***
“Semuanya,
rapat orangtua siswa kali ini, nggak bisa saya support karena saya akan jadi wali dari Sabila. Seluruh informasi
akan disampaikan oleh Dion, selaku kepala bidang perkembangan di daycare ini, dan segala persiapan akan
di handle oleh Tamara dibantu
masing-masing pengajar setiap kelas. Saya mohon kerjasama yang baik dari kalian
semua. Karena saya nggak ingin ditengah-tengah rapat harus menginterupsi karena
ada yang kurang sesuai. Semuanya paham?” aku mengedarkan pandanganku keseluruh
penjuru ruangan.
“El, tenang ya…
kamu udah nyampein ini berkali-kali loh sama kita semua.” Dion, kakak
sepupu-ku, seorang psikolog yang selalu dengan tenang mengingatkanku.
“Iya, tapi saya
ga denger progress apapun dari
kalian. Jadi saya ga tenang.” Ucapku dengan nada yang sedikit meninggi.
“El, sudah
nggak ada progress lagi. Rapatnya kan
sore ini.” Ucap Tamara yang lebih akrab disapa Tama. Kakak sepupuku yang lainnya.
“Sebenarnya
ada, Mbak Elvita.” Kak Rini – salah satu pengajar sekaligus pengasuh yang
bertugas di kelas Sabila, angkat bicara. “Orangtua Abia akhirnya ngasih RSVP
nya, Mbak.” Mendengar apa yang ia katakan membuat senyumku terbentuk seketika,
memberi sedikit cerah bahwa memang ada progress
seperti yang kuinginkan.
Abia, anak
tampan yang selalu bijak dan memperhatikan kawan-kawan sekelasnya serta
membimbingnya. Selama hampir 1 tahun dengan jumlah rapat yang selalu kami
adakan setiap 2 bulan sekali, belum pernah orangtua Abia hadir. Selalu nenek
atau kakeknya.
“Syukurlah.
Saya penasaran orangtuanya seganteng dan secantik apa sampai punya anak
setampan itu.” Semua manusia dalam ruanganpun tertawa, seolah tanda untukku
mengakhiri rapat yang sesungguhnya tidak terlalu penting ini.
“El, keruangan
gue ya! Ada yang perlu gue tanyain sama lo. Tapi gue ambil dulu minum.” Dion
menepuk bahuku, dan meninggalkanku yang langsung berganti arah menuju
ruangannya. Ruangan yang selalu tertata rapi, nyaman dan selalu menjadi ruangan
untuk menenangkan diri. “Nih, buat lo.” Dion memberikan salah satu cangkirnya
dan menutup pintu ruangan menggunakan kakinya. “Yang sekarang bikin lo nervous apa sih, El? Rapat atau jadi
orangtua wali Sabila?” aku mengangkat bahuku. “Okay, itu pertanyaan bodoh.
Tapi, Mahar sama Dira nitipin Sabila sama lo dan Ompi loh! Mereka percaya sama
lo berdua.”
“Ini berasa
terlalu cepet aja gitu, Di… emang gue bisa?”
“El, ini cuma
rapat orangtua siswa. Lo udah tau apa materi didalemnya. Sekeliling lo juga
banyak banget yang dukung lo termasuk sesepuhnya Sabila. Elo yang dipercaya,
masa sekarang elonya yang ga percaya sih?” aku hanya membalas dengan senyuman.
Rasanya percuma berdebat dengan seorang psikolog yang tau percis bahwa hal yang
diragukan sebenarnya tidak penting
ataupun masuk akal. “Sebenarnya apa yang lo rasain itu wajar, El. Lo
sekarang bertanggung jawab atas hidup manusia kecil yang nggak tau kalau orangtuanya
nggak akan pulang-pulang lagi kerumah.” Seketika airmataku terjatuh.
“Gue ngerasa
ngerebut tempat Mahar, Di… ya walaupun bukan keinginan siapapun sih. Tapi itu
yang gue rasain. Harusnya Mahar yang disini sama kayak rapat-rapat sebelumnya.
Susah banget buat gue ngehapus bayangan gimana excited-nya Mahar dengar perkembangan Sabila.” Air mata yang semula
jatuh perlahan, kini mulai deras sejalan dengan berat yang ada di dadaku.
“Musibah ini
bukan salah siapapun, bukan juga keinginan siapapun. Jadi, lo nggak bisa
ngerasa kayak gini. Inget, ini bukan tentang lo. Tapi tentang anak kecil yang
sangat sayang sama lo, yang orangtuanya percaya banget sama lo.”
“Gue masih
berkabung karena kehilangan sahabat gue, Di.”
“Dan karena itu
lo mau galau-galau ga penting, sementara lo diamanatkan oleh sahabat lo itu
bagian dari mereka? Sahabat Mahar dan Dira bukan lo doang, El. Tapi mereka
nggak seberuntung lo yang legal ngasuh anaknya dimata negara. Bahkan nggak
kakek dan neneknya Sabila. Tapi lo sama Ompi!” Kalimat itu membungkamku dan
airmata ku. Sejak lahir, Sabila adalah anugrah bagi kami yang mengenal orangtuanya.
Hadiah dan harapan semua orang, dengan perpaduan wajah sempurna keduanya.
“Sekarang lo cuci muka, tidur sebentar ato jalan sebentar liat anak-anak gih.
Biar fresh muka lo!”
***
Melangkahkan
kaki kembali ke gedung yang menjadi darah dan dagingku ini tak seringan
biasanya. Dalam 30 menit, para orangtua akan berkumpul bersama, membahas
mengenai perkembangan putra-putri kesayangan dan kebanggaan mereka. Selalu
menyenangkan bagiku melihat kebahagiaan yang terukir jelas dalam wajah-wajah
mereka.
Tepat dua bulan
yang lalu, Mahar menginjakkan kakinya disini dengat tujuan yang sama. Tepat dua
bulan yang lalu juga, Mahar meninggalkan tempat ini dan pergi dari dunia yang
kami tinggali bersama dengan belahan hidupnya, meninggalkan putri kebanggaan
mereka di gedung ini.
“Mime!” Suara
terindah yang selalu kunantikan setiap saat membuyarkan lamunanku dan tak lama
kemudian, sepasang tangan memeluk lututku dari belakang yang belum sempat
membalikan posisinya, badanku berputar dan memandang kebawah, menemui sepasang
mata coklat hangat yang begitu dalam. “Mime dateng!”
“Kalo Mime
nggak dateng, siapa dong yang mau masangin pin bintang dikerah Bila?” tanyaku
seraya menggendong tubuh yang tergolong mungil bagi usia 3 tahun. “Bila tadi
makannya bagus nggak?” gadis kecil dengan rambut merah ikal nan tebal itu
mengangguk dengan semangat. “Masa? Mime ga percaya!”
“Sueerr!
Ciyuuss!” jawab Bia sembari mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari
manisnya yang selalu membuatku tertawa.
“Berarti ada
yang boleh dapet kue coklat!” aku mengeluarkan sebuah cakepop dari dalam tas tanpa
harus menurunkan gadis cantik dalam gendongan. Dengan semangat ia mengambil kue
tersebut dari tanganku, namun cemberut menggantikan senyum manisnya. “Kenapa?
Bila kan suka kue itu.”
“Kuenya wat Abi
aja, leh?” aku tersenyum. Orangtua wali Sabila yang satu lagi bernama Vian
namun lebih sering disapa Ompi, selalu memintaku untuk menjauhkan Sabila dari
playboy kecil sok ganteng bernama Abia. Aku mengeluarkan sebuah kue serupa yang
memang sengaja ku ambil untuk Abia – Sabila selalu ingin membagi makanannya
bersama Abia.
“Kita kasihkan
bareng ya! Abia nya dimana coba?” aku mengedar pandanganku dan melihat sosok
Abia yang sedikit bersembunyi dibawah tenda yang sengaja kupasang di taman
bermain day care ini. “Hello… Abia
kenapa?” tanyaku seketika kami menghampiri balita tampan itu. Sayang,
pertanyaanku hanya dijawab dengan gelengan kepalanya. “Okay deh, Miss El punya
kue coklat loh untuk Abia!” cokelat penolong, kini wajah murungnya sedikit
cerah begitu mendengar tawaran yang kumiliki. “Tapi syaratnya, anak ganteng
yang mau kuenya harus rajin senyum. Nggak boleh cemberut kaya gini.” Tanpa
berbicara, Abia menyunggingkan senyuman yang kuyakini akan membawa banyak
bencana bagi para wanita setelah ia besar nanti.
“Abia, dicari
ayahnya.”
Ekspektasiku Abia
yang murung akan jadi ceria dan berlari menghampiri pengajar yang memanggilnya.
Namun, ia memeluk lenganku erat seolah takut atas kehadiran Ayahnya. Sang
pengajar yang melihat reaksi Abia melemparkan pandangan tanya padaku. “Bawa
kesini aja Ayahnya.” Ucapku yang disambut anggukan oleh nya yang lalu
menghilang dari pandangan kami.
“Abia, kenapa?
Kan Ayah datang.” Abia hanya menggeleng dan sayup terdengar kata “akut” dari
mulut kecilnya.
“Abia,” aku
terhenyak. Suara yang sangat kukenali, suara yang selalu bisa membuatku
merasakan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ada, suara yang bisa menenangkanku
dan membuatku panik. Suara yang sangat kurindukan. Belum usai rasa kagetku,
Abia yang sembunyi dalam pelukan tanganku melompat dan berlari pada sosok yang
tak jauh ada dibelakangku. Ayah nya kah?

0 komentar:
Posting Komentar