Kamis, 26 Mei 2016

Tak Kemana #1

0

“Bulannya bagus, ya.” Aku mengernyitkan dahiku dan ia menarik nafas panjang. “Saya sayang kamu, El.” Ucapnya seraya menggenggam tanganku. Kami pun terdiam. Terdiam, karena ia tahu, terlalu berat baginya untuk bersamaku. Terdiam, karena ia pun tahu, aku memiliki rasa yang sama padanya. Sejak saat itu, Adhyaksa adalah sosok yang menghuni hatiku, selamanya.
***
“Semuanya, rapat orangtua siswa kali ini, nggak bisa saya support karena saya akan jadi wali dari Sabila. Seluruh informasi akan disampaikan oleh Dion, selaku kepala bidang perkembangan di daycare ini, dan segala persiapan akan di handle oleh Tamara dibantu masing-masing pengajar setiap kelas. Saya mohon kerjasama yang baik dari kalian semua. Karena saya nggak ingin ditengah-tengah rapat harus menginterupsi karena ada yang kurang sesuai. Semuanya paham?” aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan.
“El, tenang ya… kamu udah nyampein ini berkali-kali loh sama kita semua.” Dion, kakak sepupu-ku, seorang psikolog yang selalu dengan tenang mengingatkanku.
“Iya, tapi saya ga denger progress apapun dari kalian. Jadi saya ga tenang.” Ucapku dengan nada yang sedikit meninggi.
“El, sudah nggak ada progress lagi. Rapatnya kan sore ini.” Ucap Tamara yang lebih akrab disapa Tama. Kakak sepupuku yang lainnya.
“Sebenarnya ada, Mbak Elvita.” Kak Rini – salah satu pengajar sekaligus pengasuh yang bertugas di kelas Sabila, angkat bicara. “Orangtua Abia akhirnya ngasih RSVP nya, Mbak.” Mendengar apa yang ia katakan membuat senyumku terbentuk seketika, memberi sedikit cerah bahwa memang ada progress seperti yang kuinginkan.
Abia, anak tampan yang selalu bijak dan memperhatikan kawan-kawan sekelasnya serta membimbingnya. Selama hampir 1 tahun dengan jumlah rapat yang selalu kami adakan setiap 2 bulan sekali, belum pernah orangtua Abia hadir. Selalu nenek atau kakeknya.
“Syukurlah. Saya penasaran orangtuanya seganteng dan secantik apa sampai punya anak setampan itu.” Semua manusia dalam ruanganpun tertawa, seolah tanda untukku mengakhiri rapat yang sesungguhnya tidak terlalu penting ini.
“El, keruangan gue ya! Ada yang perlu gue tanyain sama lo. Tapi gue ambil dulu minum.” Dion menepuk bahuku, dan meninggalkanku yang langsung berganti arah menuju ruangannya. Ruangan yang selalu tertata rapi, nyaman dan selalu menjadi ruangan untuk menenangkan diri. “Nih, buat lo.” Dion memberikan salah satu cangkirnya dan menutup pintu ruangan menggunakan kakinya. “Yang sekarang bikin lo nervous apa sih, El? Rapat atau jadi orangtua wali Sabila?” aku mengangkat bahuku. “Okay, itu pertanyaan bodoh. Tapi, Mahar sama Dira nitipin Sabila sama lo dan Ompi loh! Mereka percaya sama lo berdua.”
“Ini berasa terlalu cepet aja gitu, Di… emang gue bisa?”
“El, ini cuma rapat orangtua siswa. Lo udah tau apa materi didalemnya. Sekeliling lo juga banyak banget yang dukung lo termasuk sesepuhnya Sabila. Elo yang dipercaya, masa sekarang elonya yang ga percaya sih?” aku hanya membalas dengan senyuman. Rasanya percuma berdebat dengan seorang psikolog yang tau percis bahwa hal yang diragukan sebenarnya tidak penting  ataupun masuk akal. “Sebenarnya apa yang lo rasain itu wajar, El. Lo sekarang bertanggung jawab atas hidup manusia kecil yang nggak tau kalau orangtuanya nggak akan pulang-pulang lagi kerumah.” Seketika airmataku terjatuh.
“Gue ngerasa ngerebut tempat Mahar, Di… ya walaupun bukan keinginan siapapun sih. Tapi itu yang gue rasain. Harusnya Mahar yang disini sama kayak rapat-rapat sebelumnya. Susah banget buat gue ngehapus bayangan gimana excited-nya Mahar dengar perkembangan Sabila.” Air mata yang semula jatuh perlahan, kini mulai deras sejalan dengan berat yang ada di dadaku.
“Musibah ini bukan salah siapapun, bukan juga keinginan siapapun. Jadi, lo nggak bisa ngerasa kayak gini. Inget, ini bukan tentang lo. Tapi tentang anak kecil yang sangat sayang sama lo, yang orangtuanya percaya banget sama lo.”
“Gue masih berkabung karena kehilangan sahabat gue, Di.”
“Dan karena itu lo mau galau-galau ga penting, sementara lo diamanatkan oleh sahabat lo itu bagian dari mereka? Sahabat Mahar dan Dira bukan lo doang, El. Tapi mereka nggak seberuntung lo yang legal ngasuh anaknya dimata negara. Bahkan nggak kakek dan neneknya Sabila. Tapi lo sama Ompi!” Kalimat itu membungkamku dan airmata ku. Sejak lahir, Sabila adalah anugrah bagi kami yang mengenal orangtuanya. Hadiah dan harapan semua orang, dengan perpaduan wajah sempurna keduanya. “Sekarang lo cuci muka, tidur sebentar ato jalan sebentar liat anak-anak gih. Biar fresh muka lo!”
***
Melangkahkan kaki kembali ke gedung yang menjadi darah dan dagingku ini tak seringan biasanya. Dalam 30 menit, para orangtua akan berkumpul bersama, membahas mengenai perkembangan putra-putri kesayangan dan kebanggaan mereka. Selalu menyenangkan bagiku melihat kebahagiaan yang terukir jelas dalam wajah-wajah mereka.
Tepat dua bulan yang lalu, Mahar menginjakkan kakinya disini dengat tujuan yang sama. Tepat dua bulan yang lalu juga, Mahar meninggalkan tempat ini dan pergi dari dunia yang kami tinggali bersama dengan belahan hidupnya, meninggalkan putri kebanggaan mereka di gedung ini.
“Mime!” Suara terindah yang selalu kunantikan setiap saat membuyarkan lamunanku dan tak lama kemudian, sepasang tangan memeluk lututku dari belakang yang belum sempat membalikan posisinya, badanku berputar dan memandang kebawah, menemui sepasang mata coklat hangat yang begitu dalam. “Mime dateng!”
“Kalo Mime nggak dateng, siapa dong yang mau masangin pin bintang dikerah Bila?” tanyaku seraya menggendong tubuh yang tergolong mungil bagi usia 3 tahun. “Bila tadi makannya bagus nggak?” gadis kecil dengan rambut merah ikal nan tebal itu mengangguk dengan semangat. “Masa? Mime ga percaya!”
“Sueerr! Ciyuuss!” jawab Bia sembari mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya yang selalu membuatku tertawa.
“Berarti ada yang boleh dapet kue coklat!” aku mengeluarkan sebuah cakepop dari dalam tas tanpa harus menurunkan gadis cantik dalam gendongan. Dengan semangat ia mengambil kue tersebut dari tanganku, namun cemberut menggantikan senyum manisnya. “Kenapa? Bila kan suka kue itu.”
“Kuenya wat Abi aja, leh?” aku tersenyum. Orangtua wali Sabila yang satu lagi bernama Vian namun lebih sering disapa Ompi, selalu memintaku untuk menjauhkan Sabila dari playboy kecil sok ganteng bernama Abia. Aku mengeluarkan sebuah kue serupa yang memang sengaja ku ambil untuk Abia – Sabila selalu ingin membagi makanannya bersama Abia.
“Kita kasihkan bareng ya! Abia nya dimana coba?” aku mengedar pandanganku dan melihat sosok Abia yang sedikit bersembunyi dibawah tenda yang sengaja kupasang di taman bermain day care ini. “Hello… Abia kenapa?” tanyaku seketika kami menghampiri balita tampan itu. Sayang, pertanyaanku hanya dijawab dengan gelengan kepalanya. “Okay deh, Miss El punya kue coklat loh untuk Abia!” cokelat penolong, kini wajah murungnya sedikit cerah begitu mendengar tawaran yang kumiliki. “Tapi syaratnya, anak ganteng yang mau kuenya harus rajin senyum. Nggak boleh cemberut kaya gini.” Tanpa berbicara, Abia menyunggingkan senyuman yang kuyakini akan membawa banyak bencana bagi para wanita setelah ia besar nanti.
“Abia, dicari ayahnya.”
Ekspektasiku Abia yang murung akan jadi ceria dan berlari menghampiri pengajar yang memanggilnya. Namun, ia memeluk lenganku erat seolah takut atas kehadiran Ayahnya. Sang pengajar yang melihat reaksi Abia melemparkan pandangan tanya padaku. “Bawa kesini aja Ayahnya.” Ucapku yang disambut anggukan oleh nya yang lalu menghilang dari pandangan kami.
“Abia, kenapa? Kan Ayah datang.” Abia hanya menggeleng dan sayup terdengar kata “akut” dari mulut kecilnya.
“Abia,” aku terhenyak. Suara yang sangat kukenali, suara yang selalu bisa membuatku merasakan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ada, suara yang bisa menenangkanku dan membuatku panik. Suara yang sangat kurindukan. Belum usai rasa kagetku, Abia yang sembunyi dalam pelukan tanganku melompat dan berlari pada sosok yang tak jauh ada dibelakangku. Ayah nya kah?

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com