Rabu, 04 Maret 2015

Her Masks #2

0

Saat aku tiba dirumah, kulihat sebuah mobil Outlander hitam terparkir dengan rapi didepan rumahku. Aku menaik nafas panjang sebagai persiapanku menghadapi hari yang ternyata belum berakhir. Mempersiapkan mentalku atas kunjungan dari pemilik mobil itu. Gumaman suara wanita dan tawa pria menggema didinding-dinding rumahku. Kunjungan hari ini sepertinya tidak akan terlalu buruk, harapku.
“Lika. Apa kabar, sayang?” Suara seorang pria paruh baya menggelegar. Pria lain yang harus kuberi gelar ‘Ayah’ meski dirinya tak memiliki kontribusi apapun atas kelahiranku di dunia ini. Pria itu menghampiri dan memelukku.
“Baik, Yah. Ayah sama Ibu gimana?” Tanyaku santun.
“Baik juga kok. Ibu sama Mama kamu lagi didapur, nak.”
“Kalau gitu, Lika ke dapur dulu ya.” Suranya masih dipenuhi ekspresi tawa. Apa yang membuatnya begitu bahagia?
Percakapanku dengan kedua wanita yang kusegani ini berjalan hampir serupa, hanya saja mereka lebih teliti dan mengenali raut wajahku yang tak terlalu antusias atas kedatangan mereka. “Kamu kenapa, nak? Kok mukanya nekuk gitu?” wanita yang sudah sangat berjasa untuk melahirkanku menyentuh daguku.
“Nggak apa-apa, Ma. Cuma capek aja. Terus tadi juga waktu Dimas telepon agak ribut dikit.” aku tak berbohong. Hanya meninggalkan detail-nya.
“Tapi nggak sampai gimana banget kan ributnya?” tanyanya kemudian yang hanya kujawab gelengan dengan semanis senyuman tulusku.
Suara menggelegar memanggil kami para wanita untuk berkumpul diruang tengah. Aku berjalan didampingi oleh kedua wanita cantik. Hampir sama seperti dulu kala. Memoir rapuhku kembali namun masih dengan embun yang menyelimutinya. Perbedaan hari itu dan kini hanya ada padaku, pada usiaku.
“Lika, kamu masih simpan visa kamu kan?” Tanya Papa dengan seulas senyum menghiasi wajahnya. “Ada di Mama, Pa.” Jawabku polos.
“Kamu ikut sama kami ya, Lika.” Ayah yang kini berbicara, tatapan kosongku menjawab pertanyaannya. “Dimas kan sekitar 3 bulan lagi lulus, Ayah sama Ibu mau stay disana untuk 2 minggu kedepan.” Tatapan Ayah mengedar keseluruh manusia yang ada diruangan ini. “Ayah sama Ibu ingin kamu dampingi Dimas disana.” Wajahku tak beriak, namun jantungku rasanya berhenti berdetak meski pada nyatanya telingaku dapat mendengar betapa keras ia bekerja memompa darahku.
“Kuliah Lika gimana?”
“Mama sama Papa yang akan cutikan kamu, nak.” Mama menjawab dengan ringan, seolah pendidikan tak lagi hal utama.
“Papa tahu kamu ingin selesaikan kuliahmu…” Papa memotong pembicaraanya, “…tapi bagaimanapun Lika, Dimas itu suami kamu, dan kamu harus menjalankan tugasmu sebagai seorang istri.” Lagi-lagi kalimat itu. Meski otakku menolak, hati dan ragaku tahu pasti tugas yang sudah 2 tahun lebih kuabaikan.
“Lika nggak pernah ‘mengabaikan’ tugas Lika sebagai istri. Kalian yang maksa Lika buat berhenti menjadi seorang istri yang baik.” Aku sengaja menekankan kata ‘mengabaikan’. Aku muak mereka selalu menggunakan senjata itu sebagai alat untuk menyerangku. “Tapi okay… Lika ikut Ibu sama Ayah.” Aku menatap mereka tepat dimata. “Tapi Lika tetap mau kuliah!”
“Jadi kamu mau kuliah disana? Sama Dimas?” Tanya Papa seolah ia baru sadar bahwa putrinya sangat mungkin untuk tidak kembali menetap ditanah ini.
“Dimana aja Pa, yang penting lulus kuliah. Lika pengin punya gelar. Pengin kerja.”
“Tapi nak, kampus kamu memangnya bisa kirim rujukan?” Kini Mama merajuk dan hanya aku acuhkan.
“Kamu bisa mulai dari awal disana, Lika. Kamu ngerti kan, dulu Ayah nggak izinkan kamu ikut sama Dimas karena Ayah pengin Dimas bisa support kamu lahir batin.” Ayah… alasanmu itu mengapa terdengar sangat rancu ditelingaku?
“Lika ngerti, Yah. Yang nggak bisa Lika ngerti, kenapa Lika sama Dimas harus dinikah gantung dari kecil? Kenapa nggak nunggu kami dewasa agar kami bisa saling support dan nggak jadi beban kalian?” Aku tidak berteriak, tapi mereka bisa mendengar rasa kecewa dalam nadaku.
“Kami hanya ingin memastikan kalian akan terus bersama tanpa ada gangguan dari orang lain. Kami hanya ingin pastikan itu, nak..” Ibu berbicara saat yang lain hanya terdiam dengan air muka yang memucat.
“Apa kalian benar-benar yakin dengan keputusan kalian sekarang? Apa ini hasil yang kalian inginkan?” Aku menatap mereka dengan lekat. “Apa dengan menikahkan kami saat kami masih balita bisa mencegah itu semua? Saat Lika dimarahin Mama dan Papa karena Lika dekat dengan teman laki-laki dikelas 5 SD? Masa SMP dan SMA Lika nggak bisa Lika nikmatin karena status Lika yang sudah menikah sama Dimas, terus lulus SMA kalian bolehin kita tinggal satu rumah hanya untuk tiga bulan. Kalian membebaskan kami untuk melakukan seluruh kewajiban sebagai suami istri. Kami lagi bahagia, Ma.. Pa.. lalu Ayah sama Ibu datang dan bilang bahwa Dimas harus kuliah diluar! Lika nggak boleh ikut dan harus tetap kuliah disini!” Suaraku meninggi setiap aku menekankan seluruh kesakitanku. “Kalian pisahin Lika dari Dimas saat kami mulai kehidupan kami! Saat kami mulai bergantung satu sama lain! Saat kami mulai menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya!” Nadaku sudah berada dipuncak. Meneriakan segala frustasiku terhadap mereka yang kuanggap pantas menerima ledakan ini. Kutatap mereka satu persatu. Tak ada satupun dari mereka yang berujar.
Aku menghembuskan nafasku dengan keras, “Sudahlah.. kapan kita berangkat?” tanyaku muram.
“Besok jam 9 kamu ikut kita untuk ngurusin semuanya.” Akhirnya Ayah yang pertama menemukan pita suaranya kembali.

“Baiklah. Lika nggak bisa nolak juga, kan?” aku berdiri meninggalkan mereka tanpa menunggu jawaban. Kulihat kamarku sudah rapi dan bersih. Mama pasti menyelesaikan tugas itu untuk meringankanku. Empat koper sudah berjejer rapi didekat pintu kamarku. Kubuka lemari pakaianku dan hanya menemukan beberapa potong pakaian untuk kugunakan malam ini dan besok, serta beberapa pakaian yang tidak terlalu sering ku kenakan. Dengan seluruh koneksinya, Ayah bisa mengurus semua surat-suratku dengan sekejap mata. Lagi-lagi aku akan kehilangan kehidupanku. Kehidupan yang tak pernah benar-benar kumiliki. Kehidupan yang menjadi uji coba mereka yang menatas namakan gelar Orang Tua.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com