“Kia nggak bisa ikut.”
“Kenapa? Kamu nggak dapet izin cuti?”
“Bukan gitu, Bang…”
“Terus kenapa?” Kia
lagi-lagi diam. Keenan mulai kesulitan mengontrol emosinya. “Jawab Abang, Kia!
Kenapa kamu nggak bisa ikut?” nadanya
kini dingin.
“Ya Kia nggak bisa aja, Bang.” Kia menatap
Keenan dengan air mata yang sudah mulai jatuh. Tapi emosi Keenan sudah tak
terbendung lagi. Air mata Kia tak membantu meredakan emosi itu.
“Kamu keterlaluan ya,
Kia.” Dingin. Tanpa emosi, Keenan berdiri dan dengan perlahan menjauh dari Kia
yang tetap duduk di tepi ranjangnya. “Kamu tau segimana Mama sama Papa kangen
sama kamu?! Kamu tahu segimana besarnya pengorbanan mereka buat ngasih 3 hari
ini buat kita?! Mereka orang penting Kia! Dan saya! Saya udah rencanain liburan
ini dari lama! Kamu masih bisa bilang kalau kamu nggak bisa?!” Keenan meledak. Suaranya menggema dalam apartemennya.
“Kita semua, itu
kangen banget sama kamu, Ki! Selama ini, saya udah biarin kamu hidup tanpa
aturan! 2 tahun, Kia! 2 tahun saya biarin kamu kerja serabutan nggak jelas, keteteran kuliah, pulang
malam, apa saya terlalu manjain kamu?!” tangis Kia mengeras. Mata Keenan pun
mulai panas. “Apa kami salah ingin merayakan ulang tahun kamu bareng sama
kamunya?! Apa Mama sama Papa seburuk itu sampai kamu nggak mau liburan bareng sama kami?! Apa saya salah ingin liburan
bareng sama adik saya yang sebetulnya tinggal serumah sama saya tapi sangat
sebentar sekali ngabisin waktunya yang sangat berharga itu bareng saya?!”
Keenan menarik rambutnya dengan kasar. Kia dengan pelan mulai bergumam ‘bukan
gitu’ berulang kali. Tapi Keenan tidak memperhatikannya. Rasa kecewanya terlalu
besar tehadap adik kesayangannya itu. “Abang nggak mau tau, Ki! Masukin baju-baju kamu ke dalam tas sekarang!
Kamu tetap ikut sama kita semua!” Keenan mulai beranjak pergi dari kamar Kia.
“Bang! Kia mohon,
Bang. Ngertiin Kia, Bang. Kia nggak
bisa ikut.” Kia merajuk, menarik tangan abangnya dengan sisa tenaga yang ia
miliki. Matanya masih membentuk aliran sungai deras. Sangat deras.
“Ngertiin kamu?!
‘Ngertiin kamu’ kamu bilang?! Kurang ngerti apa saya selama ini sama kamu?!
Saya yang seharusnya minta kamu ngertiin saya sekarang ini!” Keenan meraih
kedua bahu Kia dan mulai mengguncang tubuh gadis itu. Mata Keenan fokus tertuju
pada sepasang mata adiknya. “Kia, apa saya salah ngedidik kamu selama ini? Apa
saya terlalu ngebebasin kamu sampai kamu bingung mana yang harus jadi prioritas
utama kamu?” Kia tidak membalas tatapan mata abangnya juga suaranya yang
berubah menjadi lembut. Namun Kia tetap menggumamkan kalimat ‘bukan gitu’ dan
kini, gumaman itu kembali menyulut amarah Keenan. “Kalau bukan gitu terus
gimana?!” Keenan melepaskan genggamannya dari bahu Kia, membuat Kia sedikit
limbung. Keenan mendengar sedikit keributan diluar kamar Kia. Keluarganya telah
datang. Kia menatap ke arah pintu kamarnya dan abangnya dengan tatapan kaget
yang teramat sangat. Keenan tersenyum dingin ke arah Kia, “Kamu nggak bisa ikut kan? Bilang sendiri sana
sama mereka!”
“Mereka nggak akan dengerin, Kia!” Kia berteriak
sekeras mungkin, membuat Keenan memandangnya dengan tatapan penuh kecewa dan
marah.
“Kamu. Bilang.
Sendiri. Sama. Mereka!”
***
Yara datang disaat
yang bersamaan dengan orangtua Keenan. Orangtua Yara sendiri berencana langsung
menyusul mereka ke Anyer dari Medan. Mereka bersama menuju pintu apartemen
Keenan sembari berbincang mengenai hubungan yang terjalin diantara
keduanya, sampai saat melangkah keluar
dari lift mereka mendengar suara
teriakan Keenan.
“Yara, Keenan kenapa?
Kok teriak-teriak begitu?” dr. Kinanti bertanya pada Yara yang sedang setengah
berlari bersamanya.
“Yara nggak tau, Ma.” Yara memandang wajah
calon ibu mertuanya dengan pandangan yang sama. Khawatir. Mereka mengetuk
beberapa saat namun tak ada jawaban. Yara memenggerakan daun pintu apartemen
Keenan dan beruntung, apartemen itu tidak dikunci. Mereka semua berteriak
memanggil Keenan. Khawatir mengenai keadaan anak lelaki itu. “Keenan nggak dikamarnya, Ma.”
Dr. Awang sudah lebih
dahulu berlari menuju lantai 2 apartemen itu diekori oleh istri dan calon menantunya.
“Keenan!” dr. Awang melihat Keenan, seketika khawatirnya hilang. Lain ceritanya
dengan ibunya, dr. Kinanti berlari ke arah Keenan dan menyentuh wajah Keenan
dengan kedua tangannya. “Kamu kenapa teriak-teriak, nak?” ucapnya lembut.
“Kamu bilang sendiri
sama mereka. Bilang sama mereka kamu nggak
bisa ikut.” Keenan memandang adiknya yang kini duduk di kursi meja belajarnya.
Duduk menangis. Terdiam.
“Kamu ngomong apa,
Keenan?” Yara mendekati Keenan. Meraih tangan kanannya.
“Kia, kamu kasih tau
mereka kamu nggak bisa ikut!” Keenan
tiba-tiba berteriak. Dr. Kinanti tersentak. Ia melangkah mundur bersandar pada
suaminya, tangannya yang tadi menyentuh wajah Keenan kini memeluk tubuhnya
sendiri. “Kamu bilang sama mereka sekarang juga atau kamu masukin baju kamu dan
ikut sama kita!” Keenan kembali berteriak. Panggilan Yara seolah tak didengar
olehnya. Yara kini menggenggam kedua tangan Keenan.
“Keenan!” Yara
berteriak. Keenan akhirnya memandang wajah cantik Yara yang kini sudah
dibanjiri air mata. “Kamu kenapa Keenan?” Keenan mulai memalingkan wajahnya
lagi kearah Kia dan mulai berbicara namun Yara memaksanya diam. “Keenan! Kia
udah nggak ada.” Tapi Keenan masih
tak mendengarkannya. “Kia udah nggak
ada dari 2 tahun lalu, Keenan.” Mata Keenan menerawang kearah Yara.
Memandangnya seolah Yara memiliki dua kepala.
“Kamu gila, Ra?! Kia
ada disana!” Keenan menunjuk kearah Kia duduk. “Kamu ngomong sekarang, Kia!
Ngomong!” Kia hanya menggeleng dengan airmata yang terus jatuh dari matanya. dr.
Kinanti kini tersedu kencang dipelukan suaminya.
“Keenan, Kia udah nggak ada, nak. 2 tahun lalu Kia
meninggal di-“
“Nggak! Kia nggak
meninggal! Kia ada disini sama saya! Kia tinggal disini sama saya!” Keenan
memotong ucapan dr. Awang. Dirinya menatap lagi sosok Kia yang hanya menangis dan
menunduk.
“Keenan, sayang… Kia
udah nggak ada… terimain yaa…” Yara
kini mengelus rambut Keenan dengan lembut. Tubuh Keenan berguncang hebat.
Nafasnya tak lagi beraturan. Badannya ia sandarkan dipintu dan kakinya tak lagi
kuat menopang raganya. Keenan jatuh bersama dengan ibunya yang terus memanggil
namanya. Tapi Keenan tak peduli. Matanya mengikuti setiap alur air yang
dijatuhkan oleh mata sendu Kia. Otaknya
dipenuhi memori kebersamaannya dengan adiknya selama 2 tahun terakhir didalam
apartemen ini.
***
“Bang,
Kia kangen banget sama abang. Kia tidur disini ya.”
“Nggak
bisa, Bang. Kalau bisa pasti udah dari dulu Kia lakuin.”
“Abang
percaya ya sama Kia. Kia kangen banget sama Abang, Mama, Papa juga. Kia sayang
banget sama kalian.”
“Nahloh!
Sekarang Abang yang pulangnya telat! Padahal tadi Kia udah berusaha pulang
cepet loh, Bang!”
“Abang
jangan terlalu nuntut dan berharap yah.”
“Abang
bawa makanan nggak? Kia laper dari tadi nggak makan.”
“Kia
nggak bisa ikut.”
“Mereka
nggak akan dengerin, Kia!”
Ucapan Kia selama ini
jadi berbeda artinya di otak Keenan. Dirinya tak lagi percaya mana yang nyata.
Dilihat lagi Kia yang masih menangis dikursinya, lalu dunianya hitam.
***
“Selamat
pagi, Keenan. Apa kabarnya hari ini?” Seorang wanita paruh baya menghampiri
Keenan yang sedang duduk menatap taman dari balik jendela besar kamarnya.
Keenan kembali menempati rumah orangtuanya. Percaya bahwa kenangan yang ada
disana bersama Kia adalah nyata. “Ada yang mau diceritakan nggak? Kemarin gimana? Kia masih nemenin kamu?” tanyanya lembut.
Keenan akhirnya menatap wanita itu.
“Saya
nggak mungkin ketemu Kia kalau saya
terus-terusan minum pil yang anda kasih.” Jawabnya dingin.
“Kamu
masih merindukan adik kamu? Masih belum bisa menerima kepergiannya?”
“Gimana
saya bisa terima?! Saya nggak bisa
ingat kenapa dia meninggal! Mereka bilang saya ada disamping dia! Tapi saya nggak bisa ingat! Nggak ada sama sekali memori tentang itu!” Keenan menarik rambutnya
lagi. Wanita itu menyentuh Keenan dan menarik tangannya.
“Keenan,
saya disini, untuk membantu kamu. Kita mulai seperti biasa ya. Kamu ceritakan
memori terakhir kamu bersama Kia.”
“Yang
saya ingat, Kia lari dari rumah ini, saya sama Papa berusaha nyari, akhirnya
saya yang nemuin dia lagi makan jagung bakar di
daerah Dago. Tapi Kia nggak mau
pulang kesini. Dia ingin tinggal di apartemen saya… dan seperti itulah terus.
Kia akan terus pulang ke apartemen saya.” Keenan terdiam. Lalu memandang wanita
paruh baya itu. “Kia bukan hantu atau apapun itu! Saya bisa pegang dia, saya
bisa peluk dia, kadang kita ngabisin weekend bareng! Tapi Kia memang nggak pernah mau pergi keluar apartemen sama
saya lagi.” Air mata kembali menggenangi wajah tampan Keenan.
“Saya
tau Kia bukan hantu. Jadi memori kamu
belum bertambah?” Keenan menggelengkan kepalanya.
“Setiap
saya tidur, saya akan mimpi. Tentang memori itu. Tapi saya akan selalu
terbangun setiap kali saya menemukan Kia. Kenapa ngga ada yang ngasih tau aja
sih? Itu akan jauh lebih gampang buat saya!” melihat Keenan yang terus
berteriak, wanita paruh baya itu menyentuh bahu Keenan.
“Saya
bisa menceritakan semuanya setelah pertemuan kalian itu. Tapi alam sadar kamu
akan menolaknya. Kamu perlu mengingatnya sendiri… atau minta bantuan Kia.”
Wanita paruh baya itu tersenyum meninggalkan Keenan dengan tatapan bingung.
Meminta bantuan Kia?***
0 komentar:
Posting Komentar