Maret 2014
Arina
mengeluarkan dua potong cake
dari dalam kulkas yang ditancapkan beberapa lilin kecil di atasnya. Naja yang
sedang asyik
menonton acara kesukaannya sama sekali tidak menggubris. Arina duduk di sebelah
Naja. Naja menatapnya bingung. “Selamat
ulang tahun pernikahan yang keempat bulan.” Wajah Arina tampak gembira, namun
Naja menunjukkan wajah datar dan meniupnya. Lalu secepat kilat Naja mengecup
kening Arina. Arina tersenyum.
“Kamu
tidak akan berkomentar? Kamu lupa yah?” Arina memulai protesnya.
“Aku
hanya terkejut. Ini masih hitungan bulan, untuk apa dirayakan.” Jawab Naja,
matanya masih terfokus dengan
acara di televisi, “Terima kasih
yah sayang.” Suaranya menjadi pelan saat ia mengucapkannya.
“Kamu
bilang apa? Sayang?” Arina meledeknya. Naja adalah orang yang tidak mudah
mengucapkan kata-kata romantis.
Setelah mereka menikah empat bulan,
bisa dihitung berapa kali Naja memanggil Arina dengan panggilan “Sayang.”
Naja
mulai salah tingkah,
namun Arina terus saja menggodanya.
Ini lah mengapa Arina sangat mencintai suaminya.
Kata-kata romantis atau panggilan
sayang sangat berharga untuk di dengar.
Suara
telepon genggam Naja berbunyi, Arina
bergegas mengambilnya, tertera nama “Orissa Pramudya” ia mengerutkan keningnya. Lalu ia memberikan telepon genggam
kepada Naja yang kemudian memilih untuk menjawabnya di teras apartement. Arina
penasaran karena selama ia mengenal Naja, baru kali ini ia melihat nama itu.
Perasaan cemburu mulai merasukinya.
Tidak lama kemudian Naja kembali masuk.
Arina menatapnya penuh curiga.
“Teman
saat aku di Jogja.” Arina masih menatapnya, “Besok aku pergi yah.”
“Pergi
bersama yang menelepon?”
Suara Arina mulai terdengar cemburu.
Naja tersenyum, lalu mencubit pelan hidung kecil istrinya itu. Arina meringis
kesakitan.
“Sudah.
Kita makan kuenya. Mau aku suapi?” Arina mengangguk. Namun Naja tidak menyuapinya.
“Suamiku
menyebalkan sekali.” Arina mulai merengek, namun Naja tetap asyik sendiri memakan cake
yang sengaja dibeli Arina.
***
Seorang
perempuan bertubuh kurus dan tinggi mengangkat tangannya untuk memberitahu
tempat duduknya pada Naja. Naja menghampiri perempuan itu. Hari ini ia berjanji
akan menemui seseorang yang meneleponnya
semalam di kedai kopi miliknya yang letaknya tidak jauh dari apartementnya.
Orissa
adalah mantan pacar Naja saat berkuliah
di Jogja. Namun, setelah beberapa bulan pacaran Naja memutuskannya karena ia tahu tidak hanya dirinya yang
menjadi kekasih Orissa.
Naja yang tidak suka dikhianati, kemudian
memutuskan hubungan mereka.
Namun, Naja juga mengerti posisi Orissa yang jarang diperhatikan olehnya.
“Hai, Sa. Bagaimana kabarmu?” Naja
memulai pembicaraan. Orissa memutar-mutar cangkir yang berisikan Americano.
“Baik.
Kamu sendiri?”
“Sangat
baik. Lalu, ada apa?” Naja langsung menanyakan ke intinya.
“Aku
mau minta maaf.” Jawabnya singkat.
“Perihal?”
“Aku
menyelingkuhimu.” Naja meminum beberapa teguk Americano hangat yang baru saja disajikan oleh pramusaji, “Aku
menyesal.”
“Sudahlah.
Lupakan saja. Sudah dua tahun yang lalu.”
“Tapi,-“
“Kalau
kamu mau membicarakan hal yang sudah lalu, lebih baik aku pulang saja.” Naja
memotong pembicaraannya.
“Kudengar
kamu sudah menikah.”
“Iya.
Maka dari itu jangan hubungi aku
lagi, karena
istriku sangat pencemburu.” Orissa tersenyum, ia sedikit kesal mendengarnya. Naja sebenarnya tidak ambil
pusing perihal mereka berdua putus, karena ia merasa ikut andil atas
perselingkuhan yang dilakukan Orissa.
“Selamat.”
Mata Orissa mulai berkaca-kaca. Naja tidak suka melihat perempuan menangis. Ia
memberikan sapu tangan birunya pada Orissa.
“Hapus
air matamu. Yang lalu biarlah berlalu. Lagipula aku juga
jahat padamu karena
aku tidak bersikap sewajarnya sebagai pacarmu saat itu.” Naja menghela nafas
panjang. “Aku harus pulang. Istriku sendirian di rumah.”
“Tapi
kita masih bisa bertemu?” Orissa menahannya pergi saat Naja sudah mulai
berdiri, “Sebagai teman.”
“Maaf
Sa. Aku tidak bisa.” Sesegera mungkin Naja pergi dari kedai kopi, karena
ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Orissa padanya. Sebenarnya bukan hanya
sekali ini Orissa menghubunginya, tapi sudah berkali-kali sejak sebulan yang
lalu. Ia meminta Naja kembali padanya, walau ia tahu Naja sudah menikah.
***
Naja
masuk ke dalam apartementnya.
Ia terkejut melihat ruang tv begitu berantakan karena tisu yang bertebaran di mana-mana. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan
kepalanya melihat dua perempuan yang ia sayangi sedang menangis tersedu-sedu hanya karena menyaksikan drama serial Korea.
“Kamu
sudah kembali? Cepat sekali.” Arina kembali menangis dan menghiraukan suaminya.
Lalu, Naja mematikan televisi juga dvd
player. “Kenapa dimatikan?” Arina merengek.
“Naja, kamu
menyebalkan.” Tante Tami memarahinya.
“Mama
kapan datang? Mengapa mengajak Arina menonton drama seperti ini? Aku sedang melarangnya karena sebentar lagi dia akan ujian.”
“Setengah
jam yang lalu,” Tante Tami masih sesenggukan
karena drama Korea, “Mama kasihan melihat menantu Mama
stres harus terus belajar, bahkan di
hari minggu.” Tante Tami memeluk menantu
kesayangannya itu.
“Wajar
Ma, Arina bulan depan akan menghadapi Ujian
Negara untuk kelulusannya.” Naja memang tegas untuk pendidikan istrinya. “Aku
lapar. Kamu masak apa?” Arina menghapus air matanya dan membuka tudung saji di atas meja makan kecil yang memang
hanya untuk dua orang.
Naja
kembali menggelengkan kepalanya saat melihat dibawah tudung saji tidak ada
makanan apapun. “Maaf,
Oppa.” Arina menunjukkan mata
kucingnya. (Panggilan adik perempuan kepada kakak laki-laki, panggilan romantis
.red)
“Jangan
panggil aku dengan sebutan itu. Menyebalkan.”
Naja kesal sekali kalau Arina habis
menyaksikan drama Korea, karena ia pasti akan mempraktekannya,
“Ya sudah,
kita makan di luar saja.” Arina dan Tante Tami bersorak
mendengarnya. Naja tersenyum melihat tingkah Mama dan istrinya.
***
April
2014
Dina
tersentak. Ia memukul-mukul dadanya. Menarik nafas untuk menormalkan keadaan. Ia terkejut dengan apa yang
didengarnya dari Arina. Arina masih mengaduk-aduk cream soup-nya. Dua sahabat yang sekarang
menjadi saudara ipar ini sedang bertukar cerita di apartemen Arina dan Naja, “Jadi, Naja sampai saat ini belum sedikit pun menyentuhmu?” Dina mengulang
pertanyaannya. Arina menjawabnya dengan anggukan, “Sekedar mengecup bibir juga
tidak?” Arina kembali mengangguk.
Dina
benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar, “Kakak ipar, kamu tidak
mencoba menggoda atau lebih agresif?” Arina membulatkan matanya.
“Pertama,
sudah kubilang kamu jangan memanggilku dengan sebutan “Kakak Ipar”, itu menjijikan. Kedua, kamu tahu kan aku bukan orang yang agresif?”
“Kamu
kan memang kakak iparku, tidak ada salahnya aku memanggilmu seperti
itu,” Dina menjelaskan dengan cepat, “Tidak ada salahnya membuang gengsimu itu. Kalian
sudah menikah, bahkan sudah lima bulan.”
“Kalau
begitu panggil aku “Unnie”.”
Pembicaraan mereka yang tadinya serius pada
akhirnya berubah
menjadi pembicaraan yang tidak
penting. Dina dan Arina sudah bersahabat sejak mereka kecil. Mereka
sebaya. Tidak ada satu hal pun yang bisa
mereka rahasiakan satu sama lain. Keduanya hampir memiliki karakter yang sama. Yang
membedakan adalah Arina orang yang tidak bisa berbicara secara blak-blakan
sedangkan Dina sebaliknya. (Panggilan adik perempuan kepada kakak perempuan
.red)
“Oh iya Din, kamu pernah dengar nama
Orissa?” tanya Arina,
“Orissa?”
Dina berpikir, mencoba mengingat nama yang disebutkan Arina, “Oh ya, aku ingat. Ada apa?”
“Beberapa
bulan ini aku melihat nama itu selalu ada di panggilan tak terjawab di telepon genggam Naja. Siapa dia?” Dina
berhenti menyuap.
Kemudian ia mengatur kata-kata agar
kakak ipar sekaligus sahabatnya ini tidak berpikiran macam-macam. Ia tak ingin jawabannya
memicu pertengkaran di antara
pasangan ini akibat ia salah
berbicara.
“Dia
teman Naja saat di Jogja.”
“Kalau
teman mengapa Naja tidak pernah mau mengangkat teleponnya?”
“Mungkin
Naja merasa terlalu sibuk untuk mengangkat telepon
darinya,” Dina mengalihkan pembicaraan, “Tenang saja, Naja adalah orang yang
setia walaupun ia menyebalkan.”
Bel
apartemennya berbunyi. Dengan
sigap Arina membuka pintunya. Di depan
pintu ia melihat seorang perempuan dewasa.
Rambut panjangnya membuat dirinya
terlihat sangat menawan.
Pakaiannya rapi dan sangat girly.
Arina menatapnya dari atas sampai bawah, memperhatikan perempuan yang ada di hadapannya, “Kamu Arina ya?”
Arina menunjukkan wajah bingung dan penuh tanya, “Saya Orissa.” Perempuan itu
tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Arina. Arina hanya
menatapnya.***
0 komentar:
Posting Komentar