Rabu, 04 Maret 2015

Runaway #2

0

[Yuda]
Aku keluar dari mini market dekat apartemen, membeli beberapa keperluan dapur yang belum sempat kubeli kemarin. Hingga sekumpulan berandal membuatku tertarik untuk memperhatikan mereka yang sedang menggoda gadis. Wajahnya gadis itu seperti mau menangis. Si bodoh, bukannya lari malah diam saja. Lelaki itu hampir meraba tubuhnya di bagian dada. Tanpa aku sadari, kakiku melayang ke arah pinggang si pengganggu hingga ia terlempar lumayan jauh.
Entah kekuatan apa yang kudapat, berandalan-berandalan itu masing-masing sudah terkapar di hadapanku, hanya tanganku yang merasakan sakit akibat pukulan-pukulan yang kuberikan pada mereka. Kulihat sekelilingku, kemudian mendapati gadis yang kutolong itu sedang memukuli berandal terakhir menggunakan tas yang ada di genggamannya.
***
“Aaww! sakit!” teriakku padanya. “Bisa pelan-pelan kan.” Kataku dingin, ia semakin menekan bagian lebam dipipiku.
“Bukannya bilang makasih, malah ngomelin, dasar wajah besi, kepala batu, hati kutub utara.” Jawabnya terdengar kesal. Banyak sekali julukanku darinya. Membuat aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya, wajahnya semakin tampak kesal. Ia meleparkan kakiku dari pangkuannya.
“aaawww!! Saakiiit!!” ia mengambil lagi kakiku, menaruhnya kembali pangkuannya, dan mengolesi salep pereda nyeri, “Terimakasih…” kataku pelan. Dia tidak menjawab, wajahku terasa hangat. Pasti memerah karena malu, jangan sampai dia tahu.
“Sama-sama.. Makasih juga udah nolong saya tadi.” Jawabnya, suaranya tidak sepelan suaraku, nada suaranya juga tidak terdengar galak seperti biasanya. Aku tersenyum. Memandangi seisi ruangan. Lampu gantung berbentuk delapan planet, karpet antariksa. Ia menyingkirkan kakiku dari pangkuannya pelan-pelan. Dan pergi ke dapur,
“Saya cuma ada telur sama nasi. Makan omurice aja ya.” Katanya.
“Nggak perlu, saya masak sendiri aja nanti.”
“Dengan keadaan kaki kayak gitu? Nggak ada! Diam disitu. Dua puluh menit lagi omuricenya jadi.” Tidak lama tercium aroma bawang putih dan bawang merah yang ditumis dengan margarine, membuat perutku semakin lapar.
***
[Raya]
Aku menata dua omurice yang sudah tertata rapih di atas piring makan, di atas meja makan berbentuk segiempat yang terbuat dari kayu, begitu juga dengan bangkunya. Kupapah tetangga wajah besi, kepala batu, hati kutub utara dan kududukkan dia. Kubuatkan dia makanan sebagai tanda terimakasih karena sudah menolongku saat hampir saja aku diperkosa oleh anak-anak berandal yang ada di depan mini market. Lain kali, lebih baik aku naik angkutan umum dibandingkan harus jalan kaki, lalu digoda lagi oleh para berandalan itu.
“Ini ucapan terimakasih saya buat kamu.” kataku. Dia menatap telur dadar yang membungkus nasi goreng didalamnya, “Silahkan dimakan tetangga wajah besi, kepala batu, hati kutub utara, sebelum dingin.” Kataku mempersilahkannya.
Ia menatapku begitu aku menyebutkan panggilan panjangku untukknya, matanya tajam, wajahnya terlihat ganteng saat kumis dan jenggotnya sudah dicukur. Tidak, aku tidak boleh suka sama si arrogant ini. “Saya punya nama.” Katanya dingin. Dia kembali ke dirinya, padahal kukira dia memang orang baik karena sudah menolongku,
“Saya kan nggak tahu nama kamu.” Aku langsung melahap omurice. Tapi aku tidak lagi kesal mendengar nada suara itu, seperti sudah mulai terbiasa. “Tangan kamu bisa megang sendok? Mau di suapin?” ledekku padanya, dia menatap,
“Bisa. Nggak usah lebay.” Tangannya gemetaran.
“Masa? Tangannya gemeteran gitu.”
“Biisaa.. nggak usah rese. Okay? Kita makan aja sekarang.” Aku senang melihat wajahnya yang sedikit kesal,
By the way.. Saya Raya.” Kataku, memperkenalkan diri duluan. Dia tidak menjawab, terus saja melahap makanan yang kubuatkan. ”Sabar Raya, kamu sudah tahu karakternya seperti apa, jangan terlalu emosi.”
Kuantarkan dirinya untuk kembali seusai menghabiskan sepiring bersih omurice, karena aku tahu, kakinya masih terlalu sakit jika berjalan. Kubantu dia duduk di kasurnya, dia menatapku. Lalu, dia menyuruhku mendekat, aku menurut. Dan sekarang wajahku menjadi sangat dekat dengan wajahnya. Dia menyingkirkan poniku, lalu jidatku dijitak olehnya. Aku meringis tanpa suara, dia tertawa. “Itu balasan karena kamu terus menatap saya daritadi.” Geram aku mendengarnya,
“Cuma karena itu?! Ini sakit tauk!” nada suaraku meninggi. “Kamu memang wajah besi, kepala batu,-“
“Hati kutub utara.” Potongnya, Ia tersenyum, aku baru sadar kalau dia punya lesung pipi, “Nama saya Yuda. bukan wajah besi, kepala batu, hati kutub utara.” Skakmat. Aku tidak bisa membalas ledekannya sekarang. Dia terlihat berkarisma, wajahnya seperti bersinar dimataku.
“Saya permisi dulu wajah be.. Yuda. Kakimu akan pulih besok, karena salep itu manjur.” Aku pergi dari planetnya. Hari ini berlalu begitu cepat, baru tadi pagi aku kesal dengannya, sekarang jadi akrab.
Terdengar nada dering dari telepon genggamku, buru-buru aku angkat, takut penting, dan bodohnya lagi aku tidak tahu siapa yang menelpon.
“Raya?” suara mama. Aku sebenarnya sedang malas berbicara dengan Ibu yang mengandungku selama Sembilan bulan sepuluh hari ini, karena obrolan kami akan berujung pada perdebatan.
“Ya mam?”
“Kamu darimana sih? Mama sudah telepon kamu sampai tiga kali, sekarang baru diangkat?” Suaranya terdengar khawatir, dan tidak ada jeda untukku menjawabnya.
“Habis nganter tetangga yang sakit Ma. Ada apa?”
“Sayang.. mama kangen.” Aku juga Ma, aku hanya bisa menjawabnya dalam hati. “Pulang yah sayang. Minggu ini Riani ulang tahun. Pengin kakaknya dateng.”
“Ma.. Maaf, Raya belum bisa Ma.” jawabku tidak tega.
“Sayang.. itu udah tiga tahun yang lalu. Bahkan dia sudah sehat lagi.”
“Tetap aja Ma. Aku gak bisa. Aku sangat merasa bersalah. Kalau bukan aku karna dia nggak akan,-“
“Raya cukup!” Mama membentak, “Mama mau kamu pulang minggu ini, atau mama minta Pak Min jemput kamu dan bawa paksa kamu!” nada terputus terdengar.
***
“Nyokap nyuruh lo pulang? Ya pulang lah, pake hak cuti lo.” Kata Taka, saat kami sedang menikmati makan siang di sebuah rumah makan sederhana, di daerah Taman Sari.
“Nggak bisa Ka.”
“Apa sih yang bikin lo gak mau pulang?” Taka melahap sushi buatan istrinya, “Bokap tiri lo? Atau trauma lo?” lanjutnya.
“Dua-duanya.” Jawabku singkat. Hanya bisa mengaduk-aduk soto ayam yang kucampurkan dengan nasi didalamnya.
“Dia udah baik gitu sama lo minjemin apartemennya buat lo.”
“Gue nyewa. Tiap bulan gue bayar kok uang sewanya ke dia.” Aku tidak pernah memanggilnya “Ayah” atau “Papa” selayaknya seorang anak memanggil orang tuanya. Sebaik apapun ayah tiriku, aku tidak bisa menerimanya sebagai pengganti Papa.
Please deh Ray.. Kepala batu banget sih lo!” Taka menjitak pelan kepalaku.
“Lo tau kan kecelakaan itu terjadi karena apa? Kecelakaan itu nggak akan kejadian kalo gue nggak ngedengar nyokap gue mau nikah lagi, yang waktu itu gue taunya kalo bokap nyokap gue belom cerai.” Emosiku meluap jika mengingat kejadian-kejadian buruk itu, “Tapi ternyata mereka udah cerai pas gue kelas enam, Ka. Mereka bohongin gue. Gue juga punya hati, tapi mereka gak mikirin perasaan gue.”
“Mereka mikirin perasaan lo makanya mereka nyembunyiin itu sampe lo siap dan dewasa buat nerimanya Ray.” Ucapan Raya sama persis dengan penjelasan yang Papa katakana padaku. Kemudian  ingatanku bermain ke tiga tahun yang lalu.
***
Aku duduk di ruang tv, membaca majalah yang menjadi langgananku setiap bulannya. Mama menghampiriku, membutkanku es jeruk peras. Aku tersenyum. Mama selalu tahu kesukaan putri semata wayangnya. Aku meminumnya, namun raut muka mama berbeda dari biasanya. Seperti ada yang ingin disampaikan,
“Raya..” Mama memanggil namaku dengan hangat
“Ya Ma?”
“Raya..” Mama menyebut namaku lagi, wajah Mama terlihat ragu-ragu
“Ada apa sih Mam?” tanyaku  penasaran,
“Dua.. bulan lagi.” Mama bicara terbata-bata, aku menunggu, “Mama mau menikah.” Aku tersenyum, beranggapan Mama bercanda, karena Mama suka bercerita hal lucu padaku.
“Mama bercanda kan?” Mama menatapku, menunjukkan wajah yang tidak bercanda. Pembicaraan ini serius.
“Maafkan Mama Raya..” Mama mengeluarkan bulir-bulir air dari matanya.
“Mama selingkuh?” Aku menggenggam bahu mama dengan erat, “Mama jawab aku!” tanpa sadar aku meninggikan suaraku, lupa akan sopan santun dan hormat pada wanita yang membesarkanku selama 21 tahun, “Siapa dia Ma?!” Mama hanya terus menangis, “Mama jawab aku!! Mama selingkuh?! Mama jahat!” Aku lari ke kamarku, meninggalkan Mama yang tidak berhenti menangis. Bahkan tidak mau mendengar Mama menjelaskannya.
Tanpa pikir panjang lagi aku menghubungi Papa yang sudah dari lima tahun yang lalu tinggal di Kanada. Telepon ini terhubung, tidak lama suara papa terdengar dari kejauhan,
“Pa..” aku menangis, aku tidak bisa lagi menahan air mataku,
“Raya, kamu kenapa?” Suaranya terdengar panik,
“Mama, Pa..”
“Kenapa Mama kamu?”
“Mama mau menikah lagi…” aku tidak bisa merahasikannya, papa harus tahu bahwa Mama mengkhianatinya. Lama tidak ada jawaban dari Papa, “Pa..” aku memanggilnya lagi, memastikan telepon antar Negara ini masih tersambung,
“Raya, dengarkan Papa, Sayang…” Papa terdiam lagi, “…Papa sama Mama udah bercerai, Sayang. Jadi, itu hak Mama buat menikah lagi…” Aku tidak mengerti dengan situasinya.
“Maksud Papa?” aku memastikan yang terjadi.
“Papa sama Mama sudah bercerai sejak kamu kelas enam sayang..”
“Kalian ngebohongin saya?!” suaraku meninggi lagi. Kututup teleponnya. Pikiranku kalut. Aku ambil kunci mobil. Ingin pergi sejauh-jauhnya dari rumah, tidak ingin melihat wajah Mama. Bahkan aku tidak ingin kembali kerumah ini lagi. Mereka tega, aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang telah mereka – orang tuaku rahasiakan selama ini. Pantas saja papa jarang pulang, pantas saja Mama banting tulang untuk menghidupi dirinya bahkan aku. Aku merasa dibohongi.
Pikiran yang kalut benar-benar merasuki otakku tanpa memberikan kesempatan pikiran jernih masuk untuk menenangkan hatiku. Aku pun melajukan mobilku dengan kecepatan diatas 100, hingga tiba-tiba hujan mengguyur dengan deras, gelap, aku tidak bisa melihat jalan, lalu berusaha menurunkan kecepatan. BRUG!! Aku menghantam sesuatu. Aku keluar mobil, memastikan apa yang kutabrak. Tubuh seorang gadis terkapar beberapa meter dari mobilku, kepalanya dipenuhi darah. Aku terduduk lemas, tidak bisa berpikir, banyak orang mengerubungi kami. Tiba-tiba semuanya gelap.
Kulihat Mama disampingku, menggenggam tanganku dan menatapku nanar. Aku ada ditempat tidur. Terakhir, yang kuingat aku menabrak seorang gadis yang umurnya mungkin lebih tua dariku. “Ma..” Mama hanya tersenyum. Mengelus rambut panjangku, aku menangis. Mama mendekapku dalam pelukannya, mencoba menenangkanku.
“Tenang Sayang…”
“Aku mau lihat dia Ma…”
Lalu Mama mengajakku ke sebuah ruangan, walaupun awalnya Mama melarangku. Disana ada keluarga korban. Gadis yang kutabrak terbaring lemah di atas tempat tidur. Kepalanya di balut perban, nafasnya di bantu oksigen, dan ada alat detak jantung. Aku menatap wanita paruh baya dan seorang laki-laki yang tampaknya lebih tua dariku. Laki-laki itu menatapku penuh dengan kebencian, aku tidak berani menatapnya. Aku berjongkok, memohon ampun pada wanita paruh baya yang ada dihadapanku.
“Ibu.. Saya mohon maaf..” aku menangis, aku sungguh tulus meminta maaf. Laki-laki tadi pergi dari ruangan dan membanting pintunya. Ibu itu menyuruhku untuk berdiri, menghapus air mataku, dan tersenyum.
“Sudah takdir. Mau dibagaimanakan lagi. Yang penting, anak Ibu selamat.” Ibu ini tidak menyalahkanku, namun perasaan bersalahku padanya semakin berkembang.
“Saya akan bertanggung jawab atas pengobatan anak Ibu..” Mama ikut bicara, Ibu itu hanya tersenyum.
***
Sejak itu, setiap hari aku mengunjunginya. Memastikan semuanya baik-baik saja. Sekalian menemani wanita yang sudah menunjukkan keriput pada wajahnya. Gadis ini akhirnya membuka matanya yang kemudian bergantian menatapku dan Ibunya. Aku memberikannya senyuman. Namun wajahnya terlihat bingung,
“Maaf, Ibu siapa ya?” aku dan Ibunya bertatapan.
“Ini Ibu sayang..” Perlahan aku mundur. Dia tidak ingat siapa Ibunya. Aku lari dari ruangan. Tidak bisa lagi melihat apa yang selanjutnya terjadi. Duduk dimobil, memukul-mukul dadaku, sesak rasanya karena dipenuhi rasa bersalah yang entah bisa digantikan oleh apa. Kalau saja pikiranku waktu itu tenang, tidak mengebut, gadis itu sekarang masih mengingat Ibunya. Raya penjahat!! Teriaku dalam hati.

“AAKKKH!!” Aku menangis histeris sambil memukuli diriku sendiri.***

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com