Aku
berlari menuju ruangan Ibu, sudah ada dr. Jun, beberapa perawat dan Dimas. Aku
menatap Ibu nanar, tadi saat aku tinggalkan Ibu, ia baik-baik saja malah
memberikan senyumannya yang cantik, “IBU…!!” Aku berteriak memanggilnya,
histeris, takut terjadi apa-apa padanya, Dimas menarikku keluar,
“Aku
mau ketemu Ibu, Dimas.” Aku kalap, Dimas menghadang jalanku,
“Nggak
sekarang Ata!” Aku berusaha keras untuk masuk, Dimas memelukku, menahanku agar
tidak masuk lagi dan berteriak seperti tadi, aku hanya menangis dalam
pelukannya. Dan berharap bahwa Ibu akan baik-baik saja.
Tidak
lama kemudian dokter keluar bersama dengan perawat-perawatnya, aku langsung
masuk untuk melihat Ibu. Dipasangkan oksigen untuk membantunya bernafas, dan
juga infusnya bertambah satu. Bang Anda menyuruhku untuk duduk di sofa bersama
Arka yang baru saja datang dengan kepanikannya,
“Kalian
duduk. Dimas maaf, bisa tinggalkan kami bertiga?” Dimas lalu keluar ruangan,
“Bang.”
wajah Bang Anda seperti beberapa hari yang lalu,
“Dokter
salah prediksi, ada komplikasi.” Aku menangis lagi
“Komplikasi?”
tanya Arka mengulang apa yang dikatakan Bang Anda
“Jantung
koroner.” Bang Anda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya,
mengusapnya kasar, lalu keluar.
***
Aku
terduduk di taman Rumah Sakit, masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar,
Dimas duduk disebelahku, tidak berkata apapun, aku menatapnya dengan mata
sembab,
“Komplikasi…”
Kataku, “Penyakit jantung koroner. Gimana bisa Mas?”
“Komplikasi
penyakit bagi pasien yang mengidap darah tinggi itu mungkin terjadi Ta.” Jawab
Dimas dengan tenangnya, selayaknya seorang dokter “ Jantung koroner itu karena
akibat dari terjadinya pengapuran yang terjadi pada dinding pembuluh darah
jantung. Penyempitan yang terjadi pada lubang pembuluh darah jantung biasanya menyebabkan
masalah berkurangnya suatu aliran darah pada beberapa bagian otot jantung.”
Dimas menghela nafas, “Sepertinya Ibu mu pingsan karena merasakan rasa nyeri
yang sakit di dada. Dimana bisa berakibat gangguan pada masalah otot jantung,
bahkan juga bisa menyebabkan timbulnya masalah serangan jantung.”
“Pengobatannya?”
“Untung
saja Ibu mu masih dalam tahap ringan dan dokter tahu lebih awal, jadi dengan
obat-obatan dapat membantu untuk mengencerkan darah supaya aliran darah nggak
terganggu dengan adanya penyempitan pembuluh darah.”
Dimas
mengelus punggungku, memberikan sedikit ketenangan. Caranya berhasil, aku
sedikit tenang setelah mendengar penjelasan yang ia berikan, untung saja
komplikasinya belum separah itu. Dimas beranjak, menarik tanganku, dan kami
masuk ke cafetaria, “Satu teh manis hangat yah.” Katanya, lalu menarikku duduk,
“Kamu harus minum sedikit teh untuk menenangkan pikiran kamu.”
***
Dua
hari kemudian Ibu dibolehkan pulang, aku membantunya membereskan baju-baju,
kemudian dr. Jun masuk bersama Dimas dan satu perawat, ia tersenyum padaku dan
Ibu,
“Selamat
ya Bu Ranti sudah bisa pulang.” Kata dr. Jun
“Terimkasih,
Dok. Ini semua juga berkat dokter.”
“Ingat
yah bu, sebulan sekali kontrol, jangan lupa minum obat dan jaga pola makan juga
makanannya. Satu lagi, tidak boleh terlalu capek.”
“Duh
gimana ya dok, saya ini orangnya pecicilan, nggak bisa diem.”
Dr.
Jun tertawa, “Ibu boleh bergerak, boleh mengerjakan urusan rumah, tapi tidak
boleh terlalu capek. Itu saja.”
“Baik,
Dok, akan saya laksanakan agar tidak masuk ke rumah sakit lagi.” Ibu tersenyum.
Kemudian pamit undur diri, kami berjalan ke parkiran mobil, diikuti Dimas,
“Terimakasih
yah Dimas, sudah merawat Tante.” Kata Ibu sebelum masuk ke dalam mobil,
“Sama-sama,
sehat terus yah tante.” Ibu mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Aku pun
melajukannya menuju rumah.
***
Sejak
itu, Dimas sering datang ke rumah bahkan kami juga suka main bersama. Jujur,
aku tidak berpikir macam-macam atas hubungan kami. Aku senang kami jadi dekat
lagi, tapi aku menganggapnya sebagai teman dan juga sahabat baruku. Aku nyaman
dekat dengannya, karena memang sejak dulu dia memang selalu bisa membuatku
nyaman.
Aku
duduk di teras sambil meminum secangkir teh manis hangat ditemani roti selai
coklat dan juga hujan yang menyisakan gerimis, hingga ibu duduk disebelahku,
yang juga membawa secangkir teh hangat, “Gulanya berapa sendok bu?” Cerewetku
pada Ibu
“Pakai
gula non kalori kok Ta.” Jawab Ibu, kami berdua sama-sama diam. Menikmati
dinginnya udara sehabis hujan, “Enak ya Ta. Coba Jakarta setiap hari udaranya
kaya gini,” kata Ibu,
“Iya
ya bu. Nggak perlu AC jadi listrik nggak akan mahal tiap bulannya.”
“Euh kamu mah emang dasar itungan.”
“Bercanda
bu.” Jawabku singkat,
“Ta…”
“Hmm?”
“Dimas
udah tau kamu udah punya pacar?” aku menggeleng, “nggak kamu kasih tahu?”
“Dimas
nggak nanya, ya aku juga nggak pernah cerita.”
“Kenapa
harus nunggu Dimas nanya?” tanya Ibu lagi,
“Ya
masa tiba-tiba cerita, Bu. Absurd banget.”
“Nanti
Dimas salah paham loh.” Jawab Ibu,
“Kenapa
harus salah paham? Toh aku nganggep dia hanya sekedar sahabatku sekarang.”
“Ya
itu anggapan kamu, belum tentu Dimas menganggap seperti yang kamu anggap.”
Jawab Ibu. “Sebaiknya jangan membuat benang yang tadinya tidak kusut menjadi
kusut, nanti akan sulit diluruskannya lagi.” Kemudian Ibu masuk ke dalam. Aku
jadi memikirkan hal yang tadinya tidak kupikirkan begitu serius, benar kata
Ibu. Bagaimana kalau Dimas beranggapan lain atas kembalinya kedekatan kami.
***
Aku
dan Dimas menyantap Sate Padang di pinggir jalan, Dimas menjemputku di museum,
dia bilang akan membicarakan sesuatu padaku. “Ta…” ia memanggilku, membuatku
berpaling padanya, jarinya mengusap pipiku. Aku terkjut, refleks menjauhkan
tubuhku darinya, “Maaf. Ada bumbu sate di pipi kamu soalnya.” aku mengusap
pipiku, berharap tidak ada sisa bumbu agar Dimas tidak mengulang kejadian tadi,
“Kayaknya pipi kamu yang gembil itu juga lapar.” Katanya, aku tertawa.
“Pernah
kebayang nggak sih Mas kalau kita hidup berdampingan sama binatang purba?”
tanyaku padanya tiba-tiba, sengaja untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Nggak.”
Jawabnya sambil menyantap sate padangnya, “Sekarang gini, Tuhan sengaja membuat
hujan meteor dan membuat binatang purba menjadi punah, itu jalan yang dikasih
Tuhan bahwa binatang purba dan manusia itu nggak bisa hidup berdampingan.”
“Bener
banget. Baca nggak artikel tentang ada ilmuwan yang mau ngehidupin mammoth?”
Dimas mengangguk, “Aku nggak setuju dengan apa yang mereka lakukan, kita hidup
dijaman yang berbeda, ekosistemnya udah beda, apa nggak akan berdampak buruk
nantinya. Lagipula emang menurut kamu mereka punah karna hujan meteor?”
“Jadi
kaya film Jurassic Park ya?” kata
Dimas yang tidak menjawab pertanyaanku padanya, “Itu kan ngingetin kita kalo,
jaman kita sama jamannya dinosaurus udah beda. Udah nggak bisa lagi disatuin.”
Jawab Dimas, yang dijawab dengan anggukanku, menghabiskan tusukan terakhir.
Kami
menyelesaikan makan malam kami, dan akan menyebrang jalan, karna motor yang
dikendarai Dimas berada di sebrang, Dimas menggenggam tanganku, jantungku yang
mulai tidak berdebar saat menghabiskan waktu bersamanya, kini kembali berdebar
seperti saat aku hanya mendengar namanya.
***
Dimas
mengantarkanku hingga di teras Rumah. Aku merasakan tangan Dimas mencoba mraih
tanganku, namun aku menolaknya. Tapi sebagai gantinya ia menatapku tepat kedua
mataku, perasaan gugup menghampiriku dengan tiba-tiba,
“Ta..”
“Hmm?”
jawabku, mengedarkan pandanganku kemana pun, yang penting tidak ke matanya.
“Pernah
mikir nggak, kalau kita juga di kasih jalan sama Tuhan buat ketemu lagi?” tanya
Dimas, aku tahu arah pembicaraan ini akan kemana,
“Mas…”
Berniat untuk memberinya penjelasan agar tidak ada pembicaraan lebih jauh dan
membuatnya tidak salah duga atas apa yang telah terjadi.
“Dengarkan
aku dulu.” Sayangnya Dimas memotong pembicaraanku, menolak untuk mendengarkan “Aku
memang bodoh pernah meninggalkan kamu demi obsesi impianku, dan aku nggak pengin
menjadi bodoh lagi karna nggak memakai kesempatan kedua yang Tuhan berikan
untuk memiliki kamu lagi.” Aku membelalak, benar kan, benar apa sedang
kupikirkan, “Kamu mau kembali sama aku?” nafasku tidak stabil.
“Ata..”
aku terkejut saat mendengar suara yang kukenal datang dari dalam rumah.
“Rey?”***

0 komentar:
Posting Komentar