Pagi ini sinar matahari tidak mengintip melalui celah yang ada ditirai kamarku. Rintik hujan kecil yang biasa disebut gerimis menjadi penggantinya. ‘Pagi yang indah’ pikirku si penyuka hujan. Aku mulai menyiapkan diri untuk menyambut hari indah ini. mandi, sarapan dan membereskan tempat tidurku lalu terlarut dalam sebuah novel yang baru saja dikirimkan oleh sahabat baikku hingga ringtone khusus skype nyaring berbunyi. Sahabatku.
“Pagi Meta…” sapanya ramah.
“Hi! Selamat…” aku mengerutkan
keningku, “disana malam ya?” Tanyaku kembali.
“Suka-suka kamu deh, Met.” Ia
tertawa kecil di ujung lain teleponnya, “Kamu baca lagi ya jurnal saya! Ini
halaman terakhir kan? Kamu nggak nyuri start
kan?”
“Iya nggak kok. Nanti yah aku
baca lagi… sekarang aku lagi…”
“Sekarang Meta… nanti kalau sudah
selesai saya call lagi ya! Bye!” Sahabatku memutuskan call-nya secara sepihak. Aku hanya bisa
mendesah dan mengambil jurnal sahabatku yang memang ia berikan padaku agar aku
tidak sendirian selama dirinya menimba ilmu di Negara lain.
Halid. Sahabatku lebih dari 4
tahun terakhir ini. Kami sama-sama siswa pindahan dari SMA diluar Kota Bandung.
Kota yang kini ku tinggali dan akan ditinggali juga oleh Halid setelah ia
menamatkan sekolahnya di University of Columbia. Aku dan keluarga kembali
menginjak Bandung setelah kakakku meninggal di Bali, kota dimana aku tumbuh.
Ibuku tak dapat menghadapi rasa sakit atas kepergiannya, maka Ayah membawa kami
semua kembali ke Bandung, kota kelahiran kami semua.
Berbeda dengan Halid. Ia ingin
tinggal bersama neneknya disini, karena orangtuanya yang masih sibuk mengurusi
pekerjaan mereka di Kalimantan. Kami masuk di hari yang sama dan kelas yang
sama. Aku masih meningat hari pertama kami menikmati kebersamaan.
“Ngapain
masih disini? Nggak kekantin?” aku hanya menggeleng. Terlalu malu mengucap
kata. “Kamu tau kan kantinnya dimana?” aku mengangguk. “Terus kenapa disini?
Sendirian lagi!”Halid menarik kursi dan duduk dihadapanku. Dan untuk pertama
kalinya aku menatapnya tajam kepupil matanya.
“Banyak
orang yang liatin. Saya nggak nyaman.”
“Kan
wajar! Kita murid baru. Pasti pada liatin lah…” Aku hanya menggeleng. “Ayo kita
kekantin!” Aku tetap duduk hingga Halid menarik tanganku. “Tenang aja, yang
diliatin jadi dua orang. Kamu nggak sendirian.”
Meski baru mengenal, Halid selalu
tahu kata yang tepat untuk menarikku dari duniaku sendiri. Aku membuka halaman
terakhir jurnalnya. Sudah 2 tahun buku ini menemaniku, membaca jurnal ini
seolah mengdengarkan Halid bercerita, ia menyukai seorang gadis tapi tidak
pernah menyatakannya. Bahkan gadis itu tidak tahu. Halid bodoh! Dengan
tampangnya, dia bisa mendapatkan siapa saja.
Setiap harinya aku akan membaca 1
lembar curahannya yang tumpah di jurnal yang telah ia jamahi sejak hari pertama
masuk SMA kami. Aku terlarut dalam nostalgia setiap membaca tulisan-tulisannya.
Namaku ada disetiap paragraf tulisannya. Tapi tidak dengan gadis yang
disukainya, dan itu membuatku tak tenang.
Ini
hari terakhir aku akan membakar punggungnya dengan tatapanku, aku akan
meninggalkannya disini, ditanah kelahirannya, meninggalkannya untuk kembali. Ia
ingin mengantarku hingga ke gerbang pintu keberangkatan. Tapi aku mencegahnya.
Meninggalkannya adalah hal yang terberat bagiku tapi ditinggalkannya akan
terasa lebih ringan. Karena pengetahuanku tentang hati ini yang akan selalu memerintahkan
otak untuk terus mengejarnya.
Ini adalah tulisan terakhir Halid
sebelum ia pergi. Aku termenung. Gadis itu hampir saja ikut bersama kami
mengantarkannya? Kenapa Halid tertutup mengenai ini? Dengan kedekatan persahabatan
diantara kami, aku kesulitan menerima kenyataan bahwa Halid menyembunyikan perasaannya
pada seseorang dariku. Aku kesulitan ada gadis lain yang menguasai hati dan
pikirannya selain aku.
Lama
hingga aku kembali, tapi tak mungkin aku mencabik rahasia kini. Entah kapan aku
berani mengeluarkan kelinci putih dari dalam topi hitam yang kukenakan. Aku
terlalu takut. Takut akan reaksinya yang tak pernah bisa kuprediksi.
Keberadaannya terlalu penting bagiku. Hingga takkan pernah kudorong
keberadaannya dalam jurang keraguan apalagi ketidakpastian.
Gadis itu pastilah pintar merebut
perhatian Halid hingga Halid bisa sejatuh cinta ini padanya. Aku benar-benar
ingin tahu siapa gadis itu, tapi juga tidak setiap menghadapi kesempurnaannya.
Karena aku tahu, rasa sakit akan menamparku saat Halid memperkenalkan kami. Aku
dibuat mengenal gadis itu melalui tulisan-tulisan Halid. Dalam jurnal ini hanya
ada aku, hidupnya, dan gadis itu.
Satu
cara agar ia bisa tau mengenai keberadaan hati ini adalah dengan cara
memberikannya jurnal rahasia yang sudah menjadi tempatku bertarung dengan
realitas sejak aku melihatnya di ruang TU sekolah kami.
Aku terpaku. Kurasa aku mengenal
baik gadis ini. Benar-benar mengenalnya. Air matapun ikut hadir untuk menyambut
realitas baru yang datang dihadapanku.
Berharap
aku tak dienyahkan waktu, menanti dia dan kekasih lamanya yang tak kunjung
bermuka itu habis ditelan jenuh.
Jahat
memang, menanti kehancuran orang lain demi memekarkan rasa sendiri. Tapi itulah
aku. 1 tahun 3 bulan menjadi sahabat terbaiknya, lalu direbut pemuda asal yang
entah ia pungut dari mana membuatku hancur. Aku kehilangan kesempatanku. Tapi
aku berharap kini masih ada ruang sisa dihatinya. Ruang untukku yang tanpa
sadar telah ia sisakan lebih besar dari ruang pemuda itu.
Armeta
Prima, tunggu aku pulang bersama rasa yang masih entah kapan akan keluar dari
sarang rahasianya. Dan saat itu tiba, aku harap masih ada sisa ruang dihatimu
untukku selain ruang persahabatan kita.
Air mataku dengan deras menuruni
lekuk pipiku yang terbentuk karena senyuman. Aku tak sendiri dengan rasa ini,
rasa yang semula aku yakini harus hancur demi nama persahabatan ternyata tak
beralasan. Karena sahabatku juga tersiksa atas rahasia rasa yang sama. Aku
memeluk erat benda mati yang telah memberiku nyawa tambahan. Telepon genggamku
kembali bersuara yang tanpa ragu kuangkat tanpa melihat siapa yang ada diujung
lain sambungan ini.
“Hallo, Halid?” Tanyaku dengan
suara yang masih kental dengan airmata ini.
“Meta? Kamu nangis?! Kenapa?
Karna jurnal saya ya? Meta saya minta maaf…” Suara panik Halid membuatku
tertawa dan tenang.
“Iya gara-gara kamu! Kamu kapan
pulang? Aku pengin marah sama kamu!” Airmataku menggila sejalan dengan
kata-kata yang kulepaskan.
“Kamu seriusan mau marahin saya?”
“Pokonya kapan kamu pulang! Aku
nggak tenang kalau udah tau tapi kamunya nggak ada!” Airmataku menggila sejalan
dengan setiap kata yang kuucapkan.
“Tenang, Met. Tarik nafas
sekarang, terus liat deh keluar jendela… liat langit, biar kamu tenang. Kamu
kan suka hujan.” Aku mengikuti setiap ucapnya. Kebenaran lagi-lagi ada
dipihaknya, langit yang tak terlalu biru itu menenangkanku bersama air-air yang
ia jatuhkan ke bumi. Aku merasa tenang hingga hembusan angin yang cukup keras
mengingatkanku atas kejanggalan Halid.
“Kamu tau dari mana disini
gerimis?”
“Coba liat ke depan gerbang.”
Yang pertama kulihat adalah rambut hitamnya yang dipotong cepak dan kemejanya
yang akan selalu kukenali dimanapun karena kemeja itu adalah desain pertamaku
sebagai siswa di kelas fashion designer-ku.
Aku berlari keluar melalui jendela kamarku yang besar dan memeluknya.
“Jangan pergi lagi… jangan ada
rahasia lagi…” Aku menangis keras didadanya.
“Saya nggak pernah pergi, Meta.
Karna kita kan selalu ada disini…” Halid melepaskan pelukanku dan mengarahkan
telunjuknya menyentuh keningku, “dan sekarang disini lebih baik…” telunjuknya
perlahan turun dan berhenti tepat mengarah ke jantungku. Aku kembali menangis
dan memeluknya dengan erat. Halid sahabatku dan berharap akan menjadi teman
hidupku.***
0 komentar:
Posting Komentar