Keenan terbangun 1 jam setelahnya masih
ditemani oleh dr. Kinanti dan Yara. Ingatannya kembali pada perkataan Kia yang
telah kecewa terhadapnya.
“Ma… Kia mana?” Keenan mengedarkan
pandangannya. “Ma…”
“Hey sayang. Tidurnya enak?” Yara
mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Hai… Kia mana, Ra? Saya harus minta
maaf sama dia.”
“Yang tau Kia dimana kan cuma kamu, Keen. Kalau kamu tanya
aku, nanti malah aku anterin kamu ke makamnya, sayang.” Yara berkata dengan
lembut.
“Kia sudah meninggal, nak. Terimain
yaa.” Keenan menutup matanya dengan keras. Setelah berusaha mengatur emosinya,
dr. Kinanti mulai berbicara. “dr. Rhine nungguin kamu diluar. Kamu mau ngobrol
lagi sama dia?”
“Keenan mau ngomong sama Kia, Ma.”
Keenan memutar bola matanya kesal.
“Kamu ngobrol dulu sama dr. Rhine, baru
nanti kamu ngobrol sama Kia ya.” Yara mencoba mengengahi Keenan dan dr.
Kinanti.
“Ikut Mama sama Yara yuk. Kita ketemu
dr. Rhine dulu.”
Meski enggan, Keenan mengikuti ucapan
kedua wanita yang ada dihadapannya. Keenan memasukan keduatangannya ke saku
celana training-nya dan diapit oleh
Yara dan dr. Kinanti, berjalan kearah taman belakang rumah itu. Kehadiran
mereka disambut dr. Rhine yang sedang membaca sebuah buku.
“Hai, Keenan.” dr. Rhine berdiri
menghampiri Keenan. “Gimana hari ini?”
“Berantem sama Kia.” Ucap Keenan datar.
“Lho, kenapa?” Keenan tidak menjawab,
dipandanginya rumput yang ia injak. “Keenan, kita ngobrol disana aja sambil
duduk yuk. Biar dr. Kinanti sama Yara kedalam, gimana?” Keenan hanya
mengangguk, berjalan menuju kursi yang ada di dekat kolam ikan dan Yara menarik
dr. Kinanti kedalam. “Sekarang kamu bisa ceritakan sama saya kenapa kamu
berantem sama Kia.”
“Kia kecewa sama saya karena saya nolak
dia waktu dia mau certain semuanya.”
“Cerita apa?”
“Cerita tentang bagaimana dia
meninggal.”
“Jadi kamu tahu sekarang bahwa Kia
udah nggak
ada?”
“Sekarang saya tahu Kia udah nggak ada. Tapi saya belum bisa
mengingat kenapa dia meninggal dan saya belum siap kehilangan dia.”
“Oke.” dr. Rhine mengangguk dan
menuliskan sesuatu di sebuah buku kecil yang ia bawa. “Apa yang ingin kamu
lakukan sekarang?”
“Saya mau minta maaf sama Kia.” Keenan
terdiam lalu membuang nafasnya dengan kasar. “Apa yang akan terjadi kalau saya nggak mengikhlaskan kepergian Kia?”
“Kia akan merasa sangat sedih. Dia bisa
melihat kita dari sana, Keenan. Biarkan dia tenang. Apa kamu mau Kia melihat
kamu lemah seperti ini?” Keenan menggeleng. “Jangan kecewakan dia, Keenan.”
“Saya mau kekamar… dan saya nggak mau diganggu.” Tegas Keenan sambil
berdiri dan mulai beranjak, namun dr. Rhine memanggilnya.
“Keenan…” Keenan membalikan tubuhnya.
“Terima kenyataan yang nggak bisa
kamu rubah.” dr. Rhine berjalan ke arahnya. “Itu bagian dari hidup.” Lalu dr,
Rhine meninggalkannya untuk memberinya ruang berpikir. Keenan melangkahkan kakinya
menuju kamarnya.
***
Kia sedang bermain dengan bantal Keenan
saat Keenan memasuki kamarnya. Keenan memperhatikan Kia dengan seksama hingga
airmata kembali mengalir dipipinya.
“Hai Bang… udah puas ngeliatin aku?” Kia
tiba-tiba menyapa Keenan membuatnya berjalan kearah Kia dan memeluk Kia dengan
erat.
“Kamu tau kan Abang sayang banget sama kamu?” Kia mengangguk. “Ceritain
semuanya, Ki.” Keenan melepaskan pelukannya dari Kia. Mereka duduk berhadapan,
Kia menghapus sisa jejak air mata yang ada di pipi abangnya.
“Abang mau Kia cerita darimana?”
“Dari awal.” Tarikan nafas Keenan terasa
begitu berat “Jangan ada yang dilewat.”
***
“Kenapa
sih Kia nggak boleh kerja?!” Kia
berteriak ngambek dihadapan orangtuanya. Dirinya sedang merayu kedua
orangtuanya untuk bekerja sebagai Shop
Keeper salah satu distro.
“Kia… kamu masih kecil, nak. Kamu juga
baru masuk kuliah kan? Kenapa mau
kerja tiba-tiba sih?” dr. Kinanti menatap Kia dengan tatapan keibuan yang
biasanya dapat meluluhkan Kia.
“Kia pengin kaya Bang Keenan yang udah
mandiri. Bisa tinggal sendiri, nggak
minta uang lagi sama Mama Papa.”
“Lho dik, ko bawa-bawa Abang?” Keenan yang saat itu memang sudah tinggal
sendiri sedang berkunjung kerumah masa kecilnya.
“Ya soalnya Kia pengin kaya Abang. Bisa
mandiri. Apa-apa beli sendiri.”
“Kia… abang kamu kan memang sudah 24 tahun. Sudah waktunya dia bekerja.” dr. Awang
menahan emosinya dan berbicara dengan tenang.
“Tapi Abang udah begini dari dulu!
Sebelum abang lulus.”
“Abang kamu berusaha sendiri dari umur
22 tahun. Bukan dari 18 tahun seperti kamu.”
“Tapi Pa… Kia pengin bisa beli apa-apa
sendiri juga.”
“Ya kan
kamu memang beli apapun sendirian, nggak
minta antar Papa ataupun Mama.” dr. Awang berusaha mengajak putrinya bercanda
agar suasana tidak terlalu tegang lagi.
“Papaaaa… maksudnya Kia, Kia pengin pake
uang sendiri.”
“Nggak,
Ki.” Ibu dari kerluarga ini mengeluarkan nada tak terbantahkannya. “Pokoknya
nggak ada kerja part time buat kamu.
Mama nggak setuju.”
“Mamaaaaa…” Kia merengek, mata Kia mulai
panas. “Abaaaaang… bantuin Kia…” Air mata Kia jatuh.
Keenan mengangkat kedua tangannya,
“Abang nggak ikutan, Ki.” Bibir Kia semakin maju. “Tapi kalau kamu nanya
pendapat Abang… yaaa… Abang juga nggak setuju.”
“Aaaa… Abang kok gitu sih..” Air mata
Kia semakin deras mengalir.
“Dik… kamu baru mulai kuliah loh.
Sekarang pengin kerja. Yang lain deh kerjanya.”
“Gini deh, Mama setuju kamu kerja…”
senyum Kia mulai terbentuk. “Tapi kamu kerja jadi assistantnya Mama. Mama yang
gaji kamu.”
“Itu mah sama aja boong, Ma..”Tangis Kia kembali meledak. “Pa… please…” Masih
menyimpan harapan pada ayahnya,
“Nggak, Ki… cari kerja lain. Nggak jadi Shop Keeper. Papa nggak setuju.”
“Mama juga nggak setuju.”Mata Kia
tertuju pada Keenan.
“Maaf, Dik. Abang juga ikut sama Mama
Papa.” Tangis Kia meledak.
“Kia sebel sama kalian semua!” Kia
menghentakan kakinya, mendorong Keenan hingga terjatuh dari sofa dan berlari
menuju kamarnya.
“Kinaya Anindior!” dr. Kinanti
meneriakan nama Kia yang tetap berlari.
“Udahlah, Ma. Kianya masih bad mood biarin dulu aja sendiri.”
Keenan menenangkan mamanya, dr. Awang sekarang duduk disamping dr. Kinanti dan
juga memeluknya mengikuti gerakan Keenan.
Satu jam lebih telah berlalu, Kia masih
mengurung diri dikamarnya dan membuat keluarganya khawatir.
“Keen, Kia masih belum keluar tuh. Mama
jadi khawatir… biasanya kan dia keluar
masuk terus bawain makanan.” dr. Kinanti menghampiri Keenan yang sedang melahap
kentang goreng diruang TV.
“Biarin, Ma. Kia kan lagi bete.” Keenan
masih dengan santainya menikmati kudapan buatan tangan mamanya.
“Ma, Kia kenapa kok tiba-tiba pengin
kerja? Kia nggak pernah cerita
sebelumnya sama saya.” Keenan memulai percakapannya dengan mamanya.
“Sejak kamu pindah, Papa sama Mama
semakin sibuk karena ada beberapa konverensi yang harus kita datangi bersama.
Jadi Kia sering kami tinggal. Mungkin karena itu, Keen.”
“Kia kan
sering nginep di saya, Ma. Harusnya
dia nggak kesepian.”
“Memang itu sebetulnya yang Kia pengin.”
Papa tiba-tiba bergabung bersama mereka. “Kia pengin tinggal bareng kamu
Keenan.”
“Ya udah… Kia ikut Keenan aja dulu. Dia
juga kan masih marah sama Mama sama
Papa.” Keenan berusaha memberi saran. Orangtuanya saling tukar pandang,
melakukan komunikasi tanpa suara dan mengangguk.
“Oke deh. Kia tinggal dulu sama kamu.
Tapi kamu yakin bisa?”
“Bisa kok, Pa.”
“Ya udah, Mama panggil dulu Kianya ya.”
dr. Kinanti berjalan menuju kamar Kia.
dr. Awang mengikuti posisi duduk Keenan
dan ikut menikmati kudapan dari istrinya saat tak lama kemudian terdengar
panggilan dr. Kinanti yang agak histeris dari kamar Kia.
“Kenapa, Ma?” dr. Awang berlari dan
menarik dr. Kinanti.
“Kia… Kia kabur, Pa!” dr. Kinanti sudah
sangat panik saat Keenan dan dr. Awang sampai dikamar Kia.
“Hah? Maksudnya?” Keenan masih belum
mengerti.
“Ini ada surat dari Kia… dia bilang dia
kesel dan kecewa sama kita…” dr. Kinanti berusaha menjelaskan diantara sela
tangis.
“Ya ampun, Kia…” Keenan terduduk di
ranjang Kia sambil menggosok wajahnya gemas. “Udah Mama tenang aja… Keenan yang
cari Kia.” Keenan berdiri meninggalkan dr. Kinanti yang masih histeris.
“Mama disini ya. Tenangin dulu. Papa
sama Keenan cari dulu Kia.” dr. Kinanti mengangguk dan melepaskan diri dari
pelukan suaminya.
***
Sembilan puluh menit berlalu, Kia masih
belum ditemukan. Keenan mulai panik. Adiknya memang belum pernah pergi sendiri
tanpa kabar seperti ini, ditambah Kia mematikan telepon genggamnya. Hampir 2
jam berlalu, malam pun semakin larut, Keenan memutuskan untuk beristriahat
disebuah kios didaerah Dago.
“Mas, air mineral botol satu ya.” Keenan
memilih snack yang sebetulnya jauh dari
sehat dan memakannya. Telepon genggamnya berdering, dr. Awang menghubunginya.
“Halo, Pa… gimana?”
“Papa belum nemuin Kia, Keen. Tadi Mama telepon, katanya sekarang dia udah
ditemani Yara.”
“Syukur lah kalau Yara udah sampai
disana. Tadi Keenan emang telepon Yara. Keenan juga belum, Pa… aduh ini udah
malem lagi, Pa… Kia kem-“
“Abaaaaang!” Suara manja terindah yang
pernah ia dengar memanggil namanya dari arah tenda penjual jagung bakar di
sebelah kios tempat Keenan membeli kudapannya.
“Pa… Kianya ketemu, Pa..” Keenan menutup
teleponnya dan berlari kearah Kia.
“Abaang…” Kia memeluk abangnya dengan
erat dan Keenan dapat merasakan tubuh Kia yang gemetaran. Dilihat adiknya hanya
menggunakan denim blue navy selutut dan sebuah kaus joy division hitam dan
jaket hoodie abu gelap kesayangannya serta tas kipling coklat muda yang memang
teman bermainnya kemanapun, kakinya dilindungi oleh sepasang vans abu. “Kia
takut, Bang…”
“Kamu ngapain sih pake kabur-kaburan
segala, Ki?!” Keenan sedikit menjitak kepala Kia saking gemasnya. “Tau nggak Mama sama Papa tuh paniknya kaya
apa?!” Keenan meledak. “Ini udah malem, Kia… kamu Cuma pake baju kaya gitu
lagi! Ini dingin loh!”
“Iya maaf… Kia kesel sama Mama Papa…”
“Kamu darimana aja?! Gimana caranya bisa
sampe sini?”
“Jalan…”
“Jalan?! Dari rumah kamu jalan kesini?!
Pake baju begini?! Kamu cari bahaya apa?!”
“Ini malem minggu, Bang… banyak cewek
yang pake baju lebih pendek dari aku.”
“Iya mereka sama pacarnya! Kamu mana?
Sendirian! Sok berani banget sih kamu!”
“Iya maaf…”
“Kita pulang sekarang.”
“Tapi nggak mau kerumah…” Kia merengek… wajahnya masih cemberut.
“Kamu tinggal sama Abang mulai sekarang.
Tapi janji sama Abang… nggak ada
kabur-kaburan lagi…” mereka berjalan menuju mobilnya.
“Boleh kerja kan?” wajah Kia tiba-tiba berubah ceria.
“Terserah kamu lah!” Keenan mengeluarkan
telepon genggamnya dan mulai men-dial
nomor dr. Awang. “Halo, Pa? ini saya udah sama Kia, saya langsung bawa Kia ke apartemen
saya ya.”
“Alhamdulillah… Ok. Hati-hati ya. Kalau
ada apa-apa telepon Papa.”
“Siap, Pa.” Keenan menaruh telepon
genggamnya dan mulai menjalankan kendaraan roda empatnya.
“Baang…” Kia memanggil
“Hmmh?”
“Laper…” rengek Kia
“Kan
tadi kamu dari tempat jagung bakar, Ki.”
“Emang aku makan jagung?”
“Terus itu di bibir kamu item-item apa?”
“Aaaaah…!” Kia mendramatisir desahannya.
“Kan bukan nasi, Bang…” Keenan
berusaha menahan senyumnya. Adiknya memang pencinta nasi.
“Ya udah… mau apa?”
“Pecel ayam sama sotonya.” Kia
menunjukan deretan giginya yang rapih.
“Kamu makan tuh banyak banget tapi nggak ada yang jadi daging.” Keenan
memandang wajah kurus adiknya.
“Sirik yaaaa…” Goda Kia “Aku pengin yang
di BuBat tapi…” Kia menundukan kepalanya, mencari cara agar diikuti
keinginannya oleh Keenan.
“Siap bu… siap… Tapi makannya dirumah! Nggak disana ya!”
“YEAAAY!!!!” Kia berteriak girang.
***
Keenan yang menutup matanya, kepalanya
pusing karena ia berusaha untuk terus membangkitkan memorinya dari apa yang
diceritakan Kia,
“Abang masih mau dengerin cerita Kia?”
Kia bertanya
“Lanjutin, Ki.” Kia mengangguk.***
0 komentar:
Posting Komentar