Aku
berlari menyusuri lorong rumah sakit. Aku panik bukan main saat Arka menelponku,
memberitahu bahwa Ibu pingsan. Dengan segera aku pulang dan melajukan mobilku
ke Rumah Sakit dekat rumah. Kulihat Arka duduk di ruang tunggu, aku memeluknya,
badannya gemetar, dia pasti sangat panik. Tidak lama kemudian Bang Anda datang,
“Gimana
ceritanya?”
“Aku
nggak tahu pasti Bang, aku lagi kerja.” Jawabku,
“Salah
aku Bang. Aku ada dirumah tapi gak becus jaga Ibu.” Suara Arka terdengar
seperti orang yang merasa bersalah.
“Pelan-pelan.
Ceritain sama Abang pelan-pelan. Gimana bisa Ibu kayak sekarang?” suara Bang
Anda terdengar tenang, walaupun aku tahu dalam dirinya sangat panik,
“Waktu
itu aku pergi sebentar untuk membeli beberapa peralatan untuk tugas kuliah, pas
aku pergi, Ibu lagi bikin adonan kue.” Arka mengatur bicaranya, aku mengelus
lengannya untuk memberikan sedikit kenyamanan, “pas aku sampe rumah, Ibu udah
pingsan di lantai.”
“Mbak
Pon?” Tanyaku yang baru saja ingat bahwa di rumah hanya ada Arka dan Ibu tadi.
“Mbak
Pon gak bisa dateng, karna anaknya lagi sakit.” Kulihat pandangan Arka kosong,
“Salah aku Bang, Kak… Aku gak bisa jaga Ibu.” Aku memeluknya lebih erat.
Mencoba lebih menenangkan adik laki-lakiku.
Tidak
lama kemudian Dimas keluar ruang pemeriksaan, kami menghampirinya. Wajahnya
tenang, namun lama berbicara,
“Mas,
Ibu ku?” tanyaku, Dimas menatap kami satu per satu,
“Bang
Anda, ditunggu dokter diruangannya, ada yang mau dibicarakan.” Dimas akhirnya
berbicara, aku sedikit kesal, mengapa salah satu dari kami harus bertanya dulu,
baru dia mau berbicara,
“Mas,
aku bisa lihat Ibu kan?”
Dimas
mengangguk, “Tante sebentar lagi dipindahkan ke ruang inap. Kamu bisa
menemaninya.”
***
Mataku
tidak bisa lepas dari wajah Ibu yang mulai keriput dan rambutnya yang mulai
memutih. Ditambah, aku tidak tega melihat tubuh ibu yang dipasangkan beberapa
alat medis untuk membantunya. Telepon genggamku berbunyi, panggilan telepon
masuk, dari Rey,
“Ya
Rey?”
“Dimana?”
“Rumah
Sakit.”
“Kamu
kenapa?” suaranya yang jauh disana terdengar sangat panik,
“Ibu
pingsan.”
“Rumah
sakit mana?”
“Rumah
Sakit Tiara Medika yang dekat rumah.”
“Yasudah.
Aku kesana.”
Aku
menutup teleponnya. Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar terdengar terbuka,
Bang Anda. Wajahnya datar tidak memberikan jawaban dari rasa penasaranku atas
penjelasan yang dokter yang berikan padanya, aku menghadangnya didepan kamar
mandi, mengajaknya keluar lagi untuk mengintograsinya.
“Bang…”
ekpresi mukanya berubah, bukan ekspresi yang biasa ia tunjukkan pada
keluarganya. Wajah yang biasanya tenang itu, kini terlihat ada sebuah
kesedihan, Bang Anda menyandarkan kepalanya dibahuku, lalu aku merasakan ada
air jatuh, Bang Anda menangis, tidak bersuara, aku mengelus rambut Bang Anda,
mencoba menenangkannya agar dapat menjelaskannya padaku.
Wajah
Bang Anda kembali tenang seperti biasanya, saat aku memberikan teh hangat
padanya. Kami bertiga terduduk di ruangan Ibu. Arka dan aku menunggu Bang Anda
untuk siap bercerita,
“Ibu
stroke.” Kami bertiga terdiam, suara
tangisku mengisi ruangan, “Ata, apa Ibu minum obatnya?” Aku menjawabnya melalui
komunikasi non-verbal, mengelengkan kepalaku, yang berarti, ‘Ibu tidak meminum
obatnya,’
“Ibu kena stroke
ringan. Kemungkinan ada beberapa alat indranya tidak berfungsi dengan baik.”
Lanjut Bang Anda,
“Apa
ada pengobatan lain?”
“Untuk
sekarang Ibu akan terus di pantau. Pengobatan lain, Ibu harus melakukan terapi
dan juga meminum beberapa obat untuk mengurangi kemungkinan komplikasi.”
“Ini
salah kami Bang, coba aja kami terus pantau Ibu.” Akhirnya Arka yang sedari
tadi diam mengeluarkan suaranya,
“Nggak
Ka. Tekanan darah Ibu memang sangat tinggi, hingga menyebabkan stroke, hal ini memang bisa terjadi pada
orang yang mengidap hipertensi” Aku
menatap Ibu, menatapnya dengan mata yang sudah dipenuhi air mata.
***
Kami
duduk berdua di cafeteria Rumah sakit, aku terdiam, memandang keluar jendela.
Rey menggenggam tanganku erat, “Sabar yah sayang. Ibu kan orang kuat.” Aku
menangis lagi, Rey terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya,
“Aku
tahu ini bukan saatnya aku bilang hal seperti ini sama kamu…” aku menatap Rey
yang terlihat gelisah, “Besok, aku udah harus balik ke Kalimantan.” aku ingin
marah, “Bukan sengaja ninggalin kamu lagi keadaan kayak sekarang, tapi gimana
lagi.” aku melepaskan genggaman tangan Rey, “Aku janji akan terus telepon kamu,
setiap hari, sampai Ibu sembuh, kalau perlu sepulang aku kerja kita video call, atau saat urusan aku
selesai, aku balik lagi ke Jakarta. Ya Ta?” Ia membujukku, yang ia tahu bahwa
aku tidak akan semurka itu untuk hal yang tidak-bisa-dibilang-sepele, karena
kepergiannya beralasan.
Aku
menatapnya nanar, “Janji kembali lagi? Karna sekarang, aku benar-benar lagi
butuh kamu Rey.” Rey mengangguk mantap, “tapi besok aku gak bisa nganter kamu.”
“Nggak
apa-apa sayang. Kamu jaga Ibu, tenangin Arka, terus kasih dia omongan, ini
bukan salah dia.”
“Pasti
kok Rey. Kayaknya kamu lebih sayang sama Arka yah dibanding aku?” aku sedikit
menggodanya untuk sedikit mencairkan ketegangan, Rey tertawa,
“Untuk
mendapatkan Kakaknya, aku harus mengambil hati adiknya juga dong.”
“Tapi
hari ini temenani aku sampai aku tidur.” Aku menawarkan satu syarat padanya
sebelum besok ia harus berangkat lagi ke Kalimantan, Rey mengangguk,
menyetujuinya.
***
Aku
tidak tertidur, hanya pura-pura tidur agar Rey bisa pulang karena besok dia
harus kembali ke Kalimantan, ia mencium keningku, “Jaga kesehatan yah sayang,
jangan sampai sakit karena kamu juga harus terus jaga Ibu. Aku sayang kamu.” Memberikan
pesan, seakan tahu aku belum sepenuhnya tertidur. Tak lama kemudian terdengar
pintu ruangan Ibu tertutup, aku membuka mata, mendudukkan badanku, menatap
keluar jendela, pemandangan Ibukota pada malam hari, lampu kelap-kelip. Aku
berpikir, dari sekian banyaknya penduduk di Jakarta, ada berapa orang yang
sedang makan, ada berapa orang yang sedang mandi, ada berapa orang yang lagi
nangis dan merasa sedih seperti yang aku rasakan sekarang. Tiba-tiba suara
pintu terdengar terbuka, aku menengok.
Kami
berdiri di atap Rumah Sakit, keheningan menyelimuti kami, yang terdengar hanya
suara bising dari padatnya kendaraan dan angin malam. Dimas meneguk kopi
hitamnya,
“Jaga
malam?” tanyaku memulai pembicaraan,
“Iya.”
Jawabnya singkat,
“Kamu
ada apa ke ruangan Ibu tadi?”
“Hanya
sekedar mengecek keadaannya,”
“Kenapa
kamu?”
“Aku
merasa harus menolongnya,” aku menatap Dimas, kami saling bertatapan, “bukankah
peraturan kehidupan manusia untuk saling tolong menolong? Seperti yang Ibu mu
lakukan padaku seminggu yang lalu.” Dimas menatap ke depan,
“Kamu
sedamg balas budi?”
Ia
tertawa pelan, “Kamu ingat kan dulu aku orang yang seperti apa, penyendiri,
bahkan saat aku terkena masalah, aku hanya bisa diam. Tidak ingin berbagi,
karna aku nggak mau menyusahkan siapa pun.” Dimas menarik nafas, “Trus kamu
datang, seakan tahu apa yang sedang aku rasakan. Dengan mudahnya, aku cerita
sama kamu, lalu kamu bilang, manusia itu makhluk sosial, saling bergantung
adalah hal yang seharusnya, karna kita nggak bisa hidup sendiri, bahkan
binatang purba aja saling membantu satu sama lain.”
Aku
tersenyum, kagum, ternyata Dimas masih mengingat apa yang kukatakan padanya
beberapa tahun lalu, perkataan remaja yang sedang mencoba menjadi dewasa, “Sejak
itu aku merasa memang aku butuh orang lain untuk menjalani hidupku, menghadapi
masalah ku, bebannya jadi hilang saat ada yang membantu. Itulah kenapa aku mau
membantu Ibu mu.”
“Kamu
cerewet yah sekarang,” Dimas tersenyum mendengar perkataanku,
“Kamu
tahu kenapa aku mau jadi dokter?” aku menggeleng, “Karna perkataanmu padaku.
Bahwa manusia itu harus saling bergantung.” Aku menatapnya penuh tanya, ingin
jawaban yang lebih, “Orang sakit pasti bergantung pada dokter untuk menyebuhkan
penyakitnya, bahkan keluarganya lebih bergantung pada kami untuk menyelamatkan
keluarganya yang sakit. Aku ingin orang bergantung padaku, aku ingin menolong
orang yang menaruh harapannya padaku.”
Aku
mengangguk mengerti, tidak menyangka bahwa aku sudah berperan dalam hidupnya.
Kami terdiam lagi, menatap lampu-lampu kota Jakarta,
“AAAKHHHH!!!”
Aku berteriak pada hamparan luas kota Jakarta, sedari tadi memang aku ingin
sekali teriak. Teriak karena aku masih sedikit kesal pada Rey yang pergi besok,
Teriak karena ingin membagi bebanku pada kota yang sudah aku tinggali hampir 20
tahun ini.
“Aku
akan berusaha menolong Ibu mu Ta.” Senyuman itu, senyuman yang pertama kali ia
berikan padaku, senyuman yang membuatku jatuh cinta padanya.
***
Aku
berdiri di depan meja kasir, bersiap untuk memesan, “Teh manis hangat sama roti
panggang coklatnya yah.” suara itu mengagetkanku, aku menoleh, “masih suka kan?”
tanya Dimas yang berdiri di belakangku, kami duduk bersama di pinggir jendela
cafeteria sambil menikmati hujan yang turun di pagi hari.
“Belum
tidur? Matamu sembab.” Kataku,
“Tidur,
sejam aja cukup.”
“Workaholic.” Aku meledeknya,
“Kamu
sendiri nggak kerja?” tanyanya,
“Nanti
siang. Ada anak SMP yang akan berkunjung.” Jawabku sambil melahap roti panggang
isi selai coklat, “ini hari kedua Ibu dirawat.”
“Selain
indra pendengarnya, semua alat vitalnya baik. Ibu mu orang yang kuat Ta.”
***
Aku
berjalan menyusuri museum bersama anak-anak berseragam putih-biru, menjelaskan
pada mereka satu per satu replika binatang yang hidup berjuta-juta tahun yang
lalu, yang ada di hadapan mereka. Pak Gandi menghampiriku, mendekatkan bibirnya
di telingaku, berbisik, “Tenangkan dirimu, cepat ke Rumah Sakit, jantung Ibu mu
melemah.” Tanpa berpikir panjang, berlari meninggalkan rombongan.***

0 komentar:
Posting Komentar