Aku
memandangi dua buah coklat berbentuk lollipop
di tanganku, sambil berulang kali menghela nafas dan menghembuskannya. Merutuk
diriku sendiri atas kejadian yang telah terjadi, entah aku yang bodoh dan
terlalu berharap dengan mudahnya berpikir lelaki itu suka padaku. Aku masuk lift di gedung bertingkat lebih dari
sepuluh, dilantai sembilan aku tinggal bersama kakak perempuanku.
Lift ini berhenti tiba-tiba, aku
panik. Apa yang terjadi padaku hari ini, sial sekali. Aku semakin benci tanggal
14 februari. Aku berjongkok, menutup mukaku dengan telapak tangan. Menangis.
Aku benci hari ini. Benci menyetujui taruhan bodoh dengan kedua temanku.
“AAAKKKH!!!” aku berteriak sekuat tenaga, melepaskan semuanya, berharap
kekesalan itu berkurang sedikit.
“Mbak?”
tiba-tiba sebuah suara menyadarkanku, ya aku sadar bahwa aku tidak sendirian di
lift ini. aku menghapus sisa-sisa air
mata, dan terkejut melihat siapa yang bersamaku sekarang.
“Kang
Dirga?!” suara ku sedikit berteriak. Dirga, laki-laki yang sempat aku kagumi,
dan menjadi bahan taruhan teman-temanku. Tapi hal yang paling memalukan adalah
aku pernah memintanya untuk menjadi pacarku, padahal sebelumnya kami tidak
saling kenal.
“Kamu
Karisa kan?” Dia ternyata
mengenaliku. Aku buru-buru memencet tanda bantuan, ingin segera pergi dari lift ini. Jujur, sejak kejadian itu, aku
selalu menghindarinya. Menghindarinya karna malu. “Siapapun… toloong!!” aku
berteriak, menggedor-gedor pintu lift,
walaupun aku yakin tidak akan ada yang mendengar suaraku. Sebuah tangan
menggenggam bahuku yang lebar, tubuh ini terlalu kaku untuk digerakkan.
“Saya
udah minta tolong kok. Mereka bilang tunggu dua puluh menit aja.” Suara itu,
jantungku tidak berhenti berdebar. Dua puluh menit itu terlalu lama untukku.
Tuhan, ada apa sih sama hari ini. “Kamu yang waktu itu bilang suka sama saya
kan?” to the point banget sih, dia nggak bisa basa basi sedikit dulu apa
gitu. Aku memberanikan diri untuk membalikkan badanku, dan mencoba tersenyum,
“Mungkin
ada sedikit kesalahpahaman” jawabku,
“Kesalahpahaman?”
ia malah berbalik bertanya padaku,
“Iya.
Waktu itu, ada sedikit permainan didalamnya.” ia membulatkan bibirnya,
“Jadi
saya dipermainkan?” aku tidak berani menatap wajahnya,
“Bukan
gitu, saya emang ngeceng akang, trus
teman-teman menantang saya, kalau saya nembak akang, ya saya yang menang.”
Entah kenapa aku malah bilang yang sejujurnya sama dia. Aku memukul kepalaku
sendiri. Karisa bodoh.
“Jadi
saya bahan taruhan?” kenapa setiap kalimat yang ia keluarkan membuat aku merasa
bersalah padanya, walaupun memang sebenarnya semua ini salah.
“Ya
salah memang. Maaf yaa Kang.” Aku masih menundukkan kepalaku, tidak berani
menatapnya,
“Santai.
Tapi sejak itu, saya jadi merhatiin kamu terus.” Ya ampun, beneran nih. Aku
jadi senyum-senyum sendiri. “Ada perasaan nggak
enak juga sih, nolak kamu pake cara gitu. Mempermalukan kamu didepan
teman-teman saya. Saya juga mau minta maaf. Sekarang kita impas ya?” kami
berdua sama-sama tertawa,
“Impas.”
Menyodorkan telapak tanganku yang lumayan lebar, “Mari kita berkenalan dari
awal. Nama saya Karisa.” Ia menyunggingkan senyuman dari bibirnya yang tipis
untuk ukuran seorang lelaki,
“Saya
Dirga.” Menggenggam telapak tanganku,
Dua
puluh menit yang awalnya kukira akan terasa bagikan di sebuah pengadilan,
kebalikannya, terasa sangat menyenangkan. Lift
yang kami tumpangi akhirnya dapat beroperasi lagi ada sedikit rasa sedih karna
waktu cepat sekali berlalu. Kami sama-sama keluar dari lift di lantai Sembilan,
“Saya
ke arah sana Kang.” Kataku, menunjuk ke arah kiri,
“Saya
ke sana” dia menunjuk ke arah yang berlawanan,
“Oya,
tunggu sebentar.” Aku merogoh tasku, mengambil coklat yang tadi sempat aku
masukkan, dan memberikan padanya. Ia menatapku, “Buat akang aja. Sebenarnya itu
untuk orang lain. Daripada saya kesel ngeliat itu, saya kasih akang aja. Nggak
apa-apa kan? Mau kan?” kukira ia tidak akan mengambilnya, tapi malah sebaliknya,
“Terimkasih.
Pasti saya makan.” Jawabnya, “See you.”
Kami sama-sama berjalan ke arah yang berbeda. Semoga ini awal yang baik buat
aku untuk tidak lagi membenci tanggal 14 februari, karna di tanggal ini, jadi
tanggal yang istimewa untukku, dan semoga istimewa juga untuk Dirga.***

0 komentar:
Posting Komentar