
[2 Tahun yang Lalu]
Aku dan Briana berdiri didepan sebuah pintu ruang rawat inap rumah sakit yang terbuka. Mama dan Papa berada di dalam menanti pasiennya terbangun. Air mata Mama mengalir cukup deras, sedangkan Papa hanya berdiri meremas bahu Mama. Wajah Mayang penuh dengan lebam, kakinya disangga oleh alat asing, tapi bagiku, Mayang tak pernah lebih cantik dari hari itu. Terbebas dari rasa sakitnya, ia hanya terlihat sedang terlelap dengan tenang. “Bi, nanti kalau Mayang bangun, kamu keluar dulu ya.” Papa bersuara.
“Loh emang kenapa?”
“Bukan
cuma kamu yang nggak mau dengar kabar
Mayang... Mayang juga nggak mau kamu
tahu tentang apa yang terjadi disini selama kamu kuliah.” Mama yang menjawab.
Ingin rasanya aku marah, mengguncang tubuh Mayang dan meneriakinya bahwa aku
akan tetap peduli padanya. Tapi aku lebih mengerti kini, lebih dewasa. Mayang
hanya ingin yang terbaik untukku, saat aku bertingkah egois dan meninggalkannya
tanpa pamit. Aku menangguk malu.
Dua
hari setelahnya menjadi salah satu hari yang membahagiakan untukku. Mayang
tersadar dari komanya. Aku mengenda-endap disekitar pintu ruangan Mayang dan
tanpa sengaja menguping perbincangan Mayang dan Briana.
“Bima
apa kabar?” Suara Mayang masih terdengar serak dan berat.
“Kakak
baik. Ada di Bandung kok. Dia khawatir sama kamu.” Aku tidak bisa mendengar
jawaban dari Mayang. Sesaat semuanya hening, lalu terdengar suara-suara aneh
dan suara panik Briana memanggil-manggil nama Mayang, aku tidak perlu masuk
untuk melihat kondisi Mayang, hanya berlari mencari perawat atau dokter pertama
yang bisa kutemukan dan menariknya ke ruangan Mayang. Hari itu, lagi-lagi aku
melihat kerusakan apa yang kuperbuat dengan meninggalkan Mayang di Bandung.
***
[Masa Sekarang]
Waktu
itu bukan terakhir kalinya Mayang dilarikan kerumah sakit, namun setidaknya,
aku telah kembali, memilih melanjutkan kuliahku di ITB dan selalu berada
disamping Mayang. Ayahnya kembali menyerang Mayang saat aku terlambat setengah
jam menjemput Mayang dari rumah makan cepat saji di daerah Padjajaran tempat
Mayang bekerja. Ya, setelah keluar dari rumah sakit, Mayang tinggal bersama
keluargaku. Mama tidak percaya pada Ayah Mayang yang selalu meninggalkan luka
jenis apapun ditubuh Mayang. “Kak...” Briana menghampiriku, menangis. “Mayang
dibawa ke ruang operasi.”
“Dedeknya
harus dilahirin sekarang...” Aku berlari tunggang langgang tak memperhatikan
kemana arahku meski akhirnya tetap sampai di depan ruang operasi bersama Papa
dan Mama yang sudah terlebih dulu duduk dikursi ruang tunggunya.
“Ma!
Kok sekarang, Ma?! Katanya bisa dipertahankan lama! Kok sekarang?!” Aku sedikit
berteriak menghampiri Mama yang langsung memelukku.
“Tadi
Mayang anfal, jadi dokter ambil
tindakan buat selamatkan anak kamu, nak.”
“Ya
terus Mayangnya gimana? Upaya untuk nyelametin Mayangnya kapan?!”
“Nak,
dengar Mama, Mayang pasti ingin anak kalian yang diutamakan, bukan Mayangnya.”
“Bima
maunya Mayang yang diutamakan, Ma!” Aku tersungkur, memeluk lututku dan
menangis sekencangnya. Bukan aku tak ingin anakku hadir di dunia, tapi aku
ingin menyambutnya bersama Mayang, mengumumkan namanya bersama Mayang
disampingku, menggendong anak kami sambil tersenyum dengan senyumannya yang
khas.
“Nak,
Mayang didalam sana berjuang buat kamu dan anak kalian... Kuat nak...” Papa
mengoncang tubuhku sedikit.
“Awas
kamu Mayang kalau kamu nyerah! Saya nggak
akan maafin kamu, Mayang!” Aku bergumam kecil, doa tak lagi terasa berguna
dalam kondisiku saat ini. “Saya butuh kamu, butuh kalian...” Air mata yang
kutahan kembali terjatuh.
***
[Beberapa minggu
sebelumnya]
“Bi,
aku kok mimpiin Ibu terus ya?” Mayang duduk disampingku mengelus perutnya yang
sudah sangat besar meski baru masuk bulan ke-7.
“Kamu
cuma kangen, Mayang... Biasanya kan setiap bulan ke makamnya, sekarang nggak bisa.” Aku meremas bahunya
sedikit.
“Tapi
Ibu nanyain Ayah, Bi...” Kini giliranku yang membatu. Aku tak pernah suka Ayah
Mayang, terutama caranya memperlakukan Mayang. Tapi entah kenapa Mayang selalu
bisa menemukan jalan untuk mentolerir setiap perbuatan Ayahnya.
“Kamu
maunya gimana?” Aku duduk diranjang kami dan menarik Mayang agar ikut duduk
dipangkuanku.
“Kamu
bisa antar aku ketemu Ayah? Ayah belum tahu kalau aku hamil kan,”
“Saya
nggak yakin, Mayang... Saya takut
kalau kamu ke Ayah dalam keadaan hamil besar seperti ini, dia malah akan
ngasarin kamu lagi.”
“Itu
juga yang aku takut, Bi... Tapi kan
ada kamu, kamu pasti bisa cegah Ayah.”
Aku
dan Mayang pergi ke rumah Ayahnya di daerah Sukajadi, tapi sosok yang kami cari
tidak ada ditempat, hanya istri barunya yang menyambut kami dengan ramah.
“Ayahnya
lagi keluar, kayaknya lama, nak... Ya ampun, isi kok nggak bilang-bilang sih, May...” Aku hanya mendengus, Ayah Mayang
tak pernah setuju dengan hubungan kami. Bukan karena ia takut Mayang tidak
terjamin hidupnya, ia justru takut kehilangan samsak tinjunya. Aku membiarkan
Mayang dan Bundanya bercengkrama. Mereka tidak dekat, hanya saja Bunda –istri
baru Ayahnya- selalu bersikap seolah ia menyayangi Mayang.
“Mayang,
aku cari bahan cheesse cake dulu
ya... Nggak apa-apa aku tinggal kamu
disini?” Manik mata Mayang terlihat ragu untuk sesaat.
“Nggak apa-apa, Mayang, Bima... Ayah kan lagi nggak ada dirumah. Biasanya dia kalau keluar sama teman-temannya
suka lama, baru malam nanti dia sampai.” Aku memastikan jam ditanganku. Baru
puku 1 siang. Masih sangat lama menuju malam.
“Saya
nggak akan lama, kok. Cuma di
supemarket bawah. Kalau nggak ada, carinya nanti saja sama kamu.”
Mayang
menarik tanganku dan berbisik, “nggak
lebih dari 30 menit ya... Aku takut.” Hanya anggukan dari-ku yang menjawab
permintaan Mayang. Berusaha menepati janjiku, aku kembali 30 menit setelah aku
pergi dari rumah terkutuk itu. Aku tidak terlambat, hanya Ayahnya yang ternyata
datang tepat setelah aku pergi. Mimpi burukku terjadi, Mayang mmenggulung
tubuhnya, melindungi perut besarnya, aku tak bisa mendengar suara rintihan
Mayang, hanya suara ibu tirinya yang menangis dikejauhan tanpa melakukan
apapun.
“Kamu
nggak akan bisa jadi Ibu yang baik
buat anak kamu! Ibu sendiri aja matinya gara-gara kamu! Ini belaga mau jadi
ibu! Hah! Anak kayak kamu bagusnya ikut sama ibu kamu! Mati!” tak ada jawaban
apapun dari Mayang. Entah apa yang terjadi setelahnya, yang kulihat hanya Ayah
Mayang yang kini berada mengerang kesakitan memegangi kepalanya, tapi ia
masih bergerak. Berbeda dengan Mayang. Seolah kehilangan akal sehatku,
lagi-lagi aku tak tahu apa yang terjadi, yang kuingat kini aku duduk dihujani
pelukan dan airmata dari Mama dan Briana.
***
[Masa Sekarang]
“Bima,
selamat ya, anak kamu laki-laki. Sehat sekali. Tidak kekurangan apa-apa.” Aku
mendengar ucapan syukur keluargaku, Om Iwan yang memberi tahu informasi itu
meremas bahuku.
“Mayang
gimana?”
“Sekarang
dokter lebih bebas menangani Mayang. Semoga Mayang cepat sembuh ya...”
“Jadi,
Mayangnya udah sehat? Nggak ada yang
harus di khawatirkan lagi?”
Om
iwan tersenyum ragu, “Bukan begitu, Bima... tapi saat ini, dengan bayi kalian
sudah tidak bergantung sama Mayang, dokter bisa lebih fokus pada kesehatan
Mayang tanpa mengancam keselamatan bayi kalian.”
“Bima,
adzan-in dulu bayi nya, nak. Yuk... Mama nggak
sabar pengin liat anak kamu.” Kenapa sulit sekali bagiku merasa bahagia seperti
Mama? Bayi ini adalah hadiah Tuhan yang sangat aku nantikan.
“Mama
aja, saya mau nunggu Mayang keluar dulu.” Aku mendengar suara terkejut dari
Mama dan Briana. “Pa, bisa tolong adzan-in anak Bima?” anak? Aku kembali
dihempas rasa yang entah harus kunamai apa, yang pasti aku terjatuh, kembali
terpuruk, kembali menangis. Apa anakku bisa merasakan sentuhan cinta dari
ibunya? Dari istriku?
“Bima,
kamu harus adzan-in dulu, nak. Biar Papa sama Om Iwan yang tungguin Mayang.
Ayo... temui dulu jagoan baru kamu.” Meski enggan, aku merasakan tubuh
terangkat dan sedikit didorong oleh Mama yang juga menopang sebagian berat
tubuhku, menemui anakku. Jagoan kecilku. Jagoan kecil Mayang.
***
Senyuman
kecil kini selalu menghiasi sudut bibirku selama aku memeluk dan menggendong
anakku yang baru menghirup udara dunia selama 5 hari. Mayang sudah dipindahkan
ke ruang rawat inap. Dokternya sudah tidak memposisikan Mayang dalam keadaan
koma dan seharusnya ia sadar hari ini. Ah... hari bahagiaku datang.
“Pak,
dedeknya harus dibawa lagi ke ruang bayi,” ya, anakku masih tinggal di
ranjang-ranjang kecil di rumah sakit inii. Bukan karena kesehatannya terganggu,
hanya aku yang ragu membawanya pulang selama Mayang masih disini.
“Biar
saya aja yang gendong kesananya, sus.” Perawat bayi itu berjalan dibelakangku
mendorong ranjang mungil anakku. Kolom nama di ranjangnya masih belum kuisi.
Masih menunggu Mayang sadar untuk mengumumkannya.
Meski
enggan, akhirnya aku meninggalkan jagoan kecilku menuju ruangan Ibunya setelah
berlama-lama di ruangan bayi itu hampir selama satu jam. Aku tertegun saat
mendengar suara-suara kecil dari dalam ruangan istriku. Terakhir ku tinggal
hanya Briana yang ada disana menunggui kakak ipar kesayangannya. Aku mengendap
masuk dan kulihat tirai yang mengelilingi ranjang istriku tertutup. Sayup suara
itu berasal dari dalam tirainya.
“Bri...
Aku nggak apa-apa kok. Emang pusing
sih sama linu-linu. Tapi nggak
apa-apa.” Suara indah itu. Serak memang, tapi tetap indah. Isakan tangis
terdengar sedikit lebih jelas kini.
“Jangan
bikin kita takut kayak gitu lagi ah! Aku nggak
suka!!” Briana. Suara Briana merengek, menyebalkan biasanya, tapi kali ini aku
hanya ingin tertawa. Begitu juga pemilik suara indahku. Ia tertawa meski
setelahnya terbatuk-batuk.
“Maafin
yaa...” Hening... Tapi tak lagi menyedihkan, hanya ketenangan. “Yang lain apa
kabar?” Meski aku masih terhalangi tirai yang menyembunyikan tubuh Mayang, aku
dapat mendengar dengan jelas kesedihannya dalam satu kalimat pertanyaan itu.
“Yang
lain baik kok, khawatir banget aja sama kamu. By the way, dedeknya lucu banget. Kasih tahu dong siapa namanya? Si
Kakak nggak mau ngasih tahu sampai
kamu bangun.” Briana tertawa terpaksa, namun tak ada jawaban dari lawan
bicaranya.
“Dedek
siapa? Dedek yang mana?” Jantungku kembali berdegup kencang. Sangat kencang.
Senyumanku hilang seketika.
“Dedek...
Dedek bayi... Baru... Engh... Lahir... Kemarin-kemarin...” Kebingungan dan
kegugupan terpancar jelas dari suara Briana.
“Siapa
yang lahiran?”***
0 komentar:
Posting Komentar