Selasa, 27 Januari 2015

The Bride and Her Groom #3

0

By: SHanifa_

Suasana makan malam hari ini terasa sepi, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang menyatu. Arina yang biasanya banyak bicara, kali ini hanya diam sambil mengaduk-aduk makanan yang sama sekali tidak disentuhnya. Naja yang menyadarinya sedari tadi, lebih memilih untuk tidak bertanya ada apa dengan istrinya ini, “Kamu kenyang? Makan apa tadi sama Dina?” Naja menanyakan hal lain. Arina menggelengkan kepalanya, “Trus kamu lagi diet?” lagi-lagi Arina menggelengkan kepalanya.
Arina tipikal orang yang selalu memikirkan perasaan orang lain dibandingkan perasaannya sendiri. Naja membereskan piringnya yang sudah kosong dan piring Arina yang tidak disentuh sama sekali makanannya.
Naja menarik tangan Arina untuk ikut duduk bersamanya di ruang televisi, tidak ada pemberontakan darinya. Naja menatapnya tajam dengan pandangan menginterogasi. Arina menundukkan kepalanya, menutupi matanya yang akan mengeluarkan bulir-bulir air mata yang tidak ingin ditunjukkan pada suaminya,
“Kamu kenapa?” Naja bukanlah orang yang suka berbasa-basi. Arina terus menjawab dengan menggelengkan kepalanya, “Tidak mungkin tidak ada apa-apa, Arina.” Naja mulai naik darah, karena sejak ia sampai di rumah Arina hanya diam saja, tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya yang kecil. Arina tidak dapat menutupi air matanya yang jatuh. Naja memeluknya, menenangkan istrinya. Ia sendiri tidak tahu penyebab mengapa istrinya menangis seperti ini, “Kamu rindu ayah sama ibu?” Arina terus menangis dan membalas pelukan Naja. Ia membalas pelukan Naja dengan erat, seakan tidak ingin Naja lepas sedikit pun darinya.
“Aku sayang kamu. Jangan tinggalin aku.” Akhirnya Arina mengeluarkan beberapa kata dari bibirnya. Namun, tangis Arina makin menjadi. Naja terus menenangkannya. Pelukan hangat Naja selalu membuat Arina lebih baik.
***
“Maaf Din, bisa tinggalin aku sama Mbak Orissa berdua saja?” wajah Arina berubah menjadi dingin saat Orissa mengunjunginya, Dina mengerti dan berpamitan pulang pada Arina,
“Jangan pernah goyah yah, Na.” Itu pesan Dina sebelum ia meninggalkan Orissa dan Arina sendirian. Orissa menilik setiap detail isi apartemen yang ditinggali mantan pacar beserta istrinya itu. Apartemen sederhana yang selalu terlihat rapi, karena barang-barang yang ada ditempatkan sesuai pada tempatnya. Arina mempersilakan Orissa duduk di kursi meja makan saat Arina membuatkannya teh hangat.
Kemudian Arina duduk di hadapannya. Tidak suka dengan cara pandang Orissa yang begitu menginvestigasi tempat yang ia tinggali, Arina langsung menanyakan maksud kedatangan Orissa, “Saya belum memperkenalkan diri, kenalkan..,” ia mengulurkan tangannya lagi seperti di depan pintu tadi, “Saya Orissa, mantan pacar Naja, yang masih sangat sayang pada Naja.” Senyumnya menyebalkan, sangat mirip nenek sihir yang ada di dongeng, ucap Arina dalam hati.
“Saya Arina, istri sah yang paling disayang sama Naja.” Arina membalasnya,
“Saya akan menjawab pertanyaan kamu. Maksud kedatangan saya kesini adalah saya ingin meminta Naja untuk kembali dengan saya,” Perempuan tidak tahu diri, lagi-lagi Arina bergumam sendiri, “Kamu tahu? Naja dulu sangat sayang pada saya,” Arina mulai geram,
“Mbak Orissa yang terhormat, apakah mbak punya sopan santun? Perempuan berpendidikan seperti Anda, tidak mungkin mengucapkan hal demikian buruknya pada orang yang sudah berkeluarga,” Arina menjawab dengan hati tenang dan penuh senyum walau pun ia sangat kesal melihat perempuan yang sedang duduk di hadapannya sekarang. Orissa masih tetap pada pendiriannya,
“Saya akan membuat Naja kembali pada saya. Jadi, kamu harus siap untuk kehilangan dia.”
“Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mbak Orissa, silakan Mbak Orissa yang terlalu banyak menonton sinetron keluar dari apartemen ini. Saya tidak menerima orang yang tidak tahu sopan santun seperti Anda.” Arina menaikkan nada suaranya, tegas. Orissa dengan angkuhnya keluar dari apartemen Arina. Begitu pintu apartemen terdengar kembali tertutup ia duduk lemas di lantai, menangis.
***
Arina meminum lagi hot chocolate yang disajikan Gusti untuknya. Tidak lama kemudian perempuan berperawakan cukup tinggi duduk di hadapannya, “Gus, aku mau hot mint tea yah.” Gusti mengacungkan ibu jarinya tanda mengerti. Riri dan Arina bertemu di cafĂ© tempat Gusti berkerja saat ia menyelesaikan Ujian Negaranya untuk mencari kegiatan yang lain.
“Kenapa Na?” Tanya Riri yang kini menjadi sahabatnya,
“Kemarin ada perempuan dewasa yang datang ke apartemen kami, Ri,” Arina tampak sangat gusar, “Aku tahu perempuan itu, dia yang selalu menghubungi Naja,” ia menghembuskan nafas penuh kesedihan,
Riri terdiam tidak mengatakan sepatah kata pun, karena ia beranggapan Arina tidak meminta pendapatnya, hingga Gusti mengantarkan pesanannya dan duduk di antara dua sahabatnya, “Menurutmu bagaimana, Ri?” tanya Arina kemudian.
“Jangan memutuskan sesuatu yang belum tentu benar, Na. Perempuan seperti itu hanya terobsesi pada suamimu.” Riri meminum hot mint tea-nya, lalu melanjutkan pendapatnya, “Coba kamu tanyakan pada Naja apa yang sebenarnya terjadi antara perempuan itu dengannya. Kalian sudah menikah, tidak ada yang perlu ditutupi,”
Arina menangis, Riri menenangkan Arina yang dihantui rasa takut dan penasaran, “Aku kembali kerja yah.” Gusti pamit dihadapan sahabat-sahabatnya. Ia tahu seharusnya ia ikut menenangkan Arina, tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapi Arina, “Na, kamu harus bilang yang sebenarnya sama Pak Naja. Kamu harus bilang apa yang sudah perempuan itu lakukan padamu kemarin,” Arina menggelengkan kepalanya,
“Aku masih terlalu takut untuk mengatakannya pada Naja. Aku nggak bisa, Ri.” Arina kembali menangis. Riri tidak bisa berkata apa-apa lagi.
***
Maret 2014
Riri bejalan ke arah toilet di sebuah restoran keluarga yang sedang ia kunjungi bersama keluarganya pada hari minggu. Langkahnya terhenti begitu melihat dua orang yang ia kenal. Ia memperhatikannya dengan baik, mengucek-ngucek matanya berharap salah lihat. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang sedikit gembul. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya, Arina dan Naja. Hari itu Arina dan Naja sedang makan siang bersama keluarganya dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan orang tua mereka.
Riri berdiam di lobby restoran bersama ibu dan adiknya sambil menunggu mobil yang sedang diambil ayahnya karena hari itu hujan. Riri masih terus berpikir ada hubungan apa antara Arina dan Naja, tiba-tiba perhatiannya teralihkan begitu mendengar suara wanita paruh baya di belakangnya, “Arina sayang, kalau Naja galak sama kamu beritahu Mama yah. Dengan segera mama akan memarahinya,” Arina tersenyum,
“Tenang saja Ma, Naja baik kok. Dia suami yang perhatian dan penuh kasih sayang, seperti suami-suami yang suka kita tonton di drama korea.” Riri refleks membalikkan badannya menghadap Arina yang persis ada di belakangnya. Arina membulatkan matanya, terkejut, sangat terkejut.
Keesokannya di sekolah, Arina terus mengikuti Riri yang sudah mengetahui antara Arina dan Naja. Dan Arina bersyukur, ternyata Riri tidak memberitahu satu orang pun di sekolah tentang apa yang dilihatnya semalam, “Ri, aku akan turuti apa maumu asal kamu tidak memberitahukan siapa pun. Kumohon.” Mereka berbicara berdua di taman sekolah, Riri menghela nafas.
“Arina, aku hanya mengagumi Pak Naja. Dia terlalu tua untuk kujadikan seorang pacar. Aku juga menghargai privasi antara kamu dan Pak Naja. Tapi sebagai permintaan tutup mulut, aku mau foto-foto pernikahanmu dan Pak Naja ya. Pasti Pak Naja terlihat sangat berkarisma saat ia memakai baju pengantin.” Arina terkejut dengan apa yang didengarnya, tapi ia jadi tahu bahwa ternyata Riri bukanlah orang yang menyebalkan seperti yang ia kira selama ini. Sejak itu, Arina dan Riri ditambah Gusti yang memang sahabat Arina sejak masuk SMU, bersahabat.
***
Arina berjalan lunglai dari halte Transjakarta menuju apartemennya. Lalu ia menghentikan langkahnya, terdiam di depan kedai kopi milik Naja. Ia melihat Naja dan Orissa sedang bersama. Arina mengambil telepon genggam dari dalam tas lalu menekan panggilan cepat. Dari kejauhan Naja melihat telepon genggamnya dan menolak untuk mengangkat telpon dari Arina. Arina mencoba menghubungi Naja lagi, namun Naja tetap melakukan hal yang sama.
Arina kembali berjalan. Langkahnya semakin lunglai. Ia masuk ke apartemennya dan terduduk lemas di depan pintu. Ia tidak dapat lagi menahan tangisnya yang keluar dari dua matanya. Ia masih tidak percaya, tidak biasanya Naja seperti itu. Naja tidak pernah sekali pun memutuskan telponnya. Tak lama, tanda pesan baru masuk,

From: Utama Pranaja
Maaf tidak mengangkat telpon darimu. Aku sedang ada urusan, sepertinya akan pulang terlambat. Makan duluan saja ya.

Tangisan Arina semakin menjadi. Ia kecewa pada Naja yang berbohong padanya. Pikiran Arina mulai liar memikirkan hal-hal negatif yang belum tentu benar. Ia sempat berpikir untuk merelakan suaminya untuk perempuan lain, bahkan Arina berpikir bahwa Naja menikahinya karena kasihan padanya. Rasa kasihan karena di tinggal kedua orang tuanya. Bahkan, hingga umur pernikahan yang hampir setengah tahun saja, Naja sama sekali belum menyentuhnya selayaknya pasangan yang sudah menikah.
Naja masuk ke dalam apartemennya, lampu sudah dimatikan. Padahal ini masih pukul delapan malam. Saat ia menyalakan lampu ia melihat bantal dan guling yang biasa ia pakai untuk tidur ada di sofa ruang tv begitu juga dengan bedcover. Naja mencoba membuka pintu kamar tidurnya, tapi terkunci. Ia mengetuk, “Aku tidur dikamar sebelah?” tidak ada jawaban. Naja duduk lemas di sofa sambil menghela nafas panjang lalu ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, berpikir keras apa yang terjadi pada istrinya sejak kemarin. Semua membuatnya sangat frustasi.
***
Arina menyiapkan sarapan untuk Naja dengan mulut tertutup sangat rapat, tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Naja mencoba untuk mengajaknya berbicara, namun tidak ada jawaban, “Kamu kenapa?” Naja mendekatinya saat ia sedang menggoreng telur. Tetap tidak ada jawaban. Telepon genggam Naja berbunyi, Naja segera mengangkatnya, “Ya?” Naja kemudian duduk di ruang tv, “Maaf aku tidak bisa,” Naja menghela nafas, “Apalagi?” suara Naja terdengar kesal. Arina menyuguhkan sarapan di meja makan, kemudian ia kembali ke kamar. Naja memperhatikannya, “Nanti aku hubungi lagi.” Naja masuk ke kamar, menghampiri istrinya yang terduduk di sofa di sudut kamar, sambil membaca majalah yang sama sekali tidak Arina pahami apa yang tertulis di dalamnya. Naja duduk di sebelahnya, Arina berusaha untuk tidak menggubrisnya,
“Kamu kenapa?” pertanyaan itu terlontar lagi dan lagi-lagi tidak ada jawaban, “Jawab aku Arina, aku bukan peramal yang kalau kamu diam saja, aku akan tahu apa yang salah,” masih tidak ada jawaban, “Jangan seperti anak kecil!” suara Naja meninggi, Arina menutup majalahnya, menatap Naja dengan kedua matanya yang akan mengeluarkan air mata yang entah keberapa kalinya sejak kemarin,

“Iya aku memang anak kecil. Lalu, mengapa kamu menikahiku?!” suara Arina tidak kalah tinggi. Naja terkejut, tidak biasanya Arina seemosi ini.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com