Kamis, 26 Mei 2016

Tak Kemana #1

0

“Bulannya bagus, ya.” Aku mengernyitkan dahiku dan ia menarik nafas panjang. “Saya sayang kamu, El.” Ucapnya seraya menggenggam tanganku. Kami pun terdiam. Terdiam, karena ia tahu, terlalu berat baginya untuk bersamaku. Terdiam, karena ia pun tahu, aku memiliki rasa yang sama padanya. Sejak saat itu, Adhyaksa adalah sosok yang menghuni hatiku, selamanya.
***
“Semuanya, rapat orangtua siswa kali ini, nggak bisa saya support karena saya akan jadi wali dari Sabila. Seluruh informasi akan disampaikan oleh Dion, selaku kepala bidang perkembangan di daycare ini, dan segala persiapan akan di handle oleh Tamara dibantu masing-masing pengajar setiap kelas. Saya mohon kerjasama yang baik dari kalian semua. Karena saya nggak ingin ditengah-tengah rapat harus menginterupsi karena ada yang kurang sesuai. Semuanya paham?” aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan.
“El, tenang ya… kamu udah nyampein ini berkali-kali loh sama kita semua.” Dion, kakak sepupu-ku, seorang psikolog yang selalu dengan tenang mengingatkanku.
“Iya, tapi saya ga denger progress apapun dari kalian. Jadi saya ga tenang.” Ucapku dengan nada yang sedikit meninggi.
“El, sudah nggak ada progress lagi. Rapatnya kan sore ini.” Ucap Tamara yang lebih akrab disapa Tama. Kakak sepupuku yang lainnya.
“Sebenarnya ada, Mbak Elvita.” Kak Rini – salah satu pengajar sekaligus pengasuh yang bertugas di kelas Sabila, angkat bicara. “Orangtua Abia akhirnya ngasih RSVP nya, Mbak.” Mendengar apa yang ia katakan membuat senyumku terbentuk seketika, memberi sedikit cerah bahwa memang ada progress seperti yang kuinginkan.
Abia, anak tampan yang selalu bijak dan memperhatikan kawan-kawan sekelasnya serta membimbingnya. Selama hampir 1 tahun dengan jumlah rapat yang selalu kami adakan setiap 2 bulan sekali, belum pernah orangtua Abia hadir. Selalu nenek atau kakeknya.
“Syukurlah. Saya penasaran orangtuanya seganteng dan secantik apa sampai punya anak setampan itu.” Semua manusia dalam ruanganpun tertawa, seolah tanda untukku mengakhiri rapat yang sesungguhnya tidak terlalu penting ini.
“El, keruangan gue ya! Ada yang perlu gue tanyain sama lo. Tapi gue ambil dulu minum.” Dion menepuk bahuku, dan meninggalkanku yang langsung berganti arah menuju ruangannya. Ruangan yang selalu tertata rapi, nyaman dan selalu menjadi ruangan untuk menenangkan diri. “Nih, buat lo.” Dion memberikan salah satu cangkirnya dan menutup pintu ruangan menggunakan kakinya. “Yang sekarang bikin lo nervous apa sih, El? Rapat atau jadi orangtua wali Sabila?” aku mengangkat bahuku. “Okay, itu pertanyaan bodoh. Tapi, Mahar sama Dira nitipin Sabila sama lo dan Ompi loh! Mereka percaya sama lo berdua.”
“Ini berasa terlalu cepet aja gitu, Di… emang gue bisa?”
“El, ini cuma rapat orangtua siswa. Lo udah tau apa materi didalemnya. Sekeliling lo juga banyak banget yang dukung lo termasuk sesepuhnya Sabila. Elo yang dipercaya, masa sekarang elonya yang ga percaya sih?” aku hanya membalas dengan senyuman. Rasanya percuma berdebat dengan seorang psikolog yang tau percis bahwa hal yang diragukan sebenarnya tidak penting  ataupun masuk akal. “Sebenarnya apa yang lo rasain itu wajar, El. Lo sekarang bertanggung jawab atas hidup manusia kecil yang nggak tau kalau orangtuanya nggak akan pulang-pulang lagi kerumah.” Seketika airmataku terjatuh.
“Gue ngerasa ngerebut tempat Mahar, Di… ya walaupun bukan keinginan siapapun sih. Tapi itu yang gue rasain. Harusnya Mahar yang disini sama kayak rapat-rapat sebelumnya. Susah banget buat gue ngehapus bayangan gimana excited-nya Mahar dengar perkembangan Sabila.” Air mata yang semula jatuh perlahan, kini mulai deras sejalan dengan berat yang ada di dadaku.
“Musibah ini bukan salah siapapun, bukan juga keinginan siapapun. Jadi, lo nggak bisa ngerasa kayak gini. Inget, ini bukan tentang lo. Tapi tentang anak kecil yang sangat sayang sama lo, yang orangtuanya percaya banget sama lo.”
“Gue masih berkabung karena kehilangan sahabat gue, Di.”
“Dan karena itu lo mau galau-galau ga penting, sementara lo diamanatkan oleh sahabat lo itu bagian dari mereka? Sahabat Mahar dan Dira bukan lo doang, El. Tapi mereka nggak seberuntung lo yang legal ngasuh anaknya dimata negara. Bahkan nggak kakek dan neneknya Sabila. Tapi lo sama Ompi!” Kalimat itu membungkamku dan airmata ku. Sejak lahir, Sabila adalah anugrah bagi kami yang mengenal orangtuanya. Hadiah dan harapan semua orang, dengan perpaduan wajah sempurna keduanya. “Sekarang lo cuci muka, tidur sebentar ato jalan sebentar liat anak-anak gih. Biar fresh muka lo!”
***
Melangkahkan kaki kembali ke gedung yang menjadi darah dan dagingku ini tak seringan biasanya. Dalam 30 menit, para orangtua akan berkumpul bersama, membahas mengenai perkembangan putra-putri kesayangan dan kebanggaan mereka. Selalu menyenangkan bagiku melihat kebahagiaan yang terukir jelas dalam wajah-wajah mereka.
Tepat dua bulan yang lalu, Mahar menginjakkan kakinya disini dengat tujuan yang sama. Tepat dua bulan yang lalu juga, Mahar meninggalkan tempat ini dan pergi dari dunia yang kami tinggali bersama dengan belahan hidupnya, meninggalkan putri kebanggaan mereka di gedung ini.
“Mime!” Suara terindah yang selalu kunantikan setiap saat membuyarkan lamunanku dan tak lama kemudian, sepasang tangan memeluk lututku dari belakang yang belum sempat membalikan posisinya, badanku berputar dan memandang kebawah, menemui sepasang mata coklat hangat yang begitu dalam. “Mime dateng!”
“Kalo Mime nggak dateng, siapa dong yang mau masangin pin bintang dikerah Bila?” tanyaku seraya menggendong tubuh yang tergolong mungil bagi usia 3 tahun. “Bila tadi makannya bagus nggak?” gadis kecil dengan rambut merah ikal nan tebal itu mengangguk dengan semangat. “Masa? Mime ga percaya!”
“Sueerr! Ciyuuss!” jawab Bia sembari mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya yang selalu membuatku tertawa.
“Berarti ada yang boleh dapet kue coklat!” aku mengeluarkan sebuah cakepop dari dalam tas tanpa harus menurunkan gadis cantik dalam gendongan. Dengan semangat ia mengambil kue tersebut dari tanganku, namun cemberut menggantikan senyum manisnya. “Kenapa? Bila kan suka kue itu.”
“Kuenya wat Abi aja, leh?” aku tersenyum. Orangtua wali Sabila yang satu lagi bernama Vian namun lebih sering disapa Ompi, selalu memintaku untuk menjauhkan Sabila dari playboy kecil sok ganteng bernama Abia. Aku mengeluarkan sebuah kue serupa yang memang sengaja ku ambil untuk Abia – Sabila selalu ingin membagi makanannya bersama Abia.
“Kita kasihkan bareng ya! Abia nya dimana coba?” aku mengedar pandanganku dan melihat sosok Abia yang sedikit bersembunyi dibawah tenda yang sengaja kupasang di taman bermain day care ini. “Hello… Abia kenapa?” tanyaku seketika kami menghampiri balita tampan itu. Sayang, pertanyaanku hanya dijawab dengan gelengan kepalanya. “Okay deh, Miss El punya kue coklat loh untuk Abia!” cokelat penolong, kini wajah murungnya sedikit cerah begitu mendengar tawaran yang kumiliki. “Tapi syaratnya, anak ganteng yang mau kuenya harus rajin senyum. Nggak boleh cemberut kaya gini.” Tanpa berbicara, Abia menyunggingkan senyuman yang kuyakini akan membawa banyak bencana bagi para wanita setelah ia besar nanti.
“Abia, dicari ayahnya.”
Ekspektasiku Abia yang murung akan jadi ceria dan berlari menghampiri pengajar yang memanggilnya. Namun, ia memeluk lenganku erat seolah takut atas kehadiran Ayahnya. Sang pengajar yang melihat reaksi Abia melemparkan pandangan tanya padaku. “Bawa kesini aja Ayahnya.” Ucapku yang disambut anggukan oleh nya yang lalu menghilang dari pandangan kami.
“Abia, kenapa? Kan Ayah datang.” Abia hanya menggeleng dan sayup terdengar kata “akut” dari mulut kecilnya.
“Abia,” aku terhenyak. Suara yang sangat kukenali, suara yang selalu bisa membuatku merasakan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ada, suara yang bisa menenangkanku dan membuatku panik. Suara yang sangat kurindukan. Belum usai rasa kagetku, Abia yang sembunyi dalam pelukan tanganku melompat dan berlari pada sosok yang tak jauh ada dibelakangku. Ayah nya kah?

Rabu, 25 Mei 2016

Dia, Hujanku.

0


5 Tahun Lalu.

Aku menatap langit yang mulai ditutupi awan hitam – tanda-tanda akan turun hujan. Tidak lama kemudian merasa air jatuh ke pipi, sepertinya aku berbakat jadi peramal berucap dalam hati. Tinggal beberapa langkah lagi masuk ke daerah stasiun, tapi hujan tidak memberiku kesempatan menjaga penampilan agar tetap stylish, ‘mereka’ datang bergerombol, memandikan manusia-manusia di ruang terbuka, lari terbirit-birit mencari tempat berteduh, begitu pula denganku.
Tanpa sengaja aku menabrak seorang bertubuh tidak begitu tinggi, kami saling bertatap, seketika terpikir kami layaknya pemeran utama pria dan wanita dalam salah satu scene ftv, namun semua buyar begitu saja saat ia mendorongku tanpa perasaan. Menatapnya penuh rasa kesal, tapi wajahnya terlihat lebih kesal daripada aku yang didorong olehnya.
“Kotor, jadi jangan dekat-dekat saya.” Lalu ia pergi begitu saja, masuk ke area stasiun kereta. Dingin, bukan udaranya, tapi ucapannya.
Lelaki macam apa berbicara seperti itu pada perempuan yang tidak sengaja menabraknya.
Lupakan soal lelaki berwajah dingin tadi, aku mencoba membersihkan converse kesayangan juga kemeja denim yang basah dan kotor akibat kehujanan sebentar, kemudian kembali berjalan menuju peron 2. Tidak boleh terlambat di hari pertama UAS, mengingatkan diri agar tetap fokus.
Firasatku benar, terlambat! Tepat pukul 12.01 aku tiba didepan ruang tempat ujian diselenggarakan, aku masuk diam-diam. Bukan mengendap-endap, tapi tetap mencoba masuk. Hingga ada yang berdiri di hadapanku sesaat beru saja aku duduk, mendongak,
“Berdiri.” Ucapnya dingin
Lelaki yang tadi.
“Keluar. Anda terlambat 1 menit 30 detik.” Wajahnya datar, tidak berekspresi. Mengerikan.
“Tapi pak-” sanggahku
“Tidak ada tapi. Sekarang Anda boleh keluar.” Potongnya. Aku berdiri. Rahang mengeras, menyambar tas dan menghentakkan langkah kaki dengan keras kemudian pintu ruangan kubanting menandakan bahwa aku benar-benar kesal, tidak peduli pandangan mereka yang menatapku.
Satu jam setengah kemudian kelas bubar. Mahasiswa lain memandangku yang masih menunggu wajah bongkahan es itu keluar dan mencoba untuk meminta keringanan darinya, setidaknya aku bisa memohon susulan. Masuk ke ruangan begitu semua mahasiswa sudah tidak tersisa di dalam.
Kulihat dia masih membereskan berkas-berkas ujian,
“Permisi pak, saya hanya terlambat 1 menit 30 detik, lebih baik daripada telat 1 jam 30 menit sepersekian detik.”
“Kata ‘lebih baik’ yang Anda ucapkan tetap saja buruk. Dua kata itu tidak pantas diucapkan untuk membandingkan dua kesalahan yang sudah Anda perbuat.” Kemudian ia pergi meninggalkanku yang masih terpaku. Wajah dinginnya ingin sekali aku lempar menggunakan penghapus papan tulis.
Menurunkan ego, kukejar ia yang hampir menuruni anak tangga,
“Setidaknya beri saya kesempatan untuk mengulang atau perlu saya terima tugas pengganti apapun, yang penting mendapatkan nilai untuk nilai akhir.”
“Saya hanya pengawas, bicarakan saja pada professor bersangkutan.” Ia menyuruhku minggir menggunakan telunjuknya. Rahangku makin mengeras kesal. Memang apa yang ia katakan benar, tapi tetap saja aku kesal mendengarnya. Sekarang, bukan hanya penghapus papan tulis yang ingin kulempar ke kepalanya, tapi bangku di sekitar ku.
***
2016

Tubuh yang basah tiba-tiba memeluk saat kubuka pintu,

“Saya mau sama kamu selamanya.” Suara Dia menyatu bersama hujan, tapi yang kudengar jelas, sangat jelas. Kali ini aku dapat merasakan hangat tubuhnya, mampu mencium aroma harum khasnya dari dekat. Pelukannya pun makin erat, seperti tak ingin jauh semili pun dari hadapanku. Ini pertama kalinya ia memelukku, pertama kali berada di jarak paling dekat dengannya.

Hujan sukses membawa arus kenangan masa lalu, jantungku pun kembali berdegub tiada henti. Kalimat itu yang terakhir kudengar, beberapa hari kemudian, bukan – bahkan sampai sekarang aku tidak lagi melihat wajahnya, di stasiun, di kampus, dimanapun, aku tidak bisa menemukannya. Dia bak ditelan bumi, menghilang tanpa jejak.
Suudzon, bisa dikatakan seperti itu, persepsi buruk mengenai kehilangannya memenuhi pikiranku selama beberapa tahun ini. Helaan nafas terasa lebih berat sekarang karena hujan kembali membawaku pada kenangannya.

***
 5 Tahun Lalu.

Teng… nong… neng…
Dilanjutkan pemberitahuan dari staff stasiun bahwa kereta baru saja tiba di pemberhentian terakhir. Orang wara wiri ke sana kemari, yang baru saja turun digantikan oleh yang naik untuk pergi ke tujuan mereka, serangan manusia yang akan naik lebih kejam dibandingkan yang akan turun. Padahal jelas-jelas di sisi pintu kami – para calon penumpang yang akan naik harus mendahului penumpang yang akan turun, sudah jelas bahwa mereka menghiraukan ‘warning’ itu.
Tiba-tiba seseorang menarik tasku lumayan kuat, menatap wajahnya yang tak berekspresi, saat ini bagiku bertemu dengannya adalah mimpi buruk atau kesialan, bisa jadi keduanya.
“Ada urusan apa?” tanyaku. Sudah jelas raut wajahku terlihat kesal dan sama-sekali-tidak-ingin-melihatnya.
“Hari ini saya tunggu kamu di ruang 201 untuk ujian susulan, permintaan Prof Rachmadi.” Dia meninggalkanku yang masih diam terpaku. Suaranya yang berat menghipnotis gelendang telinga, membuatku terdiam cukup lama hingga,
“Neng jangan bengong, mau naik tidak?” ucap seorang ibu, menyadarkanku dari lamunan. Baru saja sadar bahwa aku berdiam di depan pintu kereta, sedikit menghalangi orang yang ingin naik.
Kuulangi momen beberapa hari kemarin, belum sempat aku menghadap Prof. Rachmadi – mata kuliah yang tidak sempat kuikuti ujiannya. Tapi mengapa Prof. Rachmadi bisa mempertimbangkan untuk aku ikutan susulan. Aku berjalan terus, menyusuri gerbong, sebuah telunjuk menahan dahiku, kutatap Dia, kesal! Dia lagi?!
“Tidak fokus! Ini mahasiswa yang IPK nya di atas 3,50?” Wajahnya benar-benar tidak memiliki ekspresi, dingin, tak ada karisma, terasa auranya pun tidak. Dia manusia atau setan? Mungkin juga vampire. Pikiranku merajalela kemana-mana. Mencoba membuat jalan pikiranku lebih nomal dari biasanya.
Memutuskan untuk berdiri tepat di sebelahnya, seperti merasa jijik berada di dekatku, Dia melangkah ke samping kiri sebanyak 3 langkah. Aku tersenyum sinis, sudah kuduga. Dia memang orang yang dingin bahkan hingga ke hatinya. Beku, makanya tak memiliki perasaan apapun.
***
“Alena!!” Seseorang meneriaki namaku, berbalik, wajahnya asing. Aku menatap penuh tanya, ia tampaknya cukup mengerti dengan komunikasi non verbal yang kulakukan, “saya Puteri. Teman sekelas kamu di kelas manajemen perusahaan.” Tangan yang kecil ia ulurkan, aku membalasnya ragu.
“Tegang banget mukanya..” ia tersenyum, “Oia, kamu sudah dapat kelompok?”, Aku hanya menggeleng, “mau sekelompok sama saya?” aku diam, berpikir. Kenal dia saja baru sekarang. Dia mengajak untuk kerja kelompok? ku tolak saja, toh sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, “please… jangan ditolak… saya butuh kamu… saya sudah gagal sekali di mata kuliah ini karna tidak ada yang mau sekelompok dengan saya sebelumnya.” Wajahnya penuh harap, jujur aku paling tidak tega melihat wajah kucing memelas seperti ini. Tanpa sadar, kepalaku mengangguk, meng-iyakan apa yang diminta. Putri pun bergerak riang layaknya anak kecil diperbolehkan membeli yang disuka.
Tak terkendali bibirku ikut menyunggingkan sebuah senyuman, ikut senang bersamanya, dia sahabat pertamaku sekaligus orang yang mampu mematahkan semangatku akan cinta.
***
Mataku yang lelah sudah tak sanggup dibuka kembali, tidak dapat tempat duduk di kereta maka lebih memilih kepala menopang pada lengan yang menggantung – sudah biasa bahkan memiliki gaya tidur khas milikku sendiri. Ciiit… kereta ngerem mendadak, tubuhku tak sampai ke lantai berkat seseorang entah siapa, aku mendongak, Dia lagi?! Mengomel dalam hati, bukannya membantuku berdiri ia malah melepaskan tangannya hingga aku jatuh ke lantai kemudian Dia pergi menyusuri gerbong. Kesal! Sangat kesal, apa yang dia mau sebenarnya?! Lebih baik tak usah menolong kalau ujung-ujungnya begini. Merutuknya dalam hati.
Kereta pun kembali melaju, beberapa menit kemudian terhenti lagi, ngerem mendadak diikuti lampu mati. Semua penumpang panik termasuk aku, “Penumpang diminta untuk tenang, terjadi kendala pada laju kereta, harap semua siap siaga.” Apa yang dikatakan masinis tak dapat menenangkan bahkan makin memperburuk keadaan.
Tiba-tiba saja segerombolan penumpang dari gerbong depan berlarian ke arah belakang terburu-buru. Suasana makin tak terkendali, tubuhku tertabrak hingga jatuh dan tak dapat bangun lagi. Yang lainnya berusaha memecahkan kaca kereta agar dapat keluar, aku ingin ikut keluar tapi tubuh ini tak bisa, tertahan sana-sini oleh tubuh manusia lainnya yang lebih besar.
Seketika aku beprikir, “akhirnya hari ini datang juga dimana aku akan bertemu kembali dengan ayah dan ibu.” Hingga seseorang mengangkatku, si asdos berwajah dingin. Kali ini Dia benar-benar menolong ku, mengangkat tubuhku agar dapat melewati kaca yang sudah pecah, aku melompat diikuti olehnya. Kami berlarian bersama penumpang lainnya yang berhasil keluar.
“Jangan ke arah sana!” teriaknya padaku untuk memutar laju, “kita harus cepat cari tempat berlindung, kemungkinan kereta ini akan meledak.” Aku kaget mendengarnya, tak masuk di akal. Aku sedikit mencuri lihat ke belakang, gerbong bagian depan sudah terbakar entah apa penyebabnya.
Doooaaar! Gerbong bagian ketiga dan keempat meledak, nyala api tampak sangat terang memperlihatkan para penumpang tunggang langgang berlari secepat mungkin agar bisa selamat, aku terdiam, Dia menarik tanganku, menyuruhku lebih cepat karena api sangat ganas memakan tiap gerbong. Kanan-kiri kami tidak ada rumah penduduk hanya kebun tak berpenghuni tanpa ada tanda kehidupan. Gelap.
Setelah lumayan jauh berlari, kami pun dapat melihat cahaya lampu rumah penduduk, bersama penumpang lain aku dan Dia pun terduduk sejenak, tak lagi kuat berjalan apalagi berlari. Ia melemparkan jaketnya yang bermaterial tebal, “pakai.” Kali ini kuturuti apa yang ia katakan, “kita harus jalan, didepan sudah ada rumah penduduk sesegera mungkin cari pertolongan. Kita jalan saja tak usah lari seperti tadi.” Aku mengangguk. Ku tengok jam tangan digital di tangan kiri, pukul 20:41, kejadiannya cepat, tak terduga.
Hujan pun turun menemani kami menyusuri jalan setapak, seperti yang sudah kujelaskan tadi, kiri kami adalah rel kereta sedangkan di sebelah kanan hanya kebon dipenuhi pohon menjulang tinggi berdaun lebat. Ia berjarak beberapa langkah di depanku. Tubuhnya yang tidak terlalu besar sanggup menyelamatkanku dari hectic-nya kondisi kereta. Kali ini aku sangat amat berterima kasih padanya, kalau bukan karena ia menolong mungkin aku sudah hangus tak dapat dikenali. Memperpendek jarak di antara kami,
“Terima kasih.” Kataku, namun Dia terdiam cukup lama, kami pun terus berjalan
“Untuk apa?” Tanyanya
“Menyelamatkan saya.” Jawabku tak kalah singkat
“Sudah seharusnya.”
Aku mengangguk, “kenapa kereta bisa seperti itu?”
“Saya juga tidak tahu. Tiba-tiba masinis menyuruh kami untuk pergi ke gerbong belakang, mungkin ada yang konslet.” Takjub, Dia bisa berbicara banyak ternyata
Anggukan kepalaku sekali lagi, tidak ada jawaban dariku maupun penjelasan lebih rinci darinya. Suara hujan menemani langkah kami yang mulai gontai, penumpang lain berusaha berjalan semampu mereka sama seperti kami.
“Iyah bik, saya baik-baik saja kok.” Aku tahu suara bibik terdengar khawatir di sebrang sana.
“Ehem.” Dia berdeham dibelakang,
“aku sebentar lagi pulang, setelah melakukan pendataan sama pihak krl, tak perlu khawatir aku akan pulang dengan selamat.” Kututup telfonnya,
“Pulang sendiri?” Aku mengangguk, jarak kami mengobrol cukup jauh. Lalu ia menyodorkan teh hangat dalam gelas plastik, meraihnya dan ucapkan terima kasih, “saya duluan.” Katanya kemudian. Tanpa berjabat tangan, tanpa mendengar balasan dariku ia berbalik dan pulang.
***
Bukan maksud hati mengucap kata kasar, kulihat punggung Putri menjauh dari tempatku berdiri. Aku yang baru saja memiliki sahabat kini kehilangannya hanya dengan sebaris kalimat, benar kata pepatah “mulutmu harimaumu”, hati ini ingin mengejar tapi kaki tak dapat bekerjasama, aku diam terpaku, menatapnya hingga hilang termakan kerumunan.
Menatap nasi rames, sedaritadi tak ku sentuh sedikitpun, hari sabtu, kampus tampak lengang, ya hanya beberapa dosen yang ingin mata kuliahnya di akhir pekan seperti sekarang. Tidak henti merutuk diri sendiri. Dari sebrang seseorang berdeham, mencoba menyadarkanku dari lamunan tapi tidak ada ketertarikan sedikitpun bagiku menghiraukannya.
“Dimakan.” Suara yang amat kukenali. Masih diam. “Sampai kapan?” tanyanya kemudian. air mata jatuh di pipi. Aku menangis tanpa di sadari. 
Ya aku tahu, mulutku sangat sarkastik, baru kali ini menjalin persahabatan tapi kurusak begitu saja, dasar tidak pernah bersyukur. Tangisku makin pecah, Dia disebrang sana masih diam melanjutkan makannya. Tidak menggangguku. Setelah aku cukup tenang, baru kusadari Dia sudah berpindah tempat duduk, berada di ujung meja tempat dimana aku menangis sedari tadi, menatap tanpa ekspresi.
“Saya nggak mau cerita.” Ucapku tanpa Dia pinta
“Emang saya nanya?” Tanyanya dingin.
Tidak tahu sejak kapan aku dan Dia bisa dibilang makin akrab, bahkan terkadang kami banyak berbincang tentang segala hal kala tak sengaja bertemu di kereta – walaupun kami duduk bersebrangan. Aku terdiam, mengusap sisa air mata di wajah.
Dia berada di ujung meja begitu pula aku, mulutku berucap sesuatu “Saya…” bercerita tentang kejadian tadi pagi, berbicara kasar pada Puteri, Dia seksama mendengarkan tanpa mengucap sepatah kata sampai aku selesai berbicara.
“Mau saya kasih masukan atau mau saya cukup mendengarkan?”
“Saya butuh masukan”
“Sampai kapan mau melihara gengsi?” aku terdiam. “Sampai kapan kamu mau jadi batu?” aku masih diam. “Mau sampai kapan kamu sendiri?”
Baru pertama kali ada yang bertanya demikian padaku, ucapan dari seseorang sangat dewasa mengetuk mataku, memberi titik cerah, ia benar, “mau sampai kapan jadi orang anti-sosial?” Tak semua, tak selamanya orang itu buruk. Puteri, dia tidak mengasihaniku, dia menerimaku sebagai seorang sahabat, sebagai seseorang yang butuh peran orang lain dalam hidupnya.
Baru kusadari, ternyata Dia adalah tetesan air yang selama ini kutakutkan. Aku sudah mengutuk diri sendiri jadi batu, tapi semua luluh juga runtuh karenanya. Tuhan, bagaimana bisa? Dia siapa?
“sudah yah, saya mau pulang.” Dia beranjak, “Bareng?” Mengangguk kemudian mengekorinya dari belakang.
Setiap langkah kami terlihat berirama – aku beberapa langkah darinya, tak pernah sedikitpun berbincang dari jarak dekat, jalan bersama minimal 3 langkah, duduk satu meja seperti tadi tapi dia diujung begitupun aku. Namun, Dia mengetuk pintu hatiku. Dia orang pertama yang kalahkan musuh terbesarku, ego. Ego itu kini sedikit demi sedikit mulai menipis, layaknya lapisan ozon di cakrawala.
Jalannya berhenti, secara otomatis kaki pun begitu. Ku tatap ke arah depan, Puteri berada tepat dihadapan Dia, menatapnya penuh kecewa, apalagi saat menatap ke arahku. Cuma bisa menundukkan kepala.  Kepala yang selalu terangkat ke atas ini kini hanya bisa tertunduk.
“Sedang apa kamu di sini?” bisik Dia walaupun masih bisa kudengar
Mereka terdengar akrab. Cukup terkejut karena ternyata berdua saling kenal. Dan yang kutahu temannya hanya aku.
Berbalik arah, tak mau mengurusi yang bukan urusanku, walaupun cukup penasaran ada apa dengan mereka.
Ini seperti bukan Alena. Kemana Alena yang dulu? Alena yang berjalan dengan kepala terangkat ke atas, acuh dan paling tidak suka mengurusi orang lain.
***
Beberapa hari tak kudengar lagi kabar darinya, tak terlihat dimana pun. Kali ini Dia datang ke rumah dengan cara lebih mengejutkan.
Mataku membulat, tepat dihadapanku Dia basah kuyup terguyur hujan. Tubuh yang basah itu tiba-tiba memeluk saat kubukan pintu,
“Saya mau sama kamu selamanya.” Suara Dia menyatu bersama hujan, tapi yang kudengar jelas, sangat jelas. Kali ini aku dapat merasakan hangat tubuhnya, mampu mencium aroma harum khasnya dari dekat. Pelukannya pun makin erat, seperti tak ingin jauh semili pun dari hadapanku. Ini pertama kalinya ia memelukku, pertama kali berada di jarak paling dekat dengannya.
Setelah cukup lama ia mendekap tubuhku,
“Saya sayang kamu, Alena.” Ucapan itu membuat bibirku terkunci, entah harus berkata apa, dia menatapku sebentar kemudian pergi.
Berlari mengejarnya. Kaki yang dulunya berat ini, kini dengan ringannya melangkah dengan cepat. Menggapai cinta pertama.
Memeluk tubuhnya dari belakang, “Saya juga. Saya sayang kamu.” Tubuhku ikut dibasahi hujan.
Beberapa saat kami sama-sama bermandikan air langit.
Ia melepaskan tanganku dari tubuhnya. Kemudian pergi, tak pernah berpaling dan menghilang.
***
2016
“Coba kamu cari tahu siapa sebenernya dibalik semua ini ya, saya nggak mau kerjaan kita tersendat hanya karna pengerat pemakan kayu seperti mereka!” suaraku meninggi
Lelaki berusia setahun dibawahku mengangguk-angguk mengerti. Mungkin dia sedikit takut karna wajahku terlihat sangat seram hari ini. Merasa kesal karena beberapa serangga penghambat proyek, keuangan kantor sedikit over budget dan beberapa petinggi perusahaan akhirnya ketahuan melakukan korupsi. Sekacau ini perusahaan ayah kutinggalkan. Tak kuduga, mereka adalah orang terdekat ayah sendiri.
Sudah waktunya makan siang, jangan tanya aku makan dengan siapa, sudah pasti sendiri. Trauma akan persahabatanku dan Puteri, aku pun kembali menjadi batu, karyawan bahkan segan. Kembali menjadi diri yang dulu. Ini membuatku lebih nyaman, lebih kuat juga tangguh.
Mulai sekarang aku tak akan goyah. Sedikitpun.
Restoran cepat saji yang biasa kukunjungi hari ini lebih ramai dari biasanya. Namun, karena sendiri aku masih dapat tempat duduk.
“Alena?” Seseorang menyebut namaku, berpaling. Mataku membelalak, kulihat wajah perempuan yang sudah sangat lama tak kutemui, ia tertawa melihat reaksi non verbalku. Kemudian memeluk. “Apa kabar?” aku diam
“Baik. Kamu apa kabar?” jawabku kemudian
“Baik.” Hening diantara kami sesaat. Terasa sangat canggung, karena terakhir kami bertemu dalam suasana buruk
“Sendiri?” tanyanya, aku tahu ia mencoba memecah keheningan. Aku hanya mengangguk. “kenapa kita jadi canggung gini yah Al. Saya kangen kamu sebenarnya.” Puteri terlihat malu-malu akan pengakuannya
“Saya juga Put, terakhir saya ketemu kamu, saya mau minta maaf. Tapi tidak punya nyali.”
Kami pun tertawa, “kayanya ada sesuatu yang harus kamu tahu juga deh Al.”
Aku menatap penuh tanya, lagi-lagi Puteri mengerti
“Kamu masih inget sama Dia kan?” aku hanya bisa diam, “Al, mungkin waktu itu kamu bingung. Begini, saya sama Dia udah dijodohin.” Ceritanya menarik, aku Cuma tersenyum kecut, “Dia Cuma sayang sama kamu Al, yang kutahu dari ibunya ia adu mulut dengan ayahnya kemudian pergi dari rumah. Kita semua juga nggak tahu Dia dimana. Hilang gitu aja.”
“Saya nggak nyangka kalau Dia milih buat pergi Al. Ibunya sakit-sakitan terusan mikirin Dia. Tapi Dia beneran pergi tanpa ninggalin jejak apapun, dia hilang gitu aja Al, kami semua juga bingung.” Pipiku sudah basah oleh air mata. Merasa bersalah.
“Semua karna saya Put.”
“Nggak Al, itu memang kemauan Dia sendiri.” Puteri memelukku, terasa begitu hangat dipeluk oleh sahabat lama. “Berharap Dia baik-baik saja Al. Kita sama-sama tahu Dia orang yang cukup tangguh menghadapi masalahnya.” Tangisku makin kencang. Tak perduli lagi akan orang-orang sekitar yang melihat.
Dia, hujanku.
Dimanapun dirimu berada, aku menunggumu.
Selamanya.***

Kamis, 12 Mei 2016

Dia, Hujanku #Prolog

0

Aku bukan tidak suka hujan, tapi bagiku hujan hanya membawa kesedihan.

Langit ikut menangis saat aku kehilangan ibu di hari itu. Tepat pada tanggal 9 Februari 1995 umurku baru saja 5 tahun, beranjak remaja saja belum, tapi aku sudah mengerti bahwa ibu sudah pergi selama-lamanya.
Tiada henti orang mengasihaniku saat itu, “anak perempuan malang, sekarang hanya tinggal bersama ayahnya.” Atau “kamu bisa yah sayang.” Kalimat itu berulang kali aku dengar dari bibir mereka yang pada akhirnya segan untuk membantuku, merasa khawatir saat itu saja untuk sekedar mencari muka di hadapan ayah.
5 tahun kemudian, ayah melakukan hal yang sama, meninggalkanku selama-lamanya. Ia depresi berlebihan karena ditinggal ibu, tidak mengurusku apalagi memperhatikanku, mungkin saja dia lupa memiliki seorang anak perempuan yang sedang butuh kasih sayang.
Hari itu seperti 5 tahun yang lalu, hujan menghantarkan ayah ke tempat peristirahatannya yang terakhir, 10 Maret 2000, memasuki tahun millennium dimana usiaku 10 tahun, baru saja beberapa tingkat di sekolah dasar, belum cukup dibilang remaja, tapi sudah harus bisa berpikir dewasa.
25 Januari 2015, saat ini umurku sudah 25 tahun, duduk di atas kursi meja makan berbentuk kotak yang terbuat dari kayu. Dihadapanku terhidang roti berikut selai juga susu putih murni. Sejak ayah dan ibu pergi yang mereka tinggalkan hanya rumah ini dan perusahaan yang baru 3 tahun ini kupelajari segala komponen maupun perspektifnya.
Lagi-lagi diluar hujan, hatiku makin kelam melihatnya. Langit lagi-lagi menangis di pagi hari, “neng, mau berangkat jam berapa?” Bik Sumi menyadarkanku dari lamunan, aku tersenyum,
“Sebentar lagi bik, masih hujan.” Bik Sumi manggut-manggut.
Sejak aku kecil, sejak ayah dan ibu pergi beliau yang menemani ku setiap saat. Sanak saudara? Mereka lebih memusingkan warisan ayah yang ia tinggalkan untukku. Mereka berkunjung hanya sekedar untuk mencari muka dihadapanku, seperti yang mereka lakukan dulu pada ayah. Memujiku, membawakan makanan, sampai mengajakku liburan – pada akhirnya aku yang bayar.
Sahabat? Entahlah, aku sungkan bersosialisasi. Mereka biasa menatapku aneh, “kasihan, dia yatim piatu,” aku paling sebal dikasihani, sejak kedua orang tua ku meninggal, tidak, sejak ibu meninggal, aku sudah menciptakan diriku menjadi sebuah batu. Batu yang kuat, yang tidak akan luluh dan runtuh hanya dengan tetesan air.
Aku tidak butuh “rasa kasihan” dari mereka, aku bisa hidup sendiri ini hidupku.
Hingga pada akhirnya, aku bertemu Dia, saat umurku 21 tahun, sudah dewasa. Dan baru saja mengenal cinta.

Rabu, 27 Mei 2015

Ingatan Mei

0

Hatiku berkecambuk. Mengucap dalam hati, “Itu bukan aku.” aku melihat sosok diriku sendiri menjengut rambut seorang gadis kira-kira berumur 16 tahun memakai putih abu-abu di kamar mandi tanpa ampun, hingga ia menangis dan meminta ampun. Sosok itu melakukannya bersama dua orang gadis lain yang seumuran. Aku menatap wajahku sendiri lamat-lamat, kepuasan atas kekerasan yang sudah kulakukan terpancar jelas, lagi-lagi aku bergumam, “Itu bukan aku.”
Aku membuka mata, seusai mengingat-ingat mimpi semalam. Menakutkan. Semua terlihat sangat nyata. Tangan yang besar mengelus lembut rambutku yang bergelombang, aku menatapnya dan tersenyum. “Kukira tidur.” Katanya dengan suara berat, aku tidak menjawab, hanya memandang diluar jendela dari dalam kendaraan beroda empat.
Kembali ke tempat aku tumbuh, yang aku sendiri tidak ingat kenangan apapun disini. Tiga tahun yang lalu Ibu dan Papa membawaku ke Semarang, mereka hanya bilang, “Ini untuk kebaikan mu,” dan menyuruhku untuk tidak lagi bertanya apa yang terjadi tentang masa lalu. Tapi, mimpi aku menyakiti banyak gadis terus hadir dalam mimpiku. Aku hanya penasaran, seperti apa aku dulu. Maka disinilah kami, Aku dan kekasihku.
Seminggu yang lalu ada undangan reuni SMA yang muncul di alamat surel ku, yah sudah bertahun-tahun alamat surel ku tidak diganti. Aku pun ingat begitu saja dengan surname dan password nya. Lalu, aku membujuk Bayu – kekasiku untuk mengantarkanku. Kemudian memikirkan alasan yang tepat diberikan pada Ibu dan Papa, karena aku yakin, mereka tidak akan mengijinkannya, jika mereka tahu aku akan menghadiri reuni SMA.
Pemandangan yang berbeda dengan kota yang biasa aku lihat selama tiga tahun ini bermuculan perlahan. Lalu, kami berhenti di sebuah tempat makan di daerah Juanda. Bergaya khas betawi. Kami duduk didekat jendela di lantai dua. Aku selalu suka duduk didekat jendela. “Mei?” tiba-tiba seseorang memanggil namaku, seorang perempuan memakai seragam pelayan menghampiriku. Aku mengerutkan keningku, tidak tahu siapa dia. Raut wajah perempuan itu berubah, menjadi takut. Lalu pergi dari hadapan kami.
Aku dan Bayu bertukar pandang. Bayu mengedikkan bahunya.

***
“Kayaknya orang yang tadi kenal aku deh Bay. Tapi kenapa ya dia langsung pergi gitu?” Bayu menggenggam tanganku. Kami menuju tempat menginap di daerah Jakarta Selatan.
“Mei, aku mau nanya sekali lagi deh sama kamu.. ini untuk mastiin aja kesiapan kamu.”
“Aku siap, Bay.”
“Ibu sama Papa kamu nutupin semua pasti…”
“Pasti punya alasan yang baik untuk aku…” aku memotong ucapannya, “…Bay, kamu udah bilang ini berulang kali.. dan berulang kali juga aku jawab, aku siap, Bay.” Aku menatapnya, namun matanya harus terfokus ke depan, “Bay, kalo aku siap. Kalian juga harus siap.”
Suasana dalam mobil cukup lengang setelah perdebatan kami. Bayu tidak lagi berucap, aku pun enggan. Kami sama-sama menatap ke arah luar, dalam benakku terus bertanya, “Orang seperti apa aku dulu?”
***
Kami berjalan dari parkiran mobil ke hall utama di sebuah gedung pertemuan yang lumayan besar. Bayu menggenggam tanganku, matanya mengisyaratkan sesuatu, aku tersenyum, “Bay… aku siap… karna disini aku bisa menjawab mimpi-mimpi aku.” Bayu menyuruhku untuk menggenggamnya lebih erat. Dia adalah orang yang pertama kali menyapaku di sekolah saat aku pindah ke Semarang, saat aku menjadi orang yang takut untuk berkenalan dengan lingkungan baru.
Kami memasuki hall, disana banyak sekali teman-teman SMA yang aku sendiri lupa dengan mereka. Namun, mata mereka mengenaliku. Suara yang ramai perlahan hening, hampir semua mata menatapku, sambil berbisik. Aku hanya tersenyum membalas mereka, namun mereka seperti menghindariku. Aku menundukkan kepala, kenapa semuanya seperti ini?
Hingga seorang MC kembali meramaikan suasana, melupakan kedatangan kami. Bayu mengajakku ke arah meja yang berisikan gelas di sayap kanan. Degupan jantungku tidak mau berhenti walaupun aku sudah meminum segelas air putih, badanku gemetar. Bayu menggenggam tanganku lebih erat. Dua orang perempuan menghampiriku, gaya berpakaian mereka seperti umumnya perempuan kota metropolitan ini, dengan dandanan yang tebal untuk menutupi kekurangan pada wajah mereka.
“Mei..” Mereka menyebutkan namaku. Aku mencoba mengingat wajah mereka. Tiba-tiba terlintas wajah mereka dalam mimpiku. Sama-sama ada di kamar mandi dan ikut memukuli seorang gadis. Aku hanya tersenyum. Lalu mereka memelukku.
“Kalian siapa ya?” aku bertanya begitu mereka melepaskan pelukannya.
“Lo lupa sama kita Mei?” aku hanya tersenyum. “Kita sahabat lo Mei.” Aku menatap Bayu, senang rasanya begitu tahu mereka sahabatku, berarti mereka kenal sekali aku seperti apa, “Mei, kita kangen banget sama lo..” Tapi mengapa aku merasa tidak begitu nyaman ada di dekat mereka, “Mei, pacar lo?” Mata mereka memandangan rendah Bayu, “Bukan tipe lo banget deh.” Aku terdiam, Bayu menatapku.
“Iya… dia pacar saya…” Jawabku sedikit sinis, tidak suka dengan apa yang mereka ucapkan.
“Mei…” mereka mencoba membujukku. Mungkin merasa menyesal.
“Bay, kita cari makanan kecil yuk…” Ajakku. Ingin pergi dari hadapan mereka.
Aku menatap sekeliling. Mengapa tidak ada satupun yang mengajakku berbicara kecuali dua perempuan menor tadi. Mereka semua menghindariku, dan menatapku dengan pandangan sinis.
Lalu seseorang tidak sengaja menumpahkan saus pempek di blouse putihku, meminta maaf dengan nada takut. “Mei… maafin gue… gue nggak sengaja… beneran… jangan marahin gue…” katanya sambil membersihkan bercak saus dengan tissue menggunakan tangannya yang terasa gemetaran. Aku menghentikannya,
“Nggak apa kok.. ini dicuci juga hilang nodanya.” Wajahnya tampak terkejut dengan apa yang kukatakan.
“Lo Mei kan?”
“Iya…” jawabku santai.
“Lo bukan Mei… Mei nggak gini…”
“Maksudnya?” Tapi dia pergi dari hadapanku. Bayu merangkul ku. “Kalo gini gimana caranya aku nyari tau Bay.. semuanya aja kayak yang jijik sama aku..”
“Berani banget lo dateng ke sini..” sebuah suara menyadarkanku. “Bisa-bisanya habis bunuh orang lo nampilin muka lo tanpa rasa bersalah?” seorang perempuan dan seorang laki-laki menghampiriku. Laki-laki itu mencoba menahan perempuan itu.
“Mbak tolong yah omongannya dijaga. Tahu sopan santun kan?” Bayu yang maju. Aku gemetaran,
“Buat apa gue ngomong sopan sama orang yang nggak punya sopan santun dan otak kayak dia.” Perempuan itu menunjukku.
Kedua perempuan berdandan menor tadi menghampiriku. “Put, apa-apaan sih.” Kata salah seorang dari mereka.
“Diem lo berdua. Lo berdua sama aja kaya dia!” Suaranya membuat seluruh yang ada di ruangan memperhatikan kami.
“Putri, udah kali. Mei juga nyesel kok.”
“Nyesel kata lo? Dengan cara kabur dan pergi gitu aja kata lo nyesel?”
Aku memberanikan diri menatap perempuan yang dipanggil putri itu, “Saya nggak inget apa-apa. Tolong kasih tau saya, kenapa kamu bicara kayak gini sama saya?” aku memohon padanya, mengenggam tangannya, dengan kasar dia melepaskan,
“Jangan pura-pura lupa! Sok innocence banget lo sekarang! Lo nggak inget dulu kayak gimana?!” aku menggeleng. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud olehnya. “Denger yah Mei yang manis, yang merasa paling cantik dan paling oke. Lo tuh udah ngebunuh temen gue!”
Salah satu perempuan yang membelaku mendorongnya, “Put! Udah lah!”
Bayu membawaku keluar ruangan. Keluar dari kebisingan. Keluar dari perhatian banyak orang. “Kita pulang..”
Seseorang menarik tanganku.
***
“Kita nggak tau mesti beneran jujur sama lo atau nggak… karna…” Hera – nama salah satu perempuan berdandan menor, yang baru aku tahu namanya - menundukkan kepalanya, dia tampak ragu. Kami duduk di sebuah tempat makan cepat saji.
“Karna apa? Hera.. saya harus tau.. kasih tau saya..”
“Gue nggak boleh nyeritain apa-apa.. nyokap bokap lo yang nyuruh.. kita juga nggak boleh lagi sebenernya ngehubungin lo..” aku menatap Hera dan Tika bergantian. Ibu sampai segitunya menutupi semuanya. Menutupi kesalahan yang telah dibuat anaknya.
“Ceritain aja Her... Ibu saya nggak ada di sini kok..” aku masih berbicara sedikit formal padanya,
“Tiga tahun yang lalu, pas SMA kita nggak sengaja… ngebunuh orang Mei…” jelas Tika.
“Maksudnya?”
“Namanya Rara.. dia ketauan suka sama Bian, mantan pacar lo. Trus lo murka…” Tika berhenti bercerita, “…lo manggil dia, kita bawa dia ke kamar mandi. Lo ngintogerasi dia pake kekerasan Mei…” kejadian-kejadian yang di mimpi hadir dalam ingatanku,
***
“Lo suka sama Bian?! Dari kapan?! Kecentilan banget lo!” aku menarik rambutnya dengan keras, Rara menangis kesakitan. Aku mendengar diluar kamar mandi sudah ramai oleh anak-anak lain yang penasaran dengan apa yang terjadi. Aku menjatuhkannya ke lantai,
“Mei… ampun Mei… maafin gue…” Rara menangis, membuatku semakin geram mendengarnya. Aku menendang perutnya, lumayan keras. Hera dan Tika mengangkatnya, agar dia berdiri. Aku menarik lagi rambutnya, menamparnya berulang kali. Hingga hidungnya berdarah.
“Jadi lo ngerasa pantes deketin Bian? Lo lupa Bian siapanya gue?” aku menamparnya lagi. Aku geram sekali. Kesal dengan semua yang kutahu. Dia aku beri hati minta jantung,
“Mei… maafin gue Mei…” aku memukul keras kepalanya dengan telapak tanganku.
“Lo udah gue jadiin temen, tapi nusuk gue dari belakang? Diem-diem lo deketin Bian!” aku menamparnya sekali lagi, dia tergeletak jatuh. Tidak bergerak.
Tiba-tiba aku menerima pukulan, aku merasakan kepala ku terbentur sesuatu lumayan keras dan semua gelap.
***
“Lo sama Rara, sama-sama dibawa ke rumah sakit hari itu. Gue, Hera sama Putri kena skors.. Rara nggak selamat.. sedangkan lo, karena kepala lo terbentur wastafel akibat dipukul putri, pendarahan dan nyebabin lo amnesia Mei..”
“Orang tuanya Rara nggak terima, ngelaporin kita ke polisi, bokap gue sama bokap Hera ngejamin kita. Bokap lo juga, tapi dengan satu syarat, lo keluar dari sekolah. Makanya, keluarga lo pindah ke Semarang. Tapi, anak-anak taunya lo kabur, lari dari tanggung jawab.”
“Kalian?” tanyaku. Air mataku tidak bisa lagi dibendung, kepalaku juga sedikit sakit,
“Kita dapet apa yang udah kita kasih ke mereka – orang-orang yang kita bully.. gue sama Tika bener-bener nyoba bertahan di sekolah demi lo Mei.. demi tanggung jawab yang udah kita lakuin..”
Badanku gemetar. Kepalaku semakin sakit. “Aaakkkh!!” aku hanya bisa berteriak, samar-samar aku mendengar Bayu, Hera dan Tika memanggil-manggil namaku.
***
Aku terbangun, kulihat Bayu sudah berada disampingku. Tertidur. Aku mengelus kepalanya. Dia membuka matanya dan tersenyum padaku. Aku teringat lagi, air mataku jatuh lagi.
“Aku mau ke kamar mandi..” aku menatap wajahku sendiri di cermin. Wajah seorang pembunuh, penyiksa, memukuli hanya karena seorang laki-laki. “Aaakkkh!!!” air mataku tidak tertahan. Aku membanting gelas didekat wastafel. Aku terduduk, tangisku lebih keras dibanding sebelumnya.
Kurasakan tubuh Bayu memelukku erat. Aku memberontak, merasa tidak pantas untuk mendapatkan pelukan.
“lepasin aku Bay.. Jangan lagi pacaran sama aku.. aku pembunuh..” Bayu tetap tidak melepaskannya,
“Nggak Mei.. nggak akan.. aku disini buat kamu..”
“Aku nggak pantes buat kamu Bay.. aku mohon Bay.. pergi tinggalin aku..”
“Aku sayang sama kamu Mei.. aku sayang sama Mei yang sekarang..” Bayu membalikkan tubuhku, “Mei.. semua orang punya masa lalu yang buruk.. semua orang pernah ngelakuin kesalahan.. kamu seharusnya bersyukur Mei.. Tuhan ngasih kamu kesempatan buat memperbaikin semuanya..”
“Tapi aku gak pantes buat kamu, Bay..”
“Mei!” suaranya meninggi, “Aku milih kamu.. jadi, aku siap nerima kamu.. jangan pernah ngomong gitu.”  Bayu mendekapku. Memelukku. “Udah yah sayang.. Nanti tremor-nya kambuh lagi.”
“Yang pasti kamu harus jadi orang yang lebih baik lagi.. karna, orang yang mau lebih baik dari sebelumnya adalah orang yang belajar dari masa lalunya.” Kata-kata Bayu menenangkanku. Tangannya yang besar membelai rambutku, memberiku kenyamanan.

Aku berharap, Rara yang ada di surga sekarang mau memaafkan aku. Aku juga tidak akan lagi menyalahkan Ibu dan Papa yang melarangku untuk ingat semuanya, untuk berhubungan dengan orang-orang yang pernah hadir dalam masa lalu yang baru aku ingat. Aku tebus kesalahanku dengan menjadi orang yang lebih baik sekarang, bukan lagi jadi Mei yang dulu.***

Pengarang: SHanifa

Rabu, 15 April 2015

Runaway #5 (Finale)

0

Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur sejak semalam, hingga matahari menyapaku, yang aku tidak tahu sudah pukul berapa sekarang. Aku tidak tidur semalaman karena aku tahu bahwa gadis yang kutabrak bernama Freya dan dia adalah gadis yang dicintai tetangga baruku sekaligus lelaki yang mengisi hatiku sebulan ini. Perasaan bersalah yang sudah tertimbun hampir empat tahun ini bertambah.
Aku mendengar pintu apartemenku terbuka. Pasti Nata, dia memang memegang kunci cadangan apartemenku, dan aku yang memintanya untuk datang. Aku mendengar ada yang mengetuk pintu kamar, lalu ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu, “Ray..” dia memanggil namaku, namun aku enggan untuk bangun dari ranjang.
Aku tahu mata Nata menatapku, dia sedang menunggu. Menungguku untuk bercerita apa yang sedang terjadi pada sahabatnya. Namun, aku masih menyibukkan diriku dengan memutar-mutar cangkir berisikan teh manis hangat.
“Nat..”
“Hmm?”
“Gadis yang gue tabrak tiga tahun yang lalu, namanya Freya.” Dalam diamnya, Nata mendengarkanku, “Freya itu mantannya Yuda.”
“Yuda itu, laki-laki yang beberapa hari ini jadi topik utama obrolan kita Ray?” aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
“Gue harus gimana Nat?” air mata yang tidak bisa keluar sejak semalam akhirnya tidak bertahan. Aku merasakan tangan Nata mengelus ubun-ubun kepalaku, dia pernah bilang, dengan cara seperti ini orang yang sedang sedih akan merasakan kenyamanan.
“Bilang sama dia Ray.” Aku menatap Nata dengan mata penuh dengan air yang dihasilkan oleh mata.
“Gue nggak mau Nat. Lebih baik gue ngehindarin dia.”
“Sampe kapan? Gue yakin, perasaan bersalah lo nggak bakal ilang kalo lo belum bilang sama dia.” Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku juga tidak tahu, harus sampai kapan. “Cape Ray lari terus. Pelari jarak jauh aja ada capek nya.” Ia membalikkan tubuhku untuk menatapnya, “Ini nandain kalo udah waktunya lo harus berenti lari.” Nata ada benarnya. Aku tidak mau lagi lari. Setidaknya Yuda dan Freya harus tahu siapa aku, agar aku tidak terus membohonginya.
“Gue nggak berani Nat..” Tubuh Nata mendekap tubuhku, dan tangisku semakin kencang.
***
Aku tersenyum pada laki-laki yang berdiri didepan pintu apartemenku. Sudah seminggu aku menghindari Yuda. Tidak ingin melihatnya, dan aku juga tidak ingin dilihat olehnya. Matanya menyoroti tubuhku yang mungkin baginya terlihat tidak sehat, “Apa kabar Raya?” Ya Tuhan, aku sebenarnya merindukannya. Tapi aku tahu, ini tidak boleh.
“Mau masuk?” aku menjawabnya dengan sebuah pertanyaan yang berbeda dengan apa yang aku inginkan. Ia mengangguk. Kemudian duduk di depan tv, “Mau minum apa?” aku tahu, aku terlihat canggung didepannya tapi berusaha untuk tidak terlalu terlihat seperti itu.
“Nggak perlu. Sini duduk.” Ia menyuruhku duduk disebelahnya, aku tidak kuat lagi.
“Kebetulan. Ada yang mau saya kasih tau ke kamu.” aku menghampirinya. Sekarang atau tidak sama sekali Raya. Mau kapanpun kamu kasih tahu dia, resiko yang akan diterima akan sama. “Sebelumnya saya mau minta maaf sama kamu Yud.” Seperti biasa, wajahnya tidak berekspresi, jadi susah untukku, untuk tahu apa yang ada didalam hatinya,
“Sebenernya, saya kabur ke Bandung punya dua alasan. Salah satunya yang udah saya ceritain ke kamu..” aku menarik nafas, mempersiapkan diri memberitahu plot dari obrolan ini, “Tiga tahun yang lalu, saya menabrak seorang gadis yang menyebabkannya amnesia..” raut wajah Yuda terlihat berbeda, “…gadis itu ternyata Freya.” Yuda bangkit dari duduknya, dan meninggalkan apartemenku. Dia pergi tanpa bertanya atau menanggapi apa yang sudah kukatakan padanya. Membuat hatiku semakin sakit. Meyakinkan diriku bahwa aku harus pergi sejauh mungkin dari hadapannya.
Suara telepon genggamku terdengar, aku usap air mataku. Kulihat nomor internasional lagi, pasti Papa. “Pa.. Raya mau ke Kanada.”
***
[Yuda]
Aku memasukkan baju-bajuku ke dalam koper kecil. Aku ingin pulang ke Jakarta hari ini, karena sabtu besok adalah acara yang tidak aku ingin datangi, tapi, tidak baik juga untuk terus menghindar. Sudah lima hari sejak Raya mengaku bahwa dirinya yang menabrak Freya tiga tahun yang lalu. Awalnya aku juga tidak ingin percaya, tapi ingat kejadian saat Freya datang, ah sudahlah, aku sendiri tidak tahu perasaan yang ada dalam dadaku saat tahu kebenarannya, campur aduk. Kesal dan tidak percaya.
Aku membuka pintu, saat keluar apartemen, kulihat ada secarik kertas dibawah pintu, tertulis dari Raya. Aku tidak ingin membukanya. Kutaruh sembarang kertas itu, kemudian pergi.
***
Aku datang kerumahnya yang sudah mulai dipasangkan tenda dan beberapa kerabatnya yang mulai berdatangan. Freya memintaku datang, dia bilang, aku harus menyaksikan upacara adat siraman hari ini. aku siap, memaksakan diri untuk siap melihatnya mengenakan kebaya berwarna putih dan riasan yang tidak biasa.
Freya menghampiriku, “Makasih ya udah dateng..” aku menatap matanya, tidak aku tidak boleh seperti ini, “Temen kamu nggak diajak? Kan aku minta kamu dateng sama dia.”
“Maksud kamu Raya?” terasa sangat lama aku tidak mengucapkan namanya, Freya mengangguk. “Aku nggak akan mau kenal lagi sama dia Fre.”
“Kenapa?” freya mengerutkan keningnya.
“Ternyata dia orang yang nabrak kamu.” wajah Freya tampak terkejut, “Dia yang buat kamu amnesia, dan dia yang bikin aku kehilangan kamu.” aku tidak bisa lagi membohongi diriku yang masih menaruh perasaan pada Freya.
“Nggak sepenuhnya salah temen kamu Yud.”
“Maksud kamu Fre?” aku tidak mengerti, kenapa banyak sekali alasan yang tidak aku tahu.
“Mungkin kejadian tabrakan itu adalah kejadian yang memang tidak sengaja terjadi dan bikin aku beralasan bahwa itu adalah faktor utamanya.” Aku semakin tidak paham apa yang sedang dibicarakan Freya, bertele-tele. “Seharusnya aku udah bilang dari awal sama kamu.” sebenarnya kemana arah obrolan ini kemana, “Yud, aku sebenernya udah inget semuanya dari setahun yang lalu.”
“Maksud kamu?”
“Pas aku kecelakaan, sehari setelah kamu ngelamar aku. Aku bertengkar hebat sama Dhika…” Freya berhenti bicara, untuk apa dia bertengkar sama Dhika “…maafin aku Yud. Pas kita masih pacaran, aku sama Dhika juga pacaran.” Aku memegangi kepalaku. “Ya, aku selingkuh sama Dhika. Jadi, aku menggunakan amnesiaku, buat balikan sama Dhika. Aku selingkuh sama Dhika karena-“
“Cukup Fre!” tanpa sadar aku membentaknya, “Nggak ada lagi kita bertiga. Nggak ada lagi aku kenal kamu!” dengan segera aku pergi dari hadapannya. Tidak perduli dengan mata orang- orang yang menatap kami ditambah kondisi Freya yang menangis. Kupikir selama ini aku yang pengecut, Dhika tidak salah begitu juga dengan Freya. Kenapa begitu banyak rahasia mereka simpan. Apa salahku, kenapa mereka begitu jahat?
***
Berulang kali aku memencet bel pintu apartemen Raya. Namun tidak ada jawaban darinya. Mungkin dia tidak mau bertemu lagi denganku. Terakhir kali aku bertemu dengannya aku tidak mengucapkan kata apapun padanya, bahkan menatapnya lagi saja tidak. Aku tahu aku salah karena sudah melimpahkan semua kesalahan padanya, dia memang bersalah, tapi seperti kata Freya, hubungan Freya dan Dhika bukan sepenuhnya salah Raya.
Aku ingin menemuinya, meminta maaf padanya. Aku ingat ada secarik kertas dari Raya yang ia tinggalkan di bawah pintu apartemenku. Tapi, lupa kutaruh dimana. Hingga aku melihat benda tipis berwarna putih terselip di rak sepatuku. Perlahan kubuka,

Hai tetangga baru yang berhati kutub utara. Maafkan si pengecut yang lagi-lagi kabur karena nggak bisa lagi nunjukin wajahnya dihadapan kamu. Kali ini saya kaburnya jauh banget, bukan ke Saturnus kok, masih di Bumi. Ke Kanada. Saya mau sekolah lagi, Yud. Saya harap kamu maafin saya.
Saya lelah Yud, saya nggak mau lari lagi. Kali ini, saya bakalan berhenti lari dan menghadapinya. Saya siap sekarang, makanya saya berani kabur jauh.
By the way, maafin saya Yud, saya udah lancang suka sama kamu. Saya merasa, saya nggak pantes suka sama orang yang udah saya hancurin hatinya. Sampaikan maaf saya buat Freya juga buat ibunya ya.

Salam,
Raya Utami

Aku tidak tahu harus kemana mengabarinya. Aku tidak tahu harus menjawab permintaan maafnya kemana. Memoriku kembali ke Raya yang menitipkan sebuah data ke emailku. Benar, tidak ada salahnya untuk mengiriminya sebuah email.


Hai astronot. Apa kabar? Kenapa kabur lagi? Kenapa nggak ngajak saya untuk ikut sama kamu? saya juga pengin kabur sama kamu. Saya terima maaf kamu, karena sepenuhnya bukan salah kamu.
Ray, kadang kejujuran emang nyakitin ya. Tapi, dari kejujuran itu saya belajar, kalo nggak selamanya apa yang kita cintai bisa kita miliki.
Saya harap, saya bisa ketemu lagi, Ray. Apartemen saya sepi nggak ada kamu.
***
Sebuah email baru masuk ke kotak masuk emailku. Berharap dari Raya. Ini hari ke-10 dia tidak membalas emailku. Mataku membulat begitu melihat alamat email yang kutunggu,

Hai Yuda. Aku lebih baik dari sebelumnya. Aku sedang terapi mengobati traumaku disini, dan sedikit demi sedikit saya bisa menghadapinya.
Kamu tahu? Akhirnya saya bisa melihat aurora, walaupun bukan di Kutub Utara. Saya cukup senang melihatnya di sini. Ada penguin juga loh, mereka lucu sekali. Cara jalan mereka kaku kayak kamu.
Saya juga berharap bisa ketemu kamu lagi. Tapi, kamu harus sabar menunggu ya.

Tanpa sadar bibirku menyunggingkan sebuah senyum kebahagiaan yang empat tahun ini jarang sekali aku tunjukkan. Senyuman kebahagiaan yang tulus. Aku menyimpan foto yang Raya kirimkan, fotonya didepan fenomena alam yang menyerupai sebuah pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer. Wajahnya tampak sangat bahagia, menurutku malah sepertinya berat badannya naik, terlihat dari pipinya yang tampak semakin chubby.
***
Satu tahun kemudian…
Sejak kepergian Raya ke Kanada, apartemenku sepi. Terkadang juga aku pergi ke Boscha untuk sekedar mengingat kami yang pernah pergi kesana melihat hujan meteor. Kami saling berkomunikasi, setidaknya setiap hari dia mengabariku, lewat teknologi komunikasi yang sudah canggih, atau sesekali kami mengobrol lewat aplikasi yang terdapat di benda yang dinamai dengan smart phone. Dengan aplikasi itu aku bisa melihat wajahnya dan mengobrol dengannya, seperti sekarang,
“Yud…” wajahnya menunduk.
“Hmm?” jawabku. Masih asik memandang wajahnya. Ia tidak berbicara,
“Nungguin yaa? Hahahaha…” Dia meledekku kemudian. Dia memang suka mengerjaiku. “Yud… sekarang serius nih.”
“Bener nih serius?”
“Iya..” ia terdiam lagi, “Sahabatan lagi dong sama Freya sama Dhika.” Aku terdiam. Cukup lama tidak mendengar kabar mereka. Setiap aku mendengar nama mereka, yang kuingat hanya kesalahan mereka berdua.
“Kok tiba-tiba?” tanyaku kemudian.
“Ya, jadi kalo saya pergi kamu nggak kesepian.” Ia tersenyum.
“Pergi kemana?” Ia menjawab dengan mengangkat bahunya.
“Lagian, emang nggak mau liat anak mereka? Lucu loh.” Kabar terakhir yang kudengar dari mereka memang itu. Freya melahirkan seorang anak perempuan.
“Tapi, kok kamu tahu mereka udah punya anak? Darimana kamu tau kalo anak mereka lucu?” Raya nyengir kuda, sangat lebar hingga gigi gingsulnya terlihat.
“Maafin saya Yud. Beberapa bulan ini saya banyak ngobrol sama Freya.” Raya, banyak sekali kejutan darinya. Aku tidak bisa melarangnya, bagaimana pun juga ia ingin sekali membalas kesalahannya, dan yang bermasalah dengan mereka itu aku.
“Saya akan coba Ray.” Aku mengalah. Mungkin mereka juga merasakan rasa bersalah seperti yang dirasakan Raya padaku dan Freya dulu.
***
 Sudah tiga hari ini Raya tidak ada kabar. Mungkin dia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya, atau sedang mempersiapkan tesisnya, mengingat dia sangat ingin buru-buru membereskan sekolah S2 nya itu.
Hari ini aku berniat untuk kembali ke Jakarta. Sudah kubiasakan untuk pulang ke Jakarta dua minggu sekali sejak saat itu. Aku mengunci pintu apartemen, dan berjalan menuju lift. Tubuhku terhenti didepan apartemen yang letaknya persis disebelah apartemenku.
Pintunya terbuka. Raya datang. Dia memberikan aku kejutan rupanya. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk untuk bertemu dengannya,
“Raya...” Aku mengedarkan pandanganku, banyak kardus diruang tv, aku mencarinya ke kamar tidur, dia tidak ada disana, ruang tidur tamu, dia juga tidak ada disana. Aku duduk di kursi meja makan. Hingga seseorang masuk sambil membawa dua buah kardus ditangannya, menyadarkan lamunanku. Kami bertatapan.
Ia menyuguhkan secangkir kopi hitam dihadapanku.
“Perkenalkan saya Nata.” Ia mengulurkan tangannya, aku membalasnya,
“Saya Yuda.” Matanya membulat, seperti sering mendengar namaku,
“Ternyata anda Yuda. Raya banyak bercerita tentang anda.” Aku tersenyum, senang mendengar bahwa Raya sering menyebutkan namaku.
“Raya?” Aku bermaksud menanyakan kabarnya. Karena, terakhir aku mendengar kabarnya adalah tiga hari yang lalu. Ia terdiam. Menundukkan kepalanya, seperti menyimpan sesuatu.
“Raya…” ia terdiam lagi,”…besok dia sampai Jakarta.” Senyumku semakin mengembang. Akhirnya kami bertemu lagi.
“Jam berapa? Saya mau jemput dia di Bandara. Karena kebetulan hari ini saya kembali ke Jakarta.” Lagi-lagi Nata lama menjawab pertanyaanku. Terlihat ia mengusap pipinya.
“Raya udah nggak ada Yud.”
“Maksudnya?” Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Nata, lagipula suaranya sedikit tidak jelas kudengar.
“Raya meninggal, tiga hari yang lalu.” Seketika pikiranku kosong. Hanya bisa menatap Nata dengan kedua mataku yang mulai perih ingin mengeluarkan air mata.
***
Judul tesis saya di acc Yud.” Aku tahu dia sedang senang, walaupun hanya bisa aku dengar lewat telepon jarak jauh.
Selamat yah!” Jawabku santai sambil membereskan beberapa berkas yang akan aku bawa pulang.
Makasih Yud!” kami terdiam, “Saya tiba-tiba pengin balik Jakarta deh Yud.”
Tumben?”
Pengin aja pulang. Kalo saya pulang, jemput saya dibandara yah Yud.” Ini pertama kalinya dia bilang padaku ingin sekali kembali ke Ibukota.
Pasti! Emang kapan?”
“Yud, saya pergi dulu yah. Jangan nangis..” ledeknya.
“Berlebihan! Nggak lah. Yaudah hati-hati.”
“Saya sayang kamu.”

“Iya, saya juga.”***
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com