Kamis, 26 Mei 2016

Tak Kemana #1

0

“Bulannya bagus, ya.” Aku mengernyitkan dahiku dan ia menarik nafas panjang. “Saya sayang kamu, El.” Ucapnya seraya menggenggam tanganku. Kami pun terdiam. Terdiam, karena ia tahu, terlalu berat baginya untuk bersamaku. Terdiam, karena ia pun tahu, aku memiliki rasa yang sama padanya. Sejak saat itu, Adhyaksa adalah sosok yang menghuni hatiku, selamanya.
***
“Semuanya, rapat orangtua siswa kali ini, nggak bisa saya support karena saya akan jadi wali dari Sabila. Seluruh informasi akan disampaikan oleh Dion, selaku kepala bidang perkembangan di daycare ini, dan segala persiapan akan di handle oleh Tamara dibantu masing-masing pengajar setiap kelas. Saya mohon kerjasama yang baik dari kalian semua. Karena saya nggak ingin ditengah-tengah rapat harus menginterupsi karena ada yang kurang sesuai. Semuanya paham?” aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan.
“El, tenang ya… kamu udah nyampein ini berkali-kali loh sama kita semua.” Dion, kakak sepupu-ku, seorang psikolog yang selalu dengan tenang mengingatkanku.
“Iya, tapi saya ga denger progress apapun dari kalian. Jadi saya ga tenang.” Ucapku dengan nada yang sedikit meninggi.
“El, sudah nggak ada progress lagi. Rapatnya kan sore ini.” Ucap Tamara yang lebih akrab disapa Tama. Kakak sepupuku yang lainnya.
“Sebenarnya ada, Mbak Elvita.” Kak Rini – salah satu pengajar sekaligus pengasuh yang bertugas di kelas Sabila, angkat bicara. “Orangtua Abia akhirnya ngasih RSVP nya, Mbak.” Mendengar apa yang ia katakan membuat senyumku terbentuk seketika, memberi sedikit cerah bahwa memang ada progress seperti yang kuinginkan.
Abia, anak tampan yang selalu bijak dan memperhatikan kawan-kawan sekelasnya serta membimbingnya. Selama hampir 1 tahun dengan jumlah rapat yang selalu kami adakan setiap 2 bulan sekali, belum pernah orangtua Abia hadir. Selalu nenek atau kakeknya.
“Syukurlah. Saya penasaran orangtuanya seganteng dan secantik apa sampai punya anak setampan itu.” Semua manusia dalam ruanganpun tertawa, seolah tanda untukku mengakhiri rapat yang sesungguhnya tidak terlalu penting ini.
“El, keruangan gue ya! Ada yang perlu gue tanyain sama lo. Tapi gue ambil dulu minum.” Dion menepuk bahuku, dan meninggalkanku yang langsung berganti arah menuju ruangannya. Ruangan yang selalu tertata rapi, nyaman dan selalu menjadi ruangan untuk menenangkan diri. “Nih, buat lo.” Dion memberikan salah satu cangkirnya dan menutup pintu ruangan menggunakan kakinya. “Yang sekarang bikin lo nervous apa sih, El? Rapat atau jadi orangtua wali Sabila?” aku mengangkat bahuku. “Okay, itu pertanyaan bodoh. Tapi, Mahar sama Dira nitipin Sabila sama lo dan Ompi loh! Mereka percaya sama lo berdua.”
“Ini berasa terlalu cepet aja gitu, Di… emang gue bisa?”
“El, ini cuma rapat orangtua siswa. Lo udah tau apa materi didalemnya. Sekeliling lo juga banyak banget yang dukung lo termasuk sesepuhnya Sabila. Elo yang dipercaya, masa sekarang elonya yang ga percaya sih?” aku hanya membalas dengan senyuman. Rasanya percuma berdebat dengan seorang psikolog yang tau percis bahwa hal yang diragukan sebenarnya tidak penting  ataupun masuk akal. “Sebenarnya apa yang lo rasain itu wajar, El. Lo sekarang bertanggung jawab atas hidup manusia kecil yang nggak tau kalau orangtuanya nggak akan pulang-pulang lagi kerumah.” Seketika airmataku terjatuh.
“Gue ngerasa ngerebut tempat Mahar, Di… ya walaupun bukan keinginan siapapun sih. Tapi itu yang gue rasain. Harusnya Mahar yang disini sama kayak rapat-rapat sebelumnya. Susah banget buat gue ngehapus bayangan gimana excited-nya Mahar dengar perkembangan Sabila.” Air mata yang semula jatuh perlahan, kini mulai deras sejalan dengan berat yang ada di dadaku.
“Musibah ini bukan salah siapapun, bukan juga keinginan siapapun. Jadi, lo nggak bisa ngerasa kayak gini. Inget, ini bukan tentang lo. Tapi tentang anak kecil yang sangat sayang sama lo, yang orangtuanya percaya banget sama lo.”
“Gue masih berkabung karena kehilangan sahabat gue, Di.”
“Dan karena itu lo mau galau-galau ga penting, sementara lo diamanatkan oleh sahabat lo itu bagian dari mereka? Sahabat Mahar dan Dira bukan lo doang, El. Tapi mereka nggak seberuntung lo yang legal ngasuh anaknya dimata negara. Bahkan nggak kakek dan neneknya Sabila. Tapi lo sama Ompi!” Kalimat itu membungkamku dan airmata ku. Sejak lahir, Sabila adalah anugrah bagi kami yang mengenal orangtuanya. Hadiah dan harapan semua orang, dengan perpaduan wajah sempurna keduanya. “Sekarang lo cuci muka, tidur sebentar ato jalan sebentar liat anak-anak gih. Biar fresh muka lo!”
***
Melangkahkan kaki kembali ke gedung yang menjadi darah dan dagingku ini tak seringan biasanya. Dalam 30 menit, para orangtua akan berkumpul bersama, membahas mengenai perkembangan putra-putri kesayangan dan kebanggaan mereka. Selalu menyenangkan bagiku melihat kebahagiaan yang terukir jelas dalam wajah-wajah mereka.
Tepat dua bulan yang lalu, Mahar menginjakkan kakinya disini dengat tujuan yang sama. Tepat dua bulan yang lalu juga, Mahar meninggalkan tempat ini dan pergi dari dunia yang kami tinggali bersama dengan belahan hidupnya, meninggalkan putri kebanggaan mereka di gedung ini.
“Mime!” Suara terindah yang selalu kunantikan setiap saat membuyarkan lamunanku dan tak lama kemudian, sepasang tangan memeluk lututku dari belakang yang belum sempat membalikan posisinya, badanku berputar dan memandang kebawah, menemui sepasang mata coklat hangat yang begitu dalam. “Mime dateng!”
“Kalo Mime nggak dateng, siapa dong yang mau masangin pin bintang dikerah Bila?” tanyaku seraya menggendong tubuh yang tergolong mungil bagi usia 3 tahun. “Bila tadi makannya bagus nggak?” gadis kecil dengan rambut merah ikal nan tebal itu mengangguk dengan semangat. “Masa? Mime ga percaya!”
“Sueerr! Ciyuuss!” jawab Bia sembari mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya yang selalu membuatku tertawa.
“Berarti ada yang boleh dapet kue coklat!” aku mengeluarkan sebuah cakepop dari dalam tas tanpa harus menurunkan gadis cantik dalam gendongan. Dengan semangat ia mengambil kue tersebut dari tanganku, namun cemberut menggantikan senyum manisnya. “Kenapa? Bila kan suka kue itu.”
“Kuenya wat Abi aja, leh?” aku tersenyum. Orangtua wali Sabila yang satu lagi bernama Vian namun lebih sering disapa Ompi, selalu memintaku untuk menjauhkan Sabila dari playboy kecil sok ganteng bernama Abia. Aku mengeluarkan sebuah kue serupa yang memang sengaja ku ambil untuk Abia – Sabila selalu ingin membagi makanannya bersama Abia.
“Kita kasihkan bareng ya! Abia nya dimana coba?” aku mengedar pandanganku dan melihat sosok Abia yang sedikit bersembunyi dibawah tenda yang sengaja kupasang di taman bermain day care ini. “Hello… Abia kenapa?” tanyaku seketika kami menghampiri balita tampan itu. Sayang, pertanyaanku hanya dijawab dengan gelengan kepalanya. “Okay deh, Miss El punya kue coklat loh untuk Abia!” cokelat penolong, kini wajah murungnya sedikit cerah begitu mendengar tawaran yang kumiliki. “Tapi syaratnya, anak ganteng yang mau kuenya harus rajin senyum. Nggak boleh cemberut kaya gini.” Tanpa berbicara, Abia menyunggingkan senyuman yang kuyakini akan membawa banyak bencana bagi para wanita setelah ia besar nanti.
“Abia, dicari ayahnya.”
Ekspektasiku Abia yang murung akan jadi ceria dan berlari menghampiri pengajar yang memanggilnya. Namun, ia memeluk lenganku erat seolah takut atas kehadiran Ayahnya. Sang pengajar yang melihat reaksi Abia melemparkan pandangan tanya padaku. “Bawa kesini aja Ayahnya.” Ucapku yang disambut anggukan oleh nya yang lalu menghilang dari pandangan kami.
“Abia, kenapa? Kan Ayah datang.” Abia hanya menggeleng dan sayup terdengar kata “akut” dari mulut kecilnya.
“Abia,” aku terhenyak. Suara yang sangat kukenali, suara yang selalu bisa membuatku merasakan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ada, suara yang bisa menenangkanku dan membuatku panik. Suara yang sangat kurindukan. Belum usai rasa kagetku, Abia yang sembunyi dalam pelukan tanganku melompat dan berlari pada sosok yang tak jauh ada dibelakangku. Ayah nya kah?

Rabu, 25 Mei 2016

Dia, Hujanku.

0


5 Tahun Lalu.

Aku menatap langit yang mulai ditutupi awan hitam – tanda-tanda akan turun hujan. Tidak lama kemudian merasa air jatuh ke pipi, sepertinya aku berbakat jadi peramal berucap dalam hati. Tinggal beberapa langkah lagi masuk ke daerah stasiun, tapi hujan tidak memberiku kesempatan menjaga penampilan agar tetap stylish, ‘mereka’ datang bergerombol, memandikan manusia-manusia di ruang terbuka, lari terbirit-birit mencari tempat berteduh, begitu pula denganku.
Tanpa sengaja aku menabrak seorang bertubuh tidak begitu tinggi, kami saling bertatap, seketika terpikir kami layaknya pemeran utama pria dan wanita dalam salah satu scene ftv, namun semua buyar begitu saja saat ia mendorongku tanpa perasaan. Menatapnya penuh rasa kesal, tapi wajahnya terlihat lebih kesal daripada aku yang didorong olehnya.
“Kotor, jadi jangan dekat-dekat saya.” Lalu ia pergi begitu saja, masuk ke area stasiun kereta. Dingin, bukan udaranya, tapi ucapannya.
Lelaki macam apa berbicara seperti itu pada perempuan yang tidak sengaja menabraknya.
Lupakan soal lelaki berwajah dingin tadi, aku mencoba membersihkan converse kesayangan juga kemeja denim yang basah dan kotor akibat kehujanan sebentar, kemudian kembali berjalan menuju peron 2. Tidak boleh terlambat di hari pertama UAS, mengingatkan diri agar tetap fokus.
Firasatku benar, terlambat! Tepat pukul 12.01 aku tiba didepan ruang tempat ujian diselenggarakan, aku masuk diam-diam. Bukan mengendap-endap, tapi tetap mencoba masuk. Hingga ada yang berdiri di hadapanku sesaat beru saja aku duduk, mendongak,
“Berdiri.” Ucapnya dingin
Lelaki yang tadi.
“Keluar. Anda terlambat 1 menit 30 detik.” Wajahnya datar, tidak berekspresi. Mengerikan.
“Tapi pak-” sanggahku
“Tidak ada tapi. Sekarang Anda boleh keluar.” Potongnya. Aku berdiri. Rahang mengeras, menyambar tas dan menghentakkan langkah kaki dengan keras kemudian pintu ruangan kubanting menandakan bahwa aku benar-benar kesal, tidak peduli pandangan mereka yang menatapku.
Satu jam setengah kemudian kelas bubar. Mahasiswa lain memandangku yang masih menunggu wajah bongkahan es itu keluar dan mencoba untuk meminta keringanan darinya, setidaknya aku bisa memohon susulan. Masuk ke ruangan begitu semua mahasiswa sudah tidak tersisa di dalam.
Kulihat dia masih membereskan berkas-berkas ujian,
“Permisi pak, saya hanya terlambat 1 menit 30 detik, lebih baik daripada telat 1 jam 30 menit sepersekian detik.”
“Kata ‘lebih baik’ yang Anda ucapkan tetap saja buruk. Dua kata itu tidak pantas diucapkan untuk membandingkan dua kesalahan yang sudah Anda perbuat.” Kemudian ia pergi meninggalkanku yang masih terpaku. Wajah dinginnya ingin sekali aku lempar menggunakan penghapus papan tulis.
Menurunkan ego, kukejar ia yang hampir menuruni anak tangga,
“Setidaknya beri saya kesempatan untuk mengulang atau perlu saya terima tugas pengganti apapun, yang penting mendapatkan nilai untuk nilai akhir.”
“Saya hanya pengawas, bicarakan saja pada professor bersangkutan.” Ia menyuruhku minggir menggunakan telunjuknya. Rahangku makin mengeras kesal. Memang apa yang ia katakan benar, tapi tetap saja aku kesal mendengarnya. Sekarang, bukan hanya penghapus papan tulis yang ingin kulempar ke kepalanya, tapi bangku di sekitar ku.
***
2016

Tubuh yang basah tiba-tiba memeluk saat kubuka pintu,

“Saya mau sama kamu selamanya.” Suara Dia menyatu bersama hujan, tapi yang kudengar jelas, sangat jelas. Kali ini aku dapat merasakan hangat tubuhnya, mampu mencium aroma harum khasnya dari dekat. Pelukannya pun makin erat, seperti tak ingin jauh semili pun dari hadapanku. Ini pertama kalinya ia memelukku, pertama kali berada di jarak paling dekat dengannya.

Hujan sukses membawa arus kenangan masa lalu, jantungku pun kembali berdegub tiada henti. Kalimat itu yang terakhir kudengar, beberapa hari kemudian, bukan – bahkan sampai sekarang aku tidak lagi melihat wajahnya, di stasiun, di kampus, dimanapun, aku tidak bisa menemukannya. Dia bak ditelan bumi, menghilang tanpa jejak.
Suudzon, bisa dikatakan seperti itu, persepsi buruk mengenai kehilangannya memenuhi pikiranku selama beberapa tahun ini. Helaan nafas terasa lebih berat sekarang karena hujan kembali membawaku pada kenangannya.

***
 5 Tahun Lalu.

Teng… nong… neng…
Dilanjutkan pemberitahuan dari staff stasiun bahwa kereta baru saja tiba di pemberhentian terakhir. Orang wara wiri ke sana kemari, yang baru saja turun digantikan oleh yang naik untuk pergi ke tujuan mereka, serangan manusia yang akan naik lebih kejam dibandingkan yang akan turun. Padahal jelas-jelas di sisi pintu kami – para calon penumpang yang akan naik harus mendahului penumpang yang akan turun, sudah jelas bahwa mereka menghiraukan ‘warning’ itu.
Tiba-tiba seseorang menarik tasku lumayan kuat, menatap wajahnya yang tak berekspresi, saat ini bagiku bertemu dengannya adalah mimpi buruk atau kesialan, bisa jadi keduanya.
“Ada urusan apa?” tanyaku. Sudah jelas raut wajahku terlihat kesal dan sama-sekali-tidak-ingin-melihatnya.
“Hari ini saya tunggu kamu di ruang 201 untuk ujian susulan, permintaan Prof Rachmadi.” Dia meninggalkanku yang masih diam terpaku. Suaranya yang berat menghipnotis gelendang telinga, membuatku terdiam cukup lama hingga,
“Neng jangan bengong, mau naik tidak?” ucap seorang ibu, menyadarkanku dari lamunan. Baru saja sadar bahwa aku berdiam di depan pintu kereta, sedikit menghalangi orang yang ingin naik.
Kuulangi momen beberapa hari kemarin, belum sempat aku menghadap Prof. Rachmadi – mata kuliah yang tidak sempat kuikuti ujiannya. Tapi mengapa Prof. Rachmadi bisa mempertimbangkan untuk aku ikutan susulan. Aku berjalan terus, menyusuri gerbong, sebuah telunjuk menahan dahiku, kutatap Dia, kesal! Dia lagi?!
“Tidak fokus! Ini mahasiswa yang IPK nya di atas 3,50?” Wajahnya benar-benar tidak memiliki ekspresi, dingin, tak ada karisma, terasa auranya pun tidak. Dia manusia atau setan? Mungkin juga vampire. Pikiranku merajalela kemana-mana. Mencoba membuat jalan pikiranku lebih nomal dari biasanya.
Memutuskan untuk berdiri tepat di sebelahnya, seperti merasa jijik berada di dekatku, Dia melangkah ke samping kiri sebanyak 3 langkah. Aku tersenyum sinis, sudah kuduga. Dia memang orang yang dingin bahkan hingga ke hatinya. Beku, makanya tak memiliki perasaan apapun.
***
“Alena!!” Seseorang meneriaki namaku, berbalik, wajahnya asing. Aku menatap penuh tanya, ia tampaknya cukup mengerti dengan komunikasi non verbal yang kulakukan, “saya Puteri. Teman sekelas kamu di kelas manajemen perusahaan.” Tangan yang kecil ia ulurkan, aku membalasnya ragu.
“Tegang banget mukanya..” ia tersenyum, “Oia, kamu sudah dapat kelompok?”, Aku hanya menggeleng, “mau sekelompok sama saya?” aku diam, berpikir. Kenal dia saja baru sekarang. Dia mengajak untuk kerja kelompok? ku tolak saja, toh sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, “please… jangan ditolak… saya butuh kamu… saya sudah gagal sekali di mata kuliah ini karna tidak ada yang mau sekelompok dengan saya sebelumnya.” Wajahnya penuh harap, jujur aku paling tidak tega melihat wajah kucing memelas seperti ini. Tanpa sadar, kepalaku mengangguk, meng-iyakan apa yang diminta. Putri pun bergerak riang layaknya anak kecil diperbolehkan membeli yang disuka.
Tak terkendali bibirku ikut menyunggingkan sebuah senyuman, ikut senang bersamanya, dia sahabat pertamaku sekaligus orang yang mampu mematahkan semangatku akan cinta.
***
Mataku yang lelah sudah tak sanggup dibuka kembali, tidak dapat tempat duduk di kereta maka lebih memilih kepala menopang pada lengan yang menggantung – sudah biasa bahkan memiliki gaya tidur khas milikku sendiri. Ciiit… kereta ngerem mendadak, tubuhku tak sampai ke lantai berkat seseorang entah siapa, aku mendongak, Dia lagi?! Mengomel dalam hati, bukannya membantuku berdiri ia malah melepaskan tangannya hingga aku jatuh ke lantai kemudian Dia pergi menyusuri gerbong. Kesal! Sangat kesal, apa yang dia mau sebenarnya?! Lebih baik tak usah menolong kalau ujung-ujungnya begini. Merutuknya dalam hati.
Kereta pun kembali melaju, beberapa menit kemudian terhenti lagi, ngerem mendadak diikuti lampu mati. Semua penumpang panik termasuk aku, “Penumpang diminta untuk tenang, terjadi kendala pada laju kereta, harap semua siap siaga.” Apa yang dikatakan masinis tak dapat menenangkan bahkan makin memperburuk keadaan.
Tiba-tiba saja segerombolan penumpang dari gerbong depan berlarian ke arah belakang terburu-buru. Suasana makin tak terkendali, tubuhku tertabrak hingga jatuh dan tak dapat bangun lagi. Yang lainnya berusaha memecahkan kaca kereta agar dapat keluar, aku ingin ikut keluar tapi tubuh ini tak bisa, tertahan sana-sini oleh tubuh manusia lainnya yang lebih besar.
Seketika aku beprikir, “akhirnya hari ini datang juga dimana aku akan bertemu kembali dengan ayah dan ibu.” Hingga seseorang mengangkatku, si asdos berwajah dingin. Kali ini Dia benar-benar menolong ku, mengangkat tubuhku agar dapat melewati kaca yang sudah pecah, aku melompat diikuti olehnya. Kami berlarian bersama penumpang lainnya yang berhasil keluar.
“Jangan ke arah sana!” teriaknya padaku untuk memutar laju, “kita harus cepat cari tempat berlindung, kemungkinan kereta ini akan meledak.” Aku kaget mendengarnya, tak masuk di akal. Aku sedikit mencuri lihat ke belakang, gerbong bagian depan sudah terbakar entah apa penyebabnya.
Doooaaar! Gerbong bagian ketiga dan keempat meledak, nyala api tampak sangat terang memperlihatkan para penumpang tunggang langgang berlari secepat mungkin agar bisa selamat, aku terdiam, Dia menarik tanganku, menyuruhku lebih cepat karena api sangat ganas memakan tiap gerbong. Kanan-kiri kami tidak ada rumah penduduk hanya kebun tak berpenghuni tanpa ada tanda kehidupan. Gelap.
Setelah lumayan jauh berlari, kami pun dapat melihat cahaya lampu rumah penduduk, bersama penumpang lain aku dan Dia pun terduduk sejenak, tak lagi kuat berjalan apalagi berlari. Ia melemparkan jaketnya yang bermaterial tebal, “pakai.” Kali ini kuturuti apa yang ia katakan, “kita harus jalan, didepan sudah ada rumah penduduk sesegera mungkin cari pertolongan. Kita jalan saja tak usah lari seperti tadi.” Aku mengangguk. Ku tengok jam tangan digital di tangan kiri, pukul 20:41, kejadiannya cepat, tak terduga.
Hujan pun turun menemani kami menyusuri jalan setapak, seperti yang sudah kujelaskan tadi, kiri kami adalah rel kereta sedangkan di sebelah kanan hanya kebon dipenuhi pohon menjulang tinggi berdaun lebat. Ia berjarak beberapa langkah di depanku. Tubuhnya yang tidak terlalu besar sanggup menyelamatkanku dari hectic-nya kondisi kereta. Kali ini aku sangat amat berterima kasih padanya, kalau bukan karena ia menolong mungkin aku sudah hangus tak dapat dikenali. Memperpendek jarak di antara kami,
“Terima kasih.” Kataku, namun Dia terdiam cukup lama, kami pun terus berjalan
“Untuk apa?” Tanyanya
“Menyelamatkan saya.” Jawabku tak kalah singkat
“Sudah seharusnya.”
Aku mengangguk, “kenapa kereta bisa seperti itu?”
“Saya juga tidak tahu. Tiba-tiba masinis menyuruh kami untuk pergi ke gerbong belakang, mungkin ada yang konslet.” Takjub, Dia bisa berbicara banyak ternyata
Anggukan kepalaku sekali lagi, tidak ada jawaban dariku maupun penjelasan lebih rinci darinya. Suara hujan menemani langkah kami yang mulai gontai, penumpang lain berusaha berjalan semampu mereka sama seperti kami.
“Iyah bik, saya baik-baik saja kok.” Aku tahu suara bibik terdengar khawatir di sebrang sana.
“Ehem.” Dia berdeham dibelakang,
“aku sebentar lagi pulang, setelah melakukan pendataan sama pihak krl, tak perlu khawatir aku akan pulang dengan selamat.” Kututup telfonnya,
“Pulang sendiri?” Aku mengangguk, jarak kami mengobrol cukup jauh. Lalu ia menyodorkan teh hangat dalam gelas plastik, meraihnya dan ucapkan terima kasih, “saya duluan.” Katanya kemudian. Tanpa berjabat tangan, tanpa mendengar balasan dariku ia berbalik dan pulang.
***
Bukan maksud hati mengucap kata kasar, kulihat punggung Putri menjauh dari tempatku berdiri. Aku yang baru saja memiliki sahabat kini kehilangannya hanya dengan sebaris kalimat, benar kata pepatah “mulutmu harimaumu”, hati ini ingin mengejar tapi kaki tak dapat bekerjasama, aku diam terpaku, menatapnya hingga hilang termakan kerumunan.
Menatap nasi rames, sedaritadi tak ku sentuh sedikitpun, hari sabtu, kampus tampak lengang, ya hanya beberapa dosen yang ingin mata kuliahnya di akhir pekan seperti sekarang. Tidak henti merutuk diri sendiri. Dari sebrang seseorang berdeham, mencoba menyadarkanku dari lamunan tapi tidak ada ketertarikan sedikitpun bagiku menghiraukannya.
“Dimakan.” Suara yang amat kukenali. Masih diam. “Sampai kapan?” tanyanya kemudian. air mata jatuh di pipi. Aku menangis tanpa di sadari. 
Ya aku tahu, mulutku sangat sarkastik, baru kali ini menjalin persahabatan tapi kurusak begitu saja, dasar tidak pernah bersyukur. Tangisku makin pecah, Dia disebrang sana masih diam melanjutkan makannya. Tidak menggangguku. Setelah aku cukup tenang, baru kusadari Dia sudah berpindah tempat duduk, berada di ujung meja tempat dimana aku menangis sedari tadi, menatap tanpa ekspresi.
“Saya nggak mau cerita.” Ucapku tanpa Dia pinta
“Emang saya nanya?” Tanyanya dingin.
Tidak tahu sejak kapan aku dan Dia bisa dibilang makin akrab, bahkan terkadang kami banyak berbincang tentang segala hal kala tak sengaja bertemu di kereta – walaupun kami duduk bersebrangan. Aku terdiam, mengusap sisa air mata di wajah.
Dia berada di ujung meja begitu pula aku, mulutku berucap sesuatu “Saya…” bercerita tentang kejadian tadi pagi, berbicara kasar pada Puteri, Dia seksama mendengarkan tanpa mengucap sepatah kata sampai aku selesai berbicara.
“Mau saya kasih masukan atau mau saya cukup mendengarkan?”
“Saya butuh masukan”
“Sampai kapan mau melihara gengsi?” aku terdiam. “Sampai kapan kamu mau jadi batu?” aku masih diam. “Mau sampai kapan kamu sendiri?”
Baru pertama kali ada yang bertanya demikian padaku, ucapan dari seseorang sangat dewasa mengetuk mataku, memberi titik cerah, ia benar, “mau sampai kapan jadi orang anti-sosial?” Tak semua, tak selamanya orang itu buruk. Puteri, dia tidak mengasihaniku, dia menerimaku sebagai seorang sahabat, sebagai seseorang yang butuh peran orang lain dalam hidupnya.
Baru kusadari, ternyata Dia adalah tetesan air yang selama ini kutakutkan. Aku sudah mengutuk diri sendiri jadi batu, tapi semua luluh juga runtuh karenanya. Tuhan, bagaimana bisa? Dia siapa?
“sudah yah, saya mau pulang.” Dia beranjak, “Bareng?” Mengangguk kemudian mengekorinya dari belakang.
Setiap langkah kami terlihat berirama – aku beberapa langkah darinya, tak pernah sedikitpun berbincang dari jarak dekat, jalan bersama minimal 3 langkah, duduk satu meja seperti tadi tapi dia diujung begitupun aku. Namun, Dia mengetuk pintu hatiku. Dia orang pertama yang kalahkan musuh terbesarku, ego. Ego itu kini sedikit demi sedikit mulai menipis, layaknya lapisan ozon di cakrawala.
Jalannya berhenti, secara otomatis kaki pun begitu. Ku tatap ke arah depan, Puteri berada tepat dihadapan Dia, menatapnya penuh kecewa, apalagi saat menatap ke arahku. Cuma bisa menundukkan kepala.  Kepala yang selalu terangkat ke atas ini kini hanya bisa tertunduk.
“Sedang apa kamu di sini?” bisik Dia walaupun masih bisa kudengar
Mereka terdengar akrab. Cukup terkejut karena ternyata berdua saling kenal. Dan yang kutahu temannya hanya aku.
Berbalik arah, tak mau mengurusi yang bukan urusanku, walaupun cukup penasaran ada apa dengan mereka.
Ini seperti bukan Alena. Kemana Alena yang dulu? Alena yang berjalan dengan kepala terangkat ke atas, acuh dan paling tidak suka mengurusi orang lain.
***
Beberapa hari tak kudengar lagi kabar darinya, tak terlihat dimana pun. Kali ini Dia datang ke rumah dengan cara lebih mengejutkan.
Mataku membulat, tepat dihadapanku Dia basah kuyup terguyur hujan. Tubuh yang basah itu tiba-tiba memeluk saat kubukan pintu,
“Saya mau sama kamu selamanya.” Suara Dia menyatu bersama hujan, tapi yang kudengar jelas, sangat jelas. Kali ini aku dapat merasakan hangat tubuhnya, mampu mencium aroma harum khasnya dari dekat. Pelukannya pun makin erat, seperti tak ingin jauh semili pun dari hadapanku. Ini pertama kalinya ia memelukku, pertama kali berada di jarak paling dekat dengannya.
Setelah cukup lama ia mendekap tubuhku,
“Saya sayang kamu, Alena.” Ucapan itu membuat bibirku terkunci, entah harus berkata apa, dia menatapku sebentar kemudian pergi.
Berlari mengejarnya. Kaki yang dulunya berat ini, kini dengan ringannya melangkah dengan cepat. Menggapai cinta pertama.
Memeluk tubuhnya dari belakang, “Saya juga. Saya sayang kamu.” Tubuhku ikut dibasahi hujan.
Beberapa saat kami sama-sama bermandikan air langit.
Ia melepaskan tanganku dari tubuhnya. Kemudian pergi, tak pernah berpaling dan menghilang.
***
2016
“Coba kamu cari tahu siapa sebenernya dibalik semua ini ya, saya nggak mau kerjaan kita tersendat hanya karna pengerat pemakan kayu seperti mereka!” suaraku meninggi
Lelaki berusia setahun dibawahku mengangguk-angguk mengerti. Mungkin dia sedikit takut karna wajahku terlihat sangat seram hari ini. Merasa kesal karena beberapa serangga penghambat proyek, keuangan kantor sedikit over budget dan beberapa petinggi perusahaan akhirnya ketahuan melakukan korupsi. Sekacau ini perusahaan ayah kutinggalkan. Tak kuduga, mereka adalah orang terdekat ayah sendiri.
Sudah waktunya makan siang, jangan tanya aku makan dengan siapa, sudah pasti sendiri. Trauma akan persahabatanku dan Puteri, aku pun kembali menjadi batu, karyawan bahkan segan. Kembali menjadi diri yang dulu. Ini membuatku lebih nyaman, lebih kuat juga tangguh.
Mulai sekarang aku tak akan goyah. Sedikitpun.
Restoran cepat saji yang biasa kukunjungi hari ini lebih ramai dari biasanya. Namun, karena sendiri aku masih dapat tempat duduk.
“Alena?” Seseorang menyebut namaku, berpaling. Mataku membelalak, kulihat wajah perempuan yang sudah sangat lama tak kutemui, ia tertawa melihat reaksi non verbalku. Kemudian memeluk. “Apa kabar?” aku diam
“Baik. Kamu apa kabar?” jawabku kemudian
“Baik.” Hening diantara kami sesaat. Terasa sangat canggung, karena terakhir kami bertemu dalam suasana buruk
“Sendiri?” tanyanya, aku tahu ia mencoba memecah keheningan. Aku hanya mengangguk. “kenapa kita jadi canggung gini yah Al. Saya kangen kamu sebenarnya.” Puteri terlihat malu-malu akan pengakuannya
“Saya juga Put, terakhir saya ketemu kamu, saya mau minta maaf. Tapi tidak punya nyali.”
Kami pun tertawa, “kayanya ada sesuatu yang harus kamu tahu juga deh Al.”
Aku menatap penuh tanya, lagi-lagi Puteri mengerti
“Kamu masih inget sama Dia kan?” aku hanya bisa diam, “Al, mungkin waktu itu kamu bingung. Begini, saya sama Dia udah dijodohin.” Ceritanya menarik, aku Cuma tersenyum kecut, “Dia Cuma sayang sama kamu Al, yang kutahu dari ibunya ia adu mulut dengan ayahnya kemudian pergi dari rumah. Kita semua juga nggak tahu Dia dimana. Hilang gitu aja.”
“Saya nggak nyangka kalau Dia milih buat pergi Al. Ibunya sakit-sakitan terusan mikirin Dia. Tapi Dia beneran pergi tanpa ninggalin jejak apapun, dia hilang gitu aja Al, kami semua juga bingung.” Pipiku sudah basah oleh air mata. Merasa bersalah.
“Semua karna saya Put.”
“Nggak Al, itu memang kemauan Dia sendiri.” Puteri memelukku, terasa begitu hangat dipeluk oleh sahabat lama. “Berharap Dia baik-baik saja Al. Kita sama-sama tahu Dia orang yang cukup tangguh menghadapi masalahnya.” Tangisku makin kencang. Tak perduli lagi akan orang-orang sekitar yang melihat.
Dia, hujanku.
Dimanapun dirimu berada, aku menunggumu.
Selamanya.***

Kamis, 12 Mei 2016

Dia, Hujanku #Prolog

0

Aku bukan tidak suka hujan, tapi bagiku hujan hanya membawa kesedihan.

Langit ikut menangis saat aku kehilangan ibu di hari itu. Tepat pada tanggal 9 Februari 1995 umurku baru saja 5 tahun, beranjak remaja saja belum, tapi aku sudah mengerti bahwa ibu sudah pergi selama-lamanya.
Tiada henti orang mengasihaniku saat itu, “anak perempuan malang, sekarang hanya tinggal bersama ayahnya.” Atau “kamu bisa yah sayang.” Kalimat itu berulang kali aku dengar dari bibir mereka yang pada akhirnya segan untuk membantuku, merasa khawatir saat itu saja untuk sekedar mencari muka di hadapan ayah.
5 tahun kemudian, ayah melakukan hal yang sama, meninggalkanku selama-lamanya. Ia depresi berlebihan karena ditinggal ibu, tidak mengurusku apalagi memperhatikanku, mungkin saja dia lupa memiliki seorang anak perempuan yang sedang butuh kasih sayang.
Hari itu seperti 5 tahun yang lalu, hujan menghantarkan ayah ke tempat peristirahatannya yang terakhir, 10 Maret 2000, memasuki tahun millennium dimana usiaku 10 tahun, baru saja beberapa tingkat di sekolah dasar, belum cukup dibilang remaja, tapi sudah harus bisa berpikir dewasa.
25 Januari 2015, saat ini umurku sudah 25 tahun, duduk di atas kursi meja makan berbentuk kotak yang terbuat dari kayu. Dihadapanku terhidang roti berikut selai juga susu putih murni. Sejak ayah dan ibu pergi yang mereka tinggalkan hanya rumah ini dan perusahaan yang baru 3 tahun ini kupelajari segala komponen maupun perspektifnya.
Lagi-lagi diluar hujan, hatiku makin kelam melihatnya. Langit lagi-lagi menangis di pagi hari, “neng, mau berangkat jam berapa?” Bik Sumi menyadarkanku dari lamunan, aku tersenyum,
“Sebentar lagi bik, masih hujan.” Bik Sumi manggut-manggut.
Sejak aku kecil, sejak ayah dan ibu pergi beliau yang menemani ku setiap saat. Sanak saudara? Mereka lebih memusingkan warisan ayah yang ia tinggalkan untukku. Mereka berkunjung hanya sekedar untuk mencari muka dihadapanku, seperti yang mereka lakukan dulu pada ayah. Memujiku, membawakan makanan, sampai mengajakku liburan – pada akhirnya aku yang bayar.
Sahabat? Entahlah, aku sungkan bersosialisasi. Mereka biasa menatapku aneh, “kasihan, dia yatim piatu,” aku paling sebal dikasihani, sejak kedua orang tua ku meninggal, tidak, sejak ibu meninggal, aku sudah menciptakan diriku menjadi sebuah batu. Batu yang kuat, yang tidak akan luluh dan runtuh hanya dengan tetesan air.
Aku tidak butuh “rasa kasihan” dari mereka, aku bisa hidup sendiri ini hidupku.
Hingga pada akhirnya, aku bertemu Dia, saat umurku 21 tahun, sudah dewasa. Dan baru saja mengenal cinta.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com