Februari 2014
“Arina Sastra Widya..”
Guru olahraga yang biasa menghukum murid terlambat itu mondar-mandi di hadapan
beberapa murid, “Arina.. Sudah berapa kali kamu terlambat dalam sebulan ini?”
Arina tidak menjawab dan menundukkan kepalanya. Seseorang dengan kemeja biru
langit dan celana bahan hitam melihatnya dari kejauhan. Ia tersenyum melihat
tingkah murid perempuan satu-satunya di antara barisan murid laki-laki yang
terlambat.
“Kalian semua Bapak
hukum. Bersihkan sekolah hingga jam pelajaran kedua. Barisan dibubarkan. Khusus
untuk Arina, kamu bersihkan perpustakaan.”
“Arina selalu mendapat
hukuman yang ringan.” Celetuk seorang murid laki-laki berambut cepak. Pak Kris
menjewer telinga Gusti, “Ampun Pak..” ia melepaskan tangannya dari telinga Gusti. Gusti
meringis kesakitan.
“Kamu jadi perempuan
saja agar hukumanmu Bapak ringankan.” Jawab Pak Kris.
Saat perempuan yang
rambutnya selalu diikat satu itu hendak ke perpustkaan untuk melaksanakan
hukumannya, seseorang menarik tangannya ke balik tangga, dan menutup mulutnya
agar tidak bersuara. Lelaki itu adalah orang yang hanya bisa tersenyum melihat
ia dihukum tadi, “Kamu terlambat lagi?” tanyanya. Ia pun melepaskan tangannya dari bibir
Arina.
“Kamu pikir siapa yang
selalu membuatku terlambat masuk sekolah?” Ia malah berbalik bertanya. Lelaki
itu menjitak pelan dahinya. “Aw..” rintih Arina pelan.
“Ya sudah, aku ke kelas
dulu.” Lelaki itu pun pergi dari hadapan Arina.
“Jangan centil sama anak
kelas sepuluh yah.” Lelaki itu tidak menggubrisnya. Arina tersenyum.
***
“Assalammualaikum..” Lelaki yang tadi bersama Arina
masuk ke kelas X.1. Ia adalah guru honorer yang mengajar Sejarah di SMA Bangsa
Muda.
“Waalaikumsalam Pak
Naja..” hampir semua murid di kelas menjawab salamnya. Ia pun memulai
penjelasannya mengenai jejak sejarah di Indonesia. Seseorang mengetuk pintu
kelas, kemudian murid perempuan dengan rambut yang dikuncir setengah membawa
beberapa lembar kertas kecil masuk ke dalam kelas, “Ada apa, Ri?” tanya Naja
padanya. Ia tersenyum centil, wajah Naja tidak menunjukkan reaksi apapun.
“Ini Pak, saya diminta
untuk memberikan kertas ini untuk absen yang tidak masuk.” Naja mengangguk.
Namun murid perempuan itu tetap berdiri di sampingnya. Naja menatapnya dengan
tatapan bertanya, “Oh iya, saya harus mengembalikan sendiri ke guru piket,
Pak.” Kemudian Naja menyebutkan satu per satu muridnya, walaupun kebiasaannya
adalah mengabsen saat pelajaran akan berakhir. Seusai absen ia memberikan
kertas kecil itu pada Riri, murid kelas tiga, teman sekelas Arina. “Permisi
Pak. Dadah adik-adik.” Dengan gembira ia keluar dari kelas, murid laki-laki
sorak sorai.
“Sudah… sudah…” Naja melanjutkan
kembali penjelasannya hingga bel pergantian jam pelajaran berbunyi.
***
From: Arina S.W
Aku tunggu kamu di
tempat biasa pada jam istirahat yah.
Naja tersenyum melihat
isi pesan yang dikirim Arina untuknya. Tidak lama kemudian bel istirahat
berbunyi. Ia bergegas ke tempat biasa mereka bertemu, yaitu di bawah tangga
menuju perpustakaan, tepatnya di belakang ruang guru. Ia menunggu dengan duduk
di anak tangga kedua. Dari kejauhan terlihat murid perempuan yang tingginya
160cm membawa tas kecil menghampirinya.
“Ini buat kamu. Seperti
biasa.” Arina menyodorkan tas kecil yang berisi kotak makan, “Ini kan
yang membuat aku selalu datang terlambat ke sekolah.” Kata Arina yang sekarang
berdiri di hadapan Naja.
“Ini juga buat kamu.”
Naja memberikan paper bag yang juga berisikan kotak makan.
“Dari Riri lagi?” suara
Arina terdengar kesal, namun ia tetap mengambil kotak makanan yang diberikan
padanya. “Kalau seperti ini keadaannya aku ingin bilang pada semua orang di
sekolah.” Suara Arina terdengar semakin kesal.
“Jangan!” Naja mencoba
menghentikan niat perempuan yang baru saja berumur delapan belas tahun ini,
“Kamu tahu akibatnya untuk kita berdua kan?”
“Iya, aku tahu. Aku
hanya kesal saja.” Arina menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “Baiklah.
Aku makan bekal ini dulu di sini, kamu bisa balik ke ruang guru.”`
“Mau ditemani?”
“Bukankah kamu baru saja
bilang akan bahaya buat kita berdua kalau ada orang yang tahu?” Arina duduk di
kursi panjang dekat pohon yang tumbuh di dekat tangga menuju perpustakaan. Naja
hanya bisa tersenyum.
“Kirim pesan pada Gusti
untuk menemanimu makan di sini.” Naja pergi ke ruang guru. Arina kesal karna
Naja tidak sedikit pun membujuk atau setidaknya mengambil risiko untuk tetap
menemaninya makan siang. Arina melahap bekal yang diberikan Riri untuk Naja
dengan suapan yang besar karena dia kesal pada orang yang memberikan kotak
makan siang ini.
Selesai makan, Arina
kembali ke kelas dan memberikan paper bag yang berisi kotak makan tadi
kepada Riri, ia sodorkan ke hadapan Riri, “Kenapa bisa ada padamu?” tanya Riri
kesal.
“Pak Naja menitipkannya
padaku tadi, saat aku diruang guru.” suara Arina terdengar semakin kesal. Riri
mengambilnya, “Terimakasih.” Kata Arina yang kemudian pergi.
***
Arina membuat apartemen yang terdiri dari dua kamar
tidur, satu kamar mandi, dan dapur yang bersebelahan dengan ruang tv itu
sedikit berasap karena ia sedang membuat ayam bakar untuk makan malam.
Terdengar suara pintu apartemen terbuka, seseorang masuk. Arina sedikit
meliriknya untuk memastikan yang datang adalah penghuni lain di apartemen yang
mereka tempati, “Kamu sudah pulang?” tanyanya pada lelaki yang berperawakan
tinggi dan memakai kacamata dengan frame kotak yang sedang menyandarkan
punggungnya di sofa berwarna putih di ruang tv,
“Kamu masak apa?”
kemudian ia rela beranjak untuk sekedar menggeser pintu yang terbuat dari kaca
agar apartemennya tidak dipenuhi oleh asap, “Buka pintunya kalau sedang masak.”
Kata lelaki itu protes.
“Maafkan aku sayang.”
Jawab Arina manja.
“Tadi bagaimana reaksi
Riri saat kamu berikan kotak makannya?” tanya Naja
“Ia tampak kesal.” Jawab
Arina, yang sedang sibuk mengoles ayam dengan kecap yang dicampur dengan bumbu
ayam dan mentega cair.
“Tadi dia mengikutiku
hingga ketempat kursus.” Kemudian Naja beranjak dari sofa, “Aku mau mandi.
Semoga sabun mandinya tidak bau asap ayam bakar ya.” Ledek Naja.
***
November 2013
Saat itu mendung,
orang-orang berpakaian hitam memenuhi rumah sederhana yang berlantai kayu itu.
Suasana rumah itu sangat haru dan dipenuhi oleh suara tangisan dan lantunan
surat Yasin. Namun, yang lebih menyedihkan adalah terdengarnya suara tangis
perempuan berumur tujuh belas tahun yang tidak beranjak satu senti pun dari sisi
kedua jenazah yang telah ditutupi kain kafan.
“Sabar Arina…” seorang teman mencoba
menenangkannya. Namun Arina tetap tidak ingin beranjak dan tidak berhenti
menangis. Ia merasa sangat sendiri sekarang. Kedua orang tuanya tiada saat ia
sedang membutuhkan mereka diumurnya yang baru saja akan beranjak dewasa. Ia
adalah anak tunggal dari Bapak Sastra dan Ibu Widya.
Orang tuanya meninggal
karena kecelakaan saat mereka hendak pergi ke Bogor. Sebuah truk kehilangan
kendali di saat hujan deras lalu menabrak mobil yang dikemudikan ayah Arina.
Keduanya tewas seketika, begitu pula dengan supir truk tersebut, seperti yang
diberitakan pihak kepolisian.
“Ayah… Ibu…” Arina terus
memanggil-manggil kedua orang tua nya saat ia tidak sadarkan diri. Seorang
wanita setengah baya terus menggenggam tangannya yang kurus sambil sesekali
membelai rambut hitam dan panjang perempuan yang sedang terbaring lemas di
hadapannya,
“Arina tidak akan
sendiri sayang. Ada tante Tami disini.” Tante Tami masih tidak dapat
menghentikan air yang jatuh dari matanya. Lalu, seorang lelaki berumur 23 tahun
masuk ke dalam kamar Arina dan melihat ibunya dan Arina dengan matanya yang
sayu dan hangat.
“Ma, sudah mau
dimakamkan.” Naja memberitahu ibunya dengan suara pelan.
“Arina masih tidak dapat
bangun. Mungkin tidak apa jika tidak menunggu Arina.”
“Tapi Ma-“
“Sudah Naja. Tidak apa,
Mama akan menjaganya.” Naja pun pergi dari kamar Arina dan memberitahukan yang
lain.
***
Mata Arina membengkak,
bibirnya memucat, pandangannya kosong sambil memegang dua buah kain yang sudah
berbentuk baju. Sesekali ia menangis sambil mendekapnya. Kamar yang selalu
tampak rapih ini tidak ia tinggalkan sejak kedua orang tuanya dimakamkan.
Lantunan surat Yasin terdengar dari luar kamar, Tante Tami tidak beranjak dari
sisinya.
“Arina, makan ya
sayang.” Arina tidak menjawab. Ia hanya terdiam duduk di sofa dekat jendela.
“Arina.. Kamu tidak akan sendiri sayang. Ada Tante, Om Hendra, Naja bahkan
Dina.” Tante Tami mencoba menjelaskan pada Arina yang terus saja berpikiran
bahwa ia akan menjadi orang yang paling kesepian di dunia. Tante Tami adalah
sahabat ibunya sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah. Bahkan Naja,
Arina, dan Dina bermain bersama saat kedua keluarga ini menghabiskan waktu
bersama saat liburan.
Keadaan Arina sudah
mulai membaik pada hari ketiga peringatan meninggalnya kedua orang tuanya.
Sejak hari itu, teman-temannya tidak berhenti berdatangan untuk sekedar
menghibur. Bahkan Naja sigap menemani Arina yang butuh teman berbicara. Naja
yang tidak tega melihat keadaan Arina akhirnya memantapkan niatnya. Bagaimana
pun, ia juga sayang pada Arina, bukan sayang sebagai adik, tapi melebihi itu.
Naja menghampiri Tante
Tami yang sedang menemani Arina makan malam seusai pengajian untuk orangtua
Arina di teras belakang. Naja berjongkok di depan Arina yang menatapnya, “Ma,
Naja mau menikahi Arina.” Tante Tami terkejut, Arina menatapnya nanar***
0 komentar:
Posting Komentar