5 Tahun Lalu.
Aku menatap langit yang mulai
ditutupi awan hitam – tanda-tanda akan turun hujan. Tidak lama kemudian merasa
air jatuh ke pipi, sepertinya aku berbakat jadi peramal berucap dalam hati. Tinggal
beberapa langkah lagi masuk ke daerah stasiun, tapi hujan tidak memberiku
kesempatan menjaga penampilan agar tetap stylish,
‘mereka’ datang bergerombol, memandikan manusia-manusia di ruang terbuka, lari
terbirit-birit mencari tempat berteduh, begitu pula denganku.
Tanpa sengaja aku menabrak seorang
bertubuh tidak begitu tinggi, kami saling bertatap, seketika terpikir kami
layaknya pemeran utama pria dan wanita dalam salah satu scene ftv, namun semua buyar begitu saja saat ia mendorongku tanpa
perasaan. Menatapnya penuh rasa kesal, tapi wajahnya terlihat lebih kesal
daripada aku yang didorong olehnya.
“Kotor, jadi jangan dekat-dekat
saya.” Lalu ia pergi begitu saja, masuk ke area stasiun kereta. Dingin, bukan
udaranya, tapi ucapannya.
Lelaki macam apa berbicara
seperti itu pada perempuan yang tidak sengaja menabraknya.
Lupakan soal lelaki berwajah dingin
tadi, aku mencoba membersihkan converse kesayangan juga kemeja denim yang basah
dan kotor akibat kehujanan sebentar, kemudian kembali berjalan menuju peron 2.
Tidak boleh terlambat di hari pertama UAS, mengingatkan diri agar tetap fokus.
Firasatku benar, terlambat! Tepat
pukul 12.01 aku tiba didepan ruang tempat ujian diselenggarakan, aku masuk diam-diam.
Bukan mengendap-endap, tapi tetap mencoba masuk. Hingga ada yang berdiri di
hadapanku sesaat beru saja aku duduk, mendongak,
“Berdiri.” Ucapnya dingin
Lelaki yang tadi.
“Keluar. Anda terlambat 1 menit
30 detik.” Wajahnya datar, tidak berekspresi. Mengerikan.
“Tapi pak-” sanggahku
“Tidak ada tapi. Sekarang Anda
boleh keluar.” Potongnya. Aku berdiri. Rahang mengeras, menyambar tas dan
menghentakkan langkah kaki dengan keras kemudian pintu ruangan kubanting
menandakan bahwa aku benar-benar kesal, tidak peduli pandangan mereka yang
menatapku.
Satu jam setengah kemudian kelas
bubar. Mahasiswa lain memandangku yang masih menunggu wajah bongkahan es itu
keluar dan mencoba untuk meminta keringanan darinya, setidaknya aku bisa memohon
susulan. Masuk ke ruangan begitu semua mahasiswa sudah tidak tersisa di dalam.
Kulihat dia masih membereskan
berkas-berkas ujian,
“Permisi pak, saya hanya
terlambat 1 menit 30 detik, lebih baik daripada telat 1 jam 30 menit
sepersekian detik.”
“Kata ‘lebih baik’ yang Anda ucapkan
tetap saja buruk. Dua kata itu tidak pantas diucapkan untuk membandingkan dua
kesalahan yang sudah Anda perbuat.” Kemudian ia pergi meninggalkanku yang masih
terpaku. Wajah dinginnya ingin sekali aku lempar menggunakan penghapus papan
tulis.
Menurunkan ego, kukejar ia yang
hampir menuruni anak tangga,
“Setidaknya beri saya kesempatan
untuk mengulang atau perlu saya terima tugas pengganti apapun, yang penting
mendapatkan nilai untuk nilai akhir.”
“Saya hanya pengawas, bicarakan
saja pada professor bersangkutan.” Ia menyuruhku minggir menggunakan
telunjuknya. Rahangku makin mengeras kesal. Memang apa yang ia katakan benar,
tapi tetap saja aku kesal mendengarnya. Sekarang, bukan hanya penghapus papan
tulis yang ingin kulempar ke kepalanya, tapi bangku di sekitar ku.
***
2016
Tubuh yang basah tiba-tiba memeluk saat kubuka pintu,
“Saya mau sama kamu selamanya.” Suara Dia menyatu bersama hujan, tapi
yang kudengar jelas, sangat jelas. Kali ini aku dapat merasakan hangat
tubuhnya, mampu mencium aroma harum khasnya dari dekat. Pelukannya pun makin
erat, seperti tak ingin jauh semili pun dari hadapanku. Ini pertama kalinya ia
memelukku, pertama kali berada di jarak paling dekat dengannya.
Hujan sukses membawa arus
kenangan masa lalu, jantungku pun kembali berdegub tiada henti. Kalimat itu
yang terakhir kudengar, beberapa hari kemudian, bukan – bahkan sampai sekarang
aku tidak lagi melihat wajahnya, di stasiun, di kampus, dimanapun, aku tidak
bisa menemukannya. Dia bak ditelan bumi, menghilang tanpa jejak.
Suudzon, bisa dikatakan seperti
itu, persepsi buruk mengenai kehilangannya memenuhi pikiranku selama beberapa
tahun ini. Helaan nafas terasa lebih berat sekarang karena hujan kembali
membawaku pada kenangannya.
***
5 Tahun Lalu.
Teng… nong… neng…
Dilanjutkan pemberitahuan dari
staff stasiun bahwa kereta baru saja tiba di pemberhentian terakhir. Orang wara
wiri ke sana kemari, yang baru saja turun digantikan oleh yang naik untuk pergi
ke tujuan mereka, serangan manusia yang akan naik lebih kejam dibandingkan yang
akan turun. Padahal jelas-jelas di sisi pintu kami – para calon penumpang yang
akan naik harus mendahului penumpang yang akan turun, sudah jelas bahwa mereka
menghiraukan ‘warning’ itu.
Tiba-tiba seseorang menarik tasku
lumayan kuat, menatap wajahnya yang tak berekspresi, saat ini bagiku bertemu
dengannya adalah mimpi buruk atau kesialan, bisa jadi keduanya.
“Ada urusan apa?” tanyaku. Sudah
jelas raut wajahku terlihat kesal dan sama-sekali-tidak-ingin-melihatnya.
“Hari ini saya tunggu kamu di
ruang 201 untuk ujian susulan, permintaan Prof Rachmadi.” Dia meninggalkanku
yang masih diam terpaku. Suaranya yang berat menghipnotis gelendang telinga,
membuatku terdiam cukup lama hingga,
“Neng jangan bengong, mau naik
tidak?” ucap seorang ibu, menyadarkanku dari lamunan. Baru saja sadar bahwa aku
berdiam di depan pintu kereta, sedikit menghalangi orang yang ingin naik.
Kuulangi momen beberapa hari
kemarin, belum sempat aku menghadap Prof. Rachmadi – mata kuliah yang tidak
sempat kuikuti ujiannya. Tapi mengapa Prof. Rachmadi bisa mempertimbangkan
untuk aku ikutan susulan. Aku berjalan terus, menyusuri gerbong, sebuah
telunjuk menahan dahiku, kutatap Dia, kesal! Dia lagi?!
“Tidak fokus! Ini mahasiswa yang
IPK nya di atas 3,50?” Wajahnya benar-benar tidak memiliki ekspresi, dingin,
tak ada karisma, terasa auranya pun tidak. Dia manusia atau setan? Mungkin juga
vampire. Pikiranku merajalela kemana-mana. Mencoba membuat jalan pikiranku
lebih nomal dari biasanya.
Memutuskan untuk berdiri tepat di
sebelahnya, seperti merasa jijik berada di dekatku, Dia melangkah ke samping
kiri sebanyak 3 langkah. Aku tersenyum sinis, sudah kuduga. Dia memang orang
yang dingin bahkan hingga ke hatinya. Beku, makanya tak memiliki perasaan
apapun.
***
“Alena!!” Seseorang meneriaki
namaku, berbalik, wajahnya asing. Aku menatap penuh tanya, ia tampaknya cukup
mengerti dengan komunikasi non verbal yang kulakukan, “saya Puteri. Teman
sekelas kamu di kelas manajemen perusahaan.” Tangan yang kecil ia ulurkan, aku
membalasnya ragu.
“Tegang banget mukanya..” ia
tersenyum, “Oia, kamu sudah dapat kelompok?”, Aku hanya menggeleng, “mau
sekelompok sama saya?” aku diam, berpikir. Kenal dia saja baru sekarang. Dia
mengajak untuk kerja kelompok? ku tolak saja, toh sudah terbiasa mengerjakan
semuanya sendiri, “please… jangan ditolak… saya butuh kamu… saya sudah gagal
sekali di mata kuliah ini karna tidak ada yang mau sekelompok dengan saya
sebelumnya.” Wajahnya penuh harap, jujur aku paling tidak tega melihat wajah
kucing memelas seperti ini. Tanpa sadar, kepalaku mengangguk, meng-iyakan apa
yang diminta. Putri pun bergerak riang layaknya anak kecil diperbolehkan
membeli yang disuka.
Tak terkendali bibirku ikut menyunggingkan
sebuah senyuman, ikut senang bersamanya, dia sahabat pertamaku sekaligus orang
yang mampu mematahkan semangatku akan cinta.
***
Mataku yang lelah sudah tak
sanggup dibuka kembali, tidak dapat tempat duduk di kereta maka lebih memilih kepala
menopang pada lengan yang menggantung – sudah biasa bahkan memiliki gaya tidur
khas milikku sendiri. Ciiit… kereta ngerem mendadak, tubuhku tak sampai ke
lantai berkat seseorang entah siapa, aku mendongak, Dia lagi?! Mengomel dalam
hati, bukannya membantuku berdiri ia malah melepaskan tangannya hingga aku
jatuh ke lantai kemudian Dia pergi menyusuri gerbong. Kesal! Sangat kesal, apa
yang dia mau sebenarnya?! Lebih baik tak usah menolong kalau ujung-ujungnya
begini. Merutuknya dalam hati.
Kereta pun kembali melaju,
beberapa menit kemudian terhenti lagi, ngerem mendadak diikuti lampu mati.
Semua penumpang panik termasuk aku, “Penumpang diminta untuk tenang, terjadi
kendala pada laju kereta, harap semua siap siaga.” Apa yang dikatakan masinis
tak dapat menenangkan bahkan makin memperburuk keadaan.
Tiba-tiba saja segerombolan
penumpang dari gerbong depan berlarian ke arah belakang terburu-buru. Suasana
makin tak terkendali, tubuhku tertabrak hingga jatuh dan tak dapat bangun lagi.
Yang lainnya berusaha memecahkan kaca kereta agar dapat keluar, aku ingin ikut
keluar tapi tubuh ini tak bisa, tertahan sana-sini oleh tubuh manusia lainnya
yang lebih besar.
Seketika aku beprikir, “akhirnya
hari ini datang juga dimana aku akan bertemu kembali dengan ayah dan ibu.”
Hingga seseorang mengangkatku, si asdos berwajah dingin. Kali ini Dia
benar-benar menolong ku, mengangkat tubuhku agar dapat melewati kaca yang sudah
pecah, aku melompat diikuti olehnya. Kami berlarian bersama penumpang lainnya
yang berhasil keluar.
“Jangan ke arah sana!” teriaknya
padaku untuk memutar laju, “kita harus cepat cari tempat berlindung,
kemungkinan kereta ini akan meledak.” Aku kaget mendengarnya, tak masuk di
akal. Aku sedikit mencuri lihat ke belakang, gerbong bagian depan sudah
terbakar entah apa penyebabnya.
Doooaaar! Gerbong bagian ketiga
dan keempat meledak, nyala api tampak sangat terang memperlihatkan para
penumpang tunggang langgang berlari secepat mungkin agar bisa selamat, aku
terdiam, Dia menarik tanganku, menyuruhku lebih cepat karena api sangat ganas
memakan tiap gerbong. Kanan-kiri kami tidak ada rumah penduduk hanya kebun tak
berpenghuni tanpa ada tanda kehidupan. Gelap.
Setelah lumayan jauh berlari,
kami pun dapat melihat cahaya lampu rumah penduduk, bersama penumpang lain aku dan
Dia pun terduduk sejenak, tak lagi kuat berjalan apalagi berlari. Ia
melemparkan jaketnya yang bermaterial tebal, “pakai.” Kali ini kuturuti apa
yang ia katakan, “kita harus jalan, didepan sudah ada rumah penduduk sesegera
mungkin cari pertolongan. Kita jalan saja tak usah lari seperti tadi.” Aku
mengangguk. Ku tengok jam tangan digital di tangan kiri, pukul 20:41,
kejadiannya cepat, tak terduga.
Hujan pun turun menemani kami
menyusuri jalan setapak, seperti yang sudah kujelaskan tadi, kiri kami adalah rel
kereta sedangkan di sebelah kanan hanya kebon dipenuhi pohon menjulang tinggi
berdaun lebat. Ia berjarak beberapa langkah di depanku. Tubuhnya yang tidak
terlalu besar sanggup menyelamatkanku dari hectic-nya
kondisi kereta. Kali ini aku sangat amat berterima kasih padanya, kalau bukan
karena ia menolong mungkin aku sudah hangus tak dapat dikenali. Memperpendek
jarak di antara kami,
“Terima kasih.” Kataku, namun Dia
terdiam cukup lama, kami pun terus berjalan
“Untuk apa?” Tanyanya
“Menyelamatkan saya.” Jawabku tak
kalah singkat
“Sudah seharusnya.”
Aku mengangguk, “kenapa kereta
bisa seperti itu?”
“Saya juga tidak tahu. Tiba-tiba
masinis menyuruh kami untuk pergi ke gerbong belakang, mungkin ada yang
konslet.” Takjub, Dia bisa berbicara banyak ternyata
Anggukan kepalaku sekali lagi,
tidak ada jawaban dariku maupun penjelasan lebih rinci darinya. Suara hujan
menemani langkah kami yang mulai gontai, penumpang lain berusaha berjalan
semampu mereka sama seperti kami.
“Iyah bik, saya baik-baik saja
kok.” Aku tahu suara bibik terdengar khawatir di sebrang sana.
“Ehem.” Dia berdeham dibelakang,
“aku sebentar lagi pulang,
setelah melakukan pendataan sama pihak krl, tak perlu khawatir aku akan pulang
dengan selamat.” Kututup telfonnya,
“Pulang sendiri?” Aku mengangguk,
jarak kami mengobrol cukup jauh. Lalu ia menyodorkan teh hangat dalam gelas
plastik, meraihnya dan ucapkan terima kasih, “saya duluan.” Katanya kemudian.
Tanpa berjabat tangan, tanpa mendengar balasan dariku ia berbalik dan pulang.
***
Bukan maksud hati mengucap kata
kasar, kulihat punggung Putri menjauh dari tempatku berdiri. Aku yang baru saja
memiliki sahabat kini kehilangannya hanya dengan sebaris kalimat, benar kata
pepatah “mulutmu harimaumu”, hati ini ingin mengejar tapi kaki tak dapat bekerjasama,
aku diam terpaku, menatapnya hingga hilang termakan kerumunan.
Menatap nasi rames, sedaritadi
tak ku sentuh sedikitpun, hari sabtu, kampus tampak lengang, ya hanya beberapa
dosen yang ingin mata kuliahnya di akhir pekan seperti sekarang. Tidak henti
merutuk diri sendiri. Dari sebrang seseorang berdeham, mencoba menyadarkanku
dari lamunan tapi tidak ada ketertarikan sedikitpun bagiku menghiraukannya.
“Dimakan.” Suara yang amat
kukenali. Masih diam. “Sampai kapan?” tanyanya kemudian. air mata jatuh di
pipi. Aku menangis tanpa di sadari.
Ya aku tahu, mulutku sangat
sarkastik, baru kali ini menjalin persahabatan tapi kurusak begitu saja, dasar
tidak pernah bersyukur. Tangisku makin pecah, Dia disebrang sana masih diam
melanjutkan makannya. Tidak menggangguku. Setelah aku cukup tenang, baru
kusadari Dia sudah berpindah tempat duduk, berada di ujung meja tempat dimana
aku menangis sedari tadi, menatap tanpa ekspresi.
“Saya nggak mau cerita.” Ucapku
tanpa Dia pinta
“Emang saya nanya?” Tanyanya
dingin.
Tidak tahu sejak kapan aku dan
Dia bisa dibilang makin akrab, bahkan terkadang kami banyak berbincang tentang
segala hal kala tak sengaja bertemu di kereta – walaupun kami duduk
bersebrangan. Aku terdiam, mengusap sisa air mata di wajah.
Dia berada di ujung meja begitu
pula aku, mulutku berucap sesuatu “Saya…” bercerita tentang kejadian tadi pagi,
berbicara kasar pada Puteri, Dia seksama mendengarkan tanpa mengucap sepatah
kata sampai aku selesai berbicara.
“Mau saya kasih masukan atau mau
saya cukup mendengarkan?”
“Saya butuh masukan”
“Sampai kapan mau melihara
gengsi?” aku terdiam. “Sampai kapan kamu mau jadi batu?” aku masih diam. “Mau
sampai kapan kamu sendiri?”
Baru pertama kali ada yang
bertanya demikian padaku, ucapan dari seseorang sangat dewasa mengetuk mataku,
memberi titik cerah, ia benar, “mau sampai kapan jadi orang anti-sosial?” Tak
semua, tak selamanya orang itu buruk. Puteri, dia tidak mengasihaniku, dia
menerimaku sebagai seorang sahabat, sebagai seseorang yang butuh peran orang
lain dalam hidupnya.
Baru kusadari, ternyata Dia
adalah tetesan air yang selama ini kutakutkan. Aku sudah mengutuk diri sendiri
jadi batu, tapi semua luluh juga runtuh karenanya. Tuhan, bagaimana bisa? Dia
siapa?
“sudah yah, saya mau pulang.” Dia
beranjak, “Bareng?” Mengangguk kemudian mengekorinya dari belakang.
Setiap langkah kami terlihat
berirama – aku beberapa langkah darinya, tak pernah sedikitpun berbincang dari
jarak dekat, jalan bersama minimal 3 langkah, duduk satu meja seperti tadi tapi
dia diujung begitupun aku. Namun, Dia mengetuk pintu hatiku. Dia orang pertama
yang kalahkan musuh terbesarku, ego. Ego itu kini sedikit demi sedikit mulai
menipis, layaknya lapisan ozon di cakrawala.
Jalannya berhenti, secara
otomatis kaki pun begitu. Ku tatap ke arah depan, Puteri berada tepat dihadapan
Dia, menatapnya penuh kecewa, apalagi saat menatap ke arahku. Cuma bisa
menundukkan kepala. Kepala yang selalu
terangkat ke atas ini kini hanya bisa tertunduk.
“Sedang apa kamu di sini?” bisik
Dia walaupun masih bisa kudengar
Mereka terdengar akrab. Cukup
terkejut karena ternyata berdua saling kenal. Dan yang kutahu temannya hanya
aku.
Berbalik arah, tak mau mengurusi yang
bukan urusanku, walaupun cukup penasaran ada apa dengan mereka.
Ini seperti bukan Alena. Kemana
Alena yang dulu? Alena yang berjalan dengan kepala terangkat ke atas, acuh dan
paling tidak suka mengurusi orang lain.
***
Beberapa hari tak kudengar lagi
kabar darinya, tak terlihat dimana pun. Kali ini Dia datang ke rumah dengan
cara lebih mengejutkan.
Mataku membulat, tepat
dihadapanku Dia basah kuyup terguyur hujan. Tubuh yang basah itu tiba-tiba
memeluk saat kubukan pintu,
“Saya mau sama kamu selamanya.”
Suara Dia menyatu bersama hujan, tapi yang kudengar jelas, sangat jelas. Kali
ini aku dapat merasakan hangat tubuhnya, mampu mencium aroma harum khasnya dari
dekat. Pelukannya pun makin erat, seperti tak ingin jauh semili pun dari
hadapanku. Ini pertama kalinya ia memelukku, pertama kali berada di jarak
paling dekat dengannya.
Setelah cukup lama ia mendekap tubuhku,
“Saya sayang kamu, Alena.” Ucapan
itu membuat bibirku terkunci, entah harus berkata apa, dia menatapku sebentar
kemudian pergi.
Berlari mengejarnya. Kaki yang
dulunya berat ini, kini dengan ringannya melangkah dengan cepat. Menggapai
cinta pertama.
Memeluk tubuhnya dari belakang,
“Saya juga. Saya sayang kamu.” Tubuhku ikut dibasahi hujan.
Beberapa saat kami sama-sama
bermandikan air langit.
Ia melepaskan tanganku dari
tubuhnya. Kemudian pergi, tak pernah berpaling dan menghilang.
***
2016
“Coba kamu cari tahu siapa
sebenernya dibalik semua ini ya, saya nggak mau kerjaan kita tersendat hanya
karna pengerat pemakan kayu seperti mereka!” suaraku meninggi
Lelaki berusia setahun dibawahku
mengangguk-angguk mengerti. Mungkin dia sedikit takut karna wajahku terlihat
sangat seram hari ini. Merasa kesal karena beberapa serangga penghambat proyek,
keuangan kantor sedikit over budget
dan beberapa petinggi perusahaan akhirnya ketahuan melakukan korupsi. Sekacau
ini perusahaan ayah kutinggalkan. Tak kuduga, mereka adalah orang terdekat ayah
sendiri.
Sudah waktunya makan siang,
jangan tanya aku makan dengan siapa, sudah pasti sendiri. Trauma akan
persahabatanku dan Puteri, aku pun kembali menjadi batu, karyawan bahkan segan.
Kembali menjadi diri yang dulu. Ini membuatku lebih nyaman, lebih kuat juga
tangguh.
Mulai sekarang aku tak akan
goyah. Sedikitpun.
Restoran cepat saji yang biasa
kukunjungi hari ini lebih ramai dari biasanya. Namun, karena sendiri aku masih
dapat tempat duduk.
“Alena?” Seseorang menyebut namaku,
berpaling. Mataku membelalak, kulihat wajah perempuan yang sudah sangat lama
tak kutemui, ia tertawa melihat reaksi non verbalku. Kemudian memeluk. “Apa
kabar?” aku diam
“Baik. Kamu apa kabar?” jawabku
kemudian
“Baik.” Hening diantara kami
sesaat. Terasa sangat canggung, karena terakhir kami bertemu dalam suasana
buruk
“Sendiri?” tanyanya, aku tahu ia
mencoba memecah keheningan. Aku hanya mengangguk. “kenapa kita jadi canggung
gini yah Al. Saya kangen kamu sebenarnya.” Puteri terlihat malu-malu akan pengakuannya
“Saya juga Put, terakhir saya
ketemu kamu, saya mau minta maaf. Tapi tidak punya nyali.”
Kami pun tertawa, “kayanya ada
sesuatu yang harus kamu tahu juga deh Al.”
Aku menatap penuh tanya,
lagi-lagi Puteri mengerti
“Kamu masih inget sama Dia kan?”
aku hanya bisa diam, “Al, mungkin waktu itu kamu bingung. Begini, saya sama Dia
udah dijodohin.” Ceritanya menarik, aku Cuma tersenyum kecut, “Dia Cuma sayang
sama kamu Al, yang kutahu dari ibunya ia adu mulut dengan ayahnya kemudian
pergi dari rumah. Kita semua juga nggak tahu Dia dimana. Hilang gitu aja.”
“Saya nggak nyangka kalau Dia
milih buat pergi Al. Ibunya sakit-sakitan terusan mikirin Dia. Tapi Dia beneran
pergi tanpa ninggalin jejak apapun, dia hilang gitu aja Al, kami semua juga
bingung.” Pipiku sudah basah oleh air mata. Merasa bersalah.
“Semua karna saya Put.”
“Nggak Al, itu memang kemauan Dia
sendiri.” Puteri memelukku, terasa begitu hangat dipeluk oleh sahabat lama.
“Berharap Dia baik-baik saja Al. Kita sama-sama tahu Dia orang yang cukup
tangguh menghadapi masalahnya.” Tangisku makin kencang. Tak perduli lagi akan
orang-orang sekitar yang melihat.
Dia, hujanku.
Dimanapun dirimu berada, aku
menunggumu.
Selamanya.***