Senin, 29 Desember 2014

Oblivious #3

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

“Kia nggak bisa ikut.”
“Kenapa? Kamu nggak dapet izin cuti?”
“Bukan gitu, Bang…”
“Terus kenapa?” Kia lagi-lagi diam. Keenan mulai kesulitan mengontrol emosinya. “Jawab Abang, Kia! Kenapa kamu nggak bisa ikut?” nadanya kini dingin.
“Ya Kia nggak bisa aja, Bang.” Kia menatap Keenan dengan air mata yang sudah mulai jatuh. Tapi emosi Keenan sudah tak terbendung lagi. Air mata Kia tak membantu meredakan emosi itu.
“Kamu keterlaluan ya, Kia.” Dingin. Tanpa emosi, Keenan berdiri dan dengan perlahan menjauh dari Kia yang tetap duduk di tepi ranjangnya. “Kamu tau segimana Mama sama Papa kangen sama kamu?! Kamu tahu segimana besarnya pengorbanan mereka buat ngasih 3 hari ini buat kita?! Mereka orang penting Kia! Dan saya! Saya udah rencanain liburan ini dari lama! Kamu masih bisa bilang kalau kamu nggak bisa?!” Keenan meledak. Suaranya menggema dalam apartemennya.
“Kita semua, itu kangen banget sama kamu, Ki! Selama ini, saya udah biarin kamu hidup tanpa aturan! 2 tahun, Kia! 2 tahun saya biarin kamu kerja serabutan nggak jelas, keteteran kuliah, pulang malam, apa saya terlalu manjain kamu?!” tangis Kia mengeras. Mata Keenan pun mulai panas. “Apa kami salah ingin merayakan ulang tahun kamu bareng sama kamunya?! Apa Mama sama Papa seburuk itu sampai kamu nggak mau liburan bareng sama kami?! Apa saya salah ingin liburan bareng sama adik saya yang sebetulnya tinggal serumah sama saya tapi sangat sebentar sekali ngabisin waktunya yang sangat berharga itu bareng saya?!” Keenan menarik rambutnya dengan kasar. Kia dengan pelan mulai bergumam ‘bukan gitu’ berulang kali. Tapi Keenan tidak memperhatikannya. Rasa kecewanya terlalu besar tehadap adik kesayangannya itu. “Abang nggak mau tau, Ki! Masukin baju-baju kamu ke dalam tas sekarang! Kamu tetap ikut sama kita semua!” Keenan mulai beranjak pergi dari kamar Kia.
“Bang! Kia mohon, Bang. Ngertiin Kia, Bang. Kia nggak bisa ikut.” Kia merajuk, menarik tangan abangnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Matanya masih membentuk aliran sungai deras. Sangat deras.
“Ngertiin kamu?! ‘Ngertiin kamu’ kamu bilang?! Kurang ngerti apa saya selama ini sama kamu?! Saya yang seharusnya minta kamu ngertiin saya sekarang ini!” Keenan meraih kedua bahu Kia dan mulai mengguncang tubuh gadis itu. Mata Keenan fokus tertuju pada sepasang mata adiknya. “Kia, apa saya salah ngedidik kamu selama ini? Apa saya terlalu ngebebasin kamu sampai kamu bingung mana yang harus jadi prioritas utama kamu?” Kia tidak membalas tatapan mata abangnya juga suaranya yang berubah menjadi lembut. Namun Kia tetap menggumamkan kalimat ‘bukan gitu’ dan kini, gumaman itu kembali menyulut amarah Keenan. “Kalau bukan gitu terus gimana?!” Keenan melepaskan genggamannya dari bahu Kia, membuat Kia sedikit limbung. Keenan mendengar sedikit keributan diluar kamar Kia. Keluarganya telah datang. Kia menatap ke arah pintu kamarnya dan abangnya dengan tatapan kaget yang teramat sangat. Keenan tersenyum dingin ke arah Kia, “Kamu nggak bisa ikut kan? Bilang sendiri sana sama mereka!”
“Mereka nggak akan dengerin, Kia!” Kia berteriak sekeras mungkin, membuat Keenan memandangnya dengan tatapan penuh kecewa dan marah.
“Kamu. Bilang. Sendiri. Sama. Mereka!”
***
Yara datang disaat yang bersamaan dengan orangtua Keenan. Orangtua Yara sendiri berencana langsung menyusul mereka ke Anyer dari Medan. Mereka bersama menuju pintu apartemen Keenan sembari berbincang mengenai hubungan yang terjalin diantara keduanya,  sampai saat melangkah keluar dari lift mereka mendengar suara teriakan Keenan.
“Yara, Keenan kenapa? Kok teriak-teriak begitu?” dr. Kinanti bertanya pada Yara yang sedang setengah berlari bersamanya.
“Yara nggak tau, Ma.” Yara memandang wajah calon ibu mertuanya dengan pandangan yang sama. Khawatir. Mereka mengetuk beberapa saat namun tak ada jawaban. Yara memenggerakan daun pintu apartemen Keenan dan beruntung, apartemen itu tidak dikunci. Mereka semua berteriak memanggil Keenan. Khawatir mengenai keadaan anak lelaki itu. “Keenan nggak dikamarnya, Ma.”
Dr. Awang sudah lebih dahulu berlari menuju lantai 2 apartemen itu diekori oleh istri dan calon menantunya. “Keenan!” dr. Awang melihat Keenan, seketika khawatirnya hilang. Lain ceritanya dengan ibunya, dr. Kinanti berlari ke arah Keenan dan menyentuh wajah Keenan dengan kedua tangannya. “Kamu kenapa teriak-teriak, nak?” ucapnya lembut.
“Kamu bilang sendiri sama mereka. Bilang sama mereka kamu nggak bisa ikut.” Keenan memandang adiknya yang kini duduk di kursi meja belajarnya. Duduk menangis. Terdiam.
“Kamu ngomong apa, Keenan?” Yara mendekati Keenan. Meraih tangan kanannya.
“Kia, kamu kasih tau mereka kamu nggak bisa ikut!” Keenan tiba-tiba berteriak. Dr. Kinanti tersentak. Ia melangkah mundur bersandar pada suaminya, tangannya yang tadi menyentuh wajah Keenan kini memeluk tubuhnya sendiri. “Kamu bilang sama mereka sekarang juga atau kamu masukin baju kamu dan ikut sama kita!” Keenan kembali berteriak. Panggilan Yara seolah tak didengar olehnya. Yara kini menggenggam kedua tangan Keenan.
“Keenan!” Yara berteriak. Keenan akhirnya memandang wajah cantik Yara yang kini sudah dibanjiri air mata. “Kamu kenapa Keenan?” Keenan mulai memalingkan wajahnya lagi kearah Kia dan mulai berbicara namun Yara memaksanya diam. “Keenan! Kia udah nggak ada.” Tapi Keenan masih tak mendengarkannya. “Kia udah nggak ada dari 2 tahun lalu, Keenan.” Mata Keenan menerawang kearah Yara. Memandangnya seolah Yara memiliki dua kepala.
“Kamu gila, Ra?! Kia ada disana!” Keenan menunjuk kearah Kia duduk. “Kamu ngomong sekarang, Kia! Ngomong!” Kia hanya menggeleng dengan airmata yang terus jatuh dari matanya. dr. Kinanti kini tersedu kencang dipelukan suaminya.
“Keenan, Kia udah nggak ada, nak. 2 tahun lalu Kia meninggal di-“
Nggak! Kia nggak meninggal! Kia ada disini sama saya! Kia tinggal disini sama saya!” Keenan memotong ucapan dr. Awang. Dirinya menatap lagi sosok Kia yang hanya menangis dan menunduk.
“Keenan, sayang… Kia udah nggak ada… terimain yaa…” Yara kini mengelus rambut Keenan dengan lembut. Tubuh Keenan berguncang hebat. Nafasnya tak lagi beraturan. Badannya ia sandarkan dipintu dan kakinya tak lagi kuat menopang raganya. Keenan jatuh bersama dengan ibunya yang terus memanggil namanya. Tapi Keenan tak peduli. Matanya mengikuti setiap alur air yang dijatuhkan oleh mata sendu Kia.  Otaknya dipenuhi memori kebersamaannya dengan adiknya selama 2 tahun terakhir didalam apartemen ini.
***
“Bang, Kia kangen banget sama abang. Kia tidur disini ya.”
“Nggak bisa, Bang. Kalau bisa pasti udah dari dulu Kia lakuin.”
“Abang percaya ya sama Kia. Kia kangen banget sama Abang, Mama, Papa juga. Kia sayang banget sama kalian.”
“Nahloh! Sekarang Abang yang pulangnya telat! Padahal tadi Kia udah berusaha pulang cepet loh, Bang!”
“Abang jangan terlalu nuntut dan berharap yah.”
“Abang bawa makanan nggak? Kia laper dari tadi nggak makan.”
“Kia nggak bisa ikut.”
“Mereka nggak akan dengerin, Kia!”
Ucapan Kia selama ini jadi berbeda artinya di otak Keenan. Dirinya tak lagi percaya mana yang nyata. Dilihat lagi Kia yang masih menangis dikursinya, lalu dunianya hitam.
***
“Selamat pagi, Keenan. Apa kabarnya hari ini?” Seorang wanita paruh baya menghampiri Keenan yang sedang duduk menatap taman dari balik jendela besar kamarnya. Keenan kembali menempati rumah orangtuanya. Percaya bahwa kenangan yang ada disana bersama Kia adalah nyata. “Ada yang mau diceritakan nggak? Kemarin gimana? Kia masih nemenin kamu?” tanyanya lembut. Keenan akhirnya menatap wanita itu.
“Saya nggak mungkin ketemu Kia kalau saya terus-terusan minum pil yang anda kasih.” Jawabnya dingin.
“Kamu masih merindukan adik kamu? Masih belum bisa menerima kepergiannya?”
“Gimana saya bisa terima?! Saya nggak bisa ingat kenapa dia meninggal! Mereka bilang saya ada disamping dia! Tapi saya nggak bisa ingat! Nggak ada sama sekali memori tentang itu!” Keenan menarik rambutnya lagi. Wanita itu menyentuh Keenan dan menarik tangannya.
“Keenan, saya disini, untuk membantu kamu. Kita mulai seperti biasa ya. Kamu ceritakan memori terakhir kamu bersama Kia.”
“Yang saya ingat, Kia lari dari rumah ini, saya sama Papa berusaha nyari, akhirnya saya yang nemuin dia lagi makan jagung bakar di  daerah Dago. Tapi Kia nggak mau pulang kesini. Dia ingin tinggal di apartemen saya… dan seperti itulah terus. Kia akan terus pulang ke apartemen saya.” Keenan terdiam. Lalu memandang wanita paruh baya itu. “Kia bukan hantu atau apapun itu! Saya bisa pegang dia, saya bisa peluk dia, kadang kita ngabisin weekend bareng! Tapi Kia memang nggak pernah mau pergi keluar apartemen sama saya lagi.” Air mata kembali menggenangi wajah tampan Keenan.
“Saya tau Kia bukan hantu. Jadi memori kamu belum bertambah?” Keenan menggelengkan kepalanya.
“Setiap saya tidur, saya akan mimpi. Tentang memori itu. Tapi saya akan selalu terbangun setiap kali saya menemukan Kia. Kenapa ngga ada yang ngasih tau aja sih? Itu akan jauh lebih gampang buat saya!” melihat Keenan yang terus berteriak, wanita paruh baya itu menyentuh bahu Keenan.

“Saya bisa menceritakan semuanya setelah pertemuan kalian itu. Tapi alam sadar kamu akan menolaknya. Kamu perlu mengingatnya sendiri… atau minta bantuan Kia.” Wanita paruh baya itu tersenyum meninggalkan Keenan dengan tatapan bingung. Meminta bantuan Kia?***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com