[Yuda]
Kami
memutuskan untuk merasakan kehangatan teh jahe yang menjadi salah satu menu
disebuah saung di pinggiran jalan di daerah Lembang sebelum kembali pulang,
lagipula di jam ini perjalan turun ke Bandung akan macet sekali,
“Aaah!
indah bangeet!” Teriak Raya ke hamparan lampu-lampu kota yang menjadi
pemandangan manis untuk kami,
“Berisik.
Kayak belum pernah pergi ke Lembang.”
“Biarin.
Itu tandanya, saya orang yang ekspresif. Nggak kayak kamu.” aku tersenyum, kuakui
kalau aku adalah orang yang kaku, “by the
way Yud…” aku menatapnya, ia tampak ragu saat ingin mengajukan pertanyaan
padaku, “…Boleh tau nggak alasannya?”
“Alasan
apa?” aku berbalik bertanya padanya,
“Alasan
kamu ingin pergi dan nggak ingin kembali?”
Aku
lama menjawab, mempersiapkan mental dan kepercayaan. Apakah aku bisa percaya
padanya untuk menceritakan hal pribadi, dan apa aku siap untuk mengingat
kembali kejadian-kejadian itu.
“Saya
punya sahabat, namanya Freya sama Dhika.” Tiba-tiba saja bibirku memutuskan
untuk bercerita padanya, “singkat cerita saya pacaran sama Freya. Sekitar empat
tahun kami jadian, saya mutusin buat ngelamar dia dan pengin dia yang nemenin
saya sampai saya tua.” Aku menarik nafas,
“besoknya, saya dapet telepon dari Dhika kalo Freya kecelakaan, ditabrak
mobil. Udah pasti saya langsung pergi. Untungnya dia selamat, tapi yang bikin
kami, saya sama Dhika sedih, dia nggak inget siapa kami. Bahkan dia nggak tau
siapa dirinya.” Aku meneguk teh jahe pesanan kami yang baru saja disajikan oleh
pemilik saung,
“Kami
berusaha banget ngeyakinin Freya dan ngebantu dia buat inget lagi. Sampe suatu
waktu, dia bilang sama saya kalo dia suka sama Dhika. Saya nggak tahu harus
gimana.” Perasaan kecewa dan hati yang tercabik-cabik datang jika aku
menceritakannya.
***
[Raya]
Baru
kali ini aku melihat wajah Yuda penuh ekspresi kekecewaan saat ia bercerita
padaku mengenai alasannya menetap di Bandung. Entah mengapa, aku merasa ada
keterkaitan dengan nama perempuan yang ia sebut,
“Freya
sama Dhika akhirnya jadian, ternyata Dhika juga suka sama Freya. Saya nggak
bisa apa-apa, cuma bisa melihat kebahagiaan mereka dari kesakitan yang Saya
rasain. Saya nggak bisa nerimanya Ray. Bagaimanapun juga, Saya sayang banget
sama Freya. Nggak rela dia buat Dhika.”
“Dhika
sendiri gimana?”
“Dia
berulang kali minta maaf sama Saya. pengin rasanya Saya nonjok muka dia, tapi Saya
nggak bisa nyalahin dia juga, itu pilihan Freya.”
“Kalo
boleh tau, kejadiannya kapan Yud?” aku memberanikan untuk bertanya lebih
lanjut,
“Tiga
tahun yang lalu Ray, Oktober 2011.” Aku tersentak saat mendengar bulan dan
tahun yang disebutkan Yuda, sama persis dengan tragedi itu. Tidak, ini mungkin
hanya sebuah kebetulan dengan kasus, bulan bahkan tahun yang sama. Tapi, gadis
yang aku tabrak juga amnesia. Jangan ambil kesimpulan terlalu jauh, ini hanya
sebuah kebetulan. Mungkin Freya ditabrak oleh pengendara lain, bukan aku.
Seketika
pula, sekelilingku berputar, aku memegang ujung meja agar tidak terjatuh dari
dudukku. Aku harus bertingkah bahwa semuanya baik-baik saja. Jangan sampai Yuda
bertanya, dan aku juga tidak ingin bercerita. Ia cukup tahu, alasan kaburku ke
Bandung karena perceraian orangtua dan Mama yang menikah lagi.
“Sampe
sekarang nggak tau, kalo kamu pacarnya?” Yuda menjawabnya dengan gelengan,
“Kamu percaya takdir? Mungkin, Tuhan lagi nyiapin orang yang lebih baik dari
Freya buat kamu.” Aku mencoba bijaksana didepannya. Walaupun mungkin
kalimat-kalimat yang aku berikan padanya sudah berulang kali ia dengar. Dia
menegukan sisa teh jahenya,
“Haah!
Sudah yah. Saya nggak mau lagi ngomongin soal itu.” aku tidak bertanya lagi.
Ada perasaan takut juga didalam dadaku. Takut kalau semuanya benar-benar sama.
***
Aku
membaringkan tubuhku di kasur, menatap langit-langit yang kulukis sendiri,
bergambarkan tata surya. Memikirkan pembicaraanku dengan Yuda beberapa jam yang
lalu, dan aku jadi merasa sedikit segan padanya. Telepon genggamku berbunyi,
Mama. Selalu saja menghubungiku siang dan malam. Membujukku untuk kembali
pulang. Kulihat layar, nomor internasional,
“Halo.”
“Raya.”
Suara Papa. Aku rindu dengan suara lelaki yang selalu aku idolakan ini,
“Pap.
Apa kabar?” tanyaku, sedikit ada kecanggungan diantara kami, karena ini telepon
yang pertama setelah lima bulan yang lalu.
“Baik,
Sayang. Kamu sendiri?”
“Baik.
Tumben Pa, telepon Raya. Apa Mama ngadu lagi sama Papa?” tanyaku. Mama sama Papa
memang sudah bercerai, tapi mereka tetap berkomunikasi satu sama lain. Tetap
menjaga hubungan baik demi aku. Itu yang mereka katakan.
“Emangnya
Papa kalo telepon harus selalu ada aduan dari Mama kamu?” andalannya Papa untuk
membalikkan senjata,
“Biasanya
sih kayak gitu, contohnya terakhir kali Papa telepon aku.”
“Raya.
Ada yang mau Papa tanyain sama kamu.”
“Apa?
Aku kasih Papa pilihan, satu, kenapa Raya gak mau pulang? Dua, kenapa Raya gak
mau berobat lagi? Coba Papa pilih salah satu.” Aku mendengar tawa dari sebrang
sana.
“Raya,
kamu nggak ada niat buat ngelanjutin S2?”
Pertanyaan
yang berbeda rupanya. Ini pertama kalinya papa bertanya niatku untuk
melanjutkan studi. Aku berpikir. “Pengin sih Pa. Tapi…”
“Tapi
apa?”
“Raya
belum bisa mutusin sekarang Pa.” Belum bisa, aku belum berani untuk pergi
terlalu jauh sekarang. Walaupun aku ingin pergi jauh.
“Kamu
ambil lah S2 di Kanada, sekalian
temenin Papa. Ya sayang?” aku terdiam. Memang sejak orang tuaku bercerai, Papa
tidak lagi menikah dan hidup sendiri di Kanada. Akan aku pikirkan detail-nya nanti mungkin, karena aku
ingin memastikan sesuatu agar aku berani pergi ke jauh.
***
[Yuda]
Seseorang
memencet bel apartemenku. Mengganggu kesenangan hari mingguku. Membaca. Karena,
minggu kemarin aku tidak bisa melakukannya. Aku terlalu malas untuk bangun dari
dudukku diatas kursi panjang yang ada di kamar tidur, sambil mendengarkan
beberapa instrument.
Dari
balik pintu kulihat seorang perempuan berambut panjang sebahu, matanya sipit
dan bibirnya yang kecil tersenyum padaku. Freya. Apa yang membawanya ke sini,
tidak kulihat Dhika bersamanya, “Kamu nggak akan mempersilahkan aku masuk?”
tanyanya yang menyadarkan lamunanku.
“Sorry. Silahkan masuk Fre.” Kataku yang
kembali pada kesadaranku dengan nada canggung. Freya masuk kedalam apartemenku.
Matanya menyapu ke setiap sudut tempat yang sudah kutinggali hampir empat bulan
ini. “Duduk Fre. Maaf nggak ada ruang tamu, apalagi meja makan. jadi duduk di
situ aja.” Kataku menjelaskan. Mempersilahkannya untuk duduk di sofa yang
kutaruh di ruang tv. Aku pergi ke dapur, membuatkannya minuman hangat. Itu kan sopan santun yang harus dilakukan
jika tamu datang, sekaligus aku mempersiapkan mental dan menyusun bicaraku
dihadapan Freya.
“Ini
Fre, minum.” Kataku sambil menyuguhkan teh manis hangat dihadapannya. ia
berdandan sekarang, sangat berubah. Pakaiannya pun jadi feminim.
“Apa
kabar, Yud?” ia menanyakan kabarku, membuat apartemen ku yang lumayan lengang
tadi, berganti dengan suaranya.
“Baik.
Kamu sendiri gimana?”
“Baik.
Sangat baik.”
“Dhika
nggak ikut?”
“Dhika
nggak siap ketemu kamu.” aku mengangguk mengerti. Dingin, ruanganku jadi terasa
tambah dingin sejak kedatangan Freya. Kemudian dia merogoh tasnya, seperti
sedang mencari seonggok berlian didalam karung yang dipenuhi pasir. Lalu
memberikanku sebuah undangan pernikahan, aku tersenyum kecut saat melihat nama
dua calon pengantin yang tertulis,
“Maaf
tiba-tiba. Maaf kami nggak bilang-bilang dulu sama kamu. Karena kamu juga
ngehindar Yud.”
“Nggak
apa-apa kok Fre. Aku ikut seneng tau kalian mau nikah.” Seseorang memencet bel
apartemenku. Siapa yang datang di saat yang tidak tepat seperti sekarang.
***
[Raya]
Akhirnya
Yuda membukakan pintu apartemennya. Aku tersenyum, namun wajahnya terlihat
seperti ada sesuatu didalam. “Ada apa?” tanyanya. Ah ya benar, aku juga tidak tahu
kenapa aku ingin kemari. Aku hanya ingin sekedar melihat wajahnya karena aku
pergi ke Jogja sejak tiga hari yang lalu. Ayo pikirkan sebuah alasan yang masuk
akal Raya, biar dia nggak curiga.
“Aku
baru pulang dari Jogja, trus mau masak. Pas liat stock garam, ternyata habis. Boleh minta?” alasan apa itu Raya. Aku
memang suka masak, tapi tidak di hari minggu. Yuda menaikkan alisnya, apa dia
curiga, karena dia bukan orang yang gampang dibohongi.
“Masuk.”
Aku mengikutinya dari belakang, seperti anak itik yang baru saja menetas dari
telur dan melihat sang induk untuk pertama kali, menguntit kemanapun sang induk
pergi.
“Maaf
yaa Yud, saya nggak bisa beliin kamu oleh-oleh. Boro-boro jalan-jalan, acaranya
aja bener-bener tiga hari, dan harus cepet-cepet balik ke Bandung buat
nyelesein kerjaannya.” Yuda menghentikan langkahnya, dan memberikanku satu
toples kecil berisikan garam didalamnya. Aku mengukir bibirku dengan manis,
yang orang-orang sebut dengan sebuah senyuman. “Terimakasih.” Aku memandangi
wajahnya.
“Lalu?”
Ia bertanya. Aku rindu gaya bicaranya yang dingin. Aku menggeleng, dan
memutuskan untuk kembali ke planetku yang terletak persis disebelah planetnya.
Hingga aku sadari ada seorang gadis sedang duduk di sofa putihnya dan
memandangi kami. Wajah itu. Tiba-tiba wajah seorang gadis terbaring di tempat
tidur rumah sakit, dengan perban di kepalanya dan infus di tangan kirinya hadir
dalam ingatanku, dengan sangat jelas aku mengingat wajahnya. Wajah tamu Yuda
persis seperti gadis yang baru saja hadir dalam memori otakku.
Prang!!
Otakku sedang tidak bisa memberikan sinyal pada tanganku agar lebih erat
menggenggam toples berisikan garam hingga toples itu jatuh ke lantai dan
hancur. Aku acuhkan, dan langsung pergi dari apartemen Yuda. Dipikiranku hanya
ada harus pergi dengan segera dari tempat Yuda. Tidak ingin lebih lama menatap
wajah gadis itu.
Aku
duduk dikursi meja makan. Mengatur nafasku yang terengah-engah karena berlari
dari apartemen Yuda. Aku tahu bahwa jaraknya tidak sepanjang track lari di Saparua, tapi dadaku
terasa sesak. Apa dia Freya, seseorang yang diceritakan Yuda beberapa minggu yang
lalu.
***
Yuda
menyuguhkan secangkir kopi hangat dihadapanku. Aku memberanikan diri untuk
bertanya tentang gadis yang datang ke apartemennya beberapa hari yang lalu.
Memberanikan diri untuk tahu bahwa gadis itu adalah orang yang aku tabrak, tiga
tahun yang lalu.
Keheningan
menyelimuti kami. Aku merasakan mata Yuda menyoroti wajahku yang menampakkan
keraguan dan ketakutan. “Kamu kenapa Ray?” Ia bertanya. Aku diam.
“Saya
cuma mau nanya…” aku berhenti berbicara, apa tidak apa jika aku langsung
menanyakannya, “…gadis yang datang dua hari yang lalu, dia…” aku menarik nafas
panjang, “…apa dia Freya?” akhirnya, aku menyebut namanya.
Yuda
menundukkan kepalanya. Lama berbicara, aku tahu ini pasti sulit untuknya. Raya bodoh! bodoh! bodoh! “Maaf Yud.
Saya tau saya lancang.” Tapi, aku harus memastikan dia Freya atau bukan, karena
jika iya. Aku sudah benar-benar menghancurkan hidup orang yang membuat hatiku
berdebar setiap melihat wajahnya atau hanya mencium harumnya yang khas dari
jarak yang jauh.
“Iya
Ray. Dia Freya.”***

0 komentar:
Posting Komentar