Saat aku tiba dirumah, kulihat sebuah
mobil Outlander hitam terparkir dengan rapi didepan rumahku. Aku menaik nafas
panjang sebagai persiapanku menghadapi hari yang ternyata belum berakhir.
Mempersiapkan mentalku atas kunjungan dari pemilik mobil itu. Gumaman suara
wanita dan tawa pria menggema didinding-dinding rumahku. Kunjungan hari ini
sepertinya tidak akan terlalu buruk, harapku.
“Lika. Apa kabar, sayang?” Suara seorang
pria paruh baya menggelegar. Pria lain yang harus kuberi gelar ‘Ayah’ meski dirinya
tak memiliki kontribusi apapun atas kelahiranku di dunia ini. Pria itu
menghampiri dan memelukku.
“Baik, Yah. Ayah sama Ibu gimana?”
Tanyaku santun.
“Baik juga kok. Ibu sama Mama kamu lagi
didapur, nak.”
“Kalau gitu, Lika ke dapur dulu ya.”
Suranya masih dipenuhi ekspresi tawa. Apa yang membuatnya begitu bahagia?
Percakapanku dengan kedua wanita yang
kusegani ini berjalan hampir serupa, hanya saja mereka lebih teliti dan
mengenali raut wajahku yang tak terlalu antusias atas kedatangan mereka. “Kamu
kenapa, nak? Kok mukanya nekuk gitu?” wanita yang sudah sangat berjasa untuk
melahirkanku menyentuh daguku.
“Nggak apa-apa, Ma. Cuma capek aja.
Terus tadi juga waktu Dimas telepon agak ribut dikit.” aku tak berbohong. Hanya
meninggalkan detail-nya.
“Tapi nggak sampai gimana banget kan
ributnya?” tanyanya kemudian yang hanya kujawab gelengan dengan semanis
senyuman tulusku.
Suara menggelegar memanggil kami para
wanita untuk berkumpul diruang tengah. Aku berjalan didampingi oleh kedua
wanita cantik. Hampir sama seperti dulu kala. Memoir rapuhku kembali namun
masih dengan embun yang menyelimutinya. Perbedaan hari itu dan kini hanya ada
padaku, pada usiaku.
“Lika, kamu masih simpan visa kamu kan?”
Tanya Papa dengan seulas senyum menghiasi wajahnya. “Ada di Mama, Pa.” Jawabku
polos.
“Kamu ikut sama kami ya, Lika.” Ayah
yang kini berbicara, tatapan kosongku menjawab pertanyaannya. “Dimas kan
sekitar 3 bulan lagi lulus, Ayah sama Ibu mau stay disana untuk 2 minggu kedepan.” Tatapan Ayah mengedar
keseluruh manusia yang ada diruangan ini. “Ayah sama Ibu ingin kamu dampingi
Dimas disana.” Wajahku tak beriak, namun jantungku rasanya berhenti berdetak
meski pada nyatanya telingaku dapat mendengar betapa keras ia bekerja memompa
darahku.
“Kuliah Lika gimana?”
“Mama sama Papa yang akan cutikan kamu,
nak.” Mama menjawab dengan ringan, seolah pendidikan tak lagi hal utama.
“Papa tahu kamu ingin selesaikan
kuliahmu…” Papa memotong pembicaraanya, “…tapi bagaimanapun Lika, Dimas itu
suami kamu, dan kamu harus menjalankan tugasmu sebagai seorang istri.”
Lagi-lagi kalimat itu. Meski otakku menolak, hati dan ragaku tahu pasti tugas
yang sudah 2 tahun lebih kuabaikan.
“Lika nggak pernah ‘mengabaikan’ tugas
Lika sebagai istri. Kalian yang maksa Lika buat berhenti menjadi seorang istri
yang baik.” Aku sengaja menekankan kata ‘mengabaikan’. Aku muak mereka selalu
menggunakan senjata itu sebagai alat untuk menyerangku. “Tapi okay… Lika ikut
Ibu sama Ayah.” Aku menatap mereka tepat dimata. “Tapi Lika tetap mau kuliah!”
“Jadi kamu mau kuliah disana? Sama
Dimas?” Tanya Papa seolah ia baru sadar bahwa putrinya sangat mungkin untuk
tidak kembali menetap ditanah ini.
“Dimana aja Pa, yang penting lulus
kuliah. Lika pengin punya gelar. Pengin kerja.”
“Tapi nak, kampus kamu memangnya bisa kirim
rujukan?” Kini Mama merajuk dan hanya aku acuhkan.
“Kamu bisa mulai dari awal disana, Lika.
Kamu ngerti kan, dulu Ayah nggak
izinkan kamu ikut sama Dimas karena Ayah pengin Dimas bisa support kamu lahir batin.” Ayah… alasanmu itu mengapa terdengar sangat
rancu ditelingaku?
“Lika ngerti, Yah. Yang nggak bisa Lika
ngerti, kenapa Lika sama Dimas harus dinikah gantung dari kecil? Kenapa nggak nunggu
kami dewasa agar kami bisa saling support
dan nggak jadi beban kalian?” Aku tidak berteriak, tapi mereka bisa mendengar
rasa kecewa dalam nadaku.
“Kami hanya ingin memastikan kalian akan
terus bersama tanpa ada gangguan dari orang lain. Kami hanya ingin pastikan
itu, nak..” Ibu berbicara saat yang lain hanya terdiam dengan air muka yang
memucat.
“Apa kalian benar-benar yakin dengan
keputusan kalian sekarang? Apa ini hasil yang kalian inginkan?” Aku menatap
mereka dengan lekat. “Apa dengan menikahkan kami saat kami masih balita bisa
mencegah itu semua? Saat Lika dimarahin Mama dan Papa karena Lika dekat dengan
teman laki-laki dikelas 5 SD? Masa SMP dan SMA Lika nggak bisa Lika nikmatin
karena status Lika yang sudah menikah sama Dimas, terus lulus SMA kalian
bolehin kita tinggal satu rumah hanya untuk tiga bulan. Kalian membebaskan kami
untuk melakukan seluruh kewajiban sebagai suami istri. Kami lagi bahagia, Ma..
Pa.. lalu Ayah sama Ibu datang dan bilang bahwa Dimas harus kuliah diluar! Lika
nggak boleh ikut dan harus tetap kuliah disini!” Suaraku meninggi setiap aku
menekankan seluruh kesakitanku. “Kalian pisahin Lika dari Dimas saat kami mulai
kehidupan kami! Saat kami mulai bergantung satu sama lain! Saat kami mulai
menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya!” Nadaku sudah berada dipuncak.
Meneriakan segala frustasiku terhadap mereka yang kuanggap pantas menerima
ledakan ini. Kutatap mereka satu persatu. Tak ada satupun dari mereka yang
berujar.
Aku menghembuskan nafasku dengan keras,
“Sudahlah.. kapan kita berangkat?” tanyaku muram.
“Besok jam 9 kamu ikut kita untuk
ngurusin semuanya.” Akhirnya Ayah yang pertama menemukan pita suaranya kembali.
“Baiklah. Lika nggak bisa nolak juga, kan?”
aku berdiri meninggalkan mereka tanpa menunggu jawaban. Kulihat kamarku sudah
rapi dan bersih. Mama pasti menyelesaikan tugas itu untuk meringankanku. Empat koper
sudah berjejer rapi didekat pintu kamarku. Kubuka lemari pakaianku dan hanya
menemukan beberapa potong pakaian untuk kugunakan malam ini dan besok, serta
beberapa pakaian yang tidak terlalu sering ku kenakan. Dengan seluruh
koneksinya, Ayah bisa mengurus semua surat-suratku dengan sekejap mata.
Lagi-lagi aku akan kehilangan kehidupanku. Kehidupan yang tak pernah
benar-benar kumiliki. Kehidupan yang menjadi uji coba mereka yang menatas
namakan gelar Orang Tua.***

0 komentar:
Posting Komentar