[Yuda]
Aku
keluar dari mini market dekat apartemen, membeli beberapa keperluan dapur yang
belum sempat kubeli kemarin. Hingga sekumpulan berandal membuatku tertarik
untuk memperhatikan mereka yang sedang menggoda gadis. Wajahnya gadis itu
seperti mau menangis. Si bodoh, bukannya lari
malah diam saja. Lelaki itu hampir meraba tubuhnya di bagian dada. Tanpa
aku sadari, kakiku melayang ke arah pinggang si pengganggu hingga ia terlempar
lumayan jauh.
Entah
kekuatan apa yang kudapat, berandalan-berandalan itu masing-masing sudah
terkapar di hadapanku, hanya tanganku yang merasakan sakit akibat
pukulan-pukulan yang kuberikan pada mereka. Kulihat sekelilingku, kemudian
mendapati gadis yang kutolong itu sedang memukuli berandal terakhir menggunakan
tas yang ada di genggamannya.
***
“Aaww!
sakit!” teriakku padanya. “Bisa pelan-pelan kan.” Kataku dingin, ia semakin
menekan bagian lebam dipipiku.
“Bukannya
bilang makasih, malah ngomelin, dasar wajah besi, kepala batu, hati kutub
utara.” Jawabnya terdengar kesal. Banyak sekali julukanku darinya. Membuat aku
tertawa terbahak-bahak mendengarnya, wajahnya semakin tampak kesal. Ia
meleparkan kakiku dari pangkuannya.
“aaawww!!
Saakiiit!!” ia mengambil lagi kakiku, menaruhnya kembali pangkuannya, dan
mengolesi salep pereda nyeri, “Terimakasih…” kataku pelan. Dia tidak menjawab,
wajahku terasa hangat. Pasti memerah karena malu, jangan sampai dia tahu.
“Sama-sama..
Makasih juga udah nolong saya tadi.” Jawabnya, suaranya tidak sepelan suaraku,
nada suaranya juga tidak terdengar galak seperti biasanya. Aku tersenyum.
Memandangi seisi ruangan. Lampu gantung berbentuk delapan planet, karpet
antariksa. Ia menyingkirkan kakiku dari pangkuannya pelan-pelan. Dan pergi ke
dapur,
“Saya
cuma ada telur sama nasi. Makan omurice aja ya.” Katanya.
“Nggak
perlu, saya masak sendiri aja nanti.”
“Dengan
keadaan kaki kayak gitu? Nggak ada! Diam disitu. Dua puluh menit lagi
omuricenya jadi.” Tidak lama tercium aroma bawang putih dan bawang merah yang
ditumis dengan margarine, membuat perutku semakin lapar.
***
[Raya]
Aku
menata dua omurice yang sudah tertata rapih di atas piring makan, di atas meja
makan berbentuk segiempat yang terbuat dari kayu, begitu juga dengan bangkunya.
Kupapah tetangga wajah besi, kepala batu, hati kutub utara dan kududukkan dia.
Kubuatkan dia makanan sebagai tanda terimakasih karena sudah menolongku saat
hampir saja aku diperkosa oleh anak-anak berandal yang ada di depan mini
market. Lain kali, lebih baik aku naik angkutan umum dibandingkan harus jalan
kaki, lalu digoda lagi oleh para berandalan itu.
“Ini
ucapan terimakasih saya buat kamu.” kataku. Dia menatap telur dadar yang
membungkus nasi goreng didalamnya, “Silahkan dimakan tetangga wajah besi,
kepala batu, hati kutub utara, sebelum dingin.” Kataku mempersilahkannya.
Ia
menatapku begitu aku menyebutkan panggilan panjangku untukknya, matanya tajam,
wajahnya terlihat ganteng saat kumis dan jenggotnya sudah dicukur. Tidak, aku
tidak boleh suka sama si arrogant
ini. “Saya punya nama.” Katanya dingin. Dia kembali ke dirinya, padahal kukira
dia memang orang baik karena sudah menolongku,
“Saya
kan nggak tahu nama kamu.” Aku langsung melahap omurice. Tapi aku tidak lagi
kesal mendengar nada suara itu, seperti sudah mulai terbiasa. “Tangan kamu bisa
megang sendok? Mau di suapin?” ledekku padanya, dia menatap,
“Bisa.
Nggak usah lebay.” Tangannya gemetaran.
“Masa?
Tangannya gemeteran gitu.”
“Biisaa..
nggak usah rese. Okay? Kita makan aja sekarang.” Aku senang melihat wajahnya
yang sedikit kesal,
“By the way.. Saya Raya.” Kataku,
memperkenalkan diri duluan. Dia tidak menjawab, terus saja melahap makanan yang
kubuatkan. ”Sabar Raya, kamu sudah tahu
karakternya seperti apa, jangan terlalu emosi.”
Kuantarkan
dirinya untuk kembali seusai menghabiskan sepiring bersih omurice, karena aku
tahu, kakinya masih terlalu sakit jika berjalan. Kubantu dia duduk di kasurnya,
dia menatapku. Lalu, dia menyuruhku mendekat, aku menurut. Dan sekarang wajahku
menjadi sangat dekat dengan wajahnya. Dia menyingkirkan poniku, lalu jidatku
dijitak olehnya. Aku meringis tanpa suara, dia tertawa. “Itu balasan karena
kamu terus menatap saya daritadi.” Geram aku mendengarnya,
“Cuma
karena itu?! Ini sakit tauk!” nada suaraku meninggi. “Kamu memang wajah besi,
kepala batu,-“
“Hati
kutub utara.” Potongnya, Ia tersenyum, aku baru sadar kalau dia punya lesung
pipi, “Nama saya Yuda. bukan wajah besi, kepala batu, hati kutub utara.”
Skakmat. Aku tidak bisa membalas ledekannya sekarang. Dia terlihat berkarisma,
wajahnya seperti bersinar dimataku.
“Saya
permisi dulu wajah be.. Yuda. Kakimu akan pulih besok, karena salep itu
manjur.” Aku pergi dari planetnya. Hari ini berlalu begitu cepat, baru tadi
pagi aku kesal dengannya, sekarang jadi akrab.
Terdengar
nada dering dari telepon genggamku, buru-buru aku angkat, takut penting, dan bodohnya
lagi aku tidak tahu siapa yang menelpon.
“Raya?”
suara mama. Aku sebenarnya sedang malas berbicara dengan Ibu yang mengandungku
selama Sembilan bulan sepuluh hari ini, karena obrolan kami akan berujung pada
perdebatan.
“Ya
mam?”
“Kamu
darimana sih? Mama sudah telepon kamu sampai tiga kali, sekarang baru diangkat?”
Suaranya terdengar khawatir, dan tidak ada jeda untukku menjawabnya.
“Habis
nganter tetangga yang sakit Ma. Ada apa?”
“Sayang..
mama kangen.” Aku juga Ma, aku hanya
bisa menjawabnya dalam hati. “Pulang yah sayang. Minggu ini Riani ulang tahun.
Pengin kakaknya dateng.”
“Ma..
Maaf, Raya belum bisa Ma.” jawabku tidak tega.
“Sayang..
itu udah tiga tahun yang lalu. Bahkan dia sudah sehat lagi.”
“Tetap
aja Ma. Aku gak bisa. Aku sangat merasa bersalah. Kalau bukan aku karna dia
nggak akan,-“
“Raya
cukup!” Mama membentak, “Mama mau kamu pulang minggu ini, atau mama minta Pak
Min jemput kamu dan bawa paksa kamu!” nada terputus terdengar.
***
“Nyokap
nyuruh lo pulang? Ya pulang lah, pake
hak cuti lo.” Kata Taka, saat kami sedang menikmati makan siang di sebuah rumah
makan sederhana, di daerah Taman Sari.
“Nggak
bisa Ka.”
“Apa
sih yang bikin lo gak mau pulang?” Taka melahap sushi buatan istrinya, “Bokap
tiri lo? Atau trauma lo?” lanjutnya.
“Dua-duanya.”
Jawabku singkat. Hanya bisa mengaduk-aduk soto ayam yang kucampurkan dengan
nasi didalamnya.
“Dia
udah baik gitu sama lo minjemin apartemennya buat lo.”
“Gue
nyewa. Tiap bulan gue bayar kok uang sewanya ke dia.” Aku tidak pernah
memanggilnya “Ayah” atau “Papa” selayaknya seorang anak memanggil orang tuanya.
Sebaik apapun ayah tiriku, aku tidak bisa menerimanya sebagai pengganti Papa.
“Please deh Ray.. Kepala batu banget sih
lo!” Taka menjitak pelan kepalaku.
“Lo
tau kan kecelakaan itu terjadi karena apa? Kecelakaan itu nggak akan kejadian
kalo gue nggak ngedengar nyokap gue mau nikah lagi, yang waktu itu gue taunya
kalo bokap nyokap gue belom cerai.” Emosiku meluap jika mengingat
kejadian-kejadian buruk itu, “Tapi ternyata mereka udah cerai pas gue kelas enam,
Ka. Mereka bohongin gue. Gue juga punya hati, tapi mereka gak mikirin perasaan
gue.”
“Mereka
mikirin perasaan lo makanya mereka nyembunyiin itu sampe lo siap dan dewasa
buat nerimanya Ray.” Ucapan Raya sama persis dengan penjelasan yang Papa
katakana padaku. Kemudian ingatanku
bermain ke tiga tahun yang lalu.
***
Aku duduk di ruang tv, membaca majalah
yang menjadi langgananku setiap bulannya. Mama menghampiriku, membutkanku es
jeruk peras. Aku tersenyum. Mama selalu tahu kesukaan putri semata wayangnya.
Aku meminumnya, namun raut muka mama berbeda dari biasanya. Seperti ada yang
ingin disampaikan,
“Raya..” Mama memanggil namaku dengan
hangat
“Ya Ma?”
“Raya..” Mama menyebut namaku lagi,
wajah Mama terlihat ragu-ragu
“Ada apa sih Mam?” tanyaku penasaran,
“Dua.. bulan lagi.” Mama bicara
terbata-bata, aku menunggu, “Mama mau menikah.” Aku tersenyum, beranggapan Mama
bercanda, karena Mama suka bercerita hal lucu padaku.
“Mama bercanda kan?” Mama menatapku,
menunjukkan wajah yang tidak bercanda. Pembicaraan ini serius.
“Maafkan Mama Raya..” Mama mengeluarkan
bulir-bulir air dari matanya.
“Mama selingkuh?” Aku menggenggam bahu
mama dengan erat, “Mama jawab aku!” tanpa sadar aku meninggikan suaraku, lupa
akan sopan santun dan hormat pada wanita yang membesarkanku selama 21 tahun,
“Siapa dia Ma?!” Mama hanya terus menangis, “Mama jawab aku!! Mama selingkuh?!
Mama jahat!” Aku lari ke kamarku, meninggalkan Mama yang tidak berhenti
menangis. Bahkan tidak mau mendengar Mama menjelaskannya.
Tanpa pikir panjang lagi aku menghubungi
Papa yang sudah dari lima tahun yang lalu tinggal di Kanada. Telepon ini
terhubung, tidak lama suara papa terdengar dari kejauhan,
“Pa..” aku menangis, aku tidak bisa lagi
menahan air mataku,
“Raya, kamu kenapa?” Suaranya terdengar
panik,
“Mama, Pa..”
“Kenapa Mama kamu?”
“Mama mau menikah lagi…” aku tidak bisa
merahasikannya, papa harus tahu bahwa Mama mengkhianatinya. Lama tidak ada
jawaban dari Papa, “Pa..” aku memanggilnya lagi, memastikan telepon antar
Negara ini masih tersambung,
“Raya, dengarkan Papa, Sayang…” Papa
terdiam lagi, “…Papa sama Mama udah bercerai, Sayang. Jadi, itu hak Mama buat
menikah lagi…” Aku tidak mengerti dengan situasinya.
“Maksud Papa?” aku memastikan yang
terjadi.
“Papa sama Mama sudah bercerai sejak
kamu kelas enam sayang..”
“Kalian ngebohongin saya?!” suaraku
meninggi lagi. Kututup teleponnya. Pikiranku kalut. Aku ambil kunci mobil. Ingin
pergi sejauh-jauhnya dari rumah, tidak ingin melihat wajah Mama. Bahkan aku
tidak ingin kembali kerumah ini lagi. Mereka tega, aku benar-benar tidak habis
pikir dengan apa yang telah mereka – orang tuaku rahasiakan selama ini. Pantas
saja papa jarang pulang, pantas saja Mama banting tulang untuk menghidupi
dirinya bahkan aku. Aku merasa dibohongi.
Pikiran yang kalut benar-benar merasuki
otakku tanpa memberikan kesempatan pikiran jernih masuk untuk menenangkan
hatiku. Aku pun melajukan mobilku dengan kecepatan diatas 100, hingga tiba-tiba
hujan mengguyur dengan deras, gelap, aku tidak bisa melihat jalan, lalu
berusaha menurunkan kecepatan. BRUG!! Aku menghantam sesuatu. Aku keluar mobil,
memastikan apa yang kutabrak. Tubuh seorang gadis terkapar beberapa meter dari mobilku,
kepalanya dipenuhi darah. Aku terduduk lemas, tidak bisa berpikir, banyak orang
mengerubungi kami. Tiba-tiba semuanya gelap.
Kulihat Mama disampingku, menggenggam
tanganku dan menatapku nanar. Aku ada ditempat tidur. Terakhir, yang kuingat
aku menabrak seorang gadis yang umurnya mungkin lebih tua dariku. “Ma..” Mama
hanya tersenyum. Mengelus rambut panjangku, aku menangis. Mama mendekapku dalam
pelukannya, mencoba menenangkanku.
“Tenang Sayang…”
“Aku mau lihat dia Ma…”
Lalu Mama mengajakku ke sebuah ruangan, walaupun
awalnya Mama melarangku. Disana ada keluarga korban. Gadis yang kutabrak
terbaring lemah di atas tempat tidur. Kepalanya di balut perban, nafasnya di
bantu oksigen, dan ada alat detak jantung. Aku menatap wanita paruh baya dan
seorang laki-laki yang tampaknya lebih tua dariku. Laki-laki itu menatapku
penuh dengan kebencian, aku tidak berani menatapnya. Aku berjongkok, memohon
ampun pada wanita paruh baya yang ada dihadapanku.
“Ibu.. Saya mohon maaf..” aku menangis,
aku sungguh tulus meminta maaf. Laki-laki tadi pergi dari ruangan dan
membanting pintunya. Ibu itu menyuruhku untuk berdiri, menghapus air mataku,
dan tersenyum.
“Sudah takdir. Mau dibagaimanakan lagi.
Yang penting, anak Ibu selamat.” Ibu ini tidak menyalahkanku, namun perasaan
bersalahku padanya semakin berkembang.
“Saya akan bertanggung jawab atas
pengobatan anak Ibu..” Mama ikut bicara, Ibu itu hanya tersenyum.
***
Sejak itu, setiap hari aku
mengunjunginya. Memastikan semuanya baik-baik saja. Sekalian menemani wanita
yang sudah menunjukkan keriput pada wajahnya. Gadis ini akhirnya membuka
matanya yang kemudian bergantian menatapku dan Ibunya. Aku memberikannya
senyuman. Namun wajahnya terlihat bingung,
“Maaf, Ibu siapa ya?” aku dan Ibunya
bertatapan.
“Ini Ibu sayang..” Perlahan aku mundur.
Dia tidak ingat siapa Ibunya. Aku lari dari ruangan. Tidak bisa lagi melihat
apa yang selanjutnya terjadi. Duduk dimobil, memukul-mukul dadaku, sesak
rasanya karena dipenuhi rasa bersalah yang entah bisa digantikan oleh apa.
Kalau saja pikiranku waktu itu tenang, tidak mengebut, gadis itu sekarang masih
mengingat Ibunya. Raya penjahat!! Teriaku dalam hati.
“AAKKKH!!” Aku menangis histeris sambil
memukuli diriku sendiri.***

0 komentar:
Posting Komentar