Senin, 12 Januari 2015

Oblivious #5

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

Keenan terbangun 1 jam setelahnya masih ditemani oleh dr. Kinanti dan Yara. Ingatannya kembali pada perkataan Kia yang telah kecewa terhadapnya.
“Ma… Kia mana?” Keenan mengedarkan pandangannya. “Ma…”
“Hey sayang. Tidurnya enak?” Yara mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Hai… Kia mana, Ra? Saya harus minta maaf sama dia.”
“Yang tau Kia dimana kan cuma kamu, Keen. Kalau kamu tanya aku, nanti malah aku anterin kamu ke makamnya, sayang.” Yara berkata dengan lembut.
“Kia sudah meninggal, nak. Terimain yaa.” Keenan menutup matanya dengan keras. Setelah berusaha mengatur emosinya, dr. Kinanti mulai berbicara. “dr. Rhine nungguin kamu diluar. Kamu mau ngobrol lagi sama dia?”
“Keenan mau ngomong sama Kia, Ma.” Keenan memutar bola matanya kesal.
“Kamu ngobrol dulu sama dr. Rhine, baru nanti kamu ngobrol sama Kia ya.” Yara mencoba mengengahi Keenan dan dr. Kinanti.
“Ikut Mama sama Yara yuk. Kita ketemu dr. Rhine dulu.”
Meski enggan, Keenan mengikuti ucapan kedua wanita yang ada dihadapannya. Keenan memasukan keduatangannya ke saku celana training-nya dan diapit oleh Yara dan dr. Kinanti, berjalan kearah taman belakang rumah itu. Kehadiran mereka disambut dr. Rhine yang sedang membaca sebuah buku.
“Hai, Keenan.” dr. Rhine berdiri menghampiri Keenan. “Gimana hari ini?”
“Berantem sama Kia.” Ucap Keenan datar.
“Lho, kenapa?” Keenan tidak menjawab, dipandanginya rumput yang ia injak. “Keenan, kita ngobrol disana aja sambil duduk yuk. Biar dr. Kinanti sama Yara kedalam, gimana?” Keenan hanya mengangguk, berjalan menuju kursi yang ada di dekat kolam ikan dan Yara menarik dr. Kinanti kedalam. “Sekarang kamu bisa ceritakan sama saya kenapa kamu berantem sama Kia.”
“Kia kecewa sama saya karena saya nolak dia waktu dia mau certain semuanya.”
“Cerita apa?”
“Cerita tentang bagaimana dia meninggal.”
“Jadi kamu tahu sekarang bahwa Kia udah  nggak ada?”
“Sekarang saya tahu Kia udah nggak ada. Tapi saya belum bisa mengingat kenapa dia meninggal dan saya belum siap kehilangan dia.”
“Oke.” dr. Rhine mengangguk dan menuliskan sesuatu di sebuah buku kecil yang ia bawa. “Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?”
“Saya mau minta maaf sama Kia.” Keenan terdiam lalu membuang nafasnya dengan kasar. “Apa yang akan terjadi kalau saya nggak mengikhlaskan kepergian Kia?”
“Kia akan merasa sangat sedih. Dia bisa melihat kita dari sana, Keenan. Biarkan dia tenang. Apa kamu mau Kia melihat kamu lemah seperti ini?” Keenan menggeleng. “Jangan kecewakan dia, Keenan.”
“Saya mau kekamar… dan saya nggak mau diganggu.” Tegas Keenan sambil berdiri dan mulai beranjak, namun dr. Rhine memanggilnya.
“Keenan…” Keenan membalikan tubuhnya. “Terima kenyataan yang nggak bisa kamu rubah.” dr. Rhine berjalan ke arahnya. “Itu bagian dari hidup.” Lalu dr, Rhine meninggalkannya untuk memberinya ruang berpikir. Keenan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
***
Kia sedang bermain dengan bantal Keenan saat Keenan memasuki kamarnya. Keenan memperhatikan Kia dengan seksama hingga airmata kembali mengalir dipipinya.
“Hai Bang… udah puas ngeliatin aku?” Kia tiba-tiba menyapa Keenan membuatnya berjalan kearah Kia dan memeluk Kia dengan erat.
“Kamu tau kan Abang sayang banget sama kamu?” Kia mengangguk. “Ceritain semuanya, Ki.” Keenan melepaskan pelukannya dari Kia. Mereka duduk berhadapan, Kia menghapus sisa jejak air mata yang ada di pipi abangnya.
“Abang mau Kia cerita darimana?”
“Dari awal.” Tarikan nafas Keenan terasa begitu berat “Jangan ada yang dilewat.”
***
 “Kenapa sih Kia nggak boleh kerja?!” Kia berteriak ngambek dihadapan orangtuanya. Dirinya sedang merayu kedua orangtuanya untuk bekerja sebagai Shop Keeper salah satu distro.
“Kia… kamu masih kecil, nak. Kamu juga baru masuk kuliah kan? Kenapa mau kerja tiba-tiba sih?” dr. Kinanti menatap Kia dengan tatapan keibuan yang biasanya dapat meluluhkan Kia.
“Kia pengin kaya Bang Keenan yang udah mandiri. Bisa tinggal sendiri, nggak minta uang lagi sama Mama Papa.”
“Lho dik, ko bawa-bawa Abang?” Keenan yang saat itu memang sudah tinggal sendiri sedang berkunjung kerumah masa kecilnya.
“Ya soalnya Kia pengin kaya Abang. Bisa mandiri. Apa-apa beli sendiri.”
“Kia… abang kamu kan memang sudah 24 tahun. Sudah waktunya dia bekerja.” dr. Awang menahan emosinya dan berbicara dengan tenang.
“Tapi Abang udah begini dari dulu! Sebelum abang lulus.”
“Abang kamu berusaha sendiri dari umur 22 tahun. Bukan dari 18 tahun seperti kamu.”
“Tapi Pa… Kia pengin bisa beli apa-apa sendiri juga.”
“Ya kan kamu memang beli apapun sendirian, nggak minta antar Papa ataupun Mama.” dr. Awang berusaha mengajak putrinya bercanda agar suasana tidak terlalu tegang lagi.
“Papaaaa… maksudnya Kia, Kia pengin pake uang sendiri.”
Nggak, Ki.” Ibu dari kerluarga ini mengeluarkan nada tak terbantahkannya. “Pokoknya nggak ada kerja part time buat kamu. Mama nggak setuju.”
“Mamaaaaa…” Kia merengek, mata Kia mulai panas. “Abaaaaang… bantuin Kia…” Air mata Kia jatuh.
Keenan mengangkat kedua tangannya, “Abang nggak ikutan, Ki.” Bibir Kia semakin maju. “Tapi kalau kamu nanya pendapat Abang… yaaa… Abang juga nggak setuju.”
“Aaaa… Abang kok gitu sih..” Air mata Kia semakin deras mengalir.
“Dik… kamu baru mulai kuliah loh. Sekarang pengin kerja. Yang lain deh kerjanya.”
“Gini deh, Mama setuju kamu kerja…” senyum Kia mulai terbentuk. “Tapi kamu kerja jadi assistantnya Mama. Mama yang gaji kamu.”
“Itu mah sama aja boong, Ma..”Tangis Kia kembali meledak. “Pa… please…” Masih menyimpan harapan pada ayahnya,
“Nggak, Ki… cari kerja lain. Nggak jadi Shop Keeper. Papa nggak setuju.”
“Mama juga nggak setuju.”Mata Kia tertuju pada Keenan.
“Maaf, Dik. Abang juga ikut sama Mama Papa.” Tangis Kia meledak.
“Kia sebel sama kalian semua!” Kia menghentakan kakinya, mendorong Keenan hingga terjatuh dari sofa dan berlari menuju kamarnya.
“Kinaya Anindior!” dr. Kinanti meneriakan nama Kia yang tetap berlari.
“Udahlah, Ma. Kianya masih bad mood biarin dulu aja sendiri.” Keenan menenangkan mamanya, dr. Awang sekarang duduk disamping dr. Kinanti dan juga memeluknya mengikuti gerakan Keenan.
Satu jam lebih telah berlalu, Kia masih mengurung diri dikamarnya dan membuat keluarganya khawatir.
“Keen, Kia masih belum keluar tuh. Mama jadi khawatir… biasanya kan dia keluar masuk terus bawain makanan.” dr. Kinanti menghampiri Keenan yang sedang melahap kentang goreng diruang TV.
“Biarin, Ma. Kia kan lagi bete.” Keenan masih dengan santainya menikmati kudapan buatan tangan mamanya.
“Ma, Kia kenapa kok tiba-tiba pengin kerja? Kia nggak pernah cerita sebelumnya sama saya.” Keenan memulai percakapannya dengan mamanya.
“Sejak kamu pindah, Papa sama Mama semakin sibuk karena ada beberapa konverensi yang harus kita datangi bersama. Jadi Kia sering kami tinggal. Mungkin karena itu, Keen.”
“Kia kan sering nginep di saya, Ma. Harusnya dia nggak kesepian.”
“Memang itu sebetulnya yang Kia pengin.” Papa tiba-tiba bergabung bersama mereka. “Kia pengin tinggal bareng kamu Keenan.”
“Ya udah… Kia ikut Keenan aja dulu. Dia juga kan masih marah sama Mama sama Papa.” Keenan berusaha memberi saran. Orangtuanya saling tukar pandang, melakukan komunikasi tanpa suara dan mengangguk.
“Oke deh. Kia tinggal dulu sama kamu. Tapi kamu yakin bisa?”
“Bisa kok, Pa.”
“Ya udah, Mama panggil dulu Kianya ya.” dr. Kinanti berjalan menuju kamar Kia.
dr. Awang mengikuti posisi duduk Keenan dan ikut menikmati kudapan dari istrinya saat tak lama kemudian terdengar panggilan dr. Kinanti yang agak histeris dari kamar Kia.
“Kenapa, Ma?” dr. Awang berlari dan menarik dr. Kinanti.
“Kia… Kia kabur, Pa!” dr. Kinanti sudah sangat panik saat Keenan dan dr. Awang sampai dikamar Kia.
“Hah? Maksudnya?” Keenan masih belum mengerti.
“Ini ada surat dari Kia… dia bilang dia kesel dan kecewa sama kita…” dr. Kinanti berusaha menjelaskan diantara sela tangis.
“Ya ampun, Kia…” Keenan terduduk di ranjang Kia sambil menggosok wajahnya gemas. “Udah Mama tenang aja… Keenan yang cari Kia.” Keenan berdiri meninggalkan dr. Kinanti yang masih histeris.
“Mama disini ya. Tenangin dulu. Papa sama Keenan cari dulu Kia.” dr. Kinanti mengangguk dan melepaskan diri dari pelukan suaminya.
***
Sembilan puluh menit berlalu, Kia masih belum ditemukan. Keenan mulai panik. Adiknya memang belum pernah pergi sendiri tanpa kabar seperti ini, ditambah Kia mematikan telepon genggamnya. Hampir 2 jam berlalu, malam pun semakin larut, Keenan memutuskan untuk beristriahat disebuah kios didaerah Dago.
“Mas, air mineral botol satu ya.” Keenan memilih snack yang sebetulnya jauh dari sehat dan memakannya. Telepon genggamnya berdering, dr. Awang menghubunginya. “Halo, Pa… gimana?”
“Papa belum nemuin Kia, Keen. Tadi Mama telepon, katanya sekarang dia udah ditemani Yara.”
“Syukur lah kalau Yara udah sampai disana. Tadi Keenan emang telepon Yara. Keenan juga belum, Pa… aduh ini udah malem lagi, Pa… Kia kem-“
“Abaaaaang!” Suara manja terindah yang pernah ia dengar memanggil namanya dari arah tenda penjual jagung bakar di sebelah kios tempat Keenan membeli kudapannya.
“Pa… Kianya ketemu, Pa..” Keenan menutup teleponnya dan berlari kearah Kia.
“Abaang…” Kia memeluk abangnya dengan erat dan Keenan dapat merasakan tubuh Kia yang gemetaran. Dilihat adiknya hanya menggunakan denim blue navy selutut dan sebuah kaus joy division hitam dan jaket hoodie abu gelap kesayangannya serta tas kipling coklat muda yang memang teman bermainnya kemanapun, kakinya dilindungi oleh sepasang vans abu. “Kia takut, Bang…”
“Kamu ngapain sih pake kabur-kaburan segala, Ki?!” Keenan sedikit menjitak kepala Kia saking gemasnya. “Tau nggak Mama sama Papa tuh paniknya kaya apa?!” Keenan meledak. “Ini udah malem, Kia… kamu Cuma pake baju kaya gitu lagi! Ini dingin loh!”
“Iya maaf… Kia kesel sama Mama Papa…”
“Kamu darimana aja?! Gimana caranya bisa sampe sini?”
“Jalan…”
“Jalan?! Dari rumah kamu jalan kesini?! Pake baju begini?! Kamu cari bahaya apa?!”
“Ini malem minggu, Bang… banyak cewek yang pake baju lebih pendek dari aku.”
“Iya mereka sama pacarnya! Kamu mana? Sendirian! Sok berani banget sih kamu!”
“Iya maaf…”
“Kita pulang sekarang.”
“Tapi nggak mau kerumah…” Kia merengek… wajahnya masih cemberut.
“Kamu tinggal sama Abang mulai sekarang. Tapi janji sama Abang… nggak ada kabur-kaburan lagi…” mereka berjalan menuju mobilnya.
“Boleh kerja kan?” wajah Kia tiba-tiba berubah ceria.
“Terserah kamu lah!” Keenan mengeluarkan telepon genggamnya dan mulai men-dial nomor dr. Awang. “Halo, Pa? ini saya udah sama Kia, saya langsung bawa Kia ke apartemen saya ya.”
“Alhamdulillah… Ok. Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa telepon Papa.”
“Siap, Pa.” Keenan menaruh telepon genggamnya dan mulai menjalankan kendaraan roda empatnya.
“Baang…” Kia memanggil
“Hmmh?”
“Laper…” rengek Kia
Kan tadi kamu dari tempat jagung bakar, Ki.”
“Emang aku makan jagung?”
“Terus itu di bibir kamu item-item apa?”
“Aaaaah…!” Kia mendramatisir desahannya. “Kan bukan nasi, Bang…” Keenan berusaha menahan senyumnya. Adiknya memang pencinta nasi.
“Ya udah… mau apa?”
“Pecel ayam sama sotonya.” Kia menunjukan deretan giginya yang rapih.
“Kamu makan tuh banyak banget tapi nggak ada yang jadi daging.” Keenan memandang wajah kurus adiknya.
“Sirik yaaaa…” Goda Kia “Aku pengin yang di BuBat tapi…” Kia menundukan kepalanya, mencari cara agar diikuti keinginannya oleh Keenan.
“Siap bu… siap… Tapi makannya dirumah! Nggak disana ya!”
“YEAAAY!!!!” Kia berteriak girang.
***
Keenan yang menutup matanya, kepalanya pusing karena ia berusaha untuk terus membangkitkan memorinya dari apa yang diceritakan Kia,
“Abang masih mau dengerin cerita Kia?” Kia bertanya


“Lanjutin, Ki.” Kia mengangguk.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com