Rabu, 18 Februari 2015

Reverse #1

0

Utami Matahari, nama panjangku diberikan karna aku lahir saat matahari terbit. Tapi anehnya, aku akan alergi kalau terkena sengatan matahari, apa Ayah salah memberikan aku nama, tapi kalau salah memberikan nama, pasti aku akan sakit-sakitan. Kenyataannya, aku adalah perempuan berumur 23 tahun yang hingga saat ini sakitnya kalau sedang stress saja.
Aku membawa satu cangkir teh hangat dan tiga potong roti tawar isi selai coklat kesukaanku ke teras depan, duduk disana, menikmati dinginnya udara saat hujan. Pagi ini hujan turun sejak pukul 7. Bagi aku yang tinggal di daerah tropis, udara dingin seperti sekarang sangatlah langka.
Sebuah motor berhenti tepat didepan rumahku, membuatku memperhatikannya, karna hujan cukup deras, aku harus meraba-raba apa yang orang itu sedang lakukan. Tiba-tiba saja orang itu terjatuh dengan mulusnya ke tanah dari motornya, yang awalnya sudah ia standarkan, “Ibu…!!” aku meneriaki Ibu ku yang sedang membuat beberapa adonan kue, “Ibu…!!” aku memanggilnya lagi,
“Ada apa Ta?” Ibu menatapku sedikit kesal,
“Ibu, itu liat ada orang pingsan, jatuh dari motornya.” Aku menunjuk ke arah yang dimaksud, Ibu berusaha memastikan apa yang kukatakan adalah benar, mata ibu yang sipit mencoba membulat karna ikut terkejut. Kemudian ibu masuk ke dalam rumah, tak lama keluar lagi membawa dua buah jas hujan plastik berwarna hijau dan putih. Kenapa Ibu malah membawa jas hujan bukan payung, dan terus menatap jas hujan yang ada di tanganku, “Kalau pake payung, akan susah membopong orang yang pingsan itu, cepat pakai.” Ibu berkata seolah tahu apa yang sedang ada di pikiranku. Lalu, aku menuruti apa kata Ibu, dan aku menyetujuinya.
Kami berdua berjalan menyusuri pekarangan bunga yang selalu dirawat oleh Ibu, orang yang pingsan itu sudah sangat basah kuyup walaupun ia memakai jaket yang cukup tebal. Belum sempat aku melihat wajahnya, Ibu langsung menyuruhku untuk membantunya menggotong lelaki tersebut, badannya yang tinggi namun kurus sedikit mudahnya kami bopong berdua untuk kami bawa masuk ke rumah.
Kami menidurkannya di kamar Bang Anda, kakak laki-laki ku yang sudah lama tidak tinggal di rumah karna sudah memiliki rumahnya sendiri, bersama keluarga kecilnya. Aku membulatkan mataku, saat melihat lelaki yang telah ditolong, “Dimas?” Suara Ibu terdengar lebih terkejut dibandingkan aku, “Ata cepat ambilkan handuk, dan beberapa bajunya Bang Anda dilemari, kasihan Dimas.” Aku menuruti perintah Ibu yang sedang melepaskan jaket dua lapis yang dipakai Dimas.
***
Aku melanjutkan kegiatan favoritku saat hujan karna tadi tersendat saat menolong Dimas yang pingsan. Aku memakan rotiku yang tinggal satu sambil membaca buku mengenai paleontologi untuk menambah pengetahuanku, karna sekarang aku bekerja di museum paleontologi di pinggiran Kota Jakarta.
Kesukaanku memang aneh, mempelajari tentang fosil-fosil binatang purba, mendengar kisah-kisahnya, dan bagaimana mereka hidup. Semua itu berawal dari almarhum Ayah yang seorang peneliti, dari kecil aku diceritakan mengenai binatang purba, sejak itu lah aku mengagumi binatang-binatang purba.
Aku sedikit mengintip kamar Bang Anda, lebih tepatnya ingin melihat keadaan Dimas, seusai aku membunuh waktu luangku tadi, Dimas sudah terbangun, ia menatapku, mau tidak mau aku harus menghampirinya.
“Kamu sudah enakan?” Tanyaku, Dimas hanya diam, menyapukan pandangannya ke seantero kamar Bang Anda, “Kamu ada dirumahku. Lupa?” ia menatapku, seakan-akan berharap aku ini hanya ilusinya, kemudian ia mendudukan tubuhnya.
“Bagaimana bisa?” akhirnya ia bertanya,
“Kamu pingsan di depan rumahku, lalu kamu jatuh dari motor.” Jawabku, “Aku panggil Ibu dulu.” Saat aku akan beranjak, Dimas menahanku, aku menatapnya, tepat kematanya yang sedikit sipit. Aku langsung menghindarinya, sadar bahwa aku seharusnya tidak lagi memandangnya seperti sekarang, pandangan penuh kekaguman.
“Tidak perlu. Aku akan pergi.” Ia mencoba beranjak, aku sedikit membantunya. Ia melihat pakaiannya berbeda, lalu menatapku,
“Baju Bang Anda.” Jawabku singkat,
Aku memapah Dimas keluar kamar Bang Anda, kududukan ia di kursi ruang tamu yang memang bersebalahan dengan kamar Bang Anda. Ibu menghampiri kami, menyuguhkan teh hangat untuknya, Dimas tersenyum tipis,
“Terimaksih tante.”
“Kamu mau kemana Mas?” tanya Ibu yang juga membuatku penasaran,
“Mau ke rumah nenek saya tante, ada di ujung jalan itu, saya lupa kalau dekat dengan rumah Ata.”
“Kamu lagi sakit?”
“Tidak tante, hanya belum tidur dua hari ini, karna harus jaga malam.”
“Yasudah.” Ibu menyudahi intograsinya, “Ata, berikan jaketnya Bang Anda dan juga celananya yah.”
“Tidak perlu tante, bajunya saja sudah cukup.”
“Jangan ditolak.” Ibu mewanti-wanti Dimas, ia tidak bisa lagi mengelak. Entah kekuatan apa yang Ibu miliki, setiap orang yang akan membantahnya, akan selalu menjadi kalah dan menuruti semua yang dikatakan Ibu.
Aku menghampiri Dimas sembari membawa satu potong jaket dan satu potong celana jeans panjang, kuberikan padanya. Keadaan ini terasa canggung,
“Apa kabar?” kami sama-sama mengeluarkan pertanyaan yang sama,
“Kamu dulu.” Dimas mengalah, selalu seperti itu. selalu mengalah untuk orang lain,
“Baik. Kamu sendiri?”
Not good” jawabnya sambil tersenyum, lesung pipinya terlihat. “Kamu kerja dimana?” tanyanya kemudian,
“Museum.” Ia mengangkat alisnya, aku mengangguk, “Jadi pemandu wisata disana,” kemudian ia tertawa,
“Masih suka mempelajari binatang purba?” aku mengangguk,
“Kamu sendiri kerja dimana?”
“Aku lagi magang, di rumah sakit dekat sini.” Dimas memang bercita-cita menjadi seorang dokter bedah sejak dulu, aku membentuk bibirku menjadi O tanda mengerti.
Kemudian Dimas meminta ijin untuk berganti celana di kamar Bang Anda. Selagi ia mengganti celananya, aku merekap ulang kejadian tujuh tahun yang lalu, saat aku berumur enam belas tahun begitu juga dengan Dimas. Dimas Tri Haryanto, walaupun aku sudah memiliki yang lain, nama itu selalu membuat jantungku tidak berhenti berdebar tiap mendengarnya.
Kami pernah memiliki hubungan yang spesial dulu, namun Dimas memutuskan hubungan kami karena dia bilang, dia ingin fokus pada sekolah kedokterannya. Alasan yang klasik memang, beberapa bulan kemudian, aku mendengar ia sudah punya pacar baru. Dia pacar pertama ku, dia orang yang sangat mengesankan, dengan semua perlakuannya yang sopan, dan menerima ku yang saat itu masih sangat egois.
***
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong museum, yang di kanan maupun kiri ku banyak replika binatang purba yang terbuat dari lilin, mulai dari Mammoth, T-Rex, sampai binatang-binatang laut. Lalu, aku masuk ke dalam kantor yang tepat berada di ujung lorong, seperti yang sudah kukatakan pada Dimas kemarin, bahwa aku menjadi pemandu wisata sekaligus PR Officer. Aku menyapa satu per satu rekan kerja ku yang sudah datang lebih awal.
“Ata, sudah tahu ya, kalau SD 301 hari ini akan datang berkunjung.” Aku mengangguk mantap, “Semangat yah, anak sekolah dasar terkadang lebih menyebalkan daripada pacarmu.” Ledek Pak Gandi, aku tertawa.
Aku menatap mereka yang menghampiriku, wajah mereka penuh kekaguman, mata mereka terlihat berbinar-binar begitu masuk ke area museum,
“Selamat pagi adik-adik. Siap menjelajah waktu?” aku berteriak, anak-anak itu bersorak sorai. Ia mengikutiku yang memandu mereka masuk ke area Dinosurus, mereka menatap setiap replika dinosaurus, aku berhenti didepan Dinosaurus yang berleher panjang, “Adik-adik tahu Dinosaurus ini kan?”
“Tahu!!” Teriak mereka bersamaan, aku tertawa,
“Dinosaurus ini namanya Futalognkosaurus Dukei. Dinosaurus ini hidup secara khusus di Patagonia. Dinosaurus ini termasuk binatang herbivora yang memiliki ukuran panjang sekitar 105-112 kaki. Ya.. sekitar 34 meter. Mulai dari kepala hingga ke ekornya, panjang lehernya 17 meter, sedangkan ekornya 15 meter dan beratnya 70 ton.”
“Wooow…” secara bersamaan lagi, mereka menunjukkan ketakjubannya, “Berarti lebih tinggi dari museum ini dong kak?” tanya salah satu anak berbadan gemuk yang berdiri dibarisan paling depan,
“Tentu saja.” Aku tersenyum, dan melanjutkan penjelasan ku, “Nama Futolognkosaurus Dukei ini berasal dari bahasa asli mapuche yang artinya kepala kadal raksasa dan nama perusahaan energi Amerika Duke Energy Corp, yang terlah berperan besar dalam pembiayaan penggaliannya di sekitar danau Barreales, 90 Km utara Neuquen, Argentina.” Aku menarik nafas, mengatur kembali cara bicaraku, “Kita pindah ke binatang yang lainnya…”
Hingga saat kami berhenti di depan replika T-Rex, seseorang yang ada di teras museum, melambaikan tangannya padaku, mencoba mengganggu pekerjaanku, aku sidik-sidik muka orang itu. Dia laki-laki, memakai Kaos bergambarkan personel Queen berwarna hitam, celana jeans bolong dan sneakers hitam yang melindungi kakinya, aakkh!! Aku tahu dia siapa!! Ingin rasanya aku berteriak dan segera memeluknya, karena rasa rindu pada orang asing itu sudah sangat menumpuk setinggi gunung Himalaya, tidak bahkan lebih tinggi dari itu.
Satu jam kemudian aku menyudahi tour dengan klien-klien kecilku. Menghampiri seorang laki-laki yang sedang asik bermain bersama gadgetnya di kantin museum. Aku berjalan mengendap-endap, tapi kalau dipikir-pikir untuk apa berjalan seperti itu, toh ia membelakangi ku. Aku menutup matanya, mencoba bermain tebak-tebakkan,
“Ata…” suaranya, aku rindu suara itu, harum tubuhnya juga, aku memeluknya dari belakang,
“Hai stranger.. Kapan mendarat di bumi?” tanya ku pada lelaki dihadapanku ini, lelaki yang sudah tiga tahun ini mengisi hariku
“Tadi malam. Saat kaki ku berpijak di bumi, aku langsung memutuskan untuk bertemu manusia purba, yang ternyata adalah kekasihku.”

Rey, dia kekasihku, namun kami harus menjalani hubungan jarak jauh karena dia kerja di Kalimantan. Kami berkenalan karena dijodohkan oleh Tuhan untuk berpatisipasi dalam acara kampus, dia perwakilan dari Fakultas pertambangan, sedangkan aku dari fakultas ilmu komunikasi. Hari ini dia sedang kembali ke kehidupan normal, aku beranggapan dia bekerja di planet lain, karna tempat kerjanya, seperti tempat pengasingan, jauh dari kota, masuk ke pelosok desa. Lelaki yang biasanya hanya aku bisa lihat melalui sebuah program komunikasi masa kini yang diberi nama skype, dengan gambar yang terkadang tidak jelas sehingga aku tidak yakin apa benar dia kekasihku, kini bisa aku sentuh pipinya, matanya, juga rambutnya yang mulai memanjang. Tapi satu hal yang penting, aku tidak ragu bahwa lelaki yang duduk didepanku saat ini adalah kekasihku.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com