Selasa, 24 Februari 2015

Her Masks #1

2

Suara adzan berkumandang ditengah hari yang masih gelap, membangunkanku dengan terpaksa dan memaksaku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk menajalankan kewajibanku sebagai manusia, meski aku tak mengikuti segala perintahNya, yang satu ini tetap kupenuhi.
 Kini matahari menggelitik punggungku melalui cerah tirai yang tak pernah kusadari ternyata tak rapat. Bukan alat penunjuk waktu yang sengaja kubiarkan hidup disamping ranjangku. Aku tersenyum. Alat ajaib itu sudah bersarang dibawah mejaku. Sepertinya ia terjatuh lagi saat dengan terpaksa bernyanyi untuk telingaku, namun harus menghadapi sentuhan kecil tanganku yang belum benar-benar bernyawa.
“Lika… jam 7 nak! Mau kekampus jam berapa?” Pria yang menjadi perantara Tuhan dalam penghidupanku di dunia mengetuk pembatas kayu yang mereka sebut pintu. Aku mengerang. Tak ada sedikitpun dari bagian tubuhku yang siap menghadapi misteri hari baru. Akankah lebih baik dari kemarin? Atau justru memperburuk kekacauan otakku?
“Iya, Pa… ini bangun. Lika kuliah siang.” Jawabku asal. Kuliah, aku bangkit dari tidurku dan mengambil secarik kertas dari tas yang kemarin kupilih sebagai teman setiaku. Kutatap deretan nama mata kuliah yang telah selesai kutempuh beserta hasil penilaian yang diberikan oleh pembimbing mata kuliah tersebut. Entah dari mana dan atas dasar apa mereka berpikir. Not that I mind! Hasilku baik. Dengan IPK 3,62 rasanya aku bisa menjadi apa saja untuk menentukan angka penghasilanku. Kuberitahu kau rahasia terbaikku, aku tidak pintar. Aku hanya cerdik. Cerdik mengenai cara dan lokasi penyembunyian kunci jawaban yang kusiapkan malam sebelumnya. Yup! IPK 3,62 kuperoleh dari hasil kerjaku yang cerdik, dan aku bangga.
Tanpa melihat telepon genggam yang kini menggenggam hidupku, aku melangkah keluar dari gua pemulihanku dan bersiap menghadapi hari. Memakai segala jenis pakaian yang sedang trend diusiaku, tapi tetap membuatku nyaman. Hanya untuk hari ini. kupersiapkan segala jenis topeng mental yang akan membantuku hari ini. Aku siap menjadi si munafik lagi.
Kendaraan roda empat-ku membawaku kekampus biru. Salah satu gua pemulihanku yang bisa mengantarku kemanapun. Salah satu ‘hasil’ dari lelaki sebayaku yang orang sebut kekasih. Bibirku selalu tergerak membentuk senyum setiapku mengingatnya. Senyum yang mengandung terlalu banyak arti hingga akupun bingung. Bahagia, kecewa, bangga, rindu, membodohi dan dibodohi.
Ia tak disini. Tidak menghirup oksigen yang sama denganku, juga tak memandang langit yang serupa denganku. Keputusan orangtua kami lah yang membuat kami berdiri diujung bumi yang berbeda. Lelakiku terjebak di universitas yang ada di Seattle sana. Sedang aku terjembak di Universitas swasta Bandung. Mereka menyebutnya dengan Long Distance, entahlah. Saat ini, aku tak ingin mengikat diriku sekuat itu padanya. Meski kenyataannya dia memilikiku secara utuh. Baik raga maupun jiwa… meh! Otakku yang dulu begitu naïf atas seluruh kata cinta yang meluncur dengan lembut dari ujung lidahnya memberiku keyakinan semu atas indahnya cinta itu, dengan imbalan tahta kewanitaanku yang secara sadar kulepas padanya. Lihatlah kemana cinta itu membawaku. Ha! Seolah aku tahu cinta itu apa.
“Hey cantik.” Aku menoleh. “Kemana aja? Jarang liat ih!” Sesosok tubuh menghampiriku bersama dengan suaranya yang menggelegar. Seorang pria yang selalu muncul dihari-hariku kemarin. Raga pemuas nafsu saat lelakiku tak nampak. “Hahaha kan kemarin nggak ada kelas.” Sapaku ramah meski otak dan hati (jika aku memang punya) meneriakan nama seseorang yang entah sedang melakukan apa di ujung lain dunia ini.
“Loh kan kalau buat Reza, nggak liat kamu beberapa menit juga udah kangen.”  Tuhan… lenyapkan ia saat ini juga. Meski rasanya aku ingin memukul wajahnya, aku tetap memberikan senyum termanisku. “Saya duluan ya, Za. Sampai ketemu nanti.” Aku seolah mengambil langkah seribu agar Reza tak lagi menghantuiku. Beruntung kami tidak berbagi kelas hari ini.
Perjalananku dari lahan parkir menuju ruang kelas yang walau hanya berjarak 3 menit seolah mengambil 1/3 energiku. Banyak yang mengenalku, banyak yang menyapaku. Seolah sapaan mereka akan berikan bunga bagi hariku.
Mereka memanggilku cantik. Bagai aku tak tahu bagaimana rupaku. Salah satu alat yang kugunakan selain tubuh dan kebaikan serta keluguan palsuku. Tapi demi penokohan yang kini sedang kuperankan, aku kembali menyapa mereka yang menyapaku dengan topeng senyum mereka. Bangsaku. Ingin rasanya aku tertawa, aku tahu mereka yang bertopeng, karena topeng itu juga kukenakan. Lantas untuk apa mereka berusaha bergabung denganku? Oh! Benar… untuk membunuhku perlahan… sayang, aku tidak berniat mati secepat itu kawan.
“Hai, Lika…” lagi-lagi suara seorang pria, tapi kini, bibirku membentuk senyum tulus. Irvan. Lelaki pemuas ragaku yang lain. Aku tersenyum bukan karena kebaikannya yang diketahui banyak orang, melainkan atas kebodohannya yang keterlaluan. Bukan hanya raganya yang kumanfaatkan, tetapi juga kebaikan dan kepolosan hartanya. Ingin rasanya aku memberikan diriku seutuhnya pada pria ini. Tapi tidak, ragaku bahkan bukan lagi milikku seorang, dan sesungguhnya, hatiku pun sudah tak lagi milikku. Entahlah aku benar-benar memiliki hati atau tidak, mengingat hina apa yang kuperbuat dibalik topeng manis kesetiaanku yang sesungguhnya tak nyata. Tapi yang pasti, masa depanku sudah jelas tergambar, terlalu jelas.. dan aku tak mau ada kerusakan pada gambar itu.
“Hay, Van! Bapaknya udah ada?” dengan nada antusias yang terdengar sumbang ditelingaku, tapi tidak ditelinga manusia lain. Kali ini Irvan ada dikelasku. Entah karena dia memang mengambil kelas ini, atau hanya karena keinginannya bersamaku. Jika pilihan kedua adalah nyata, maka dia benar-benar bodoh.
“Bapaknya nggak masuk, Lik.” Aku mengangguk polos meski hatiku merutuk keras. Lantas untuk apa aku datang ketempat ini?! “Kamu udah makan?” Aku menggeleng polos dan menunjukan deretan gigi rapiku bersama dengan senyuman manis yang menurutku memualkan. Irvan tertawa dan mengelus kepalaku lembut. “Ya udah, kita makan aja yuk!” seperti yang kukatakan, kebaikan dan kepolosanya. Terima kasih Tuhan atas kebodohan salah satu adonismu ini.
Kami sampai disalah satu tempat makan disekitaran Riau. Hmmmph… makhluk berlimpah harta… selalu berusaha  membuatku terpana. Bukan makanan ditempat mewah dengan harga juice yang berlebihan yang kuinginkan. Makanan kantin kami pun tak jadi masalah bagiku. Tapi itulah Irvan, terlalu terbuai dalam harapannya agar aku melupakan pemilikku untuknya. Naif.
Telepon genggam yang tidak kutengok keberadaannya sejak tadi pagi berteriak kencang. Senyum tulusku kembali tercetak diwajah antagonisku. DIMAS. Nama itu tertera dilayar benda kecil ini bersamaan dengan datangnya makanan pesananku dan Irvan, tanpa peduli, segera kuangkat panggilan itu.
“Hallo…” kemana nafasku pergi? Suaraku tak lagi terdengar seperti Maharlika yang dikenal banyak orang. Suara ini adalah nada yang hanya kutunjukan pada satu jiwa. Pemilikku. Setidaknya, ini jawaban atas pertanyaanku mengenai hati. Aku memilikinya.
“Lika… apa kabar? Lagi dimana?” Tuhan… suara itu… suara yang sangat aku rindukan. Suara yang mengingatkanku atas luka ini. Luka yang menjadikanku begini.
“Baik kok… kamu gimana?” mataku melirik benda hitam penunjuk waktu ditangan kiriku. “Kok belum tidur? Disana udah jam 2 lewat kan?” pertanyaan bodoh. Tentu saja seorang Dimas belum memejamkan matanya. Runtukku dalam hati.
“Baru pulang, tadi ngobrol sama anak-anak dulu…” Yeah.. kurasa aku tahu perbedaan antara ‘ngobrol’ dan ‘bersenang-senang’.. “Kamu belum jawab, kamu ada dimana?” dan lalu dia kembali… aku merajuk dan hanya menghasilkan nadanya yang berubah mengeras. “Aku harus nanya kamu lagi dimana atau kamu lagi sama siapa?!” Ingin rasanya aku memutar bola mataku, namun aku hanya membeku. Seperti seekor kucing yang sedang disorot oleh lampu terang saat sedang mencuri ikan. Tapi bukan lampu yang menyorotku. Melainkan 2 pasang mata seorang pria yang duduk dihadapanku, dan suara sesosok manusia yang memiliku.
“Maksud kamu?” Nada dan nafas yang baru saja ku raih kembali menguap seketika. “Kamu lagi dimana? Sama siapa? Susah jawab gitu aja? Nggak ngerti?” Monster Dimas menyeruak.
Sorry… tadi nggak terlalu jelas. Aku lagi sama temen nih, sama Irvan… kamu inget kan yang waktu itu aku kenalin.” Mata Irvan berkeliling, mentatap segalanya kecuali aku. Tangannya tak lagi menggenggam alat makannya, melainkan bertaut bersama diujung meja.
“Yang dulu mau anterin kamu pulang? Yang dulu deketin kamu?” Sampai sekarang Dimas… sampai saat ini dia masih berusaha mendekatiku. Jawabku dalam hati. “Lika, kamu tahu saya nggak suka kamu gaul sama dia! Dia itu ngincer kamu! Atau kamunya juga ngasih harapan sama dia? Iya?!”
Aku menghela nafas “Nggak, Dim… Nggak kayak gitu kok. Kita lagi ngerjain tugas, dosennya ngacak gitu ngasih kelompoknya.” Alasan klasik yang selalu kugunakan untuk Irvan.
“Sering banget tuh dosen masangin kalian!” Sindirnya.
“Kan absennya berurutan, sayang…” kini tangan Irvan mencengkram tepi meja. Tangannya memutih menahan semua beban yang dipendamnya.
“Kamu dengar baik-baik ya, Lika…” nada Dimas sedikit menormal, mempercayai panggilanku padanya. “Kamu itu milik saya. Sampai kapanpun. Saya bebasin kamu main sama cowok-cowok bejat itu, karena mereka cuma pemuas nafsu kamu selama saya nggak ada disamping kamu. Kamu inget itu baik-baik!”
“Iya, sayang… inget kok. Ya udah, sekarang kamu tidur gih. Udah malam disana, nanti malah sakit, yaaa?” nadaku selembut sutra.
“Iya… jangan lama-lama sama dia! Langsung pulang!”
“Okay… night!”
“Hmmh… love you…” lalu sambungan terputus. Tak pernah memberiku kesempatan mengucapkan 3 kata sakral itu padanya dalam situasi seperti ini. Dimas hanya ingin aku tahu bahwa aku adalah miliknya. Sepenuhnya aku sadar atas itu.
“Tugas apa yang lagi kita kerjain sekarang?” Irvan menatapku tajam. Tuhan… berikan aku istirahat sebentar saja. “Dosen siapa yang kurang kerjaan masang-masangin kelompok tugas?!”
“Irvan… kamu kan tau Dimas, aku bisa dimarahin abis-abisan kalau ketauan makan berdua kamu.”
“Saya nggak takut, Lika! Saya bakal lawan pacar kamu itu!” Aku mengernyit mendengar kata ‘pacar’ terlontar dari mulut Irvan. Andai dia tahu kenyataannya.
“Tapi saya yang takut, Van!” nafas Irvan pendek-pendek dipenuhi rasa marah dan kecewa, yang aku yakin ditunjukan untukku. “Irvan, kamu tahu dari awal hubungan kita nggak bisa lebih dari ini—“
“Dari apa? Emang apa status hubungan kita? TTM? HTS? Sumpah Lika, kita bukan anak SMA lagi!”
“Apapun itu yang menurut kamu sesuai sama keadaan kita sekarang… apapun…”
“Apa saya se-nggak penting itu, Lika? Apa saya bener-bener nggak bagus buat kamu?” Tangan Irvan bergerak mencoba menyentuhku. Tapi aku menjauh.
Nggak penting lagi apa yang saya rasa dan pikir… ini bukan lagi tentang saya sama kamu, Van.” Tidak ada sungai air mata dipipiku. Ya Tuhan… sedingin itu kah aku?
“Jadi selama ini, semua yang saya lakuin—yang kita lakuin itu nggak penting? Bibir kamu, tubuh kamu yang udah saya rasakan nggak penting buat kamu?”
“Kamu tahu maksud saya, Van! Sangat tahu…” kuedarkan pandanganku kesekeliling resto ini. beberapa pasang mata bertumbuk dengan pandanganku. Mungkin diotak mereka, kami adalah sepasang kekasih yang sedang saling berargumen. Andai semudah itu…

Irvan menarik nafas panjang dan menghembuskannya kencang. “Sekarang kamu makan aja dulu pesanan kamu, udah itu saya anterin kamu ke kampus.” Kata maaf yang seharusnya mencuat, kutelan bulat-bulat. Kini aku merasa kata maafku saja takkan cukup memperbaiki apapun.***

2 komentar:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com