Selasa, 17 Februari 2015

20 Menit di 14 Februari

0

Aku memandangi dua buah coklat berbentuk lollipop di tanganku, sambil berulang kali menghela nafas dan menghembuskannya. Merutuk diriku sendiri atas kejadian yang telah terjadi, entah aku yang bodoh dan terlalu berharap dengan mudahnya berpikir lelaki itu suka padaku. Aku masuk lift di gedung bertingkat lebih dari sepuluh, dilantai sembilan aku tinggal bersama kakak perempuanku.
Lift ini berhenti tiba-tiba, aku panik. Apa yang terjadi padaku hari ini, sial sekali. Aku semakin benci tanggal 14 februari. Aku berjongkok, menutup mukaku dengan telapak tangan. Menangis. Aku benci hari ini. Benci menyetujui taruhan bodoh dengan kedua temanku. “AAAKKKH!!!” aku berteriak sekuat tenaga, melepaskan semuanya, berharap kekesalan itu berkurang sedikit.
“Mbak?” tiba-tiba sebuah suara menyadarkanku, ya aku sadar bahwa aku tidak sendirian di lift ini. aku menghapus sisa-sisa air mata, dan terkejut melihat siapa yang bersamaku sekarang.
“Kang Dirga?!” suara ku sedikit berteriak. Dirga, laki-laki yang sempat aku kagumi, dan menjadi bahan taruhan teman-temanku. Tapi hal yang paling memalukan adalah aku pernah memintanya untuk menjadi pacarku, padahal sebelumnya kami tidak saling kenal.
“Kamu Karisa kan?” Dia ternyata mengenaliku. Aku buru-buru memencet tanda bantuan, ingin segera pergi dari lift ini. Jujur, sejak kejadian itu, aku selalu menghindarinya. Menghindarinya karna malu. “Siapapun… toloong!!” aku berteriak, menggedor-gedor pintu lift, walaupun aku yakin tidak akan ada yang mendengar suaraku. Sebuah tangan menggenggam bahuku yang lebar, tubuh ini terlalu kaku untuk digerakkan.
“Saya udah minta tolong kok. Mereka bilang tunggu dua puluh menit aja.” Suara itu, jantungku tidak berhenti berdebar. Dua puluh menit itu terlalu lama untukku. Tuhan, ada apa sih sama hari ini. “Kamu yang waktu itu bilang suka sama saya kan?” to the point banget sih, dia nggak bisa basa basi sedikit dulu apa gitu. Aku memberanikan diri untuk membalikkan badanku, dan mencoba tersenyum,
“Mungkin ada sedikit kesalahpahaman” jawabku,
“Kesalahpahaman?” ia malah berbalik bertanya padaku,
“Iya. Waktu itu, ada sedikit permainan didalamnya.” ia membulatkan bibirnya,
“Jadi saya dipermainkan?” aku tidak berani menatap wajahnya,
“Bukan gitu, saya emang ngeceng akang, trus teman-teman menantang saya, kalau saya nembak akang, ya saya yang menang.” Entah kenapa aku malah bilang yang sejujurnya sama dia. Aku memukul kepalaku sendiri. Karisa bodoh.
“Jadi saya bahan taruhan?” kenapa setiap kalimat yang ia keluarkan membuat aku merasa bersalah padanya, walaupun memang sebenarnya semua ini salah.
“Ya salah memang. Maaf yaa Kang.” Aku masih menundukkan kepalaku, tidak berani menatapnya,
“Santai. Tapi sejak itu, saya jadi merhatiin kamu terus.” Ya ampun, beneran nih. Aku jadi senyum-senyum sendiri. “Ada perasaan nggak enak juga sih, nolak kamu pake cara gitu. Mempermalukan kamu didepan teman-teman saya. Saya juga mau minta maaf. Sekarang kita impas ya?” kami berdua sama-sama tertawa,
“Impas.” Menyodorkan telapak tanganku yang lumayan lebar, “Mari kita berkenalan dari awal. Nama saya Karisa.” Ia menyunggingkan senyuman dari bibirnya yang tipis untuk ukuran seorang lelaki,
“Saya Dirga.” Menggenggam telapak tanganku,
Dua puluh menit yang awalnya kukira akan terasa bagikan di sebuah pengadilan, kebalikannya, terasa sangat menyenangkan. Lift yang kami tumpangi akhirnya dapat beroperasi lagi ada sedikit rasa sedih karna waktu cepat sekali berlalu. Kami sama-sama keluar dari lift di lantai Sembilan,
“Saya ke arah sana Kang.” Kataku, menunjuk ke arah kiri,
“Saya ke sana” dia menunjuk ke arah yang berlawanan,
“Oya, tunggu sebentar.” Aku merogoh tasku, mengambil coklat yang tadi sempat aku masukkan, dan memberikan padanya. Ia menatapku, “Buat akang aja. Sebenarnya itu untuk orang lain. Daripada saya kesel ngeliat itu, saya kasih akang aja. Nggak apa-apa kan? Mau kan?” kukira ia tidak akan mengambilnya, tapi malah sebaliknya,

“Terimkasih. Pasti saya makan.” Jawabnya, “See you.” Kami sama-sama berjalan ke arah yang berbeda. Semoga ini awal yang baik buat aku untuk tidak lagi membenci tanggal 14 februari, karna di tanggal ini, jadi tanggal yang istimewa untukku, dan semoga istimewa juga untuk Dirga.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com