Yara membantu dr.
Kinanti di dapur bersama dengan assisten rumah tangga yang keluarga ini miliki
selagi Keenan berjalan mengelilingi rumah masa kecilnya itu. Ia memandangi
semua foto-foto keluarga mereka. Foto yang menggambarkan kebahagian mereka.
Keenan tersenyum. Bahagia dan pedih. Seluruh foto itu melukiskan kebahagian
mereka yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang telah membatu. Kebahagiaan yang tak
dapat ia rasakan kembali. Observasinya terhadap wajah 4 manusia yang mengatas
namakan keluarga diganggu oleh tepukan tangan dibahunya.
“Papa rindu sama
kamu, Keenan.” Bahu Keenan menegang. Namun ayahnya meremas bahu itu. Memberikan
Keenan terpaan kenyamanan lain. Kenyamanan yang tanpa sadar sangat ia rindukan.
“Kalau saja Papa diberi pilihan. Papa akan memilih untuk tidak bertambah umur.
Kalian akan masih tetap menjadi pangeran dan putri kecil Papa. Masih akan tetap
tinggal ditempat yang tidak bisa Papa sebut lagi rumah. Papa rindu kalian,
Keen. Terutama Kia.”
“Pa…” Keenan
kehabisan kata-kata. Ini adalah kali pertama dalam 2 tahun terakhir Papanya
menyampaikan kalimat lebih dari 8 kata. “Keenan juga rindu sama Papa. Tapi ini
tetap rumah Papa. Rumah saya, rumah Kia. Ini masih rumah yang sama, Pa.”
“Beda, Keenan. Beda.
Rumah ini hanya menjadi tempat singgah. Karena kekuatan Papa sudah tidak disini
lagi. Kamu dan Kia.” Dr. Awang, papa Keenan, meremas bahu Keenan. “Sudahlah.
Tidak perlu lagi dibahas. Yang Papa ingin sekarang, kita jaga hubungan baik
terus ya.” Lalu dr. Awang pergi meninggalkan Keenan yang masih terpaku.
***
Dimeja makan, dr.
Awang, dr. Kinanti dan Yara sudah menunggu Keenan sambil bercanda gurau. Meja
makan itu penuh kehangatan meski 1 kursi tetap kosong. Kursi Kia. Keenan duduk
di samping kirinya Yara, berhadapan dengan Mamanya dan di dampingi oleh Papanya
yang duduk di ujung meja makan. Tak ada pembahasan yang dapat membunuh
kehangatan mereka di meja itu. Hanya tawa dan riang yang tercipta. Meski tetap,
kesempurnaan tak lagi membingkai pancaran yang mereka sebut bahagia. Ruang
kosong itu tetap tercipta. Setidaknya bagi Keenan.
Yara sedang sibuk
membantu dr. Awang membersihkan meja makan saat Keenan memutuskan untuk
mengunjungi kamar lama Kia. Ia berencana untuk membawa beberapa barang yang
dulu pernah disayangi Kia. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar isak tangis
seseorang dari balik pintu.
Seorang wanita yang
pernah ia tinggali rahimnya terduduk di sebuah ranjang yang dihiasi sprai biru
langit. Senada dengan suasana kamarnya, terduduk dan membungkuk. Wajah
cantiknya dialiri sungai air mata. Dan itu membuat tali-tali yang ada di hati
Keenan mengencang. Ia tak nyaman jika melihat sala satu wanita penting dalam
hidupnya menangis.
“Ma..” Keenan duduk
disamping dr. Kinanti. “Mama kenapa, Ma?” Keenan tahu pertanyaan itu bodoh.
Tapi kebodohan juga yang tak dapat membendung kalimat bodoh yang terlanjur
keluar itu.
“Mama kangen sekali
sama Kia, Keen.” Isak tangisnya membuat dr. Kinanti tak dapat berbicara dengan
jelas. “Mama ingin sekali sisiri rambutnya lagi, mencium dahinya saat ia mau
tidur, membuatkan roti selai kacang kesukaannya. Mama kangen Kia.” Dr. Kinanti
yang selalu dihormati oleh seluruh staff dan pasiennya kini meruntuhkan segala
topeng yang ia gunakan dihadapan anak sulungnya.
Fisiknya tak lagi
dapat menahan beban rindu yang ia tanggung untuk anak gadisnya yang sudah lama
tak ia lihat wajahnya. Keenan memeluk Mamanya dengan mata yang juga berkaca.
Matanya liar melihat sekeliling ruangan, upayanya dalam menahan kaca yang ia
tahu akan pecah seketika Keenan menutup matanya.
“Kia bahagia, Ma.
Mama nggak usah khawatir ya. Percaya sama Keenan.”
“Mama pengin minta
maaf sama Kia, dan bilang bahwa Mama sayang sekali sama dia. Kamu ngerti itu
kan, Keen?” Keenan mengangguk. Tak lagi ia percaya akan suaranya. “Satu bulan
lagi, Kia ulang tahun. Seandainya Mama bisa mengucapkan selamat ulang tahun
langsung dihadapannya Keen sambil memeluknya erat biar Kia nggak bisa jauh lagi
dari Mama..”
Tanpa mereka sadari,
dibalik pintu yang tidak dibuka sepenuhnya itu, dr. Awang dan Yara juga
mendengarkan curahan hati seorang ibu kepada anaknya. Mata mereka tak dapat
menahan lelehan air yang terasa panas jika tak dijatuhkan.
Keenan sedang dalam
perjalan mengantarkan Yara ke klinik setelah dr. Kinanti sudah lebih tenang.
Mereka merencanakan untuk merutinkan acara makan siang bersama itu guna
mendekatkan kembali tali silahturahmi yang sudah merenggang. Yara yakin,
kebersamaan mereka ini sulit bagi Keenan karena tragedi 2 tahun lalu. Tapi Yara
berusaha untuk tidak mengamatinya karena ia tahu itu akan membuat Keenan kesal.
“Keen, jangan diem
terus dong. Kamu senang kan dengan rencana ini? Jadi kalian bisa dekat lagi,
Keen.” Yara memulai pembicaraan di dalam mobil yang hening sejak menjauh dari
rumah Keenan.
“Saya senang kok, Ra.
Saya hanya bingung apa yang saya harus lakukandi ulang tahun Kia bulan depan
ya?”
“Biasanya kita
liburan bareng kan ya? Aku inget loh waktu kita liburan ke Anyer, waktu itu Kia
bahagia banget keliatannya. Keluarga kalian juga lagi deket-deketnya kan. Aku
seneng banget loh bisa ada diantara keluarga kalian.”
Keenan termenung.
Otaknya memutar lagi memori indah bersama keluarganya di Anyer pada setiap
ulang tahun Kia. Tawa renyah Kia, senyuman dr. Kinanti, canda dr. Awang, senyum
Yara, dan kepuasan hatinya. Otaknya merekam memori itu dengan sangat sempurna.
Kebersamaan. Ya! Itu yang dibutuhkan keluarganya. Maka itu yang akan Keenan
ciptakan untuk keluarganya.
“Yara! You’re my best! Makasih banyak, sayang.”
Keenan mengecup bibir Yara dengan cepat namun tetap memberikan Yara sengatan
hangat yang sudah lama tak ia rasakan dari Keenan. Mata Keenan kembali
bercahaya begitu juga dengan hati Yara yang melihatnya.
***
Malam itu Keenan
pulang terlambat demi menyempurnakan rencananya untuk membawa keluarganya pergi
berlibur ke Anyer. Seluruh keperluan sudah dengan sangat matang ia siapkan agar
keluarganya mendapatkan kenyamanan sempurna saat berlibur nanti. Tak ingin
menciptakan jurang jarang antara mereka.
“Nahloh! Sekarang Abang yang pulangnya telat!
Padahal tadi Kia udah berusaha pulang cepet loh, Bang!” Hati Keenan terasa
hangat mendengar sapaan adiknya begitu ia membuka pintu apartemennya.
“Tumben kamu pulang
cepet Dik. Gitu dong. Bilang sama boss
kamu kalau kamu nggak bisa terus-terusan diforsir kerjanya.”
“Iya Bang, iya. Kia
lagi usahain kok. Tapi Abang jangan terlalu nuntut dan berharap yah.” Diam.
Keenan kembali terdiam. Mengapa Kia begitu mengagungkan pekerjaannya itu?!
“Abang bawa makanan nggak? Kia laper dari tadi nggak makan.” Keenan membongkar
kantong kresek yang dibawanya sengaja untuk makan malamnya. Kecewanya pun
sedikit hilang saat itu.
“Abang bawa martabak,
Dik. Ada yang manis sama asin. Kamu mau yang mana?”
“Semuanya!!” mereka
tertawa bersama. Bahagia itu tidak mahal.
Batin Keenan.
“Dik, tadi waktu
makan siang bareng, Mama nangis kenceng banget loh. Papa juga. Mereka kangen
banget sama kamu katanya..” Seketika wajah Kia jatuh. Termenung. Matanya mulai
digenangi lelehan air yang tak ingin ia jatuhkan. Keenan mengabaikan genangan
itu. Ia tak akan mundur dari keputusan yang sudah ia buat hanya karena demi
menjaga perasaan adiknya yang sudah mulai terlalu terbuai. “Kamu kapan mau
ketemu mereka, Ki?” Keenan menggigit martabak asin yang baru ia beli. “Mulai
sekarang, Abang sama Mba Yara mau merutinkan acara lunch bareng sama Mama Papa, setiap minggunya. Abang harap kamu
ikut.”
“Baaang…” Kia mulai
merengek meminta pengertian abangnya.
“Abang nggak akan
maksa. Abang bakal tetap kasih kamu waktu sampe kamu bener-bener bisa ketemu
Mama sama Papa lagi.” Kia tersenyum kecil. Akhirnya ia bisa sedikit menikmati
kudapan makan malamnya. “Satu bulan, Ki. Itu waktu kamu. Kalau dalam waktu itu
kamu masih mau menghindar. Terpaksa Abang bakal maksa kamu.”
“Satu bulan, Bang?!”
Kia kembali terlonjak kaget. Keenan Mengangguk.
“Sebetulnya kurang
dari satu bulan sih. Abang mau, kamu ajukan izin untuk cuti dari tanggal 17
Maret sampai 19 Maret ke kampus sama boss
kamu. Kamu punya waktu 25 hari. Dan selama itu Abang nggak akan maksa-maksa
kamu ikut lunch bareng sama kita.
Kamu ngerti itu?”
“Kita mau kemana 3
hari, Bang?”
“Sama seperti setiap
tahun kamu ulang tahun. Kita ke Anyer. Dengan itu Abang harap keluarga kita
bisa pulih lagi.”
“Memang Papa sama
Mama bisa? Nggak harus ikut konverensi dimana gitu?”
“Itu urusan Abang.
Kamu ngga perlu mikirin. Mulai besok kamu ajuin perizinannya ya.”
“Iya, Bang. Kia
usahain.” Mereka kembali melanjutkan kegiatan makan malam bersama yang sedikit
berubah muram.
***
10 hari sebelum
rencana yang diciptakan Keenan terealisasikan, Keenan menyampaikan rencananya
tersebut saat sedang makan siang bersama orang tua nya dan juga Yara, seperti
janji mereka untuk selalu menyempatkan waktu makan siang bersama di setiap
minggunya.
“Ma, Pa, Keenan minta
kalian kosongin jadwal yah dari tanggal 17-19 Maret besok. Kita ke Anyer. Please… Keenan mohon banget.” Keenan
menatapa kedua orangtuanya dengan penuh harap. Sedangkan dr. Kinanti dan dr.
Awang saling tatap keheranan mendengar permintaan anak sulung mereka.
“Iya Ma, Pa. Sudah
lama kita nggak bareng. Sekalian merayakan ulang tahun Kia kan.” Yara mencoba
bergabung dalam pembicaraan penting itu.
“Kamu yakin, Keenan?”
dr. Awang memandang putranya dengan tatapan yang sulit dijelaskan oleh Keenan.
“Yakin sekali, Pa.
Bisa ya? Kita kumpul keluarga lagi.” Keenan mengalihkan pandangannya ke arah
Yara. “Orangtua kamu juga ikut ya sayang.”
“Aku kabarin dulu
mereka. Mudah-mudahan mereka bisa.” Yara tersenyum pada calon suaminya itu.
“Mama sama Papa akan
kosongkan jadwal untuk tiga hari itu, Keenan.” dr.Kinanti tersenyum lembut pada
Keenan. “Nanti Mama booking-in hotel
yang biasa-“
“Saya udah booking-in, Ma.” Potong Keenan, “Nanti
kita tinggal berangkat. Semuanya kumpul di apartemen saya aja ya. Saya udah booking-in mini bus juga buat
kesananya.”
“Makasih ya sayang.”
dr. Kinanti meraih tangan Keenan dan meremasnya dengan lembut. Tatapan keibuan
yang Keenan rindukan terpancar dari matanya.
“Keenan yang makasih,
Ma.”
***
Tepat 5 hari sebelum
keberangkatan, Keenan mendapat promosi dari perusahaannya karena ide-idenya
yang brilliant dan selalu memuaskan client-nya, Keenan memutuskan untuk
membelikan sebuah kado yang ia tahu sudah sangat lama diinginkan oleh Kia.
Sebagai pengucapan rasa syukurnya. Sebuah kalung manis dengan bandul kotak
kecil yang didalamnya mengurung seekor burung kecil hitam. Entah mengapa Kia
sangat menginkan kalung itu. Dan bagi Keenan, itu adalah hadiah yang sangat
tepat untuk ia berikan kepada adiknya.
Hari yang Keenan
tunggu telah tiba. Keenan menyimpan kado spesialnya untuk Kia di dalam tasnya
dengan hati-hati. Kia sedang mengemas barang-barangnya sedangkan Keenan sedang
sibuk menyiapkan sarapan bagi mereka berdua. Orangtuanya dan orangtua Yara akan
tiba beberapa menit lagi dan mereka harus berangkat. Sedangkan Kia masih belum
selesai mengemas barangnya. Membuat Keenan kecewa.
“Dik! Lama banget
sih? Abang kan udah bilang dari kemarin supaya kamu packing. Nggak nurut sih! Mama sama yang lain bentar lagi sampai
loh!” Hening. Tak ada sautan dari Kia. “Dik!” Lagi-lagi sautan Keenan tak
berbalas. Keenan berlari menuju kamar Kia yang berada di lantai dua
apartmentnya.
Keenang melihat Kia
yang sedang terduduk lemas diantara tumpukan baju yang belum juga dimasukannya
kedalam tas, membuat Keenan khawatir. Kepala Kia tergantung memandang ubin
putih.
Dik, kamu kenapa?”
Keenan mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang.
“Kia nggak bisa,
Bang.” Mata Kia masih menatap lantai.
“Nggak bisa apa?”
perlahan Kia menatap abangnya yang kini berlutut di hadapannya.***
0 komentar:
Posting Komentar