Senin, 15 Desember 2014

Oblivious #1

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

“Tidur jam berapa tadi malam? Begadang lagi?” seorang gadis muda yang enerjik menghampiri Keenan. Karyawan kreatif dan ujung tonggak perusahaan advertisingnya.
“Iya, Ra. Masih sibuk nunggu. Tau sendiri saya bukan orang yang gampang tenang.” Yara. Kekasih Keenan yang sudah di kencaninya hampir selama 6 tahun. Satu-satunya gadis yang bisa menghargai otaknya yang sedikit diluar nalar manusia pada umumnya. Calon istri yang sangat ia banggakan.
“Keen, kalau kamu kurang istirahat terus kaya gini, aku takut kamu sakit. Nanti kerjaan kamu kehambat. Bukannya kamu mau buktiin sama Papa kamu bahwa kamu bisa survive tanpa bantuan financial beliau?”  Yara kini berlutut dihadapan Keenan dan mulai mengelus wajahnya dengan lembut. Sentuhan Yara bisa seketika menenangkan otot-otot Keenan yang tegang.
“Jangan khawatir, Ra. Papa udah nyerah sama saya kok. Dia nggak lagi nuntut saya kerja di rumah sakitnya. Jadi saya nggak terlalu terbebani.” Keenan sadar. Seharusnya ia beruntung memiliki sepasang orangtua yang dapat memenuhi kebutuhannya kapan saja. Sepasang dokter yang sangat terkenal akan jasa-jasanya yang terbaik. Berkat Papanya pula, Keenan berhasil mengantongi sarjana kesehatan dan memiliki izin praktik. Tapi menjadi dokter bukanlah keinginannya.
“Keen, kamu begini hampir 2 tahun. Aku tahu kamu masih belum sepenuhnya damai sama diri kamu tentang perdebatan keluarga kamu sama Ki –“
“Aduh, Ra… Jangan ingetin saya sama masalah itu lagi. Kamu yang paling tau segimana saya care sama Kia. So please… just don’t brought it up.” Bantah Keenan. Yara memalingkan wajahnya dan dengan enggan berdiri namun meraih tangan Keenan dan menggenggamnya.
Okay. Just try to take a rest. A nap for a while would be good for you. Aku balik lagi ke klinik ya. Habisin dulu makanan kamu! Baru kerja lagi.” Yap. Menjadi anak dari pasangan dokter dan memacari psikolog muda menjadikan Keenan selalu diawasi kesehatannya. Yara mengecup bibir kekasihnya dengan lembut lalu pergi.
Tidak mengikuti jejak kaki Papanya, Keenan terpaksa harus membuktikan diri dengan cara yang terkeras. Ia keluar dari rumahnya yang telah melindungi dirinya dari sengatan matahari dan hujan. Memberikannya banyak kenangan indah mengenai ia dan adiknya yang sangat ia sayangi. Keenan menyewa sebuah apartemen dengan dua kamar. Kia, adiknya yang sangat dekat dengannya ikut bersama Keenan pindah ke tempat yang tidak lebih besar dari rumhanya itu sejak 2 tahun lalu.
Orangtua mereka tidak khawatir mengenai pengaturan tempat tinggal itu. Karena sejujurnya, mereka ingin anak-anak mereka menjadi anak yang mandiri. Terutama Kia. Namun kedekatannya dengan abangnya itu memberi Kia ruang yang lebih sempit untuk bergerak. Keenan yang begitu mencintai Kia kini sedang belajar memberi space yang dibutuhkan Kia selayaknya remaja berusia 20 tahun yang sedang berusaha mencari pembuktian diri. Meski itu berarti Keenan harus bergelut bukan hanya dengan logika Kia namun juga logikanya.
***
Jam dinding sarang burung di kamar Kia berbunyi selama duabelas kali. Menunjukan ketepatan waktu sesuai dengan jumlah bunyinya. Keenan masih berkutat dengan tugas kantornya yang sebetulnya masih 4 bulan menuju deadline demi menenangkan hati dan pikirannya menanti kedatangan sang adik.
“Baaaaang… Kia pulang!” Seketika otot-otot Keenan merenggang.
“Kok pulangnya telat banget sih, Dik? Ini jam 12 loh! Kok nggak ada kabarnya juga?” Keenan menghampiri Kia yang langsung berjalan ke arah dapur. Hal yang sudah menjadi kebiasaan Kia.
“Maaf Bang, Kia tadi kerjaannya numpuk. Kia makan yah! Laper!” Keenan hanya dapat tersenyum sambil memandang adiknya dengan tatapan lembut. Emosinya tersapu saat melihat Kia melahap santapannya yang tak lebih dari sepotong roti yang diolesi selai kacang. Favoritnya.
***
Pagi itu, bukan yang matahari menyapa Keenan dengan lembut, ia merasa ada bibir yang mengecup sisi keningnya. Keenan terbangun bersamaan dengan mata Kia ada disampingnya.
“Bang, Kia kangen banget sama abang. Kia tidur disini ya.” Matahari belum menyapa. Hanya adiknya yang terkadang lebih penting bagi dunia Keenan dibandingkan matahari.
“Kamu udah gede ah! Sana tidur sendiri!” Keenan membalik tubuhnya dan mengusir adiknya meski bersebrangan dengan logika. Namun dirinya tahu. Ucapannya hanya akan membuat Kia semakin manja. Respon yang sebenarnya ia inginkan.
“Nggak! Kia kangen sama abang! Lama kelamaan juga abang yang nanti meluk Kia.”
“Oiya, Ki. Besok abang sama Mba Yara mau makan siang bareng Mama sama Papa. Kamu ikut ya! Kamu udah lama banget nggak ketemu mereka, Ki.” Hening. Kia tak menjawab pertanyaan abangnya itu. Keenan kembali setengah sadar karna kantuknya. Namun suara Kia yang pelan menyadarkannya.
“Kia nggak bisa, Bang. Besok Kia ada kuliah sama kerja.” Hening, “Kia kangen sekali sama mereka, Bang.”
“Kalau gitu kamu bolos aja dulu 1 hari, Ki. Keluarga itu harus jadi prioritas utama loh.”
“Nggak bisa, Bang. Kalau bisa pasti udah dari dulu Kia lakuin.”
“Kia…”
“Bang, please ya bang. Jangan bantah Kia dulu.”
“Ya udah. Nanti abang kasih tau sama Mama Papa kalau kamu titip salam.”
“Jangan Bang!” Suara Kia yang tiba-tiba mengeras mengejutkan Keenan. “Maksud Kia, biar nanti Kia yang telepon Mama sama Papa. Okay?”
“Terserah kamu lah, Ki.”
“Abang percaya ya sama Kia. Kia kangen banget sama Abang, Mama, Papa juga. Kia sayang banget sama kalian.” Keenan hanya tersenyum disertai kehangatan dekapan adiknya dari belakang yang perlahan menelannya kembali kealam mimpi.
***
Matahari kini benar-benar menyapa. Kia sudah tak lagi ada dikamarnya. Keenan menyusuri apartemen itu hingga menyadari sarapan telah tersaji di meja makan. Keenan tak lagi mengharapkan makanan hangat yang baru diangkat dari penggorengan. Kia hanya makan buah segar dipagi hari. Dan itu lah yang kini tersedia bersama dengan 1 karton susu dingin yang sudah mulai kehilangan dinginnya. Sudah berapa lama Kia berangkat? Batinnya bertanya. Namun ia tepis. Kia memang selalu berangkat sangat pagi, karena jarak antara apartemen dan kampusnya yang sangat jauh. Kia juga menolak menggunakan mobilnya sebagai sarana transportasi. ‘ingin mengurangi kemacetan kota Bandung yang sudah mulai tak bersahabat’ katanya. Keenan pun berlalu dan bersiap memulai hari.
***
Hari ini Keenan dan Yara berencana untuk makan siang bersama orangtua Keenan di rumah masa kecilnya itu. Orangtua Keenan memang sedang berada di kota asal mereka setelah beberapa lama menjadikan rumah luasnya itu sebagai tempat singgah. Pukul 10.30 Yara sudah mengingatkan Keenan untuk menjemputnya terlebih dahulu. Pesan itu sendiri sudah 3x Yara kirim kan tanpa ada satupun respon dari Keenan. Bertemu orangtuanya adalah hal yang sedikit sulit bagi Keenan. Terutama pada Ibunya sendiri. Keenan merasa telah merebut Kia dari tangan orangtua mereka dan tidak terlalu berhasil dalam mendidik Kia.
“Aku kira kamu nggak jadi ketemu sama Mama-Papa. Kok nggak respon sms aku, Keen?” Yara sedikit kesal dengan kekasihnya itu. Membuatnya khawatir.
“Maaf, Ra. Saya masih sedikit kesulitan interaksi lagi sama mereka.”
“Keenan, ini udah 2 tahun. Apa menurut kamu, hal itu sehat buat hubungan keluarga kalian? Nggak loh.”
“Hey. Jangan nganalisis keluarga saya. Saya bukan pasien kamu.” Ucapan Keenan sebetulnya menyinggung perasaan Yara. Keenan tau itu, tapi dirinya pun tersinggung oleh Yara yang selalu memperhatikan setiap detil kebenaran yang selama ini berusaha ditolak Keenan.
“OK. I’m sorry. But you know I just try to help you here.” Tangan Yara menyentuh bahu Keenan dengan lembut. Senyuman Keenan kembali terarah menuju kekasihnya itu walau sedikit kaku.
Sesampainya dirumah masa kecilnya itu, Keenan tidak langsung keluar dari mobilnya. Ia membiarkan Yara berjalan lebih dahulu dan melihat interaksi kekasihnya dengan orang yang melahirkannya. Mama Keenan, dr. Kinanti, memang sangat dekat dengan Yara. Mereka berpelukan sewajarnya sepasang ibu dan anak.
“Yara… apa kabar kamu, nak? Keenan kok belum turun?” dr. Kinanti melepas pelukannya dari Yara. Keenan pun berjalan kearah mereka.
“Tuh Keenan, Ma.” Yara memalingkan wajah kearah kekasihnya. “Mama apa kabar? Vitaminnya masih suka diminum kan ya, Ma?”
“Apa kabar, Ma?” Keenan memotong pertanyaan Yara. Dr. Kinanti memeluk anak sulung kesayangannya itu.
“Mama sehat ko, Keen. Kamu apa kabar? Yara bilang masih sering begadang yah? Kok begitu sih? Jaga kesehatan dong, nak.”
“Keenan sehat, Ma. Yaa… begadang-begadang sedikit kan nggak apa-apa. Keenan cowok mah.”
“Bener ya kamu jaga kesehatan. Ya sudah kita masuk yuk! Sebentar lagi Papa sampai terus kita langsung makan yah.” Mendengar Papanya disebut, Keenan kembali menegang. Hubungan mereka masih sedikit renggang. Tangan Yara menyentuh punggung Keenan, memberikannya jaminan keamanan yang dibutuhkan oleh Keenan.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com