Selasa, 13 Januari 2015

The Bride and Her Groom #1

0

By: SHanifa_

Februari 2014
“Arina Sastra Widya..” Guru olahraga yang biasa menghukum murid terlambat itu mondar-mandi di hadapan beberapa murid, “Arina.. Sudah berapa kali kamu terlambat dalam sebulan ini?” Arina tidak menjawab dan menundukkan kepalanya. Seseorang dengan kemeja biru langit dan celana bahan hitam melihatnya dari kejauhan. Ia tersenyum melihat tingkah murid perempuan satu-satunya di antara barisan murid laki-laki yang terlambat.
“Kalian semua Bapak hukum. Bersihkan sekolah hingga jam pelajaran kedua. Barisan dibubarkan. Khusus untuk Arina, kamu bersihkan perpustakaan.”
“Arina selalu mendapat hukuman yang ringan.” Celetuk seorang murid laki-laki berambut cepak. Pak Kris menjewer telinga Gusti, “Ampun Pak..” ia  melepaskan tangannya dari telinga Gusti. Gusti meringis kesakitan.
“Kamu jadi perempuan saja agar hukumanmu Bapak ringankan.” Jawab Pak Kris.
Saat perempuan yang rambutnya selalu diikat satu itu hendak ke perpustkaan untuk melaksanakan hukumannya, seseorang menarik tangannya ke balik tangga, dan menutup mulutnya agar tidak bersuara. Lelaki itu adalah orang yang hanya bisa tersenyum melihat ia dihukum tadi, “Kamu terlambat lagi?” tanyanya. Ia pun melepaskan tangannya dari bibir Arina.
“Kamu pikir siapa yang selalu membuatku terlambat masuk sekolah?” Ia malah berbalik bertanya. Lelaki itu menjitak pelan dahinya. “Aw..” rintih Arina pelan.
“Ya sudah, aku ke kelas dulu.” Lelaki itu pun pergi dari hadapan Arina.
“Jangan centil sama anak kelas sepuluh yah.” Lelaki itu tidak menggubrisnya. Arina tersenyum.
***
“Assalammualaikum..” Lelaki yang tadi bersama Arina masuk ke kelas X.1. Ia adalah guru honorer yang mengajar Sejarah di SMA Bangsa Muda.
“Waalaikumsalam Pak Naja..” hampir semua murid di kelas menjawab salamnya. Ia pun memulai penjelasannya mengenai jejak sejarah di Indonesia. Seseorang mengetuk pintu kelas, kemudian murid perempuan dengan rambut yang dikuncir setengah membawa beberapa lembar kertas kecil masuk ke dalam kelas, “Ada apa, Ri?” tanya Naja padanya. Ia tersenyum centil, wajah Naja tidak menunjukkan reaksi apapun.
“Ini Pak, saya diminta untuk memberikan kertas ini untuk absen yang tidak masuk.” Naja mengangguk. Namun murid perempuan itu tetap berdiri di sampingnya. Naja menatapnya dengan tatapan bertanya, “Oh iya, saya harus mengembalikan sendiri ke guru piket, Pak.” Kemudian Naja menyebutkan satu per satu muridnya, walaupun kebiasaannya adalah mengabsen saat pelajaran akan berakhir. Seusai absen ia memberikan kertas kecil itu pada Riri, murid kelas tiga, teman sekelas Arina. “Permisi Pak. Dadah adik-adik.” Dengan gembira ia keluar dari kelas, murid laki-laki sorak sorai.
“Sudah… sudah…” Naja melanjutkan kembali penjelasannya hingga bel pergantian jam pelajaran berbunyi.
***
From: Arina S.W
Aku tunggu kamu di tempat biasa pada jam istirahat yah.

Naja tersenyum melihat isi pesan yang dikirim Arina untuknya. Tidak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Ia bergegas ke tempat biasa mereka bertemu, yaitu di bawah tangga menuju perpustakaan, tepatnya di belakang ruang guru. Ia menunggu dengan duduk di anak tangga kedua. Dari kejauhan terlihat murid perempuan yang tingginya 160cm membawa tas kecil menghampirinya.
“Ini buat kamu. Seperti biasa.” Arina menyodorkan tas kecil yang berisi kotak makan, “Ini kan yang membuat aku selalu datang terlambat ke sekolah.” Kata Arina yang sekarang berdiri di hadapan Naja.
“Ini juga buat kamu.” Naja memberikan paper bag yang juga berisikan kotak makan.
“Dari Riri lagi?” suara Arina terdengar kesal, namun ia tetap mengambil kotak makanan yang diberikan padanya. “Kalau seperti ini keadaannya aku ingin bilang pada semua orang di sekolah.” Suara Arina terdengar semakin kesal.
“Jangan!” Naja mencoba menghentikan niat perempuan yang baru saja berumur delapan belas tahun ini, “Kamu tahu akibatnya untuk kita berdua kan?”
“Iya, aku tahu. Aku hanya kesal saja.” Arina menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “Baiklah. Aku makan bekal ini dulu di sini, kamu bisa balik ke ruang guru.”`
“Mau ditemani?”
“Bukankah kamu baru saja bilang akan bahaya buat kita berdua kalau ada orang yang tahu?” Arina duduk di kursi panjang dekat pohon yang tumbuh di dekat tangga menuju perpustakaan. Naja hanya bisa tersenyum.
“Kirim pesan pada Gusti untuk menemanimu makan di sini.” Naja pergi ke ruang guru. Arina kesal karna Naja tidak sedikit pun membujuk atau setidaknya mengambil risiko untuk tetap menemaninya makan siang. Arina melahap bekal yang diberikan Riri untuk Naja dengan suapan yang besar karena dia kesal pada orang yang memberikan kotak makan siang ini.
Selesai makan, Arina kembali ke kelas dan memberikan paper bag yang berisi kotak makan tadi kepada Riri, ia sodorkan ke hadapan Riri, “Kenapa bisa ada padamu?” tanya Riri kesal.
“Pak Naja menitipkannya padaku tadi, saat aku diruang guru.” suara Arina terdengar semakin kesal. Riri mengambilnya, “Terimakasih.” Kata Arina yang kemudian pergi.
***
Arina membuat apartemen yang terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur yang bersebelahan dengan ruang tv itu sedikit berasap karena ia sedang membuat ayam bakar untuk makan malam. Terdengar suara pintu apartemen terbuka, seseorang masuk. Arina sedikit meliriknya untuk memastikan yang datang adalah penghuni lain di apartemen yang mereka tempati, “Kamu sudah pulang?” tanyanya pada lelaki yang berperawakan tinggi dan memakai kacamata dengan frame kotak yang sedang menyandarkan punggungnya di sofa berwarna putih di ruang tv,
“Kamu masak apa?” kemudian ia rela beranjak untuk sekedar menggeser pintu yang terbuat dari kaca agar apartemennya tidak dipenuhi oleh asap, “Buka pintunya kalau sedang masak.” Kata lelaki itu protes.
“Maafkan aku sayang.” Jawab Arina manja.
“Tadi bagaimana reaksi Riri saat kamu berikan kotak makannya?” tanya Naja
“Ia tampak kesal.” Jawab Arina, yang sedang sibuk mengoles ayam dengan kecap yang dicampur dengan bumbu ayam dan mentega cair.
“Tadi dia mengikutiku hingga ketempat kursus.” Kemudian Naja beranjak dari sofa, “Aku mau mandi. Semoga sabun mandinya tidak bau asap ayam bakar ya.” Ledek Naja.
***
November 2013
Saat itu mendung, orang-orang berpakaian hitam memenuhi rumah sederhana yang berlantai kayu itu. Suasana rumah itu sangat haru dan dipenuhi oleh suara tangisan dan lantunan surat Yasin. Namun, yang lebih menyedihkan adalah terdengarnya suara tangis perempuan berumur tujuh belas tahun yang tidak beranjak satu senti pun dari sisi kedua jenazah yang telah ditutupi kain kafan.
 “Sabar Arina…” seorang teman mencoba menenangkannya. Namun Arina tetap tidak ingin beranjak dan tidak berhenti menangis. Ia merasa sangat sendiri sekarang. Kedua orang tuanya tiada saat ia sedang membutuhkan mereka diumurnya yang baru saja akan beranjak dewasa. Ia adalah anak tunggal dari Bapak Sastra dan Ibu Widya.
Orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat mereka hendak pergi ke Bogor. Sebuah truk kehilangan kendali di saat hujan deras lalu menabrak mobil yang dikemudikan ayah Arina. Keduanya tewas seketika, begitu pula dengan supir truk tersebut, seperti yang diberitakan pihak kepolisian.
“Ayah… Ibu…” Arina terus memanggil-manggil kedua orang tua nya saat ia tidak sadarkan diri. Seorang wanita setengah baya terus menggenggam tangannya yang kurus sambil sesekali membelai rambut hitam dan panjang perempuan yang sedang terbaring lemas di hadapannya,
“Arina tidak akan sendiri sayang. Ada tante Tami disini.” Tante Tami masih tidak dapat menghentikan air yang jatuh dari matanya. Lalu, seorang lelaki berumur 23 tahun masuk ke dalam kamar Arina dan melihat ibunya dan Arina dengan matanya yang sayu dan hangat.
“Ma, sudah mau dimakamkan.” Naja memberitahu ibunya dengan suara pelan.
“Arina masih tidak dapat bangun. Mungkin tidak apa jika tidak menunggu Arina.”
“Tapi Ma-“
“Sudah Naja. Tidak apa, Mama akan menjaganya.” Naja pun pergi dari kamar Arina dan memberitahukan yang lain.
***
Mata Arina membengkak, bibirnya memucat, pandangannya kosong sambil memegang dua buah kain yang sudah berbentuk baju. Sesekali ia menangis sambil mendekapnya. Kamar yang selalu tampak rapih ini tidak ia tinggalkan sejak kedua orang tuanya dimakamkan. Lantunan surat Yasin terdengar dari luar kamar, Tante Tami tidak beranjak dari sisinya.
“Arina, makan ya sayang.” Arina tidak menjawab. Ia hanya terdiam duduk di sofa dekat jendela. “Arina.. Kamu tidak akan sendiri sayang. Ada Tante, Om Hendra, Naja bahkan Dina.” Tante Tami mencoba menjelaskan pada Arina yang terus saja berpikiran bahwa ia akan menjadi orang yang paling kesepian di dunia. Tante Tami adalah sahabat ibunya sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah. Bahkan Naja, Arina, dan Dina bermain bersama saat kedua keluarga ini menghabiskan waktu bersama saat liburan.
Keadaan Arina sudah mulai membaik pada hari ketiga peringatan meninggalnya kedua orang tuanya. Sejak hari itu, teman-temannya tidak berhenti berdatangan untuk sekedar menghibur. Bahkan Naja sigap menemani Arina yang butuh teman berbicara. Naja yang tidak tega melihat keadaan Arina akhirnya memantapkan niatnya. Bagaimana pun, ia juga sayang pada Arina, bukan sayang sebagai adik, tapi melebihi itu.


Naja menghampiri Tante Tami yang sedang menemani Arina makan malam seusai pengajian untuk orangtua Arina di teras belakang. Naja berjongkok di depan Arina yang menatapnya, “Ma, Naja mau menikahi Arina.” Tante Tami terkejut, Arina menatapnya nanar***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com