Senin, 05 Januari 2015

Oblivious #4

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

Diluar kamar Keenan, dr. Rhine telah disambut oleh keluarga Keenan, wanita paruh baya itu kembali tersenyum ramah. “Mungkin akan lebih baik jika kita membicarakan tentang kondisi Keenan di ruangan lain?”
“Di ruang kerja saya bagaimana?” dr. Awang bertanya diangguki oleh seluruhnya.
“Keenan masih menolak memori bawah sadarnya. Ingatannya masih belum beranjak dari pertemuannya dengan Kia terakhir kali.” dr. Rhine menerangkan dengan tenang saat semua keluarga Keenan telah terlihat lebih santai. dr. Kinanti dan Yara masih terus menitikan air mata. Pria kuat yang mereka sayangi kini terjebak diantara pikirannya sendiri.
“Tapi Keenan nggak punya kelainan mental kan?” dr. Kinanti bertanya disela isaknya.
“Saya tidak akan menyebutnya sebagai gangguan mental yang fatal. Apa yang dialami Keenan adalah depresi yang mengakibatkannya berhalusinasi. Alam sadar Keenan menolak kenyataan yang sebenarnya mengenai Kia. Sayangnya, penolakannya sangat keras, sehingga Keenan mempercayainya selama ini. Keenan membentuk sosok Kia, dan berinteraksi dengan halusinya karena Keenan tidak yakin dengan kemampuan dirinya sendiri. Ia tidak yakin jika dirinya bisa berfungsi dengan normal jika tidak ada sosok adiknya yang mendampingi.”
“Yang harus diingat, ini bukan salah siapapun. Ini pilihan Keenan. Kalian terkesan menutup mata tentang hal yang terjadi pada Keenan karena dua alasan. Kedekatan kalian dengannya, atau Keenan yang memang tidak ingin terbuka pada kalian.” Semua kini terdiam mendengar penjelasan dr. Rhine, hanya airmata yang menyuarakan rasa terdalam mereka.
“Yara mau ketemu Keenan dulu.” Yara akhirnya membuat gerakan pertama yang disetujui oleh semuanya.
***
“Hai… lagi liatin apa, say?” Yara menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Melihat Keenan yang sedang memperhatikan sesuatu ditangannya. Keenan bersandar ditumpukan bantal diatas ranjangnya. Ia tetap terlihat seperti Keenan biasanya, tampan.
“Hai… ini lagi liatin obat.” Ucap Keenan tanpa memalingkan wajahnya dari 2 buah pil yang ada ditangannya. “Saya bingung. Saya minum atau jangan ya?”
“Loh kenapa nggak diminum?” Yara menghampirinya.
“Perempuan yg tadi itu bilang, saya bisa minta bantuan Kia mengingat semuanya.”
“Maksud kamu dr. Rhine?” Yara bertanya. Meyakinkan dirinya mengapa dr. Rhine meminta Keenan untuk tidak meminum obatnya.
“Siapapun namanya saya nggak peduli.” Akhirnya Keenan melihat mata kekasihnya itu. “Saya boleh minta tolong?” Yara mengangguk. “Tolong tanya perempuan itu, apa saya benar-benar boleh tidak meminum obat ini.”
“Tentu saja boleh.” dr. Rhine tiba-tiba membuka pintu kamar Keenan yang memang tidak ditutup rapat. “Kalau kamu membutuhkan bantuan Kia, kamu boleh tidak meminum obat itu.” Ucapnya hangat.
“Boleh kita ngobrol diluar, sebentar?” Yara menarik dr. Rhine keluar dan menutu pintu kamar Keenan, kali ini dengan rapat. “Maaf dok, saya nggak ngerti kenapa Keenan disuruh minta bantuan pada halusinasinya sendiri?” dr. Rhine tersenyum dan memegang bahu Yara yang tegang.
 “Keenan menaruh kenyataan yang sesungguhnya didasar alam bawah sadarnya. Dan ia membangkitkan halusinasinya untuk membantu penguburan kenyataan itu. Saya mempengaruhi Keenan untuk bertanya pada halusinya dan membongkar alam bawah sadarnya. Kamu mengerti tentang ini, Yara. Kamu hanya belum menerima apa yang terjadi pada orang terdekatmu.” Otak Yara bekerja dengan sangat keras untuk mengerti setiap perkataan dr. Rhine yang selalu sadarnya sendiri tanpa paksaan dari luar agar tingkat stressnya tidak mencapai titik puncak.” Ia ingin calon suaminya cepat pulih, namun ia sadar jika dirinya memaksa terlalu keras, ia hanya akan semakin kehilangan Keenan.
“Sampai kapan Keenan kayak gini, dok? Saya nggak tega ngeliatnya.” Yara membuang nafas dengan kasar.
“Sabar, nak. Pemulihan apapun membutuhkan proses. Kamu adalah seorang psikolog. Saya mengerti kamu panik, dan tidak tega. Banyak sisi professional kamu yang dikesampingkan, tapi saya juga minta kamu yang paling mengerti disini. Kamu psikolog yang baik dalam menangani kejiwaan seseorang. Dan kamu sangat tahu bahwa kejiwaan bukanlah hal yang dapat diprediksi. Ia akan terus berlanjut, Yara. Keenan tidak akan utuh seperti dulu.” Yara menghapus jejak airmata terakhirnya dan tersenyum pada dr. Rhine. “Tapi ingat satu hal.” dr. Rhine memandang Yara tepat dikedua matanya. “Keenan bukan pasien kamu. Jangan sekalipun kamu memberinya nasihat atau apapun itu. Jadilah orang yang bisa diandalkan olehnya. Jadilah calon istrinya.” Yara mengangguk dan kembali menyelinap kedalam kamar Keenan.
***
Keenan menatap ruang kosong. Matanya penuh kasih sayang dan kecewa. Yara seolah dapat melihat otak Keenan bekerja. Yara ragu untuk mendekatinya, sampai Keenan mengucapkan beberapa kalimat.
“Bantu abang, dik. Abang bingung.” Yara terpaku. Untuk pertama kalinya ia melihat Keenan berinteraksi dengan halusinya.
“Keenan…” Keenan menatap Yara. “Kia ada disini?” Suaranya bergetar, air mata yang entah telah berapa banyak ia keluarkan kembali meluncur dengan bebas. Dibalik pandangannya yang kabur, Yara melihat Keenan mengangguk. “Boleh aku masuk?” Keenan kembali mengangguk.
“Kamu yakin mau ngeliat kegilaan saya?” tak sekalipun Keenan memalingkan wajahnya pada Yara.
“Kamu nggak gila, sayang. Jauh dari gila. Lagipula aku ingin ketemu Kia. Aku kangen Kia, Keen.” Yara duduk dihadapan kekasihnya.
“Kamu nggak bisa liat dia.”
“Iya memang nggak bisa. Tapi aku bisa liat kamu, dan kamu bisa liat Kia. Jadi kamu bisa bantuin aku dong ngobrol sama Kia.” Yara mencoba tegar, mengikuti kemana permainan akal Keenan mengajaknya. “Sekarang Kia kayak apa? Pake baju apa dia?”
“Ya seperti biasa. Tapi sekarang dia nggak senyum, Ra. Dia sedih liat saya.” Keenan menggelengkan kepalanya. “Dia pake sweater rajut biru muda yang kita kasih.” Keenan tersenyum.
Kia kangen Mbak Yara, bang. Kangen banget. Kia pengin meluk dia.” Kia ikut mengeluarkan suara yang hanya didengar oleh Keenan.
“Dia kangen kamu tuh, Ra.” Air mata Yara jatuh, tapi Keenan tertawa. “Tuh dik! Abang udah bilang, mbak kamunya malah nangis!” masih tetap tertawa dan air mata Yara masih tetap jatuh.
Beberapa menit kemudian Keenan tertidur ditemani oleh Yara yang masih sibuk memperhatikan siaran TV yang entah menceritakan apa. Tangannya sibuk mengelus rambut Keenan. “Aku tahu kamu berubah, aku tahu kamu aneh sejak kecelakaan itu. Tapi aku nggak pernah sadar kalau kamu kesiksa gini, Keen… maafin aku.” Yara berbicara sendiri, matanya tetap tertuju pada televisi, tapi airmatanya membuyarkan pandangannnya.
***
Pagi itu Keenan terbangun dengan cahaya matahari yang diiluminasi oleh tirai jendela kamarnya. Dilihatnya sekeliling kamarnya, dirinya masih menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya saat suara merasuki telinganya.
“Abang bangun! Kebo banget sih tidurnya!” Kia. Keningnya berkerut, dan ia mulai mengingat kenapa dirinya tertidur di kamar lamanya.
“Selamat pagi nona Kia.” Ucapnya sambil tersenyum. “Ada apa nih? Kok abang dapet kejutan pagi-pagi gini?”
“Hari ini, Kia mau Abang move on.” Kia masih tersenyum dan ceria. Tapi tidak dengan Keenan. “Hari ini Kia mau abang ikhlasin Kia.” Senyum Kia ikut memudar mengucapkan hal itu.
“Maksudnya apa?! Ngeikhlasin kamu gimana?! Gila kamu Kia! Nggak!” Suaranya meninggi, Keenan duduk dengan tiba-tiba dan menggosok wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Baaang…” Kia menggunakan nada manjanya pada Keenan, membuat Keenan sedikit tenang. “2 tahun itu udah cukup lama, Bang. Sekarang waktunya buat Abang bener-bener terima kenyataan.” Kia mendekati Keenan dan menarik tangan yang menutupi wajah Keenan. “Liat sekeliling Abang. Mama sama Papa pengin anak sulungnya yang kuat ini balik lagi, belum Mbak Yara…” Keenan memandang adiknya dengan penuh kesedihan. “Berapa bulan lagi coba Abang nikah? Abang loh yang harus jagain Mbak Yara! Bukan kebalikannya.”
Keenan menarik nafas panjang, “Tapi Abang nggak inget perginya kamu, dik.” Air matanya kembali menggenang. “Gimana bisa Abang ngeikhlasin sesuatu yang sangat berharga buat Abang, tapi Abang nggak pernah inget alasan kenapa Abang bisa sampai kehilangan.” Dengan kasar Keenan menghapus air matanya. Keenan berjalan, berkeliling mencoba menghentikan tremor (bergetar .red) tangannya.
“Kia bisa bantuin Abang sampai inget. Kia mau ngasih tau.”
“Nggak sekarang lah, Ki…”
“Terus sampai kapan? Sampai semua orang kesel sama abang? Sampai Mama Papa bawa Abang ketempat lain? Sampai Mbak Yara nggak mau ketemu lagi sama Abang?”
“Kamu ngomong apa sih?” Kia mulai membuat Keenan kesal.
“Kia kecewa sama Abang!” teriakan Kia menundukan kepala Keenan. “Abang sadar nggak kalau Kia nggak nyata?! Bangun Bang! Kia nggak bisa disini terus! Kia nggak mau!”
“Saya sayang sama kamu! Kamu yang bisa bikin saya senyum! Kamu yang paling bisa ngertiin saya! Kamu yang bisa saya manjain! Saya pengin jadi contoh yang baik buat kamu!” Keenan berteriak, tapi teriakan Keenan tidak membuat Kia tertunduk. “Saya pengin bikin kamu bahagia Kinaya! Kamu bikin hidup saya sempurna! Tapi apa?? Kamu ninggalin saya! Kamu bilang kamu ingin tinggal sama saya! Mana, Kinaya?! Kamu. Ninggalin. Saya!”
Diluar kamar Keenan, dr. Kinanti yang memang sedang tidak melaksanakan tugasnya di rumah sakit menangis kencang. Mendengar semua teriakan anaknya membuat luka kepergian Kia kembali menyayatnya. Ia tidak pernah sadar sebesar apa rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya.
“Semua orang bisa bikin abang senyum. Semua orang bisa abang manjain. Abang Cuma nolak buat ngelakuin itu semua. Kita nggak bisa ngelawan takdir, Bang…” Kia mendekati Keenan dan berlutut dihadapan Keenan yang kini diam disudut kamarnya. “Abang itu kuat, abang itu idola Kia, jadi Kia mohon… jangan bikin Kia kecewa, Bang.” Kia mengelus dahi abangnya yang mengeluarkan keringat dengan deras. “Sampai kapan Abang mau kayak gini?”
“Selamanya. Abang nggak akan pernah bisa ngeikhlasin kamu, Kia.”
“Abang mau nyiksa Kia?!” Kia berdiri dan menjauh secara perlahan. “Kia nggak mau ketemu lagi sama Abang! Kia kecewa sama Abang!”
Kepala Keenan tersentak, ia melihat Kia dengan perlahan berjalan mundur. “Kia!” bentakan Keenan menggaung diseluruh ruangannya. “Please… nggak sekarang… tungguin Abang siap.” Suaranya yang sebelumnya meninggi berubah menjadi kelu dan tak lebih dari bisikan sakit hati.
“Harusnya dari dulu Abang siap.”
Nggak Kia!” Keenan kembali berteriak. Membuat dr. Kinanti akhirnya memasuki kamar Keenan dan berlari kearahnya.
“Keenan… Keenan… sadar nak…” dr. Kinanti memanggil anaknya yang masih melihat kearah Kia yang dalam pandangan dr. Kinanti hanyalah ruang kosong.
“Ma… bantuin Keenan, Ma… Kia kecewa sama saya… Keenan nggak mau, Ma…” Keenan memeluk mamanya seperti anak kecil yang ketakutan dengan tangis yang semakin lama semakin mengeras.
“Nggak, nak… Kia nggak kecewa sama kamu, sayang. Keenan… tenang…” tak satupun dari perkataan dr. Kinanti terserap oleh otak Keenan. Disaat yang bersamaan, dr. Rhine datang melakukan kunjungan rutinnya setiap pagi dan langsung menghampiri Keenan dan dr. Kinanti yang terduduk dilantai.
“Keenan… lihat saya.” Perintah dr. Rhine yang anehnya dituruti Keenan. “Tarik nafas dalam-dalam… ikuti nafas Mama kamu.” Keenan menuruti perintah yang ditunjukan kepadanya, dan dr. Kinanti  membantu Keenan atas perintah dr. Rhine yang secara tidak langsung itu. “Bagus… begitu terus ya Keenan.” Mata Keenan kembali tertuju pada sosok Kia yang memperhatikannya dengan air mata yang mengalir di pipi putihnya. “Keenan… kamu hanya boleh liat saya sekarang. Nggak yang lain. Biarin dulu Kianya.” Dr. Rhine kembali menarik perhatian Keenan dan membawanya kembali keatas ranjangnya.
“Maafin Abang, Ki… maafin Abang.” Keenan terus menggumamkan kalimat itu hingga ia tertidur dipelukan dr. Kinanti yang masih terus mengelus rambut Keenan dengan lembut.
“Maafkan saya, dok. Saya tidak mengingatkan anda mengenai breakdown (Proses dimana orang tidak dapat menahan emosinya .red) yang mungkin akan dialami oleh Keenan.” dr. Rhine menundukan kepalanya. “Saya tidak mengira breakdown-nya akan secepat ini.”
“Sudah… tidak apa-apa. Kalau sudah begini, apa yang akan terjadi pada anak saya?”
“Seperti yang kita ketahui, dokter. Keadaan psikis manusia tidak bisa diterka. Tapi ini adalah hal yang baik. Ini pertanda adanya upaya dari Keenan untuk menggali alam bawah sadarnya. Saya harap, tidak lama lagi Keenan akan pulih.”
Obrolan mereka diinterupsi kehadiran Yara yang panik dan langsung menghampiri mereka dikamar Keenan. “Ma, Keenan kenapa?” terlihat jelas kepanikan dimata Yara, namun tangannya tetap dengan lembut mengelus rambut Keenan yang masih dipeluk oleh dr. Kinanti.
“Keenan tadi teriak-teriak, Ra. Tapi dr. Rhine bilang itu wajar, karena cepat atau lambat Keenan pasti mengalami hal semacam ini.” pandangan Yara mengarah pada dr. Rhine yang ada disampingnya.
“Secepat ini, dok? Kok bisa?”
“Saya kurang tahu apa alasannya. Mungkin ini adalah hari spesial Keenan atau Kia, atau mungkin mereka.” Yara menggelengkan kepalanya, menyatakan bahwa ia tidak mengetahuinya. Namun mata dr. Kinanti kembali berlinang air mata.
“Keenan dan Kia selalu merayakan ulangtahun Kia 2 minggu setelah tanggal kelahiran Kia. Karena 2 minggu setelahnya, Keenan yang berulangtahun. Ini hari spesial mereka, yang selalu
mereka rayakan berdua. Sibling Bonding mereka bilang, Keenan yang mencetuskannya.” dr. Kinanti mencium kening Keenan. “Apa kenangan itu cukup kuat hingga membuat Keenan seperti ini?”

“Ya… sangat cukup. Apalagi hal ini lebih penting bagi diri Keenan daripada Kia sendiri. Wajar jika Keenan mengalami breakdown.” Semua terdiam selama beberapa menit, memperhatikan setiap gerak dada Keenan saat ia menarik nafas. “Saya akan berada diluar hingga Keenan bangun, dan memulai sesi seperti biasanya.” Dr. Rhine melangkah keluar, membiarkan Yara dan dr. Kinanti menikmati ketenangan Keenan.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com