Rabu, 04 Maret 2015

Reverse #3

0

Aku berlari menuju ruangan Ibu, sudah ada dr. Jun, beberapa perawat dan Dimas. Aku menatap Ibu nanar, tadi saat aku tinggalkan Ibu, ia baik-baik saja malah memberikan senyumannya yang cantik, “IBU…!!” Aku berteriak memanggilnya, histeris, takut terjadi apa-apa padanya, Dimas menarikku keluar,
“Aku mau ketemu Ibu, Dimas.” Aku kalap, Dimas menghadang jalanku,
“Nggak sekarang Ata!” Aku berusaha keras untuk masuk, Dimas memelukku, menahanku agar tidak masuk lagi dan berteriak seperti tadi, aku hanya menangis dalam pelukannya. Dan berharap bahwa Ibu akan baik-baik saja.
Tidak lama kemudian dokter keluar bersama dengan perawat-perawatnya, aku langsung masuk untuk melihat Ibu. Dipasangkan oksigen untuk membantunya bernafas, dan juga infusnya bertambah satu. Bang Anda menyuruhku untuk duduk di sofa bersama Arka yang baru saja datang dengan kepanikannya,
“Kalian duduk. Dimas maaf, bisa tinggalkan kami bertiga?” Dimas lalu keluar ruangan,
“Bang.” wajah Bang Anda seperti beberapa hari yang lalu,
“Dokter salah prediksi, ada komplikasi.” Aku menangis lagi
“Komplikasi?” tanya Arka mengulang apa yang dikatakan Bang Anda
“Jantung koroner.” Bang Anda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mengusapnya kasar, lalu keluar.
***
Aku terduduk di taman Rumah Sakit, masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar, Dimas duduk disebelahku, tidak berkata apapun, aku menatapnya dengan mata sembab,
“Komplikasi…” Kataku, “Penyakit jantung koroner. Gimana bisa Mas?”
“Komplikasi penyakit bagi pasien yang mengidap darah tinggi itu mungkin terjadi Ta.” Jawab Dimas dengan tenangnya, selayaknya seorang dokter “ Jantung koroner itu karena akibat dari terjadinya pengapuran yang terjadi pada dinding pembuluh darah jantung. Penyempitan yang terjadi pada lubang pembuluh darah jantung biasanya menyebabkan masalah berkurangnya suatu aliran darah pada beberapa bagian otot jantung.” Dimas menghela nafas, “Sepertinya Ibu mu pingsan karena merasakan rasa nyeri yang sakit di dada. Dimana bisa berakibat gangguan pada masalah otot jantung, bahkan juga bisa menyebabkan timbulnya masalah serangan jantung.”
“Pengobatannya?”
“Untung saja Ibu mu masih dalam tahap ringan dan dokter tahu lebih awal, jadi dengan obat-obatan dapat membantu untuk mengencerkan darah supaya aliran darah nggak terganggu dengan adanya penyempitan pembuluh darah.”
Dimas mengelus punggungku, memberikan sedikit ketenangan. Caranya berhasil, aku sedikit tenang setelah mendengar penjelasan yang ia berikan, untung saja komplikasinya belum separah itu. Dimas beranjak, menarik tanganku, dan kami masuk ke cafetaria, “Satu teh manis hangat yah.” Katanya, lalu menarikku duduk, “Kamu harus minum sedikit teh untuk menenangkan pikiran kamu.”
***
Dua hari kemudian Ibu dibolehkan pulang, aku membantunya membereskan baju-baju, kemudian dr. Jun masuk bersama Dimas dan satu perawat, ia tersenyum padaku dan Ibu,
“Selamat ya Bu Ranti sudah bisa pulang.” Kata dr. Jun
“Terimkasih, Dok. Ini semua juga berkat dokter.”
“Ingat yah bu, sebulan sekali kontrol, jangan lupa minum obat dan jaga pola makan juga makanannya. Satu lagi, tidak boleh terlalu capek.”
“Duh gimana ya dok, saya ini orangnya pecicilan, nggak bisa diem.”
Dr. Jun tertawa, “Ibu boleh bergerak, boleh mengerjakan urusan rumah, tapi tidak boleh terlalu capek. Itu saja.”
“Baik, Dok, akan saya laksanakan agar tidak masuk ke rumah sakit lagi.” Ibu tersenyum. Kemudian pamit undur diri, kami berjalan ke parkiran mobil, diikuti Dimas,
“Terimakasih yah Dimas, sudah merawat Tante.” Kata Ibu sebelum masuk ke dalam mobil,
“Sama-sama, sehat terus yah tante.” Ibu mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Aku pun melajukannya menuju rumah.
***
Sejak itu, Dimas sering datang ke rumah bahkan kami juga suka main bersama. Jujur, aku tidak berpikir macam-macam atas hubungan kami. Aku senang kami jadi dekat lagi, tapi aku menganggapnya sebagai teman dan juga sahabat baruku. Aku nyaman dekat dengannya, karena memang sejak dulu dia memang selalu bisa membuatku nyaman.
Aku duduk di teras sambil meminum secangkir teh manis hangat ditemani roti selai coklat dan juga hujan yang menyisakan gerimis, hingga ibu duduk disebelahku, yang juga membawa secangkir teh hangat, “Gulanya berapa sendok bu?” Cerewetku pada Ibu
“Pakai gula non kalori kok Ta.” Jawab Ibu, kami berdua sama-sama diam. Menikmati dinginnya udara sehabis hujan, “Enak ya Ta. Coba Jakarta setiap hari udaranya kaya gini,” kata Ibu,
“Iya ya bu. Nggak perlu AC jadi listrik nggak akan mahal tiap bulannya.”
Euh kamu mah emang dasar itungan.”
“Bercanda bu.” Jawabku singkat,
“Ta…”
“Hmm?”
“Dimas udah tau kamu udah punya pacar?” aku menggeleng, “nggak kamu kasih tahu?”
“Dimas nggak nanya, ya aku juga nggak pernah cerita.”
“Kenapa harus nunggu Dimas nanya?” tanya Ibu lagi,
“Ya masa tiba-tiba cerita, Bu. Absurd banget.”
“Nanti Dimas salah paham loh.” Jawab Ibu,
“Kenapa harus salah paham? Toh aku nganggep dia hanya sekedar sahabatku sekarang.”
“Ya itu anggapan kamu, belum tentu Dimas menganggap seperti yang kamu anggap.” Jawab Ibu. “Sebaiknya jangan membuat benang yang tadinya tidak kusut menjadi kusut, nanti akan sulit diluruskannya lagi.” Kemudian Ibu masuk ke dalam. Aku jadi memikirkan hal yang tadinya tidak kupikirkan begitu serius, benar kata Ibu. Bagaimana kalau Dimas beranggapan lain atas kembalinya kedekatan kami.
***
Aku dan Dimas menyantap Sate Padang di pinggir jalan, Dimas menjemputku di museum, dia bilang akan membicarakan sesuatu padaku. “Ta…” ia memanggilku, membuatku berpaling padanya, jarinya mengusap pipiku. Aku terkjut, refleks menjauhkan tubuhku darinya, “Maaf. Ada bumbu sate di pipi kamu soalnya.” aku mengusap pipiku, berharap tidak ada sisa bumbu agar Dimas tidak mengulang kejadian tadi, “Kayaknya pipi kamu yang gembil itu juga lapar.” Katanya, aku tertawa.
“Pernah kebayang nggak sih Mas kalau kita hidup berdampingan sama binatang purba?” tanyaku padanya tiba-tiba, sengaja untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Nggak.” Jawabnya sambil menyantap sate padangnya, “Sekarang gini, Tuhan sengaja membuat hujan meteor dan membuat binatang purba menjadi punah, itu jalan yang dikasih Tuhan bahwa binatang purba dan manusia itu nggak bisa hidup berdampingan.”
“Bener banget. Baca nggak artikel tentang ada ilmuwan yang mau ngehidupin mammoth?” Dimas mengangguk, “Aku nggak setuju dengan apa yang mereka lakukan, kita hidup dijaman yang berbeda, ekosistemnya udah beda, apa nggak akan berdampak buruk nantinya. Lagipula emang menurut kamu mereka punah karna hujan meteor?”
“Jadi kaya film Jurassic Park ya?” kata Dimas yang tidak menjawab pertanyaanku padanya, “Itu kan ngingetin kita kalo, jaman kita sama jamannya dinosaurus udah beda. Udah nggak bisa lagi disatuin.” Jawab Dimas, yang dijawab dengan anggukanku, menghabiskan tusukan terakhir.
Kami menyelesaikan makan malam kami, dan akan menyebrang jalan, karna motor yang dikendarai Dimas berada di sebrang, Dimas menggenggam tanganku, jantungku yang mulai tidak berdebar saat menghabiskan waktu bersamanya, kini kembali berdebar seperti saat aku hanya mendengar namanya.
***
Dimas mengantarkanku hingga di teras Rumah. Aku merasakan tangan Dimas mencoba mraih tanganku, namun aku menolaknya. Tapi sebagai gantinya ia menatapku tepat kedua mataku, perasaan gugup menghampiriku dengan tiba-tiba,
“Ta..”
“Hmm?” jawabku, mengedarkan pandanganku kemana pun, yang penting tidak ke matanya.
“Pernah mikir nggak, kalau kita juga di kasih jalan sama Tuhan buat ketemu lagi?” tanya Dimas, aku tahu arah pembicaraan ini akan kemana,
“Mas…” Berniat untuk memberinya penjelasan agar tidak ada pembicaraan lebih jauh dan membuatnya tidak salah duga atas apa yang telah terjadi.
“Dengarkan aku dulu.” Sayangnya Dimas memotong pembicaraanku, menolak untuk mendengarkan “Aku memang bodoh pernah meninggalkan kamu demi obsesi impianku, dan aku nggak pengin menjadi bodoh lagi karna nggak memakai kesempatan kedua yang Tuhan berikan untuk memiliki kamu lagi.” Aku membelalak, benar kan, benar apa sedang kupikirkan, “Kamu mau kembali sama aku?” nafasku tidak stabil.
“Ata..” aku terkejut saat mendengar suara yang kukenal datang dari dalam rumah.

“Rey?”***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com