Rabu, 25 Februari 2015

Reverse #2

0

Aku berlari menyusuri lorong rumah sakit. Aku panik bukan main saat Arka menelponku, memberitahu bahwa Ibu pingsan. Dengan segera aku pulang dan melajukan mobilku ke Rumah Sakit dekat rumah. Kulihat Arka duduk di ruang tunggu, aku memeluknya, badannya gemetar, dia pasti sangat panik. Tidak lama kemudian Bang Anda datang,
“Gimana ceritanya?”
“Aku nggak tahu pasti Bang, aku lagi kerja.” Jawabku,
“Salah aku Bang. Aku ada dirumah tapi gak becus jaga Ibu.” Suara Arka terdengar seperti orang yang merasa bersalah.
“Pelan-pelan. Ceritain sama Abang pelan-pelan. Gimana bisa Ibu kayak sekarang?” suara Bang Anda terdengar tenang, walaupun aku tahu dalam dirinya sangat panik,
“Waktu itu aku pergi sebentar untuk membeli beberapa peralatan untuk tugas kuliah, pas aku pergi, Ibu lagi bikin adonan kue.” Arka mengatur bicaranya, aku mengelus lengannya untuk memberikan sedikit kenyamanan, “pas aku sampe rumah, Ibu udah pingsan di lantai.”
“Mbak Pon?” Tanyaku yang baru saja ingat bahwa di rumah hanya ada Arka dan Ibu tadi.
“Mbak Pon gak bisa dateng, karna anaknya lagi sakit.” Kulihat pandangan Arka kosong, “Salah aku Bang, Kak… Aku gak bisa jaga Ibu.” Aku memeluknya lebih erat. Mencoba lebih menenangkan adik laki-lakiku.
Tidak lama kemudian Dimas keluar ruang pemeriksaan, kami menghampirinya. Wajahnya tenang, namun lama berbicara,
“Mas, Ibu ku?” tanyaku, Dimas menatap kami satu per satu,
“Bang Anda, ditunggu dokter diruangannya, ada yang mau dibicarakan.” Dimas akhirnya berbicara, aku sedikit kesal, mengapa salah satu dari kami harus bertanya dulu, baru dia mau berbicara,
“Mas, aku bisa lihat Ibu kan?”
Dimas mengangguk, “Tante sebentar lagi dipindahkan ke ruang inap. Kamu bisa menemaninya.”
***
Mataku tidak bisa lepas dari wajah Ibu yang mulai keriput dan rambutnya yang mulai memutih. Ditambah, aku tidak tega melihat tubuh ibu yang dipasangkan beberapa alat medis untuk membantunya. Telepon genggamku berbunyi, panggilan telepon masuk, dari Rey,
“Ya Rey?”
“Dimana?”
“Rumah Sakit.”
“Kamu kenapa?” suaranya yang jauh disana terdengar sangat panik,
“Ibu pingsan.”
“Rumah sakit mana?”
“Rumah Sakit Tiara Medika yang dekat rumah.”
“Yasudah. Aku kesana.”
Aku menutup teleponnya. Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar terdengar terbuka, Bang Anda. Wajahnya datar tidak memberikan jawaban dari rasa penasaranku atas penjelasan yang dokter yang berikan padanya, aku menghadangnya didepan kamar mandi, mengajaknya keluar lagi untuk mengintograsinya.
“Bang…” ekpresi mukanya berubah, bukan ekspresi yang biasa ia tunjukkan pada keluarganya. Wajah yang biasanya tenang itu, kini terlihat ada sebuah kesedihan, Bang Anda menyandarkan kepalanya dibahuku, lalu aku merasakan ada air jatuh, Bang Anda menangis, tidak bersuara, aku mengelus rambut Bang Anda, mencoba menenangkannya agar dapat menjelaskannya padaku.
Wajah Bang Anda kembali tenang seperti biasanya, saat aku memberikan teh hangat padanya. Kami bertiga terduduk di ruangan Ibu. Arka dan aku menunggu Bang Anda untuk siap bercerita,
“Ibu stroke.” Kami bertiga terdiam, suara tangisku mengisi ruangan, “Ata, apa Ibu minum obatnya?” Aku menjawabnya melalui komunikasi non-verbal, mengelengkan kepalaku, yang berarti, ‘Ibu tidak meminum obatnya,’
 “Ibu kena stroke ringan. Kemungkinan ada beberapa alat indranya tidak berfungsi dengan baik.” Lanjut Bang Anda,
“Apa ada pengobatan lain?”
“Untuk sekarang Ibu akan terus di pantau. Pengobatan lain, Ibu harus melakukan terapi dan juga meminum beberapa obat untuk mengurangi kemungkinan komplikasi.”
“Ini salah kami Bang, coba aja kami terus pantau Ibu.” Akhirnya Arka yang sedari tadi diam mengeluarkan suaranya,
“Nggak Ka. Tekanan darah Ibu memang sangat tinggi, hingga menyebabkan stroke, hal ini memang bisa terjadi pada orang yang mengidap hipertensi” Aku menatap Ibu, menatapnya dengan mata yang sudah dipenuhi air mata.
***
Kami duduk berdua di cafeteria Rumah sakit, aku terdiam, memandang keluar jendela. Rey menggenggam tanganku erat, “Sabar yah sayang. Ibu kan orang kuat.” Aku menangis lagi, Rey terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya,
“Aku tahu ini bukan saatnya aku bilang hal seperti ini sama kamu…” aku menatap Rey yang terlihat gelisah, “Besok, aku udah harus balik ke Kalimantan.” aku ingin marah, “Bukan sengaja ninggalin kamu lagi keadaan kayak sekarang, tapi gimana lagi.” aku melepaskan genggaman tangan Rey, “Aku janji akan terus telepon kamu, setiap hari, sampai Ibu sembuh, kalau perlu sepulang aku kerja kita video call, atau saat urusan aku selesai, aku balik lagi ke Jakarta. Ya Ta?” Ia membujukku, yang ia tahu bahwa aku tidak akan semurka itu untuk hal yang tidak-bisa-dibilang-sepele, karena kepergiannya beralasan.
Aku menatapnya nanar, “Janji kembali lagi? Karna sekarang, aku benar-benar lagi butuh kamu Rey.” Rey mengangguk mantap, “tapi besok aku gak bisa nganter kamu.”
“Nggak apa-apa sayang. Kamu jaga Ibu, tenangin Arka, terus kasih dia omongan, ini bukan salah dia.”
“Pasti kok Rey. Kayaknya kamu lebih sayang sama Arka yah dibanding aku?” aku sedikit menggodanya untuk sedikit mencairkan ketegangan, Rey tertawa,
“Untuk mendapatkan Kakaknya, aku harus mengambil hati adiknya juga dong.”
“Tapi hari ini temenani aku sampai aku tidur.” Aku menawarkan satu syarat padanya sebelum besok ia harus berangkat lagi ke Kalimantan, Rey mengangguk, menyetujuinya.
***
Aku tidak tertidur, hanya pura-pura tidur agar Rey bisa pulang karena besok dia harus kembali ke Kalimantan, ia mencium keningku, “Jaga kesehatan yah sayang, jangan sampai sakit karena kamu juga harus terus jaga Ibu. Aku sayang kamu.” Memberikan pesan, seakan tahu aku belum sepenuhnya tertidur. Tak lama kemudian terdengar pintu ruangan Ibu tertutup, aku membuka mata, mendudukkan badanku, menatap keluar jendela, pemandangan Ibukota pada malam hari, lampu kelap-kelip. Aku berpikir, dari sekian banyaknya penduduk di Jakarta, ada berapa orang yang sedang makan, ada berapa orang yang sedang mandi, ada berapa orang yang lagi nangis dan merasa sedih seperti yang aku rasakan sekarang. Tiba-tiba suara pintu terdengar terbuka, aku menengok.
Kami berdiri di atap Rumah Sakit, keheningan menyelimuti kami, yang terdengar hanya suara bising dari padatnya kendaraan dan angin malam. Dimas meneguk kopi hitamnya,
“Jaga malam?” tanyaku memulai pembicaraan,
“Iya.” Jawabnya singkat,
“Kamu ada apa ke ruangan Ibu tadi?”
“Hanya sekedar mengecek keadaannya,”
“Kenapa kamu?”
“Aku merasa harus menolongnya,” aku menatap Dimas, kami saling bertatapan, “bukankah peraturan kehidupan manusia untuk saling tolong menolong? Seperti yang Ibu mu lakukan padaku seminggu yang lalu.” Dimas menatap ke depan,
“Kamu sedamg balas budi?”
Ia tertawa pelan, “Kamu ingat kan dulu aku orang yang seperti apa, penyendiri, bahkan saat aku terkena masalah, aku hanya bisa diam. Tidak ingin berbagi, karna aku nggak mau menyusahkan siapa pun.” Dimas menarik nafas, “Trus kamu datang, seakan tahu apa yang sedang aku rasakan. Dengan mudahnya, aku cerita sama kamu, lalu kamu bilang, manusia itu makhluk sosial, saling bergantung adalah hal yang seharusnya, karna kita nggak bisa hidup sendiri, bahkan binatang purba aja saling membantu satu sama lain.”
Aku tersenyum, kagum, ternyata Dimas masih mengingat apa yang kukatakan padanya beberapa tahun lalu, perkataan remaja yang sedang mencoba menjadi dewasa, “Sejak itu aku merasa memang aku butuh orang lain untuk menjalani hidupku, menghadapi masalah ku, bebannya jadi hilang saat ada yang membantu. Itulah kenapa aku mau membantu Ibu mu.”
“Kamu cerewet yah sekarang,” Dimas tersenyum mendengar perkataanku,
“Kamu tahu kenapa aku mau jadi dokter?” aku menggeleng, “Karna perkataanmu padaku. Bahwa manusia itu harus saling bergantung.” Aku menatapnya penuh tanya, ingin jawaban yang lebih, “Orang sakit pasti bergantung pada dokter untuk menyebuhkan penyakitnya, bahkan keluarganya lebih bergantung pada kami untuk menyelamatkan keluarganya yang sakit. Aku ingin orang bergantung padaku, aku ingin menolong orang yang menaruh harapannya padaku.”
Aku mengangguk mengerti, tidak menyangka bahwa aku sudah berperan dalam hidupnya. Kami terdiam lagi, menatap lampu-lampu kota Jakarta,
“AAAKHHHH!!!” Aku berteriak pada hamparan luas kota Jakarta, sedari tadi memang aku ingin sekali teriak. Teriak karena aku masih sedikit kesal pada Rey yang pergi besok, Teriak karena ingin membagi bebanku pada kota yang sudah aku tinggali hampir 20 tahun ini.
“Aku akan berusaha menolong Ibu mu Ta.” Senyuman itu, senyuman yang pertama kali ia berikan padaku, senyuman yang membuatku jatuh cinta padanya.
***
Aku berdiri di depan meja kasir, bersiap untuk memesan, “Teh manis hangat sama roti panggang coklatnya yah.” suara itu mengagetkanku, aku menoleh, “masih suka kan?” tanya Dimas yang berdiri di belakangku, kami duduk bersama di pinggir jendela cafeteria sambil menikmati hujan yang turun di pagi hari.
“Belum tidur? Matamu sembab.” Kataku,
“Tidur, sejam aja cukup.”
Workaholic.” Aku meledeknya,
“Kamu sendiri nggak kerja?” tanyanya,
“Nanti siang. Ada anak SMP yang akan berkunjung.” Jawabku sambil melahap roti panggang isi selai coklat, “ini hari kedua Ibu dirawat.”
“Selain indra pendengarnya, semua alat vitalnya baik. Ibu mu orang yang kuat Ta.”
***

Aku berjalan menyusuri museum bersama anak-anak berseragam putih-biru, menjelaskan pada mereka satu per satu replika binatang yang hidup berjuta-juta tahun yang lalu, yang ada di hadapan mereka. Pak Gandi menghampiriku, mendekatkan bibirnya di telingaku, berbisik, “Tenangkan dirimu, cepat ke Rumah Sakit, jantung Ibu mu melemah.” Tanpa berpikir panjang, berlari meninggalkan rombongan.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com