Rabu, 01 April 2015

Runaway #4

0

[Yuda]
Kami memutuskan untuk merasakan kehangatan teh jahe yang menjadi salah satu menu disebuah saung di pinggiran jalan di daerah Lembang sebelum kembali pulang, lagipula di jam ini perjalan turun ke Bandung akan macet sekali,
“Aaah! indah bangeet!” Teriak Raya ke hamparan lampu-lampu kota yang menjadi pemandangan manis untuk kami,
“Berisik. Kayak belum pernah pergi ke Lembang.”
“Biarin. Itu tandanya, saya orang yang ekspresif. Nggak kayak kamu.” aku tersenyum, kuakui kalau aku adalah orang yang kaku, “by the way Yud…” aku menatapnya, ia tampak ragu saat ingin mengajukan pertanyaan padaku, “…Boleh tau nggak alasannya?”
“Alasan apa?” aku berbalik bertanya padanya,
“Alasan kamu ingin pergi dan nggak ingin kembali?”
Aku lama menjawab, mempersiapkan mental dan kepercayaan. Apakah aku bisa percaya padanya untuk menceritakan hal pribadi, dan apa aku siap untuk mengingat kembali kejadian-kejadian itu.
“Saya punya sahabat, namanya Freya sama Dhika.” Tiba-tiba saja bibirku memutuskan untuk bercerita padanya, “singkat cerita saya pacaran sama Freya. Sekitar empat tahun kami jadian, saya mutusin buat ngelamar dia dan pengin dia yang nemenin saya sampai saya tua.” Aku menarik nafas,  “besoknya, saya dapet telepon dari Dhika kalo Freya kecelakaan, ditabrak mobil. Udah pasti saya langsung pergi. Untungnya dia selamat, tapi yang bikin kami, saya sama Dhika sedih, dia nggak inget siapa kami. Bahkan dia nggak tau siapa dirinya.” Aku meneguk teh jahe pesanan kami yang baru saja disajikan oleh pemilik saung,
“Kami berusaha banget ngeyakinin Freya dan ngebantu dia buat inget lagi. Sampe suatu waktu, dia bilang sama saya kalo dia suka sama Dhika. Saya nggak tahu harus gimana.” Perasaan kecewa dan hati yang tercabik-cabik datang jika aku menceritakannya.
***
[Raya]
Baru kali ini aku melihat wajah Yuda penuh ekspresi kekecewaan saat ia bercerita padaku mengenai alasannya menetap di Bandung. Entah mengapa, aku merasa ada keterkaitan dengan nama perempuan yang ia sebut,
“Freya sama Dhika akhirnya jadian, ternyata Dhika juga suka sama Freya. Saya nggak bisa apa-apa, cuma bisa melihat kebahagiaan mereka dari kesakitan yang Saya rasain. Saya nggak bisa nerimanya Ray. Bagaimanapun juga, Saya sayang banget sama Freya. Nggak rela dia buat Dhika.”
“Dhika sendiri gimana?”
“Dia berulang kali minta maaf sama Saya. pengin rasanya Saya nonjok muka dia, tapi Saya nggak bisa nyalahin dia juga, itu pilihan Freya.”
“Kalo boleh tau, kejadiannya kapan Yud?” aku memberanikan untuk bertanya lebih lanjut,
“Tiga tahun yang lalu Ray, Oktober 2011.” Aku tersentak saat mendengar bulan dan tahun yang disebutkan Yuda, sama persis dengan tragedi itu. Tidak, ini mungkin hanya sebuah kebetulan dengan kasus, bulan bahkan tahun yang sama. Tapi, gadis yang aku tabrak juga amnesia. Jangan ambil kesimpulan terlalu jauh, ini hanya sebuah kebetulan. Mungkin Freya ditabrak oleh pengendara lain, bukan aku.
Seketika pula, sekelilingku berputar, aku memegang ujung meja agar tidak terjatuh dari dudukku. Aku harus bertingkah bahwa semuanya baik-baik saja. Jangan sampai Yuda bertanya, dan aku juga tidak ingin bercerita. Ia cukup tahu, alasan kaburku ke Bandung karena perceraian orangtua dan Mama yang menikah lagi.
“Sampe sekarang nggak tau, kalo kamu pacarnya?” Yuda menjawabnya dengan gelengan, “Kamu percaya takdir? Mungkin, Tuhan lagi nyiapin orang yang lebih baik dari Freya buat kamu.” Aku mencoba bijaksana didepannya. Walaupun mungkin kalimat-kalimat yang aku berikan padanya sudah berulang kali ia dengar. Dia menegukan sisa teh jahenya,
“Haah! Sudah yah. Saya nggak mau lagi ngomongin soal itu.” aku tidak bertanya lagi. Ada perasaan takut juga didalam dadaku. Takut kalau semuanya benar-benar sama.
***
Aku membaringkan tubuhku di kasur, menatap langit-langit yang kulukis sendiri, bergambarkan tata surya. Memikirkan pembicaraanku dengan Yuda beberapa jam yang lalu, dan aku jadi merasa sedikit segan padanya. Telepon genggamku berbunyi, Mama. Selalu saja menghubungiku siang dan malam. Membujukku untuk kembali pulang. Kulihat layar, nomor internasional,
“Halo.”
“Raya.” Suara Papa. Aku rindu dengan suara lelaki yang selalu aku idolakan ini,
“Pap. Apa kabar?” tanyaku, sedikit ada kecanggungan diantara kami, karena ini telepon yang pertama setelah lima bulan yang lalu.
“Baik, Sayang. Kamu sendiri?”
“Baik. Tumben Pa, telepon Raya. Apa Mama ngadu lagi sama Papa?” tanyaku. Mama sama Papa memang sudah bercerai, tapi mereka tetap berkomunikasi satu sama lain. Tetap menjaga hubungan baik demi aku. Itu yang mereka katakan.
“Emangnya Papa kalo telepon harus selalu ada aduan dari Mama kamu?” andalannya Papa untuk membalikkan senjata,
“Biasanya sih kayak gitu, contohnya terakhir kali Papa telepon aku.”
“Raya. Ada yang mau Papa tanyain sama kamu.”
“Apa? Aku kasih Papa pilihan, satu, kenapa Raya gak mau pulang? Dua, kenapa Raya gak mau berobat lagi? Coba Papa pilih salah satu.” Aku mendengar tawa dari sebrang sana.
“Raya, kamu nggak ada niat buat ngelanjutin S2?”
Pertanyaan yang berbeda rupanya. Ini pertama kalinya papa bertanya niatku untuk melanjutkan studi. Aku berpikir. “Pengin sih Pa. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Raya belum bisa mutusin sekarang Pa.” Belum bisa, aku belum berani untuk pergi terlalu jauh sekarang. Walaupun aku ingin pergi jauh.
“Kamu ambil lah S2 di Kanada, sekalian temenin Papa. Ya sayang?” aku terdiam. Memang sejak orang tuaku bercerai, Papa tidak lagi menikah dan hidup sendiri di Kanada. Akan aku pikirkan detail-nya nanti mungkin, karena aku ingin memastikan sesuatu agar aku berani pergi ke jauh.
***
[Yuda]
Seseorang memencet bel apartemenku. Mengganggu kesenangan hari mingguku. Membaca. Karena, minggu kemarin aku tidak bisa melakukannya. Aku terlalu malas untuk bangun dari dudukku diatas kursi panjang yang ada di kamar tidur, sambil mendengarkan beberapa instrument.
Dari balik pintu kulihat seorang perempuan berambut panjang sebahu, matanya sipit dan bibirnya yang kecil tersenyum padaku. Freya. Apa yang membawanya ke sini, tidak kulihat Dhika bersamanya, “Kamu nggak akan mempersilahkan aku masuk?” tanyanya yang menyadarkan lamunanku.
Sorry. Silahkan masuk Fre.” Kataku yang kembali pada kesadaranku dengan nada canggung. Freya masuk kedalam apartemenku. Matanya menyapu ke setiap sudut tempat yang sudah kutinggali hampir empat bulan ini. “Duduk Fre. Maaf nggak ada ruang tamu, apalagi meja makan. jadi duduk di situ aja.” Kataku menjelaskan. Mempersilahkannya untuk duduk di sofa yang kutaruh di ruang tv. Aku pergi ke dapur, membuatkannya minuman hangat. Itu kan sopan santun yang harus dilakukan jika tamu datang, sekaligus aku mempersiapkan mental dan menyusun bicaraku dihadapan Freya.
“Ini Fre, minum.” Kataku sambil menyuguhkan teh manis hangat dihadapannya. ia berdandan sekarang, sangat berubah. Pakaiannya pun jadi feminim.
“Apa kabar, Yud?” ia menanyakan kabarku, membuat apartemen ku yang lumayan lengang tadi, berganti dengan suaranya.
“Baik. Kamu sendiri gimana?”
“Baik. Sangat baik.”
“Dhika nggak ikut?”
“Dhika nggak siap ketemu kamu.” aku mengangguk mengerti. Dingin, ruanganku jadi terasa tambah dingin sejak kedatangan Freya. Kemudian dia merogoh tasnya, seperti sedang mencari seonggok berlian didalam karung yang dipenuhi pasir. Lalu memberikanku sebuah undangan pernikahan, aku tersenyum kecut saat melihat nama dua calon pengantin yang tertulis,
“Maaf tiba-tiba. Maaf kami nggak bilang-bilang dulu sama kamu. Karena kamu juga ngehindar Yud.”
“Nggak apa-apa kok Fre. Aku ikut seneng tau kalian mau nikah.” Seseorang memencet bel apartemenku. Siapa yang datang di saat yang tidak tepat seperti sekarang.
***
[Raya]
Akhirnya Yuda membukakan pintu apartemennya. Aku tersenyum, namun wajahnya terlihat seperti ada sesuatu didalam. “Ada apa?” tanyanya. Ah ya benar, aku juga tidak tahu kenapa aku ingin kemari. Aku hanya ingin sekedar melihat wajahnya karena aku pergi ke Jogja sejak tiga hari yang lalu. Ayo pikirkan sebuah alasan yang masuk akal Raya, biar dia nggak curiga.
“Aku baru pulang dari Jogja, trus mau masak. Pas liat stock garam, ternyata habis. Boleh minta?” alasan apa itu Raya. Aku memang suka masak, tapi tidak di hari minggu. Yuda menaikkan alisnya, apa dia curiga, karena dia bukan orang yang gampang dibohongi.
“Masuk.” Aku mengikutinya dari belakang, seperti anak itik yang baru saja menetas dari telur dan melihat sang induk untuk pertama kali, menguntit kemanapun sang induk pergi.
“Maaf yaa Yud, saya nggak bisa beliin kamu oleh-oleh. Boro-boro jalan-jalan, acaranya aja bener-bener tiga hari, dan harus cepet-cepet balik ke Bandung buat nyelesein kerjaannya.” Yuda menghentikan langkahnya, dan memberikanku satu toples kecil berisikan garam didalamnya. Aku mengukir bibirku dengan manis, yang orang-orang sebut dengan sebuah senyuman. “Terimakasih.” Aku memandangi wajahnya.
“Lalu?” Ia bertanya. Aku rindu gaya bicaranya yang dingin. Aku menggeleng, dan memutuskan untuk kembali ke planetku yang terletak persis disebelah planetnya. Hingga aku sadari ada seorang gadis sedang duduk di sofa putihnya dan memandangi kami. Wajah itu. Tiba-tiba wajah seorang gadis terbaring di tempat tidur rumah sakit, dengan perban di kepalanya dan infus di tangan kirinya hadir dalam ingatanku, dengan sangat jelas aku mengingat wajahnya. Wajah tamu Yuda persis seperti gadis yang baru saja hadir dalam memori otakku.
Prang!! Otakku sedang tidak bisa memberikan sinyal pada tanganku agar lebih erat menggenggam toples berisikan garam hingga toples itu jatuh ke lantai dan hancur. Aku acuhkan, dan langsung pergi dari apartemen Yuda. Dipikiranku hanya ada harus pergi dengan segera dari tempat Yuda. Tidak ingin lebih lama menatap wajah gadis itu.
Aku duduk dikursi meja makan. Mengatur nafasku yang terengah-engah karena berlari dari apartemen Yuda. Aku tahu bahwa jaraknya tidak sepanjang track lari di Saparua, tapi dadaku terasa sesak. Apa dia Freya, seseorang yang diceritakan Yuda beberapa minggu yang lalu.
***
Yuda menyuguhkan secangkir kopi hangat dihadapanku. Aku memberanikan diri untuk bertanya tentang gadis yang datang ke apartemennya beberapa hari yang lalu. Memberanikan diri untuk tahu bahwa gadis itu adalah orang yang aku tabrak, tiga tahun yang lalu.
Keheningan menyelimuti kami. Aku merasakan mata Yuda menyoroti wajahku yang menampakkan keraguan dan ketakutan. “Kamu kenapa Ray?” Ia bertanya. Aku diam.
“Saya cuma mau nanya…” aku berhenti berbicara, apa tidak apa jika aku langsung menanyakannya, “…gadis yang datang dua hari yang lalu, dia…” aku menarik nafas panjang, “…apa dia Freya?” akhirnya, aku menyebut namanya.
Yuda menundukkan kepalanya. Lama berbicara, aku tahu ini pasti sulit untuknya. Raya bodoh! bodoh! bodoh! “Maaf Yud. Saya tau saya lancang.” Tapi, aku harus memastikan dia Freya atau bukan, karena jika iya. Aku sudah benar-benar menghancurkan hidup orang yang membuat hatiku berdebar setiap melihat wajahnya atau hanya mencium harumnya yang khas dari jarak yang jauh.

“Iya Ray. Dia Freya.”***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com