Rabu, 27 Mei 2015

Ingatan Mei

0

Hatiku berkecambuk. Mengucap dalam hati, “Itu bukan aku.” aku melihat sosok diriku sendiri menjengut rambut seorang gadis kira-kira berumur 16 tahun memakai putih abu-abu di kamar mandi tanpa ampun, hingga ia menangis dan meminta ampun. Sosok itu melakukannya bersama dua orang gadis lain yang seumuran. Aku menatap wajahku sendiri lamat-lamat, kepuasan atas kekerasan yang sudah kulakukan terpancar jelas, lagi-lagi aku bergumam, “Itu bukan aku.”
Aku membuka mata, seusai mengingat-ingat mimpi semalam. Menakutkan. Semua terlihat sangat nyata. Tangan yang besar mengelus lembut rambutku yang bergelombang, aku menatapnya dan tersenyum. “Kukira tidur.” Katanya dengan suara berat, aku tidak menjawab, hanya memandang diluar jendela dari dalam kendaraan beroda empat.
Kembali ke tempat aku tumbuh, yang aku sendiri tidak ingat kenangan apapun disini. Tiga tahun yang lalu Ibu dan Papa membawaku ke Semarang, mereka hanya bilang, “Ini untuk kebaikan mu,” dan menyuruhku untuk tidak lagi bertanya apa yang terjadi tentang masa lalu. Tapi, mimpi aku menyakiti banyak gadis terus hadir dalam mimpiku. Aku hanya penasaran, seperti apa aku dulu. Maka disinilah kami, Aku dan kekasihku.
Seminggu yang lalu ada undangan reuni SMA yang muncul di alamat surel ku, yah sudah bertahun-tahun alamat surel ku tidak diganti. Aku pun ingat begitu saja dengan surname dan password nya. Lalu, aku membujuk Bayu – kekasiku untuk mengantarkanku. Kemudian memikirkan alasan yang tepat diberikan pada Ibu dan Papa, karena aku yakin, mereka tidak akan mengijinkannya, jika mereka tahu aku akan menghadiri reuni SMA.
Pemandangan yang berbeda dengan kota yang biasa aku lihat selama tiga tahun ini bermuculan perlahan. Lalu, kami berhenti di sebuah tempat makan di daerah Juanda. Bergaya khas betawi. Kami duduk didekat jendela di lantai dua. Aku selalu suka duduk didekat jendela. “Mei?” tiba-tiba seseorang memanggil namaku, seorang perempuan memakai seragam pelayan menghampiriku. Aku mengerutkan keningku, tidak tahu siapa dia. Raut wajah perempuan itu berubah, menjadi takut. Lalu pergi dari hadapan kami.
Aku dan Bayu bertukar pandang. Bayu mengedikkan bahunya.

***
“Kayaknya orang yang tadi kenal aku deh Bay. Tapi kenapa ya dia langsung pergi gitu?” Bayu menggenggam tanganku. Kami menuju tempat menginap di daerah Jakarta Selatan.
“Mei, aku mau nanya sekali lagi deh sama kamu.. ini untuk mastiin aja kesiapan kamu.”
“Aku siap, Bay.”
“Ibu sama Papa kamu nutupin semua pasti…”
“Pasti punya alasan yang baik untuk aku…” aku memotong ucapannya, “…Bay, kamu udah bilang ini berulang kali.. dan berulang kali juga aku jawab, aku siap, Bay.” Aku menatapnya, namun matanya harus terfokus ke depan, “Bay, kalo aku siap. Kalian juga harus siap.”
Suasana dalam mobil cukup lengang setelah perdebatan kami. Bayu tidak lagi berucap, aku pun enggan. Kami sama-sama menatap ke arah luar, dalam benakku terus bertanya, “Orang seperti apa aku dulu?”
***
Kami berjalan dari parkiran mobil ke hall utama di sebuah gedung pertemuan yang lumayan besar. Bayu menggenggam tanganku, matanya mengisyaratkan sesuatu, aku tersenyum, “Bay… aku siap… karna disini aku bisa menjawab mimpi-mimpi aku.” Bayu menyuruhku untuk menggenggamnya lebih erat. Dia adalah orang yang pertama kali menyapaku di sekolah saat aku pindah ke Semarang, saat aku menjadi orang yang takut untuk berkenalan dengan lingkungan baru.
Kami memasuki hall, disana banyak sekali teman-teman SMA yang aku sendiri lupa dengan mereka. Namun, mata mereka mengenaliku. Suara yang ramai perlahan hening, hampir semua mata menatapku, sambil berbisik. Aku hanya tersenyum membalas mereka, namun mereka seperti menghindariku. Aku menundukkan kepala, kenapa semuanya seperti ini?
Hingga seorang MC kembali meramaikan suasana, melupakan kedatangan kami. Bayu mengajakku ke arah meja yang berisikan gelas di sayap kanan. Degupan jantungku tidak mau berhenti walaupun aku sudah meminum segelas air putih, badanku gemetar. Bayu menggenggam tanganku lebih erat. Dua orang perempuan menghampiriku, gaya berpakaian mereka seperti umumnya perempuan kota metropolitan ini, dengan dandanan yang tebal untuk menutupi kekurangan pada wajah mereka.
“Mei..” Mereka menyebutkan namaku. Aku mencoba mengingat wajah mereka. Tiba-tiba terlintas wajah mereka dalam mimpiku. Sama-sama ada di kamar mandi dan ikut memukuli seorang gadis. Aku hanya tersenyum. Lalu mereka memelukku.
“Kalian siapa ya?” aku bertanya begitu mereka melepaskan pelukannya.
“Lo lupa sama kita Mei?” aku hanya tersenyum. “Kita sahabat lo Mei.” Aku menatap Bayu, senang rasanya begitu tahu mereka sahabatku, berarti mereka kenal sekali aku seperti apa, “Mei, kita kangen banget sama lo..” Tapi mengapa aku merasa tidak begitu nyaman ada di dekat mereka, “Mei, pacar lo?” Mata mereka memandangan rendah Bayu, “Bukan tipe lo banget deh.” Aku terdiam, Bayu menatapku.
“Iya… dia pacar saya…” Jawabku sedikit sinis, tidak suka dengan apa yang mereka ucapkan.
“Mei…” mereka mencoba membujukku. Mungkin merasa menyesal.
“Bay, kita cari makanan kecil yuk…” Ajakku. Ingin pergi dari hadapan mereka.
Aku menatap sekeliling. Mengapa tidak ada satupun yang mengajakku berbicara kecuali dua perempuan menor tadi. Mereka semua menghindariku, dan menatapku dengan pandangan sinis.
Lalu seseorang tidak sengaja menumpahkan saus pempek di blouse putihku, meminta maaf dengan nada takut. “Mei… maafin gue… gue nggak sengaja… beneran… jangan marahin gue…” katanya sambil membersihkan bercak saus dengan tissue menggunakan tangannya yang terasa gemetaran. Aku menghentikannya,
“Nggak apa kok.. ini dicuci juga hilang nodanya.” Wajahnya tampak terkejut dengan apa yang kukatakan.
“Lo Mei kan?”
“Iya…” jawabku santai.
“Lo bukan Mei… Mei nggak gini…”
“Maksudnya?” Tapi dia pergi dari hadapanku. Bayu merangkul ku. “Kalo gini gimana caranya aku nyari tau Bay.. semuanya aja kayak yang jijik sama aku..”
“Berani banget lo dateng ke sini..” sebuah suara menyadarkanku. “Bisa-bisanya habis bunuh orang lo nampilin muka lo tanpa rasa bersalah?” seorang perempuan dan seorang laki-laki menghampiriku. Laki-laki itu mencoba menahan perempuan itu.
“Mbak tolong yah omongannya dijaga. Tahu sopan santun kan?” Bayu yang maju. Aku gemetaran,
“Buat apa gue ngomong sopan sama orang yang nggak punya sopan santun dan otak kayak dia.” Perempuan itu menunjukku.
Kedua perempuan berdandan menor tadi menghampiriku. “Put, apa-apaan sih.” Kata salah seorang dari mereka.
“Diem lo berdua. Lo berdua sama aja kaya dia!” Suaranya membuat seluruh yang ada di ruangan memperhatikan kami.
“Putri, udah kali. Mei juga nyesel kok.”
“Nyesel kata lo? Dengan cara kabur dan pergi gitu aja kata lo nyesel?”
Aku memberanikan diri menatap perempuan yang dipanggil putri itu, “Saya nggak inget apa-apa. Tolong kasih tau saya, kenapa kamu bicara kayak gini sama saya?” aku memohon padanya, mengenggam tangannya, dengan kasar dia melepaskan,
“Jangan pura-pura lupa! Sok innocence banget lo sekarang! Lo nggak inget dulu kayak gimana?!” aku menggeleng. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud olehnya. “Denger yah Mei yang manis, yang merasa paling cantik dan paling oke. Lo tuh udah ngebunuh temen gue!”
Salah satu perempuan yang membelaku mendorongnya, “Put! Udah lah!”
Bayu membawaku keluar ruangan. Keluar dari kebisingan. Keluar dari perhatian banyak orang. “Kita pulang..”
Seseorang menarik tanganku.
***
“Kita nggak tau mesti beneran jujur sama lo atau nggak… karna…” Hera – nama salah satu perempuan berdandan menor, yang baru aku tahu namanya - menundukkan kepalanya, dia tampak ragu. Kami duduk di sebuah tempat makan cepat saji.
“Karna apa? Hera.. saya harus tau.. kasih tau saya..”
“Gue nggak boleh nyeritain apa-apa.. nyokap bokap lo yang nyuruh.. kita juga nggak boleh lagi sebenernya ngehubungin lo..” aku menatap Hera dan Tika bergantian. Ibu sampai segitunya menutupi semuanya. Menutupi kesalahan yang telah dibuat anaknya.
“Ceritain aja Her... Ibu saya nggak ada di sini kok..” aku masih berbicara sedikit formal padanya,
“Tiga tahun yang lalu, pas SMA kita nggak sengaja… ngebunuh orang Mei…” jelas Tika.
“Maksudnya?”
“Namanya Rara.. dia ketauan suka sama Bian, mantan pacar lo. Trus lo murka…” Tika berhenti bercerita, “…lo manggil dia, kita bawa dia ke kamar mandi. Lo ngintogerasi dia pake kekerasan Mei…” kejadian-kejadian yang di mimpi hadir dalam ingatanku,
***
“Lo suka sama Bian?! Dari kapan?! Kecentilan banget lo!” aku menarik rambutnya dengan keras, Rara menangis kesakitan. Aku mendengar diluar kamar mandi sudah ramai oleh anak-anak lain yang penasaran dengan apa yang terjadi. Aku menjatuhkannya ke lantai,
“Mei… ampun Mei… maafin gue…” Rara menangis, membuatku semakin geram mendengarnya. Aku menendang perutnya, lumayan keras. Hera dan Tika mengangkatnya, agar dia berdiri. Aku menarik lagi rambutnya, menamparnya berulang kali. Hingga hidungnya berdarah.
“Jadi lo ngerasa pantes deketin Bian? Lo lupa Bian siapanya gue?” aku menamparnya lagi. Aku geram sekali. Kesal dengan semua yang kutahu. Dia aku beri hati minta jantung,
“Mei… maafin gue Mei…” aku memukul keras kepalanya dengan telapak tanganku.
“Lo udah gue jadiin temen, tapi nusuk gue dari belakang? Diem-diem lo deketin Bian!” aku menamparnya sekali lagi, dia tergeletak jatuh. Tidak bergerak.
Tiba-tiba aku menerima pukulan, aku merasakan kepala ku terbentur sesuatu lumayan keras dan semua gelap.
***
“Lo sama Rara, sama-sama dibawa ke rumah sakit hari itu. Gue, Hera sama Putri kena skors.. Rara nggak selamat.. sedangkan lo, karena kepala lo terbentur wastafel akibat dipukul putri, pendarahan dan nyebabin lo amnesia Mei..”
“Orang tuanya Rara nggak terima, ngelaporin kita ke polisi, bokap gue sama bokap Hera ngejamin kita. Bokap lo juga, tapi dengan satu syarat, lo keluar dari sekolah. Makanya, keluarga lo pindah ke Semarang. Tapi, anak-anak taunya lo kabur, lari dari tanggung jawab.”
“Kalian?” tanyaku. Air mataku tidak bisa lagi dibendung, kepalaku juga sedikit sakit,
“Kita dapet apa yang udah kita kasih ke mereka – orang-orang yang kita bully.. gue sama Tika bener-bener nyoba bertahan di sekolah demi lo Mei.. demi tanggung jawab yang udah kita lakuin..”
Badanku gemetar. Kepalaku semakin sakit. “Aaakkkh!!” aku hanya bisa berteriak, samar-samar aku mendengar Bayu, Hera dan Tika memanggil-manggil namaku.
***
Aku terbangun, kulihat Bayu sudah berada disampingku. Tertidur. Aku mengelus kepalanya. Dia membuka matanya dan tersenyum padaku. Aku teringat lagi, air mataku jatuh lagi.
“Aku mau ke kamar mandi..” aku menatap wajahku sendiri di cermin. Wajah seorang pembunuh, penyiksa, memukuli hanya karena seorang laki-laki. “Aaakkkh!!!” air mataku tidak tertahan. Aku membanting gelas didekat wastafel. Aku terduduk, tangisku lebih keras dibanding sebelumnya.
Kurasakan tubuh Bayu memelukku erat. Aku memberontak, merasa tidak pantas untuk mendapatkan pelukan.
“lepasin aku Bay.. Jangan lagi pacaran sama aku.. aku pembunuh..” Bayu tetap tidak melepaskannya,
“Nggak Mei.. nggak akan.. aku disini buat kamu..”
“Aku nggak pantes buat kamu Bay.. aku mohon Bay.. pergi tinggalin aku..”
“Aku sayang sama kamu Mei.. aku sayang sama Mei yang sekarang..” Bayu membalikkan tubuhku, “Mei.. semua orang punya masa lalu yang buruk.. semua orang pernah ngelakuin kesalahan.. kamu seharusnya bersyukur Mei.. Tuhan ngasih kamu kesempatan buat memperbaikin semuanya..”
“Tapi aku gak pantes buat kamu, Bay..”
“Mei!” suaranya meninggi, “Aku milih kamu.. jadi, aku siap nerima kamu.. jangan pernah ngomong gitu.”  Bayu mendekapku. Memelukku. “Udah yah sayang.. Nanti tremor-nya kambuh lagi.”
“Yang pasti kamu harus jadi orang yang lebih baik lagi.. karna, orang yang mau lebih baik dari sebelumnya adalah orang yang belajar dari masa lalunya.” Kata-kata Bayu menenangkanku. Tangannya yang besar membelai rambutku, memberiku kenyamanan.

Aku berharap, Rara yang ada di surga sekarang mau memaafkan aku. Aku juga tidak akan lagi menyalahkan Ibu dan Papa yang melarangku untuk ingat semuanya, untuk berhubungan dengan orang-orang yang pernah hadir dalam masa lalu yang baru aku ingat. Aku tebus kesalahanku dengan menjadi orang yang lebih baik sekarang, bukan lagi jadi Mei yang dulu.***

Pengarang: SHanifa

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com