Rabu, 18 Maret 2015

Runaway #3

0

[Raya]
Suara panggilan masuk dari telepon genggam ku menganggung hibernasiku di hari sabtu. Tunggu lima menit lagi, aku akan mengangkatnya. Suara itu terdengar lagi. Akh! Mengganggu!
“Halo..” jawabku,
“Raya! Masih tidur?! Pak Min udah dekat apartemen kamu katanya. Cepat rapi-rapi. Kamu harus pulang sekarang!!” suara Mama terdengar nyaring. Hingga aku kesal mendengarnya. Aku membesarkan mataku, baru sadar bahwa ini hari yang dijanjikan Mama. Tidak. Aku tidak mau pulang sekarang. Kututup teleponnya tanpa menjawab apa yang dikatakan mama. Buru-buru aku memikirkan sebuah tempat persembunyian. Ah! Yuda. Wajah besi, kepala batu, hati kutub utara pasti mau menerimaku dan menolongku.
Aku langsung keluar kamar, menuju kamar sebelah.
Kuketuk berulang kali pintu apartemen Yuda. Kemudian penyelamatku membukakan pintunya, tanpa ijin darinya aku langsung menerobos masuk. Yuda menatapku, aku memberinya isyarat untuk segera menutup pintu.
Lagi-lagi tanpa ijin darinya, aku duduk di sofa berwarna putih yang letaknya ada diruang tv. Yuda menatapku sambil bertolak pinggang. Tatapan kekejaman. Aku hanya bisa nyengir kuda didepannya, “Siapa yang nyuruh kamu masuk? Dan siapa yang nyuruh kamu duduk?” tanyanya. Lalu aku berdiri. Menunduk.
“Sembunyiin saya disini.. please..” aku mengepalkan kedua tangaku, menunjukkan mata kucingku, memohon agar dia mau menolongku.
“Sembunyiin?”
“Mama saya maksa saya untuk pulang ke Jakarta hari ini. Dia ngirim supir pribadinya buat jemput saya.” Aku duduk lagi, walaupun Yuda belum mempersilahkanku.
“Emang apa susahnya sih tinggal pulang.”
“Ya susah lah buat saya. Belum siap.”
“Trus, kenapa nggak diem aja didalem. Pas supir mama kamu dateng, jangan bukain pintu. Simple.”
“Dia pasti dikasih kunci serepnya sama Mama. Mama saya nggak sebodoh itu.” Jawabku. Mama memang bukan orang yang gampang aku tipu. Mama punya segala cara dan akal untuk memaksa aku pulang ke rumah, tapi Mama tidak mengerti aku yang belum ingin kembali. Kruyuk. Memalukan, kenapa suara perutku harus berbunyi disaat seperti ini. Yuda menaikkan alisnya, lagi-lagi aku nyengir kuda. Ia pun pergi ke dapur.
“Roti panggang sama telur mata sapi aja ya.” Katanya. Yuda memang sudah berubah, sekarang dia lebih baik padaku. Walaupun gaya bicaranya masih dingin. Tapi mungkin itu memang karakternya. Yasudahlah biarkan saja, yang penting dia mau menolongku diberikan sarapan pula.
Aku siap duduk di pantry. Di apartemennya tidak ada meja makan, hanya ada pantry dengan kursi berkaki panjang a la klub. Ia menyuguhkan roti tawar dengan telur mata sapi. Aku tersenyum, dia tidak. Sudah biasa. “Terimakasih makanannya hati kutub utara..” aku melahapnya. Dengan suapan yang besar. Tiba-tiba sebuah tangan yang besar menyibakkan poniku, menjepitnya dengan jepitan rambut, refleks aku menatapnya. Wajahnya jadi sangat dekat dengan wajahku sekarang, matanya yang tajam, hidungnya yang lumayan mancung dan bibirnya yang lebar.
Dadaku berdegup, seperti ada yang memukul gendang didalamnya. Deg-deg-deg berbunyi seperti itu, ditambah dadaku jadi sesak seketika saking kencangnya degupan itu. Dan juga, kenapa wajahnya lagi-lagi terlihat bersinar dimataku. Wajahku jadi terasa panas sekarang. Lagi-lagi dia menjitak pelan keningku, aku meringis tanpa suara. “Kalo gini kan poninya jadi nggak ikut makan.” Ia langsung melahapnya sarapannya.
***
[Yuda]
Aku tersenyum melihatnya melahap sepotong roti yang kubuatkan untuknya. Raya, gadis yang seminggu ini menemani hariku. Ada saja, kejadian yang membuatku selalu bersamanya. Contohnya saja hari ini, pagi-pagi dia datang mengenakan celana piyama bergambar astronot dan kaos berwarna hitam bertuliskan, “I wish i became an astronot.”
Begitu cintanya dia dengan astronomi. Dia pernah bercerita padaku, dia ingin tinggal di Saturnus, planet favoritnya. Bukan hanya itu, dia memiliki banyak julukan untukku dan tidak tahu kenapa aku senang mendengarnya memanggilku dengan sebutan, “wajah besi, kepala batu, hati kutub utara.”
“Ya Ma?” dia akhirnya menjawab telepon yang sudah berdering sebanyak tiga kali, “Aku lagi camping mam..” dia mondar-mandir, “Nggak bisa, maaf juga baru ngabarin. Oke bye.” Cara bicaranya cepat, dan langsung menutupnya.
“Pembohong.” Kataku, sambil membereskan piring, dan mencucinya
“Saya belum mau pulang.” Pernyataannya membuatku sedikit merasa dia menaruh kepercayaannya padaku,
“Saya nggak nanya.”
“Tapi saya mau bilang biar kamu nggak salah paham.”
“Kenapa saya harus salah paham.”
“Okey. Saya emang nggak pernah menang kalau debat sama kamu.” aku tersenyum, merasa menang. Lalu terdengar suara tv menyala.
“Siapa yang ngijinin kamu nyalain tv?” aku menggodanya. terdengar tv-nya dimatikan, “Saya bercanda. Nyalain aja, kasian.” ledekku.
“Berisik bibik Yuda!” teriaknya. Nada dering dari telepon genggamku berbunyi. Kulihat layarnya, Dhika. Aku ragu untuk mengangkatnya. Berpikir lama, hingga telepon itu mati. Dhika menelponku lagi. Kali ini kuputuskan untuk mengangkatnya di balkon,
“Halo.” Jawabku dingin, lebih dingin dari biasanya.
“Yud..” dia menyebut namaku, “Yuda.. Freya nanyain lo.” Aku diam, tidak tahu harus menjawabnya bagaimana, “Dia bilang, dia pengin kita bertiga kumpul lagi kayak dulu.”
“Menurut lo gimana?”
“Gue tau udah nggak bisa.”
“Itu lo tau.” Jawabku.
“Yud, harus berapa kali gue minta maaf sama lo.”
“Minta maaf untuk apa? Freya milih lo dibanding gue? Itu pilihan dia.”
“Itu karena dia,-“
“Cukup Dhik. Jangan sebut tentang itu lagi.” Kututup teleponnya. Aku tidak marah pada Dhika, aku hanya belum bisa menerima kenyataan yang ada kalo Freya memilih Dhika, dan lupa padaku. Lupa sama janji kita, lupa sama kenangan yang udah kita buat, dan lupa saat dimana aku memintanya sebagai istriku.
***
[Raya]
Aku menunggunya di lobby apartemen. Kami sudah berjanji akan bertemu disini. Hari ini aku dan Yuda–tetangga baruku akan pergi ke Boscha. Aku mengajaknya dari dua hari yang lalu, dan dia menyetujuinya tanpa basa basi terlebih dahulu. Kami akan melihat hujan meteor yang menurut pemberitaan akan terlihat di langit Indonesia pada hari ini. Aku tidak menganggap bahwa hari ini adalah sebuah kencan. Walaupun aku merasa sangat senang akan pergi dengannya hari ini sampai-sampai mata ini tidak mau terpejam tadi malam.
Aku merasa ada seseorang yang berdiri di belakangku. Harum perfume merk terkenal mulus lewat dihidungku. Kubalikkan tubuhku untuk memastikan tebakanku benar. Yuda berdiri dibelakangku, dagunya hampir saja menyentuh kepalaku. Aku terpaku melihat wajahnya yang semakin hari semakin terlihat tampan dimataku. Lalu ada rasa nyeri datang di keningku, lagi-lagi dia menjitaknya.
“Jangan bengong, ayo berangkat, nanti kita kejebak macet.” Ia berjalan menuju parkiran mobil. Aku mengikutinya dari belakang.
“Kamu nggak punya baju lain selain warna putih sama biru yah?” celetukku untuk memecahkan keadaan yang cukup lengang didalam kendaraan beroda empat milik Yuda,
“Saya merasa nggak cocok pake warna lain, selain warna ini.”
“Pantes kamu kaku.” Jawabku singkat, sambil memandangi pemandangan diluar jendela. Hingga tiba-tiba sebuah bus menyalip dari sebelah kanan dengan kencangnya, bus itu seperti akan menabrak mobil Yuda. Seketika aku melihat tubuh seorang gadis terhantam mobil Yuda dan terhempas jauh.
“JANGAAAN!!” aku berteriak sambil menggenggam sabuk pengaman dengan erat. Yuda menghentikan mobilnya. Aku memberanikan diri untuk membuka mata, tidak kulihat tubuh seorang gadis. Halusinasiku. Kemudian aku melihat wajah Yuda yang tampak kebingungan. Ia menempelkan tangannya di keningku,
“Kamu nggak apa-apa?” degub jantungku lebih kencang dari biasanya, nafasku satu-satu. Aku shock. Aku lupa mewanti-wanti Yuda agar jangan menaikkan kecepatannya, “Kita cari mini market dan beliin kamu beberapa minuman biar lebih tenang yah.” Aku menggenggam tangan kirinya, dia pasti merasakan tubuhku yang bergetar. Yuda tidak melepaskannya, malah menggenggam balik tanganku, untuk sekejap aku merasakan kehangatan pada kepribadiannya.
***
[Yuda]
Aku mengambil beberapa minuman hangat dari pembuat kopi cepat saji dan membeli beberapa roti selai untuk kuberikan pada Raya. Jujur, aku merasa bingung apa yang terjadi padanya. Pertama, dia pingsan saat lift yang kami tumpangi tiba-tiba mati, dan tadi, dia berteriak ketakutan karena sebuah bus yang menyusul mobilku. Aku ingin bertanya, tapi aku tahu, tidak sopan jika baru kenal langsung menanyakan hal yang menurutku itu bersifat pribadi.
Aku memandang wajah yang sudah tidak terlihat ketakutan seperti tadi. Dia terlelap saking shock-nya. Aku usap wajahnya, dia sudah tidak berkeringat. Mataku terfokus pada bibirnya yang tipis dan berwarna merah, seperti sedang menggodaku untuk menciumnya. Matanya terbuka dan mendapatiku sedang memperhatikannya, langsung aku berikan padanya hot chocolate yang masih hangat agar dia tidak menyadarinya,
“Terimakasih…” katanya,
“Lanjut?” aku menanyakan kesiapannya untuk melanjutkan perjalanan kami,
“Inget jangan ngebut.” Ia mewanti-wanti diriku. Ada perasaan ingin menjaganya setelah melihat ketakutannya tadi, jantungku pun ikut berdebar seirama dengan gemetar tubuhnya lewat tangannya yang menggenggam tanganku.
Hingga kami sampai di sebuah observatorium astronomi. Dia bilang, dia sering kesini, bahkan mengenal para staff maupun penjaganya, jadi mudah bagi kami untuk dipersilahkan masuk ke dalam. Saat kami datang, hari sudah gelap, dan Raya terlihat lebih tenang dibandingkan tadi.
Ia melampirkan jaketnya di atas rerumputan, lalu membaringkan dirinya, aku hanya duduk disampingnya. Kami sama-sama menatap langit yang diterangi bintang dan bulan,
 “Ada beberapa alasan kenapa saya ke Bandung” suaranya menyadarkan lamunanku akan hipnotis dari keindahan langit malam ini, “lebih tepatnya saya kabur kesini. Menghindari sebuah masalah yang orang tua saya pikir udah selesai, tapi perasaan bersalah sama sekali nggak bisa diselesain.” Ia menghela nafas, “Perasaan bersalah yang nggak tahu sejauh apa pun saya pergi nggak akan hilang. Sekalipun saya kabur ke saturnus.”
“Kamu punya trauma?” tanyaku pada akhirnya,
“Iya.”
“Jangan hindari traumanya.” Jawabku singkat. Sambil memandangi wajahnya yang menunjukkan ada beban yang tidak bisa dia bagi.
“akh!” teriaknya sambil menunjuk ke langit. Hujan meteor, indah. Aku ikut berbaring disebelahnya. Benda langit yang bercahaya putih beramai-ramai melewati langit. Ini pertama kalinya aku melihat hujan meteor. Hujan meteor yang biasanya hanya bisa aku lihat di televisi, sekarang bisa aku lihat secara langsung.
“Kita kayak lagi shooting meteor garden yah? Saya Sanchai.” Celetuknya,
“Saya Tau Ming Se nya gitu?” aku menjawab leluconnya,
“Bukan, kamu temannya Sanchai yang anak orang kaya baru itu.” Dia terdiam lagi, “Saya pengin banget liat aurora, tapi di kutub utara jadi bisa sekalian liat beruang kutub sama penguin dihabitat aslinya.” Dia seperti bercerita pada orang yang sudah mengenalnya berpuluh-puluh tahun, dan itu membuatku nyaman.
“Siapa tau aja dengan ngeliat aurora dan pergi ke kutub utara, saya jadi ada keberanian untuk pulang dan bisa sembuh dari trauma.” dia banyak bicara seperti biasanya.
“Bukan Cuma kamu yang jadiin Bandung tempat pelarian, saya juga.” Celetukku tiba-tiba, membuatnya menatapku dengan matanya yang baru aku sadari berwarna kecoklatan.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com