Selasa, 23 Desember 2014

Reuni #1

0

By: SHanifa_

WAKE UP!! WAKE UP!! WAKE UP!! Alarm hand phone ku berbunyi sangat nyaring. Ku intip sedikit jam digital yang tertera di layar hand phone, masih jam lima, mungkin lima menit lagi tidak apa-apa, pikirku. Lalu aku tekan snooze pada layar hp dan kembali tertidur untuk beberapa menit yang berharga. Aku sangat lelah, baru sampai rumah pukul sebelas malam, kampusku di daerah Jakarta Barat sedangkan rumahku dipinggiran kota Jakarta. Setiap hari harus bersahabat dengan macetnya Jakarta.
Seseorang membuka pintu kamarku, dan naik keatas tempat tidur dan mencium pipiku, “tante.. bangun..” suara anak kecil membuatku tersadar dan menyunggingkan senyum. Hagumi menarik tanganku agar aku bangun, “disuruh bangun sama Oma… tante bangun…” aku mengalah dan memutuskan untuk bangun dari tempat tidur. Hagumi masih memegang tanganku dan menyeretku ke kamar mandi.
Hagumi adalah keponakan perempuan dari kakak laki-lakiku. Ibunya meninggal saat ia berumur satu tahun, sekarang umurnya sudah lima tahun. Aku sangat sayang padanya dan sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. saat aku lelah, dia adalah obatku.
“Ayasha…” teriak bunda dari ruang makan. untungnya aku sudah selesai mandi. Aku keluar kamar sambil membawa hairdryer. “Kamu ngapain bawa-bawa hairdryer?”
“Saklar di kamar aku rusak bun..” aku colokkan pada saklar yang terletak di dekat tv, Hagumi memperhatikan aku yang sedang mengeringkan rambut yang basah.
“Tante.. itu apa?” tanyanya lugu,
“Ini namanya hairdryer, buat ngeringin rambut yang basah.” aku arahkan hairdryer yang menyala ke wajah Hagumi dan ia memejamkan matanya karna panasnya udara yang dikeluarkan dari hairdryer,
“Enakan pake kipas angin.. adem…” kemudian ia pun pergi ke meja makan. aku hanya tertawa.
***
Aku menyalakan motor matic ku, bersiap-siap pergi. Sebelumnya aku harus mengantar Hagumi kesekolahnya. Dia sudah masuk Taman Kanak-kanak sekarang, padahal baru kemarin aku suka mengurusnya dari mulai menyuapinya makan, memandikannya, dan sekedar mengajaknya bermain hingga teman-temanku mengira Hagumi benar-benar anakku.
“Kami berangkat yaa oma.. Assalamualaikum…” aku pamitan pada bunda.
Kulajukan motor ku ke arah sekolah Hagumi yang tidak jauh dari rumah. Hagumi memelukku dari belakang, “Tante… kenapa otou-san (Ayah dalam bahasa Jepang .red) nggak pulang yaa semalam?”
Otou-san lagi banyak pasien mungkin, nanti Otou-san pasti pulang.”
“Gumi kangen Otou-san…” aku sedih mendengarnya. Kak Aryo seorang dokter, sejak istrinya meninggal ia lebih memilih menyibukkan dirinya di rumah sakit. Itulah mengapa Hagumi lebih dekat denganku dan bunda. Kadang aku mengerti keadaan Kak Aryo yang ditinggal pergi istrinya, tapi Hagumi juga butuh ayahnya.
Kami sampai disekolah Hagumi. Ia mencium pipi dan tanganku. Wajahnya yang mirip dengan ibu nya itu mengulas sebuah senyuman seorang malaikat kecil, “Tante jangan pulang malam-malam yaa.” pintanya lalu berjalan masuk ke dalam sekolah. Aku memperhatikannya hingga ia masuk ke dalam kelas. Dan aku kembali melaju ke pangkalan bus.
***
“Neng Aya.. tumben pagi-pagi?” tanya Pak Eko penjaga tempat penyimpanan motor di dekat terminal bus. Tempat ini memang khusus untuk menyimpan motor bagi orang-orang yang akan berangkat kerja, kuliah atau sekolah menggunakan bus menuju daerah Jakarta. “iya pak, lagi ada kerjaan di kampus. Titip yaa pa. Terimakasih..” aku pun mencari bus yang biasa aku naiki menuju kampus.
Bus berwarna hijau yang dipadukan dengan putih ini berhenti didepanku. “kesiangan.. nggak dapet tempat duduk.. terpaksa berdiri..” kataku dalam hati. Ku pasang headset dikupingku. Lagu-lagu tahun 90an mengalun indah. Tiba-tiba seseorang mengganggu kesenangan pribadiku, dia mencolek tanganku berkali-kali, aku menoleh kearahnya, wajahnya familiar.
“Aya yaa?” tanya gadis berkerudung dan memakai behel disebelahku,
“Iza?” aku balik bertanya padanya
“Apa kabar?” tanya nya lagi,
“Baik. Kamu gimana?”
“Masih kurus. hahaha” kami tertawa. Iza adalah teman SMA ku, kami sekelas saat kelas 3. “Oya kamu udah denger belum kita mau ngadain reuni gede-gedean?” aku mengerutkan alis. Iza mengerti respon nonverbal ku padanya, “kamu nggak masuk dalam grup yaa? Aku invite ya? Apa nama Line mu?”
“Ayasha Dirga.” jawabku singkat.
“Sudah aku invite… aku masukkan dalam grup alumni yaa Ya..”
“Jadi reuninya gimana?” tanyaku penasaran.
“Kita mau ngadain reuni seangkatan Ya, tapi ngadainnya disekolah.. ada acara hiburan, dari mulai nayangin video waktu kita mau lulus-lulusan, band abal-abal anak-anak lagi jaman SMA yang mungkin sekarang udah bubar hahaha.. banyak deh pokoknya bakalan seru. Nah kebetulan nih, kita lagi kekurangan panitia. Mau bantu nggak?” aku terdiam. Sedikit berpikir. Reuni SMA? Apa kabarnya lelaki yang sampai sekarang masih membayangiku itu ya?, Tanyaku dalam hati.
“Hem.. boleh deh Za..” kataku sambil mengulas senyum lewat bibir tipisku yang berwarna merah karna diberi lip tint. Kami mengakhiri pembicaraan saat Iza harus turun di daerah Kebon Jeruk. Setelah Una turun, aku merekam ulang apa yang sudah terjadi tiga tahun yang lalu antara aku dan lelaki yang tanpa sadar selalu membuatku tersenyum.
***
Kuteguk air mineral dalam botol hingga tersisa setengahnya. Aku duduk di atas tembok yang hanya setinggi dagu ku dan terbuat dari batu sambil memperhatikan satu per satu mahasiswa baru yang memakai putih hitam, dan topi kerucut berwarna biru tua, masuk ke aula kampus untuk acara selanjutnya usai istirahat. Rengga menyapa dan ikut duduk disebelah ku. Meminum air mineralku yang tersisa setengahnya tadi, “cape yah marah-marah…” ia memulai pembicaraan.
“Lagian kurang kerjaan banget sih marahin anak orang..” jawabku santai,
“Lo juga kurang kerjaan banget ngurusin anak orang..” balas Rengga. Kami terdiam lagi. “Gumi apa kabar?” hampir semua teman-temanku mengenal Hagumi, karna aku pernah membawa untuk ikut kuliah di kampus karna saat itu tidak ada yang bisa menjaganya.
“Baik.. makin cerewet.. makin banyak nanya.. main-main lah kerumah..” jawabku excited kalo sudah membicarakan mengenai keponakanku yang memiliki wajah bulat, kulit putih dan mata sipit itu, perisis seperti orang Jepang.
“Nanti deh kalo udah resmi…” aku reflex melihat ke arahnya, dan menunjukkan mimik muka bertanya, maksudnya? Rengga tertawa melihat reaksiku, “bercanda.. nggak akan gue coba lagi.. cukup jadi temen lo aja gue udah seneng..” jawabnya sambil menatap ke segala arah. Aku menunduk, merasa bersalah, maaf yaa Ga, gue masih nyimpen rasa buat Dia, kataku dalam hati.
***
Ahmad Dinar Maliki, nama itu kulihat dalam daftar member di grup alumni. Entah mengapa hanya melihat namanya saja membuat jantungku tidak berhenti berdebar. Sudah hampir empat hari aku bergabung dengan grup alumni, tapi tidak sedikitpun dia muncul di chat grup. Aku penasaran seperti apa rupanya sekarang, apa dia berhasil mewujudkan cita-citanya membuat gudang album-album lagu jaman 80-an, dari mulai The Cranberries, Metallica, Guns n Roses dan yang lainnya. Aku juga ingin berterimkasih padanya karna telah membuatku menjadi orang yang berbeda dengan aku yang dulu.
***
Aku berjalan santai di lorong sekolah. Pukul 06.46 pagi, di hari senin. Tentu saja masih sepi, jadwal masuk sekolah adalah 07.30. Aku memang perempuan yang terlalu rajin untuk datang pagi atau lebih tepatnya kerajinan. Aku sudah seperti ini sejak dua minggu yang lalu, tepatnya hari pertama masuk sekolah di kelas dua. Letak sekolahku tidak jauh dari rumah, karna aku malas naik angkutan umum aku memutuskan untuk berangkat bersama Kak Aryo yang pergi ke rumah sakit jam setengah tujuh pagi.
Aku selalu suka suasana pagi disekolah. Tempat favoritku adalah taman belakang sekolah yang ditumbuhi pohon dan bunga yang berwarna-warni. Ada dua buah pohon besar yang tumbuh bersebelahan dan ditengahnya dibuat sebuah dua buah ayunan dari kayu yang akan kuat walaupun di duduki oleh orang yang memiliki berat badan 70 kilogram sekaligus. Aku duduk di atas ayunan, lalu membuka novel fiksi yang sudah aku baca hingga dua kali karna ceritanya yang membuatku sangat kagum.
Kubuka bab terakhir dari novel itu, karna terlalu serius membaca hingga tidak sadar kehadiran orang yang sedang duduk di ayunan yang satu lagi, laki-laki bertubuh jangkung itu menyapaku.
“Lo Ayasha kan?” tanyanya. Disekolah, aku adalah anak yang jarang bermain dengan teman laki-laki jadi sebenarnya aku tidak tahu siapa laki-laki yang ada disebelahku ini, “gue Dinar. Temen sekelas lo. Lo gak kenal gue?” Pandangan dari matanya yang besar membuatku sedikit kikuk. Aku menggeleng dengan mimik muka yang kebingungan. Dia menyodorkan tangannya yang panjang dan kurus, “Gue duduk kedua dari belakang di barisan paling kiri deket jendela..” aku masih saja menatapnya. Memperhatikan giap garis wajahnya. Hidung dan matanya sedikit kebesaran jika dibandingkan dengan wajahnya. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi tetap untuk ukuran laki-laki kulitnya sangat putih. Lalu kenapa jantungku tidak bisa berhenti berdebar mendengar suara beratnya menyapaku?***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com