Senin, 22 Desember 2014

Oblivious #2

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

Yara membantu dr. Kinanti di dapur bersama dengan assisten rumah tangga yang keluarga ini miliki selagi Keenan berjalan mengelilingi rumah masa kecilnya itu. Ia memandangi semua foto-foto keluarga mereka. Foto yang menggambarkan kebahagian mereka. Keenan tersenyum. Bahagia dan pedih. Seluruh foto itu melukiskan kebahagian mereka yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang telah membatu. Kebahagiaan yang tak dapat ia rasakan kembali. Observasinya terhadap wajah 4 manusia yang mengatas namakan keluarga diganggu oleh tepukan tangan dibahunya.
“Papa rindu sama kamu, Keenan.” Bahu Keenan menegang. Namun ayahnya meremas bahu itu. Memberikan Keenan terpaan kenyamanan lain. Kenyamanan yang tanpa sadar sangat ia rindukan. “Kalau saja Papa diberi pilihan. Papa akan memilih untuk tidak bertambah umur. Kalian akan masih tetap menjadi pangeran dan putri kecil Papa. Masih akan tetap tinggal ditempat yang tidak bisa Papa sebut lagi rumah. Papa rindu kalian, Keen. Terutama Kia.”
“Pa…” Keenan kehabisan kata-kata. Ini adalah kali pertama dalam 2 tahun terakhir Papanya menyampaikan kalimat lebih dari 8 kata. “Keenan juga rindu sama Papa. Tapi ini tetap rumah Papa. Rumah saya, rumah Kia. Ini masih rumah yang sama, Pa.”
“Beda, Keenan. Beda. Rumah ini hanya menjadi tempat singgah. Karena kekuatan Papa sudah tidak disini lagi. Kamu dan Kia.” Dr. Awang, papa Keenan, meremas bahu Keenan. “Sudahlah. Tidak perlu lagi dibahas. Yang Papa ingin sekarang, kita jaga hubungan baik terus ya.” Lalu dr. Awang pergi meninggalkan Keenan yang masih terpaku.
***
Dimeja makan, dr. Awang, dr. Kinanti dan Yara sudah menunggu Keenan sambil bercanda gurau. Meja makan itu penuh kehangatan meski 1 kursi tetap kosong. Kursi Kia. Keenan duduk di samping kirinya Yara, berhadapan dengan Mamanya dan di dampingi oleh Papanya yang duduk di ujung meja makan. Tak ada pembahasan yang dapat membunuh kehangatan mereka di meja itu. Hanya tawa dan riang yang tercipta. Meski tetap, kesempurnaan tak lagi membingkai pancaran yang mereka sebut bahagia. Ruang kosong itu tetap tercipta. Setidaknya bagi Keenan.
Yara sedang sibuk membantu dr. Awang membersihkan meja makan saat Keenan memutuskan untuk mengunjungi kamar lama Kia. Ia berencana untuk membawa beberapa barang yang dulu pernah disayangi Kia. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar isak tangis seseorang dari balik pintu.
Seorang wanita yang pernah ia tinggali rahimnya terduduk di sebuah ranjang yang dihiasi sprai biru langit. Senada dengan suasana kamarnya, terduduk dan membungkuk. Wajah cantiknya dialiri sungai air mata. Dan itu membuat tali-tali yang ada di hati Keenan mengencang. Ia tak nyaman jika melihat sala satu wanita penting dalam hidupnya menangis.
“Ma..” Keenan duduk disamping dr. Kinanti. “Mama kenapa, Ma?” Keenan tahu pertanyaan itu bodoh. Tapi kebodohan juga yang tak dapat membendung kalimat bodoh yang terlanjur keluar itu.
“Mama kangen sekali sama Kia, Keen.” Isak tangisnya membuat dr. Kinanti tak dapat berbicara dengan jelas. “Mama ingin sekali sisiri rambutnya lagi, mencium dahinya saat ia mau tidur, membuatkan roti selai kacang kesukaannya. Mama kangen Kia.” Dr. Kinanti yang selalu dihormati oleh seluruh staff dan pasiennya kini meruntuhkan segala topeng yang ia gunakan dihadapan anak sulungnya.
Fisiknya tak lagi dapat menahan beban rindu yang ia tanggung untuk anak gadisnya yang sudah lama tak ia lihat wajahnya. Keenan memeluk Mamanya dengan mata yang juga berkaca. Matanya liar melihat sekeliling ruangan, upayanya dalam menahan kaca yang ia tahu akan pecah seketika Keenan menutup matanya.
“Kia bahagia, Ma. Mama nggak usah khawatir ya. Percaya sama Keenan.”
“Mama pengin minta maaf sama Kia, dan bilang bahwa Mama sayang sekali sama dia. Kamu ngerti itu kan, Keen?” Keenan mengangguk. Tak lagi ia percaya akan suaranya. “Satu bulan lagi, Kia ulang tahun. Seandainya Mama bisa mengucapkan selamat ulang tahun langsung dihadapannya Keen sambil memeluknya erat biar Kia nggak bisa jauh lagi dari Mama..”
Tanpa mereka sadari, dibalik pintu yang tidak dibuka sepenuhnya itu, dr. Awang dan Yara juga mendengarkan curahan hati seorang ibu kepada anaknya. Mata mereka tak dapat menahan lelehan air yang terasa panas jika tak dijatuhkan.
Keenan sedang dalam perjalan mengantarkan Yara ke klinik setelah dr. Kinanti sudah lebih tenang. Mereka merencanakan untuk merutinkan acara makan siang bersama itu guna mendekatkan kembali tali silahturahmi yang sudah merenggang. Yara yakin, kebersamaan mereka ini sulit bagi Keenan karena tragedi 2 tahun lalu. Tapi Yara berusaha untuk tidak mengamatinya karena ia tahu itu akan membuat Keenan kesal.
“Keen, jangan diem terus dong. Kamu senang kan dengan rencana ini? Jadi kalian bisa dekat lagi, Keen.” Yara memulai pembicaraan di dalam mobil yang hening sejak menjauh dari rumah Keenan.
“Saya senang kok, Ra. Saya hanya bingung apa yang saya harus lakukandi ulang tahun Kia bulan depan ya?”
“Biasanya kita liburan bareng kan ya? Aku inget loh waktu kita liburan ke Anyer, waktu itu Kia bahagia banget keliatannya. Keluarga kalian juga lagi deket-deketnya kan. Aku seneng banget loh bisa ada diantara keluarga kalian.”
Keenan termenung. Otaknya memutar lagi memori indah bersama keluarganya di Anyer pada setiap ulang tahun Kia. Tawa renyah Kia, senyuman dr. Kinanti, canda dr. Awang, senyum Yara, dan kepuasan hatinya. Otaknya merekam memori itu dengan sangat sempurna. Kebersamaan. Ya! Itu yang dibutuhkan keluarganya. Maka itu yang akan Keenan ciptakan untuk keluarganya.
“Yara! You’re my best! Makasih banyak, sayang.” Keenan mengecup bibir Yara dengan cepat namun tetap memberikan Yara sengatan hangat yang sudah lama tak ia rasakan dari Keenan. Mata Keenan kembali bercahaya begitu juga dengan hati Yara yang melihatnya.
***
Malam itu Keenan pulang terlambat demi menyempurnakan rencananya untuk membawa keluarganya pergi berlibur ke Anyer. Seluruh keperluan sudah dengan sangat matang ia siapkan agar keluarganya mendapatkan kenyamanan sempurna saat berlibur nanti. Tak ingin menciptakan jurang jarang antara mereka.
 “Nahloh! Sekarang Abang yang pulangnya telat! Padahal tadi Kia udah berusaha pulang cepet loh, Bang!” Hati Keenan terasa hangat mendengar sapaan adiknya begitu ia membuka pintu apartemennya.
“Tumben kamu pulang cepet Dik. Gitu dong. Bilang sama boss kamu kalau kamu nggak bisa terus-terusan diforsir kerjanya.”
“Iya Bang, iya. Kia lagi usahain kok. Tapi Abang jangan terlalu nuntut dan berharap yah.” Diam. Keenan kembali terdiam. Mengapa Kia begitu mengagungkan pekerjaannya itu?! “Abang bawa makanan nggak? Kia laper dari tadi nggak makan.” Keenan membongkar kantong kresek yang dibawanya sengaja untuk makan malamnya. Kecewanya pun sedikit hilang saat itu.
“Abang bawa martabak, Dik. Ada yang manis sama asin. Kamu mau yang mana?”
“Semuanya!!” mereka tertawa bersama. Bahagia itu tidak mahal. Batin Keenan.
“Dik, tadi waktu makan siang bareng, Mama nangis kenceng banget loh. Papa juga. Mereka kangen banget sama kamu katanya..” Seketika wajah Kia jatuh. Termenung. Matanya mulai digenangi lelehan air yang tak ingin ia jatuhkan. Keenan mengabaikan genangan itu. Ia tak akan mundur dari keputusan yang sudah ia buat hanya karena demi menjaga perasaan adiknya yang sudah mulai terlalu terbuai. “Kamu kapan mau ketemu mereka, Ki?” Keenan menggigit martabak asin yang baru ia beli. “Mulai sekarang, Abang sama Mba Yara mau merutinkan acara lunch bareng sama Mama Papa, setiap minggunya. Abang harap kamu ikut.”
“Baaang…” Kia mulai merengek meminta pengertian abangnya.
“Abang nggak akan maksa. Abang bakal tetap kasih kamu waktu sampe kamu bener-bener bisa ketemu Mama sama Papa lagi.” Kia tersenyum kecil. Akhirnya ia bisa sedikit menikmati kudapan makan malamnya. “Satu bulan, Ki. Itu waktu kamu. Kalau dalam waktu itu kamu masih mau menghindar. Terpaksa Abang bakal maksa kamu.”
“Satu bulan, Bang?!” Kia kembali terlonjak kaget. Keenan Mengangguk.
“Sebetulnya kurang dari satu bulan sih. Abang mau, kamu ajukan izin untuk cuti dari tanggal 17 Maret sampai 19 Maret ke kampus sama boss kamu. Kamu punya waktu 25 hari. Dan selama itu Abang nggak akan maksa-maksa kamu ikut lunch bareng sama kita. Kamu ngerti itu?”
“Kita mau kemana 3 hari, Bang?”
“Sama seperti setiap tahun kamu ulang tahun. Kita ke Anyer. Dengan itu Abang harap keluarga kita bisa pulih lagi.”
“Memang Papa sama Mama bisa? Nggak harus ikut konverensi dimana gitu?”
“Itu urusan Abang. Kamu ngga perlu mikirin. Mulai besok kamu ajuin perizinannya ya.”
“Iya, Bang. Kia usahain.” Mereka kembali melanjutkan kegiatan makan malam bersama yang sedikit berubah muram.
***
10 hari sebelum rencana yang diciptakan Keenan terealisasikan, Keenan menyampaikan rencananya tersebut saat sedang makan siang bersama orang tua nya dan juga Yara, seperti janji mereka untuk selalu menyempatkan waktu makan siang bersama di setiap minggunya.
“Ma, Pa, Keenan minta kalian kosongin jadwal yah dari tanggal 17-19 Maret besok. Kita ke Anyer. Please… Keenan mohon banget.” Keenan menatapa kedua orangtuanya dengan penuh harap. Sedangkan dr. Kinanti dan dr. Awang saling tatap keheranan mendengar permintaan anak sulung mereka.
“Iya Ma, Pa. Sudah lama kita nggak bareng. Sekalian merayakan ulang tahun Kia kan.” Yara mencoba bergabung dalam pembicaraan penting itu.
“Kamu yakin, Keenan?” dr. Awang memandang putranya dengan tatapan yang sulit dijelaskan oleh Keenan.
“Yakin sekali, Pa. Bisa ya? Kita kumpul keluarga lagi.” Keenan mengalihkan pandangannya ke arah Yara. “Orangtua kamu juga ikut ya sayang.”
“Aku kabarin dulu mereka. Mudah-mudahan mereka bisa.” Yara tersenyum pada calon suaminya itu.
“Mama sama Papa akan kosongkan jadwal untuk tiga hari itu, Keenan.” dr.Kinanti tersenyum lembut pada Keenan. “Nanti Mama booking-in hotel yang biasa-“
“Saya udah booking-in, Ma.” Potong Keenan, “Nanti kita tinggal berangkat. Semuanya kumpul di apartemen saya aja ya. Saya udah booking-in mini bus juga buat kesananya.”
“Makasih ya sayang.” dr. Kinanti meraih tangan Keenan dan meremasnya dengan lembut. Tatapan keibuan yang Keenan rindukan terpancar dari matanya.
“Keenan yang makasih, Ma.”
***
Tepat 5 hari sebelum keberangkatan, Keenan mendapat promosi dari perusahaannya karena ide-idenya yang brilliant dan selalu memuaskan client-nya, Keenan memutuskan untuk membelikan sebuah kado yang ia tahu sudah sangat lama diinginkan oleh Kia. Sebagai pengucapan rasa syukurnya. Sebuah kalung manis dengan bandul kotak kecil yang didalamnya mengurung seekor burung kecil hitam. Entah mengapa Kia sangat menginkan kalung itu. Dan bagi Keenan, itu adalah hadiah yang sangat tepat untuk ia berikan kepada adiknya.
Hari yang Keenan tunggu telah tiba. Keenan menyimpan kado spesialnya untuk Kia di dalam tasnya dengan hati-hati. Kia sedang mengemas barang-barangnya sedangkan Keenan sedang sibuk menyiapkan sarapan bagi mereka berdua. Orangtuanya dan orangtua Yara akan tiba beberapa menit lagi dan mereka harus berangkat. Sedangkan Kia masih belum selesai mengemas barangnya. Membuat Keenan kecewa.
“Dik! Lama banget sih? Abang kan udah bilang dari kemarin supaya kamu packing. Nggak nurut sih! Mama sama yang lain bentar lagi sampai loh!” Hening. Tak ada sautan dari Kia. “Dik!” Lagi-lagi sautan Keenan tak berbalas. Keenan berlari menuju kamar Kia yang berada di lantai dua apartmentnya.
Keenang melihat Kia yang sedang terduduk lemas diantara tumpukan baju yang belum juga dimasukannya kedalam tas, membuat Keenan khawatir. Kepala Kia tergantung memandang ubin putih.
Dik, kamu kenapa?” Keenan mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang.
“Kia nggak bisa, Bang.” Mata Kia masih menatap lantai.
“Nggak bisa apa?” perlahan Kia menatap abangnya yang kini berlutut di hadapannya.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com