Hatiku berkecambuk. Mengucap dalam hati,
“Itu bukan aku.” aku melihat sosok diriku sendiri menjengut rambut seorang
gadis kira-kira berumur 16 tahun memakai putih abu-abu di kamar mandi tanpa
ampun, hingga ia menangis dan meminta ampun. Sosok itu melakukannya bersama dua
orang gadis lain yang seumuran. Aku menatap wajahku sendiri lamat-lamat,
kepuasan atas kekerasan yang sudah kulakukan terpancar jelas, lagi-lagi aku
bergumam, “Itu bukan aku.”
Aku
membuka mata, seusai mengingat-ingat mimpi semalam. Menakutkan. Semua terlihat
sangat nyata. Tangan yang besar mengelus lembut rambutku yang bergelombang, aku
menatapnya dan tersenyum. “Kukira tidur.” Katanya dengan suara berat, aku tidak
menjawab, hanya memandang diluar jendela dari dalam kendaraan beroda empat.
Kembali
ke tempat aku tumbuh, yang aku sendiri tidak ingat kenangan apapun disini. Tiga
tahun yang lalu Ibu dan Papa membawaku ke Semarang, mereka hanya bilang, “Ini
untuk kebaikan mu,” dan menyuruhku untuk tidak lagi bertanya apa yang terjadi
tentang masa lalu. Tapi, mimpi aku menyakiti banyak gadis terus hadir dalam
mimpiku. Aku hanya penasaran, seperti apa aku dulu. Maka disinilah kami, Aku
dan kekasihku.
Seminggu
yang lalu ada undangan reuni SMA yang muncul di alamat surel ku, yah sudah bertahun-tahun
alamat surel ku tidak diganti. Aku pun
ingat begitu saja dengan surname dan password nya. Lalu, aku membujuk Bayu –
kekasiku untuk mengantarkanku. Kemudian memikirkan alasan yang tepat diberikan
pada Ibu dan Papa, karena aku yakin, mereka tidak akan mengijinkannya, jika
mereka tahu aku akan menghadiri reuni SMA.
Pemandangan
yang berbeda dengan kota yang biasa aku lihat selama tiga tahun ini bermuculan
perlahan. Lalu, kami berhenti di sebuah tempat makan di daerah Juanda. Bergaya
khas betawi. Kami duduk didekat jendela di lantai dua. Aku selalu suka duduk
didekat jendela. “Mei?” tiba-tiba seseorang memanggil namaku, seorang perempuan
memakai seragam pelayan menghampiriku. Aku mengerutkan keningku, tidak tahu
siapa dia. Raut wajah perempuan itu berubah, menjadi takut. Lalu pergi dari
hadapan kami.
Aku
dan Bayu bertukar pandang. Bayu mengedikkan bahunya.
***
“Kayaknya
orang yang tadi kenal aku deh Bay. Tapi kenapa ya dia langsung pergi gitu?”
Bayu menggenggam tanganku. Kami menuju tempat menginap di daerah Jakarta
Selatan.
“Mei,
aku mau nanya sekali lagi deh sama kamu.. ini untuk mastiin aja kesiapan kamu.”
“Aku
siap, Bay.”
“Ibu
sama Papa kamu nutupin semua pasti…”
“Pasti
punya alasan yang baik untuk aku…” aku memotong ucapannya, “…Bay, kamu udah bilang
ini berulang kali.. dan berulang kali juga aku jawab, aku siap, Bay.” Aku
menatapnya, namun matanya harus terfokus ke depan, “Bay, kalo aku siap. Kalian
juga harus siap.”
Suasana
dalam mobil cukup lengang setelah perdebatan kami. Bayu tidak lagi berucap, aku
pun enggan. Kami sama-sama menatap ke arah luar, dalam benakku terus bertanya,
“Orang seperti apa aku dulu?”
***
Kami
berjalan dari parkiran mobil ke hall utama di sebuah gedung pertemuan yang
lumayan besar. Bayu menggenggam tanganku, matanya mengisyaratkan sesuatu, aku
tersenyum, “Bay… aku siap… karna disini aku bisa menjawab mimpi-mimpi aku.”
Bayu menyuruhku untuk menggenggamnya lebih erat. Dia adalah orang yang pertama
kali menyapaku di sekolah saat aku pindah ke Semarang, saat aku menjadi orang
yang takut untuk berkenalan dengan lingkungan baru.
Kami
memasuki hall, disana banyak sekali teman-teman SMA yang aku sendiri lupa
dengan mereka. Namun, mata mereka mengenaliku. Suara yang ramai perlahan
hening, hampir semua mata menatapku, sambil berbisik. Aku hanya tersenyum
membalas mereka, namun mereka seperti menghindariku. Aku menundukkan kepala, kenapa semuanya seperti ini?
Hingga
seorang MC kembali meramaikan suasana, melupakan kedatangan kami. Bayu mengajakku
ke arah meja yang berisikan gelas di sayap kanan. Degupan jantungku tidak mau
berhenti walaupun aku sudah meminum segelas air putih, badanku gemetar. Bayu
menggenggam tanganku lebih erat. Dua orang perempuan menghampiriku, gaya
berpakaian mereka seperti umumnya perempuan kota metropolitan ini, dengan
dandanan yang tebal untuk menutupi kekurangan pada wajah mereka.
“Mei..”
Mereka menyebutkan namaku. Aku mencoba mengingat wajah mereka. Tiba-tiba
terlintas wajah mereka dalam mimpiku. Sama-sama ada di kamar mandi dan ikut
memukuli seorang gadis. Aku hanya tersenyum. Lalu mereka memelukku.
“Kalian
siapa ya?” aku bertanya begitu mereka melepaskan pelukannya.
“Lo
lupa sama kita Mei?” aku hanya tersenyum. “Kita sahabat lo Mei.” Aku menatap
Bayu, senang rasanya begitu tahu mereka sahabatku, berarti mereka kenal sekali
aku seperti apa, “Mei, kita kangen banget sama lo..” Tapi mengapa aku merasa
tidak begitu nyaman ada di dekat mereka, “Mei, pacar lo?” Mata mereka
memandangan rendah Bayu, “Bukan tipe lo banget deh.” Aku terdiam, Bayu
menatapku.
“Iya…
dia pacar saya…” Jawabku sedikit sinis, tidak suka dengan apa yang mereka
ucapkan.
“Mei…”
mereka mencoba membujukku. Mungkin merasa menyesal.
“Bay,
kita cari makanan kecil yuk…” Ajakku. Ingin pergi dari hadapan mereka.
Aku
menatap sekeliling. Mengapa tidak ada satupun yang mengajakku berbicara kecuali
dua perempuan menor tadi. Mereka semua menghindariku, dan menatapku dengan
pandangan sinis.
Lalu
seseorang tidak sengaja menumpahkan saus pempek di blouse putihku, meminta maaf dengan nada takut. “Mei… maafin gue…
gue nggak sengaja… beneran… jangan marahin gue…” katanya sambil membersihkan
bercak saus dengan tissue menggunakan
tangannya yang terasa gemetaran. Aku menghentikannya,
“Nggak
apa kok.. ini dicuci juga hilang nodanya.” Wajahnya tampak terkejut dengan apa
yang kukatakan.
“Lo
Mei kan?”
“Iya…”
jawabku santai.
“Lo
bukan Mei… Mei nggak gini…”
“Maksudnya?”
Tapi dia pergi dari hadapanku. Bayu merangkul ku. “Kalo gini gimana caranya aku
nyari tau Bay.. semuanya aja kayak yang jijik sama aku..”
“Berani
banget lo dateng ke sini..” sebuah suara menyadarkanku. “Bisa-bisanya habis
bunuh orang lo nampilin muka lo tanpa rasa bersalah?” seorang perempuan dan
seorang laki-laki menghampiriku. Laki-laki itu mencoba menahan perempuan itu.
“Mbak
tolong yah omongannya dijaga. Tahu sopan santun kan?” Bayu yang maju. Aku
gemetaran,
“Buat
apa gue ngomong sopan sama orang yang nggak punya sopan santun dan otak kayak
dia.” Perempuan itu menunjukku.
Kedua
perempuan berdandan menor tadi menghampiriku. “Put, apa-apaan sih.” Kata salah
seorang dari mereka.
“Diem
lo berdua. Lo berdua sama aja kaya dia!” Suaranya membuat seluruh yang ada di
ruangan memperhatikan kami.
“Putri,
udah kali. Mei juga nyesel kok.”
“Nyesel
kata lo? Dengan cara kabur dan pergi gitu aja kata lo nyesel?”
Aku
memberanikan diri menatap perempuan yang dipanggil putri itu, “Saya nggak inget
apa-apa. Tolong kasih tau saya, kenapa kamu bicara kayak gini sama saya?” aku
memohon padanya, mengenggam tangannya, dengan kasar dia melepaskan,
“Jangan
pura-pura lupa! Sok innocence banget
lo sekarang! Lo nggak inget dulu kayak gimana?!” aku menggeleng. Aku
benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud olehnya. “Denger yah Mei yang manis,
yang merasa paling cantik dan paling oke. Lo tuh udah ngebunuh temen gue!”
Salah
satu perempuan yang membelaku mendorongnya, “Put! Udah lah!”
Bayu
membawaku keluar ruangan. Keluar dari kebisingan. Keluar dari perhatian banyak
orang. “Kita pulang..”
Seseorang
menarik tanganku.
***
“Kita
nggak tau mesti beneran jujur sama lo atau nggak… karna…” Hera – nama salah
satu perempuan berdandan menor, yang baru aku tahu namanya - menundukkan
kepalanya, dia tampak ragu. Kami duduk di sebuah tempat makan cepat saji.
“Karna
apa? Hera.. saya harus tau.. kasih tau saya..”
“Gue
nggak boleh nyeritain apa-apa.. nyokap bokap lo yang nyuruh.. kita juga nggak
boleh lagi sebenernya ngehubungin lo..” aku menatap Hera dan Tika bergantian.
Ibu sampai segitunya menutupi semuanya. Menutupi kesalahan yang telah dibuat
anaknya.
“Ceritain
aja Her... Ibu saya nggak ada di sini kok..” aku masih berbicara sedikit formal
padanya,
“Tiga
tahun yang lalu, pas SMA kita nggak sengaja… ngebunuh orang Mei…” jelas Tika.
“Maksudnya?”
“Namanya
Rara.. dia ketauan suka sama Bian, mantan pacar lo. Trus lo murka…” Tika
berhenti bercerita, “…lo manggil dia, kita bawa dia ke kamar mandi. Lo
ngintogerasi dia pake kekerasan Mei…” kejadian-kejadian yang di mimpi hadir
dalam ingatanku,
***
“Lo suka sama Bian?! Dari kapan?!
Kecentilan banget lo!” aku menarik rambutnya dengan keras, Rara menangis
kesakitan. Aku mendengar diluar kamar mandi sudah ramai oleh anak-anak lain
yang penasaran dengan apa yang terjadi. Aku menjatuhkannya ke lantai,
“Mei… ampun Mei… maafin gue…” Rara
menangis, membuatku semakin geram mendengarnya. Aku menendang perutnya, lumayan
keras. Hera dan Tika mengangkatnya, agar dia berdiri. Aku menarik lagi
rambutnya, menamparnya berulang kali. Hingga hidungnya berdarah.
“Jadi lo ngerasa pantes deketin Bian? Lo
lupa Bian siapanya gue?” aku menamparnya lagi. Aku geram sekali. Kesal dengan
semua yang kutahu. Dia aku beri hati minta jantung,
“Mei… maafin gue Mei…” aku memukul keras
kepalanya dengan telapak tanganku.
“Lo udah gue jadiin temen, tapi nusuk
gue dari belakang? Diem-diem lo deketin Bian!” aku menamparnya sekali lagi, dia
tergeletak jatuh. Tidak bergerak.
Tiba-tiba aku menerima pukulan, aku
merasakan kepala ku terbentur sesuatu lumayan keras dan semua gelap.
***
“Lo
sama Rara, sama-sama dibawa ke rumah sakit hari itu. Gue, Hera sama Putri kena
skors.. Rara nggak selamat.. sedangkan lo, karena kepala lo terbentur wastafel
akibat dipukul putri, pendarahan dan nyebabin lo amnesia Mei..”
“Orang
tuanya Rara nggak terima, ngelaporin kita ke polisi, bokap gue sama bokap Hera
ngejamin kita. Bokap lo juga, tapi dengan satu syarat, lo keluar dari sekolah.
Makanya, keluarga lo pindah ke Semarang. Tapi, anak-anak taunya lo kabur, lari
dari tanggung jawab.”
“Kalian?”
tanyaku. Air mataku tidak bisa lagi dibendung, kepalaku juga sedikit sakit,
“Kita
dapet apa yang udah kita kasih ke mereka – orang-orang yang kita bully.. gue sama Tika bener-bener nyoba
bertahan di sekolah demi lo Mei.. demi tanggung jawab yang udah kita lakuin..”
Badanku
gemetar. Kepalaku semakin sakit. “Aaakkkh!!” aku hanya bisa berteriak,
samar-samar aku mendengar Bayu, Hera dan Tika memanggil-manggil namaku.
***
Aku
terbangun, kulihat Bayu sudah berada disampingku. Tertidur. Aku mengelus
kepalanya. Dia membuka matanya dan tersenyum padaku. Aku teringat lagi, air
mataku jatuh lagi.
“Aku
mau ke kamar mandi..” aku menatap wajahku sendiri di cermin. Wajah seorang
pembunuh, penyiksa, memukuli hanya karena seorang laki-laki. “Aaakkkh!!!” air
mataku tidak tertahan. Aku membanting gelas didekat wastafel. Aku terduduk,
tangisku lebih keras dibanding sebelumnya.
Kurasakan
tubuh Bayu memelukku erat. Aku memberontak, merasa tidak pantas untuk
mendapatkan pelukan.
“lepasin
aku Bay.. Jangan lagi pacaran sama aku.. aku pembunuh..” Bayu tetap tidak
melepaskannya,
“Nggak
Mei.. nggak akan.. aku disini buat kamu..”
“Aku
nggak pantes buat kamu Bay.. aku mohon Bay.. pergi tinggalin aku..”
“Aku
sayang sama kamu Mei.. aku sayang sama Mei yang sekarang..” Bayu membalikkan
tubuhku, “Mei.. semua orang punya masa lalu yang buruk.. semua orang pernah
ngelakuin kesalahan.. kamu seharusnya bersyukur Mei.. Tuhan ngasih kamu
kesempatan buat memperbaikin semuanya..”
“Tapi
aku gak pantes buat kamu, Bay..”
“Mei!”
suaranya meninggi, “Aku milih kamu.. jadi, aku siap nerima kamu.. jangan pernah
ngomong gitu.” Bayu mendekapku.
Memelukku. “Udah yah sayang.. Nanti tremor-nya
kambuh lagi.”
“Yang
pasti kamu harus jadi orang yang lebih baik lagi.. karna, orang yang mau lebih
baik dari sebelumnya adalah orang yang belajar dari masa lalunya.” Kata-kata
Bayu menenangkanku. Tangannya yang besar membelai rambutku, memberiku
kenyamanan.
Aku
berharap, Rara yang ada di surga sekarang mau memaafkan aku. Aku juga tidak
akan lagi menyalahkan Ibu dan Papa yang melarangku untuk ingat semuanya, untuk
berhubungan dengan orang-orang yang pernah hadir dalam masa lalu yang baru aku
ingat. Aku tebus kesalahanku dengan menjadi orang yang lebih baik sekarang,
bukan lagi jadi Mei yang dulu.***
Pengarang: SHanifa

0 komentar:
Posting Komentar