Rabu, 27 Mei 2015

Ingatan Mei

0

Hatiku berkecambuk. Mengucap dalam hati, “Itu bukan aku.” aku melihat sosok diriku sendiri menjengut rambut seorang gadis kira-kira berumur 16 tahun memakai putih abu-abu di kamar mandi tanpa ampun, hingga ia menangis dan meminta ampun. Sosok itu melakukannya bersama dua orang gadis lain yang seumuran. Aku menatap wajahku sendiri lamat-lamat, kepuasan atas kekerasan yang sudah kulakukan terpancar jelas, lagi-lagi aku bergumam, “Itu bukan aku.”
Aku membuka mata, seusai mengingat-ingat mimpi semalam. Menakutkan. Semua terlihat sangat nyata. Tangan yang besar mengelus lembut rambutku yang bergelombang, aku menatapnya dan tersenyum. “Kukira tidur.” Katanya dengan suara berat, aku tidak menjawab, hanya memandang diluar jendela dari dalam kendaraan beroda empat.
Kembali ke tempat aku tumbuh, yang aku sendiri tidak ingat kenangan apapun disini. Tiga tahun yang lalu Ibu dan Papa membawaku ke Semarang, mereka hanya bilang, “Ini untuk kebaikan mu,” dan menyuruhku untuk tidak lagi bertanya apa yang terjadi tentang masa lalu. Tapi, mimpi aku menyakiti banyak gadis terus hadir dalam mimpiku. Aku hanya penasaran, seperti apa aku dulu. Maka disinilah kami, Aku dan kekasihku.
Seminggu yang lalu ada undangan reuni SMA yang muncul di alamat surel ku, yah sudah bertahun-tahun alamat surel ku tidak diganti. Aku pun ingat begitu saja dengan surname dan password nya. Lalu, aku membujuk Bayu – kekasiku untuk mengantarkanku. Kemudian memikirkan alasan yang tepat diberikan pada Ibu dan Papa, karena aku yakin, mereka tidak akan mengijinkannya, jika mereka tahu aku akan menghadiri reuni SMA.
Pemandangan yang berbeda dengan kota yang biasa aku lihat selama tiga tahun ini bermuculan perlahan. Lalu, kami berhenti di sebuah tempat makan di daerah Juanda. Bergaya khas betawi. Kami duduk didekat jendela di lantai dua. Aku selalu suka duduk didekat jendela. “Mei?” tiba-tiba seseorang memanggil namaku, seorang perempuan memakai seragam pelayan menghampiriku. Aku mengerutkan keningku, tidak tahu siapa dia. Raut wajah perempuan itu berubah, menjadi takut. Lalu pergi dari hadapan kami.
Aku dan Bayu bertukar pandang. Bayu mengedikkan bahunya.

***
“Kayaknya orang yang tadi kenal aku deh Bay. Tapi kenapa ya dia langsung pergi gitu?” Bayu menggenggam tanganku. Kami menuju tempat menginap di daerah Jakarta Selatan.
“Mei, aku mau nanya sekali lagi deh sama kamu.. ini untuk mastiin aja kesiapan kamu.”
“Aku siap, Bay.”
“Ibu sama Papa kamu nutupin semua pasti…”
“Pasti punya alasan yang baik untuk aku…” aku memotong ucapannya, “…Bay, kamu udah bilang ini berulang kali.. dan berulang kali juga aku jawab, aku siap, Bay.” Aku menatapnya, namun matanya harus terfokus ke depan, “Bay, kalo aku siap. Kalian juga harus siap.”
Suasana dalam mobil cukup lengang setelah perdebatan kami. Bayu tidak lagi berucap, aku pun enggan. Kami sama-sama menatap ke arah luar, dalam benakku terus bertanya, “Orang seperti apa aku dulu?”
***
Kami berjalan dari parkiran mobil ke hall utama di sebuah gedung pertemuan yang lumayan besar. Bayu menggenggam tanganku, matanya mengisyaratkan sesuatu, aku tersenyum, “Bay… aku siap… karna disini aku bisa menjawab mimpi-mimpi aku.” Bayu menyuruhku untuk menggenggamnya lebih erat. Dia adalah orang yang pertama kali menyapaku di sekolah saat aku pindah ke Semarang, saat aku menjadi orang yang takut untuk berkenalan dengan lingkungan baru.
Kami memasuki hall, disana banyak sekali teman-teman SMA yang aku sendiri lupa dengan mereka. Namun, mata mereka mengenaliku. Suara yang ramai perlahan hening, hampir semua mata menatapku, sambil berbisik. Aku hanya tersenyum membalas mereka, namun mereka seperti menghindariku. Aku menundukkan kepala, kenapa semuanya seperti ini?
Hingga seorang MC kembali meramaikan suasana, melupakan kedatangan kami. Bayu mengajakku ke arah meja yang berisikan gelas di sayap kanan. Degupan jantungku tidak mau berhenti walaupun aku sudah meminum segelas air putih, badanku gemetar. Bayu menggenggam tanganku lebih erat. Dua orang perempuan menghampiriku, gaya berpakaian mereka seperti umumnya perempuan kota metropolitan ini, dengan dandanan yang tebal untuk menutupi kekurangan pada wajah mereka.
“Mei..” Mereka menyebutkan namaku. Aku mencoba mengingat wajah mereka. Tiba-tiba terlintas wajah mereka dalam mimpiku. Sama-sama ada di kamar mandi dan ikut memukuli seorang gadis. Aku hanya tersenyum. Lalu mereka memelukku.
“Kalian siapa ya?” aku bertanya begitu mereka melepaskan pelukannya.
“Lo lupa sama kita Mei?” aku hanya tersenyum. “Kita sahabat lo Mei.” Aku menatap Bayu, senang rasanya begitu tahu mereka sahabatku, berarti mereka kenal sekali aku seperti apa, “Mei, kita kangen banget sama lo..” Tapi mengapa aku merasa tidak begitu nyaman ada di dekat mereka, “Mei, pacar lo?” Mata mereka memandangan rendah Bayu, “Bukan tipe lo banget deh.” Aku terdiam, Bayu menatapku.
“Iya… dia pacar saya…” Jawabku sedikit sinis, tidak suka dengan apa yang mereka ucapkan.
“Mei…” mereka mencoba membujukku. Mungkin merasa menyesal.
“Bay, kita cari makanan kecil yuk…” Ajakku. Ingin pergi dari hadapan mereka.
Aku menatap sekeliling. Mengapa tidak ada satupun yang mengajakku berbicara kecuali dua perempuan menor tadi. Mereka semua menghindariku, dan menatapku dengan pandangan sinis.
Lalu seseorang tidak sengaja menumpahkan saus pempek di blouse putihku, meminta maaf dengan nada takut. “Mei… maafin gue… gue nggak sengaja… beneran… jangan marahin gue…” katanya sambil membersihkan bercak saus dengan tissue menggunakan tangannya yang terasa gemetaran. Aku menghentikannya,
“Nggak apa kok.. ini dicuci juga hilang nodanya.” Wajahnya tampak terkejut dengan apa yang kukatakan.
“Lo Mei kan?”
“Iya…” jawabku santai.
“Lo bukan Mei… Mei nggak gini…”
“Maksudnya?” Tapi dia pergi dari hadapanku. Bayu merangkul ku. “Kalo gini gimana caranya aku nyari tau Bay.. semuanya aja kayak yang jijik sama aku..”
“Berani banget lo dateng ke sini..” sebuah suara menyadarkanku. “Bisa-bisanya habis bunuh orang lo nampilin muka lo tanpa rasa bersalah?” seorang perempuan dan seorang laki-laki menghampiriku. Laki-laki itu mencoba menahan perempuan itu.
“Mbak tolong yah omongannya dijaga. Tahu sopan santun kan?” Bayu yang maju. Aku gemetaran,
“Buat apa gue ngomong sopan sama orang yang nggak punya sopan santun dan otak kayak dia.” Perempuan itu menunjukku.
Kedua perempuan berdandan menor tadi menghampiriku. “Put, apa-apaan sih.” Kata salah seorang dari mereka.
“Diem lo berdua. Lo berdua sama aja kaya dia!” Suaranya membuat seluruh yang ada di ruangan memperhatikan kami.
“Putri, udah kali. Mei juga nyesel kok.”
“Nyesel kata lo? Dengan cara kabur dan pergi gitu aja kata lo nyesel?”
Aku memberanikan diri menatap perempuan yang dipanggil putri itu, “Saya nggak inget apa-apa. Tolong kasih tau saya, kenapa kamu bicara kayak gini sama saya?” aku memohon padanya, mengenggam tangannya, dengan kasar dia melepaskan,
“Jangan pura-pura lupa! Sok innocence banget lo sekarang! Lo nggak inget dulu kayak gimana?!” aku menggeleng. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud olehnya. “Denger yah Mei yang manis, yang merasa paling cantik dan paling oke. Lo tuh udah ngebunuh temen gue!”
Salah satu perempuan yang membelaku mendorongnya, “Put! Udah lah!”
Bayu membawaku keluar ruangan. Keluar dari kebisingan. Keluar dari perhatian banyak orang. “Kita pulang..”
Seseorang menarik tanganku.
***
“Kita nggak tau mesti beneran jujur sama lo atau nggak… karna…” Hera – nama salah satu perempuan berdandan menor, yang baru aku tahu namanya - menundukkan kepalanya, dia tampak ragu. Kami duduk di sebuah tempat makan cepat saji.
“Karna apa? Hera.. saya harus tau.. kasih tau saya..”
“Gue nggak boleh nyeritain apa-apa.. nyokap bokap lo yang nyuruh.. kita juga nggak boleh lagi sebenernya ngehubungin lo..” aku menatap Hera dan Tika bergantian. Ibu sampai segitunya menutupi semuanya. Menutupi kesalahan yang telah dibuat anaknya.
“Ceritain aja Her... Ibu saya nggak ada di sini kok..” aku masih berbicara sedikit formal padanya,
“Tiga tahun yang lalu, pas SMA kita nggak sengaja… ngebunuh orang Mei…” jelas Tika.
“Maksudnya?”
“Namanya Rara.. dia ketauan suka sama Bian, mantan pacar lo. Trus lo murka…” Tika berhenti bercerita, “…lo manggil dia, kita bawa dia ke kamar mandi. Lo ngintogerasi dia pake kekerasan Mei…” kejadian-kejadian yang di mimpi hadir dalam ingatanku,
***
“Lo suka sama Bian?! Dari kapan?! Kecentilan banget lo!” aku menarik rambutnya dengan keras, Rara menangis kesakitan. Aku mendengar diluar kamar mandi sudah ramai oleh anak-anak lain yang penasaran dengan apa yang terjadi. Aku menjatuhkannya ke lantai,
“Mei… ampun Mei… maafin gue…” Rara menangis, membuatku semakin geram mendengarnya. Aku menendang perutnya, lumayan keras. Hera dan Tika mengangkatnya, agar dia berdiri. Aku menarik lagi rambutnya, menamparnya berulang kali. Hingga hidungnya berdarah.
“Jadi lo ngerasa pantes deketin Bian? Lo lupa Bian siapanya gue?” aku menamparnya lagi. Aku geram sekali. Kesal dengan semua yang kutahu. Dia aku beri hati minta jantung,
“Mei… maafin gue Mei…” aku memukul keras kepalanya dengan telapak tanganku.
“Lo udah gue jadiin temen, tapi nusuk gue dari belakang? Diem-diem lo deketin Bian!” aku menamparnya sekali lagi, dia tergeletak jatuh. Tidak bergerak.
Tiba-tiba aku menerima pukulan, aku merasakan kepala ku terbentur sesuatu lumayan keras dan semua gelap.
***
“Lo sama Rara, sama-sama dibawa ke rumah sakit hari itu. Gue, Hera sama Putri kena skors.. Rara nggak selamat.. sedangkan lo, karena kepala lo terbentur wastafel akibat dipukul putri, pendarahan dan nyebabin lo amnesia Mei..”
“Orang tuanya Rara nggak terima, ngelaporin kita ke polisi, bokap gue sama bokap Hera ngejamin kita. Bokap lo juga, tapi dengan satu syarat, lo keluar dari sekolah. Makanya, keluarga lo pindah ke Semarang. Tapi, anak-anak taunya lo kabur, lari dari tanggung jawab.”
“Kalian?” tanyaku. Air mataku tidak bisa lagi dibendung, kepalaku juga sedikit sakit,
“Kita dapet apa yang udah kita kasih ke mereka – orang-orang yang kita bully.. gue sama Tika bener-bener nyoba bertahan di sekolah demi lo Mei.. demi tanggung jawab yang udah kita lakuin..”
Badanku gemetar. Kepalaku semakin sakit. “Aaakkkh!!” aku hanya bisa berteriak, samar-samar aku mendengar Bayu, Hera dan Tika memanggil-manggil namaku.
***
Aku terbangun, kulihat Bayu sudah berada disampingku. Tertidur. Aku mengelus kepalanya. Dia membuka matanya dan tersenyum padaku. Aku teringat lagi, air mataku jatuh lagi.
“Aku mau ke kamar mandi..” aku menatap wajahku sendiri di cermin. Wajah seorang pembunuh, penyiksa, memukuli hanya karena seorang laki-laki. “Aaakkkh!!!” air mataku tidak tertahan. Aku membanting gelas didekat wastafel. Aku terduduk, tangisku lebih keras dibanding sebelumnya.
Kurasakan tubuh Bayu memelukku erat. Aku memberontak, merasa tidak pantas untuk mendapatkan pelukan.
“lepasin aku Bay.. Jangan lagi pacaran sama aku.. aku pembunuh..” Bayu tetap tidak melepaskannya,
“Nggak Mei.. nggak akan.. aku disini buat kamu..”
“Aku nggak pantes buat kamu Bay.. aku mohon Bay.. pergi tinggalin aku..”
“Aku sayang sama kamu Mei.. aku sayang sama Mei yang sekarang..” Bayu membalikkan tubuhku, “Mei.. semua orang punya masa lalu yang buruk.. semua orang pernah ngelakuin kesalahan.. kamu seharusnya bersyukur Mei.. Tuhan ngasih kamu kesempatan buat memperbaikin semuanya..”
“Tapi aku gak pantes buat kamu, Bay..”
“Mei!” suaranya meninggi, “Aku milih kamu.. jadi, aku siap nerima kamu.. jangan pernah ngomong gitu.”  Bayu mendekapku. Memelukku. “Udah yah sayang.. Nanti tremor-nya kambuh lagi.”
“Yang pasti kamu harus jadi orang yang lebih baik lagi.. karna, orang yang mau lebih baik dari sebelumnya adalah orang yang belajar dari masa lalunya.” Kata-kata Bayu menenangkanku. Tangannya yang besar membelai rambutku, memberiku kenyamanan.

Aku berharap, Rara yang ada di surga sekarang mau memaafkan aku. Aku juga tidak akan lagi menyalahkan Ibu dan Papa yang melarangku untuk ingat semuanya, untuk berhubungan dengan orang-orang yang pernah hadir dalam masa lalu yang baru aku ingat. Aku tebus kesalahanku dengan menjadi orang yang lebih baik sekarang, bukan lagi jadi Mei yang dulu.***

Pengarang: SHanifa

Rabu, 15 April 2015

Runaway #5 (Finale)

0

Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur sejak semalam, hingga matahari menyapaku, yang aku tidak tahu sudah pukul berapa sekarang. Aku tidak tidur semalaman karena aku tahu bahwa gadis yang kutabrak bernama Freya dan dia adalah gadis yang dicintai tetangga baruku sekaligus lelaki yang mengisi hatiku sebulan ini. Perasaan bersalah yang sudah tertimbun hampir empat tahun ini bertambah.
Aku mendengar pintu apartemenku terbuka. Pasti Nata, dia memang memegang kunci cadangan apartemenku, dan aku yang memintanya untuk datang. Aku mendengar ada yang mengetuk pintu kamar, lalu ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu, “Ray..” dia memanggil namaku, namun aku enggan untuk bangun dari ranjang.
Aku tahu mata Nata menatapku, dia sedang menunggu. Menungguku untuk bercerita apa yang sedang terjadi pada sahabatnya. Namun, aku masih menyibukkan diriku dengan memutar-mutar cangkir berisikan teh manis hangat.
“Nat..”
“Hmm?”
“Gadis yang gue tabrak tiga tahun yang lalu, namanya Freya.” Dalam diamnya, Nata mendengarkanku, “Freya itu mantannya Yuda.”
“Yuda itu, laki-laki yang beberapa hari ini jadi topik utama obrolan kita Ray?” aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
“Gue harus gimana Nat?” air mata yang tidak bisa keluar sejak semalam akhirnya tidak bertahan. Aku merasakan tangan Nata mengelus ubun-ubun kepalaku, dia pernah bilang, dengan cara seperti ini orang yang sedang sedih akan merasakan kenyamanan.
“Bilang sama dia Ray.” Aku menatap Nata dengan mata penuh dengan air yang dihasilkan oleh mata.
“Gue nggak mau Nat. Lebih baik gue ngehindarin dia.”
“Sampe kapan? Gue yakin, perasaan bersalah lo nggak bakal ilang kalo lo belum bilang sama dia.” Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku juga tidak tahu, harus sampai kapan. “Cape Ray lari terus. Pelari jarak jauh aja ada capek nya.” Ia membalikkan tubuhku untuk menatapnya, “Ini nandain kalo udah waktunya lo harus berenti lari.” Nata ada benarnya. Aku tidak mau lagi lari. Setidaknya Yuda dan Freya harus tahu siapa aku, agar aku tidak terus membohonginya.
“Gue nggak berani Nat..” Tubuh Nata mendekap tubuhku, dan tangisku semakin kencang.
***
Aku tersenyum pada laki-laki yang berdiri didepan pintu apartemenku. Sudah seminggu aku menghindari Yuda. Tidak ingin melihatnya, dan aku juga tidak ingin dilihat olehnya. Matanya menyoroti tubuhku yang mungkin baginya terlihat tidak sehat, “Apa kabar Raya?” Ya Tuhan, aku sebenarnya merindukannya. Tapi aku tahu, ini tidak boleh.
“Mau masuk?” aku menjawabnya dengan sebuah pertanyaan yang berbeda dengan apa yang aku inginkan. Ia mengangguk. Kemudian duduk di depan tv, “Mau minum apa?” aku tahu, aku terlihat canggung didepannya tapi berusaha untuk tidak terlalu terlihat seperti itu.
“Nggak perlu. Sini duduk.” Ia menyuruhku duduk disebelahnya, aku tidak kuat lagi.
“Kebetulan. Ada yang mau saya kasih tau ke kamu.” aku menghampirinya. Sekarang atau tidak sama sekali Raya. Mau kapanpun kamu kasih tahu dia, resiko yang akan diterima akan sama. “Sebelumnya saya mau minta maaf sama kamu Yud.” Seperti biasa, wajahnya tidak berekspresi, jadi susah untukku, untuk tahu apa yang ada didalam hatinya,
“Sebenernya, saya kabur ke Bandung punya dua alasan. Salah satunya yang udah saya ceritain ke kamu..” aku menarik nafas, mempersiapkan diri memberitahu plot dari obrolan ini, “Tiga tahun yang lalu, saya menabrak seorang gadis yang menyebabkannya amnesia..” raut wajah Yuda terlihat berbeda, “…gadis itu ternyata Freya.” Yuda bangkit dari duduknya, dan meninggalkan apartemenku. Dia pergi tanpa bertanya atau menanggapi apa yang sudah kukatakan padanya. Membuat hatiku semakin sakit. Meyakinkan diriku bahwa aku harus pergi sejauh mungkin dari hadapannya.
Suara telepon genggamku terdengar, aku usap air mataku. Kulihat nomor internasional lagi, pasti Papa. “Pa.. Raya mau ke Kanada.”
***
[Yuda]
Aku memasukkan baju-bajuku ke dalam koper kecil. Aku ingin pulang ke Jakarta hari ini, karena sabtu besok adalah acara yang tidak aku ingin datangi, tapi, tidak baik juga untuk terus menghindar. Sudah lima hari sejak Raya mengaku bahwa dirinya yang menabrak Freya tiga tahun yang lalu. Awalnya aku juga tidak ingin percaya, tapi ingat kejadian saat Freya datang, ah sudahlah, aku sendiri tidak tahu perasaan yang ada dalam dadaku saat tahu kebenarannya, campur aduk. Kesal dan tidak percaya.
Aku membuka pintu, saat keluar apartemen, kulihat ada secarik kertas dibawah pintu, tertulis dari Raya. Aku tidak ingin membukanya. Kutaruh sembarang kertas itu, kemudian pergi.
***
Aku datang kerumahnya yang sudah mulai dipasangkan tenda dan beberapa kerabatnya yang mulai berdatangan. Freya memintaku datang, dia bilang, aku harus menyaksikan upacara adat siraman hari ini. aku siap, memaksakan diri untuk siap melihatnya mengenakan kebaya berwarna putih dan riasan yang tidak biasa.
Freya menghampiriku, “Makasih ya udah dateng..” aku menatap matanya, tidak aku tidak boleh seperti ini, “Temen kamu nggak diajak? Kan aku minta kamu dateng sama dia.”
“Maksud kamu Raya?” terasa sangat lama aku tidak mengucapkan namanya, Freya mengangguk. “Aku nggak akan mau kenal lagi sama dia Fre.”
“Kenapa?” freya mengerutkan keningnya.
“Ternyata dia orang yang nabrak kamu.” wajah Freya tampak terkejut, “Dia yang buat kamu amnesia, dan dia yang bikin aku kehilangan kamu.” aku tidak bisa lagi membohongi diriku yang masih menaruh perasaan pada Freya.
“Nggak sepenuhnya salah temen kamu Yud.”
“Maksud kamu Fre?” aku tidak mengerti, kenapa banyak sekali alasan yang tidak aku tahu.
“Mungkin kejadian tabrakan itu adalah kejadian yang memang tidak sengaja terjadi dan bikin aku beralasan bahwa itu adalah faktor utamanya.” Aku semakin tidak paham apa yang sedang dibicarakan Freya, bertele-tele. “Seharusnya aku udah bilang dari awal sama kamu.” sebenarnya kemana arah obrolan ini kemana, “Yud, aku sebenernya udah inget semuanya dari setahun yang lalu.”
“Maksud kamu?”
“Pas aku kecelakaan, sehari setelah kamu ngelamar aku. Aku bertengkar hebat sama Dhika…” Freya berhenti bicara, untuk apa dia bertengkar sama Dhika “…maafin aku Yud. Pas kita masih pacaran, aku sama Dhika juga pacaran.” Aku memegangi kepalaku. “Ya, aku selingkuh sama Dhika. Jadi, aku menggunakan amnesiaku, buat balikan sama Dhika. Aku selingkuh sama Dhika karena-“
“Cukup Fre!” tanpa sadar aku membentaknya, “Nggak ada lagi kita bertiga. Nggak ada lagi aku kenal kamu!” dengan segera aku pergi dari hadapannya. Tidak perduli dengan mata orang- orang yang menatap kami ditambah kondisi Freya yang menangis. Kupikir selama ini aku yang pengecut, Dhika tidak salah begitu juga dengan Freya. Kenapa begitu banyak rahasia mereka simpan. Apa salahku, kenapa mereka begitu jahat?
***
Berulang kali aku memencet bel pintu apartemen Raya. Namun tidak ada jawaban darinya. Mungkin dia tidak mau bertemu lagi denganku. Terakhir kali aku bertemu dengannya aku tidak mengucapkan kata apapun padanya, bahkan menatapnya lagi saja tidak. Aku tahu aku salah karena sudah melimpahkan semua kesalahan padanya, dia memang bersalah, tapi seperti kata Freya, hubungan Freya dan Dhika bukan sepenuhnya salah Raya.
Aku ingin menemuinya, meminta maaf padanya. Aku ingat ada secarik kertas dari Raya yang ia tinggalkan di bawah pintu apartemenku. Tapi, lupa kutaruh dimana. Hingga aku melihat benda tipis berwarna putih terselip di rak sepatuku. Perlahan kubuka,

Hai tetangga baru yang berhati kutub utara. Maafkan si pengecut yang lagi-lagi kabur karena nggak bisa lagi nunjukin wajahnya dihadapan kamu. Kali ini saya kaburnya jauh banget, bukan ke Saturnus kok, masih di Bumi. Ke Kanada. Saya mau sekolah lagi, Yud. Saya harap kamu maafin saya.
Saya lelah Yud, saya nggak mau lari lagi. Kali ini, saya bakalan berhenti lari dan menghadapinya. Saya siap sekarang, makanya saya berani kabur jauh.
By the way, maafin saya Yud, saya udah lancang suka sama kamu. Saya merasa, saya nggak pantes suka sama orang yang udah saya hancurin hatinya. Sampaikan maaf saya buat Freya juga buat ibunya ya.

Salam,
Raya Utami

Aku tidak tahu harus kemana mengabarinya. Aku tidak tahu harus menjawab permintaan maafnya kemana. Memoriku kembali ke Raya yang menitipkan sebuah data ke emailku. Benar, tidak ada salahnya untuk mengiriminya sebuah email.


Hai astronot. Apa kabar? Kenapa kabur lagi? Kenapa nggak ngajak saya untuk ikut sama kamu? saya juga pengin kabur sama kamu. Saya terima maaf kamu, karena sepenuhnya bukan salah kamu.
Ray, kadang kejujuran emang nyakitin ya. Tapi, dari kejujuran itu saya belajar, kalo nggak selamanya apa yang kita cintai bisa kita miliki.
Saya harap, saya bisa ketemu lagi, Ray. Apartemen saya sepi nggak ada kamu.
***
Sebuah email baru masuk ke kotak masuk emailku. Berharap dari Raya. Ini hari ke-10 dia tidak membalas emailku. Mataku membulat begitu melihat alamat email yang kutunggu,

Hai Yuda. Aku lebih baik dari sebelumnya. Aku sedang terapi mengobati traumaku disini, dan sedikit demi sedikit saya bisa menghadapinya.
Kamu tahu? Akhirnya saya bisa melihat aurora, walaupun bukan di Kutub Utara. Saya cukup senang melihatnya di sini. Ada penguin juga loh, mereka lucu sekali. Cara jalan mereka kaku kayak kamu.
Saya juga berharap bisa ketemu kamu lagi. Tapi, kamu harus sabar menunggu ya.

Tanpa sadar bibirku menyunggingkan sebuah senyum kebahagiaan yang empat tahun ini jarang sekali aku tunjukkan. Senyuman kebahagiaan yang tulus. Aku menyimpan foto yang Raya kirimkan, fotonya didepan fenomena alam yang menyerupai sebuah pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer. Wajahnya tampak sangat bahagia, menurutku malah sepertinya berat badannya naik, terlihat dari pipinya yang tampak semakin chubby.
***
Satu tahun kemudian…
Sejak kepergian Raya ke Kanada, apartemenku sepi. Terkadang juga aku pergi ke Boscha untuk sekedar mengingat kami yang pernah pergi kesana melihat hujan meteor. Kami saling berkomunikasi, setidaknya setiap hari dia mengabariku, lewat teknologi komunikasi yang sudah canggih, atau sesekali kami mengobrol lewat aplikasi yang terdapat di benda yang dinamai dengan smart phone. Dengan aplikasi itu aku bisa melihat wajahnya dan mengobrol dengannya, seperti sekarang,
“Yud…” wajahnya menunduk.
“Hmm?” jawabku. Masih asik memandang wajahnya. Ia tidak berbicara,
“Nungguin yaa? Hahahaha…” Dia meledekku kemudian. Dia memang suka mengerjaiku. “Yud… sekarang serius nih.”
“Bener nih serius?”
“Iya..” ia terdiam lagi, “Sahabatan lagi dong sama Freya sama Dhika.” Aku terdiam. Cukup lama tidak mendengar kabar mereka. Setiap aku mendengar nama mereka, yang kuingat hanya kesalahan mereka berdua.
“Kok tiba-tiba?” tanyaku kemudian.
“Ya, jadi kalo saya pergi kamu nggak kesepian.” Ia tersenyum.
“Pergi kemana?” Ia menjawab dengan mengangkat bahunya.
“Lagian, emang nggak mau liat anak mereka? Lucu loh.” Kabar terakhir yang kudengar dari mereka memang itu. Freya melahirkan seorang anak perempuan.
“Tapi, kok kamu tahu mereka udah punya anak? Darimana kamu tau kalo anak mereka lucu?” Raya nyengir kuda, sangat lebar hingga gigi gingsulnya terlihat.
“Maafin saya Yud. Beberapa bulan ini saya banyak ngobrol sama Freya.” Raya, banyak sekali kejutan darinya. Aku tidak bisa melarangnya, bagaimana pun juga ia ingin sekali membalas kesalahannya, dan yang bermasalah dengan mereka itu aku.
“Saya akan coba Ray.” Aku mengalah. Mungkin mereka juga merasakan rasa bersalah seperti yang dirasakan Raya padaku dan Freya dulu.
***
 Sudah tiga hari ini Raya tidak ada kabar. Mungkin dia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya, atau sedang mempersiapkan tesisnya, mengingat dia sangat ingin buru-buru membereskan sekolah S2 nya itu.
Hari ini aku berniat untuk kembali ke Jakarta. Sudah kubiasakan untuk pulang ke Jakarta dua minggu sekali sejak saat itu. Aku mengunci pintu apartemen, dan berjalan menuju lift. Tubuhku terhenti didepan apartemen yang letaknya persis disebelah apartemenku.
Pintunya terbuka. Raya datang. Dia memberikan aku kejutan rupanya. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk untuk bertemu dengannya,
“Raya...” Aku mengedarkan pandanganku, banyak kardus diruang tv, aku mencarinya ke kamar tidur, dia tidak ada disana, ruang tidur tamu, dia juga tidak ada disana. Aku duduk di kursi meja makan. Hingga seseorang masuk sambil membawa dua buah kardus ditangannya, menyadarkan lamunanku. Kami bertatapan.
Ia menyuguhkan secangkir kopi hitam dihadapanku.
“Perkenalkan saya Nata.” Ia mengulurkan tangannya, aku membalasnya,
“Saya Yuda.” Matanya membulat, seperti sering mendengar namaku,
“Ternyata anda Yuda. Raya banyak bercerita tentang anda.” Aku tersenyum, senang mendengar bahwa Raya sering menyebutkan namaku.
“Raya?” Aku bermaksud menanyakan kabarnya. Karena, terakhir aku mendengar kabarnya adalah tiga hari yang lalu. Ia terdiam. Menundukkan kepalanya, seperti menyimpan sesuatu.
“Raya…” ia terdiam lagi,”…besok dia sampai Jakarta.” Senyumku semakin mengembang. Akhirnya kami bertemu lagi.
“Jam berapa? Saya mau jemput dia di Bandara. Karena kebetulan hari ini saya kembali ke Jakarta.” Lagi-lagi Nata lama menjawab pertanyaanku. Terlihat ia mengusap pipinya.
“Raya udah nggak ada Yud.”
“Maksudnya?” Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Nata, lagipula suaranya sedikit tidak jelas kudengar.
“Raya meninggal, tiga hari yang lalu.” Seketika pikiranku kosong. Hanya bisa menatap Nata dengan kedua mataku yang mulai perih ingin mengeluarkan air mata.
***
Judul tesis saya di acc Yud.” Aku tahu dia sedang senang, walaupun hanya bisa aku dengar lewat telepon jarak jauh.
Selamat yah!” Jawabku santai sambil membereskan beberapa berkas yang akan aku bawa pulang.
Makasih Yud!” kami terdiam, “Saya tiba-tiba pengin balik Jakarta deh Yud.”
Tumben?”
Pengin aja pulang. Kalo saya pulang, jemput saya dibandara yah Yud.” Ini pertama kalinya dia bilang padaku ingin sekali kembali ke Ibukota.
Pasti! Emang kapan?”
“Yud, saya pergi dulu yah. Jangan nangis..” ledeknya.
“Berlebihan! Nggak lah. Yaudah hati-hati.”
“Saya sayang kamu.”

“Iya, saya juga.”***

Rabu, 01 April 2015

Runaway #4

0

[Yuda]
Kami memutuskan untuk merasakan kehangatan teh jahe yang menjadi salah satu menu disebuah saung di pinggiran jalan di daerah Lembang sebelum kembali pulang, lagipula di jam ini perjalan turun ke Bandung akan macet sekali,
“Aaah! indah bangeet!” Teriak Raya ke hamparan lampu-lampu kota yang menjadi pemandangan manis untuk kami,
“Berisik. Kayak belum pernah pergi ke Lembang.”
“Biarin. Itu tandanya, saya orang yang ekspresif. Nggak kayak kamu.” aku tersenyum, kuakui kalau aku adalah orang yang kaku, “by the way Yud…” aku menatapnya, ia tampak ragu saat ingin mengajukan pertanyaan padaku, “…Boleh tau nggak alasannya?”
“Alasan apa?” aku berbalik bertanya padanya,
“Alasan kamu ingin pergi dan nggak ingin kembali?”
Aku lama menjawab, mempersiapkan mental dan kepercayaan. Apakah aku bisa percaya padanya untuk menceritakan hal pribadi, dan apa aku siap untuk mengingat kembali kejadian-kejadian itu.
“Saya punya sahabat, namanya Freya sama Dhika.” Tiba-tiba saja bibirku memutuskan untuk bercerita padanya, “singkat cerita saya pacaran sama Freya. Sekitar empat tahun kami jadian, saya mutusin buat ngelamar dia dan pengin dia yang nemenin saya sampai saya tua.” Aku menarik nafas,  “besoknya, saya dapet telepon dari Dhika kalo Freya kecelakaan, ditabrak mobil. Udah pasti saya langsung pergi. Untungnya dia selamat, tapi yang bikin kami, saya sama Dhika sedih, dia nggak inget siapa kami. Bahkan dia nggak tau siapa dirinya.” Aku meneguk teh jahe pesanan kami yang baru saja disajikan oleh pemilik saung,
“Kami berusaha banget ngeyakinin Freya dan ngebantu dia buat inget lagi. Sampe suatu waktu, dia bilang sama saya kalo dia suka sama Dhika. Saya nggak tahu harus gimana.” Perasaan kecewa dan hati yang tercabik-cabik datang jika aku menceritakannya.
***
[Raya]
Baru kali ini aku melihat wajah Yuda penuh ekspresi kekecewaan saat ia bercerita padaku mengenai alasannya menetap di Bandung. Entah mengapa, aku merasa ada keterkaitan dengan nama perempuan yang ia sebut,
“Freya sama Dhika akhirnya jadian, ternyata Dhika juga suka sama Freya. Saya nggak bisa apa-apa, cuma bisa melihat kebahagiaan mereka dari kesakitan yang Saya rasain. Saya nggak bisa nerimanya Ray. Bagaimanapun juga, Saya sayang banget sama Freya. Nggak rela dia buat Dhika.”
“Dhika sendiri gimana?”
“Dia berulang kali minta maaf sama Saya. pengin rasanya Saya nonjok muka dia, tapi Saya nggak bisa nyalahin dia juga, itu pilihan Freya.”
“Kalo boleh tau, kejadiannya kapan Yud?” aku memberanikan untuk bertanya lebih lanjut,
“Tiga tahun yang lalu Ray, Oktober 2011.” Aku tersentak saat mendengar bulan dan tahun yang disebutkan Yuda, sama persis dengan tragedi itu. Tidak, ini mungkin hanya sebuah kebetulan dengan kasus, bulan bahkan tahun yang sama. Tapi, gadis yang aku tabrak juga amnesia. Jangan ambil kesimpulan terlalu jauh, ini hanya sebuah kebetulan. Mungkin Freya ditabrak oleh pengendara lain, bukan aku.
Seketika pula, sekelilingku berputar, aku memegang ujung meja agar tidak terjatuh dari dudukku. Aku harus bertingkah bahwa semuanya baik-baik saja. Jangan sampai Yuda bertanya, dan aku juga tidak ingin bercerita. Ia cukup tahu, alasan kaburku ke Bandung karena perceraian orangtua dan Mama yang menikah lagi.
“Sampe sekarang nggak tau, kalo kamu pacarnya?” Yuda menjawabnya dengan gelengan, “Kamu percaya takdir? Mungkin, Tuhan lagi nyiapin orang yang lebih baik dari Freya buat kamu.” Aku mencoba bijaksana didepannya. Walaupun mungkin kalimat-kalimat yang aku berikan padanya sudah berulang kali ia dengar. Dia menegukan sisa teh jahenya,
“Haah! Sudah yah. Saya nggak mau lagi ngomongin soal itu.” aku tidak bertanya lagi. Ada perasaan takut juga didalam dadaku. Takut kalau semuanya benar-benar sama.
***
Aku membaringkan tubuhku di kasur, menatap langit-langit yang kulukis sendiri, bergambarkan tata surya. Memikirkan pembicaraanku dengan Yuda beberapa jam yang lalu, dan aku jadi merasa sedikit segan padanya. Telepon genggamku berbunyi, Mama. Selalu saja menghubungiku siang dan malam. Membujukku untuk kembali pulang. Kulihat layar, nomor internasional,
“Halo.”
“Raya.” Suara Papa. Aku rindu dengan suara lelaki yang selalu aku idolakan ini,
“Pap. Apa kabar?” tanyaku, sedikit ada kecanggungan diantara kami, karena ini telepon yang pertama setelah lima bulan yang lalu.
“Baik, Sayang. Kamu sendiri?”
“Baik. Tumben Pa, telepon Raya. Apa Mama ngadu lagi sama Papa?” tanyaku. Mama sama Papa memang sudah bercerai, tapi mereka tetap berkomunikasi satu sama lain. Tetap menjaga hubungan baik demi aku. Itu yang mereka katakan.
“Emangnya Papa kalo telepon harus selalu ada aduan dari Mama kamu?” andalannya Papa untuk membalikkan senjata,
“Biasanya sih kayak gitu, contohnya terakhir kali Papa telepon aku.”
“Raya. Ada yang mau Papa tanyain sama kamu.”
“Apa? Aku kasih Papa pilihan, satu, kenapa Raya gak mau pulang? Dua, kenapa Raya gak mau berobat lagi? Coba Papa pilih salah satu.” Aku mendengar tawa dari sebrang sana.
“Raya, kamu nggak ada niat buat ngelanjutin S2?”
Pertanyaan yang berbeda rupanya. Ini pertama kalinya papa bertanya niatku untuk melanjutkan studi. Aku berpikir. “Pengin sih Pa. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Raya belum bisa mutusin sekarang Pa.” Belum bisa, aku belum berani untuk pergi terlalu jauh sekarang. Walaupun aku ingin pergi jauh.
“Kamu ambil lah S2 di Kanada, sekalian temenin Papa. Ya sayang?” aku terdiam. Memang sejak orang tuaku bercerai, Papa tidak lagi menikah dan hidup sendiri di Kanada. Akan aku pikirkan detail-nya nanti mungkin, karena aku ingin memastikan sesuatu agar aku berani pergi ke jauh.
***
[Yuda]
Seseorang memencet bel apartemenku. Mengganggu kesenangan hari mingguku. Membaca. Karena, minggu kemarin aku tidak bisa melakukannya. Aku terlalu malas untuk bangun dari dudukku diatas kursi panjang yang ada di kamar tidur, sambil mendengarkan beberapa instrument.
Dari balik pintu kulihat seorang perempuan berambut panjang sebahu, matanya sipit dan bibirnya yang kecil tersenyum padaku. Freya. Apa yang membawanya ke sini, tidak kulihat Dhika bersamanya, “Kamu nggak akan mempersilahkan aku masuk?” tanyanya yang menyadarkan lamunanku.
Sorry. Silahkan masuk Fre.” Kataku yang kembali pada kesadaranku dengan nada canggung. Freya masuk kedalam apartemenku. Matanya menyapu ke setiap sudut tempat yang sudah kutinggali hampir empat bulan ini. “Duduk Fre. Maaf nggak ada ruang tamu, apalagi meja makan. jadi duduk di situ aja.” Kataku menjelaskan. Mempersilahkannya untuk duduk di sofa yang kutaruh di ruang tv. Aku pergi ke dapur, membuatkannya minuman hangat. Itu kan sopan santun yang harus dilakukan jika tamu datang, sekaligus aku mempersiapkan mental dan menyusun bicaraku dihadapan Freya.
“Ini Fre, minum.” Kataku sambil menyuguhkan teh manis hangat dihadapannya. ia berdandan sekarang, sangat berubah. Pakaiannya pun jadi feminim.
“Apa kabar, Yud?” ia menanyakan kabarku, membuat apartemen ku yang lumayan lengang tadi, berganti dengan suaranya.
“Baik. Kamu sendiri gimana?”
“Baik. Sangat baik.”
“Dhika nggak ikut?”
“Dhika nggak siap ketemu kamu.” aku mengangguk mengerti. Dingin, ruanganku jadi terasa tambah dingin sejak kedatangan Freya. Kemudian dia merogoh tasnya, seperti sedang mencari seonggok berlian didalam karung yang dipenuhi pasir. Lalu memberikanku sebuah undangan pernikahan, aku tersenyum kecut saat melihat nama dua calon pengantin yang tertulis,
“Maaf tiba-tiba. Maaf kami nggak bilang-bilang dulu sama kamu. Karena kamu juga ngehindar Yud.”
“Nggak apa-apa kok Fre. Aku ikut seneng tau kalian mau nikah.” Seseorang memencet bel apartemenku. Siapa yang datang di saat yang tidak tepat seperti sekarang.
***
[Raya]
Akhirnya Yuda membukakan pintu apartemennya. Aku tersenyum, namun wajahnya terlihat seperti ada sesuatu didalam. “Ada apa?” tanyanya. Ah ya benar, aku juga tidak tahu kenapa aku ingin kemari. Aku hanya ingin sekedar melihat wajahnya karena aku pergi ke Jogja sejak tiga hari yang lalu. Ayo pikirkan sebuah alasan yang masuk akal Raya, biar dia nggak curiga.
“Aku baru pulang dari Jogja, trus mau masak. Pas liat stock garam, ternyata habis. Boleh minta?” alasan apa itu Raya. Aku memang suka masak, tapi tidak di hari minggu. Yuda menaikkan alisnya, apa dia curiga, karena dia bukan orang yang gampang dibohongi.
“Masuk.” Aku mengikutinya dari belakang, seperti anak itik yang baru saja menetas dari telur dan melihat sang induk untuk pertama kali, menguntit kemanapun sang induk pergi.
“Maaf yaa Yud, saya nggak bisa beliin kamu oleh-oleh. Boro-boro jalan-jalan, acaranya aja bener-bener tiga hari, dan harus cepet-cepet balik ke Bandung buat nyelesein kerjaannya.” Yuda menghentikan langkahnya, dan memberikanku satu toples kecil berisikan garam didalamnya. Aku mengukir bibirku dengan manis, yang orang-orang sebut dengan sebuah senyuman. “Terimakasih.” Aku memandangi wajahnya.
“Lalu?” Ia bertanya. Aku rindu gaya bicaranya yang dingin. Aku menggeleng, dan memutuskan untuk kembali ke planetku yang terletak persis disebelah planetnya. Hingga aku sadari ada seorang gadis sedang duduk di sofa putihnya dan memandangi kami. Wajah itu. Tiba-tiba wajah seorang gadis terbaring di tempat tidur rumah sakit, dengan perban di kepalanya dan infus di tangan kirinya hadir dalam ingatanku, dengan sangat jelas aku mengingat wajahnya. Wajah tamu Yuda persis seperti gadis yang baru saja hadir dalam memori otakku.
Prang!! Otakku sedang tidak bisa memberikan sinyal pada tanganku agar lebih erat menggenggam toples berisikan garam hingga toples itu jatuh ke lantai dan hancur. Aku acuhkan, dan langsung pergi dari apartemen Yuda. Dipikiranku hanya ada harus pergi dengan segera dari tempat Yuda. Tidak ingin lebih lama menatap wajah gadis itu.
Aku duduk dikursi meja makan. Mengatur nafasku yang terengah-engah karena berlari dari apartemen Yuda. Aku tahu bahwa jaraknya tidak sepanjang track lari di Saparua, tapi dadaku terasa sesak. Apa dia Freya, seseorang yang diceritakan Yuda beberapa minggu yang lalu.
***
Yuda menyuguhkan secangkir kopi hangat dihadapanku. Aku memberanikan diri untuk bertanya tentang gadis yang datang ke apartemennya beberapa hari yang lalu. Memberanikan diri untuk tahu bahwa gadis itu adalah orang yang aku tabrak, tiga tahun yang lalu.
Keheningan menyelimuti kami. Aku merasakan mata Yuda menyoroti wajahku yang menampakkan keraguan dan ketakutan. “Kamu kenapa Ray?” Ia bertanya. Aku diam.
“Saya cuma mau nanya…” aku berhenti berbicara, apa tidak apa jika aku langsung menanyakannya, “…gadis yang datang dua hari yang lalu, dia…” aku menarik nafas panjang, “…apa dia Freya?” akhirnya, aku menyebut namanya.
Yuda menundukkan kepalanya. Lama berbicara, aku tahu ini pasti sulit untuknya. Raya bodoh! bodoh! bodoh! “Maaf Yud. Saya tau saya lancang.” Tapi, aku harus memastikan dia Freya atau bukan, karena jika iya. Aku sudah benar-benar menghancurkan hidup orang yang membuat hatiku berdebar setiap melihat wajahnya atau hanya mencium harumnya yang khas dari jarak yang jauh.

“Iya Ray. Dia Freya.”***

Kamis, 19 Maret 2015

Reverse #4

0

Aku hanya bisa terpaku. Rey sama sekali tidak memberitahuku akan pulang dalam waktu dekat ini, aku salah tingkah, tidak tahu harus bagaimana. Rey menghampiriku dan Dimas,
“Dimas.. kenalkan, dia pacarku. Rey.” Aku menundukkan kepalaku, tidak tahu harus bertindak bagaimana diantara dua lelaki yang ada didekatku. Lalu Rey pergi begitu saja, tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya yang sedikit tebal. Dimas menatapku, menginginkan sebuah jawaban, namun aku pergi mengejar Rey, menahan tangannya, “Rey.. dengerin aku dulu.” Kataku, ia menepisnya. Aku merasakan amarah yang tidak dapat dibendung dalam dirinya, kemudian ia pergi tanpa mendengarkanku, “REY!!” aku berteriak. Tapi ia tidak kembali apalagi sekedar berpaling, Dimas menghampiriku, “Nggak sekarang Mas, pikiranku kacau. Lebih baik kamu pulang.” Aku masuk kedalam, meninggalkan Dimas yang berdiri terpaku. Membutuhkan sebuah jawaban atas kejadian yang terduga.
***
Aku memutar-mutar cangkir yang berisikan kopi hitam, menunggu Dimas datang. Menjelaskan yang terjadi kemarin. Kami janjian di kedai kopi sebrang rumah sakit tempat ia bekerja. Tidak lama kemudian ia datang, duduk dihadapanku, kami sama-sama terdiam,
“Maafkan aku Ta..” ia mulai berbicara,
“Bukan salah kamu.” Jawabku, “Seharusnya aku bilang dari awal kalo aku udah punya pacar.”
“Seharusnya aku tanya dulu, aku terlalu percaya diri kalo kamu nggak ada yang punya dan berharap bisa kembali  sama kamu.” Katanya, membuatku semakin merasa bersalah,
“Ini salah aku Mas, aku nggak bisa membaca niat kamu, dan tetap menganggap kalo selama ini kita sahabatan.” Jawabku, ia berdiri, aku menatapnya, menatap orang yang sempat membuat jantungku berdebar dan nyaman ada didekatnya. Ia mengulurkan tangannya, aku menatapnya bingung, aku berdiri, ia menarik tanganku untuk bersalaman dengannya,
“Sejak hari ini, kita bersahabat Ta..” ia tersenyum, senyuman kesukaannku. Aku membalasnya dengan senyuman, “Jelaskan sama pacar kamu, kalo aku cuma masa lalumu.” Kemudian ia pergi meninggalkan aku sendiri.
“Terimakasih Dimas..” Ucapku sambil menatap punggungnya yang pergi meninggalkanku.
***
“Mari masuk Mbak Ata, mas Rey nya sedang di taman belakang.” Kata Mbok Min, pembantu di rumah Rey sejak ia masih kecil. Aku masuk ke dalam rumah yang cukup besar, yang ditinggali enam orang. Aku berdiri diambang pintu, menatap punggung Rey yang sedang duduk di kursi panjang dekat taman yang Ibu nya buat, mengatur bicaraku, mempersiapkan diri, dan mempertanggung jawabkan yang telah terjadi juga berharap Rey sudah sedikit lebih tenang. Aku berjalan menghampirinya. Menggenggam pundaknya yang lebar dan kuat, tidak ada respon, aku duduk disebelahnya,
“Hai stranger…” kataku, Rey tidak menjawab, “Sungguh sebuah kejutan kamu datang kerumah tadi malam.”
“Sebuah kejutan juga untukku.” Jawabnya, “Jelasin sama aku Ta, biar aku bisa meyakinkan diri aku kalo kamu bukan perempuan jahat.” Kata-katanya menusukku, membuatku sakit, ‘perempuan jahat’, mungkin sebutan itu pantas ia berikan untukku,
“Dimas, dia mantan pacarku.-”
“Aku tau.” Rey memotong pembicaraanku, “aku cuma ingin tau sejak kapan kalian dekat?” tanyanya,
“Sejak Ibu masuk rumah sakit. Dia dokter magang yang juga merawat Ibu, dia yang nemenin aku saat aku butuh kamu.” aku menelan ludah, “tapi aku sadar, aku juga salah. Aku nggak bilang sama dia kalo aku udah punya pacar. Jujur Rey, aku benar-benar nganggep dia sebagai sahabat, walaupun aku memang nyaman ada didekatnya” Suaraku sedikit merendah.
“Dan kamu juga nggak nyangka kan kalau aku ada dirumah kamu saat itu?”
Aku meringis, “Ya. Saat itu memang Dimas menjemputku ke Museum, kami pulang sama-sama, dia emang bilang mau ngomongin sesuatu, tapi aku nggak nyangka dia bakalan nyatain perasaannya.” Ucapanku terhenti saat Mbok Min mengantarkan minuman untukku, “aku memang jahat sama kalian berdua Rey. Aku tahu itu. Tapi sedikitpun nggak ada niatan untuk menduakan kamu.” Aku menatapnya, memeluknya, tidak ada penolakan juga tidak ada balasan, “Kamu masa depanku Rey, Dimas masa laluku. Aku udah milih kamu.” kataku. Aku menangis, aku bersungguh-sungguh sayang padanya.
Rey yang membuatku melupakan Dimas, Rey yang membuatku selalu tertawa, Rey yang hanya diam saat aku bercerita, memberikan pelukan hangat saat aku menangis. Dan sejak setahun yang lalu. Rey tidak menjawab apa yang aku katakan, ia berdiri. “Udah malam. Aku antarkan kamu pulang.” Jawabnya. Ia hanya berkata begitu. Itulah Rey, ia mau menerima semua penjelasanku,
“Jawab aku Rey.” Kataku. Ia tetap tidak menjawabnya, dan melangkah masuk kedalam rumahnya.
***
Sudah seminggu sejak kejadian itu, tidak ada kepastian apapun dari Rey. Ia menggantungkan hubungan kami. Aku berusaha menghubunginya, tidak ada jawaban. Saat aku meninggalkan pesan, tidak ada balasan darinya. “Ata…” Ibu memanggil saat aku sedang sibuk di dapur, membuatkan makan siang,
“Ya bu?” jawabku,
“Ada telpon dari adiknya Rey.”
“Syifa?” aku mengambil telepon genggamku, “Ya halo.” Jawabku,
“Mbak Ata?” suara Syifa terdengar panik,
“Iya Syifa. Ada apa?”
“Tiba-tiba Mas Rey memutuskan untuk tinggal di Kalimantan dan nggak mau kembali. Hari ini dia berangkat. Mbak Ata dimana?” aku terkejut, apa Rey akan meninggalkan ku dan akan terus menggantungkan hubungan kami. Seketika aku lemas, terduduk dilantai.
“Aku dirumah.” Jawabku
“Kami on the way ke Bandara. Aku harap Mbak Ata datang, untuk merubah niatnya Mas Rey. Terminal 1B ya Mbak”
“Aku berangkat sekarang.”
Buru-buru aku berangkat, pikiranku panik, aku tidak ingin kehilangan Rey. Aku menghadang Arka yang baru saja sampai, “Antar Kakak ke Bandara.”
***
Saat sampai di Bandara dipikiranku hanyalah berharap dapat menemukan Rey di keadaan sesak seperti sekarang. Aku melihat sosok Syifa yang sedang berdiri bersama Ibunya. Aku berlari ke arahnya, “SYIFA!!” aku berteriak. Syifa membelalakan matanya. Saat dihadapannya, aku mengatur nafasku,
“Mbak Ata?”
“Mana Rey?” tanyaku,
“Mbak Ata nggak ganti baju?” tanya nya yang kemudian menyadarkanku, aku memakai jeans pendek, kaus putih polos dan sandal jepit. Saking kalutnya pikiranku, tidak terpikirkan untuk berganti pakaian. “Mas Rey Check In dulu. Mbak Ata tunggu disini aja.”
“Apa kabar Ata?” Ibu Rey menyapaku,
“Baik Tante. Tante apa kabar?” Ibunya Rey hanya tersenyum. Aku menatap Rey yang keluar lagi. Memeluk mereka Ibu dan adiknya, seakan tidak dapat bertemu lagi. Ia seperti menghiraukan kehadiranku yang berdiri disamping Syifa,
“Rey, Mama sama Syifa pulang duluan ya. Nggak bisa nemenin kamu sampai kamu boarding.” Katanya lembut, “Ata, Tante duluan yah.” Pamit Ibunya yang kemudian memelukku. Lalu meninggalkan aku dan Rey.
“Rey… Jangan pergi…” tidak ada jawaban dari Rey, “Kamu nggak bisa ninggalin aku kayak gini.”
“Ata.. maafin aku yang udah ngegantungin hubungan kita. Selama ini aku berpikir, mungkin kita harus berpisah dulu untuk tau yang namanya kehilangan dan saling meyakinkan diri kita.” Aku terkejut mendengarnya,
“Aku sayang sama kamu Rey…” aku mulai menangis, Rey memelukku,
“Aku juga..” ia mengelus rambutku, “tapi ini yang terbaik buat kita. Aku belum bisa melupakan kejadian kemarin...” tangisku tidak bisa berhenti, “jangan tunggu aku kembali Ta. Jangan pernah mencoba menghubungi aku.”
“Tapi kamu yang terbaik buat aku Rey…”
“Belum tentu Ta...”
“Kalo di saat kamu kembali, aku udah nemuin orang yang lebih baik dari kamu gimana?”
“Ya aku bisa apa? Berarti aku bukan yang terbaik buat kamu. Begitu juga sebaliknya, kalo aku nemuin orang lain-“
“Berarti aku bukan orang yang terbaik buat kamu.” Potongku,
“Tapi kalo di saat aku kembali kamu belum ada yang memiliki. Ijinkan aku kembali dan meminta kamu lagi.”
Rey melepaskan pelukannya, mengecup keningku dengan lembut. “Sampai nanti Matahari…” ia berjalan perlahan, meninggalkanku. Meninggalkan kenangan tiga tahun kami yang tidak mudah dilupakan. Aku akan tunggu kamu Rey, aku akan tunggu kamu kembali.
***
Tidak terasa sudah dua tahun sejak Rey memutuskan untuk pergi. Seperti permintaannya, aku sama sekali tidak menghubunginya apalagi sekedar menanyakan kabarnya pada keluarganya. Aku benar-benar hidup tanpa Rey dua tahun ini, menyebut namanya saja aku jarang. Tapi satu hal yang tidak bisa aku pungkiri, aku merindukannya. Tuhan, jika dia kembali nanti, berikan kami kesempatan yang kedua, pertemukan kami, aku sudah sadar betapa berharganya dia hingga aku ingin segera bertemu dengannya dan tidak akan melepaskannya.
Aku berjalan menyusuri zebra cross, hari ini hujan, aku ditemani payung merahku menuju Kedai Mama tempat aku janjian dengan beberapa teman, tiba-tiba seseorang menarik tanganku, menahanku untuk kembali berjalan, aku ingat wangi parfum ini, genggaman tangan ini, aku berbalik. Wajah itu, wajah yang sudah tidak kulihat dua tahun belakangan ini. Ia berubah, rambutnya gondrong sebahu, badannya sedikit berisi, namun tatapan masih tetap sama. Kemudian ia menarikku ke trotoar. Tak lama kemudian lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Aku menatapnya wajahnya,
“Hai stranger. Apa kabar?” Tanyaku,
“Baik. Apa kabar Matahari?”
“Aku juga baik. Mau kemana?” tanyaku, aku gugup, jantungku berdebar sangat kencang,
“Bertemu seseorang di ujung jalan itu.”
“Baiklah Rey, aku harus duluan karna udah ditunggu.” Aku sebenarnya ingin lebih lama dengannya, dan pikiranku dipenuhi pertanyaan tentang “seseorang” yang akan ia temui. Seseorang? Mungkinkah Rey sudah menemukan seseorang yang lebih baik dari aku, jika iya, syukurlah. Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kami berdua, jika memang begitu, jangan biarkan aku kesedihan yang berkepanjangan.***
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com