Senin, 09 Februari 2015

I Remember

2

Pagi hari ini aku tebangun dengan cahaya matahari pagi menemaniku melalui sela jendela kamar yang telah kutempati selama hampir seumur hidupku. Senyumku mengembang mengingat hari ini. Hari yang sudah kutunggu entah berapa lama, hari yang selalu membuatku jauh lebih bahagia. Hari indahku yang takkan bisa kulupakan. Aku bergegas menyiapkan diriku menghadapi hari. Persiapan yang biasanya hanya menyita waktu lima menit, kini menempuh rekor terbarunya. 90 menit sudah aku dihadapan cermin hanya untuk memutuskan pakaian apa yang harus kukenakan. Aku tak mau membuatnya kecewa dihari special kami…
Memutuskan untuk mengenakan dress merah pemberiannya dan memulai perjalananku. Udara yang sedikit panas tidak membuat niatku untuk menggunakan sepeda pemberiannya batal, walaupun itu artinya butuh waktu yang lebih lama untuk bertemu dengannya. Lagupula, ia akan selalu menungguku… pikiran itu kembali membangun senyum kokoh di bibirku.
Menyusuri kota Bandung dengan sepeda ini membuatku nyaman meski kulitku berteriak karena sengatan matahari. Aku sudah membawakan bunga untuknya, bunga yang selalu ia berikan padaku, bunga yang menurutnya mencerminkanku. Bunga matahari. Aneh memang, tapi begitulah menurutnya, dan aku, tentu tidak akan menolak logikanya.
Dengan sengaja aku memilih rute memutar, aku mendatangi sebuah toko buku tua untuk membelikannya kartu ucapan yang tanpa sengaja tertinggal di meja rias kamarku. Selain untuk alasan itu, toko buku ini juga tempat pertama kami bertemu. Kami begitu akrab dengan pemilik toko buku ini. Secara otomatis, otakku kembali memutar rekaman memori kami ditoko ini.
***
Siang itu aku berencana untuk mencari buku sastra lama untuk tugas sastraku, aku terlalu fokus dalam memilih buku sampai aku tak sadar bahwa ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerikku. Aku bahkan tak menyadari bahwa pemilik sepasang mata itu menghampiriku, sampai aku merasakan hawa panas tubuhnya tepat dibelakangku dan gemuruh nafasnya ditelingaku. “Hai…” aroma alkohol begitu kuat menyerang indra penciumanku, air mata takutku tumpah saat tangannya mulai menjelajahi pinggangku lalu bersarang diperutku.
“Maaf mas… tahu yang namanya personal space kan? Mbaknya keganggu tuh…” seorang pemuda seusiaku tiba-tiba muncul disampingku.
“Mas siapa?” tanya sosok yang ada dibelakangku dengan sombong “Pacarnya? Sok ngatur banget.”
“Iya dia pacar saya!” pemuda yang menolongku itu baru saja akan mengatakan sesuatu, namun ku potong dengan suara yang sedikit tinggi sambil berdiri disampingnya dan meraih tangannya.
“Tuh masnya denger sendiri kan yah? Jadi saya rasa wajar kalau saya ngatur pacar saya sendiri kan ya mas?” ucap pemuda itu dengan menekankan kata ‘pacar’ namun sosok berbau alkohol justru beriak maju untuk lebih menantangnya, sampai akhirnya pemilik toko buku ini yang menggiringnya keluar dan meminta maaf pada kami.
“Sudah mbak, orangnya sudah pergi…” ucap pemuda itu sambil perlahan melepaskan genggamanku dari lengannya.
“Makasih banget ya mas udah mau bantuin saya…” ucapku masih dengan airmata yang dengan derasnya mengalir.
“Sudah wajar kalau saling bantu, mbak. Saya Dio.”
“Saya Nissa. Sekali lagi makasih banyak ya, mas.” Pemuda itu mengangguk lalu pergi.
***
Dan sejak hari itu, aku selalu menyempatkan waktuku mengunjungi toko tua itu berharap akan bertemu dengan pemuda bernama Dio. Benar saja, enam hari kemudian aku bertemu lagi dengannya dan tanpa sadari, kunjungan setiap sabtu sore menjadi rutinitas baru kami.
“Neng Nissa, Apa kabar?” Tanya pemilik toko tua itu saat aku membawa kartu pilihanku ke meja kasir.
“Baik Ci Manda. Ci Manda apa kabar? Mana ‘Koh Alung?”
“Ada didalam. Ini saja, neng? Buat siapa?”
“Iya, Ci. itu buat Dio…”
“Salam buat mas Dionya ya neng…” Ci Manda mengakhiri perbincangan saat memberikan kartu itu kembali padaku dengan senyum tulusnya.
Sepeda kembali kukayuh, tanpa aku sadari aku kini sedang memandangi cafĂ© langganan kami. Tempat favorite kami yang lain. Penjaga disana melambaikan tanggannya kearahku menyuruhku masuk yang hanya kutolak dengan senyum dan gelengan kepala. Lagi-lagi tsunami memori menyerangku…
***
Aku dan Dio sedang duduk bersama sambil menikmati coklat hangat resto ini diudara yang dingin bertemankan hujan. Kami berbincang ringan mengenai keluarga kami, salah satu upaya kami dalam saling mengenal dan membina hubungan yang lebih jauh.
“Saya bingung sama Ibu kamu, Nis… ko bisa sih Ibu kamu biasa aja disebut setan sama satpam rumah kamu?” tanyanya masih dengan tawa menghiasi setiap nada yang keluar dari bibirnya. Aku sedang menceritakan pengalaman satpam komplek rumahku yang mengira ibuku adalah jelmaan hantu wanita karena membersihkan halaman depan rumah kami hanya mengenakan daster putih kesayangannya.
“Aku juga bingung, Di… dan parahnya, ibu cuma bilang gini sama satpamnya ‘ya biarlah pak! Mau bantu beresin kali dia… kasian sama saya’ masa bilang gitu coba. Makin males aja kan tuh satpamnya ronda ke daerah rumah aku.”
“Tapi ibu kamu emang nyeremin sih… bakat lah jadi setan…” ucapannya memang kental dengan lelucon, tapi aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang patut ditertawakan.
“Maksudnya?” Dio menangkap nada tak ramah dari pertanyaanku dan langsung menatapku dengan tatapan yang bisa kukategorikan tercengang.
“Kamu kenapa, Nis?”
“Maksud kamu apa ngatain ibu aku bakat jadi setan?”
“Saya bercanda, Nissa… ga ada maksud apa-apa ko…” kepanikan terlukis jelas dikedua matanya yang membulat besar.
“Kamu pikir yang lagi jadi bahan bercandaan kamu siapa?” suaraku sedikit meningkat. “Yang daritadi kita bahas itu ibu aku, Di! Agak dipikir dong kalau ngomong!” Aku berdiri bersiap meninggalkan Dio.
“Hey... mau kemana?” pertanyaannya ringan, namun genggaman tangannya di pergelangan tanganku sangat erat.
“Ngapain aku duduk sama orang yang mau ngejelek-jelekin ibu aku?” Dio menundukan kepalanya dan menarik nafas panjang.
“Saya minta maaf, Nissa… tapi saya nggak mau kamu pergi dari sini dalam keadaan marah. Kamu duduk dulu ya…” tutur katanya yang lembut membuat seluruh tubuhku mematuhi keinginannya. “Maaf ya candaan saya bikin kamu kesinggung… nggak ada maksud negatif kok. Murni bercanda, dan emang keterlaluan sih candaannya. Maafin ya, Nissa cantik. Jangan manyun gitu dong…” ucapnya sambil menyentil lembut sudut bibirku yang perlahan namun pasti kembali membentuk senyuman.
***
Air mata mulai membentuk kolam dalam mataku. Tak pernah kusadari sebesar ini rasa sayangku pada sosok yang sudah menghuni hati ini sejak 3 tahun lalu. Waktu begitu cepat berlalu. Aku kembali menyusuri jalanan dengan santai, menghapus jejak air mata dari indra penglihatanku, dan mempersiapkan pertemuan kami yang dengan sangat special sudah kupersiapkan.
Sedikit lagi perjalanku selesai, namun mendadak hatiku sedikit gemetar. Aku belum siap menemui Dio. ‘Bodoh!’ rutukku dalam hati. Mengapa aku segugup ini? yang akan kutemui adalah ciptaan Tuhan yang sudah dengan sabar menghadapi kekonyolanku. Kini kekonyolan itu kembali menghampiriku, dan sepedaku kini mengarah ketempat lain. Gudang memori kami yang lain.
Aku duduk disalah satu jajaran kursi yang tersedia disekitaran taman ini. kuedarkan pandangan kesekelilingku sambil memijat kakiku yang terasa pegal. Seorang pedagang minuman menghampiriku dengan es jeruk kelapa muda ditangannya. Bukan minuman favoritku, melainkan Dio. Dengan sengaja aku memesannya dan menaruhnya disisiku. Kembali menyiksa otakku dengan memutar kenangan lama yang takkan pernah pudar.
***
Aku sedang menyelami rangkaian kata Jane Austen saat Dio menjentikan jarinya dihadapan wajahku dan membuyarkan keseriusanku.
“Diminum dong es jeruknya. Mumpung masih dingin.” ucapnya, sambil dengan lembut mengambil kacamata yang menggantung diujung hidungku.
“Nggak suka, ada kelapanya sih.” saat seperti ini yang Dio sukai, sikap manjaku yang sebetulnya sedikit dibuat-buat dan membuatku bergidik tidak suka, namun membuatnya merasa dibutuhkan.
“Loh? Kamu nggak suka es jeruk kelapa muda emangnya?” tanyanya heran dengan senyum menggantung disetiap sudutnya. Aku hanya menggeleng menanggapi. “Ya udah, kalau daging kelapanya saya makan, mau kamu minum nggak airnya?” aku terdiam seolah berpikir dan hanya mengangguk sedikit. Dio dengan sigap mengambil gelas minumanku, begitu juga aku yang dengan sigap kembali menggunakan kacamataku dan membaca.
Sebuah tangan yang dengan lembut mengelus kakiku, membuat aku kembali kedunia nyata dan menengok pada sumber noise. Dio sedang berlutut dan mengencangkan ikatan tali sepatuku. “Tadi talinya lepas. Sebentar lagi kita kan pergi, jadi aku iketin. Nggak apa-apa?” aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang sering tanpa ia sadari membangunkan jutaan kupu-kupu diperutku. “Nah udah deh!” Dio menaruh kedua tangannya di lututku dan tersenyum malu, “Minuman kamu, saya habisin, soalnya kamu asyik banget sih bacanya. Sekarang kita pergi aja yuk!”aku meraih tasku dan mengajaknya berdiri. Saat itu aku mengerti bahwa bahagia itu sangat amat sederhana.
***
Aku bangkit dari kursi itu dan menghampiri penjual minuman tersebut dengan gelas yang masih bersisa.
Sabaraha, Pak?1 Sapaku dalam bahasa tradisional tanah ini. Kebiasaan lain Dio yang tanpa sengaja menular padaku.
“4000, Neng! Eh gening kalapa na mah teu seep?”2
Muhun, kirang resep, Pak.3
Terang kitu mah, nembe teu kedah nganggo kalapa, neng.4
Teu sawios, nuhunnya, Pak! Mangga ah tipayun!”5
***
Aku menggiring sepedaku kedepan gapura besar dan terdiam, kembali mengembangkan senyum. Dio sudah menungguku disisi lain gapura ini. Langkahku pun berlanjut terus menyusuri alur yang sudah sangat kukenali sampai aku berhenti dan melihatnya disana. Senyum kembali mengembang di setiap sudut bibirku, kakiku melangkah lebih cepat dari sebelumnya sampai aku berdiri tepat dihadapannya.
Kuelus batu nisan itu dengan lembut. Seolah yang kuelus adalah rambut halusnya. Senyum itu masih mengembang di bibirku, namun kini, airmata kembali menemaninya. Aku malu. Tak seharusnya aku menangis.
“Hai, Dio! Apa kabar?” Aku menaruh bunga yang kubawa ditanah yang menyelimuti badannya. “Ini hari anniversary kita loh. Kita udah 3 tahun, nggak kerasa ya.” air mataku kini menggetarkan suaraku. “Aku bawain kartu ucapan, Di.. Aku bacain ya.” aku berdeham tiga kali dan mulai membacakan tulisanku sendiri yang ada didalam kartu itu.

Hallo, Adio! Happy Annyversary! Ini anniversary kita yang ke-3! Aku harap… kamu disana selalu bahagia… karena disini aku juga bahagia… memori-memori tentang kamu yang selama ini bantu aku senyum setiap hari! Selamat 3 tahun yaa! I Love You!
Xoxo, Anissa!

“Hahaha.. aku nangis lagi  Di, Maaf yaa..” aku berusaha sekuat tenaga agar suaraku tetap tegar dan ceria. “I love you, Adio…” Aku mencium lagi nisan itu, dan menceritakan hari yang kulalui masih dengan airmata yang mengalir.
Waktu berlalu, aku bergegas pulang mengakhiri perjalananku hari ini. Meninggalkan kembali sosok yang selalu melindungiku, kini dilindungi oleh hangatnya bumi. Kucium lagi puncak nisannya dan melangkah pergi.***

Footnote:
1.      Berapa, pak?
2.      Eh ternyata mah kelapa gak habis?
3.      Iya, Kurang  Suka, Pak.
4.      Tahu Gitu, Lebih Baik Gak Usah Pake Kelapa Neng

5.      Nggak apa-apa. Makasih ya Pak. Permisi Duluan

2 komentar:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com