Senin, 02 Februari 2015

Sempurna #2

0


[2 Tahun yang Lalu]
Aku dan Briana berdiri didepan sebuah pintu ruang rawat inap rumah sakit yang terbuka. Mama dan Papa berada di dalam menanti pasiennya terbangun. Air mata Mama mengalir cukup deras, sedangkan Papa hanya berdiri meremas bahu Mama. Wajah Mayang penuh dengan lebam, kakinya disangga oleh alat asing, tapi bagiku, Mayang tak pernah lebih cantik dari hari itu. Terbebas dari rasa sakitnya, ia hanya terlihat sedang terlelap dengan tenang. “Bi, nanti kalau Mayang bangun, kamu keluar dulu ya.” Papa bersuara.
Loh emang kenapa?”
“Bukan cuma kamu yang nggak mau dengar kabar Mayang... Mayang juga nggak mau kamu tahu tentang apa yang terjadi disini selama kamu kuliah.” Mama yang menjawab. Ingin rasanya aku marah, mengguncang tubuh Mayang dan meneriakinya bahwa aku akan tetap peduli padanya. Tapi aku lebih mengerti kini, lebih dewasa. Mayang hanya ingin yang terbaik untukku, saat aku bertingkah egois dan meninggalkannya tanpa pamit. Aku menangguk malu.
Dua hari setelahnya menjadi salah satu hari yang membahagiakan untukku. Mayang tersadar dari komanya. Aku mengenda-endap disekitar pintu ruangan Mayang dan tanpa sengaja menguping perbincangan Mayang dan Briana.
“Bima apa kabar?” Suara Mayang masih terdengar serak dan berat.
“Kakak baik. Ada di Bandung kok. Dia khawatir sama kamu.” Aku tidak bisa mendengar jawaban dari Mayang. Sesaat semuanya hening, lalu terdengar suara-suara aneh dan suara panik Briana memanggil-manggil nama Mayang, aku tidak perlu masuk untuk melihat kondisi Mayang, hanya berlari mencari perawat atau dokter pertama yang bisa kutemukan dan menariknya ke ruangan Mayang. Hari itu, lagi-lagi aku melihat kerusakan apa yang kuperbuat dengan meninggalkan Mayang di Bandung.
***
[Masa Sekarang]
Waktu itu bukan terakhir kalinya Mayang dilarikan kerumah sakit, namun setidaknya, aku telah kembali, memilih melanjutkan kuliahku di ITB dan selalu berada disamping Mayang. Ayahnya kembali menyerang Mayang saat aku terlambat setengah jam menjemput Mayang dari rumah makan cepat saji di daerah Padjajaran tempat Mayang bekerja. Ya, setelah keluar dari rumah sakit, Mayang tinggal bersama keluargaku. Mama tidak percaya pada Ayah Mayang yang selalu meninggalkan luka jenis apapun ditubuh Mayang. “Kak...” Briana menghampiriku, menangis. “Mayang dibawa ke ruang operasi.”
“Dedeknya harus dilahirin sekarang...” Aku berlari tunggang langgang tak memperhatikan kemana arahku meski akhirnya tetap sampai di depan ruang operasi bersama Papa dan Mama yang sudah terlebih dulu duduk dikursi ruang tunggunya.
“Ma! Kok sekarang, Ma?! Katanya bisa dipertahankan lama! Kok sekarang?!” Aku sedikit berteriak menghampiri Mama yang langsung memelukku.
“Tadi Mayang anfal, jadi dokter ambil tindakan buat selamatkan anak kamu, nak.”
“Ya terus Mayangnya gimana? Upaya untuk nyelametin Mayangnya kapan?!”
“Nak, dengar Mama, Mayang pasti ingin anak kalian yang diutamakan, bukan Mayangnya.”
“Bima maunya Mayang yang diutamakan, Ma!” Aku tersungkur, memeluk lututku dan menangis sekencangnya. Bukan aku tak ingin anakku hadir di dunia, tapi aku ingin menyambutnya bersama Mayang, mengumumkan namanya bersama Mayang disampingku, menggendong anak kami sambil tersenyum dengan senyumannya yang khas.
“Nak, Mayang didalam sana berjuang buat kamu dan anak kalian... Kuat nak...” Papa mengoncang tubuhku sedikit.
“Awas kamu Mayang kalau kamu nyerah! Saya nggak akan maafin kamu, Mayang!” Aku bergumam kecil, doa tak lagi terasa berguna dalam kondisiku saat ini. “Saya butuh kamu, butuh kalian...” Air mata yang kutahan kembali terjatuh.
***
[Beberapa minggu sebelumnya]
“Bi, aku kok mimpiin Ibu terus ya?” Mayang duduk disampingku mengelus perutnya yang sudah sangat besar meski baru masuk bulan ke-7.
“Kamu cuma kangen, Mayang... Biasanya kan setiap bulan ke makamnya, sekarang nggak bisa.” Aku meremas bahunya sedikit.
“Tapi Ibu nanyain Ayah, Bi...” Kini giliranku yang membatu. Aku tak pernah suka Ayah Mayang, terutama caranya memperlakukan Mayang. Tapi entah kenapa Mayang selalu bisa menemukan jalan untuk mentolerir setiap perbuatan Ayahnya.
“Kamu maunya gimana?” Aku duduk diranjang kami dan menarik Mayang agar ikut duduk dipangkuanku.
“Kamu bisa antar aku ketemu Ayah? Ayah belum tahu kalau aku hamil kan,”
“Saya nggak yakin, Mayang... Saya takut kalau kamu ke Ayah dalam keadaan hamil besar seperti ini, dia malah akan ngasarin kamu lagi.”
“Itu juga yang aku takut, Bi... Tapi kan ada kamu, kamu pasti bisa cegah Ayah.”
Aku dan Mayang pergi ke rumah Ayahnya di daerah Sukajadi, tapi sosok yang kami cari tidak ada ditempat, hanya istri barunya yang menyambut kami dengan ramah.
“Ayahnya lagi keluar, kayaknya lama, nak... Ya ampun, isi kok nggak bilang-bilang sih, May...” Aku hanya mendengus, Ayah Mayang tak pernah setuju dengan hubungan kami. Bukan karena ia takut Mayang tidak terjamin hidupnya, ia justru takut kehilangan samsak tinjunya. Aku membiarkan Mayang dan Bundanya bercengkrama. Mereka tidak dekat, hanya saja Bunda –istri baru Ayahnya- selalu bersikap seolah ia menyayangi Mayang.
“Mayang, aku cari bahan cheesse cake dulu ya... Nggak apa-apa aku tinggal kamu disini?” Manik mata Mayang terlihat ragu untuk sesaat.
Nggak apa-apa, Mayang, Bima... Ayah kan lagi nggak ada dirumah. Biasanya dia kalau keluar sama teman-temannya suka lama, baru malam nanti dia sampai.” Aku memastikan jam ditanganku. Baru puku 1 siang. Masih sangat lama menuju malam.
“Saya nggak akan lama, kok. Cuma di supemarket bawah. Kalau nggak ada, carinya nanti saja sama kamu.”
Mayang menarik tanganku dan berbisik, “nggak lebih dari 30 menit ya... Aku takut.” Hanya anggukan dari-ku yang menjawab permintaan Mayang. Berusaha menepati janjiku, aku kembali 30 menit setelah aku pergi dari rumah terkutuk itu. Aku tidak terlambat, hanya Ayahnya yang ternyata datang tepat setelah aku pergi. Mimpi burukku terjadi, Mayang mmenggulung tubuhnya, melindungi perut besarnya, aku tak bisa mendengar suara rintihan Mayang, hanya suara ibu tirinya yang menangis dikejauhan tanpa melakukan apapun.
“Kamu nggak akan bisa jadi Ibu yang baik buat anak kamu! Ibu sendiri aja matinya gara-gara kamu! Ini belaga mau jadi ibu! Hah! Anak kayak kamu bagusnya ikut sama ibu kamu! Mati!” tak ada jawaban apapun dari Mayang. Entah apa yang terjadi setelahnya, yang kulihat hanya Ayah Mayang yang kini berada mengerang kesakitan  memegangi kepalanya, tapi ia masih bergerak. Berbeda dengan Mayang. Seolah kehilangan akal sehatku, lagi-lagi aku tak tahu apa yang terjadi, yang kuingat kini aku duduk dihujani pelukan dan airmata dari Mama dan Briana.
***
[Masa Sekarang]
“Bima, selamat ya, anak kamu laki-laki. Sehat sekali. Tidak kekurangan apa-apa.” Aku mendengar ucapan syukur keluargaku, Om Iwan yang memberi tahu informasi itu meremas bahuku.
“Mayang gimana?”
“Sekarang dokter lebih bebas menangani Mayang. Semoga Mayang cepat sembuh ya...”
“Jadi, Mayangnya udah sehat? Nggak ada yang harus di khawatirkan lagi?”
Om iwan tersenyum ragu, “Bukan begitu, Bima... tapi saat ini, dengan bayi kalian sudah tidak bergantung sama Mayang, dokter bisa lebih fokus pada kesehatan Mayang tanpa mengancam keselamatan bayi kalian.”
“Bima, adzan-in dulu bayi nya, nak. Yuk... Mama nggak sabar pengin liat anak kamu.” Kenapa sulit sekali bagiku merasa bahagia seperti Mama? Bayi ini adalah hadiah Tuhan yang sangat aku nantikan.
“Mama aja, saya mau nunggu Mayang keluar dulu.” Aku mendengar suara terkejut dari Mama dan Briana. “Pa, bisa tolong adzan-in anak Bima?” anak? Aku kembali dihempas rasa yang entah harus kunamai apa, yang pasti aku terjatuh, kembali terpuruk, kembali menangis. Apa anakku bisa merasakan sentuhan cinta dari ibunya? Dari istriku?
“Bima, kamu harus adzan-in dulu, nak. Biar Papa sama Om Iwan yang tungguin Mayang. Ayo... temui dulu jagoan baru kamu.” Meski enggan, aku merasakan tubuh terangkat dan sedikit didorong oleh Mama yang juga menopang sebagian berat tubuhku, menemui anakku. Jagoan kecilku. Jagoan kecil Mayang.
***
Senyuman kecil kini selalu menghiasi sudut bibirku selama aku memeluk dan menggendong anakku yang baru menghirup udara dunia selama 5 hari. Mayang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dokternya sudah tidak memposisikan Mayang dalam keadaan koma dan seharusnya ia sadar hari ini. Ah... hari bahagiaku datang.
“Pak, dedeknya harus dibawa lagi ke ruang bayi,” ya, anakku masih tinggal di ranjang-ranjang kecil di rumah sakit inii. Bukan karena kesehatannya terganggu, hanya aku yang ragu membawanya pulang selama Mayang masih disini.
“Biar saya aja yang gendong kesananya, sus.” Perawat bayi itu berjalan dibelakangku mendorong ranjang mungil anakku. Kolom nama di ranjangnya masih belum kuisi. Masih menunggu Mayang sadar untuk mengumumkannya.
Meski enggan, akhirnya aku meninggalkan jagoan kecilku menuju ruangan Ibunya setelah berlama-lama di ruangan bayi itu hampir selama satu jam. Aku tertegun saat mendengar suara-suara kecil dari dalam ruangan istriku. Terakhir ku tinggal hanya Briana yang ada disana menunggui kakak ipar kesayangannya. Aku mengendap masuk dan kulihat tirai yang mengelilingi ranjang istriku tertutup. Sayup suara itu berasal dari dalam tirainya.
“Bri... Aku nggak apa-apa kok. Emang pusing sih sama linu-linu. Tapi nggak apa-apa.” Suara indah itu. Serak memang, tapi tetap indah. Isakan tangis terdengar sedikit lebih jelas kini.
“Jangan bikin kita takut kayak gitu lagi ah! Aku nggak suka!!” Briana. Suara Briana merengek, menyebalkan biasanya, tapi kali ini aku hanya ingin tertawa. Begitu juga pemilik suara indahku. Ia tertawa meski setelahnya terbatuk-batuk.
“Maafin yaa...” Hening... Tapi tak lagi menyedihkan, hanya ketenangan. “Yang lain apa kabar?” Meski aku masih terhalangi tirai yang menyembunyikan tubuh Mayang, aku dapat mendengar dengan jelas kesedihannya dalam satu kalimat pertanyaan itu.
“Yang lain baik kok, khawatir banget aja sama kamu. By the way, dedeknya lucu banget. Kasih tahu dong siapa namanya? Si Kakak nggak mau ngasih tahu sampai kamu bangun.” Briana tertawa terpaksa, namun tak ada jawaban dari lawan bicaranya.
“Dedek siapa? Dedek yang mana?” Jantungku kembali berdegup kencang. Sangat kencang. Senyumanku hilang seketika.
“Dedek... Dedek bayi... Baru... Engh... Lahir... Kemarin-kemarin...” Kebingungan dan kegugupan terpancar jelas dari suara Briana.

“Siapa yang lahiran?”***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com