Utami
Matahari, nama panjangku diberikan karna aku lahir saat matahari terbit. Tapi
anehnya, aku akan alergi kalau terkena sengatan matahari, apa Ayah salah
memberikan aku nama, tapi kalau salah memberikan nama, pasti aku akan
sakit-sakitan. Kenyataannya, aku adalah perempuan berumur 23 tahun yang hingga
saat ini sakitnya kalau sedang stress saja.
Aku
membawa satu cangkir teh hangat dan tiga potong roti tawar isi selai coklat
kesukaanku ke teras depan, duduk disana, menikmati dinginnya udara saat hujan.
Pagi ini hujan turun sejak pukul 7. Bagi aku yang tinggal di daerah tropis,
udara dingin seperti sekarang sangatlah langka.
Sebuah
motor berhenti tepat didepan rumahku, membuatku memperhatikannya, karna hujan
cukup deras, aku harus meraba-raba apa yang orang itu sedang lakukan. Tiba-tiba
saja orang itu terjatuh dengan mulusnya ke tanah dari motornya, yang awalnya
sudah ia standarkan, “Ibu…!!” aku meneriaki Ibu ku yang sedang membuat beberapa
adonan kue, “Ibu…!!” aku memanggilnya lagi,
“Ada
apa Ta?” Ibu menatapku sedikit kesal,
“Ibu,
itu liat ada orang pingsan, jatuh dari motornya.” Aku menunjuk ke arah yang
dimaksud, Ibu berusaha memastikan apa yang kukatakan adalah benar, mata ibu
yang sipit mencoba membulat karna ikut terkejut. Kemudian ibu masuk ke dalam rumah,
tak lama keluar lagi membawa dua buah jas hujan plastik berwarna hijau dan
putih. Kenapa Ibu malah membawa jas hujan bukan payung, dan terus menatap jas
hujan yang ada di tanganku, “Kalau pake payung, akan susah membopong orang yang
pingsan itu, cepat pakai.” Ibu berkata seolah tahu apa yang sedang ada di
pikiranku. Lalu, aku menuruti apa kata Ibu, dan aku menyetujuinya.
Kami
berdua berjalan menyusuri pekarangan bunga yang selalu dirawat oleh Ibu, orang
yang pingsan itu sudah sangat basah kuyup walaupun ia memakai jaket yang cukup
tebal. Belum sempat aku melihat wajahnya, Ibu langsung menyuruhku untuk
membantunya menggotong lelaki tersebut, badannya yang tinggi namun kurus
sedikit mudahnya kami bopong berdua untuk kami bawa masuk ke rumah.
Kami
menidurkannya di kamar Bang Anda, kakak laki-laki ku yang sudah lama tidak
tinggal di rumah karna sudah memiliki rumahnya sendiri, bersama keluarga
kecilnya. Aku membulatkan mataku, saat melihat lelaki yang telah ditolong,
“Dimas?” Suara Ibu terdengar lebih terkejut dibandingkan aku, “Ata cepat
ambilkan handuk, dan beberapa bajunya Bang Anda dilemari, kasihan Dimas.” Aku
menuruti perintah Ibu yang sedang melepaskan jaket dua lapis yang dipakai
Dimas.
***
Aku
melanjutkan kegiatan favoritku saat hujan karna tadi tersendat saat menolong
Dimas yang pingsan. Aku memakan rotiku yang tinggal satu sambil membaca buku mengenai
paleontologi untuk menambah pengetahuanku, karna sekarang aku bekerja di museum
paleontologi di pinggiran Kota Jakarta.
Kesukaanku
memang aneh, mempelajari tentang fosil-fosil binatang purba, mendengar kisah-kisahnya,
dan bagaimana mereka hidup. Semua itu berawal dari almarhum Ayah yang seorang
peneliti, dari kecil aku diceritakan mengenai binatang purba, sejak itu lah aku
mengagumi binatang-binatang purba.
Aku
sedikit mengintip kamar Bang Anda, lebih tepatnya ingin melihat keadaan Dimas,
seusai aku membunuh waktu luangku tadi, Dimas sudah terbangun, ia menatapku,
mau tidak mau aku harus menghampirinya.
“Kamu
sudah enakan?” Tanyaku, Dimas hanya diam, menyapukan pandangannya ke seantero
kamar Bang Anda, “Kamu ada dirumahku. Lupa?” ia menatapku, seakan-akan berharap
aku ini hanya ilusinya, kemudian ia mendudukan tubuhnya.
“Bagaimana
bisa?” akhirnya ia bertanya,
“Kamu
pingsan di depan rumahku, lalu kamu jatuh dari motor.” Jawabku, “Aku panggil
Ibu dulu.” Saat aku akan beranjak, Dimas menahanku, aku menatapnya, tepat
kematanya yang sedikit sipit. Aku langsung menghindarinya, sadar bahwa aku
seharusnya tidak lagi memandangnya seperti sekarang, pandangan penuh kekaguman.
“Tidak
perlu. Aku akan pergi.” Ia mencoba beranjak, aku sedikit membantunya. Ia
melihat pakaiannya berbeda, lalu menatapku,
“Baju
Bang Anda.” Jawabku singkat,
Aku
memapah Dimas keluar kamar Bang Anda, kududukan ia di kursi ruang tamu yang
memang bersebalahan dengan kamar Bang Anda. Ibu menghampiri kami, menyuguhkan
teh hangat untuknya, Dimas tersenyum tipis,
“Terimaksih
tante.”
“Kamu
mau kemana Mas?” tanya Ibu yang juga membuatku penasaran,
“Mau
ke rumah nenek saya tante, ada di ujung jalan itu, saya lupa kalau dekat dengan
rumah Ata.”
“Kamu
lagi sakit?”
“Tidak
tante, hanya belum tidur dua hari ini, karna harus jaga malam.”
“Yasudah.”
Ibu menyudahi intograsinya, “Ata, berikan jaketnya Bang Anda dan juga celananya
yah.”
“Tidak
perlu tante, bajunya saja sudah cukup.”
“Jangan
ditolak.” Ibu mewanti-wanti Dimas, ia tidak bisa lagi mengelak. Entah kekuatan
apa yang Ibu miliki, setiap orang yang akan membantahnya, akan selalu menjadi
kalah dan menuruti semua yang dikatakan Ibu.
Aku
menghampiri Dimas sembari membawa satu potong jaket dan satu potong celana
jeans panjang, kuberikan padanya. Keadaan ini terasa canggung,
“Apa
kabar?” kami sama-sama mengeluarkan pertanyaan yang sama,
“Kamu
dulu.” Dimas mengalah, selalu seperti itu. selalu mengalah untuk orang lain,
“Baik.
Kamu sendiri?”
“Not good” jawabnya sambil tersenyum,
lesung pipinya terlihat. “Kamu kerja dimana?” tanyanya kemudian,
“Museum.”
Ia mengangkat alisnya, aku mengangguk, “Jadi pemandu wisata disana,” kemudian
ia tertawa,
“Masih
suka mempelajari binatang purba?” aku mengangguk,
“Kamu
sendiri kerja dimana?”
“Aku
lagi magang, di rumah sakit dekat sini.” Dimas memang bercita-cita menjadi
seorang dokter bedah sejak dulu, aku membentuk bibirku menjadi O tanda
mengerti.
Kemudian
Dimas meminta ijin untuk berganti celana di kamar Bang Anda. Selagi ia
mengganti celananya, aku merekap ulang kejadian tujuh tahun yang lalu, saat aku
berumur enam belas tahun begitu juga dengan Dimas. Dimas Tri Haryanto, walaupun
aku sudah memiliki yang lain, nama itu selalu membuat jantungku tidak berhenti
berdebar tiap mendengarnya.
Kami
pernah memiliki hubungan yang spesial dulu, namun Dimas memutuskan hubungan
kami karena dia bilang, dia ingin fokus pada sekolah kedokterannya. Alasan yang
klasik memang, beberapa bulan kemudian, aku mendengar ia sudah punya pacar
baru. Dia pacar pertama ku, dia orang yang sangat mengesankan, dengan semua
perlakuannya yang sopan, dan menerima ku yang saat itu masih sangat egois.
***
Aku
berjalan menyusuri lorong-lorong museum, yang di kanan maupun kiri ku banyak replika
binatang purba yang terbuat dari lilin, mulai dari Mammoth, T-Rex, sampai
binatang-binatang laut. Lalu, aku masuk ke dalam kantor yang tepat berada di
ujung lorong, seperti yang sudah kukatakan pada Dimas kemarin, bahwa aku
menjadi pemandu wisata sekaligus PR Officer. Aku menyapa satu per satu rekan
kerja ku yang sudah datang lebih awal.
“Ata,
sudah tahu ya, kalau SD 301 hari ini akan datang berkunjung.” Aku mengangguk
mantap, “Semangat yah, anak sekolah dasar terkadang lebih menyebalkan daripada
pacarmu.” Ledek Pak Gandi, aku tertawa.
Aku
menatap mereka yang menghampiriku, wajah mereka penuh kekaguman, mata mereka
terlihat berbinar-binar begitu masuk ke area museum,
“Selamat
pagi adik-adik. Siap menjelajah waktu?” aku berteriak, anak-anak itu bersorak
sorai. Ia mengikutiku yang memandu mereka masuk ke area Dinosurus, mereka
menatap setiap replika dinosaurus, aku berhenti didepan Dinosaurus yang
berleher panjang, “Adik-adik tahu Dinosaurus ini kan?”
“Tahu!!”
Teriak mereka bersamaan, aku tertawa,
“Dinosaurus
ini namanya Futalognkosaurus Dukei.
Dinosaurus ini hidup secara khusus di Patagonia.
Dinosaurus ini termasuk binatang herbivora yang memiliki ukuran panjang sekitar
105-112 kaki. Ya.. sekitar 34 meter. Mulai dari kepala hingga ke ekornya,
panjang lehernya 17 meter, sedangkan ekornya 15 meter dan beratnya 70 ton.”
“Wooow…”
secara bersamaan lagi, mereka menunjukkan ketakjubannya, “Berarti lebih tinggi
dari museum ini dong kak?” tanya salah satu anak berbadan gemuk yang berdiri
dibarisan paling depan,
“Tentu
saja.” Aku tersenyum, dan melanjutkan penjelasan ku, “Nama Futolognkosaurus Dukei ini berasal dari bahasa asli mapuche yang artinya kepala kadal raksasa
dan nama perusahaan energi Amerika Duke
Energy Corp, yang terlah berperan besar dalam pembiayaan penggaliannya di
sekitar danau Barreales, 90 Km utara Neuquen,
Argentina.” Aku menarik nafas, mengatur kembali cara bicaraku, “Kita pindah
ke binatang yang lainnya…”
Hingga
saat kami berhenti di depan replika T-Rex, seseorang yang ada di teras museum,
melambaikan tangannya padaku, mencoba mengganggu pekerjaanku, aku sidik-sidik
muka orang itu. Dia laki-laki, memakai Kaos bergambarkan personel Queen berwarna hitam, celana jeans
bolong dan sneakers hitam yang melindungi kakinya, aakkh!! Aku tahu dia siapa!!
Ingin rasanya aku berteriak dan segera memeluknya, karena rasa rindu pada orang
asing itu sudah sangat menumpuk setinggi gunung Himalaya, tidak bahkan lebih
tinggi dari itu.
Satu
jam kemudian aku menyudahi tour
dengan klien-klien kecilku. Menghampiri seorang laki-laki yang sedang asik
bermain bersama gadgetnya di kantin museum. Aku berjalan mengendap-endap, tapi
kalau dipikir-pikir untuk apa berjalan seperti itu, toh ia membelakangi ku. Aku
menutup matanya, mencoba bermain tebak-tebakkan,
“Ata…”
suaranya, aku rindu suara itu, harum tubuhnya juga, aku memeluknya dari
belakang,
“Hai
stranger.. Kapan mendarat di bumi?”
tanya ku pada lelaki dihadapanku ini, lelaki yang sudah tiga tahun ini mengisi
hariku
“Tadi
malam. Saat kaki ku berpijak di bumi, aku langsung memutuskan untuk bertemu manusia
purba, yang ternyata adalah kekasihku.”
Rey,
dia kekasihku, namun kami harus menjalani hubungan jarak jauh karena dia kerja
di Kalimantan. Kami berkenalan karena dijodohkan oleh Tuhan untuk berpatisipasi
dalam acara kampus, dia perwakilan dari Fakultas pertambangan, sedangkan aku
dari fakultas ilmu komunikasi. Hari ini dia sedang kembali ke kehidupan normal,
aku beranggapan dia bekerja di planet lain, karna tempat kerjanya, seperti
tempat pengasingan, jauh dari kota, masuk ke pelosok desa. Lelaki yang biasanya
hanya aku bisa lihat melalui sebuah program komunikasi masa kini yang diberi
nama skype, dengan gambar yang
terkadang tidak jelas sehingga aku tidak yakin apa benar dia kekasihku, kini
bisa aku sentuh pipinya, matanya, juga rambutnya yang mulai memanjang. Tapi
satu hal yang penting, aku tidak ragu bahwa lelaki yang duduk didepanku saat
ini adalah kekasihku.***

0 komentar:
Posting Komentar