Aku
hanya bisa terpaku. Rey sama sekali tidak memberitahuku akan pulang dalam waktu
dekat ini, aku salah tingkah, tidak tahu harus bagaimana. Rey menghampiriku dan
Dimas,
“Dimas..
kenalkan, dia pacarku. Rey.” Aku menundukkan kepalaku, tidak tahu harus bertindak
bagaimana diantara dua lelaki yang ada didekatku. Lalu Rey pergi begitu saja,
tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya yang sedikit tebal. Dimas menatapku,
menginginkan sebuah jawaban, namun aku pergi mengejar Rey, menahan tangannya,
“Rey.. dengerin aku dulu.” Kataku, ia menepisnya. Aku merasakan amarah yang
tidak dapat dibendung dalam dirinya, kemudian ia pergi tanpa mendengarkanku,
“REY!!” aku berteriak. Tapi ia tidak kembali apalagi sekedar berpaling, Dimas
menghampiriku, “Nggak sekarang Mas, pikiranku kacau. Lebih baik kamu pulang.”
Aku masuk kedalam, meninggalkan Dimas yang berdiri terpaku. Membutuhkan sebuah
jawaban atas kejadian yang terduga.
***
Aku
memutar-mutar cangkir yang berisikan kopi hitam, menunggu Dimas datang.
Menjelaskan yang terjadi kemarin. Kami janjian di kedai kopi sebrang rumah
sakit tempat ia bekerja. Tidak lama kemudian ia datang, duduk dihadapanku, kami
sama-sama terdiam,
“Maafkan
aku Ta..” ia mulai berbicara,
“Bukan
salah kamu.” Jawabku, “Seharusnya aku bilang dari awal kalo aku udah punya pacar.”
“Seharusnya
aku tanya dulu, aku terlalu percaya diri kalo kamu nggak ada yang punya dan
berharap bisa kembali sama kamu.”
Katanya, membuatku semakin merasa bersalah,
“Ini
salah aku Mas, aku nggak bisa membaca niat kamu, dan tetap menganggap kalo
selama ini kita sahabatan.” Jawabku, ia berdiri, aku menatapnya, menatap orang
yang sempat membuat jantungku berdebar dan nyaman ada didekatnya. Ia
mengulurkan tangannya, aku menatapnya bingung, aku berdiri, ia menarik tanganku
untuk bersalaman dengannya,
“Sejak
hari ini, kita bersahabat Ta..” ia tersenyum, senyuman kesukaannku. Aku
membalasnya dengan senyuman, “Jelaskan sama pacar kamu, kalo aku cuma masa
lalumu.” Kemudian ia pergi meninggalkan aku sendiri.
“Terimakasih
Dimas..” Ucapku sambil menatap punggungnya yang pergi meninggalkanku.
***
“Mari
masuk Mbak Ata, mas Rey nya sedang di taman belakang.” Kata Mbok Min, pembantu
di rumah Rey sejak ia masih kecil. Aku masuk ke dalam rumah yang cukup besar,
yang ditinggali enam orang. Aku berdiri diambang pintu, menatap punggung Rey
yang sedang duduk di kursi panjang dekat taman yang Ibu nya buat, mengatur
bicaraku, mempersiapkan diri, dan mempertanggung jawabkan yang telah terjadi
juga berharap Rey sudah sedikit lebih tenang. Aku berjalan menghampirinya.
Menggenggam pundaknya yang lebar dan kuat, tidak ada respon, aku duduk
disebelahnya,
“Hai
stranger…” kataku, Rey tidak
menjawab, “Sungguh sebuah kejutan kamu datang kerumah tadi malam.”
“Sebuah
kejutan juga untukku.” Jawabnya, “Jelasin sama aku Ta, biar aku bisa meyakinkan
diri aku kalo kamu bukan perempuan jahat.” Kata-katanya menusukku, membuatku
sakit, ‘perempuan jahat’, mungkin sebutan itu pantas ia berikan untukku,
“Dimas,
dia mantan pacarku.-”
“Aku
tau.” Rey memotong pembicaraanku, “aku cuma ingin tau sejak kapan kalian
dekat?” tanyanya,
“Sejak
Ibu masuk rumah sakit. Dia dokter magang yang juga merawat Ibu, dia yang nemenin
aku saat aku butuh kamu.” aku menelan ludah, “tapi aku sadar, aku juga salah.
Aku nggak bilang sama dia kalo aku udah punya pacar. Jujur Rey, aku benar-benar
nganggep dia sebagai sahabat, walaupun aku memang nyaman ada didekatnya”
Suaraku sedikit merendah.
“Dan
kamu juga nggak nyangka kan kalau aku ada dirumah kamu saat itu?”
Aku
meringis, “Ya. Saat itu memang Dimas menjemputku ke Museum, kami pulang sama-sama,
dia emang bilang mau ngomongin sesuatu, tapi aku nggak nyangka dia bakalan nyatain
perasaannya.” Ucapanku terhenti saat Mbok Min mengantarkan minuman untukku,
“aku memang jahat sama kalian berdua Rey. Aku tahu itu. Tapi sedikitpun nggak
ada niatan untuk menduakan kamu.” Aku menatapnya, memeluknya, tidak ada penolakan
juga tidak ada balasan, “Kamu masa depanku Rey, Dimas masa laluku. Aku udah milih
kamu.” kataku. Aku menangis, aku bersungguh-sungguh sayang padanya.
Rey
yang membuatku melupakan Dimas, Rey yang membuatku selalu tertawa, Rey yang
hanya diam saat aku bercerita, memberikan pelukan hangat saat aku menangis. Dan
sejak setahun yang lalu. Rey tidak menjawab apa yang aku katakan, ia berdiri. “Udah
malam. Aku antarkan kamu pulang.” Jawabnya. Ia hanya berkata begitu. Itulah
Rey, ia mau menerima semua penjelasanku,
“Jawab
aku Rey.” Kataku. Ia tetap tidak menjawabnya, dan melangkah masuk kedalam
rumahnya.
***
Sudah
seminggu sejak kejadian itu, tidak ada kepastian apapun dari Rey. Ia
menggantungkan hubungan kami. Aku berusaha menghubunginya, tidak ada jawaban.
Saat aku meninggalkan pesan, tidak ada balasan darinya. “Ata…” Ibu memanggil
saat aku sedang sibuk di dapur, membuatkan makan siang,
“Ya
bu?” jawabku,
“Ada
telpon dari adiknya Rey.”
“Syifa?”
aku mengambil telepon genggamku, “Ya halo.” Jawabku,
“Mbak
Ata?” suara Syifa terdengar panik,
“Iya
Syifa. Ada apa?”
“Tiba-tiba
Mas Rey memutuskan untuk tinggal di Kalimantan dan nggak mau kembali. Hari ini
dia berangkat. Mbak Ata dimana?” aku terkejut, apa Rey akan meninggalkan ku dan
akan terus menggantungkan hubungan kami. Seketika aku lemas, terduduk dilantai.
“Aku
dirumah.” Jawabku
“Kami
on the way ke Bandara. Aku harap Mbak
Ata datang, untuk merubah niatnya Mas Rey. Terminal 1B ya Mbak”
“Aku
berangkat sekarang.”
Buru-buru
aku berangkat, pikiranku panik, aku tidak ingin kehilangan Rey. Aku menghadang
Arka yang baru saja sampai, “Antar Kakak ke Bandara.”
***
Saat
sampai di Bandara dipikiranku hanyalah berharap dapat menemukan Rey di keadaan
sesak seperti sekarang. Aku melihat sosok Syifa yang sedang berdiri bersama
Ibunya. Aku berlari ke arahnya, “SYIFA!!” aku berteriak. Syifa membelalakan
matanya. Saat dihadapannya, aku mengatur nafasku,
“Mbak
Ata?”
“Mana
Rey?” tanyaku,
“Mbak
Ata nggak ganti baju?” tanya nya yang kemudian menyadarkanku, aku memakai jeans
pendek, kaus putih polos dan sandal jepit. Saking kalutnya pikiranku, tidak terpikirkan
untuk berganti pakaian. “Mas Rey Check In
dulu. Mbak Ata tunggu disini aja.”
“Apa
kabar Ata?” Ibu Rey menyapaku,
“Baik
Tante. Tante apa kabar?” Ibunya Rey hanya tersenyum. Aku menatap Rey yang
keluar lagi. Memeluk mereka Ibu dan adiknya, seakan tidak dapat bertemu lagi.
Ia seperti menghiraukan kehadiranku yang berdiri disamping Syifa,
“Rey,
Mama sama Syifa pulang duluan ya. Nggak bisa nemenin kamu sampai kamu boarding.” Katanya lembut, “Ata, Tante
duluan yah.” Pamit Ibunya yang kemudian memelukku. Lalu meninggalkan aku dan
Rey.
“Rey…
Jangan pergi…” tidak ada jawaban dari Rey, “Kamu nggak bisa ninggalin aku kayak
gini.”
“Ata..
maafin aku yang udah ngegantungin hubungan kita. Selama ini aku berpikir,
mungkin kita harus berpisah dulu untuk tau yang namanya kehilangan dan saling meyakinkan
diri kita.” Aku terkejut mendengarnya,
“Aku
sayang sama kamu Rey…” aku mulai menangis, Rey memelukku,
“Aku
juga..” ia mengelus rambutku, “tapi ini yang terbaik buat kita. Aku belum bisa
melupakan kejadian kemarin...” tangisku tidak bisa berhenti, “jangan tunggu aku
kembali Ta. Jangan pernah mencoba menghubungi aku.”
“Tapi
kamu yang terbaik buat aku Rey…”
“Belum
tentu Ta...”
“Kalo
di saat kamu kembali, aku udah nemuin orang yang lebih baik dari kamu gimana?”
“Ya
aku bisa apa? Berarti aku bukan yang terbaik buat kamu. Begitu juga sebaliknya,
kalo aku nemuin orang lain-“
“Berarti
aku bukan orang yang terbaik buat kamu.” Potongku,
“Tapi
kalo di saat aku kembali kamu belum ada yang memiliki. Ijinkan aku kembali dan
meminta kamu lagi.”
Rey
melepaskan pelukannya, mengecup keningku dengan lembut. “Sampai nanti Matahari…”
ia berjalan perlahan, meninggalkanku. Meninggalkan kenangan tiga tahun kami
yang tidak mudah dilupakan. Aku akan tunggu kamu Rey, aku akan tunggu kamu
kembali.
***
Tidak
terasa sudah dua tahun sejak Rey memutuskan untuk pergi. Seperti permintaannya,
aku sama sekali tidak menghubunginya apalagi sekedar menanyakan kabarnya pada
keluarganya. Aku benar-benar hidup tanpa Rey dua tahun ini, menyebut namanya
saja aku jarang. Tapi satu hal yang tidak bisa aku pungkiri, aku merindukannya.
Tuhan, jika dia kembali nanti, berikan kami kesempatan yang kedua, pertemukan
kami, aku sudah sadar betapa berharganya dia hingga aku ingin segera bertemu
dengannya dan tidak akan melepaskannya.
Aku
berjalan menyusuri zebra cross, hari
ini hujan, aku ditemani payung merahku menuju Kedai Mama tempat aku janjian
dengan beberapa teman, tiba-tiba seseorang menarik tanganku, menahanku untuk
kembali berjalan, aku ingat wangi parfum ini, genggaman tangan ini, aku
berbalik. Wajah itu, wajah yang sudah tidak kulihat dua tahun belakangan ini. Ia
berubah, rambutnya gondrong sebahu, badannya sedikit berisi, namun tatapan masih
tetap sama. Kemudian ia menarikku ke trotoar. Tak lama kemudian lampu lalu
lintas berubah warna menjadi hijau. Aku menatapnya wajahnya,
“Hai
stranger. Apa kabar?” Tanyaku,
“Baik.
Apa kabar Matahari?”
“Aku
juga baik. Mau kemana?” tanyaku, aku gugup, jantungku berdebar sangat kencang,
“Bertemu
seseorang di ujung jalan itu.”
“Baiklah
Rey, aku harus duluan karna udah ditunggu.” Aku sebenarnya ingin lebih lama
dengannya, dan pikiranku dipenuhi pertanyaan tentang “seseorang” yang akan ia
temui. Seseorang? Mungkinkah Rey sudah menemukan seseorang yang lebih baik dari
aku, jika iya, syukurlah. Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kami berdua,
jika memang begitu, jangan biarkan aku kesedihan yang berkepanjangan.***

0 komentar:
Posting Komentar