[Masa Sekarang]
Saat
ini, aku duduk memandangi wajahnya yang meski banyak luka tetap saja terlihat cantik.
Selalu ku sibakkan helaian rambutnya yang turun dan menempel di lukanya, tapi
mereka tetap saja kembali. Aku menyesal pernah meninggalkannya selama 1 tahun
lebih, membiarkan masing-masing dari kami terluka, menyiksa batinku dengan
benci dan marah yang tak tepat arah. Namaku Bima, suami dari Mayang.
Istri yang teramat sangat kucintai, kini terbaring di ranjang rumah sakit…
karena kesalahanku.
***
[3 Tahun yang
Lalu]
“Saya
nggak bisa ikut kamu, Bi…”
“Kenapa?”
“Kenapa?”
Mayang menggelengkan kepalanya “Saya punya uang dari mana untuk kuliah di
Singapore? Kamu tahu kan, untuk SMA
aja Ayah harus mati-matian kerjanya, mana bisa biayain aku di Singapore? Dan lagi
kalau aku pergi, siapa yang urus Ayah?”
“Mayang,
lihat mata saya, apa kamu benar-benar percaya kalau Ayah kamu nggak bisa jaga diri?” Mayang menunduk
“Kamu tahu pasti Ayah kamu nggak akan
kesusahan.”
“Tapi
Ayah juga bilang nggak ada uang untuk
sekolah ke negara orang.” Dengusan Mayang membuatku menatap kearahnya
“Jangankan ke negara lain, negara sendiri aja belum tentu ada biayanya.”
“Kalau
kamu nggak ikut pindah sama saya,
saya nggak tahu kita masih bisa
lanjut atau nggak.” Nada bicaraku
dingin, aku hanya menggertak Mayang. Kesalahan terbesarku. Mayang berdiri di
hadapanku, kedua tangannya menyentuh pipiku,
“Kalau
itu yang kamu mau, ya sudah. Aku nggak
akan halangin kamu raih cita-cita kamu.” Tangan lembutnya membelai pipiku,
“Tapi untuk kali ini, aku nggak bisa
ikutin mau kamu.” Mayang mencium pipiku, dan pergi.
***
[Masa Sekarang]
Terbangun
dari mimpi buruk yang berulang tentu bukan hal yang aku inginkan. Berkali-kali
Om Iwan memintaku meminum obat penenang darinya, tapi selalu kuacuhkan.
Bagaimana jika Mayang sadar saat aku sedang terlelap? Kupandangi lagi wajahnya
yang tenang. Tanganku memeluk perut Mayang yang besar. Masih bisa kurasakan
tendangan-tendangan kecil bayi kami, tidak seperti Mayang yang tahu apa arti
setiap tendangan itu, aku hanya membelainya, menciumnya sesekali, memintanya
untuk tidak terlalu aktif dan mengganggu istirahat ibunya yang entah sampai
kapan.
Para
dokter sudah memintaku untuk segera membuat keputusan, keputusan antara bayi
dan istriku. Apa yang harus kupilih? Aku terlalu takut Mayang akan berhenti
berjuang untuk hidup jika bayinya, bayi kami, tidak lagi bergantung padanya.
“Mayang, sembuh sayang…” aku berbisik di daun telinganya lalu menundukan kepalaku
ke perutnya yang bulat, “Nak, bantuin Ayah sama Ibu ya, jagain Ibu dari dalam,
biar Ayah yang jagain Ibu dari luar… yang kuat ya…” air mataku jatuh, meski
kutahan sekeras apapun, air mata ini akan tetap jatuh.
***
[3 Tahun yang
Lalu]
“Anjar!
Kenapa kamu putusin Mayang?” Mama lagi-lagi membela Mayang. Kadang aku ragu,
siapa yang sebenarnya anaknya? Aku atau Mayang? “Nak, kamu tahu sekali
gimana keadaan Mayang… kamu nggak
khawatir? Bisa kamu fokus belajar?”
“Ma!
Mayang yang pergi ninggalin saya! Saya nggak
serius waktu ngomong ‘nggak bisa
lanjutin’! Harusnya Mayang ngerti itu!”
“Kenapa
harus selalu Mayang yang ngertiin kamu? Kapan kamu ngertiin Mayang?”
“Sudahlah,
Ma! Pokokya saya akan tetap pergi!” aku membiarkan Mama ternganga dengan nada
tinggiku, “Saya juga nggak mau Mama
ngabarin saya tentang Mayang!” sejak itu, aku tak pernah lagi mendengar kabar
Mayang.
***
[Masa Sekarang]
“Gimana
Mayang, Bi?” dulu aku selalu merasa terganggu dengan segala perhatian yang
dicurahkan Mama untuk Mayang, tapi saat ini, perlakuan Mama seolah air dingin
ditengah savana. Menyejukkan ku,
“Masih
begini, Ma… tapi dedenya masih nendang-nendang, walaupun nggak seaktif kalau Mayang sehat,” dengan otomatis tanganku
memegang perut Mayang. “Gimana kata Om Iwan? Masih harus di caesar?” Mama meremas pundakku, bukan
kabar baik.
“dr.
Anna ingin bayinya tetap di rahim Mayang sampai benar-benar matang dan siap,
tapi kalau keadaan Mayang terus seperti ini, atau bahkan mungkin memburuk,
bayinya yang harus diselamatkan lebih dulu…” ini yang kutakutkan. Sebuah
kemungkinan bahwa Mayang akan benar-benar meninggalkanku.
“Terus
kalau dedenya harus dilahirkan, gimana sama Mayang?”
“Kamu
harus tegar, Bima… kita hanya bisa berdoa.” Berdoa, hanya itu yang dapat aku
dan keluargaku lakukan, kenapa sekarang kata-kata itu terdengar lebih putus
asa? Kenapa seolah kata-kata itu adalah akhir dari kehidupan Mayang? Mama hanya
bisa memelukku dan memberikan dukungan-dukungan lembut.
***
[2 Tahun yang
Lalu]
Untuk
pertama kalinya setelah keberangkatanku ke Singapore, aku menginjakkan kakiku
lagi dirumah masa kecilku. Di rumah yang penuh kenangan atas orang-orang yang
sangat kurindukan, namun terlalu naif untuk mengakui. Mama memelukku erat,
namun pandangan nanarnya membuatku ingin bertanya, ‘apa yang terjadi padanya
saat ini?’
Malam
hari selalu dijadikan keluargaku sebagai waktunya untuk berbagi, namun malam
ini Mama dan adikku terlihat terganggu, bukan karena kedatanganku, mata mereka
selalu berbinar saat menanyakan kehidupanku di negara singa itu. Adikku Briana
duduknya tak tenang, makanan dihadapannya hanya ia aduk asal, Mama juga tak hentinya
memandang ke arah jam dinding rumah kami, postur Papa terlihat tenang, tapi
sesekali aku melihatya mencuri pandang ke arah Briana dan Mama, seolah
menanyakan sesuatu.
Anggota
keluargaku sedikit terlonjak saat telepon genggam Papa yang ada dimeja berbunyi,
‘sejak kapan Papa membawa telepon genggamnya ke meja makan?’ Papa hanya
menjawab telepon itu dan bergumam sesekali, memutus sambungannya, lalu
mengangguk pada Mama dan berdiri meninggalkan makan malamnya yang masih
bersisa. Aku melihat sekelilingku, Briana menundukan kepalanya dan menangis,
Mama berlari menyusul Papa keluar rumah dan tak lama kemudian terdengar suara
mesin mobil Papa menyala.
“Ini
ada apa sih?” aku menarik tangan Briana sedikit kasar, “Papa Mama mau kemana?
Itu telepon dari siapa?” Briana menangis sebelum menjawab pertanyaanku.
“Itu
telepon Om Iwan,” Om Iwan? Siapa yang sakit? Om Iwan adalah adik Ayahku yang
berprofesi sebagai dokter. “Kakak nggak
mau tahu tentang ini, lagian, Kakak kan
yang milih buat ninggalin dia? Kakak juga yang bilang nggak mau ngedenger apapun tentang dia lagi kan?!”suara Briana semakin meninggi, tapi aku terlalu tertegun
untuk terganggu dengan suaranya. ‘Apa yang terjadi padanya sekarang?’
“Mayang
kenapa?” bersembunyi selama satu tahun dalam setiap doaku, akhirnya namanya
kembali kusuarakan
“Ngapain
mau tahu sekarang? Nggak penting buat Kakak!”
“Bri,
kasih tahu sekarang…” emosiku mulai menanjak, air mata Briana yang semakin
kencang tak membantu keadaanku sama sekali.
“Kakak
tahu dari dulu gimana Ayahnya Mayang kan?!
Tahu apa yang dijanjiin sama Ayahnya Mayang! Itu yang Ayahnya lakuin selama
ini, Kak!” aku membatu. Tahu pasti apa yang diucapkan oleh adikku. Bayangan
Ayah Mayang yang selalu membuatku merinding.
***
[Saat Mayang dan
Bima Kecil]
“Itu
kenapa sih jadi banyak lebam gitu tangannya?” tanyaku pada gadis yang selalu
mencuri perhatianku. Gadis yang baru berani kusapa belakangan ini. Ia hanya
menggeleng, “Kalau nggak apa-apa, gak
akan lebam gitu,” ia hanya menatapku.
“Nggak ada untungnya buat kamu, Bima.” Aku
mengerutkan keningku.
Beberapa bulan kemudian…
“MAYANG!
MAAYAANG!” aku memanggil namanya berkali-kali di depan rumahnya, namun sang
empu nama tak juga keluar. “MA…” panggilanku terpotong saat kulihat Ayah Mayang
keluar dan menutup pintu rumahnya dengan kasar.
“Heh,
bocah tengil! Berisik sekali kamu siang-siang begini!”
“Cuma
mau ajak Mayang main, Om.”
“HEH!
Kapan saya nikahi tantemu! Nggak usah
sok akrab kamu!” Ayah Mayang terlihat terburu-buru mengeluarkan kunci mobilnya.
“Mayangnya
ada, Pak?” bibir kecilku tak ingin diam.
“Heh,
bocah tengil! Nggak ada untungnya
kamu main sama anak pembawa sial itu! Lebih baik kamu pergi sekarang!”
***
[2 Tahun yang Lalu]
“Mayang
kenapa sekarang?” Tanyaku pelan tak siap dengan jawaban Briana.
“Kenapa
baru pengin tahu sekarang? Setahun ini kemana aja?” Briana memang tak
seharusnya memarahi Bima, tapi saat ini ia tak peduli. Baginya, jika Bima
tak pernah pergi, Mayang tak akan pernah seperti ini.
“Mayang
di rumah sakit…” Briana mengusap hidungnya, “kemarin Ayahnya kumat lagi!” Bima
bisa mendengar dengan jelas nada kebencian dari Briana, “lukanya Mayang parah,
Om Iwan nggak yakin Mayang bisa lari
lagi.” Tanpa sengaja aku tersenyum, Mayang memang tak pernah bisa berlari.
Untuk berjalan di bidang datar saja dia kesulitan, apalagi berlari. Briana juga
ikut mendengus kecil melihat senyumku. “Ya maksudnya, kaki Mayang nggak akan kaya semula lagi, Kak...”
raut sedih kembali menghantui wajah adikku.
“Kenapa
bisa sampai gitu?”
“Ayahnya
pikir mainin tongkat kasti ke kakinya bisa bikin Mayang kerja jauh lebih baik!”
kerja? “Mayang nggak pernah daftar
kuliah, Kak... dia berusaha ngumpulin uang untuk nyusul Kakak, karena Mayang sebetulya keterima disana... tapi
beasiswanya nggak full, makanya Mayang bilang nggak bisa ikut Kakak.” Aku tak pernah
tahu Mayang diterima di kampusku, tahu dia mendaftar saja tidak. “Kakak mau anterin aku jenguk Mayang?” aku hanya
pergi mengambil kunci mobil yang bergantung di tempat biasa Papa menggantungya
dan menarik tangan Briana sedikit.
***
[Masa Sekarang]
“Bi...
kamu pulang dulu gih, ganti baju, tidur
sebentar, makan, istirahat, nak.” aku hanya menggeleng. “Ya sudah, Mama juga
sebenarnya sudah minta tolong Briana membawakan kamu baju, habis itu kamu
kebawah ya, beli makanan sama Briana, Mama yang akan menjaga Mayang.” Briana
datang tepat setelah Mama mengatakan hal itu dan langsung menyuruhku untuk
mengganti pakaian.
“Kakak
mau makan apa?” tanya Briana basa-basi
“Apa
aja lah, kamu maunya apa? Kakak
ngikut.”
“Kita
makan sate ayam aja ya.” aku tertegun.
“Itu
kesukaan Mayang...” adikku hanya tersenyum dan menarik tanganku.
Selama
makan, aku tak hentinya tertawa mendengar seluruh cerita Briana, rencananya
terhadap anakku dan Mayang nanti, hingga kesulitannya sebagai mahasiswa tingkat
akhir. “Nah, kakak udah ketawa, jadi tugas Briana ke Mayang selesai deh.”
Briana nyengir. “Kak, carwash-nya nggak diurusin?” tanya Briana random.
“Kakak
percaya kok sama pegawainya. Cafe juga stabil. Alhamdulillah rejeki si dedek.”
kini giliranku yang tersenyum. “Udah kan
makannya? Kita balik lagi yuk.” Briana mengangguk, bersama-sama kami berjalan
menuju rumah sakit.
Masih
tertawa dan bercanda, aku dan Briana menuju kamar Mayang, tapi kami dikejutkan
oleh suara Mama yang nyaris berteriak. Istri Ayah Mayang berdiri didepan
ruangan Mayang yang dihalangi oleh Mama. “Saya bilang nggak bisa ya berarti nggak
bisa! Percuma kamu mau minta maaf, atau apapun itu! Mayang belum sadar
gara-gara tingkah suami kamu!” aku mempercepat langkahku, dan menarik lengan
wanita itu, menjauhi ruangan Mayang.
“Bima...
saya hanya mau minta maaf atas apa yang dilakukan suami saya” ucapnya sambil
menangis.
“Keluar!
Dan nggak usah datang lagi!” Suara ku
meninggi, mengesampingkan rasa sopanku,
“Saya
serius, Bima... saya benar-benar minta maaf.” Wanita itu terus memohon,
“Seingat
saya, saat anda di lokasi, anda hanya melihat apa yang suami anda lakukan
terhadap Mayang! Hanya melihat! Berteriak memintanya berhenti saja tidak! Jadi
maaf kalau saya tidak akan pernah mengijinkan anda mendekati keluarga saya
lagi!”
“Bima,
tolong cabut tuntutannya, Bima... suami saya hanya hilang kendali. Dia selalu
lembut pada saya, Bima, saya mohon...”
“Selalu
lembut pada anda? Karena yang dia kasari itu istri saya! Sejak dulu! Sejak
Mayang dikembalikan pada suami anda saat ibunya meninggal! Sejak dulu!” seorang
petugas keamanan datang menghampiriku dan menanyakan situasi kami. “Saya mohon
ibu ini jangan diijinkan mendekat keruangan istri saya!” aku pergi meninggalkan
petugas itu dan istri dari Ayah Mayang yang tak pernah benar-benar kuingat
namanya.***
0 komentar:
Posting Komentar