Pagi hari ini aku tebangun dengan cahaya
matahari pagi menemaniku melalui sela jendela kamar yang telah kutempati selama
hampir seumur hidupku. Senyumku mengembang mengingat hari ini. Hari yang sudah
kutunggu entah berapa lama, hari yang selalu membuatku jauh lebih bahagia. Hari
indahku yang takkan bisa kulupakan. Aku bergegas menyiapkan diriku menghadapi
hari. Persiapan yang biasanya hanya menyita waktu lima menit, kini menempuh
rekor terbarunya. 90 menit sudah aku dihadapan cermin hanya untuk memutuskan
pakaian apa yang harus kukenakan. Aku tak mau membuatnya kecewa dihari special kami…
Memutuskan untuk mengenakan dress merah pemberiannya dan memulai
perjalananku. Udara yang sedikit panas tidak membuat niatku untuk menggunakan
sepeda pemberiannya batal, walaupun itu artinya butuh waktu yang lebih lama
untuk bertemu dengannya. Lagupula, ia akan selalu menungguku… pikiran itu
kembali membangun senyum kokoh di bibirku.
Menyusuri kota Bandung dengan sepeda ini
membuatku nyaman meski kulitku berteriak karena sengatan matahari. Aku sudah
membawakan bunga untuknya, bunga yang selalu ia berikan padaku, bunga yang
menurutnya mencerminkanku. Bunga matahari. Aneh memang,
tapi begitulah menurutnya, dan aku, tentu tidak akan menolak logikanya.
Dengan sengaja aku memilih rute memutar,
aku mendatangi sebuah toko buku tua untuk membelikannya kartu ucapan yang tanpa
sengaja tertinggal di meja rias kamarku. Selain untuk alasan itu, toko buku ini
juga tempat pertama kami bertemu. Kami begitu akrab dengan pemilik toko buku
ini. Secara otomatis, otakku kembali memutar rekaman memori kami ditoko ini.
***
Siang
itu aku berencana untuk mencari buku sastra lama untuk tugas sastraku, aku
terlalu fokus dalam memilih buku sampai aku tak sadar bahwa ada sepasang mata
yang mengawasi gerak-gerikku. Aku bahkan tak menyadari bahwa pemilik sepasang
mata itu menghampiriku, sampai aku merasakan hawa panas tubuhnya tepat dibelakangku
dan gemuruh nafasnya ditelingaku. “Hai…” aroma alkohol begitu kuat menyerang
indra penciumanku, air mata takutku tumpah saat tangannya mulai menjelajahi
pinggangku lalu bersarang diperutku.
“Maaf
mas… tahu yang namanya personal space
kan? Mbaknya keganggu tuh…” seorang pemuda seusiaku tiba-tiba muncul
disampingku.
“Mas
siapa?” tanya sosok yang ada dibelakangku dengan sombong “Pacarnya? Sok ngatur
banget.”
“Iya
dia pacar saya!” pemuda yang menolongku itu baru saja akan mengatakan sesuatu,
namun ku potong dengan suara yang sedikit tinggi sambil berdiri disampingnya
dan meraih tangannya.
“Tuh
masnya denger sendiri kan yah? Jadi saya rasa wajar kalau saya ngatur pacar
saya sendiri kan ya mas?” ucap pemuda itu dengan menekankan kata ‘pacar’ namun
sosok berbau alkohol justru beriak maju untuk lebih menantangnya, sampai
akhirnya pemilik toko buku ini yang menggiringnya keluar dan meminta maaf pada
kami.
“Sudah
mbak, orangnya sudah pergi…” ucap pemuda itu sambil perlahan melepaskan
genggamanku dari lengannya.
“Makasih
banget ya mas udah mau bantuin saya…” ucapku masih dengan airmata yang dengan
derasnya mengalir.
“Sudah
wajar kalau saling bantu, mbak. Saya Dio.”
“Saya
Nissa. Sekali lagi makasih banyak ya, mas.” Pemuda itu mengangguk lalu pergi.
***
Dan sejak hari itu, aku selalu
menyempatkan waktuku mengunjungi toko tua itu berharap akan bertemu dengan
pemuda bernama Dio. Benar saja, enam hari kemudian aku bertemu lagi dengannya dan
tanpa sadari, kunjungan setiap sabtu sore menjadi rutinitas baru kami.
“Neng Nissa, Apa kabar?” Tanya pemilik
toko tua itu saat aku membawa kartu pilihanku ke meja kasir.
“Baik Ci Manda. Ci Manda apa kabar? Mana
‘Koh Alung?”
“Ada didalam. Ini saja, neng? Buat
siapa?”
“Iya, Ci. itu buat Dio…”
“Salam buat mas Dionya ya neng…” Ci
Manda mengakhiri perbincangan saat memberikan kartu itu kembali padaku dengan
senyum tulusnya.
Sepeda kembali kukayuh, tanpa aku sadari
aku kini sedang memandangi café langganan kami. Tempat favorite kami yang lain. Penjaga disana melambaikan tanggannya
kearahku menyuruhku masuk yang hanya kutolak dengan senyum dan gelengan kepala.
Lagi-lagi tsunami memori menyerangku…
***
Aku
dan Dio sedang duduk bersama sambil menikmati coklat hangat resto ini diudara
yang dingin bertemankan hujan. Kami berbincang ringan mengenai keluarga kami,
salah satu upaya kami dalam saling mengenal dan membina hubungan yang lebih
jauh.
“Saya
bingung sama Ibu kamu, Nis… ko bisa sih Ibu kamu biasa aja disebut setan sama
satpam rumah kamu?” tanyanya masih dengan tawa menghiasi setiap nada yang
keluar dari bibirnya. Aku sedang menceritakan pengalaman satpam komplek rumahku
yang mengira ibuku adalah jelmaan hantu wanita karena membersihkan halaman
depan rumah kami hanya mengenakan daster putih kesayangannya.
“Aku
juga bingung, Di… dan parahnya, ibu cuma bilang gini sama satpamnya ‘ya biarlah
pak! Mau bantu beresin kali dia… kasian sama saya’ masa bilang gitu coba. Makin
males aja kan tuh satpamnya ronda ke daerah rumah aku.”
“Tapi
ibu kamu emang nyeremin sih… bakat lah jadi setan…” ucapannya memang kental
dengan lelucon, tapi aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang patut
ditertawakan.
“Maksudnya?”
Dio menangkap nada tak ramah dari pertanyaanku dan langsung menatapku dengan
tatapan yang bisa kukategorikan tercengang.
“Kamu
kenapa, Nis?”
“Maksud
kamu apa ngatain ibu aku bakat jadi setan?”
“Saya
bercanda, Nissa… ga ada maksud apa-apa ko…” kepanikan terlukis jelas dikedua
matanya yang membulat besar.
“Kamu
pikir yang lagi jadi bahan bercandaan kamu siapa?” suaraku sedikit meningkat.
“Yang daritadi kita bahas itu ibu aku, Di! Agak dipikir dong kalau ngomong!”
Aku berdiri bersiap meninggalkan Dio.
“Hey...
mau kemana?” pertanyaannya ringan, namun genggaman tangannya di pergelangan
tanganku sangat erat.
“Ngapain
aku duduk sama orang yang mau ngejelek-jelekin ibu aku?” Dio menundukan
kepalanya dan menarik nafas panjang.
“Saya
minta maaf, Nissa… tapi saya nggak mau kamu pergi dari sini dalam keadaan
marah. Kamu duduk dulu ya…” tutur katanya yang lembut membuat seluruh tubuhku
mematuhi keinginannya. “Maaf ya candaan saya bikin kamu kesinggung… nggak ada
maksud negatif kok. Murni bercanda, dan emang keterlaluan sih candaannya.
Maafin ya, Nissa cantik. Jangan manyun gitu dong…” ucapnya sambil menyentil
lembut sudut bibirku yang perlahan namun pasti kembali membentuk senyuman.
***
Air mata mulai membentuk kolam dalam
mataku. Tak pernah kusadari sebesar ini rasa sayangku pada sosok yang sudah
menghuni hati ini sejak 3 tahun lalu. Waktu begitu cepat berlalu. Aku kembali
menyusuri jalanan dengan santai, menghapus jejak air mata dari indra
penglihatanku, dan mempersiapkan pertemuan kami yang dengan sangat special sudah kupersiapkan.
Sedikit lagi perjalanku selesai, namun
mendadak hatiku sedikit gemetar. Aku belum siap menemui Dio. ‘Bodoh!’ rutukku
dalam hati. Mengapa aku segugup ini? yang akan kutemui adalah ciptaan Tuhan
yang sudah dengan sabar menghadapi kekonyolanku. Kini kekonyolan itu kembali
menghampiriku, dan sepedaku kini mengarah ketempat lain. Gudang memori kami
yang lain.
Aku duduk disalah satu jajaran kursi
yang tersedia disekitaran taman ini. kuedarkan pandangan kesekelilingku sambil
memijat kakiku yang terasa pegal. Seorang pedagang minuman menghampiriku dengan
es jeruk kelapa muda ditangannya. Bukan minuman favoritku, melainkan Dio.
Dengan sengaja aku memesannya dan menaruhnya disisiku. Kembali menyiksa otakku
dengan memutar kenangan lama yang takkan pernah pudar.
***
Aku
sedang menyelami rangkaian kata Jane Austen saat Dio menjentikan jarinya dihadapan
wajahku dan membuyarkan keseriusanku.
“Diminum
dong es jeruknya. Mumpung masih dingin.” ucapnya, sambil dengan lembut
mengambil kacamata yang menggantung diujung hidungku.
“Nggak
suka, ada kelapanya sih.” saat seperti ini yang Dio sukai, sikap manjaku yang
sebetulnya sedikit dibuat-buat dan membuatku bergidik tidak suka, namun
membuatnya merasa dibutuhkan.
“Loh?
Kamu nggak suka es jeruk kelapa muda emangnya?” tanyanya heran dengan senyum
menggantung disetiap sudutnya. Aku hanya menggeleng menanggapi. “Ya udah, kalau
daging kelapanya saya makan, mau kamu minum nggak airnya?” aku terdiam seolah
berpikir dan hanya mengangguk sedikit. Dio dengan sigap mengambil gelas
minumanku, begitu juga aku yang dengan sigap kembali menggunakan kacamataku dan
membaca.
Sebuah
tangan yang dengan lembut mengelus kakiku, membuat aku kembali kedunia nyata
dan menengok pada sumber noise. Dio
sedang berlutut dan mengencangkan ikatan tali sepatuku. “Tadi talinya lepas. Sebentar
lagi kita kan pergi, jadi aku iketin. Nggak apa-apa?” aku hanya tersenyum
melihat tingkahnya yang sering tanpa ia sadari membangunkan jutaan kupu-kupu
diperutku. “Nah udah deh!” Dio menaruh kedua tangannya di lututku dan tersenyum
malu, “Minuman kamu, saya habisin, soalnya kamu asyik banget sih bacanya. Sekarang
kita pergi aja yuk!”aku meraih tasku dan mengajaknya berdiri. Saat itu aku
mengerti bahwa bahagia itu sangat amat sederhana.
***
Aku bangkit dari kursi itu dan
menghampiri penjual minuman tersebut dengan gelas yang masih bersisa.
“Sabaraha,
Pak?”1 Sapaku dalam bahasa tradisional tanah ini. Kebiasaan lain
Dio yang tanpa sengaja menular padaku.
“4000, Neng! Eh gening kalapa na mah teu seep?”2
“Muhun,
kirang resep, Pak.”3
“Terang
kitu mah, nembe teu kedah nganggo kalapa, neng.”4
“Teu
sawios, nuhunnya, Pak! Mangga ah
tipayun!”5
***
Aku menggiring sepedaku kedepan gapura
besar dan terdiam, kembali mengembangkan senyum. Dio sudah menungguku disisi
lain gapura ini. Langkahku pun berlanjut terus menyusuri alur yang sudah sangat
kukenali sampai aku berhenti dan melihatnya disana. Senyum kembali mengembang
di setiap sudut bibirku, kakiku melangkah lebih cepat dari sebelumnya sampai
aku berdiri tepat dihadapannya.
Kuelus batu nisan itu dengan lembut.
Seolah yang kuelus adalah rambut halusnya. Senyum itu masih mengembang di
bibirku, namun kini, airmata kembali menemaninya. Aku malu. Tak seharusnya aku
menangis.
“Hai, Dio! Apa kabar?” Aku menaruh bunga
yang kubawa ditanah yang menyelimuti badannya. “Ini hari anniversary kita loh. Kita udah 3 tahun, nggak kerasa ya.” air mataku kini menggetarkan suaraku. “Aku bawain
kartu ucapan, Di.. Aku bacain ya.” aku berdeham tiga kali dan mulai membacakan
tulisanku sendiri yang ada didalam kartu itu.
“Hallo, Adio! Happy Annyversary!
Ini anniversary kita yang ke-3! Aku
harap… kamu disana selalu bahagia… karena disini aku juga bahagia…
memori-memori tentang kamu yang selama ini bantu aku senyum setiap hari!
Selamat 3 tahun yaa! I Love You!
Xoxo,
Anissa!”
“Hahaha.. aku nangis lagi Di, Maaf yaa..” aku berusaha sekuat tenaga
agar suaraku tetap tegar dan ceria. “I
love you, Adio…” Aku mencium lagi nisan itu, dan menceritakan hari yang
kulalui masih dengan airmata yang mengalir.
Waktu berlalu, aku bergegas pulang
mengakhiri perjalananku hari ini. Meninggalkan kembali sosok yang selalu melindungiku,
kini dilindungi oleh hangatnya bumi. Kucium lagi puncak nisannya dan melangkah
pergi.***
Footnote:

Baru mampir udah suka sama tulisannya :)
BalasHapuswww.fikrimaulanaa.com
Terimkasih :')
Hapus