Kamis, 19 Maret 2015

Reverse #4

0

Aku hanya bisa terpaku. Rey sama sekali tidak memberitahuku akan pulang dalam waktu dekat ini, aku salah tingkah, tidak tahu harus bagaimana. Rey menghampiriku dan Dimas,
“Dimas.. kenalkan, dia pacarku. Rey.” Aku menundukkan kepalaku, tidak tahu harus bertindak bagaimana diantara dua lelaki yang ada didekatku. Lalu Rey pergi begitu saja, tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya yang sedikit tebal. Dimas menatapku, menginginkan sebuah jawaban, namun aku pergi mengejar Rey, menahan tangannya, “Rey.. dengerin aku dulu.” Kataku, ia menepisnya. Aku merasakan amarah yang tidak dapat dibendung dalam dirinya, kemudian ia pergi tanpa mendengarkanku, “REY!!” aku berteriak. Tapi ia tidak kembali apalagi sekedar berpaling, Dimas menghampiriku, “Nggak sekarang Mas, pikiranku kacau. Lebih baik kamu pulang.” Aku masuk kedalam, meninggalkan Dimas yang berdiri terpaku. Membutuhkan sebuah jawaban atas kejadian yang terduga.
***
Aku memutar-mutar cangkir yang berisikan kopi hitam, menunggu Dimas datang. Menjelaskan yang terjadi kemarin. Kami janjian di kedai kopi sebrang rumah sakit tempat ia bekerja. Tidak lama kemudian ia datang, duduk dihadapanku, kami sama-sama terdiam,
“Maafkan aku Ta..” ia mulai berbicara,
“Bukan salah kamu.” Jawabku, “Seharusnya aku bilang dari awal kalo aku udah punya pacar.”
“Seharusnya aku tanya dulu, aku terlalu percaya diri kalo kamu nggak ada yang punya dan berharap bisa kembali  sama kamu.” Katanya, membuatku semakin merasa bersalah,
“Ini salah aku Mas, aku nggak bisa membaca niat kamu, dan tetap menganggap kalo selama ini kita sahabatan.” Jawabku, ia berdiri, aku menatapnya, menatap orang yang sempat membuat jantungku berdebar dan nyaman ada didekatnya. Ia mengulurkan tangannya, aku menatapnya bingung, aku berdiri, ia menarik tanganku untuk bersalaman dengannya,
“Sejak hari ini, kita bersahabat Ta..” ia tersenyum, senyuman kesukaannku. Aku membalasnya dengan senyuman, “Jelaskan sama pacar kamu, kalo aku cuma masa lalumu.” Kemudian ia pergi meninggalkan aku sendiri.
“Terimakasih Dimas..” Ucapku sambil menatap punggungnya yang pergi meninggalkanku.
***
“Mari masuk Mbak Ata, mas Rey nya sedang di taman belakang.” Kata Mbok Min, pembantu di rumah Rey sejak ia masih kecil. Aku masuk ke dalam rumah yang cukup besar, yang ditinggali enam orang. Aku berdiri diambang pintu, menatap punggung Rey yang sedang duduk di kursi panjang dekat taman yang Ibu nya buat, mengatur bicaraku, mempersiapkan diri, dan mempertanggung jawabkan yang telah terjadi juga berharap Rey sudah sedikit lebih tenang. Aku berjalan menghampirinya. Menggenggam pundaknya yang lebar dan kuat, tidak ada respon, aku duduk disebelahnya,
“Hai stranger…” kataku, Rey tidak menjawab, “Sungguh sebuah kejutan kamu datang kerumah tadi malam.”
“Sebuah kejutan juga untukku.” Jawabnya, “Jelasin sama aku Ta, biar aku bisa meyakinkan diri aku kalo kamu bukan perempuan jahat.” Kata-katanya menusukku, membuatku sakit, ‘perempuan jahat’, mungkin sebutan itu pantas ia berikan untukku,
“Dimas, dia mantan pacarku.-”
“Aku tau.” Rey memotong pembicaraanku, “aku cuma ingin tau sejak kapan kalian dekat?” tanyanya,
“Sejak Ibu masuk rumah sakit. Dia dokter magang yang juga merawat Ibu, dia yang nemenin aku saat aku butuh kamu.” aku menelan ludah, “tapi aku sadar, aku juga salah. Aku nggak bilang sama dia kalo aku udah punya pacar. Jujur Rey, aku benar-benar nganggep dia sebagai sahabat, walaupun aku memang nyaman ada didekatnya” Suaraku sedikit merendah.
“Dan kamu juga nggak nyangka kan kalau aku ada dirumah kamu saat itu?”
Aku meringis, “Ya. Saat itu memang Dimas menjemputku ke Museum, kami pulang sama-sama, dia emang bilang mau ngomongin sesuatu, tapi aku nggak nyangka dia bakalan nyatain perasaannya.” Ucapanku terhenti saat Mbok Min mengantarkan minuman untukku, “aku memang jahat sama kalian berdua Rey. Aku tahu itu. Tapi sedikitpun nggak ada niatan untuk menduakan kamu.” Aku menatapnya, memeluknya, tidak ada penolakan juga tidak ada balasan, “Kamu masa depanku Rey, Dimas masa laluku. Aku udah milih kamu.” kataku. Aku menangis, aku bersungguh-sungguh sayang padanya.
Rey yang membuatku melupakan Dimas, Rey yang membuatku selalu tertawa, Rey yang hanya diam saat aku bercerita, memberikan pelukan hangat saat aku menangis. Dan sejak setahun yang lalu. Rey tidak menjawab apa yang aku katakan, ia berdiri. “Udah malam. Aku antarkan kamu pulang.” Jawabnya. Ia hanya berkata begitu. Itulah Rey, ia mau menerima semua penjelasanku,
“Jawab aku Rey.” Kataku. Ia tetap tidak menjawabnya, dan melangkah masuk kedalam rumahnya.
***
Sudah seminggu sejak kejadian itu, tidak ada kepastian apapun dari Rey. Ia menggantungkan hubungan kami. Aku berusaha menghubunginya, tidak ada jawaban. Saat aku meninggalkan pesan, tidak ada balasan darinya. “Ata…” Ibu memanggil saat aku sedang sibuk di dapur, membuatkan makan siang,
“Ya bu?” jawabku,
“Ada telpon dari adiknya Rey.”
“Syifa?” aku mengambil telepon genggamku, “Ya halo.” Jawabku,
“Mbak Ata?” suara Syifa terdengar panik,
“Iya Syifa. Ada apa?”
“Tiba-tiba Mas Rey memutuskan untuk tinggal di Kalimantan dan nggak mau kembali. Hari ini dia berangkat. Mbak Ata dimana?” aku terkejut, apa Rey akan meninggalkan ku dan akan terus menggantungkan hubungan kami. Seketika aku lemas, terduduk dilantai.
“Aku dirumah.” Jawabku
“Kami on the way ke Bandara. Aku harap Mbak Ata datang, untuk merubah niatnya Mas Rey. Terminal 1B ya Mbak”
“Aku berangkat sekarang.”
Buru-buru aku berangkat, pikiranku panik, aku tidak ingin kehilangan Rey. Aku menghadang Arka yang baru saja sampai, “Antar Kakak ke Bandara.”
***
Saat sampai di Bandara dipikiranku hanyalah berharap dapat menemukan Rey di keadaan sesak seperti sekarang. Aku melihat sosok Syifa yang sedang berdiri bersama Ibunya. Aku berlari ke arahnya, “SYIFA!!” aku berteriak. Syifa membelalakan matanya. Saat dihadapannya, aku mengatur nafasku,
“Mbak Ata?”
“Mana Rey?” tanyaku,
“Mbak Ata nggak ganti baju?” tanya nya yang kemudian menyadarkanku, aku memakai jeans pendek, kaus putih polos dan sandal jepit. Saking kalutnya pikiranku, tidak terpikirkan untuk berganti pakaian. “Mas Rey Check In dulu. Mbak Ata tunggu disini aja.”
“Apa kabar Ata?” Ibu Rey menyapaku,
“Baik Tante. Tante apa kabar?” Ibunya Rey hanya tersenyum. Aku menatap Rey yang keluar lagi. Memeluk mereka Ibu dan adiknya, seakan tidak dapat bertemu lagi. Ia seperti menghiraukan kehadiranku yang berdiri disamping Syifa,
“Rey, Mama sama Syifa pulang duluan ya. Nggak bisa nemenin kamu sampai kamu boarding.” Katanya lembut, “Ata, Tante duluan yah.” Pamit Ibunya yang kemudian memelukku. Lalu meninggalkan aku dan Rey.
“Rey… Jangan pergi…” tidak ada jawaban dari Rey, “Kamu nggak bisa ninggalin aku kayak gini.”
“Ata.. maafin aku yang udah ngegantungin hubungan kita. Selama ini aku berpikir, mungkin kita harus berpisah dulu untuk tau yang namanya kehilangan dan saling meyakinkan diri kita.” Aku terkejut mendengarnya,
“Aku sayang sama kamu Rey…” aku mulai menangis, Rey memelukku,
“Aku juga..” ia mengelus rambutku, “tapi ini yang terbaik buat kita. Aku belum bisa melupakan kejadian kemarin...” tangisku tidak bisa berhenti, “jangan tunggu aku kembali Ta. Jangan pernah mencoba menghubungi aku.”
“Tapi kamu yang terbaik buat aku Rey…”
“Belum tentu Ta...”
“Kalo di saat kamu kembali, aku udah nemuin orang yang lebih baik dari kamu gimana?”
“Ya aku bisa apa? Berarti aku bukan yang terbaik buat kamu. Begitu juga sebaliknya, kalo aku nemuin orang lain-“
“Berarti aku bukan orang yang terbaik buat kamu.” Potongku,
“Tapi kalo di saat aku kembali kamu belum ada yang memiliki. Ijinkan aku kembali dan meminta kamu lagi.”
Rey melepaskan pelukannya, mengecup keningku dengan lembut. “Sampai nanti Matahari…” ia berjalan perlahan, meninggalkanku. Meninggalkan kenangan tiga tahun kami yang tidak mudah dilupakan. Aku akan tunggu kamu Rey, aku akan tunggu kamu kembali.
***
Tidak terasa sudah dua tahun sejak Rey memutuskan untuk pergi. Seperti permintaannya, aku sama sekali tidak menghubunginya apalagi sekedar menanyakan kabarnya pada keluarganya. Aku benar-benar hidup tanpa Rey dua tahun ini, menyebut namanya saja aku jarang. Tapi satu hal yang tidak bisa aku pungkiri, aku merindukannya. Tuhan, jika dia kembali nanti, berikan kami kesempatan yang kedua, pertemukan kami, aku sudah sadar betapa berharganya dia hingga aku ingin segera bertemu dengannya dan tidak akan melepaskannya.
Aku berjalan menyusuri zebra cross, hari ini hujan, aku ditemani payung merahku menuju Kedai Mama tempat aku janjian dengan beberapa teman, tiba-tiba seseorang menarik tanganku, menahanku untuk kembali berjalan, aku ingat wangi parfum ini, genggaman tangan ini, aku berbalik. Wajah itu, wajah yang sudah tidak kulihat dua tahun belakangan ini. Ia berubah, rambutnya gondrong sebahu, badannya sedikit berisi, namun tatapan masih tetap sama. Kemudian ia menarikku ke trotoar. Tak lama kemudian lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Aku menatapnya wajahnya,
“Hai stranger. Apa kabar?” Tanyaku,
“Baik. Apa kabar Matahari?”
“Aku juga baik. Mau kemana?” tanyaku, aku gugup, jantungku berdebar sangat kencang,
“Bertemu seseorang di ujung jalan itu.”
“Baiklah Rey, aku harus duluan karna udah ditunggu.” Aku sebenarnya ingin lebih lama dengannya, dan pikiranku dipenuhi pertanyaan tentang “seseorang” yang akan ia temui. Seseorang? Mungkinkah Rey sudah menemukan seseorang yang lebih baik dari aku, jika iya, syukurlah. Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kami berdua, jika memang begitu, jangan biarkan aku kesedihan yang berkepanjangan.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com