Hai
perkenalkan, nama aku Isyana. Aku mahasiswa tingkat tiga yang masih saja
sendiri. Orang bilang aku adalah gadis pemimpi dan selalu hidup di dunia
khayalan. Mau tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang? Aku sedang duduk di atas
motor matic yang berjalan menuju
kampus yang letaknya di pinggiran kota Bandung. Aku merentangkan kedua tanganku,
menengadahkan kepalaku ke atas sambil kupejamkan mata bulatku, merasakan sejuknya
udara Bandung di pagi hari, kebetulan juga jalanan dekat kampus ku masih
lumayan regang itulah mengapa aku berani melakukan hal yang dapat membahayakan
jiwaku sendiri.
Hari
ini adalah hari pertama aku kuliah di semester genap, dan kuliah paling pagi di
kampus adalah pukul tujuh pagi. Tiba-tiba Andra membuyarkan lamunanku, “hai
gadis pemimpi, kita sudah sampai. Hentikan dulu khayalan mu tentang pangeran
berkuda yang nanti akan membuatmu jatuh cinta di pandangan pertama…” aku turun
dari motor sambil memonyongkan bibir ku, “sudahlah tidak usah cemberut dulu…
seperti biasa ayo temani aku makan bubur Kang Ndien…” senyumku langsung lebar
selebar-lebarnya.
Andra
adalah teman pertamaku di kampus biru ini. kami berkenalan saat masa orientasi
mahasiswa baru universitas dan kami ternyata masuk di fakultas yang sama. Yakin
tidak bahwa seorang perempuan dan laki-laki bisa bersahabat tanpa salah satu di
antara mereka ada yang tidak menyukai? Aku tidak yakin, karna aku seseorang
yang menyukai sahabat ku yang sedikit dingin ini, entah sejak kapan. Mungkin
sejak tingkat dua, di tahun yang lalu. Aku saja bingung kenapa aku bisa
merasakan hal seperti ini.
***
“ISYANAAA…!!!” tiba-tiba seseorang meneriaki
namaku di lorong kampus yang cukup ramai karna pergantian kelas. Kulihat
seorang perempuan memakai kerudung model masa kini dan berkacamata dengan frame
bulat datang menghampiriku dengan tergesa-gesa. Rianti, teman satu jurusan ku
yang cukup cerewet ini berdiri dihadapanku dengan nafas yang terengah-engah,
“kamu memanggilku Ri?” Rianti menaruh tangannya di bahuku sambil mengatur nafasnya,
“Iyalah
Is… siapa lagi… kalau aku tidak memanggilmu untuk apa aku berdiri dihadapanmu
sekarang…”
“Lalu…
ada apa?” tanyaku
“Mau
bantu aku? Kamu mau tidak jadi partisipan di acara bedah buku yang akan
diselenggarakan anak BEM, kebetulan kami sedang kekurangan orang…” aku terdiam,
sedikit berpikir, karna aku adalah tipikal orang tidak senang berorganisasi
dengan organisasi yang terikat seperti hal nya mengikuti Badan Eksekutif
Mahasiswa atau Himpunan Mahasiswa, aku lebih suka mengikuti kepanitiaan di event
independent, seperti halnya ospek penerimaan mahasiswa baru ataupun diminta
sebagai partisipan seperti ini,
“Aku
mau Ri… acaranya kapan?” tanyaku lagi,
“Nanti
sehabis zuhur ada rapat di ruang Bem, kamu datang saja ya… karena sepertinya kamu
akan di taruh didivisi acara, menjadi staff ku… sebelumnya makasih yaa Is…”
Rianti kemudian pamit undur diri dari hadapanku.
***
Aku
menuju parkiran motor, tempat biasa Andra memarkirkan motornya. Aku
mengeluarkan sekotak bekal berwarna biru yang kali ini berisikan chicken orange
sauce dan nasi putih buatanku sendiri, ku taruh di tempat biasa ia menggantungkan
tas nya, kusisipkan juga kertas berwarna biru muda yang kutuliskan pesan di
atasnya,
Semoga harimu selalu menyenangkan…
Salam
Penggemar no.1 Andra
Aku
sudah melakukan hal seperti ini sejak setahun yang lalu. Menaruh bekal di
motornya dan menuliskan tulisan penyemangat yang ditulis di kertas kecil.
Seperti yang sudah kubilang sejak awal, aku jatuh cinta pada sahabatku ini,
tapi aku tidak pernah berani mengungkapkannya. Akhirnya yang aku bisa lakukan
hanyalah ini.
***
“Andra
kamu dimana?” aku mendengar suaranya dari speaker handphone.
“Aku
dihadapanmu…” aku terkejut, nyengir kuda dan menutup telfonnya.
“Ndra…
sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu hari ini…” ucapku. Kami tidak
sengaja bertemu di depan aula kampus, lalu aku sedikit mengintip Andra sedang
memegang kotak makanan yang aku berikan padanya, “kamu dari parkiran motor? Itu
dari si penggemar nomor satu lagi?” tanyaku padanya,
“Iyaaa…
tumben sekali kamu tidak pulang denganku?”
“Aku
diminta menjadi partisipan di sebuah acara bedah bukunya anak Bem, Rianti yang
memintaku, jadi aku harus datang rapat siang ini…”
“Baiklah…
berikan salamku untuk Rianti yaaa Is…” katanya sambil memakai helm hitamnya.
“Hati-hati
dijalan yaa Ndra…” kataku. Andra memberikan senyum termanisnya.
***
Aku
mulai sibuk sebagai partisipan panitia bedah buku. Tapi aku tidak pernah lupa
menaruh bekal makanan untuk Andra, dan Andra selalu memakannya di hadapanku di
siang hari saat ia makan siang bersamaku. Kali ini di kertas biru aku
menuliskan sedikit kata-kata yang panjang,
Bertemu denganmu adalah sebuah pengalaman
terindah dihidupku… mengenalmu adalah anugerah…
Salam
Penggemar no.1 Andra
Lalu
aku memberanikan diri menanyakan perihal kotak makanan ini saat kami
menyempatkan waktu untuk sekedar makan siang bersama. Andra jarang sekali
membicarakan perilah penggemar no.1 nya itu jika aku tidak bertanya padanya,
“Kamu
nggak penasaran Ndra siapa penggemar
nomor satumu itu?” tanyaku ragu. Wajah Andra datar,
“Penasaran.
Tapi biarkan…. Nanti juga aku akan tahu siapa dia…”
“Apa
kamu mulai menyukainya?” tanyaku semakin penasaran.
“Sedikit…
karna dia adalah orang pintar menenun kata yang ia berikan padaku… aku selalu
simpan setiap kartu yang ia berikan untukku…”
tanpa sadar aku tersenyum
“Tapi
kamu rajin ya Ndra, tiap pukul setengah dua belas kamu pasti ke parkiran motor
untuk sekedar mengambil kotak makan dari si penggemar nomor satu itu…”
“Aku
menghargai niatnya Is.. karna dia lebih punya niat baik untukku…” jawab Andra
masih asik dengan bekal yang aku berikan untuknya.
Aku
tersenyum lagi. Aku cukup senang mendengar Andra menyimpan dan menyukai setiap
kata-kata yang aku berikan untuknya dan juga menghargai niat baikku padanya
walaupun yang Andra tahu itu bukan dariku.
“Oia
Ndra… kamu mau bernyanyi di acara bedah buku nanti? Karna aku sudah
merekomendasikanmu, dan Rianti sangat setuju…” kataku sedikit mengalihkan
pembicaraan, aku takut aku tidak bisa menahan diriku untuk mengungkapkan bahwa
selama ini aku yang menaruh kotak makanan itu dan menuliskan kata-kata
untuknya.
“Boleh…”
jawabnya singkat. Lalu aku tersenyum dan melanjutkan melahap soto sulungku.
***
Ini
harinya. Dimana acara bedah buku akhirnya dilaksanakan, sebelum semua panitia
berkumpul aku menyempatkan diri menaruh kotak makanan untuk Andra yang biasanya
akan Andra ambil karena ia sudah terbiasa, dan pada kertas biru kutuliskan,
Bagiku kau seperti angin… Aku merasakan
kehadiranmu disekitarku… Tapi sedikitpun aku tidak bisa menggenggammu…
Salam
Penggemar no.1 Andra
***
Aku
menatap Andra yang sedang berjalan ke panggung kecil yang memang sengaja panitia
sediakan untuk penampilannya. Siap menyanyikan sebuah lagu yang akan ia
nyanyikan untuk mengisi acara bedah buku ini,
“Lagu
ini saya persembahkan untuk penggemar nomor satu saya, Isyana…” aku menutup
mulutku dengan kedua tangan, hampir seluruh panitia menatapku dan tersenyum.
Aku sungguh terkejut Andra tahu bahwa aku yang penggemar nomor satunya. Bagaimana bisa? Pikirku.
Andra
mengalunkan lagu cinta yang mendayu-dayu dengan suaranya yang berat. Aku masih
diam terpaku sambil bertanya-tanya, Rianti menghampiriku dan tersenyum, “Ciee
Isyana… selamat yaa…” katanya. Aku masih terdiam dan tidak tahu harus berkata
apa.
Andra
menyelesaikan lagu kedua yang menjadi penutup penampilannya, dari arah panggung
kecil ia berjalan ke arahku, menarik tanganku dan membawaku ke belakang aula.
Menggenggam erat tanganku, menatapku dengan matanya yang hangat. Aku hanya
menundukkan kepala karna malu,
“Aku
tahu itu kamu Is..” katanya lembut
“Bagaimana
bisa? Sejak kapan?” aku hanya bisa menundukkan kepalaku karena malu dan tidak
berani melihat wajahnya apalagi menatap matanya.
“Dari
beberapa bulan yang lalu. Aku tidak sengaja melihat kertas biru yang biasa
diberikan oleh penggemar nomor satuku ada di tas mu, saat kamu menyuruhku untuk
mengambilkanmu buku saat kita mengerjakan tugas di Perpustakaan…” aku masih
menundukkan kepalaku karna malu, lalu Andra melanjutkan penjelasannya, “awalnya
aku mau langsung menanyakannya padamu, tapi aku sangat menikmati setiap
kata-kata yang kau berikan padaku, menikmati kegiatan yang kau rutinitaskan
hanya untukku Is… dan saat itu pula aku mulai sadar kalau aku juga penggemar
nomor satu Isyana…”
Aku
mengangkat wajahku, mencoba memberanikan diri mentap mata Andra yang sedikit
sayu dan mempunyai kantung mata yang cukup besar, lalu ia memelukku dengan
hangat, “aku ingin kamu bisa menggenggamku dan selalu menjadi penggemar nomor
satuku Isyana…”***
0 komentar:
Posting Komentar