Rabu, 10 Desember 2014

Jurnal Pagi

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

Pagi ini sinar matahari tidak mengintip melalui celah yang ada ditirai kamarku. Rintik hujan kecil yang biasa disebut gerimis menjadi penggantinya. ‘Pagi yang indah’ pikirku si penyuka hujan. Aku mulai menyiapkan diri untuk menyambut hari indah ini. mandi, sarapan dan membereskan tempat tidurku lalu terlarut dalam sebuah novel yang baru saja dikirimkan oleh sahabat baikku hingga ringtone khusus skype nyaring berbunyi. Sahabatku.
“Pagi Meta…” sapanya ramah.
“Hi! Selamat…” aku mengerutkan keningku, “disana malam ya?” Tanyaku kembali.
“Suka-suka kamu deh, Met.” Ia tertawa kecil di ujung lain teleponnya, “Kamu baca lagi ya jurnal saya! Ini halaman terakhir kan? Kamu nggak nyuri start kan?”
“Iya nggak kok. Nanti yah aku baca lagi… sekarang aku lagi…”
“Sekarang Meta… nanti kalau sudah selesai saya call lagi ya! Bye!” Sahabatku memutuskan call-nya secara sepihak. Aku hanya bisa mendesah dan mengambil jurnal sahabatku yang memang ia berikan padaku agar aku tidak sendirian selama dirinya menimba ilmu di Negara lain.
Halid. Sahabatku lebih dari 4 tahun terakhir ini. Kami sama-sama siswa pindahan dari SMA diluar Kota Bandung. Kota yang kini ku tinggali dan akan ditinggali juga oleh Halid setelah ia menamatkan sekolahnya di University of Columbia. Aku dan keluarga kembali menginjak Bandung setelah kakakku meninggal di Bali, kota dimana aku tumbuh. Ibuku tak dapat menghadapi rasa sakit atas kepergiannya, maka Ayah membawa kami semua kembali ke Bandung, kota kelahiran kami semua.
Berbeda dengan Halid. Ia ingin tinggal bersama neneknya disini, karena orangtuanya yang masih sibuk mengurusi pekerjaan mereka di Kalimantan. Kami masuk di hari yang sama dan kelas yang sama. Aku masih meningat hari pertama kami menikmati kebersamaan.
“Ngapain masih disini? Nggak kekantin?” aku hanya menggeleng. Terlalu malu mengucap kata. “Kamu tau kan kantinnya dimana?” aku mengangguk. “Terus kenapa disini? Sendirian lagi!”Halid menarik kursi dan duduk dihadapanku. Dan untuk pertama kalinya aku menatapnya tajam kepupil matanya.
“Banyak orang yang liatin. Saya nggak nyaman.”
“Kan wajar! Kita murid baru. Pasti pada liatin lah…” Aku hanya menggeleng. “Ayo kita kekantin!” Aku tetap duduk hingga Halid menarik tanganku. “Tenang aja, yang diliatin jadi dua orang. Kamu nggak sendirian.”
Meski baru mengenal, Halid selalu tahu kata yang tepat untuk menarikku dari duniaku sendiri. Aku membuka halaman terakhir jurnalnya. Sudah 2 tahun buku ini menemaniku, membaca jurnal ini seolah mengdengarkan Halid bercerita, ia menyukai seorang gadis tapi tidak pernah menyatakannya. Bahkan gadis itu tidak tahu. Halid bodoh! Dengan tampangnya, dia bisa mendapatkan siapa saja.
Setiap harinya aku akan membaca 1 lembar curahannya yang tumpah di jurnal yang telah ia jamahi sejak hari pertama masuk SMA kami. Aku terlarut dalam nostalgia setiap membaca tulisan-tulisannya. Namaku ada disetiap paragraf tulisannya. Tapi tidak dengan gadis yang disukainya, dan itu membuatku tak tenang.
Ini hari terakhir aku akan membakar punggungnya dengan tatapanku, aku akan meninggalkannya disini, ditanah kelahirannya, meninggalkannya untuk kembali. Ia ingin mengantarku hingga ke gerbang pintu keberangkatan. Tapi aku mencegahnya. Meninggalkannya adalah hal yang terberat bagiku tapi ditinggalkannya akan terasa lebih ringan. Karena pengetahuanku tentang hati ini yang akan selalu memerintahkan otak untuk terus mengejarnya.
Ini adalah tulisan terakhir Halid sebelum ia pergi. Aku termenung. Gadis itu hampir saja ikut bersama kami mengantarkannya? Kenapa Halid tertutup mengenai ini? Dengan kedekatan persahabatan diantara kami, aku kesulitan menerima kenyataan bahwa Halid menyembunyikan perasaannya pada seseorang dariku. Aku kesulitan ada gadis lain yang menguasai hati dan pikirannya selain aku.
Lama hingga aku kembali, tapi tak mungkin aku mencabik rahasia kini. Entah kapan aku berani mengeluarkan kelinci putih dari dalam topi hitam yang kukenakan.  Aku terlalu takut. Takut akan reaksinya yang tak pernah bisa kuprediksi. Keberadaannya terlalu penting bagiku. Hingga takkan pernah kudorong keberadaannya dalam jurang keraguan apalagi ketidakpastian.
Gadis itu pastilah pintar merebut perhatian Halid hingga Halid bisa sejatuh cinta ini padanya. Aku benar-benar ingin tahu siapa gadis itu, tapi juga tidak setiap menghadapi kesempurnaannya. Karena aku tahu, rasa sakit akan menamparku saat Halid memperkenalkan kami. Aku dibuat mengenal gadis itu melalui tulisan-tulisan Halid. Dalam jurnal ini hanya ada aku, hidupnya, dan gadis itu.
Satu cara agar ia bisa tau mengenai keberadaan hati ini adalah dengan cara memberikannya jurnal rahasia yang sudah menjadi tempatku bertarung dengan realitas sejak aku melihatnya di ruang TU sekolah kami.
Aku terpaku. Kurasa aku mengenal baik gadis ini. Benar-benar mengenalnya. Air matapun ikut hadir untuk menyambut realitas baru yang datang dihadapanku.
Berharap aku tak dienyahkan waktu, menanti dia dan kekasih lamanya yang tak kunjung bermuka itu habis ditelan jenuh.
Jahat memang, menanti kehancuran orang lain demi memekarkan rasa sendiri. Tapi itulah aku. 1 tahun 3 bulan menjadi sahabat terbaiknya, lalu direbut pemuda asal yang entah ia pungut dari mana membuatku hancur. Aku kehilangan kesempatanku. Tapi aku berharap kini masih ada ruang sisa dihatinya. Ruang untukku yang tanpa sadar telah ia sisakan lebih besar dari ruang pemuda itu.
Armeta Prima, tunggu aku pulang bersama rasa yang masih entah kapan akan keluar dari sarang rahasianya. Dan saat itu tiba, aku harap masih ada sisa ruang dihatimu untukku selain ruang persahabatan kita.
Air mataku dengan deras menuruni lekuk pipiku yang terbentuk karena senyuman. Aku tak sendiri dengan rasa ini, rasa yang semula aku yakini harus hancur demi nama persahabatan ternyata tak beralasan. Karena sahabatku juga tersiksa atas rahasia rasa yang sama. Aku memeluk erat benda mati yang telah memberiku nyawa tambahan. Telepon genggamku kembali bersuara yang tanpa ragu kuangkat tanpa melihat siapa yang ada diujung lain sambungan ini.
“Hallo, Halid?” Tanyaku dengan suara yang masih kental dengan airmata ini.
“Meta? Kamu nangis?! Kenapa? Karna jurnal saya ya? Meta saya minta maaf…” Suara panik Halid membuatku tertawa dan tenang.
“Iya gara-gara kamu! Kamu kapan pulang? Aku pengin marah sama kamu!” Airmataku menggila sejalan dengan kata-kata yang kulepaskan.
“Kamu seriusan mau marahin saya?”
“Pokonya kapan kamu pulang! Aku nggak tenang kalau udah tau tapi kamunya nggak ada!” Airmataku menggila sejalan dengan setiap kata yang kuucapkan.
“Tenang, Met. Tarik nafas sekarang, terus liat deh keluar jendela… liat langit, biar kamu tenang. Kamu kan suka hujan.” Aku mengikuti setiap ucapnya. Kebenaran lagi-lagi ada dipihaknya, langit yang tak terlalu biru itu menenangkanku bersama air-air yang ia jatuhkan ke bumi. Aku merasa tenang hingga hembusan angin yang cukup keras mengingatkanku atas kejanggalan Halid.
“Kamu tau dari mana disini gerimis?”
“Coba liat ke depan gerbang.” Yang pertama kulihat adalah rambut hitamnya yang dipotong cepak dan kemejanya yang akan selalu kukenali dimanapun karena kemeja itu adalah desain pertamaku sebagai siswa di kelas fashion designer-ku. Aku berlari keluar melalui jendela kamarku yang besar dan memeluknya.
“Jangan pergi lagi… jangan ada rahasia lagi…” Aku menangis keras didadanya.
“Saya nggak pernah pergi, Meta. Karna kita kan selalu ada disini…” Halid melepaskan pelukanku dan mengarahkan telunjuknya menyentuh keningku, “dan sekarang disini lebih baik…” telunjuknya perlahan turun dan berhenti tepat mengarah ke jantungku. Aku kembali menangis dan memeluknya dengan erat. Halid sahabatku dan berharap akan menjadi teman hidupku.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com