Mereka sampai di tempat makan pilihan
Kia tengah malam. Keenan sengaja memakirkan kendaraannya di bahu jalan.
“Abang aja yang beli. Kamu diem disini!”
Perintah pada adiknya,
“Kia nggak
akan lari kali, Bang…”
“Nggak
ada! Diem disini, atau nggak jadi
beli.”
“Iyaaa iyaaa… siap pak bos.” Kia
mengeluarkan telepon genggamnya dan menyalakannya.
Tempat pilihan Kia ternyata sesak
dipenuhi pembeli lain sehingga Keenan harus menunggu cukup lama.
“Soto
pecel ayam!” penjaga toko itu meneriakan pesanan Keenan dan langsung Keenan
ambil lalu berjalan keluar.
“Ini! Udah ya! Kita pulang sekarang.”
Keenan memberikan kantung keresek hitam pada Kia. Senyuman Kia menghangatkan
hati Keenan yang tadi sempat muram saat dirinya hilang.
“Eh tunggu!” Kia menahan tangan Kia yang
mau memindahan perseneleng mobilnya. “Kerupuk kuningnya mana?
“Ya ampun, Ki… kerupuk doang!”
“Iiih… kerupuk kuniiiing.” Kia merengek
lagi. Keenan pun menyerah.
“Iya udah tunggu.”
Keenan datang kembali ke warung kecil
tersebut dan membeli lima bungkus kerupuk kuning pesanan Kia. Dirinya baru saja
akan menghampiri Kia yang berada di dalam mobil saat sebuah mobil lain melaju
dengan sangat kencang dan sepertinya kehilangan kendali.
“Kia keluar, Ki!!” Keenan berteriak dan
berlari ke arah Kia namun seorang pemuda menariknya tepat saat mobil tersebut
menghantam mobil Keenan dengan sangat keras. Keenan dapat mendengar teriakan
Kia yang melengking hanya untuk sesaat. Mobilnya melaju dan berputar jauh. Kia
terlempar dari mobil melalui kaca depan, kini tubuhnya tergeletak di tengah
jalan yang kosong, bentuk kakinya aneh, kepala Kia berdarah. Keenan berjalan
lambat menghampiri tubuh Kia. Kenyataan membentur Keenan saat itu juga. tak
terpengaruh dengan warga yang berlarian berhamburan, mengejar mobil penabrak
atau mendekati adiknya, ia tidak peduli.
“Kiaaa…” Suara Keenan bergetar melihat
keadaan adiknya begitu mengenaskan. Tubuhnya sendiri limbung disamping tubuh
Kia. Takut untuk menyentuhnya. Ia dapat mendengar gumaman pengguna jalan untuk
memanggil ambulance dan rumah sakit.
Beruntung kantor polisi hanya bersebrangan dengan warung makanan yang didatangi
Keenan demi Kia.
“Mas, Mas, saya butuh kontak keluarga
korban, Mas.” Seorang polisi menyentuh bahunya.
“Saya kakaknya,” Keenan bergumam masih
memandangi kondisi adiknya. “Saya kakaknya!!” teriak Keenan saat pertanyaan itu
kembali terdengar. Keenan kembali fokus pada adiknya yang kini berani ia
sentuh. Kedua kakinya patah. Tapi yang paling membuat Keenan sakit adalah
keadaan kepala dan wajahnya. Dengan begitu banyak darah, Keenan tidak dapat
mengenali wajah adiknya sendiri.
“Saya minta Mas menghubungi keluarga Mas
sekarang. Sebentar lagi ambulance
datang.” Petugas kepolisian itu pun menjauh dari Keenan. Keenan tetap
memperhatikan adiknya. Sampai ambulance
datang. Bagi Keenan waktu berjalan begitu lambat walaupun hanya 10 menit
berlalu hingga akhirnya ambulance
datang. Mendengar suara ambulance
mengembalikan senyuman Keenan. Ia positif adiknya akan sehat kembali dan
memakan makanan pesanannya.
Keenan baru menghubungi keluarganya diperjalanan
menuju rumah sakit terdekat. Seperti yang dapat ia perkirakan, dr. Awang dan
dr. Kinanti panik bukan kepalang. Kedua orangtuanya bersama Yara datang setengah
jam setelah Keenan dan Kia tiba dirumah sakit. Kini Keenan hanya terdiam
seperti batu. Ia tidak merespon pertanyaan orang-orang disekitarnya. Tapi tak
banyak yang memaksa. Mereka semua mengerti tekanan yang sedang dialami Keenan.
“Keenan!” dr. Kinanti berlari kearahnya
dengan air mata yang sudah sangat deras di pipinya dan tubuhnya yang gemetar.
“Gimana ceritanya bisa gini?” Keenan hanya mengelengkan kepalanya dan menangis
kencang. Emosinya meledak saat itu. Yara dan dr. Kinanti memeluknya dan membisikan
kata-kata menenangkan. dr. Awang sendiri sudah memasuki ruang pemeriksaan Kia
dengan menggunakan senjata ‘Saya dokter’ kepada petugas rumah sakit. Ia merasa
wajib menangangi anaknya sendiri saat ini.
Pukul 4.00 dini hari dr. Awang keluar
dari ruang operasi dia melihat keluarganya masih menangis dengan Keenan yang
terlihat masih sangat shock, dr.
Awang menghampiri mereka dan berhenti tepat dihadapan keluarga kecilnya.
Keluarganya bereaksi saat melihat sang kepala keluarga berdiri dihadapan
mereka.
“Kia bisa kan, Pa?” Keenan yang bertanya. Namun bukan suara yang menjawabnya
melainkan Papanya yang sangat tenang itu ambruk terjatuh dan memeluk kedua
kakinya, menangis dan menjerit. Jawaban yang sangat jelas bagi keluarganya.
Keenan mundur dan kembali terjatuh di tempat duduk yang sebelumnya ia tempati.
Dunia dr. Kinanti pun menjadi gelap dan Yara yang juga sangat terpukul namun tetap
harus menguatkan keluarga kecil yang sangat ia cintai ini tetap tabah.
***
Keenan memeluk Kia dengan tiba-tiba dan
erat. Ia dapat mengingat kejadian itu sejelas saat ia mengalami lagi kejadian
itu. Kini air mata Keenan berjatuhan dengan deras.
“Maaf… maafin Abang, Dik.”
“Abang ikhlasin Kia ya sekarang…” Keenan
melepaskan pelukannya dan memegang wajah Kia dengan erat.
“Kamu tahu Abang sayang banget sama
kamu, kan?” Kia mengangguk. “Kamu
bangga sama Abang kan?” Kia kembali
mengangguk. “Kamu sayang sama Abang kan?”
“Banget, Bang. Kia sayang banget sama
Abang.”
“Kamu nggak marah Abang nggak
bisa ngeluarin kamu dari mobil?” Kia menggeleng. Keenan mengecup kening Kia dan
kembali memeluknya. “Demi Tuhan, Ki… Abang sayang banget sama kamu.” Keenan
kembali melepaskan pelukannya “Abang ikhlasin kamu, Ki… Abang ikhlas…” Keenan
mencium puncak kepala adiknya dan pergi meninggalkan kamarnya.
“Yara… anter saya ke makam Kia
sekarang.” Yara hanya menurut dan mengambil kunci mobilnya.
***
Disebuah pemakaman umum, sepasang pemuda
berjalan berdampingan, mata mereka sama-sama sembap. Dilihatnya seorang pria
paruh baya baru saja meletakan rangkaian bunga di makam yang mereka tuju.
“Pa…” dr. Awang membalikan tubuhnya,
dilihatnya anak sulung kebanggaannya dengan mata sembap. Keenan memeluk
papanya, ia membutuhkan topangan untuk tubuhnya sendiri. “Saya inget semuanya,
Pa. Saya ikhlasin Kia.”
“Terima kasih, nak. Papa bangga sama
kamu. Kamu lihat Kia sekarang.” Dr. Awang menunjuk makam dibelakangnya dan menepuk
pundak Keenan beberapa kali. Matanya kembali meneteskan air mata.
“Dik… maafin abang, dik…” hati Keenan
hancur melihat makam yang melindungi jasad adiknya. “Abang nggak bisa kuat buat Mama Papa… buat kamu… buat Yara… Maafin Abang
karena Abang nggak ngebolehin kamu
turun dari mobil buat beli makanan. Maafin Abang, Ki… maafin…” tangisnya
kembali pecah. Yara memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu Keenan dari
belakang. dr. Awang menepuk bahu Keenan yang kosong.
“Papa juga minta maaf, Ki… Papa nggak bisa nolong kamu malam itu… Papa
nentang kamu. Dan sekarang liat Papa, Ki… Papa gagal lagi.” Suara dr, Awang bergetar
air matanya jatuh satu per satu. “Papa gagal jagain Abang kamu… Papa nggak bisa bantuin dia… Papa minta maaf
sama kamu, Keen.” Keenan merangkul dr. Awang.
Tiga sosok berangkulan bersama
mengikhlaskan seorang anak manusia yang sudah lama meninggal. Meningatkan diri
mereka masing-masing bahwa keluarga mereka adalah yang terbaik.
***
19
tahun kemudian
Seorang gadis bertubuh mungil
memperhatikan display foto yang ada
dihadapannya. Dipandangnya foto-foto itu dengan lekat tanpa ia sadar seseorang
memperhatikannya dari jauh.
“Ternyata yang ulangtahun malah sibuk
liatin foto disini.”
“Eh Ayah…” Gadis itu menyandarkan
kepalanya dibahu Ayahnya
“Kenapa liatin foto tante kamu?”
“Kalung dari Ayah ini harusnya buat
tante Kia kan?” gadis itu memandang ayahnya dengan tatapan penuh kagum.
“Iya… tante kamu pengin kalung itu
sebelum dia meninggal. Umurnya waktu itu sama kayak kamu, 18 tahun.” Mereka
menikmati foto yang menunjukan kebahagiaan itu.
“Kia…” suara Yara terdengar bersamaan
dengan suara derap kaki yang mendekat. “Kalian disini rupanya… bentar lagi
tamunya pada datang, nak.” Yara mengelus rambut anaknya dengan lembut.
“Nanti Kia kesana, Bu. Masih mau sama
Ayah.”
“Ya sudah… tapi jangan terlalu lama ya.
Eyang-eyang kamu udah pada nungguin juga tuh.
Adik kamu juga udah nggak sabar
pengin ngasihin kadonya.” Yara memandang Keenan yang masih tersenyum namun
matanya memandang foto adiknya. “Keen, Mama Papa nyariin kamu, sayang.”
“Nanti aku kesana sama Kia, Ra.” Yara
mengangguk dan mencium pipi kedua manusia yang penting dalam hidupnya lalu
melangkah memberikan mereka privasi yang mereka butuhkan.
“Ayah pasti kangen banget sama tante Kia
ya… sampe namain anaknya sendiri sama kayak adiknya.” Keenan tertawa.
“Ibu sama Ayah namain kamu sama kaya
tante kamu, bukan hanya karena kita kangen sama adik Ayah.” Keenan meremas pundak
anak sulungnya.
“Tapi Kia yang ini nggak bisa kayak Kia adik Ayah, Yah… semirip apapun fisik kami.”
“Kia anak Ayah…” Keenan memutar tubuh
Kia jadi agar menghadap padanya. “Nggak
ada satupun dari keluarga kita yang mengharapkan kamu menjadi Kia adik Ayah…”
Keenan mengelus rambut gadisnya dengan penuh kelembutan. “Kamu mau tau alasan
kenapa Ibu sama Ayah namain kamu seperti adik Ayah?” Kia kecil mengangguk.
“Karena kamu mengisi kekosongan atas kepergian adik Ayah. Hidup Ayah, Ibu,
Eyang Awang, Eyang Anti kehilangan kesempurnaannya saat adik Ayah meninggal.”
Keenan menarik nafasnya dalam. “Tapi begitu kami gendong kamu, boom! Hidup kami sempurna lagi. Seperti
dulu saat adik Ayah masih ada. Kelakuan kamu, fisik kamu yang ternyata mirip
sama adik Ayah hanya berupa bonus… karena kami tahu, kamu bukan Kinaya
Anindior. Kamu adalah Kinaya Mahezifa Anarghya. Anak Ayah, bukan adik Ayah.”
Keenan mencium puncak kepala anak gadisnya dan memeluknya.
“Kia sayang sama Ayah.”
“Ayah jauh lebih sayang kamu.” Keenan
melepaskan pelukannya dari Kia. “Kamu susulin Ibu kamu gih! Kan ulangtahunnya
udah mau dimulai.” Kia mengangguk. “Selamat ulangtahun, Anakku.” Keenan kembali
mencium puncak kepala Kia dan membuat Kia mencium punggung tangan Ayahnya lalu
meninggalkan Ayahnya sendiri didepan memori baku tantenya.
Keenan kembali memandang wajah di foto
itu dan membalikan tubuhnya 180 derajat dengan perlahan. “Hai Kia…” ucapnya
pada sesosok gadis.
“Hai, Bang…” balas gadis itu.
“Abang kangen banget sama kamu, Ki…”
“Kia juga, Bang.” Keenan menunduk malu.
“Abang jaga diri ya… biar bisa jagain yang lainnya.” Keenan mengangguk. Berat rasanya
untuk tidak menghampiri dan memeluk sosok itu. Tapi Keenan tahu, itu semua
hanya ilusi yang dibuat oleh dirinya sendiri. Bukan nyata.
“Abang sayang kamu, Ki…”
“Abang juga tahu kan kalau Kia sayang banget sama Abang.” Kia tersenyum, “Jangan
lupa minum obatnya ya, Bang… Abang udah nggak
butuh Kia.” Keenan mengangguk dan meninggalkan sosok yang mengikatnya dimasa
lalu, berjalan menuju masanya kini dan masanya yang akan datang.***
0 komentar:
Posting Komentar