“Tidur jam berapa
tadi malam? Begadang lagi?” seorang gadis muda yang enerjik menghampiri Keenan.
Karyawan kreatif dan ujung tonggak perusahaan advertisingnya.
“Iya, Ra. Masih sibuk
nunggu. Tau sendiri saya bukan orang yang gampang tenang.” Yara. Kekasih Keenan
yang sudah di kencaninya hampir selama 6 tahun. Satu-satunya gadis yang bisa
menghargai otaknya yang sedikit diluar nalar manusia pada umumnya. Calon istri
yang sangat ia banggakan.
“Keen, kalau kamu
kurang istirahat terus kaya gini, aku takut kamu sakit. Nanti kerjaan kamu
kehambat. Bukannya kamu mau buktiin sama Papa kamu bahwa kamu bisa survive tanpa bantuan financial beliau?” Yara kini berlutut dihadapan Keenan dan mulai
mengelus wajahnya dengan lembut. Sentuhan Yara bisa seketika menenangkan otot-otot
Keenan yang tegang.
“Jangan khawatir, Ra.
Papa udah nyerah sama saya kok. Dia nggak lagi nuntut saya kerja di rumah
sakitnya. Jadi saya nggak terlalu terbebani.” Keenan sadar. Seharusnya ia
beruntung memiliki sepasang orangtua yang dapat memenuhi kebutuhannya kapan
saja. Sepasang dokter yang sangat terkenal akan jasa-jasanya yang terbaik.
Berkat Papanya pula, Keenan berhasil mengantongi sarjana kesehatan dan memiliki
izin praktik. Tapi menjadi dokter bukanlah keinginannya.
“Keen, kamu begini
hampir 2 tahun. Aku tahu kamu masih belum sepenuhnya damai sama diri kamu
tentang perdebatan keluarga kamu sama Ki –“
“Aduh, Ra… Jangan
ingetin saya sama masalah itu lagi. Kamu yang paling tau segimana saya care sama Kia. So please… just don’t brought it up.” Bantah Keenan. Yara
memalingkan wajahnya dan dengan enggan berdiri namun meraih tangan Keenan dan
menggenggamnya.
“Okay. Just try to take a rest. A nap for a while would be good for you.
Aku balik lagi ke klinik ya. Habisin dulu makanan kamu! Baru kerja lagi.” Yap.
Menjadi anak dari pasangan dokter dan memacari psikolog muda menjadikan Keenan
selalu diawasi kesehatannya. Yara mengecup bibir kekasihnya dengan lembut lalu
pergi.
Tidak mengikuti jejak
kaki Papanya, Keenan terpaksa harus membuktikan diri dengan cara yang terkeras.
Ia keluar dari rumahnya yang telah melindungi dirinya dari sengatan matahari
dan hujan. Memberikannya banyak kenangan indah mengenai ia dan adiknya yang
sangat ia sayangi. Keenan menyewa sebuah apartemen dengan dua kamar. Kia,
adiknya yang sangat dekat dengannya ikut bersama Keenan pindah ke tempat yang
tidak lebih besar dari rumhanya itu sejak 2 tahun lalu.
Orangtua mereka tidak
khawatir mengenai pengaturan tempat tinggal itu. Karena sejujurnya, mereka
ingin anak-anak mereka menjadi anak yang mandiri. Terutama Kia. Namun
kedekatannya dengan abangnya itu memberi Kia ruang yang lebih sempit untuk
bergerak. Keenan yang begitu mencintai Kia kini sedang belajar memberi space yang dibutuhkan Kia selayaknya
remaja berusia 20 tahun yang sedang berusaha mencari pembuktian diri. Meski itu
berarti Keenan harus bergelut bukan hanya dengan logika Kia namun juga
logikanya.
***
Jam dinding sarang
burung di kamar Kia berbunyi selama duabelas kali. Menunjukan ketepatan waktu
sesuai dengan jumlah bunyinya. Keenan masih berkutat dengan tugas kantornya
yang sebetulnya masih 4 bulan menuju deadline
demi menenangkan hati dan pikirannya menanti kedatangan sang adik.
“Baaaaang… Kia
pulang!” Seketika otot-otot Keenan merenggang.
“Kok pulangnya telat
banget sih, Dik? Ini jam 12 loh! Kok nggak ada kabarnya juga?” Keenan
menghampiri Kia yang langsung berjalan ke arah dapur. Hal yang sudah menjadi
kebiasaan Kia.
“Maaf Bang, Kia tadi
kerjaannya numpuk. Kia makan yah! Laper!” Keenan hanya dapat tersenyum sambil
memandang adiknya dengan tatapan lembut. Emosinya tersapu saat melihat Kia
melahap santapannya yang tak lebih dari sepotong roti yang diolesi selai
kacang. Favoritnya.
***
Pagi itu, bukan yang
matahari menyapa Keenan dengan lembut, ia merasa ada bibir yang mengecup sisi
keningnya. Keenan terbangun bersamaan dengan mata Kia ada disampingnya.
“Bang, Kia kangen
banget sama abang. Kia tidur disini ya.” Matahari belum menyapa. Hanya adiknya
yang terkadang lebih penting bagi dunia Keenan dibandingkan matahari.
“Kamu udah gede ah!
Sana tidur sendiri!” Keenan membalik tubuhnya dan mengusir adiknya meski
bersebrangan dengan logika. Namun dirinya tahu. Ucapannya hanya akan membuat
Kia semakin manja. Respon yang sebenarnya ia inginkan.
“Nggak! Kia kangen
sama abang! Lama kelamaan juga abang yang nanti meluk Kia.”
“Oiya, Ki. Besok
abang sama Mba Yara mau makan siang bareng Mama sama Papa. Kamu ikut ya! Kamu
udah lama banget nggak ketemu mereka, Ki.” Hening. Kia tak menjawab pertanyaan
abangnya itu. Keenan kembali setengah sadar karna kantuknya. Namun suara Kia
yang pelan menyadarkannya.
“Kia nggak bisa,
Bang. Besok Kia ada kuliah sama kerja.” Hening, “Kia kangen sekali sama mereka,
Bang.”
“Kalau gitu kamu
bolos aja dulu 1 hari, Ki. Keluarga itu harus jadi prioritas utama loh.”
“Nggak bisa, Bang.
Kalau bisa pasti udah dari dulu Kia lakuin.”
“Kia…”
“Bang, please ya bang. Jangan bantah Kia dulu.”
“Ya udah. Nanti abang
kasih tau sama Mama Papa kalau kamu titip salam.”
“Jangan Bang!” Suara
Kia yang tiba-tiba mengeras mengejutkan Keenan. “Maksud Kia, biar nanti Kia
yang telepon Mama sama Papa. Okay?”
“Terserah kamu lah,
Ki.”
“Abang percaya ya
sama Kia. Kia kangen banget sama Abang, Mama, Papa juga. Kia sayang banget sama
kalian.” Keenan hanya tersenyum disertai kehangatan dekapan adiknya dari
belakang yang perlahan menelannya kembali kealam mimpi.
***
Matahari kini
benar-benar menyapa. Kia sudah tak lagi ada dikamarnya. Keenan menyusuri
apartemen itu hingga menyadari sarapan telah tersaji di meja makan. Keenan tak
lagi mengharapkan makanan hangat yang baru diangkat dari penggorengan. Kia
hanya makan buah segar dipagi hari. Dan itu lah yang kini tersedia bersama
dengan 1 karton susu dingin yang sudah mulai kehilangan dinginnya. Sudah berapa
lama Kia berangkat? Batinnya bertanya. Namun ia tepis. Kia memang selalu
berangkat sangat pagi, karena jarak antara apartemen dan kampusnya yang sangat
jauh. Kia juga menolak menggunakan mobilnya sebagai sarana transportasi. ‘ingin
mengurangi kemacetan kota Bandung yang sudah mulai tak bersahabat’ katanya. Keenan
pun berlalu dan bersiap memulai hari.
***
Hari ini Keenan dan
Yara berencana untuk makan siang bersama orangtua Keenan di rumah masa kecilnya
itu. Orangtua Keenan memang sedang berada di kota asal mereka setelah beberapa
lama menjadikan rumah luasnya itu sebagai tempat singgah. Pukul 10.30 Yara
sudah mengingatkan Keenan untuk menjemputnya terlebih dahulu. Pesan itu sendiri
sudah 3x Yara kirim kan tanpa ada satupun respon dari Keenan. Bertemu
orangtuanya adalah hal yang sedikit sulit bagi Keenan. Terutama pada Ibunya
sendiri. Keenan merasa telah merebut Kia dari tangan orangtua mereka dan tidak
terlalu berhasil dalam mendidik Kia.
“Aku kira kamu nggak
jadi ketemu sama Mama-Papa. Kok nggak respon sms aku, Keen?” Yara sedikit kesal
dengan kekasihnya itu. Membuatnya khawatir.
“Maaf, Ra. Saya masih
sedikit kesulitan interaksi lagi sama mereka.”
“Keenan, ini udah 2
tahun. Apa menurut kamu, hal itu sehat buat hubungan keluarga kalian? Nggak
loh.”
“Hey. Jangan
nganalisis keluarga saya. Saya bukan pasien kamu.” Ucapan Keenan sebetulnya
menyinggung perasaan Yara. Keenan tau itu, tapi dirinya pun tersinggung oleh
Yara yang selalu memperhatikan setiap detil kebenaran yang selama ini berusaha
ditolak Keenan.
“OK. I’m sorry. But you know I just try to help you here.” Tangan Yara menyentuh
bahu Keenan dengan lembut. Senyuman Keenan kembali terarah menuju kekasihnya
itu walau sedikit kaku.
Sesampainya dirumah
masa kecilnya itu, Keenan tidak langsung keluar dari mobilnya. Ia membiarkan
Yara berjalan lebih dahulu dan melihat interaksi kekasihnya dengan orang yang
melahirkannya. Mama Keenan, dr. Kinanti, memang sangat dekat dengan Yara.
Mereka berpelukan sewajarnya sepasang ibu dan anak.
“Yara… apa kabar
kamu, nak? Keenan kok belum turun?” dr. Kinanti melepas pelukannya dari Yara.
Keenan pun berjalan kearah mereka.
“Tuh Keenan, Ma.”
Yara memalingkan wajah kearah kekasihnya. “Mama apa kabar? Vitaminnya masih
suka diminum kan ya, Ma?”
“Apa kabar, Ma?”
Keenan memotong pertanyaan Yara. Dr. Kinanti memeluk anak sulung kesayangannya
itu.
“Mama sehat ko, Keen.
Kamu apa kabar? Yara bilang masih sering begadang yah? Kok begitu sih? Jaga
kesehatan dong, nak.”
“Keenan sehat, Ma.
Yaa… begadang-begadang sedikit kan nggak apa-apa. Keenan cowok mah.”
“Bener ya kamu jaga
kesehatan. Ya sudah kita masuk yuk! Sebentar lagi Papa sampai terus kita
langsung makan yah.” Mendengar Papanya disebut, Keenan kembali menegang.
Hubungan mereka masih sedikit renggang. Tangan Yara menyentuh punggung Keenan,
memberikannya jaminan keamanan yang dibutuhkan oleh Keenan.
0 komentar:
Posting Komentar