Aku
mewarnai icon acara yang sudah jadi
kukerjakan dalam waktu semalam. Kak Krisna menghampiriku dan melihat apa yang
sedang aku kerjakan. Gambar angka tujuhbelas yang dipadukan dengan berbagai
karakter perlombaan didalamnya.
“Aya,
udah beres?” tanya kak Krisna yang menyadarkanku akan kehadirannya. Aku
mengangguk, “lumayan juga gambarnya. Bisa lo gambar ulang pake komputer?”
tanyanya
“Saya
sih kurang mahir kalo pake komputer kak.” Kak Krisna sedikit berpikir
solusinya, lalu menyapukan pandangannya ke seluruh ruang osis
“Arta!
Sini!” Ia memanggil salah satu staff nya, “Ada nggak sih warnet yang buka jasa nggambar pake komputer?” Aku
memperhatikan mereka berdua,
“Ada.
Di daerah Perum. Yang penting gambarnya udah beres nanti gue kasih ke sana.”
“Oke
bagus. Aya gambarnya dikit lagi yah? Selesai rapat kasihin ke Arta aja yaa.”
Aku mengangguk mengerti.
Rapat
sudah dimulai dan Kak Naya memintaku untuk menjelaskan arti dari gambar yang
sudah aku buat. Ya tuhan, jantungku tidak bisa berhenti berdegub, tanganku
gemetar. Baru kali ini aku menjadi pusat perhatian orang. Aku melihat Dinar
yang duduk dipojokan menyemangati ku. Aku mulai menjelaskan satu per satu dari
gambar yang aku buat dengan suara yang terdengar jelas sangat gemetaran. Hingga
aku menyudahinya, semua memberiku tepuk tangan atas hasil karyaku, “oke.. ada
yang kurang setuju atau ada yang mau menambahkan?” tanya kak Naya, keheningan
menyelimuti ruang osis, “kalo nggak
ada yang jawab gue anggep lo semua setuju. Makasih yaa Aya udah ngebantu divisi
publikasi.” Aku tersenyum dan buru-buru kembali ketempat dudukku.
***
Aku
menengok jam yang dipasang di tangan kiriku. Jarum jam panjang menunjuk ke arah
lima dan jarum pendeknya menunjuk ke arah enam. Aku langsung membereskan notebook dan memasukkannya ke dalam tas.
Secepat mungkin aku sudah harus sampai dirumah, aku sudah berjanji mengajak
Hagumi ke kedai es krim dekat rumah. Jalanku terhenti didepan pintu, postur
tubuh dan wajah yang tak asing lagi bagiku menghadang pintu masuk, aku mencoba
menghindar, ia terus menghalangi, aku menghela nafas panjang,
“Ada
apa Dinar?” tanyaku
“Lo
inget nama gue?” ia malah balik bertanya padaku, dan mukanya terlihat senang,
“Dinar,
gue harus cepet pulang. Udah ada janji.” Kutegaskan padanya bahwa aku sedang
diburu waktu
“Gue
anter, gue lagi bawa motor. Ya?” wajahnya penuh harap. Aku hanya bisa
mengangguk, untuk kali ini aku mengalah karna aku harus segera sampai dirumah
secepat mungkin.
Aku
menatap punggungnya yang kurus, aku tersenyum. Aku mulai sedikit menganggumi
nya setelah apa yang ia lakukan padaku akhir-akhir ini. Dari mulai menemaniku
setiap pagi, menemaniku menjadi panitia, dan menyemangatiku. Tapi aku masih
terlalu gengsi untuk sekedar mengatakan “terima kasih” padanya. Padahal itu
adalah hal yang sangat sepele.
“Itu
Nar, berenti di depan gerbang yang warna item itu.” Dinar menghentikan motornya
didepan rumahku. “Mau mampir?” aku sudah mulai berani menawarkan sesuatu
padanya
“Boleh?”
ia malah berbalik bertanya padaku. Aku menjawabnya dengan anggukan. Ku buka
pintu gerbang rumah. Dan mempersilahkan Dinar untuk duduk di teras dan aku
masuk untuk membuatkan minum. “Ante…” sebuah suara yang cempreng memanggilku
dan memelukku. Hagumi mengikuti saat aku mengantarkan minum untuk Dinar. Dinar
menatap Hagumi yang bersembunyi di balik
badanku karna malu dengan mata yang penuh kehangatan. ia berjongkok dan mencoba
mengobrol dengan Hagumi.
“Hai..
Siapa namanya?” Tanya Dinar hangat. Hagumi malah semakin menyembunyikan
wajahnya diantara kedua kakiku. Dinar mencari-cari sesuatu dalam kantung celananya,
dan mengeluarkan lollipop rasa jeruk, diberikannya kepada Hagumi yang masih
gengsi untuk mengambil lollipop yang diberikan untuknya.
“Itu
ditanya sama Om nya..” kataku yang kemudian duduk dan memangku Hagumi yang
masih berumur dua tahun. Hagumi masih menyembunyikan wajahnya di bahuku,
“Namanya Hagumi yaa..” jawabku.
“Halo
Hagumi…” Dinar menyapa Hagumi yang kali ini berani untuk mengintip sedikit
wajah orang yang menyapanya.
“Gumi…”
dengan suara yang kecil ia menjawab.
“Halo
Gumi-chan…” Dinar menyapa Hagumi lagi dan memberikan lollipop miliknya.
Sekarang tanpa sungkan Hagumi mengambilnya, tapi ia malah turun dari pangkuanku
dan berlari masuk ke dalam rumah. “Dia yang selalu bikin lo pulang cepet?”
tanya Dinar padaku. Membuka pembicaraan antara kami. Aku mengangguk, “Anak lo?”
ledeknya. Aku mengangguk lagi. Ia membulatkan matanya yang memiliki kantung
mata yang cukup besar. Aku tertawa.
“Dia
udah gue anggep kaya anak gue. Dia keponakan gue Dinar.” jawabku. Dinar
mengangguk tanda mengerti. Kemudian Hagumi keluar lagi dan menghampiri kami
berdua. Memelukku karna ternyata masih malu bertemu dengan Dinar,
“Gumi
suka main?” tanya Dinar kepada Hagumi. Hagumi menunjukkan wajahnya kepada Dinar
dan mengangguk, “Hari sabtu malam pergi sama om dan tante Ayasha mau?” aku
menatapnya bingung dan kaget. Hagumi menjawabnya dengan anggukan. “Oke.. gue
pamit pulang yah Ayasha…” ia berdiri dan pamit pulang tanpa mendengar
jawabanku, saat aku akan berbicara mengenai hal sabtu malam itu ia langsung
menepis, “Eits.. harus mau.. gue jemput jam tujuh yaa.. dadah Gumi-chan..” ia
pun pergi meninggalkan aku yang masih saja berdiri kebingungan dengan apa yang baru
saja ia katakan.
***
Dinar
menepati janjiya. Pukul tujuh ia sudah sampai dirumahku. Aku yang hari ini
memakai celana jeans dan kaos bergambar micky mouse merasa malu bertemu
dengannya. Bunda menemui Dinar di ruang tamu, mengajaknya berbicara dan mereka
berdua tampak begitu akrab saat aku merapikan dandanan Hagumi. Hagumi yang kali
ini sudah mulai mengenal wajah Dinar mau digandeng hingga ke mobil,
“Kami
berangkat yah bun..” aku pamit pada Bunda diikuti Dinar.
“Jaga
dua cewek ini yaa Dinar.. jangan pulang malam-malam.. paling malam pukul
sepuluh..” Bunda memberikan pesannya kepada Dinar yang membalasnya dengan gaya
prajurit yang sedang hormat kepada komandannya. Bunda tertawa dan mencium
kening Hagumi yang hari ini rambutnya aku kuncir dua dan memakai celana pendek
yang dipadukan dengan kaos bergambar Donald Duck.
Empat
puluh lima menit kemudian kami sampai di tujuan yang Dinar tidak ingin beritahu
karna ia bilang ini adalah sebuah kejutan. Dinar mengajak kami ke pasar malam,
ini biasa tapi membuatku senang, begitu pula dengan Hagumi. Dinar menggendong
Hagumi yang sekarang sudah tidak malu dengannya. Kami naik hampir semua wahana.
Dan Dinar benar-benar seperti seorang ayah yang sedang mengajak anaknya main. Aku
senang melihat keakraban mereka berdua. “Maaf yah cuma bisa ngajak ke pasar
malam..” aku membalasnya dengan senyuman.
Diperjalanan
pulang mobil terasa sepi, Hagumi sudah tertidur karna kelelahan. Hening
menghampiri kami. Jantungku berdegub sangat kencang hingga sepertinya Dinar dapat
mendengarnya, ia pun memulai pembicaraan antara kami. Selalu Dinar yang
memulai,
“Gumi
berapa tahun?” tanyanya
“Dua
tahun..” aku menundukkan kepalaku, “Ibunya meninggal tahun lalu karna
kecelakaan pesawat pas lagi mau pulang ke Jepang.” Begitu saja aku menceritakan
tentang Hagumi padanya, padahal aku adalah tipikal orang yang tidak mudah
menceritakan hal pribadi pada orang lain, namun berbeda saat aku
menceritakannya pada Dinar, aku merasa percaya padanya, “Ayahnya, kakaku, sejak
istrinya meninggal lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja di rumah sakit..”
aku seperti ingin menangis jika sudah menceritakan tentang keadaan Hagumi,
“itulah kenapa aku banyak menghabiskan waktu untuk Hagumi dibandingin sama Saka
atau di sekolah.. Hagumi kesepian Nar, dia kangen ayah sama ibunya..”
“Jangan
diterusin… gue ngerti keadaannya…” Dinar terlihat dewasa, “Gue bisa liat kok
rasa cinta lo ke Gumi…”
Dinar
yang awalnya aku pikir hanyalah seorang anak SMA yang tidak dewasa dan
menyebalkan ternyata ia adalah orang yang dewasa untuk seukuran anak SMA. Ia
tak pernah sekalipun membahas tentang keadaan Hagumi sejak aku menceritakan
padanya, ia malah sering menitipkan boneka atau makanan kecil untuk Hagumi
padaku dan mengajaknya lagi untuk sekedar makan es krim di kedai dekat rumah.
***
Aku
menatap setiap butir hujan yang jatuh diluar rumah lewat jendela kamarku. Mencoba
berpikir tentang apa yang membuat aku dan Dinar tiba-tiba menjadi jauh bahkan
ia menganggap seperti tidak pernah mengenalku dan itu membuat tanda tanya besar
dalam benakku. Aku senang dekat dengannya, dan hingga saat ini aku masih
mengingat pesan yang ia berikan padaku, “Jangan
pernah punya pikiran orang nggak akan suka sama lo atau sama kepribadian lo,
orang nggak akan tau lo orangnya kaya apa kalo lo nggak mempersilahkan mereka
untuk kenal sama lo. Memulai duluan nggak akan bikin lo rugi.”
Kalimat
itu terus terngiang di benakku, kalimat itu juga yang membuatku bertekad untuk
berubah dan lebih terbuka pada orang lain. Dinar, kamu dimana? Kamu apa kabar?
Dinar aku belum sempat mengucapkan rasa terima kasihku untukmu. Banyak yang mau
aku ceritakan padamu. Tentang Hagumi yang sudah mulai masuk sekolah, tentang
aku yang sudah tidak seperti orang yang anti-sosial. Hagumi juga tidak berhenti
menanyakanmu. Dinar, apa yang salah sama kita? Apa aku waktu itu terlalu
berharap bahwa kita bisa lebih dari sekedar teman?.
Ya
Tuhan.. Aku rindu Dinar. Aku rindu tingkahnya yang menyebalkan, aku rindu harum
tubuhnya, aku rindu suaranya yang berat, aku rindu suara tawanya, aku rindu
saat kami sekedar bertukar cerita di taman belakang sekolah, aku rindu saat ia
memanggilku dengan nama depanku, “Ayasha...”
hanya dia yang memanggilku dengan nama itu. Aku menghela nafas panjang, aku lakukan berulang kali agar aku tidak menangis lagi. Aku
cukup menangis untuk alasan yang aku sendiri tidak tahu mengapa Dinar jauh
dariku, cukup empat tahun lalu aku menangisi hal itu.
Dinar,
nama itu selalu menjadi alasan bagiku untuk tidak membuka hatiku untuk orang
lain, seperti Rengga yang aku tolak karna aku masih terbayang-bayang perasaanku
pada Dinar. Teman laki-laki pertamaku. Teman laki-laki pertama yang membuatku
tersenyum.
***
Aku
melangkahkan kakiku ke tanah yang sudah lama tidak aku datangi walaupun hanya
sekedar main dan menyapa guru-guruku saat SMA. Suasana sudah mulai ramai.
Banyak juga alumni yang datang. Hingga saat ini aku tidak mendengar kabar Dinar
akan datang atau tidak ke reuni akbar ini. Seseorang menepuk pundakku, dengan
cepat aku berbalik. Aku melihat seorang perempuan dengan rambut se-bahu dan
kacamatanya dengan frame bulat berwarna hitam. Kami menjerit dan saling
berpelukan melepas rindu.
Saka
yang selama ini kuliah di Jogja dan kami hanya bisa bertemu setahun sekali
memiliki banyak perubahan. Dulu yang ia yang sedikit tomboy kini terlihat
feminim. Aku memeluknya erat, seakan tidak ingin jauh dari sahabatku ini. Tanpa
sadar kami menitikkan air mata karna sudah berbulan-bulan tidak bertemu,
“katanya nggak akan dateng.. rese juga lo Ka..” protesku padanya sambil
menghapus air mata yang menghalangi pandanganku
“Kan
kejutan..” jawabnya lalu tersenyum dan memeluk ku lagi,
“Kapan
sampe? Tau gitu kan gue jemput lo di Bandara..” aku melepaskan pelukannya,
“Tadi
siang hehe..” nyengir kudanya masih seperti dulu, dengan mulutnya yang lebar aku
bisa melihat giginya yang rapih.
“Benci
deh gue kalo lo udah sok-sokan surprise
kaya sekarang..”
“Oya
Ya.. gue tadi di parkiran kaya liat Dinar deh..” aku langsung membulatkan
mataku.
“Serius?”
jantungku langsung berdegub
“Serius..”
Saka menunjukkan wajah yang serius. Aku hanya bisa diam, dan pikiranku malah
jadi tidak fokus pada acara reuni yang sedang berlangsun.
Aku
duduk di belakang panggung, untuk menghubungi beberapa pengisi acara. Hingga
obrolan beberapa temanku membuatku penasaran untuk terus mendengarkannya,
“Dinar
dateng?” Tanya Ferly
“Dateng
kok.. tadi gue liat dia lagi ngobrol sama Sandy.” Jantungku berdegub lagi. Ia
datang, tapi tidak sedikit pun aku melihat batang hidungnya. Tiba-tiba
seseorang berbicara dari Hate dan menyadarkan lamunanku,
“Aya..
Aya... copy.”
“Gue
denger.. ada apa? copy” jawabku,
“Lo
disuruh dateng ke taman belakang sekolah buat briefing tambahan sama Sandy..” kata Una yang juga staff acara.
“Yang
ngatur belakang panggung siapa?”
“Gue
menuju kesana.” Setelah mendengar apa yang dikatakan Una aku pergi ke taman belakang
tanpa curiga apapun. Taman belakang sekolah masih seperti dulu, namun ternyata
malam hari terlihat lebih indah walaupun hanya diterangi oleh beberapa lampu
taman. Saat aku sampai Sandy belum ada, dan aku memilih untuk duduk di ayunan
tempat favoritku.
Dari
kejauhan aku melihat seseorang berjalan ke arah ku. Perawakannya tinggi karna
gelap aku tidak bisa memastikan siapa yang menuju ke arahku. Tapi sudah dapat
dipastikan itu Sandy karna dia yang menyuruhku ke sini. Lelaki itu berdiri
dihadapanku, wajah yang aku kenal dan yang membuat tumpukan rindu yang selama
ini tidak tahu aku harus apakan mengagetkanku, dan hanya bisa diam hingga ia
mengeluarkan suara berat yang selama ini ingin aku dengar lagi, “Apa kabar
Ayasha? Lo masih sendiri kan?” aku tersenyuman senang,
“Baik.
Apa kabar Dinar?”***
0 komentar:
Posting Komentar