Selasa, 16 Desember 2014

Penggemar No.1 Andra

0

By: SHanifa_


Hai perkenalkan, nama aku Isyana. Aku mahasiswa tingkat tiga yang masih saja sendiri. Orang bilang aku adalah gadis pemimpi dan selalu hidup di dunia khayalan. Mau tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang? Aku sedang duduk di atas motor matic yang berjalan menuju kampus yang letaknya di pinggiran kota Bandung. Aku merentangkan kedua tanganku, menengadahkan kepalaku ke atas sambil kupejamkan mata bulatku, merasakan sejuknya udara Bandung di pagi hari, kebetulan juga jalanan dekat kampus ku masih lumayan regang itulah mengapa aku berani melakukan hal yang dapat membahayakan jiwaku sendiri.
Hari ini adalah hari pertama aku kuliah di semester genap, dan kuliah paling pagi di kampus adalah pukul tujuh pagi. Tiba-tiba Andra membuyarkan lamunanku, “hai gadis pemimpi, kita sudah sampai. Hentikan dulu khayalan mu tentang pangeran berkuda yang nanti akan membuatmu jatuh cinta di pandangan pertama…” aku turun dari motor sambil memonyongkan bibir ku, “sudahlah tidak usah cemberut dulu… seperti biasa ayo temani aku makan bubur Kang Ndien…” senyumku langsung lebar selebar-lebarnya.
Andra adalah teman pertamaku di kampus biru ini. kami berkenalan saat masa orientasi mahasiswa baru universitas dan kami ternyata masuk di fakultas yang sama. Yakin tidak bahwa seorang perempuan dan laki-laki bisa bersahabat tanpa salah satu di antara mereka ada yang tidak menyukai? Aku tidak yakin, karna aku seseorang yang menyukai sahabat ku yang sedikit dingin ini, entah sejak kapan. Mungkin sejak tingkat dua, di tahun yang lalu. Aku saja bingung kenapa aku bisa merasakan hal seperti ini.
***
 “ISYANAAA…!!!” tiba-tiba seseorang meneriaki namaku di lorong kampus yang cukup ramai karna pergantian kelas. Kulihat seorang perempuan memakai kerudung model masa kini dan berkacamata dengan frame bulat datang menghampiriku dengan tergesa-gesa. Rianti, teman satu jurusan ku yang cukup cerewet ini berdiri dihadapanku dengan nafas yang terengah-engah, “kamu memanggilku Ri?” Rianti menaruh tangannya di bahuku sambil mengatur nafasnya,
“Iyalah Is… siapa lagi… kalau aku tidak memanggilmu untuk apa aku berdiri dihadapanmu sekarang…”
“Lalu… ada apa?” tanyaku
“Mau bantu aku? Kamu mau tidak jadi partisipan di acara bedah buku yang akan diselenggarakan anak BEM, kebetulan kami sedang kekurangan orang…” aku terdiam, sedikit berpikir, karna aku adalah tipikal orang tidak senang berorganisasi dengan organisasi yang terikat seperti hal nya mengikuti Badan Eksekutif Mahasiswa atau Himpunan Mahasiswa, aku lebih suka mengikuti kepanitiaan di event independent, seperti halnya ospek penerimaan mahasiswa baru ataupun diminta sebagai partisipan seperti ini,
“Aku mau Ri… acaranya kapan?” tanyaku lagi,
“Nanti sehabis zuhur ada rapat di ruang Bem, kamu datang saja ya… karena sepertinya kamu akan di taruh didivisi acara, menjadi staff ku… sebelumnya makasih yaa Is…” Rianti kemudian pamit undur diri dari hadapanku.
***
Aku menuju parkiran motor, tempat biasa Andra memarkirkan motornya. Aku mengeluarkan sekotak bekal berwarna biru yang kali ini berisikan chicken orange sauce dan nasi putih buatanku sendiri, ku taruh di tempat biasa ia menggantungkan tas nya, kusisipkan juga kertas berwarna biru muda yang kutuliskan pesan di atasnya,
Semoga harimu selalu menyenangkan…
Salam
Penggemar no.1 Andra
Aku sudah melakukan hal seperti ini sejak setahun yang lalu. Menaruh bekal di motornya dan menuliskan tulisan penyemangat yang ditulis di kertas kecil. Seperti yang sudah kubilang sejak awal, aku jatuh cinta pada sahabatku ini, tapi aku tidak pernah berani mengungkapkannya. Akhirnya yang aku bisa lakukan hanyalah ini.
***
“Andra kamu dimana?” aku mendengar suaranya dari speaker handphone.
“Aku dihadapanmu…” aku terkejut, nyengir kuda dan menutup telfonnya.
“Ndra… sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu hari ini…” ucapku. Kami tidak sengaja bertemu di depan aula kampus, lalu aku sedikit mengintip Andra sedang memegang kotak makanan yang aku berikan padanya, “kamu dari parkiran motor? Itu dari si penggemar nomor satu lagi?” tanyaku padanya,
“Iyaaa… tumben sekali kamu tidak pulang denganku?”
“Aku diminta menjadi partisipan di sebuah acara bedah bukunya anak Bem, Rianti yang memintaku, jadi aku harus datang rapat siang ini…”
“Baiklah… berikan salamku untuk Rianti yaaa Is…” katanya sambil memakai helm hitamnya.
“Hati-hati dijalan yaa Ndra…” kataku. Andra memberikan senyum termanisnya.
***
Aku mulai sibuk sebagai partisipan panitia bedah buku. Tapi aku tidak pernah lupa menaruh bekal makanan untuk Andra, dan Andra selalu memakannya di hadapanku di siang hari saat ia makan siang bersamaku. Kali ini di kertas biru aku menuliskan sedikit kata-kata yang panjang,
Bertemu denganmu adalah sebuah pengalaman terindah dihidupku… mengenalmu adalah anugerah…
Salam
Penggemar no.1 Andra
Lalu aku memberanikan diri menanyakan perihal kotak makanan ini saat kami menyempatkan waktu untuk sekedar makan siang bersama. Andra jarang sekali membicarakan perilah penggemar no.1 nya itu jika aku tidak bertanya padanya,
“Kamu nggak penasaran Ndra siapa penggemar nomor satumu itu?” tanyaku ragu. Wajah Andra datar,
“Penasaran. Tapi biarkan…. Nanti juga aku akan tahu siapa dia…”
“Apa kamu mulai menyukainya?” tanyaku semakin penasaran.
“Sedikit… karna dia adalah orang pintar menenun kata yang ia berikan padaku… aku selalu simpan setiap kartu yang ia berikan untukku…”  tanpa sadar aku tersenyum
“Tapi kamu rajin ya Ndra, tiap pukul setengah dua belas kamu pasti ke parkiran motor untuk sekedar mengambil kotak makan dari si penggemar nomor satu itu…”
“Aku menghargai niatnya Is.. karna dia lebih punya niat baik untukku…” jawab Andra masih asik dengan bekal yang aku berikan untuknya.
Aku tersenyum lagi. Aku cukup senang mendengar Andra menyimpan dan menyukai setiap kata-kata yang aku berikan untuknya dan juga menghargai niat baikku padanya walaupun yang Andra tahu itu bukan dariku.
“Oia Ndra… kamu mau bernyanyi di acara bedah buku nanti? Karna aku sudah merekomendasikanmu, dan Rianti sangat setuju…” kataku sedikit mengalihkan pembicaraan, aku takut aku tidak bisa menahan diriku untuk mengungkapkan bahwa selama ini aku yang menaruh kotak makanan itu dan menuliskan kata-kata untuknya.
“Boleh…” jawabnya singkat. Lalu aku tersenyum dan melanjutkan melahap soto sulungku.
***
Ini harinya. Dimana acara bedah buku akhirnya dilaksanakan, sebelum semua panitia berkumpul aku menyempatkan diri menaruh kotak makanan untuk Andra yang biasanya akan Andra ambil karena ia sudah terbiasa, dan pada kertas biru kutuliskan,
Bagiku kau seperti angin… Aku merasakan kehadiranmu disekitarku… Tapi sedikitpun aku tidak bisa menggenggammu…
Salam
Penggemar no.1 Andra
***
Aku menatap Andra yang sedang berjalan ke panggung kecil yang memang sengaja panitia sediakan untuk penampilannya. Siap menyanyikan sebuah lagu yang akan ia nyanyikan untuk mengisi acara bedah buku ini,
“Lagu ini saya persembahkan untuk penggemar nomor satu saya, Isyana…” aku menutup mulutku dengan kedua tangan, hampir seluruh panitia menatapku dan tersenyum. Aku sungguh terkejut Andra tahu bahwa aku yang penggemar nomor satunya. Bagaimana bisa? Pikirku.
Andra mengalunkan lagu cinta yang mendayu-dayu dengan suaranya yang berat. Aku masih diam terpaku sambil bertanya-tanya, Rianti menghampiriku dan tersenyum, “Ciee Isyana… selamat yaa…” katanya. Aku masih terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.
Andra menyelesaikan lagu kedua yang menjadi penutup penampilannya, dari arah panggung kecil ia berjalan ke arahku, menarik tanganku dan membawaku ke belakang aula. Menggenggam erat tanganku, menatapku dengan matanya yang hangat. Aku hanya menundukkan kepala karna malu,
“Aku tahu itu kamu Is..” katanya lembut
“Bagaimana bisa? Sejak kapan?” aku hanya bisa menundukkan kepalaku karena malu dan tidak berani melihat wajahnya apalagi menatap matanya.
“Dari beberapa bulan yang lalu. Aku tidak sengaja melihat kertas biru yang biasa diberikan oleh penggemar nomor satuku ada di tas mu, saat kamu menyuruhku untuk mengambilkanmu buku saat kita mengerjakan tugas di Perpustakaan…” aku masih menundukkan kepalaku karna malu, lalu Andra melanjutkan penjelasannya, “awalnya aku mau langsung menanyakannya padamu, tapi aku sangat menikmati setiap kata-kata yang kau berikan padaku, menikmati kegiatan yang kau rutinitaskan hanya untukku Is… dan saat itu pula aku mulai sadar kalau aku juga penggemar nomor satu Isyana…”


Aku mengangkat wajahku, mencoba memberanikan diri mentap mata Andra yang sedikit sayu dan mempunyai kantung mata yang cukup besar, lalu ia memelukku dengan hangat, “aku ingin kamu bisa menggenggamku dan selalu menjadi penggemar nomor satuku Isyana…”***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com