Senin, 26 Januari 2015

Sempurna #1

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

[Masa Sekarang]
Saat ini, aku duduk memandangi wajahnya yang meski banyak luka tetap saja terlihat cantik. Selalu ku sibakkan helaian rambutnya yang turun dan menempel di lukanya, tapi mereka tetap saja kembali. Aku menyesal pernah meninggalkannya selama 1 tahun lebih, membiarkan masing-masing dari kami terluka, menyiksa batinku dengan benci dan marah yang  tak tepat arah. Namaku Bima, suami dari Mayang. Istri yang teramat sangat kucintai, kini terbaring di ranjang rumah sakit… karena kesalahanku.
***
[3 Tahun yang Lalu]
“Saya nggak bisa ikut kamu, Bi…”
“Kenapa?”
“Kenapa?” Mayang menggelengkan kepalanya “Saya punya uang dari mana untuk kuliah di Singapore? Kamu tahu kan, untuk SMA aja Ayah harus mati-matian kerjanya, mana bisa biayain aku di Singapore? Dan lagi kalau aku pergi, siapa yang urus Ayah?”
“Mayang, lihat mata saya, apa kamu benar-benar percaya kalau Ayah kamu nggak bisa jaga diri?” Mayang menunduk “Kamu tahu pasti Ayah kamu nggak akan kesusahan.”
“Tapi Ayah juga bilang nggak ada uang untuk sekolah ke negara orang.” Dengusan Mayang membuatku menatap kearahnya “Jangankan ke negara lain, negara sendiri aja belum tentu ada biayanya.”
“Kalau kamu nggak ikut pindah sama saya, saya nggak tahu kita masih bisa lanjut atau nggak.” Nada bicaraku dingin, aku hanya menggertak Mayang. Kesalahan terbesarku. Mayang berdiri di hadapanku, kedua tangannya menyentuh pipiku,
“Kalau itu yang kamu mau, ya sudah. Aku nggak akan halangin kamu raih cita-cita kamu.” Tangan lembutnya membelai pipiku, “Tapi untuk kali ini, aku nggak bisa ikutin mau kamu.” Mayang mencium pipiku, dan pergi.
***
[Masa Sekarang]
Terbangun dari mimpi buruk yang berulang tentu bukan hal yang aku inginkan. Berkali-kali Om Iwan memintaku meminum obat penenang darinya, tapi selalu kuacuhkan. Bagaimana jika Mayang sadar saat aku sedang terlelap? Kupandangi lagi wajahnya yang tenang. Tanganku memeluk perut Mayang yang besar. Masih bisa kurasakan tendangan-tendangan kecil bayi kami, tidak seperti Mayang yang tahu apa arti setiap tendangan itu, aku hanya membelainya, menciumnya sesekali, memintanya untuk tidak terlalu aktif dan mengganggu istirahat ibunya yang entah sampai kapan.
Para dokter sudah memintaku untuk segera membuat keputusan, keputusan antara bayi dan istriku. Apa yang harus kupilih? Aku terlalu takut Mayang akan berhenti berjuang untuk hidup jika bayinya, bayi kami, tidak lagi bergantung padanya. “Mayang, sembuh sayang…” aku berbisik di daun telinganya lalu menundukan kepalaku ke perutnya yang bulat, “Nak, bantuin Ayah sama Ibu ya, jagain Ibu dari dalam, biar Ayah yang jagain Ibu dari luar… yang kuat ya…” air mataku jatuh, meski kutahan sekeras apapun, air mata ini akan tetap jatuh.
***
[3 Tahun yang Lalu]
“Anjar! Kenapa kamu putusin Mayang?” Mama lagi-lagi membela Mayang. Kadang aku ragu, siapa yang sebenarnya anaknya? Aku atau Mayang?  “Nak, kamu tahu sekali gimana keadaan Mayang… kamu nggak khawatir? Bisa kamu fokus belajar?”
“Ma! Mayang yang pergi ninggalin saya! Saya nggak serius waktu ngomong ‘nggak bisa lanjutin’! Harusnya Mayang ngerti itu!”
“Kenapa harus selalu Mayang yang ngertiin kamu? Kapan kamu ngertiin Mayang?”
“Sudahlah, Ma! Pokokya saya akan tetap pergi!” aku membiarkan Mama ternganga dengan nada tinggiku, “Saya juga nggak mau Mama ngabarin saya tentang Mayang!” sejak itu, aku tak pernah lagi mendengar kabar Mayang.
***
[Masa Sekarang]
“Gimana Mayang, Bi?” dulu aku selalu merasa terganggu dengan segala perhatian yang dicurahkan Mama untuk Mayang, tapi saat ini, perlakuan Mama seolah air dingin ditengah savana. Menyejukkan ku,
“Masih begini, Ma… tapi dedenya masih nendang-nendang, walaupun nggak seaktif kalau Mayang sehat,” dengan otomatis tanganku memegang perut Mayang. “Gimana kata Om Iwan? Masih harus di caesar?” Mama meremas pundakku, bukan kabar baik.
“dr. Anna ingin bayinya tetap di rahim Mayang sampai benar-benar matang dan siap, tapi kalau keadaan Mayang terus seperti ini, atau bahkan mungkin memburuk, bayinya yang harus diselamatkan lebih dulu…” ini yang kutakutkan. Sebuah kemungkinan bahwa Mayang akan benar-benar meninggalkanku.
“Terus kalau dedenya harus dilahirkan, gimana sama Mayang?”
“Kamu harus tegar, Bima… kita hanya bisa berdoa.” Berdoa, hanya itu yang dapat aku dan keluargaku lakukan, kenapa sekarang kata-kata itu terdengar lebih putus asa? Kenapa seolah kata-kata itu adalah akhir dari kehidupan Mayang? Mama hanya bisa memelukku dan memberikan dukungan-dukungan lembut.
***
[2 Tahun yang Lalu]
Untuk pertama kalinya setelah keberangkatanku ke Singapore, aku menginjakkan kakiku lagi dirumah masa kecilku. Di rumah yang penuh kenangan atas orang-orang yang sangat kurindukan, namun terlalu naif untuk mengakui. Mama memelukku erat, namun pandangan nanarnya membuatku ingin bertanya, ‘apa yang terjadi padanya saat ini?’
Malam hari selalu dijadikan keluargaku sebagai waktunya untuk berbagi, namun malam ini Mama dan adikku terlihat terganggu, bukan karena kedatanganku, mata mereka selalu berbinar saat menanyakan kehidupanku di negara singa itu. Adikku Briana duduknya tak tenang, makanan dihadapannya hanya ia aduk asal, Mama juga tak hentinya memandang ke arah jam dinding rumah kami, postur Papa terlihat tenang, tapi sesekali aku melihatya mencuri pandang ke arah Briana dan Mama, seolah menanyakan sesuatu.
Anggota keluargaku sedikit terlonjak saat telepon genggam Papa yang ada dimeja berbunyi, ‘sejak kapan Papa membawa telepon genggamnya ke meja makan?’ Papa hanya menjawab telepon itu dan bergumam sesekali,  memutus sambungannya, lalu mengangguk pada Mama dan berdiri meninggalkan makan malamnya yang masih bersisa. Aku melihat sekelilingku, Briana menundukan kepalanya dan menangis, Mama berlari menyusul Papa keluar rumah dan tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil Papa menyala.
“Ini ada apa sih?” aku menarik tangan Briana sedikit kasar, “Papa Mama mau kemana? Itu telepon dari siapa?” Briana menangis sebelum menjawab pertanyaanku.
“Itu telepon Om Iwan,” Om Iwan? Siapa yang sakit? Om Iwan adalah adik Ayahku yang berprofesi sebagai dokter. “Kakak nggak mau tahu tentang ini, lagian, Kakak kan yang milih buat ninggalin dia? Kakak juga yang bilang nggak mau ngedenger apapun tentang dia lagi kan?!”suara Briana semakin meninggi, tapi aku terlalu tertegun untuk terganggu dengan suaranya. ‘Apa yang terjadi padanya sekarang?’
“Mayang kenapa?” bersembunyi selama satu tahun dalam setiap doaku, akhirnya namanya kembali kusuarakan
“Ngapain mau tahu sekarang? Nggak penting buat Kakak!”
“Bri, kasih tahu sekarang…” emosiku mulai menanjak, air mata Briana yang semakin kencang tak membantu keadaanku sama sekali.
“Kakak tahu dari dulu gimana Ayahnya Mayang kan?! Tahu apa yang dijanjiin sama Ayahnya Mayang! Itu yang Ayahnya lakuin selama ini, Kak!” aku membatu. Tahu pasti apa yang diucapkan oleh adikku. Bayangan Ayah Mayang yang selalu membuatku merinding.
***
[Saat Mayang dan Bima Kecil]
“Itu kenapa sih jadi banyak lebam gitu tangannya?” tanyaku pada gadis yang selalu mencuri perhatianku. Gadis yang baru berani kusapa belakangan ini. Ia hanya menggeleng, “Kalau nggak apa-apa, gak akan lebam gitu,” ia hanya menatapku.
Nggak ada untungnya buat kamu, Bima.” Aku mengerutkan keningku.

Beberapa bulan kemudian…

“MAYANG! MAAYAANG!” aku memanggil namanya berkali-kali di depan rumahnya, namun sang empu nama tak juga keluar. “MA…” panggilanku terpotong saat kulihat Ayah Mayang keluar dan menutup pintu rumahnya dengan kasar.
“Heh, bocah tengil! Berisik sekali kamu siang-siang begini!”
“Cuma mau ajak Mayang main, Om.”
“HEH! Kapan saya nikahi tantemu! Nggak usah sok akrab kamu!” Ayah Mayang terlihat terburu-buru mengeluarkan kunci mobilnya.
“Mayangnya ada, Pak?” bibir kecilku tak ingin diam.
“Heh, bocah tengil! Nggak ada untungnya kamu main sama anak pembawa sial itu! Lebih baik kamu pergi sekarang!”
***
[2 Tahun yang Lalu]
“Mayang kenapa sekarang?” Tanyaku pelan tak siap dengan jawaban Briana.
“Kenapa baru pengin tahu sekarang? Setahun ini kemana aja?” Briana memang tak seharusnya  memarahi Bima, tapi saat ini ia tak peduli. Baginya, jika Bima tak pernah pergi, Mayang tak akan pernah seperti ini.
“Mayang di rumah sakit…” Briana mengusap hidungnya, “kemarin Ayahnya kumat lagi!” Bima bisa mendengar dengan jelas nada kebencian dari Briana, “lukanya Mayang parah, Om Iwan nggak yakin Mayang bisa lari lagi.” Tanpa sengaja aku tersenyum, Mayang memang tak pernah bisa berlari. Untuk berjalan di bidang datar saja dia kesulitan, apalagi berlari. Briana juga ikut mendengus kecil melihat senyumku. “Ya maksudnya, kaki Mayang nggak akan kaya semula lagi, Kak...” raut sedih kembali menghantui wajah adikku.
“Kenapa bisa sampai gitu?”
“Ayahnya pikir mainin tongkat kasti ke kakinya bisa bikin Mayang kerja jauh lebih baik!” kerja? “Mayang nggak pernah daftar kuliah, Kak... dia berusaha ngumpulin uang untuk nyusul Kakak, karena Mayang sebetulya keterima disana... tapi beasiswanya nggak full, makanya Mayang bilang nggak bisa ikut Kakak.” Aku tak pernah tahu Mayang diterima di kampusku, tahu dia mendaftar saja tidak. “Kakak mau anterin aku jenguk Mayang?” aku hanya pergi mengambil kunci mobil yang bergantung di tempat biasa Papa menggantungya dan menarik tangan Briana sedikit.
***
[Masa Sekarang]
“Bi... kamu pulang dulu gih, ganti baju, tidur sebentar, makan, istirahat, nak.” aku hanya menggeleng. “Ya sudah, Mama juga sebenarnya sudah minta tolong Briana membawakan kamu baju, habis itu kamu kebawah ya, beli makanan sama Briana, Mama yang akan menjaga Mayang.” Briana datang tepat setelah Mama mengatakan hal itu dan langsung menyuruhku untuk mengganti pakaian.
“Kakak mau makan apa?” tanya Briana basa-basi
“Apa aja lah, kamu maunya apa? Kakak ngikut.”
“Kita makan sate ayam aja ya.” aku tertegun.
“Itu kesukaan Mayang...” adikku hanya tersenyum dan menarik tanganku.
Selama makan, aku tak hentinya tertawa mendengar seluruh cerita Briana, rencananya terhadap anakku dan Mayang nanti, hingga kesulitannya sebagai mahasiswa tingkat akhir. “Nah, kakak udah ketawa, jadi tugas Briana ke Mayang selesai deh.” Briana nyengir. “Kak, carwash-nya nggak diurusin?” tanya Briana random.
“Kakak percaya kok sama pegawainya. Cafe juga stabil. Alhamdulillah rejeki si dedek.” kini giliranku yang tersenyum. “Udah kan makannya? Kita balik lagi yuk.” Briana mengangguk, bersama-sama kami berjalan menuju rumah sakit.
Masih tertawa dan bercanda, aku dan Briana menuju kamar Mayang, tapi kami dikejutkan oleh suara Mama yang nyaris berteriak. Istri Ayah Mayang berdiri didepan ruangan Mayang yang dihalangi oleh Mama. “Saya bilang nggak bisa ya berarti nggak bisa! Percuma kamu mau minta maaf, atau apapun itu! Mayang belum sadar gara-gara tingkah suami kamu!” aku mempercepat langkahku, dan menarik lengan wanita itu, menjauhi ruangan Mayang.
“Bima... saya hanya mau minta maaf atas apa yang dilakukan suami saya” ucapnya sambil menangis.
“Keluar! Dan nggak usah datang lagi!” Suara ku meninggi, mengesampingkan rasa sopanku,
“Saya serius, Bima... saya benar-benar minta maaf.” Wanita itu terus memohon,
“Seingat saya, saat anda di lokasi, anda hanya melihat apa yang suami anda lakukan terhadap Mayang! Hanya melihat! Berteriak memintanya berhenti saja tidak! Jadi maaf kalau saya tidak akan pernah mengijinkan anda mendekati keluarga saya lagi!”
“Bima, tolong cabut tuntutannya, Bima... suami saya hanya hilang kendali. Dia selalu lembut pada saya, Bima, saya mohon...”


“Selalu lembut pada anda? Karena yang dia kasari itu istri saya! Sejak dulu! Sejak Mayang dikembalikan pada suami anda saat ibunya meninggal! Sejak dulu!” seorang petugas keamanan datang menghampiriku dan menanyakan situasi kami. “Saya mohon ibu ini jangan diijinkan mendekat keruangan istri saya!” aku pergi meninggalkan petugas itu dan istri dari Ayah Mayang yang tak pernah benar-benar kuingat namanya.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com