Suara adzan berkumandang ditengah hari
yang masih gelap, membangunkanku dengan terpaksa dan memaksaku melangkahkan
kakiku menuju kamar mandi untuk menajalankan kewajibanku sebagai manusia, meski
aku tak mengikuti segala perintahNya, yang satu ini tetap kupenuhi.
Kini matahari menggelitik punggungku melalui
cerah tirai yang tak pernah kusadari ternyata tak rapat. Bukan alat penunjuk
waktu yang sengaja kubiarkan hidup disamping ranjangku. Aku tersenyum. Alat
ajaib itu sudah bersarang dibawah mejaku. Sepertinya ia terjatuh lagi saat
dengan terpaksa bernyanyi untuk telingaku, namun harus menghadapi sentuhan
kecil tanganku yang belum benar-benar bernyawa.
“Lika… jam 7 nak! Mau kekampus jam
berapa?” Pria yang menjadi perantara Tuhan dalam penghidupanku di dunia
mengetuk pembatas kayu yang mereka sebut pintu. Aku mengerang. Tak ada
sedikitpun dari bagian tubuhku yang siap menghadapi misteri hari baru. Akankah
lebih baik dari kemarin? Atau justru memperburuk kekacauan otakku?
“Iya, Pa… ini bangun. Lika kuliah
siang.” Jawabku asal. Kuliah, aku bangkit dari tidurku dan mengambil secarik
kertas dari tas yang kemarin kupilih sebagai teman setiaku. Kutatap deretan
nama mata kuliah yang telah selesai kutempuh beserta hasil penilaian yang
diberikan oleh pembimbing mata kuliah tersebut. Entah dari mana dan atas dasar
apa mereka berpikir. Not that I mind!
Hasilku baik. Dengan IPK 3,62 rasanya aku bisa menjadi apa saja untuk
menentukan angka penghasilanku. Kuberitahu kau rahasia terbaikku, aku tidak
pintar. Aku hanya cerdik. Cerdik mengenai cara dan lokasi penyembunyian kunci
jawaban yang kusiapkan malam sebelumnya. Yup! IPK 3,62 kuperoleh dari hasil
kerjaku yang cerdik, dan aku bangga.
Tanpa melihat telepon genggam yang kini
menggenggam hidupku, aku melangkah keluar dari gua pemulihanku dan bersiap
menghadapi hari. Memakai segala jenis pakaian yang sedang trend diusiaku, tapi tetap membuatku nyaman. Hanya untuk hari ini.
kupersiapkan segala jenis topeng mental yang akan membantuku hari ini. Aku siap
menjadi si munafik lagi.
Kendaraan roda empat-ku membawaku
kekampus biru. Salah satu gua pemulihanku yang bisa mengantarku kemanapun.
Salah satu ‘hasil’ dari lelaki sebayaku yang orang sebut kekasih. Bibirku
selalu tergerak membentuk senyum setiapku mengingatnya. Senyum yang mengandung
terlalu banyak arti hingga akupun bingung. Bahagia, kecewa, bangga, rindu,
membodohi dan dibodohi.
Ia tak disini. Tidak menghirup oksigen
yang sama denganku, juga tak memandang langit yang serupa denganku. Keputusan
orangtua kami lah yang membuat kami berdiri diujung bumi yang berbeda. Lelakiku
terjebak di universitas yang ada di Seattle sana. Sedang aku terjembak di
Universitas swasta Bandung. Mereka menyebutnya dengan Long Distance, entahlah. Saat ini, aku tak ingin mengikat diriku
sekuat itu padanya. Meski kenyataannya dia memilikiku secara utuh. Baik raga
maupun jiwa… meh! Otakku yang dulu begitu naïf atas seluruh kata cinta yang
meluncur dengan lembut dari ujung lidahnya memberiku keyakinan semu atas
indahnya cinta itu, dengan imbalan tahta kewanitaanku yang secara sadar kulepas
padanya. Lihatlah kemana cinta itu membawaku. Ha! Seolah aku tahu cinta itu
apa.
“Hey cantik.” Aku menoleh. “Kemana aja?
Jarang liat ih!” Sesosok tubuh menghampiriku bersama dengan suaranya yang
menggelegar. Seorang pria yang selalu muncul dihari-hariku kemarin. Raga pemuas
nafsu saat lelakiku tak nampak. “Hahaha kan
kemarin nggak ada kelas.” Sapaku
ramah meski otak dan hati (jika aku memang punya) meneriakan nama seseorang
yang entah sedang melakukan apa di ujung lain dunia ini.
“Loh kan
kalau buat Reza, nggak liat kamu beberapa
menit juga udah kangen.” Tuhan…
lenyapkan ia saat ini juga. Meski rasanya aku ingin memukul wajahnya, aku tetap
memberikan senyum termanisku. “Saya duluan ya, Za. Sampai ketemu nanti.” Aku
seolah mengambil langkah seribu agar Reza tak lagi menghantuiku. Beruntung kami
tidak berbagi kelas hari ini.
Perjalananku dari lahan parkir menuju
ruang kelas yang walau hanya berjarak 3 menit seolah mengambil 1/3 energiku.
Banyak yang mengenalku, banyak yang menyapaku. Seolah sapaan mereka akan
berikan bunga bagi hariku.
Mereka memanggilku cantik. Bagai aku tak
tahu bagaimana rupaku. Salah satu alat yang kugunakan selain tubuh dan kebaikan
serta keluguan palsuku. Tapi demi penokohan yang kini sedang kuperankan, aku
kembali menyapa mereka yang menyapaku dengan topeng senyum mereka. Bangsaku.
Ingin rasanya aku tertawa, aku tahu mereka yang bertopeng, karena topeng itu
juga kukenakan. Lantas untuk apa mereka berusaha bergabung denganku? Oh! Benar…
untuk membunuhku perlahan… sayang, aku tidak berniat mati secepat itu kawan.
“Hai, Lika…” lagi-lagi suara seorang
pria, tapi kini, bibirku membentuk senyum tulus. Irvan. Lelaki pemuas ragaku
yang lain. Aku tersenyum bukan karena kebaikannya yang diketahui banyak orang, melainkan
atas kebodohannya yang keterlaluan. Bukan hanya raganya yang kumanfaatkan, tetapi
juga kebaikan dan kepolosan hartanya. Ingin rasanya aku memberikan diriku seutuhnya
pada pria ini. Tapi tidak, ragaku bahkan bukan lagi milikku seorang, dan sesungguhnya,
hatiku pun sudah tak lagi milikku. Entahlah aku benar-benar memiliki hati atau
tidak, mengingat hina apa yang kuperbuat dibalik topeng manis kesetiaanku yang
sesungguhnya tak nyata. Tapi yang pasti, masa depanku sudah jelas tergambar,
terlalu jelas.. dan aku tak mau ada kerusakan pada gambar itu.
“Hay, Van! Bapaknya udah ada?” dengan
nada antusias yang terdengar sumbang ditelingaku, tapi tidak ditelinga manusia
lain. Kali ini Irvan ada dikelasku. Entah karena dia memang mengambil kelas
ini, atau hanya karena keinginannya bersamaku. Jika pilihan kedua adalah nyata,
maka dia benar-benar bodoh.
“Bapaknya nggak masuk, Lik.” Aku
mengangguk polos meski hatiku merutuk keras. Lantas untuk apa aku datang
ketempat ini?! “Kamu udah makan?” Aku menggeleng polos dan menunjukan deretan
gigi rapiku bersama dengan senyuman manis yang menurutku memualkan. Irvan
tertawa dan mengelus kepalaku lembut. “Ya udah, kita makan aja yuk!” seperti
yang kukatakan, kebaikan dan kepolosanya. Terima kasih Tuhan atas kebodohan
salah satu adonismu ini.
Kami sampai disalah satu tempat makan
disekitaran Riau. Hmmmph… makhluk berlimpah harta… selalu berusaha membuatku terpana. Bukan makanan ditempat
mewah dengan harga juice yang
berlebihan yang kuinginkan. Makanan kantin kami pun tak jadi masalah bagiku.
Tapi itulah Irvan, terlalu terbuai dalam harapannya agar aku melupakan
pemilikku untuknya. Naif.
Telepon genggam yang tidak kutengok
keberadaannya sejak tadi pagi berteriak kencang. Senyum tulusku kembali
tercetak diwajah antagonisku. DIMAS. Nama itu tertera dilayar benda kecil ini
bersamaan dengan datangnya makanan pesananku dan Irvan, tanpa peduli, segera
kuangkat panggilan itu.
“Hallo…” kemana nafasku pergi? Suaraku
tak lagi terdengar seperti Maharlika yang dikenal banyak orang. Suara ini
adalah nada yang hanya kutunjukan pada satu jiwa. Pemilikku. Setidaknya, ini
jawaban atas pertanyaanku mengenai hati. Aku memilikinya.
“Lika… apa kabar? Lagi dimana?” Tuhan…
suara itu… suara yang sangat aku rindukan. Suara yang mengingatkanku atas luka
ini. Luka yang menjadikanku begini.
“Baik kok… kamu gimana?” mataku melirik
benda hitam penunjuk waktu ditangan kiriku. “Kok belum tidur? Disana udah jam 2
lewat kan?” pertanyaan bodoh. Tentu saja seorang Dimas belum memejamkan matanya.
Runtukku dalam hati.
“Baru pulang, tadi ngobrol sama
anak-anak dulu…” Yeah.. kurasa aku tahu perbedaan antara ‘ngobrol’ dan
‘bersenang-senang’.. “Kamu belum jawab, kamu ada dimana?” dan lalu dia kembali…
aku merajuk dan hanya menghasilkan nadanya yang berubah mengeras. “Aku harus
nanya kamu lagi dimana atau kamu lagi sama siapa?!” Ingin rasanya aku memutar
bola mataku, namun aku hanya membeku. Seperti seekor kucing yang sedang disorot
oleh lampu terang saat sedang mencuri ikan. Tapi bukan lampu yang menyorotku.
Melainkan 2 pasang mata seorang pria yang duduk dihadapanku, dan suara sesosok
manusia yang memiliku.
“Maksud kamu?” Nada dan nafas yang baru
saja ku raih kembali menguap seketika. “Kamu lagi dimana? Sama siapa? Susah
jawab gitu aja? Nggak ngerti?” Monster
Dimas menyeruak.
“Sorry…
tadi nggak terlalu jelas. Aku lagi
sama temen nih, sama Irvan… kamu inget kan
yang waktu itu aku kenalin.” Mata Irvan berkeliling, mentatap segalanya kecuali
aku. Tangannya tak lagi menggenggam alat makannya, melainkan bertaut bersama diujung
meja.
“Yang dulu mau anterin kamu pulang? Yang
dulu deketin kamu?” Sampai sekarang
Dimas… sampai saat ini dia masih berusaha mendekatiku. Jawabku dalam hati.
“Lika, kamu tahu saya nggak suka kamu
gaul sama dia! Dia itu ngincer kamu! Atau kamunya juga ngasih harapan sama dia?
Iya?!”
Aku menghela nafas “Nggak, Dim… Nggak kayak
gitu kok. Kita lagi ngerjain tugas, dosennya ngacak gitu ngasih kelompoknya.”
Alasan klasik yang selalu kugunakan untuk Irvan.
“Sering banget tuh dosen masangin
kalian!” Sindirnya.
“Kan absennya berurutan, sayang…” kini
tangan Irvan mencengkram tepi meja. Tangannya memutih menahan semua beban yang
dipendamnya.
“Kamu dengar baik-baik ya, Lika…” nada
Dimas sedikit menormal, mempercayai panggilanku padanya. “Kamu itu milik saya.
Sampai kapanpun. Saya bebasin kamu main sama cowok-cowok bejat itu, karena
mereka cuma pemuas nafsu kamu selama saya nggak
ada disamping kamu. Kamu inget itu baik-baik!”
“Iya, sayang… inget kok. Ya udah,
sekarang kamu tidur gih. Udah malam disana, nanti malah sakit, yaaa?” nadaku
selembut sutra.
“Iya… jangan lama-lama sama dia!
Langsung pulang!”
“Okay… night!”
“Hmmh… love you…” lalu sambungan terputus. Tak pernah memberiku kesempatan
mengucapkan 3 kata sakral itu padanya dalam situasi seperti ini. Dimas hanya
ingin aku tahu bahwa aku adalah miliknya. Sepenuhnya aku sadar atas itu.
“Tugas apa yang lagi kita kerjain
sekarang?” Irvan menatapku tajam. Tuhan… berikan aku istirahat sebentar saja.
“Dosen siapa yang kurang kerjaan masang-masangin kelompok tugas?!”
“Irvan… kamu kan tau Dimas, aku bisa
dimarahin abis-abisan kalau ketauan makan berdua kamu.”
“Saya nggak takut, Lika! Saya bakal lawan pacar kamu itu!” Aku mengernyit
mendengar kata ‘pacar’ terlontar dari mulut Irvan. Andai dia tahu kenyataannya.
“Tapi saya yang takut, Van!” nafas Irvan
pendek-pendek dipenuhi rasa marah dan kecewa, yang aku yakin ditunjukan
untukku. “Irvan, kamu tahu dari awal hubungan kita nggak bisa lebih dari ini—“
“Dari apa? Emang apa status hubungan
kita? TTM? HTS? Sumpah Lika, kita bukan anak SMA lagi!”
“Apapun itu yang menurut kamu sesuai
sama keadaan kita sekarang… apapun…”
“Apa saya se-nggak penting itu, Lika? Apa saya bener-bener nggak bagus buat kamu?” Tangan Irvan bergerak mencoba menyentuhku.
Tapi aku menjauh.
“Nggak
penting lagi apa yang saya rasa dan pikir… ini bukan lagi tentang saya sama
kamu, Van.” Tidak ada sungai air mata dipipiku. Ya Tuhan… sedingin itu kah aku?
“Jadi selama ini, semua yang saya
lakuin—yang kita lakuin itu nggak
penting? Bibir kamu, tubuh kamu yang udah saya rasakan nggak penting buat kamu?”
“Kamu tahu maksud saya, Van! Sangat tahu…”
kuedarkan pandanganku kesekeliling resto ini. beberapa pasang mata bertumbuk
dengan pandanganku. Mungkin diotak mereka, kami adalah sepasang kekasih yang
sedang saling berargumen. Andai semudah itu…
Irvan menarik nafas panjang dan
menghembuskannya kencang. “Sekarang kamu makan aja dulu pesanan kamu, udah itu
saya anterin kamu ke kampus.” Kata maaf yang seharusnya mencuat, kutelan
bulat-bulat. Kini aku merasa kata maafku saja takkan cukup memperbaiki apapun.***

Part 2-nya dong!
BalasHapusPart duanya akan di posting minggu depan yaah :">
Hapus