Senin, 19 Januari 2015

Oblivious #6 (Finale)

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

Mereka sampai di tempat makan pilihan Kia tengah malam. Keenan sengaja memakirkan kendaraannya di bahu jalan.
“Abang aja yang beli. Kamu diem disini!” Perintah pada adiknya,
“Kia nggak akan lari kali, Bang…”
Nggak ada! Diem disini, atau nggak jadi beli.”
“Iyaaa iyaaa… siap pak bos.” Kia mengeluarkan telepon genggamnya dan menyalakannya.
Tempat pilihan Kia ternyata sesak dipenuhi pembeli lain sehingga Keenan harus menunggu cukup lama.
“Soto pecel ayam!” penjaga toko itu meneriakan pesanan Keenan dan langsung Keenan ambil lalu berjalan keluar.
“Ini! Udah ya! Kita pulang sekarang.” Keenan memberikan kantung keresek hitam pada Kia. Senyuman Kia menghangatkan hati Keenan yang tadi sempat muram saat dirinya hilang.
“Eh tunggu!” Kia menahan tangan Kia yang mau memindahan perseneleng mobilnya. “Kerupuk kuningnya mana?
“Ya ampun, Ki… kerupuk doang!”
“Iiih… kerupuk kuniiiing.” Kia merengek lagi. Keenan pun menyerah.
“Iya udah tunggu.”
Keenan datang kembali ke warung kecil tersebut dan membeli lima bungkus kerupuk kuning pesanan Kia. Dirinya baru saja akan menghampiri Kia yang berada di dalam mobil saat sebuah mobil lain melaju dengan sangat kencang dan sepertinya kehilangan kendali.
“Kia keluar, Ki!!” Keenan berteriak dan berlari ke arah Kia namun seorang pemuda menariknya tepat saat mobil tersebut menghantam mobil Keenan dengan sangat keras. Keenan dapat mendengar teriakan Kia yang melengking hanya untuk sesaat. Mobilnya melaju dan berputar jauh. Kia terlempar dari mobil melalui kaca depan, kini tubuhnya tergeletak di tengah jalan yang kosong, bentuk kakinya aneh, kepala Kia berdarah. Keenan berjalan lambat menghampiri tubuh Kia. Kenyataan membentur Keenan saat itu juga. tak terpengaruh dengan warga yang berlarian berhamburan, mengejar mobil penabrak atau mendekati adiknya, ia tidak peduli.
“Kiaaa…” Suara Keenan bergetar melihat keadaan adiknya begitu mengenaskan. Tubuhnya sendiri limbung disamping tubuh Kia. Takut untuk menyentuhnya. Ia dapat mendengar gumaman pengguna jalan untuk memanggil ambulance dan rumah sakit. Beruntung kantor polisi hanya bersebrangan dengan warung makanan yang didatangi Keenan demi Kia.
“Mas, Mas, saya butuh kontak keluarga korban, Mas.” Seorang polisi menyentuh bahunya.
“Saya kakaknya,” Keenan bergumam masih memandangi kondisi adiknya. “Saya kakaknya!!” teriak Keenan saat pertanyaan itu kembali terdengar. Keenan kembali fokus pada adiknya yang kini berani ia sentuh. Kedua kakinya patah. Tapi yang paling membuat Keenan sakit adalah keadaan kepala dan wajahnya. Dengan begitu banyak darah, Keenan tidak dapat mengenali wajah adiknya sendiri.
“Saya minta Mas menghubungi keluarga Mas sekarang. Sebentar lagi ambulance datang.” Petugas kepolisian itu pun menjauh dari Keenan. Keenan tetap memperhatikan adiknya. Sampai ambulance datang. Bagi Keenan waktu berjalan begitu lambat walaupun hanya 10 menit berlalu hingga akhirnya ambulance datang. Mendengar suara ambulance mengembalikan senyuman Keenan. Ia positif adiknya akan sehat kembali dan memakan makanan pesanannya.
Keenan baru menghubungi keluarganya diperjalanan menuju rumah sakit terdekat. Seperti yang dapat ia perkirakan, dr. Awang dan dr. Kinanti panik bukan kepalang. Kedua orangtuanya bersama Yara datang setengah jam setelah Keenan dan Kia tiba dirumah sakit. Kini Keenan hanya terdiam seperti batu. Ia tidak merespon pertanyaan orang-orang disekitarnya. Tapi tak banyak yang memaksa. Mereka semua mengerti tekanan yang sedang dialami Keenan.
“Keenan!” dr. Kinanti berlari kearahnya dengan air mata yang sudah sangat deras di pipinya dan tubuhnya yang gemetar. “Gimana ceritanya bisa gini?” Keenan hanya mengelengkan kepalanya dan menangis kencang. Emosinya meledak saat itu. Yara dan dr. Kinanti memeluknya dan membisikan kata-kata menenangkan. dr. Awang sendiri sudah memasuki ruang pemeriksaan Kia dengan menggunakan senjata ‘Saya dokter’ kepada petugas rumah sakit. Ia merasa wajib menangangi anaknya sendiri saat ini.
Pukul 4.00 dini hari dr. Awang keluar dari ruang operasi dia melihat keluarganya masih menangis dengan Keenan yang terlihat masih sangat shock, dr. Awang menghampiri mereka dan berhenti tepat dihadapan keluarga kecilnya. Keluarganya bereaksi saat melihat sang kepala keluarga berdiri dihadapan mereka.
“Kia bisa kan, Pa?” Keenan yang bertanya. Namun bukan suara yang menjawabnya melainkan Papanya yang sangat tenang itu ambruk terjatuh dan memeluk kedua kakinya, menangis dan menjerit. Jawaban yang sangat jelas bagi keluarganya. Keenan mundur dan kembali terjatuh di tempat duduk yang sebelumnya ia tempati. Dunia dr. Kinanti pun menjadi gelap dan Yara yang juga sangat terpukul namun tetap harus menguatkan keluarga kecil yang sangat ia cintai ini tetap tabah.
***
Keenan memeluk Kia dengan tiba-tiba dan erat. Ia dapat mengingat kejadian itu sejelas saat ia mengalami lagi kejadian itu. Kini air mata Keenan berjatuhan dengan deras.
“Maaf… maafin Abang, Dik.”
“Abang ikhlasin Kia ya sekarang…” Keenan melepaskan pelukannya dan memegang wajah Kia dengan erat.
“Kamu tahu Abang sayang banget sama kamu, kan?” Kia mengangguk. “Kamu bangga sama Abang kan?” Kia kembali mengangguk. “Kamu sayang sama Abang kan?”
“Banget, Bang. Kia sayang banget sama Abang.”
“Kamu nggak marah Abang nggak bisa ngeluarin kamu dari mobil?” Kia menggeleng. Keenan mengecup kening Kia dan kembali memeluknya. “Demi Tuhan, Ki… Abang sayang banget sama kamu.” Keenan kembali melepaskan pelukannya “Abang ikhlasin kamu, Ki… Abang ikhlas…” Keenan mencium puncak kepala adiknya dan pergi meninggalkan kamarnya.
“Yara… anter saya ke makam Kia sekarang.” Yara hanya menurut dan mengambil kunci mobilnya.
***
Disebuah pemakaman umum, sepasang pemuda berjalan berdampingan, mata mereka sama-sama sembap. Dilihatnya seorang pria paruh baya baru saja meletakan rangkaian bunga di makam yang mereka tuju.
“Pa…” dr. Awang membalikan tubuhnya, dilihatnya anak sulung kebanggaannya dengan mata sembap. Keenan memeluk papanya, ia membutuhkan topangan untuk tubuhnya sendiri. “Saya inget semuanya, Pa. Saya ikhlasin Kia.”
“Terima kasih, nak. Papa bangga sama kamu. Kamu lihat Kia sekarang.” Dr. Awang menunjuk makam dibelakangnya dan menepuk pundak Keenan beberapa kali. Matanya kembali meneteskan air mata.
“Dik… maafin abang, dik…” hati Keenan hancur melihat makam yang melindungi jasad adiknya. “Abang nggak bisa kuat buat Mama Papa… buat kamu… buat Yara… Maafin Abang karena Abang nggak ngebolehin kamu turun dari mobil buat beli makanan. Maafin Abang, Ki… maafin…” tangisnya kembali pecah. Yara memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu Keenan dari belakang. dr. Awang menepuk bahu Keenan yang kosong.
“Papa juga minta maaf, Ki… Papa nggak bisa nolong kamu malam itu… Papa nentang kamu. Dan sekarang liat Papa, Ki… Papa gagal lagi.” Suara dr, Awang bergetar air matanya jatuh satu per satu. “Papa gagal jagain Abang kamu… Papa nggak bisa bantuin dia… Papa minta maaf sama kamu, Keen.” Keenan merangkul dr. Awang.
Tiga sosok berangkulan bersama mengikhlaskan seorang anak manusia yang sudah lama meninggal. Meningatkan diri mereka masing-masing bahwa keluarga mereka adalah yang terbaik.
***
19 tahun kemudian
Seorang gadis bertubuh mungil memperhatikan display foto yang ada dihadapannya. Dipandangnya foto-foto itu dengan lekat tanpa ia sadar seseorang memperhatikannya dari jauh.
“Ternyata yang ulangtahun malah sibuk liatin foto disini.”
“Eh Ayah…” Gadis itu menyandarkan kepalanya dibahu Ayahnya
“Kenapa liatin foto tante kamu?”
“Kalung dari Ayah ini harusnya buat tante Kia kan?” gadis itu memandang ayahnya dengan tatapan penuh kagum.
“Iya… tante kamu pengin kalung itu sebelum dia meninggal. Umurnya waktu itu sama kayak kamu, 18 tahun.” Mereka menikmati foto yang menunjukan kebahagiaan itu.
“Kia…” suara Yara terdengar bersamaan dengan suara derap kaki yang mendekat. “Kalian disini rupanya… bentar lagi tamunya pada datang, nak.” Yara mengelus rambut anaknya dengan lembut.
“Nanti Kia kesana, Bu. Masih mau sama Ayah.”
“Ya sudah… tapi jangan terlalu lama ya. Eyang-eyang kamu udah pada nungguin juga tuh. Adik kamu juga udah nggak sabar pengin ngasihin kadonya.” Yara memandang Keenan yang masih tersenyum namun matanya memandang foto adiknya. “Keen, Mama Papa nyariin kamu, sayang.”
“Nanti aku kesana sama Kia, Ra.” Yara mengangguk dan mencium pipi kedua manusia yang penting dalam hidupnya lalu melangkah memberikan mereka privasi yang mereka butuhkan.
“Ayah pasti kangen banget sama tante Kia ya… sampe namain anaknya sendiri sama kayak adiknya.” Keenan tertawa.
“Ibu sama Ayah namain kamu sama kaya tante kamu, bukan hanya karena kita kangen sama adik Ayah.” Keenan meremas pundak anak sulungnya.
“Tapi Kia yang ini nggak bisa kayak Kia adik Ayah, Yah… semirip apapun fisik kami.”
“Kia anak Ayah…” Keenan memutar tubuh Kia jadi agar menghadap padanya. “Nggak ada satupun dari keluarga kita yang mengharapkan kamu menjadi Kia adik Ayah…” Keenan mengelus rambut gadisnya dengan penuh kelembutan. “Kamu mau tau alasan kenapa Ibu sama Ayah namain kamu seperti adik Ayah?” Kia kecil mengangguk. “Karena kamu mengisi kekosongan atas kepergian adik Ayah. Hidup Ayah, Ibu, Eyang Awang, Eyang Anti kehilangan kesempurnaannya saat adik Ayah meninggal.” Keenan menarik nafasnya dalam. “Tapi begitu kami gendong kamu, boom! Hidup kami sempurna lagi. Seperti dulu saat adik Ayah masih ada. Kelakuan kamu, fisik kamu yang ternyata mirip sama adik Ayah hanya berupa bonus… karena kami tahu, kamu bukan Kinaya Anindior. Kamu adalah Kinaya Mahezifa Anarghya. Anak Ayah, bukan adik Ayah.” Keenan mencium puncak kepala anak gadisnya dan memeluknya.
“Kia sayang sama Ayah.”
“Ayah jauh lebih sayang kamu.” Keenan melepaskan pelukannya dari Kia. “Kamu susulin Ibu kamu gih! Kan ulangtahunnya udah mau dimulai.” Kia mengangguk. “Selamat ulangtahun, Anakku.” Keenan kembali mencium puncak kepala Kia dan membuat Kia mencium punggung tangan Ayahnya lalu meninggalkan Ayahnya sendiri didepan memori baku tantenya.
Keenan kembali memandang wajah di foto itu dan membalikan tubuhnya 180 derajat dengan perlahan. “Hai Kia…” ucapnya pada sesosok gadis.
“Hai, Bang…” balas gadis itu.
“Abang kangen banget sama kamu, Ki…”
“Kia juga, Bang.” Keenan menunduk malu. “Abang jaga diri ya… biar bisa jagain yang lainnya.” Keenan mengangguk. Berat rasanya untuk tidak menghampiri dan memeluk sosok itu. Tapi Keenan tahu, itu semua hanya ilusi yang dibuat oleh dirinya sendiri. Bukan nyata.
“Abang sayang kamu, Ki…”


“Abang juga tahu kan kalau Kia sayang banget sama Abang.” Kia tersenyum, “Jangan lupa minum obatnya ya, Bang… Abang udah nggak butuh Kia.” Keenan mengangguk dan meninggalkan sosok yang mengikatnya dimasa lalu, berjalan menuju masanya kini dan masanya yang akan datang.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com