Rabu, 25 Mei 2016

Dia, Hujanku.

0


5 Tahun Lalu.

Aku menatap langit yang mulai ditutupi awan hitam – tanda-tanda akan turun hujan. Tidak lama kemudian merasa air jatuh ke pipi, sepertinya aku berbakat jadi peramal berucap dalam hati. Tinggal beberapa langkah lagi masuk ke daerah stasiun, tapi hujan tidak memberiku kesempatan menjaga penampilan agar tetap stylish, ‘mereka’ datang bergerombol, memandikan manusia-manusia di ruang terbuka, lari terbirit-birit mencari tempat berteduh, begitu pula denganku.
Tanpa sengaja aku menabrak seorang bertubuh tidak begitu tinggi, kami saling bertatap, seketika terpikir kami layaknya pemeran utama pria dan wanita dalam salah satu scene ftv, namun semua buyar begitu saja saat ia mendorongku tanpa perasaan. Menatapnya penuh rasa kesal, tapi wajahnya terlihat lebih kesal daripada aku yang didorong olehnya.
“Kotor, jadi jangan dekat-dekat saya.” Lalu ia pergi begitu saja, masuk ke area stasiun kereta. Dingin, bukan udaranya, tapi ucapannya.
Lelaki macam apa berbicara seperti itu pada perempuan yang tidak sengaja menabraknya.
Lupakan soal lelaki berwajah dingin tadi, aku mencoba membersihkan converse kesayangan juga kemeja denim yang basah dan kotor akibat kehujanan sebentar, kemudian kembali berjalan menuju peron 2. Tidak boleh terlambat di hari pertama UAS, mengingatkan diri agar tetap fokus.
Firasatku benar, terlambat! Tepat pukul 12.01 aku tiba didepan ruang tempat ujian diselenggarakan, aku masuk diam-diam. Bukan mengendap-endap, tapi tetap mencoba masuk. Hingga ada yang berdiri di hadapanku sesaat beru saja aku duduk, mendongak,
“Berdiri.” Ucapnya dingin
Lelaki yang tadi.
“Keluar. Anda terlambat 1 menit 30 detik.” Wajahnya datar, tidak berekspresi. Mengerikan.
“Tapi pak-” sanggahku
“Tidak ada tapi. Sekarang Anda boleh keluar.” Potongnya. Aku berdiri. Rahang mengeras, menyambar tas dan menghentakkan langkah kaki dengan keras kemudian pintu ruangan kubanting menandakan bahwa aku benar-benar kesal, tidak peduli pandangan mereka yang menatapku.
Satu jam setengah kemudian kelas bubar. Mahasiswa lain memandangku yang masih menunggu wajah bongkahan es itu keluar dan mencoba untuk meminta keringanan darinya, setidaknya aku bisa memohon susulan. Masuk ke ruangan begitu semua mahasiswa sudah tidak tersisa di dalam.
Kulihat dia masih membereskan berkas-berkas ujian,
“Permisi pak, saya hanya terlambat 1 menit 30 detik, lebih baik daripada telat 1 jam 30 menit sepersekian detik.”
“Kata ‘lebih baik’ yang Anda ucapkan tetap saja buruk. Dua kata itu tidak pantas diucapkan untuk membandingkan dua kesalahan yang sudah Anda perbuat.” Kemudian ia pergi meninggalkanku yang masih terpaku. Wajah dinginnya ingin sekali aku lempar menggunakan penghapus papan tulis.
Menurunkan ego, kukejar ia yang hampir menuruni anak tangga,
“Setidaknya beri saya kesempatan untuk mengulang atau perlu saya terima tugas pengganti apapun, yang penting mendapatkan nilai untuk nilai akhir.”
“Saya hanya pengawas, bicarakan saja pada professor bersangkutan.” Ia menyuruhku minggir menggunakan telunjuknya. Rahangku makin mengeras kesal. Memang apa yang ia katakan benar, tapi tetap saja aku kesal mendengarnya. Sekarang, bukan hanya penghapus papan tulis yang ingin kulempar ke kepalanya, tapi bangku di sekitar ku.
***
2016

Tubuh yang basah tiba-tiba memeluk saat kubuka pintu,

“Saya mau sama kamu selamanya.” Suara Dia menyatu bersama hujan, tapi yang kudengar jelas, sangat jelas. Kali ini aku dapat merasakan hangat tubuhnya, mampu mencium aroma harum khasnya dari dekat. Pelukannya pun makin erat, seperti tak ingin jauh semili pun dari hadapanku. Ini pertama kalinya ia memelukku, pertama kali berada di jarak paling dekat dengannya.

Hujan sukses membawa arus kenangan masa lalu, jantungku pun kembali berdegub tiada henti. Kalimat itu yang terakhir kudengar, beberapa hari kemudian, bukan – bahkan sampai sekarang aku tidak lagi melihat wajahnya, di stasiun, di kampus, dimanapun, aku tidak bisa menemukannya. Dia bak ditelan bumi, menghilang tanpa jejak.
Suudzon, bisa dikatakan seperti itu, persepsi buruk mengenai kehilangannya memenuhi pikiranku selama beberapa tahun ini. Helaan nafas terasa lebih berat sekarang karena hujan kembali membawaku pada kenangannya.

***
 5 Tahun Lalu.

Teng… nong… neng…
Dilanjutkan pemberitahuan dari staff stasiun bahwa kereta baru saja tiba di pemberhentian terakhir. Orang wara wiri ke sana kemari, yang baru saja turun digantikan oleh yang naik untuk pergi ke tujuan mereka, serangan manusia yang akan naik lebih kejam dibandingkan yang akan turun. Padahal jelas-jelas di sisi pintu kami – para calon penumpang yang akan naik harus mendahului penumpang yang akan turun, sudah jelas bahwa mereka menghiraukan ‘warning’ itu.
Tiba-tiba seseorang menarik tasku lumayan kuat, menatap wajahnya yang tak berekspresi, saat ini bagiku bertemu dengannya adalah mimpi buruk atau kesialan, bisa jadi keduanya.
“Ada urusan apa?” tanyaku. Sudah jelas raut wajahku terlihat kesal dan sama-sekali-tidak-ingin-melihatnya.
“Hari ini saya tunggu kamu di ruang 201 untuk ujian susulan, permintaan Prof Rachmadi.” Dia meninggalkanku yang masih diam terpaku. Suaranya yang berat menghipnotis gelendang telinga, membuatku terdiam cukup lama hingga,
“Neng jangan bengong, mau naik tidak?” ucap seorang ibu, menyadarkanku dari lamunan. Baru saja sadar bahwa aku berdiam di depan pintu kereta, sedikit menghalangi orang yang ingin naik.
Kuulangi momen beberapa hari kemarin, belum sempat aku menghadap Prof. Rachmadi – mata kuliah yang tidak sempat kuikuti ujiannya. Tapi mengapa Prof. Rachmadi bisa mempertimbangkan untuk aku ikutan susulan. Aku berjalan terus, menyusuri gerbong, sebuah telunjuk menahan dahiku, kutatap Dia, kesal! Dia lagi?!
“Tidak fokus! Ini mahasiswa yang IPK nya di atas 3,50?” Wajahnya benar-benar tidak memiliki ekspresi, dingin, tak ada karisma, terasa auranya pun tidak. Dia manusia atau setan? Mungkin juga vampire. Pikiranku merajalela kemana-mana. Mencoba membuat jalan pikiranku lebih nomal dari biasanya.
Memutuskan untuk berdiri tepat di sebelahnya, seperti merasa jijik berada di dekatku, Dia melangkah ke samping kiri sebanyak 3 langkah. Aku tersenyum sinis, sudah kuduga. Dia memang orang yang dingin bahkan hingga ke hatinya. Beku, makanya tak memiliki perasaan apapun.
***
“Alena!!” Seseorang meneriaki namaku, berbalik, wajahnya asing. Aku menatap penuh tanya, ia tampaknya cukup mengerti dengan komunikasi non verbal yang kulakukan, “saya Puteri. Teman sekelas kamu di kelas manajemen perusahaan.” Tangan yang kecil ia ulurkan, aku membalasnya ragu.
“Tegang banget mukanya..” ia tersenyum, “Oia, kamu sudah dapat kelompok?”, Aku hanya menggeleng, “mau sekelompok sama saya?” aku diam, berpikir. Kenal dia saja baru sekarang. Dia mengajak untuk kerja kelompok? ku tolak saja, toh sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, “please… jangan ditolak… saya butuh kamu… saya sudah gagal sekali di mata kuliah ini karna tidak ada yang mau sekelompok dengan saya sebelumnya.” Wajahnya penuh harap, jujur aku paling tidak tega melihat wajah kucing memelas seperti ini. Tanpa sadar, kepalaku mengangguk, meng-iyakan apa yang diminta. Putri pun bergerak riang layaknya anak kecil diperbolehkan membeli yang disuka.
Tak terkendali bibirku ikut menyunggingkan sebuah senyuman, ikut senang bersamanya, dia sahabat pertamaku sekaligus orang yang mampu mematahkan semangatku akan cinta.
***
Mataku yang lelah sudah tak sanggup dibuka kembali, tidak dapat tempat duduk di kereta maka lebih memilih kepala menopang pada lengan yang menggantung – sudah biasa bahkan memiliki gaya tidur khas milikku sendiri. Ciiit… kereta ngerem mendadak, tubuhku tak sampai ke lantai berkat seseorang entah siapa, aku mendongak, Dia lagi?! Mengomel dalam hati, bukannya membantuku berdiri ia malah melepaskan tangannya hingga aku jatuh ke lantai kemudian Dia pergi menyusuri gerbong. Kesal! Sangat kesal, apa yang dia mau sebenarnya?! Lebih baik tak usah menolong kalau ujung-ujungnya begini. Merutuknya dalam hati.
Kereta pun kembali melaju, beberapa menit kemudian terhenti lagi, ngerem mendadak diikuti lampu mati. Semua penumpang panik termasuk aku, “Penumpang diminta untuk tenang, terjadi kendala pada laju kereta, harap semua siap siaga.” Apa yang dikatakan masinis tak dapat menenangkan bahkan makin memperburuk keadaan.
Tiba-tiba saja segerombolan penumpang dari gerbong depan berlarian ke arah belakang terburu-buru. Suasana makin tak terkendali, tubuhku tertabrak hingga jatuh dan tak dapat bangun lagi. Yang lainnya berusaha memecahkan kaca kereta agar dapat keluar, aku ingin ikut keluar tapi tubuh ini tak bisa, tertahan sana-sini oleh tubuh manusia lainnya yang lebih besar.
Seketika aku beprikir, “akhirnya hari ini datang juga dimana aku akan bertemu kembali dengan ayah dan ibu.” Hingga seseorang mengangkatku, si asdos berwajah dingin. Kali ini Dia benar-benar menolong ku, mengangkat tubuhku agar dapat melewati kaca yang sudah pecah, aku melompat diikuti olehnya. Kami berlarian bersama penumpang lainnya yang berhasil keluar.
“Jangan ke arah sana!” teriaknya padaku untuk memutar laju, “kita harus cepat cari tempat berlindung, kemungkinan kereta ini akan meledak.” Aku kaget mendengarnya, tak masuk di akal. Aku sedikit mencuri lihat ke belakang, gerbong bagian depan sudah terbakar entah apa penyebabnya.
Doooaaar! Gerbong bagian ketiga dan keempat meledak, nyala api tampak sangat terang memperlihatkan para penumpang tunggang langgang berlari secepat mungkin agar bisa selamat, aku terdiam, Dia menarik tanganku, menyuruhku lebih cepat karena api sangat ganas memakan tiap gerbong. Kanan-kiri kami tidak ada rumah penduduk hanya kebun tak berpenghuni tanpa ada tanda kehidupan. Gelap.
Setelah lumayan jauh berlari, kami pun dapat melihat cahaya lampu rumah penduduk, bersama penumpang lain aku dan Dia pun terduduk sejenak, tak lagi kuat berjalan apalagi berlari. Ia melemparkan jaketnya yang bermaterial tebal, “pakai.” Kali ini kuturuti apa yang ia katakan, “kita harus jalan, didepan sudah ada rumah penduduk sesegera mungkin cari pertolongan. Kita jalan saja tak usah lari seperti tadi.” Aku mengangguk. Ku tengok jam tangan digital di tangan kiri, pukul 20:41, kejadiannya cepat, tak terduga.
Hujan pun turun menemani kami menyusuri jalan setapak, seperti yang sudah kujelaskan tadi, kiri kami adalah rel kereta sedangkan di sebelah kanan hanya kebon dipenuhi pohon menjulang tinggi berdaun lebat. Ia berjarak beberapa langkah di depanku. Tubuhnya yang tidak terlalu besar sanggup menyelamatkanku dari hectic-nya kondisi kereta. Kali ini aku sangat amat berterima kasih padanya, kalau bukan karena ia menolong mungkin aku sudah hangus tak dapat dikenali. Memperpendek jarak di antara kami,
“Terima kasih.” Kataku, namun Dia terdiam cukup lama, kami pun terus berjalan
“Untuk apa?” Tanyanya
“Menyelamatkan saya.” Jawabku tak kalah singkat
“Sudah seharusnya.”
Aku mengangguk, “kenapa kereta bisa seperti itu?”
“Saya juga tidak tahu. Tiba-tiba masinis menyuruh kami untuk pergi ke gerbong belakang, mungkin ada yang konslet.” Takjub, Dia bisa berbicara banyak ternyata
Anggukan kepalaku sekali lagi, tidak ada jawaban dariku maupun penjelasan lebih rinci darinya. Suara hujan menemani langkah kami yang mulai gontai, penumpang lain berusaha berjalan semampu mereka sama seperti kami.
“Iyah bik, saya baik-baik saja kok.” Aku tahu suara bibik terdengar khawatir di sebrang sana.
“Ehem.” Dia berdeham dibelakang,
“aku sebentar lagi pulang, setelah melakukan pendataan sama pihak krl, tak perlu khawatir aku akan pulang dengan selamat.” Kututup telfonnya,
“Pulang sendiri?” Aku mengangguk, jarak kami mengobrol cukup jauh. Lalu ia menyodorkan teh hangat dalam gelas plastik, meraihnya dan ucapkan terima kasih, “saya duluan.” Katanya kemudian. Tanpa berjabat tangan, tanpa mendengar balasan dariku ia berbalik dan pulang.
***
Bukan maksud hati mengucap kata kasar, kulihat punggung Putri menjauh dari tempatku berdiri. Aku yang baru saja memiliki sahabat kini kehilangannya hanya dengan sebaris kalimat, benar kata pepatah “mulutmu harimaumu”, hati ini ingin mengejar tapi kaki tak dapat bekerjasama, aku diam terpaku, menatapnya hingga hilang termakan kerumunan.
Menatap nasi rames, sedaritadi tak ku sentuh sedikitpun, hari sabtu, kampus tampak lengang, ya hanya beberapa dosen yang ingin mata kuliahnya di akhir pekan seperti sekarang. Tidak henti merutuk diri sendiri. Dari sebrang seseorang berdeham, mencoba menyadarkanku dari lamunan tapi tidak ada ketertarikan sedikitpun bagiku menghiraukannya.
“Dimakan.” Suara yang amat kukenali. Masih diam. “Sampai kapan?” tanyanya kemudian. air mata jatuh di pipi. Aku menangis tanpa di sadari. 
Ya aku tahu, mulutku sangat sarkastik, baru kali ini menjalin persahabatan tapi kurusak begitu saja, dasar tidak pernah bersyukur. Tangisku makin pecah, Dia disebrang sana masih diam melanjutkan makannya. Tidak menggangguku. Setelah aku cukup tenang, baru kusadari Dia sudah berpindah tempat duduk, berada di ujung meja tempat dimana aku menangis sedari tadi, menatap tanpa ekspresi.
“Saya nggak mau cerita.” Ucapku tanpa Dia pinta
“Emang saya nanya?” Tanyanya dingin.
Tidak tahu sejak kapan aku dan Dia bisa dibilang makin akrab, bahkan terkadang kami banyak berbincang tentang segala hal kala tak sengaja bertemu di kereta – walaupun kami duduk bersebrangan. Aku terdiam, mengusap sisa air mata di wajah.
Dia berada di ujung meja begitu pula aku, mulutku berucap sesuatu “Saya…” bercerita tentang kejadian tadi pagi, berbicara kasar pada Puteri, Dia seksama mendengarkan tanpa mengucap sepatah kata sampai aku selesai berbicara.
“Mau saya kasih masukan atau mau saya cukup mendengarkan?”
“Saya butuh masukan”
“Sampai kapan mau melihara gengsi?” aku terdiam. “Sampai kapan kamu mau jadi batu?” aku masih diam. “Mau sampai kapan kamu sendiri?”
Baru pertama kali ada yang bertanya demikian padaku, ucapan dari seseorang sangat dewasa mengetuk mataku, memberi titik cerah, ia benar, “mau sampai kapan jadi orang anti-sosial?” Tak semua, tak selamanya orang itu buruk. Puteri, dia tidak mengasihaniku, dia menerimaku sebagai seorang sahabat, sebagai seseorang yang butuh peran orang lain dalam hidupnya.
Baru kusadari, ternyata Dia adalah tetesan air yang selama ini kutakutkan. Aku sudah mengutuk diri sendiri jadi batu, tapi semua luluh juga runtuh karenanya. Tuhan, bagaimana bisa? Dia siapa?
“sudah yah, saya mau pulang.” Dia beranjak, “Bareng?” Mengangguk kemudian mengekorinya dari belakang.
Setiap langkah kami terlihat berirama – aku beberapa langkah darinya, tak pernah sedikitpun berbincang dari jarak dekat, jalan bersama minimal 3 langkah, duduk satu meja seperti tadi tapi dia diujung begitupun aku. Namun, Dia mengetuk pintu hatiku. Dia orang pertama yang kalahkan musuh terbesarku, ego. Ego itu kini sedikit demi sedikit mulai menipis, layaknya lapisan ozon di cakrawala.
Jalannya berhenti, secara otomatis kaki pun begitu. Ku tatap ke arah depan, Puteri berada tepat dihadapan Dia, menatapnya penuh kecewa, apalagi saat menatap ke arahku. Cuma bisa menundukkan kepala.  Kepala yang selalu terangkat ke atas ini kini hanya bisa tertunduk.
“Sedang apa kamu di sini?” bisik Dia walaupun masih bisa kudengar
Mereka terdengar akrab. Cukup terkejut karena ternyata berdua saling kenal. Dan yang kutahu temannya hanya aku.
Berbalik arah, tak mau mengurusi yang bukan urusanku, walaupun cukup penasaran ada apa dengan mereka.
Ini seperti bukan Alena. Kemana Alena yang dulu? Alena yang berjalan dengan kepala terangkat ke atas, acuh dan paling tidak suka mengurusi orang lain.
***
Beberapa hari tak kudengar lagi kabar darinya, tak terlihat dimana pun. Kali ini Dia datang ke rumah dengan cara lebih mengejutkan.
Mataku membulat, tepat dihadapanku Dia basah kuyup terguyur hujan. Tubuh yang basah itu tiba-tiba memeluk saat kubukan pintu,
“Saya mau sama kamu selamanya.” Suara Dia menyatu bersama hujan, tapi yang kudengar jelas, sangat jelas. Kali ini aku dapat merasakan hangat tubuhnya, mampu mencium aroma harum khasnya dari dekat. Pelukannya pun makin erat, seperti tak ingin jauh semili pun dari hadapanku. Ini pertama kalinya ia memelukku, pertama kali berada di jarak paling dekat dengannya.
Setelah cukup lama ia mendekap tubuhku,
“Saya sayang kamu, Alena.” Ucapan itu membuat bibirku terkunci, entah harus berkata apa, dia menatapku sebentar kemudian pergi.
Berlari mengejarnya. Kaki yang dulunya berat ini, kini dengan ringannya melangkah dengan cepat. Menggapai cinta pertama.
Memeluk tubuhnya dari belakang, “Saya juga. Saya sayang kamu.” Tubuhku ikut dibasahi hujan.
Beberapa saat kami sama-sama bermandikan air langit.
Ia melepaskan tanganku dari tubuhnya. Kemudian pergi, tak pernah berpaling dan menghilang.
***
2016
“Coba kamu cari tahu siapa sebenernya dibalik semua ini ya, saya nggak mau kerjaan kita tersendat hanya karna pengerat pemakan kayu seperti mereka!” suaraku meninggi
Lelaki berusia setahun dibawahku mengangguk-angguk mengerti. Mungkin dia sedikit takut karna wajahku terlihat sangat seram hari ini. Merasa kesal karena beberapa serangga penghambat proyek, keuangan kantor sedikit over budget dan beberapa petinggi perusahaan akhirnya ketahuan melakukan korupsi. Sekacau ini perusahaan ayah kutinggalkan. Tak kuduga, mereka adalah orang terdekat ayah sendiri.
Sudah waktunya makan siang, jangan tanya aku makan dengan siapa, sudah pasti sendiri. Trauma akan persahabatanku dan Puteri, aku pun kembali menjadi batu, karyawan bahkan segan. Kembali menjadi diri yang dulu. Ini membuatku lebih nyaman, lebih kuat juga tangguh.
Mulai sekarang aku tak akan goyah. Sedikitpun.
Restoran cepat saji yang biasa kukunjungi hari ini lebih ramai dari biasanya. Namun, karena sendiri aku masih dapat tempat duduk.
“Alena?” Seseorang menyebut namaku, berpaling. Mataku membelalak, kulihat wajah perempuan yang sudah sangat lama tak kutemui, ia tertawa melihat reaksi non verbalku. Kemudian memeluk. “Apa kabar?” aku diam
“Baik. Kamu apa kabar?” jawabku kemudian
“Baik.” Hening diantara kami sesaat. Terasa sangat canggung, karena terakhir kami bertemu dalam suasana buruk
“Sendiri?” tanyanya, aku tahu ia mencoba memecah keheningan. Aku hanya mengangguk. “kenapa kita jadi canggung gini yah Al. Saya kangen kamu sebenarnya.” Puteri terlihat malu-malu akan pengakuannya
“Saya juga Put, terakhir saya ketemu kamu, saya mau minta maaf. Tapi tidak punya nyali.”
Kami pun tertawa, “kayanya ada sesuatu yang harus kamu tahu juga deh Al.”
Aku menatap penuh tanya, lagi-lagi Puteri mengerti
“Kamu masih inget sama Dia kan?” aku hanya bisa diam, “Al, mungkin waktu itu kamu bingung. Begini, saya sama Dia udah dijodohin.” Ceritanya menarik, aku Cuma tersenyum kecut, “Dia Cuma sayang sama kamu Al, yang kutahu dari ibunya ia adu mulut dengan ayahnya kemudian pergi dari rumah. Kita semua juga nggak tahu Dia dimana. Hilang gitu aja.”
“Saya nggak nyangka kalau Dia milih buat pergi Al. Ibunya sakit-sakitan terusan mikirin Dia. Tapi Dia beneran pergi tanpa ninggalin jejak apapun, dia hilang gitu aja Al, kami semua juga bingung.” Pipiku sudah basah oleh air mata. Merasa bersalah.
“Semua karna saya Put.”
“Nggak Al, itu memang kemauan Dia sendiri.” Puteri memelukku, terasa begitu hangat dipeluk oleh sahabat lama. “Berharap Dia baik-baik saja Al. Kita sama-sama tahu Dia orang yang cukup tangguh menghadapi masalahnya.” Tangisku makin kencang. Tak perduli lagi akan orang-orang sekitar yang melihat.
Dia, hujanku.
Dimanapun dirimu berada, aku menunggumu.
Selamanya.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com