Selasa, 06 Januari 2015

Reuni #3 (Finale)

0

By: SHanifa_

Aku mewarnai icon acara yang sudah jadi kukerjakan dalam waktu semalam. Kak Krisna menghampiriku dan melihat apa yang sedang aku kerjakan. Gambar angka tujuhbelas yang dipadukan dengan berbagai karakter perlombaan didalamnya.
“Aya, udah beres?” tanya kak Krisna yang menyadarkanku akan kehadirannya. Aku mengangguk, “lumayan juga gambarnya. Bisa lo gambar ulang pake komputer?” tanyanya
“Saya sih kurang mahir kalo pake komputer kak.” Kak Krisna sedikit berpikir solusinya, lalu menyapukan pandangannya ke seluruh ruang osis
“Arta! Sini!” Ia memanggil salah satu staff nya, “Ada nggak sih warnet yang buka jasa nggambar pake komputer?” Aku memperhatikan mereka berdua,
“Ada. Di daerah Perum. Yang penting gambarnya udah beres nanti gue kasih ke sana.”
“Oke bagus. Aya gambarnya dikit lagi yah? Selesai rapat kasihin ke Arta aja yaa.” Aku mengangguk mengerti.
Rapat sudah dimulai dan Kak Naya memintaku untuk menjelaskan arti dari gambar yang sudah aku buat. Ya tuhan, jantungku tidak bisa berhenti berdegub, tanganku gemetar. Baru kali ini aku menjadi pusat perhatian orang. Aku melihat Dinar yang duduk dipojokan menyemangati ku. Aku mulai menjelaskan satu per satu dari gambar yang aku buat dengan suara yang terdengar jelas sangat gemetaran. Hingga aku menyudahinya, semua memberiku tepuk tangan atas hasil karyaku, “oke.. ada yang kurang setuju atau ada yang mau menambahkan?” tanya kak Naya, keheningan menyelimuti ruang osis, “kalo nggak ada yang jawab gue anggep lo semua setuju. Makasih yaa Aya udah ngebantu divisi publikasi.” Aku tersenyum dan buru-buru kembali ketempat dudukku.
***
Aku menengok jam yang dipasang di tangan kiriku. Jarum jam panjang menunjuk ke arah lima dan jarum pendeknya menunjuk ke arah enam. Aku langsung membereskan notebook dan memasukkannya ke dalam tas. Secepat mungkin aku sudah harus sampai dirumah, aku sudah berjanji mengajak Hagumi ke kedai es krim dekat rumah. Jalanku terhenti didepan pintu, postur tubuh dan wajah yang tak asing lagi bagiku menghadang pintu masuk, aku mencoba menghindar, ia terus menghalangi, aku menghela nafas panjang,
“Ada apa Dinar?” tanyaku
“Lo inget nama gue?” ia malah balik bertanya padaku, dan mukanya terlihat senang,
“Dinar, gue harus cepet pulang. Udah ada janji.” Kutegaskan padanya bahwa aku sedang diburu waktu
“Gue anter, gue lagi bawa motor. Ya?” wajahnya penuh harap. Aku hanya bisa mengangguk, untuk kali ini aku mengalah karna aku harus segera sampai dirumah secepat mungkin.
Aku menatap punggungnya yang kurus, aku tersenyum. Aku mulai sedikit menganggumi nya setelah apa yang ia lakukan padaku akhir-akhir ini. Dari mulai menemaniku setiap pagi, menemaniku menjadi panitia, dan menyemangatiku. Tapi aku masih terlalu gengsi untuk sekedar mengatakan “terima kasih” padanya. Padahal itu adalah hal yang sangat sepele.
“Itu Nar, berenti di depan gerbang yang warna item itu.” Dinar menghentikan motornya didepan rumahku. “Mau mampir?” aku sudah mulai berani menawarkan sesuatu padanya
“Boleh?” ia malah berbalik bertanya padaku. Aku menjawabnya dengan anggukan. Ku buka pintu gerbang rumah. Dan mempersilahkan Dinar untuk duduk di teras dan aku masuk untuk membuatkan minum. “Ante…” sebuah suara yang cempreng memanggilku dan memelukku. Hagumi mengikuti saat aku mengantarkan minum untuk Dinar. Dinar menatap  Hagumi yang bersembunyi di balik badanku karna malu dengan mata yang penuh kehangatan. ia berjongkok dan mencoba mengobrol dengan Hagumi.
“Hai.. Siapa namanya?” Tanya Dinar hangat. Hagumi malah semakin menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakiku. Dinar mencari-cari sesuatu dalam kantung celananya, dan mengeluarkan lollipop rasa jeruk, diberikannya kepada Hagumi yang masih gengsi untuk mengambil lollipop yang diberikan untuknya.
“Itu ditanya sama Om nya..” kataku yang kemudian duduk dan memangku Hagumi yang masih berumur dua tahun. Hagumi masih menyembunyikan wajahnya di bahuku, “Namanya Hagumi yaa..” jawabku.
“Halo Hagumi…” Dinar menyapa Hagumi yang kali ini berani untuk mengintip sedikit wajah orang yang menyapanya.
“Gumi…” dengan suara yang kecil ia menjawab.
“Halo Gumi-chan…” Dinar menyapa Hagumi lagi dan memberikan lollipop miliknya. Sekarang tanpa sungkan Hagumi mengambilnya, tapi ia malah turun dari pangkuanku dan berlari masuk ke dalam rumah. “Dia yang selalu bikin lo pulang cepet?” tanya Dinar padaku. Membuka pembicaraan antara kami. Aku mengangguk, “Anak lo?” ledeknya. Aku mengangguk lagi. Ia membulatkan matanya yang memiliki kantung mata yang cukup besar. Aku tertawa.
“Dia udah gue anggep kaya anak gue. Dia keponakan gue Dinar.” jawabku. Dinar mengangguk tanda mengerti. Kemudian Hagumi keluar lagi dan menghampiri kami berdua. Memelukku karna ternyata masih malu bertemu dengan Dinar,
“Gumi suka main?” tanya Dinar kepada Hagumi. Hagumi menunjukkan wajahnya kepada Dinar dan mengangguk, “Hari sabtu malam pergi sama om dan tante Ayasha mau?” aku menatapnya bingung dan kaget. Hagumi menjawabnya dengan anggukan. “Oke.. gue pamit pulang yah Ayasha…” ia berdiri dan pamit pulang tanpa mendengar jawabanku, saat aku akan berbicara mengenai hal sabtu malam itu ia langsung menepis, “Eits.. harus mau.. gue jemput jam tujuh yaa.. dadah Gumi-chan..” ia pun pergi meninggalkan aku yang masih saja berdiri kebingungan dengan apa yang baru saja ia katakan.
***
Dinar menepati janjiya. Pukul tujuh ia sudah sampai dirumahku. Aku yang hari ini memakai celana jeans dan kaos bergambar micky mouse merasa malu bertemu dengannya. Bunda menemui Dinar di ruang tamu, mengajaknya berbicara dan mereka berdua tampak begitu akrab saat aku merapikan dandanan Hagumi. Hagumi yang kali ini sudah mulai mengenal wajah Dinar mau digandeng hingga ke mobil,
“Kami berangkat yah bun..” aku pamit pada Bunda diikuti Dinar.
“Jaga dua cewek ini yaa Dinar.. jangan pulang malam-malam.. paling malam pukul sepuluh..” Bunda memberikan pesannya kepada Dinar yang membalasnya dengan gaya prajurit yang sedang hormat kepada komandannya. Bunda tertawa dan mencium kening Hagumi yang hari ini rambutnya aku kuncir dua dan memakai celana pendek yang dipadukan dengan kaos bergambar Donald Duck.
Empat puluh lima menit kemudian kami sampai di tujuan yang Dinar tidak ingin beritahu karna ia bilang ini adalah sebuah kejutan. Dinar mengajak kami ke pasar malam, ini biasa tapi membuatku senang, begitu pula dengan Hagumi. Dinar menggendong Hagumi yang sekarang sudah tidak malu dengannya. Kami naik hampir semua wahana. Dan Dinar benar-benar seperti seorang ayah yang sedang mengajak anaknya main. Aku senang melihat keakraban mereka berdua. “Maaf yah cuma bisa ngajak ke pasar malam..” aku membalasnya dengan senyuman.
Diperjalanan pulang mobil terasa sepi, Hagumi sudah tertidur karna kelelahan. Hening menghampiri kami. Jantungku berdegub sangat kencang hingga sepertinya Dinar dapat mendengarnya, ia pun memulai pembicaraan antara kami. Selalu Dinar yang memulai,
“Gumi berapa tahun?” tanyanya
“Dua tahun..” aku menundukkan kepalaku, “Ibunya meninggal tahun lalu karna kecelakaan pesawat pas lagi mau pulang ke Jepang.” Begitu saja aku menceritakan tentang Hagumi padanya, padahal aku adalah tipikal orang yang tidak mudah menceritakan hal pribadi pada orang lain, namun berbeda saat aku menceritakannya pada Dinar, aku merasa percaya padanya, “Ayahnya, kakaku, sejak istrinya meninggal lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja di rumah sakit..” aku seperti ingin menangis jika sudah menceritakan tentang keadaan Hagumi, “itulah kenapa aku banyak menghabiskan waktu untuk Hagumi dibandingin sama Saka atau di sekolah.. Hagumi kesepian Nar, dia kangen ayah sama ibunya..”
“Jangan diterusin… gue ngerti keadaannya…” Dinar terlihat dewasa, “Gue bisa liat kok rasa cinta lo ke Gumi…”
Dinar yang awalnya aku pikir hanyalah seorang anak SMA yang tidak dewasa dan menyebalkan ternyata ia adalah orang yang dewasa untuk seukuran anak SMA. Ia tak pernah sekalipun membahas tentang keadaan Hagumi sejak aku menceritakan padanya, ia malah sering menitipkan boneka atau makanan kecil untuk Hagumi padaku dan mengajaknya lagi untuk sekedar makan es krim di kedai dekat rumah.
***
Aku menatap setiap butir hujan yang jatuh diluar rumah lewat jendela kamarku. Mencoba berpikir tentang apa yang membuat aku dan Dinar tiba-tiba menjadi jauh bahkan ia menganggap seperti tidak pernah mengenalku dan itu membuat tanda tanya besar dalam benakku. Aku senang dekat dengannya, dan hingga saat ini aku masih mengingat pesan yang ia berikan padaku, “Jangan pernah punya pikiran orang nggak akan suka sama lo atau sama kepribadian lo, orang nggak akan tau lo orangnya kaya apa kalo lo nggak mempersilahkan mereka untuk kenal sama lo. Memulai duluan nggak akan bikin lo rugi.
Kalimat itu terus terngiang di benakku, kalimat itu juga yang membuatku bertekad untuk berubah dan lebih terbuka pada orang lain. Dinar, kamu dimana? Kamu apa kabar? Dinar aku belum sempat mengucapkan rasa terima kasihku untukmu. Banyak yang mau aku ceritakan padamu. Tentang Hagumi yang sudah mulai masuk sekolah, tentang aku yang sudah tidak seperti orang yang anti-sosial. Hagumi juga tidak berhenti menanyakanmu. Dinar, apa yang salah sama kita? Apa aku waktu itu terlalu berharap bahwa kita bisa lebih dari sekedar teman?.
Ya Tuhan.. Aku rindu Dinar. Aku rindu tingkahnya yang menyebalkan, aku rindu harum tubuhnya, aku rindu suaranya yang berat, aku rindu suara tawanya, aku rindu saat kami sekedar bertukar cerita di taman belakang sekolah, aku rindu saat ia memanggilku dengan nama depanku, “Ayasha...” hanya dia yang memanggilku dengan nama itu. Aku menghela nafas panjang, aku lakukan berulang kali agar aku tidak menangis lagi. Aku cukup menangis untuk alasan yang aku sendiri tidak tahu mengapa Dinar jauh dariku, cukup empat tahun lalu aku menangisi hal itu.
Dinar, nama itu selalu menjadi alasan bagiku untuk tidak membuka hatiku untuk orang lain, seperti Rengga yang aku tolak karna aku masih terbayang-bayang perasaanku pada Dinar. Teman laki-laki pertamaku. Teman laki-laki pertama yang membuatku tersenyum.
***
Aku melangkahkan kakiku ke tanah yang sudah lama tidak aku datangi walaupun hanya sekedar main dan menyapa guru-guruku saat SMA. Suasana sudah mulai ramai. Banyak juga alumni yang datang. Hingga saat ini aku tidak mendengar kabar Dinar akan datang atau tidak ke reuni akbar ini. Seseorang menepuk pundakku, dengan cepat aku berbalik. Aku melihat seorang perempuan dengan rambut se-bahu dan kacamatanya dengan frame bulat berwarna hitam. Kami menjerit dan saling berpelukan melepas rindu.
Saka yang selama ini kuliah di Jogja dan kami hanya bisa bertemu setahun sekali memiliki banyak perubahan. Dulu yang ia yang sedikit tomboy kini terlihat feminim. Aku memeluknya erat, seakan tidak ingin jauh dari sahabatku ini. Tanpa sadar kami menitikkan air mata karna sudah berbulan-bulan tidak bertemu, “katanya nggak akan dateng.. rese juga lo Ka..” protesku padanya sambil menghapus air mata yang menghalangi pandanganku
“Kan kejutan..” jawabnya lalu tersenyum dan memeluk ku lagi,
“Kapan sampe? Tau gitu kan gue jemput lo di Bandara..” aku melepaskan pelukannya,
“Tadi siang hehe..” nyengir kudanya masih seperti dulu, dengan mulutnya yang lebar aku bisa melihat giginya yang rapih.
“Benci deh gue kalo lo udah sok-sokan surprise kaya sekarang..”
“Oya Ya.. gue tadi di parkiran kaya liat Dinar deh..” aku langsung membulatkan mataku.
“Serius?” jantungku langsung berdegub
“Serius..” Saka menunjukkan wajah yang serius. Aku hanya bisa diam, dan pikiranku malah jadi tidak fokus pada acara reuni yang sedang berlangsun.
Aku duduk di belakang panggung, untuk menghubungi beberapa pengisi acara. Hingga obrolan beberapa temanku membuatku penasaran untuk terus mendengarkannya,
“Dinar dateng?” Tanya Ferly
“Dateng kok.. tadi gue liat dia lagi ngobrol sama Sandy.” Jantungku berdegub lagi. Ia datang, tapi tidak sedikit pun aku melihat batang hidungnya. Tiba-tiba seseorang berbicara dari Hate dan menyadarkan lamunanku,
“Aya.. Aya... copy.”
“Gue denger.. ada apa? copy” jawabku,
“Lo disuruh dateng ke taman belakang sekolah buat briefing tambahan sama Sandy..” kata Una yang juga staff acara.
“Yang ngatur belakang panggung siapa?”
“Gue menuju kesana.” Setelah mendengar apa yang dikatakan Una aku pergi ke taman belakang tanpa curiga apapun. Taman belakang sekolah masih seperti dulu, namun ternyata malam hari terlihat lebih indah walaupun hanya diterangi oleh beberapa lampu taman. Saat aku sampai Sandy belum ada, dan aku memilih untuk duduk di ayunan tempat favoritku.
Dari kejauhan aku melihat seseorang berjalan ke arah ku. Perawakannya tinggi karna gelap aku tidak bisa memastikan siapa yang menuju ke arahku. Tapi sudah dapat dipastikan itu Sandy karna dia yang menyuruhku ke sini. Lelaki itu berdiri dihadapanku, wajah yang aku kenal dan yang membuat tumpukan rindu yang selama ini tidak tahu aku harus apakan mengagetkanku, dan hanya bisa diam hingga ia mengeluarkan suara berat yang selama ini ingin aku dengar lagi, “Apa kabar Ayasha? Lo masih sendiri kan?” aku tersenyuman senang,


“Baik. Apa kabar Dinar?”***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com