Langit ikut menangis saat aku
kehilangan ibu di hari itu. Tepat pada tanggal 9 Februari 1995 umurku baru saja
5 tahun, beranjak remaja saja belum, tapi aku sudah mengerti bahwa ibu sudah
pergi selama-lamanya.
Tiada henti orang mengasihaniku
saat itu, “anak perempuan malang, sekarang hanya tinggal bersama ayahnya.” Atau
“kamu bisa yah sayang.” Kalimat itu berulang kali aku dengar dari bibir mereka
yang pada akhirnya segan untuk membantuku, merasa khawatir saat itu saja untuk
sekedar mencari muka di hadapan ayah.
5 tahun kemudian, ayah melakukan
hal yang sama, meninggalkanku selama-lamanya. Ia depresi berlebihan karena ditinggal
ibu, tidak mengurusku apalagi memperhatikanku, mungkin saja dia lupa memiliki
seorang anak perempuan yang sedang butuh kasih sayang.
Hari itu seperti 5 tahun yang
lalu, hujan menghantarkan ayah ke tempat peristirahatannya yang terakhir, 10 Maret
2000, memasuki tahun millennium dimana usiaku 10 tahun, baru saja beberapa
tingkat di sekolah dasar, belum cukup dibilang remaja, tapi sudah harus bisa
berpikir dewasa.
25 Januari 2015, saat ini umurku
sudah 25 tahun, duduk di atas kursi meja makan berbentuk kotak yang terbuat
dari kayu. Dihadapanku terhidang roti berikut selai juga susu putih murni.
Sejak ayah dan ibu pergi yang mereka tinggalkan hanya rumah ini dan perusahaan
yang baru 3 tahun ini kupelajari segala komponen maupun perspektifnya.
Lagi-lagi diluar hujan, hatiku
makin kelam melihatnya. Langit lagi-lagi menangis di pagi hari, “neng, mau
berangkat jam berapa?” Bik Sumi menyadarkanku dari lamunan, aku tersenyum,
“Sebentar lagi bik, masih hujan.”
Bik Sumi manggut-manggut.
Sejak aku kecil, sejak ayah dan
ibu pergi beliau yang menemani ku setiap saat. Sanak saudara? Mereka lebih
memusingkan warisan ayah yang ia tinggalkan untukku. Mereka berkunjung hanya
sekedar untuk mencari muka dihadapanku, seperti yang mereka lakukan dulu pada
ayah. Memujiku, membawakan makanan, sampai mengajakku liburan – pada akhirnya
aku yang bayar.
Sahabat? Entahlah, aku sungkan
bersosialisasi. Mereka biasa menatapku aneh, “kasihan, dia yatim piatu,” aku
paling sebal dikasihani, sejak kedua orang tua ku meninggal, tidak, sejak ibu
meninggal, aku sudah menciptakan diriku menjadi sebuah batu. Batu yang kuat,
yang tidak akan luluh dan runtuh hanya dengan tetesan air.
Aku tidak butuh “rasa kasihan”
dari mereka, aku bisa hidup sendiri ini hidupku.
Hingga pada akhirnya, aku bertemu
Dia, saat umurku 21 tahun, sudah dewasa. Dan baru saja mengenal cinta.

0 komentar:
Posting Komentar