Naja
menghentikkan mobilnya di depan bangunan yang sudah ia tinggali hampir dua
puluh tiga tahun itu, mempersiapkan diri untuk bertemu istrinya, “Seorang lelaki harus mempertanggung
jawabkan semuanya dan menyelesaikan masalah yang telah ia mulai.” ucapan itu
terus terngiang dibenaknya setelah obrolannya semalam dengan sang ayah.
Saat
ia masuk ke dalam rumah, dilihatnya Tante Tami sedang membereskan meja makan,
namun ia tidak melihat keberadaan istrinya di sekitar Tante Tami, karna
biasanya Arina akan membantu mertuanya membereskan meja makan seusai sarapan,
Naja menghampiri ibu dua orang anak itu, dan menyalimi tangannya, “Dimana Arina
Ma?” tanyanya, Tante Tami menunjuk kamar Naja dengan telunjuknya,
mengisyaratkan Arina berada disana, Naja menarik nafas panjang dan menuju
lantai dua.
Naja
mengetuk pintu kamar dua kali, namun tidak ada sahutan dari dalam kamar, “Aku
masuk yah Na.” ucapnya meminta ijin untuk masuk ke dalam kamar, hening. Ia pun
masuk, dari balik pintu dilihatnya sang istri sedang melihat keluar jendela
dengan kedua matanya yang sembab, Naja menghampiri, memegang bahunya, namun
tidak ada feedback apapun dari sang
istri, Arina masih menatap keluar jendela, Naja membalikkan badannya, menatap
kedua mata istrinya, namun Arina tidak membalas tatapan itu.
“Kita
pulang yuk?” bujuk Naja, ingin membawa istrinya kembali pulang, tidak ada
jawaban. Lalu Naja mengambil tas yang kemarin Arina bawa pergi, merapikan
barang bawaannya dan menuntun Arina keluar kamar untuk membawanya pulang dan
tidak ada pemberontakan dari Arina, Tante Tami menatap anak dan menantunya
turun dari lantai atas, wajah Arina tampak pucat, Tante Tami sedikit menghadang
jalan Naja,
“Naja,
biarkan Arina makan sarapannya terlebih dahulu.” Naja menatap istrinya yang
lemah,
“Tidak
perlu Ma, kami akan makan sesampainya di apartemen.” Jawab Naja kemudian
membawa kembali istrinya menuju mobil,
“Hati-hati.”
Hanya itu pesan yang dapat Tante Tami ucapkan untuk kedua pasangan suami istri
itu, rasa khawatir sebenarnya menghantui Tante Tami, tapi bukan hak nya untuk
mencegah anak lelakinya membawa istrinya untuk pulang bersamanya.
***
Naja mendudukkan Arina diruang tv, Arina masih saja diam, tidak ada
satu kata pun keluar dari bibirnya seperti yang ia lakukan dari kemarin. Naja
duduk dihadapannya, menatapnya dengan kedua matanya yang hangat, mengelus
rambut sang istri, lalu memeluknya, lagi-lagi Arina tidak memberontak, “Dengarkan
penjelasanku yah,” Naja melepaskan pelukannya, Arina menatapnya dengan mata
penuh rasa sayang pada Naja, mata itu yang membuat Naja jatuh cinta padanya,
“Beberapa
minggu ini memang aku banyak berkomunikasi dengan Orissa, dia bilang dia sakit,
dia butuh seseorang untuk memperhatikannya, dengan perjanjian dia tidak
mengganggumu maupun pernikahan kita,” Naja mengatur nafasnya, “maka dari itu,
aku menemaninya sekedar check-up ke
rumah sakit, namun, sungguh aku tidak menyangka bahwa ia akan menemuimu Na,
sungguh aku berniat hanya untuk menolongnya karena ia adalah seseorang yang
sama sekali tidak diberi perhatian oleh kedua orang tuanya. Maka dari itu, aku
ingin membantunya sebagai seorang teman.” Arina menangis lagi, “Maaf aku tidak
mengatakannya padamu, karna aku takut kamu akan sakit hati. Arina aku
mencintaimu, kamu tahu aku bukan orang mudah mengucapkan kata-kata romantis.
Aku pun tidak bisa menyentuhmu sebelum kamu lulus SMA, aku hanya menghargaimu Arina.”
Arina
menatap suaminya, ternyata selama ini apa yang ia pikirkan salah, Orissa memang
terobsesi pada suamianya, namun suaminya berusaha untuk menjaga perasaannya.
Arina memeluknya, Naja tersenyum dan membalas pelukan itu, “Maafkan aku yang
sudah berprasangka buruk padamu Naja.”
“Maafkan
aku juga yang tidak dapat berterus terang padamu,”
“Ya
seharusnya kamu lebih berterus terang padaku sekarang karna kita bukan lagi
teman kecil, kita sudah menjadi suami istri, Naja.” Arina menatap kedua mata
suamianya, dengan seketika Naja mengecup bibirnya, Arina terkejut, untuk
pertama kalinya Naja mencium bibirnya. Naja kembali mencium bibirnya, bahkan
sekarang lebih dalam.
***
November
2014
Seseorang
mengetuk pintu apartemen Naja dan Arina saat Arina akan berangkat kuliah siang
itu, dari balik pintu dilihatnya seorang kurir membawa buket bunga cukup besar,
“Dengan ibu Arina?”
“Iyah.
Saya sendiri.” Arina sedikit berpikir, dan bingung melihat buket bunga yang
diantarkan,
“Ini
untuk ibu, dan tolong tanda tangani disini bu.” Kurir itu menunjukkan selembar
kertas dan arina menandatanganinya, “Terimakasih bu.”
Arina
menaruh buket bunga itu di atas meja makan, menemukan kartu diantara
bunga-bunga mawar yang segar dan bermekaran indah, di kartu itu tertulis,
Beruntung aku menemukanmu, jangan pernah
berhenti memilikiku hingga ujung waktu.
-Happy First Year Anniversary, My Wife-
Arina
tersenyum melihatnya, bahkan ia hampir lupa bahwa hari ini adalah peringatan
satu tahun pernihakannya dengan Naja. Ia sedikit berpikir dengan kata-kata yang
tertulis di kartu, lalu Arina tertawa terbahak-bahak saat ia ingat kata-kata
itu berasal darimana.
***
“Selamat ulang tahun pernikahan!!” Suara Arina
yang berteriak membuat Naja terkejut begitu ia sampai di depan pintu apartemen,
kemudian Arina memeluknya. Naja menjitak pelan dahi Arina sesaat ia melepaskan
pelukannya, “Aw…” Arina meringis kesakitan,
“Bikin
kaget saja.” ucap Naja dengan wajahnya yang datar,
“Selamat
ulang tahun pernikahan Suamiku..” Arina melontarkan senyum paling manja pada
suaminya, lalu menarik Naja ke meja makan, menyalakan lilin, “Hayu kita tiup
bersama-sama” mereka meniupnya secara bersama-sama, kemudian Naja melayangkan
ciuman di dahi Arina dan juga dibibirnya,
“Selamat
ulang tahun pernikahan.” Kata Naja dengan suaranya yang rendah, sambil
menyembunyikan wajahnya yang memerah dan mengalihkannya dengan mencabut
satu-satu lilin-lilin kecil berjumlah lima itu. Arina mengambil kartu ucapan
yang datang bersaamaan dengan buket bunga yang datang siang tadi, “Beruntung
aku menemukanmu, jangan pernah berhenti memilikiku, hingga ujung waktu..” Arina
membacakan kalimat yang tertulis di kartu, namun Naja tidak menggubris dan
memotong satu slice cake, pura-pura
tidak mendengar apa yang dikatakan Arina, “Aku seperti pernah mendengar
kata-kata ini, dimana ya?” Naja masih berusaha mengalihkan wajahnya yang
tersipu. Arina menyenandungkan kalimat tersebut, dan tertawa.
“Iya
iya maaf aku tidak romantis, kata-kata itu dari bait lagu Sheila on 7 kesukaanmu.” Naja mengaku dengan wajahnya yang memerah,
namun Arina bahagia melihat suaminya yang terlihat sangat malu-malu.
“Terimakasih
banyak sayangku.” Arina menempelkan krim kue ke hidung Naja, Naja membulatkan
matanya, menatap istrinya, dan membalas apa yang dilakukan Arina, begitu
seterusnya hingga wajah mereka penuh dengan krim kue.***

0 komentar:
Posting Komentar