nya itu mengulas sebuah senyuman seorang malaikat kecil, “Tante
jangan pulang malam-malam yaa.” pintanya lalu berjalan masuk ke dalam sekolah.
Aku memperhatikannya hingga ia masuk ke dalam kelas. Dan aku kembali melaju ke
pangkalan bus.
***
“Neng
Aya.. tumben pagi-pagi?” tanya Pak Eko penjaga tempat penyimpanan motor di
dekat terminal bus. Tempat ini memang khusus untuk menyimpan motor bagi
orang-orang yang akan berangkat kerja, kuliah atau sekolah menggunakan bus menuju
daerah Jakarta. “iya pak, lagi ada kerjaan di kampus. Titip yaa pa. Terimakasih..”
aku pun mencari bus yang biasa aku naiki menuju kampus.
Bus
berwarna hijau yang dipadukan dengan putih ini berhenti didepanku. “kesiangan.. nggak dapet tempat duduk..
terpaksa berdiri..” kataku dalam hati. Ku pasang headset dikupingku. Lagu-lagu
tahun 90an mengalun indah. Tiba-tiba seseorang mengganggu kesenangan pribadiku,
dia mencolek tanganku berkali-kali,
aku menoleh kearahnya, wajahnya familiar.
“Aya
yaa?” tanya gadis berkerudung dan memakai behel disebelahku,
“Iza?”
aku balik bertanya padanya
“Apa
kabar?” tanya nya lagi,
“Baik.
Kamu gimana?”
“Masih
kurus. hahaha” kami tertawa. Iza adalah teman SMA ku, kami sekelas saat kelas
3. “Oya kamu udah denger belum kita mau ngadain reuni gede-gedean?” aku
mengerutkan alis. Iza mengerti respon nonverbal ku padanya, “kamu nggak masuk
dalam grup yaa? Aku invite ya? Apa
nama Line mu?”
“Ayasha
Dirga.” jawabku singkat.
“Sudah
aku invite… aku masukkan dalam grup
alumni yaa Ya..”
“Jadi
reuninya gimana?” tanyaku penasaran.
“Kita
mau ngadain reuni seangkatan Ya, tapi ngadainnya disekolah.. ada acara hiburan,
dari mulai nayangin video waktu kita mau lulus-lulusan, band abal-abal
anak-anak lagi jaman SMA yang mungkin sekarang udah bubar hahaha.. banyak deh
pokoknya bakalan seru. Nah kebetulan nih, kita lagi kekurangan panitia. Mau
bantu nggak?” aku terdiam. Sedikit berpikir. Reuni SMA? Apa kabarnya lelaki yang sampai sekarang masih membayangiku
itu ya?, Tanyaku dalam hati.
“Hem..
boleh deh Za..” kataku sambil mengulas senyum lewat bibir tipisku yang berwarna
merah karna diberi lip tint. Kami
mengakhiri pembicaraan saat Iza harus turun di daerah Kebon Jeruk. Setelah Una
turun, aku merekam ulang apa yang sudah terjadi tiga tahun yang lalu antara aku
dan lelaki yang tanpa sadar selalu membuatku tersenyum.
***
Kuteguk
air mineral dalam botol hingga tersisa setengahnya. Aku duduk di atas tembok
yang hanya setinggi dagu ku dan terbuat dari batu sambil memperhatikan satu per
satu mahasiswa baru yang memakai putih hitam, dan topi kerucut berwarna biru
tua, masuk ke aula kampus untuk acara selanjutnya usai istirahat. Rengga
menyapa dan ikut duduk disebelah ku. Meminum air mineralku yang tersisa
setengahnya tadi, “cape yah marah-marah…” ia memulai pembicaraan.
“Lagian
kurang kerjaan banget sih marahin anak orang..” jawabku santai,
“Lo
juga kurang kerjaan banget ngurusin anak orang..” balas Rengga. Kami terdiam
lagi. “Gumi apa kabar?” hampir semua teman-temanku mengenal Hagumi, karna aku
pernah membawa untuk ikut kuliah di kampus karna saat itu tidak ada yang bisa
menjaganya.
“Baik..
makin cerewet.. makin banyak nanya.. main-main lah kerumah..” jawabku excited kalo sudah membicarakan mengenai
keponakanku yang memiliki wajah bulat, kulit putih dan mata sipit itu, perisis
seperti orang Jepang.
“Nanti
deh kalo udah resmi…” aku reflex melihat
ke arahnya, dan menunjukkan mimik muka bertanya, maksudnya? Rengga tertawa melihat reaksiku, “bercanda.. nggak akan
gue coba lagi.. cukup jadi temen lo aja gue udah seneng..” jawabnya sambil
menatap ke segala arah. Aku menunduk, merasa bersalah, maaf yaa Ga, gue masih nyimpen rasa buat Dia, kataku dalam hati.
***
Ahmad
Dinar Maliki, nama itu kulihat dalam daftar member
di grup alumni. Entah mengapa hanya melihat namanya saja membuat jantungku
tidak berhenti berdebar. Sudah hampir empat hari aku bergabung dengan grup
alumni, tapi tidak sedikitpun dia muncul di chat
grup. Aku penasaran seperti apa rupanya sekarang, apa dia berhasil mewujudkan
cita-citanya membuat gudang album-album lagu jaman 80-an, dari mulai The Cranberries, Metallica, Guns n Roses dan yang lainnya. Aku juga ingin berterimkasih padanya karna
telah membuatku menjadi orang yang berbeda dengan aku yang dulu.
***
Aku
berjalan santai di lorong sekolah. Pukul 06.46 pagi, di hari senin. Tentu saja
masih sepi, jadwal masuk sekolah adalah 07.30. Aku memang perempuan yang
terlalu rajin untuk datang pagi atau lebih tepatnya kerajinan. Aku sudah
seperti ini sejak dua minggu yang lalu, tepatnya hari pertama masuk sekolah di
kelas dua. Letak sekolahku tidak jauh dari rumah, karna aku malas naik angkutan
umum aku memutuskan untuk berangkat bersama Kak Aryo yang pergi ke rumah sakit
jam setengah tujuh pagi.
Aku
selalu suka suasana pagi disekolah. Tempat favoritku adalah taman belakang
sekolah yang ditumbuhi pohon dan bunga yang berwarna-warni. Ada dua buah pohon
besar yang tumbuh bersebelahan dan ditengahnya dibuat sebuah dua buah ayunan
dari kayu yang akan kuat walaupun di duduki oleh orang yang memiliki berat
badan 70 kilogram sekaligus. Aku duduk di atas ayunan, lalu membuka novel fiksi
yang sudah aku baca hingga dua kali karna ceritanya yang membuatku sangat kagum.
Kubuka
bab terakhir dari novel itu, karna terlalu serius membaca hingga tidak sadar
kehadiran orang yang sedang duduk di ayunan yang satu lagi, laki-laki bertubuh
jangkung itu menyapaku.
“Lo
Ayasha kan?” tanyanya. Disekolah, aku adalah anak yang jarang bermain dengan
teman laki-laki jadi sebenarnya aku tidak tahu siapa laki-laki yang ada
disebelahku ini, “gue Dinar. Temen sekelas lo. Lo gak kenal gue?” Pandangan
dari matanya yang besar membuatku sedikit kikuk. Aku menggeleng dengan mimik
muka yang kebingungan. Dia menyodorkan tangannya yang panjang dan kurus, “Gue
duduk kedua dari belakang di barisan paling kiri deket jendela..” aku masih
saja menatapnya. Memperhatikan giap garis wajahnya. Hidung dan matanya sedikit
kebesaran jika dibandingkan dengan wajahnya. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi
tetap untuk ukuran laki-laki kulitnya sangat putih. Lalu kenapa jantungku tidak
bisa berhenti berdebar mendengar suara beratnya menyapaku?***
0 komentar:
Posting Komentar