[Raya]
Suara
panggilan masuk dari telepon genggam ku menganggung hibernasiku di hari sabtu.
Tunggu lima menit lagi, aku akan mengangkatnya. Suara itu terdengar lagi. Akh! Mengganggu!
“Halo..”
jawabku,
“Raya!
Masih tidur?! Pak Min udah dekat apartemen kamu katanya. Cepat rapi-rapi. Kamu
harus pulang sekarang!!” suara Mama terdengar nyaring. Hingga aku kesal
mendengarnya. Aku membesarkan mataku, baru sadar bahwa ini hari yang dijanjikan
Mama. Tidak. Aku tidak mau pulang
sekarang. Kututup teleponnya tanpa menjawab apa yang dikatakan mama.
Buru-buru aku memikirkan sebuah tempat persembunyian. Ah! Yuda. Wajah besi, kepala batu, hati kutub utara pasti mau
menerimaku dan menolongku.
Aku
langsung keluar kamar, menuju kamar sebelah.
Kuketuk
berulang kali pintu apartemen Yuda. Kemudian penyelamatku membukakan pintunya,
tanpa ijin darinya aku langsung menerobos masuk. Yuda menatapku, aku memberinya
isyarat untuk segera menutup pintu.
Lagi-lagi
tanpa ijin darinya, aku duduk di sofa berwarna putih yang letaknya ada diruang
tv. Yuda menatapku sambil bertolak pinggang. Tatapan kekejaman. Aku hanya bisa nyengir
kuda didepannya, “Siapa yang nyuruh kamu masuk? Dan siapa yang nyuruh kamu
duduk?” tanyanya. Lalu aku berdiri. Menunduk.
“Sembunyiin
saya disini.. please..” aku mengepalkan
kedua tangaku, menunjukkan mata kucingku, memohon agar dia mau menolongku.
“Sembunyiin?”
“Mama
saya maksa saya untuk pulang ke Jakarta hari ini. Dia ngirim supir pribadinya
buat jemput saya.” Aku duduk lagi, walaupun Yuda belum mempersilahkanku.
“Emang
apa susahnya sih tinggal pulang.”
“Ya
susah lah buat saya. Belum siap.”
“Trus,
kenapa nggak diem aja didalem. Pas supir mama kamu dateng, jangan bukain pintu.
Simple.”
“Dia
pasti dikasih kunci serepnya sama Mama. Mama saya nggak sebodoh itu.” Jawabku. Mama
memang bukan orang yang gampang aku tipu. Mama punya segala cara dan akal untuk
memaksa aku pulang ke rumah, tapi Mama tidak mengerti aku yang belum ingin
kembali. Kruyuk. Memalukan, kenapa
suara perutku harus berbunyi disaat seperti ini. Yuda menaikkan alisnya,
lagi-lagi aku nyengir kuda. Ia pun pergi ke dapur.
“Roti
panggang sama telur mata sapi aja ya.” Katanya. Yuda memang sudah berubah,
sekarang dia lebih baik padaku. Walaupun gaya bicaranya masih dingin. Tapi
mungkin itu memang karakternya. Yasudahlah biarkan saja, yang penting dia mau
menolongku diberikan sarapan pula.
Aku
siap duduk di pantry. Di apartemennya
tidak ada meja makan, hanya ada pantry
dengan kursi berkaki panjang a la
klub. Ia menyuguhkan roti tawar dengan telur mata sapi. Aku tersenyum, dia
tidak. Sudah biasa. “Terimakasih makanannya hati kutub utara..” aku melahapnya.
Dengan suapan yang besar. Tiba-tiba sebuah tangan yang besar menyibakkan
poniku, menjepitnya dengan jepitan rambut, refleks aku menatapnya. Wajahnya
jadi sangat dekat dengan wajahku sekarang, matanya yang tajam, hidungnya yang
lumayan mancung dan bibirnya yang lebar.
Dadaku
berdegup, seperti ada yang memukul gendang didalamnya. Deg-deg-deg berbunyi
seperti itu, ditambah dadaku jadi sesak seketika saking kencangnya degupan itu.
Dan juga, kenapa wajahnya lagi-lagi terlihat bersinar dimataku. Wajahku jadi
terasa panas sekarang. Lagi-lagi dia menjitak pelan keningku, aku meringis
tanpa suara. “Kalo gini kan poninya jadi nggak ikut makan.” Ia langsung
melahapnya sarapannya.
***
[Yuda]
Aku
tersenyum melihatnya melahap sepotong roti yang kubuatkan untuknya. Raya, gadis
yang seminggu ini menemani hariku. Ada saja, kejadian yang membuatku selalu
bersamanya. Contohnya saja hari ini, pagi-pagi dia datang mengenakan celana
piyama bergambar astronot dan kaos berwarna hitam bertuliskan, “I wish i became an astronot.”
Begitu
cintanya dia dengan astronomi. Dia pernah bercerita padaku, dia ingin tinggal
di Saturnus, planet favoritnya. Bukan hanya itu, dia memiliki banyak julukan
untukku dan tidak tahu kenapa aku senang mendengarnya memanggilku dengan
sebutan, “wajah besi, kepala batu, hati kutub utara.”
“Ya
Ma?” dia akhirnya menjawab telepon yang sudah berdering sebanyak tiga kali,
“Aku lagi camping mam..” dia mondar-mandir, “Nggak bisa, maaf juga baru
ngabarin. Oke bye.” Cara bicaranya cepat, dan langsung menutupnya.
“Pembohong.”
Kataku, sambil membereskan piring, dan mencucinya
“Saya
belum mau pulang.” Pernyataannya membuatku sedikit merasa dia menaruh
kepercayaannya padaku,
“Saya
nggak nanya.”
“Tapi
saya mau bilang biar kamu nggak salah paham.”
“Kenapa
saya harus salah paham.”
“Okey.
Saya emang nggak pernah menang kalau debat sama kamu.” aku tersenyum, merasa
menang. Lalu terdengar suara tv
menyala.
“Siapa
yang ngijinin kamu nyalain tv?” aku menggodanya. terdengar tv-nya dimatikan, “Saya bercanda. Nyalain aja, kasian.” ledekku.
“Berisik
bibik Yuda!” teriaknya. Nada dering dari telepon genggamku berbunyi. Kulihat
layarnya, Dhika. Aku ragu untuk mengangkatnya. Berpikir lama, hingga telepon itu
mati. Dhika menelponku lagi. Kali ini kuputuskan untuk mengangkatnya di balkon,
“Halo.”
Jawabku dingin, lebih dingin dari biasanya.
“Yud..”
dia menyebut namaku, “Yuda.. Freya nanyain lo.” Aku diam, tidak tahu harus
menjawabnya bagaimana, “Dia bilang, dia pengin kita bertiga kumpul lagi kayak
dulu.”
“Menurut
lo gimana?”
“Gue
tau udah nggak bisa.”
“Itu
lo tau.” Jawabku.
“Yud,
harus berapa kali gue minta maaf sama lo.”
“Minta
maaf untuk apa? Freya milih lo dibanding gue? Itu pilihan dia.”
“Itu
karena dia,-“
“Cukup
Dhik. Jangan sebut tentang itu lagi.” Kututup teleponnya. Aku tidak marah pada
Dhika, aku hanya belum bisa menerima kenyataan yang ada kalo Freya memilih
Dhika, dan lupa padaku. Lupa sama janji kita, lupa sama kenangan yang udah kita
buat, dan lupa saat dimana aku memintanya sebagai istriku.
***
[Raya]
Aku
menunggunya di lobby apartemen. Kami
sudah berjanji akan bertemu disini. Hari ini aku dan Yuda–tetangga baruku akan
pergi ke Boscha. Aku mengajaknya dari dua hari yang lalu, dan dia menyetujuinya
tanpa basa basi terlebih dahulu. Kami akan melihat hujan meteor yang menurut
pemberitaan akan terlihat di langit Indonesia pada hari ini. Aku tidak
menganggap bahwa hari ini adalah sebuah kencan. Walaupun aku merasa sangat
senang akan pergi dengannya hari ini sampai-sampai mata ini tidak mau terpejam
tadi malam.
Aku
merasa ada seseorang yang berdiri di belakangku. Harum perfume merk terkenal mulus lewat dihidungku. Kubalikkan tubuhku
untuk memastikan tebakanku benar. Yuda berdiri dibelakangku, dagunya hampir
saja menyentuh kepalaku. Aku terpaku melihat wajahnya yang semakin hari semakin
terlihat tampan dimataku. Lalu ada rasa nyeri datang di keningku, lagi-lagi dia
menjitaknya.
“Jangan
bengong, ayo berangkat, nanti kita kejebak macet.” Ia berjalan menuju parkiran
mobil. Aku mengikutinya dari belakang.
“Kamu
nggak punya baju lain selain warna putih sama biru yah?” celetukku untuk
memecahkan keadaan yang cukup lengang didalam kendaraan beroda empat milik
Yuda,
“Saya
merasa nggak cocok pake warna lain, selain warna ini.”
“Pantes
kamu kaku.” Jawabku singkat, sambil memandangi pemandangan diluar jendela.
Hingga tiba-tiba sebuah bus menyalip dari sebelah kanan dengan kencangnya, bus
itu seperti akan menabrak mobil Yuda. Seketika aku melihat tubuh seorang gadis
terhantam mobil Yuda dan terhempas jauh.
“JANGAAAN!!”
aku berteriak sambil menggenggam sabuk pengaman dengan erat. Yuda menghentikan
mobilnya. Aku memberanikan diri untuk membuka mata, tidak kulihat tubuh seorang
gadis. Halusinasiku. Kemudian aku melihat wajah Yuda yang tampak kebingungan.
Ia menempelkan tangannya di keningku,
“Kamu
nggak apa-apa?” degub jantungku lebih kencang dari biasanya, nafasku satu-satu.
Aku shock. Aku lupa mewanti-wanti
Yuda agar jangan menaikkan kecepatannya, “Kita cari mini market dan beliin kamu
beberapa minuman biar lebih tenang yah.” Aku menggenggam tangan kirinya, dia
pasti merasakan tubuhku yang bergetar. Yuda tidak melepaskannya, malah
menggenggam balik tanganku, untuk sekejap aku merasakan kehangatan pada
kepribadiannya.
***
[Yuda]
Aku
mengambil beberapa minuman hangat dari pembuat kopi cepat saji dan membeli
beberapa roti selai untuk kuberikan pada Raya. Jujur, aku merasa bingung apa
yang terjadi padanya. Pertama, dia pingsan saat lift yang kami tumpangi tiba-tiba mati, dan tadi, dia berteriak
ketakutan karena sebuah bus yang menyusul mobilku. Aku ingin bertanya, tapi aku
tahu, tidak sopan jika baru kenal langsung menanyakan hal yang menurutku itu
bersifat pribadi.
Aku
memandang wajah yang sudah tidak terlihat ketakutan seperti tadi. Dia terlelap
saking shock-nya. Aku usap wajahnya,
dia sudah tidak berkeringat. Mataku terfokus pada bibirnya yang tipis dan
berwarna merah, seperti sedang menggodaku untuk menciumnya. Matanya terbuka dan
mendapatiku sedang memperhatikannya, langsung aku berikan padanya hot chocolate yang masih hangat agar dia
tidak menyadarinya,
“Terimakasih…”
katanya,
“Lanjut?”
aku menanyakan kesiapannya untuk melanjutkan perjalanan kami,
“Inget
jangan ngebut.” Ia mewanti-wanti diriku. Ada perasaan ingin menjaganya setelah
melihat ketakutannya tadi, jantungku pun
ikut berdebar seirama dengan gemetar tubuhnya lewat tangannya yang menggenggam
tanganku.
Hingga
kami sampai di sebuah observatorium astronomi. Dia bilang, dia sering kesini,
bahkan mengenal para staff maupun penjaganya, jadi mudah bagi kami untuk
dipersilahkan masuk ke dalam. Saat kami datang, hari sudah gelap, dan Raya
terlihat lebih tenang dibandingkan tadi.
Ia
melampirkan jaketnya di atas rerumputan, lalu membaringkan dirinya, aku hanya
duduk disampingnya. Kami sama-sama menatap langit yang diterangi bintang dan
bulan,
“Ada beberapa alasan kenapa saya ke Bandung”
suaranya menyadarkan lamunanku akan hipnotis dari keindahan langit malam ini,
“lebih tepatnya saya kabur kesini. Menghindari sebuah masalah yang orang tua
saya pikir udah selesai, tapi perasaan bersalah sama sekali nggak bisa
diselesain.” Ia menghela nafas, “Perasaan bersalah yang nggak tahu sejauh apa
pun saya pergi nggak akan hilang. Sekalipun saya kabur ke saturnus.”
“Kamu
punya trauma?” tanyaku pada akhirnya,
“Iya.”
“Jangan
hindari traumanya.” Jawabku singkat. Sambil memandangi wajahnya yang
menunjukkan ada beban yang tidak bisa dia bagi.
“akh!”
teriaknya sambil menunjuk ke langit. Hujan meteor, indah. Aku ikut berbaring
disebelahnya. Benda langit yang bercahaya putih beramai-ramai melewati langit.
Ini pertama kalinya aku melihat hujan meteor. Hujan meteor yang biasanya hanya
bisa aku lihat di televisi, sekarang bisa aku lihat secara langsung.
“Kita
kayak lagi shooting meteor garden yah?
Saya Sanchai.” Celetuknya,
“Saya
Tau Ming Se nya gitu?” aku menjawab leluconnya,
“Bukan,
kamu temannya Sanchai yang anak orang kaya baru itu.” Dia terdiam lagi, “Saya
pengin banget liat aurora, tapi di kutub utara jadi bisa sekalian liat beruang
kutub sama penguin dihabitat aslinya.” Dia seperti bercerita pada orang yang
sudah mengenalnya berpuluh-puluh tahun, dan itu membuatku nyaman.
“Siapa
tau aja dengan ngeliat aurora dan pergi ke kutub utara, saya jadi ada
keberanian untuk pulang dan bisa sembuh dari trauma.” dia banyak bicara seperti
biasanya.
“Bukan Cuma kamu yang jadiin Bandung tempat pelarian, saya juga.” Celetukku tiba-tiba, membuatnya menatapku dengan matanya yang baru aku sadari berwarna kecoklatan.***
“Bukan Cuma kamu yang jadiin Bandung tempat pelarian, saya juga.” Celetukku tiba-tiba, membuatnya menatapku dengan matanya yang baru aku sadari berwarna kecoklatan.***

0 komentar:
Posting Komentar