Selasa, 10 Februari 2015

The Bride and Her Groom #5

0

Naja menghentikkan mobilnya di depan bangunan yang sudah ia tinggali hampir dua puluh tiga tahun itu, mempersiapkan diri untuk bertemu istrinya, “Seorang lelaki harus mempertanggung jawabkan semuanya dan menyelesaikan masalah yang telah ia mulai.” ucapan itu terus terngiang dibenaknya setelah obrolannya semalam dengan sang ayah.
Saat ia masuk ke dalam rumah, dilihatnya Tante Tami sedang membereskan meja makan, namun ia tidak melihat keberadaan istrinya di sekitar Tante Tami, karna biasanya Arina akan membantu mertuanya membereskan meja makan seusai sarapan, Naja menghampiri ibu dua orang anak itu, dan menyalimi tangannya, “Dimana Arina Ma?” tanyanya, Tante Tami menunjuk kamar Naja dengan telunjuknya, mengisyaratkan Arina berada disana, Naja menarik nafas panjang dan menuju lantai dua.
Naja mengetuk pintu kamar dua kali, namun tidak ada sahutan dari dalam kamar, “Aku masuk yah Na.” ucapnya meminta ijin untuk masuk ke dalam kamar, hening. Ia pun masuk, dari balik pintu dilihatnya sang istri sedang melihat keluar jendela dengan kedua matanya yang sembab, Naja menghampiri, memegang bahunya, namun tidak ada feedback apapun dari sang istri, Arina masih menatap keluar jendela, Naja membalikkan badannya, menatap kedua mata istrinya, namun Arina tidak membalas tatapan itu.
“Kita pulang yuk?” bujuk Naja, ingin membawa istrinya kembali pulang, tidak ada jawaban. Lalu Naja mengambil tas yang kemarin Arina bawa pergi, merapikan barang bawaannya dan menuntun Arina keluar kamar untuk membawanya pulang dan tidak ada pemberontakan dari Arina, Tante Tami menatap anak dan menantunya turun dari lantai atas, wajah Arina tampak pucat, Tante Tami sedikit menghadang jalan Naja,
“Naja, biarkan Arina makan sarapannya terlebih dahulu.” Naja menatap istrinya yang lemah,
“Tidak perlu Ma, kami akan makan sesampainya di apartemen.” Jawab Naja kemudian membawa kembali istrinya menuju mobil,
“Hati-hati.” Hanya itu pesan yang dapat Tante Tami ucapkan untuk kedua pasangan suami istri itu, rasa khawatir sebenarnya menghantui Tante Tami, tapi bukan hak nya untuk mencegah anak lelakinya membawa istrinya untuk pulang bersamanya.
***
 Naja mendudukkan Arina diruang tv, Arina masih saja diam, tidak ada satu kata pun keluar dari bibirnya seperti yang ia lakukan dari kemarin. Naja duduk dihadapannya, menatapnya dengan kedua matanya yang hangat, mengelus rambut sang istri, lalu memeluknya, lagi-lagi Arina tidak memberontak, “Dengarkan penjelasanku yah,” Naja melepaskan pelukannya, Arina menatapnya dengan mata penuh rasa sayang pada Naja, mata itu yang membuat Naja jatuh cinta padanya,
“Beberapa minggu ini memang aku banyak berkomunikasi dengan Orissa, dia bilang dia sakit, dia butuh seseorang untuk memperhatikannya, dengan perjanjian dia tidak mengganggumu maupun pernikahan kita,” Naja mengatur nafasnya, “maka dari itu, aku menemaninya sekedar check-up ke rumah sakit, namun, sungguh aku tidak menyangka bahwa ia akan menemuimu Na, sungguh aku berniat hanya untuk menolongnya karena ia adalah seseorang yang sama sekali tidak diberi perhatian oleh kedua orang tuanya. Maka dari itu, aku ingin membantunya sebagai seorang teman.” Arina menangis lagi, “Maaf aku tidak mengatakannya padamu, karna aku takut kamu akan sakit hati. Arina aku mencintaimu, kamu tahu aku bukan orang mudah mengucapkan kata-kata romantis. Aku pun tidak bisa menyentuhmu sebelum kamu lulus SMA, aku hanya  menghargaimu Arina.”
Arina menatap suaminya, ternyata selama ini apa yang ia pikirkan salah, Orissa memang terobsesi pada suamianya, namun suaminya berusaha untuk menjaga perasaannya. Arina memeluknya, Naja tersenyum dan membalas pelukan itu, “Maafkan aku yang sudah berprasangka buruk padamu Naja.”
“Maafkan aku juga yang tidak dapat berterus terang padamu,”
“Ya seharusnya kamu lebih berterus terang padaku sekarang karna kita bukan lagi teman kecil, kita sudah menjadi suami istri, Naja.” Arina menatap kedua mata suamianya, dengan seketika Naja mengecup bibirnya, Arina terkejut, untuk pertama kalinya Naja mencium bibirnya. Naja kembali mencium bibirnya, bahkan sekarang lebih dalam.
***
November 2014
Seseorang mengetuk pintu apartemen Naja dan Arina saat Arina akan berangkat kuliah siang itu, dari balik pintu dilihatnya seorang kurir membawa buket bunga cukup besar, “Dengan ibu Arina?”
“Iyah. Saya sendiri.” Arina sedikit berpikir, dan bingung melihat buket bunga yang diantarkan,
“Ini untuk ibu, dan tolong tanda tangani disini bu.” Kurir itu menunjukkan selembar kertas dan arina menandatanganinya, “Terimakasih bu.”
Arina menaruh buket bunga itu di atas meja makan, menemukan kartu diantara bunga-bunga mawar yang segar dan bermekaran indah, di kartu itu tertulis,

Beruntung aku menemukanmu, jangan pernah berhenti memilikiku hingga ujung waktu.

-Happy First Year Anniversary, My Wife-

Arina tersenyum melihatnya, bahkan ia hampir lupa bahwa hari ini adalah peringatan satu tahun pernihakannya dengan Naja. Ia sedikit berpikir dengan kata-kata yang tertulis di kartu, lalu Arina tertawa terbahak-bahak saat ia ingat kata-kata itu berasal darimana.
***
 “Selamat ulang tahun pernikahan!!” Suara Arina yang berteriak membuat Naja terkejut begitu ia sampai di depan pintu apartemen, kemudian Arina memeluknya. Naja menjitak pelan dahi Arina sesaat ia melepaskan pelukannya, “Aw…” Arina meringis kesakitan,
“Bikin kaget saja.” ucap Naja dengan wajahnya yang datar,
“Selamat ulang tahun pernikahan Suamiku..” Arina melontarkan senyum paling manja pada suaminya, lalu menarik Naja ke meja makan, menyalakan lilin, “Hayu kita tiup bersama-sama” mereka meniupnya secara bersama-sama, kemudian Naja melayangkan ciuman di dahi Arina dan juga dibibirnya,
“Selamat ulang tahun pernikahan.” Kata Naja dengan suaranya yang rendah, sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah dan mengalihkannya dengan mencabut satu-satu lilin-lilin kecil berjumlah lima itu. Arina mengambil kartu ucapan yang datang bersaamaan dengan buket bunga yang datang siang tadi, “Beruntung aku menemukanmu, jangan pernah berhenti memilikiku, hingga ujung waktu..” Arina membacakan kalimat yang tertulis di kartu, namun Naja tidak menggubris dan memotong satu slice cake, pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Arina, “Aku seperti pernah mendengar kata-kata ini, dimana ya?” Naja masih berusaha mengalihkan wajahnya yang tersipu. Arina menyenandungkan kalimat tersebut, dan tertawa.
“Iya iya maaf aku tidak romantis, kata-kata itu dari bait lagu Sheila on 7 kesukaanmu.” Naja mengaku dengan wajahnya yang memerah, namun Arina bahagia melihat suaminya yang terlihat sangat malu-malu.

“Terimakasih banyak sayangku.” Arina menempelkan krim kue ke hidung Naja, Naja membulatkan matanya, menatap istrinya, dan membalas apa yang dilakukan Arina, begitu seterusnya hingga wajah mereka penuh dengan krim kue.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com