Kamis, 12 Mei 2016

Dia, Hujanku #Prolog

0

Aku bukan tidak suka hujan, tapi bagiku hujan hanya membawa kesedihan.

Langit ikut menangis saat aku kehilangan ibu di hari itu. Tepat pada tanggal 9 Februari 1995 umurku baru saja 5 tahun, beranjak remaja saja belum, tapi aku sudah mengerti bahwa ibu sudah pergi selama-lamanya.
Tiada henti orang mengasihaniku saat itu, “anak perempuan malang, sekarang hanya tinggal bersama ayahnya.” Atau “kamu bisa yah sayang.” Kalimat itu berulang kali aku dengar dari bibir mereka yang pada akhirnya segan untuk membantuku, merasa khawatir saat itu saja untuk sekedar mencari muka di hadapan ayah.
5 tahun kemudian, ayah melakukan hal yang sama, meninggalkanku selama-lamanya. Ia depresi berlebihan karena ditinggal ibu, tidak mengurusku apalagi memperhatikanku, mungkin saja dia lupa memiliki seorang anak perempuan yang sedang butuh kasih sayang.
Hari itu seperti 5 tahun yang lalu, hujan menghantarkan ayah ke tempat peristirahatannya yang terakhir, 10 Maret 2000, memasuki tahun millennium dimana usiaku 10 tahun, baru saja beberapa tingkat di sekolah dasar, belum cukup dibilang remaja, tapi sudah harus bisa berpikir dewasa.
25 Januari 2015, saat ini umurku sudah 25 tahun, duduk di atas kursi meja makan berbentuk kotak yang terbuat dari kayu. Dihadapanku terhidang roti berikut selai juga susu putih murni. Sejak ayah dan ibu pergi yang mereka tinggalkan hanya rumah ini dan perusahaan yang baru 3 tahun ini kupelajari segala komponen maupun perspektifnya.
Lagi-lagi diluar hujan, hatiku makin kelam melihatnya. Langit lagi-lagi menangis di pagi hari, “neng, mau berangkat jam berapa?” Bik Sumi menyadarkanku dari lamunan, aku tersenyum,
“Sebentar lagi bik, masih hujan.” Bik Sumi manggut-manggut.
Sejak aku kecil, sejak ayah dan ibu pergi beliau yang menemani ku setiap saat. Sanak saudara? Mereka lebih memusingkan warisan ayah yang ia tinggalkan untukku. Mereka berkunjung hanya sekedar untuk mencari muka dihadapanku, seperti yang mereka lakukan dulu pada ayah. Memujiku, membawakan makanan, sampai mengajakku liburan – pada akhirnya aku yang bayar.
Sahabat? Entahlah, aku sungkan bersosialisasi. Mereka biasa menatapku aneh, “kasihan, dia yatim piatu,” aku paling sebal dikasihani, sejak kedua orang tua ku meninggal, tidak, sejak ibu meninggal, aku sudah menciptakan diriku menjadi sebuah batu. Batu yang kuat, yang tidak akan luluh dan runtuh hanya dengan tetesan air.
Aku tidak butuh “rasa kasihan” dari mereka, aku bisa hidup sendiri ini hidupku.
Hingga pada akhirnya, aku bertemu Dia, saat umurku 21 tahun, sudah dewasa. Dan baru saja mengenal cinta.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com