Rabu, 21 Januari 2015

The Bride and Her Groom #2

0

By: SHanifa_

Maret 2014
Arina mengeluarkan dua potong cake dari dalam kulkas yang ditancapkan beberapa lilin kecil di atasnya. Naja yang sedang asyik menonton acara kesukaannya sama sekali tidak menggubris. Arina duduk di sebelah Naja. Naja menatapnya bingung. “Selamat ulang tahun pernikahan yang keempat bulan.” Wajah Arina tampak gembira, namun Naja menunjukkan wajah datar dan meniupnya. Lalu secepat kilat Naja mengecup kening Arina. Arina tersenyum.
“Kamu tidak akan berkomentar? Kamu lupa yah?” Arina memulai protesnya.
“Aku hanya terkejut. Ini masih hitungan bulan, untuk apa dirayakan.” Jawab Naja, matanya masih terfokus dengan acara di televisi, “Terima kasih yah sayang.” Suaranya menjadi pelan saat ia mengucapkannya.
“Kamu bilang apa? Sayang?” Arina meledeknya. Naja adalah orang yang tidak mudah mengucapkan kata-kata romantis. Setelah mereka menikah empat bulan, bisa dihitung berapa kali Naja memanggil Arina dengan panggilan “Sayang.”
Naja mulai salah tingkah, namun Arina terus saja menggodanya. Ini lah mengapa Arina sangat mencintai suaminya. Kata-kata romantis atau panggilan sayang sangat berharga untuk di dengar.
Suara telepon genggam Naja berbunyi, Arina bergegas mengambilnya, tertera nama “Orissa Pramudya” ia mengerutkan keningnya. Lalu ia memberikan telepon genggam kepada Naja yang kemudian memilih untuk menjawabnya di teras apartement. Arina penasaran karena selama ia mengenal Naja, baru kali ini ia melihat nama itu. Perasaan cemburu mulai merasukinya. Tidak lama kemudian Naja kembali masuk. Arina menatapnya penuh curiga.
“Teman saat aku di Jogja.” Arina masih menatapnya, “Besok aku pergi yah.”
“Pergi bersama yang menelepon?” Suara Arina mulai terdengar cemburu. Naja tersenyum, lalu mencubit pelan hidung kecil istrinya itu. Arina meringis kesakitan.
“Sudah. Kita makan kuenya. Mau aku suapi?” Arina mengangguk. Namun Naja tidak menyuapinya.
“Suamiku menyebalkan sekali.” Arina mulai merengek, namun Naja tetap asyik sendiri memakan cake yang sengaja dibeli Arina.
***
Seorang perempuan bertubuh kurus dan tinggi mengangkat tangannya untuk memberitahu tempat duduknya pada Naja. Naja menghampiri perempuan itu. Hari ini ia berjanji akan menemui seseorang yang meneleponnya semalam di kedai kopi miliknya yang letaknya tidak jauh dari apartementnya.
Orissa adalah mantan pacar Naja saat berkuliah di Jogja. Namun, setelah beberapa bulan pacaran Naja memutuskannya karena ia tahu tidak hanya dirinya yang menjadi kekasih Orissa. Naja yang tidak suka dikhianati, kemudian memutuskan hubungan mereka. Namun, Naja juga mengerti posisi Orissa yang jarang diperhatikan olehnya.
“Hai, Sa. Bagaimana kabarmu?” Naja memulai pembicaraan. Orissa memutar-mutar cangkir yang berisikan Americano.
“Baik. Kamu sendiri?”
“Sangat baik. Lalu, ada apa?” Naja langsung menanyakan ke intinya.
“Aku mau minta maaf.” Jawabnya singkat.
“Perihal?”
“Aku menyelingkuhimu.” Naja meminum beberapa teguk Americano hangat yang baru saja disajikan oleh pramusaji, “Aku menyesal.”
“Sudahlah. Lupakan saja. Sudah dua tahun yang lalu.”
“Tapi,-“
“Kalau kamu mau membicarakan hal yang sudah lalu, lebih baik aku pulang saja.” Naja memotong pembicaraannya.
“Kudengar kamu sudah menikah.”
“Iya. Maka dari itu jangan hubungi aku lagi, karena istriku sangat pencemburu.” Orissa tersenyum, ia sedikit kesal mendengarnya. Naja sebenarnya tidak ambil pusing perihal mereka berdua putus, karena ia merasa ikut andil atas perselingkuhan yang dilakukan Orissa.
“Selamat.” Mata Orissa mulai berkaca-kaca. Naja tidak suka melihat perempuan menangis. Ia memberikan sapu tangan birunya pada Orissa.
“Hapus air matamu. Yang lalu biarlah berlalu. Lagipula aku juga jahat padamu karena aku tidak bersikap sewajarnya sebagai pacarmu saat itu.” Naja menghela nafas panjang. “Aku harus pulang. Istriku sendirian di rumah.”
“Tapi kita masih bisa bertemu?” Orissa menahannya pergi saat Naja sudah mulai berdiri, “Sebagai teman.”
“Maaf Sa. Aku tidak bisa.” Sesegera mungkin Naja pergi dari kedai kopi, karena ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Orissa padanya. Sebenarnya bukan hanya sekali ini Orissa menghubunginya, tapi sudah berkali-kali sejak sebulan yang lalu. Ia meminta Naja kembali padanya, walau ia tahu Naja sudah menikah.
***
Naja masuk ke dalam apartementnya. Ia terkejut melihat ruang tv begitu berantakan karena tisu yang bertebaran di mana-mana. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dua perempuan yang ia sayangi sedang menangis tersedu-sedu hanya karena menyaksikan drama serial Korea.
“Kamu sudah kembali? Cepat sekali.” Arina kembali menangis dan menghiraukan suaminya. Lalu, Naja mematikan televisi juga dvd player. “Kenapa dimatikan?” Arina merengek.
“Naja, kamu menyebalkan.” Tante Tami memarahinya.
“Mama kapan datang? Mengapa mengajak Arina menonton drama seperti ini? Aku sedang melarangnya karena sebentar lagi dia akan ujian.”
“Setengah jam yang lalu,” Tante Tami masih sesenggukan karena drama Korea, “Mama kasihan melihat menantu Mama stres harus terus belajar, bahkan di hari minggu.” Tante Tami memeluk menantu kesayangannya itu.
“Wajar Ma, Arina bulan depan akan menghadapi Ujian Negara untuk kelulusannya.” Naja memang tegas untuk pendidikan istrinya. “Aku lapar. Kamu masak apa?” Arina menghapus air matanya dan membuka tudung saji di atas meja makan kecil yang memang hanya untuk dua orang.
Naja kembali menggelengkan kepalanya saat melihat dibawah tudung saji tidak ada makanan apapun. “Maaf, Oppa.” Arina menunjukkan mata kucingnya. (Panggilan adik perempuan kepada kakak laki-laki, panggilan romantis .red)
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Menyebalkan.” Naja kesal sekali kalau Arina habis menyaksikan drama Korea, karena ia pasti akan mempraktekannya, “Ya sudah, kita makan di luar saja.” Arina dan Tante Tami bersorak mendengarnya. Naja tersenyum melihat tingkah Mama dan istrinya.
***
April 2014
Dina tersentak. Ia memukul-mukul dadanya. Menarik nafas untuk menormalkan keadaan. Ia terkejut dengan apa yang didengarnya dari Arina. Arina masih mengaduk-aduk cream soup-nya. Dua sahabat yang sekarang menjadi saudara ipar ini sedang bertukar cerita di apartemen Arina dan Naja, “Jadi, Naja sampai saat ini belum sedikit pun menyentuhmu?” Dina mengulang pertanyaannya. Arina menjawabnya dengan anggukan, “Sekedar mengecup bibir juga tidak?” Arina kembali mengangguk.
Dina benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar, “Kakak ipar, kamu tidak mencoba menggoda atau lebih agresif?” Arina membulatkan matanya.
“Pertama, sudah kubilang kamu jangan memanggilku dengan sebutan Kakak Ipar, itu menjijikan. Kedua, kamu tahu kan aku bukan orang yang agresif?”
“Kamu kan memang kakak iparku, tidak ada salahnya aku memanggilmu seperti itu,” Dina menjelaskan dengan cepat, “Tidak ada salahnya membuang gengsimu itu. Kalian sudah menikah, bahkan sudah lima bulan.”
“Kalau begitu panggil aku Unnie.” Pembicaraan mereka yang tadinya serius pada akhirnya berubah menjadi pembicaraan yang tidak penting. Dina dan Arina sudah bersahabat sejak mereka kecil. Mereka sebaya. Tidak ada satu hal pun yang bisa mereka rahasiakan satu sama lain. Keduanya hampir memiliki karakter yang sama. Yang membedakan adalah Arina orang yang tidak bisa berbicara secara blak-blakan sedangkan Dina sebaliknya. (Panggilan adik perempuan kepada kakak perempuan .red)
“Oh iya Din, kamu pernah dengar nama Orissa?” tanya Arina,
“Orissa?” Dina berpikir, mencoba mengingat nama yang disebutkan Arina, “Oh ya, aku ingat. Ada apa?”
“Beberapa bulan ini aku melihat nama itu selalu ada di panggilan tak terjawab di telepon genggam Naja. Siapa dia?” Dina berhenti menyuap. Kemudian ia mengatur kata-kata agar kakak ipar sekaligus sahabatnya ini tidak berpikiran macam-macam. Ia tak ingin jawabannya memicu pertengkaran di antara pasangan ini akibat ia salah berbicara.
“Dia teman Naja saat di Jogja.”
“Kalau teman mengapa Naja tidak pernah mau mengangkat teleponnya?”
“Mungkin Naja merasa terlalu sibuk untuk mengangkat telepon darinya,” Dina mengalihkan pembicaraan, “Tenang saja, Naja adalah orang yang setia walaupun ia menyebalkan.”


Bel apartemennya berbunyi. Dengan sigap Arina membuka pintunya. Di depan pintu ia melihat seorang perempuan dewasa. Rambut panjangnya membuat dirinya terlihat sangat menawan. Pakaiannya rapi dan sangat girly. Arina menatapnya dari atas sampai bawah, memperhatikan perempuan yang ada di hadapannya, “Kamu Arina ya?” Arina menunjukkan wajah bingung dan penuh tanya, “Saya Orissa.” Perempuan itu tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Arina. Arina hanya menatapnya.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com