Kamis, 19 Maret 2015

Reverse #4

0

Aku hanya bisa terpaku. Rey sama sekali tidak memberitahuku akan pulang dalam waktu dekat ini, aku salah tingkah, tidak tahu harus bagaimana. Rey menghampiriku dan Dimas,
“Dimas.. kenalkan, dia pacarku. Rey.” Aku menundukkan kepalaku, tidak tahu harus bertindak bagaimana diantara dua lelaki yang ada didekatku. Lalu Rey pergi begitu saja, tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya yang sedikit tebal. Dimas menatapku, menginginkan sebuah jawaban, namun aku pergi mengejar Rey, menahan tangannya, “Rey.. dengerin aku dulu.” Kataku, ia menepisnya. Aku merasakan amarah yang tidak dapat dibendung dalam dirinya, kemudian ia pergi tanpa mendengarkanku, “REY!!” aku berteriak. Tapi ia tidak kembali apalagi sekedar berpaling, Dimas menghampiriku, “Nggak sekarang Mas, pikiranku kacau. Lebih baik kamu pulang.” Aku masuk kedalam, meninggalkan Dimas yang berdiri terpaku. Membutuhkan sebuah jawaban atas kejadian yang terduga.
***
Aku memutar-mutar cangkir yang berisikan kopi hitam, menunggu Dimas datang. Menjelaskan yang terjadi kemarin. Kami janjian di kedai kopi sebrang rumah sakit tempat ia bekerja. Tidak lama kemudian ia datang, duduk dihadapanku, kami sama-sama terdiam,
“Maafkan aku Ta..” ia mulai berbicara,
“Bukan salah kamu.” Jawabku, “Seharusnya aku bilang dari awal kalo aku udah punya pacar.”
“Seharusnya aku tanya dulu, aku terlalu percaya diri kalo kamu nggak ada yang punya dan berharap bisa kembali  sama kamu.” Katanya, membuatku semakin merasa bersalah,
“Ini salah aku Mas, aku nggak bisa membaca niat kamu, dan tetap menganggap kalo selama ini kita sahabatan.” Jawabku, ia berdiri, aku menatapnya, menatap orang yang sempat membuat jantungku berdebar dan nyaman ada didekatnya. Ia mengulurkan tangannya, aku menatapnya bingung, aku berdiri, ia menarik tanganku untuk bersalaman dengannya,
“Sejak hari ini, kita bersahabat Ta..” ia tersenyum, senyuman kesukaannku. Aku membalasnya dengan senyuman, “Jelaskan sama pacar kamu, kalo aku cuma masa lalumu.” Kemudian ia pergi meninggalkan aku sendiri.
“Terimakasih Dimas..” Ucapku sambil menatap punggungnya yang pergi meninggalkanku.
***
“Mari masuk Mbak Ata, mas Rey nya sedang di taman belakang.” Kata Mbok Min, pembantu di rumah Rey sejak ia masih kecil. Aku masuk ke dalam rumah yang cukup besar, yang ditinggali enam orang. Aku berdiri diambang pintu, menatap punggung Rey yang sedang duduk di kursi panjang dekat taman yang Ibu nya buat, mengatur bicaraku, mempersiapkan diri, dan mempertanggung jawabkan yang telah terjadi juga berharap Rey sudah sedikit lebih tenang. Aku berjalan menghampirinya. Menggenggam pundaknya yang lebar dan kuat, tidak ada respon, aku duduk disebelahnya,
“Hai stranger…” kataku, Rey tidak menjawab, “Sungguh sebuah kejutan kamu datang kerumah tadi malam.”
“Sebuah kejutan juga untukku.” Jawabnya, “Jelasin sama aku Ta, biar aku bisa meyakinkan diri aku kalo kamu bukan perempuan jahat.” Kata-katanya menusukku, membuatku sakit, ‘perempuan jahat’, mungkin sebutan itu pantas ia berikan untukku,
“Dimas, dia mantan pacarku.-”
“Aku tau.” Rey memotong pembicaraanku, “aku cuma ingin tau sejak kapan kalian dekat?” tanyanya,
“Sejak Ibu masuk rumah sakit. Dia dokter magang yang juga merawat Ibu, dia yang nemenin aku saat aku butuh kamu.” aku menelan ludah, “tapi aku sadar, aku juga salah. Aku nggak bilang sama dia kalo aku udah punya pacar. Jujur Rey, aku benar-benar nganggep dia sebagai sahabat, walaupun aku memang nyaman ada didekatnya” Suaraku sedikit merendah.
“Dan kamu juga nggak nyangka kan kalau aku ada dirumah kamu saat itu?”
Aku meringis, “Ya. Saat itu memang Dimas menjemputku ke Museum, kami pulang sama-sama, dia emang bilang mau ngomongin sesuatu, tapi aku nggak nyangka dia bakalan nyatain perasaannya.” Ucapanku terhenti saat Mbok Min mengantarkan minuman untukku, “aku memang jahat sama kalian berdua Rey. Aku tahu itu. Tapi sedikitpun nggak ada niatan untuk menduakan kamu.” Aku menatapnya, memeluknya, tidak ada penolakan juga tidak ada balasan, “Kamu masa depanku Rey, Dimas masa laluku. Aku udah milih kamu.” kataku. Aku menangis, aku bersungguh-sungguh sayang padanya.
Rey yang membuatku melupakan Dimas, Rey yang membuatku selalu tertawa, Rey yang hanya diam saat aku bercerita, memberikan pelukan hangat saat aku menangis. Dan sejak setahun yang lalu. Rey tidak menjawab apa yang aku katakan, ia berdiri. “Udah malam. Aku antarkan kamu pulang.” Jawabnya. Ia hanya berkata begitu. Itulah Rey, ia mau menerima semua penjelasanku,
“Jawab aku Rey.” Kataku. Ia tetap tidak menjawabnya, dan melangkah masuk kedalam rumahnya.
***
Sudah seminggu sejak kejadian itu, tidak ada kepastian apapun dari Rey. Ia menggantungkan hubungan kami. Aku berusaha menghubunginya, tidak ada jawaban. Saat aku meninggalkan pesan, tidak ada balasan darinya. “Ata…” Ibu memanggil saat aku sedang sibuk di dapur, membuatkan makan siang,
“Ya bu?” jawabku,
“Ada telpon dari adiknya Rey.”
“Syifa?” aku mengambil telepon genggamku, “Ya halo.” Jawabku,
“Mbak Ata?” suara Syifa terdengar panik,
“Iya Syifa. Ada apa?”
“Tiba-tiba Mas Rey memutuskan untuk tinggal di Kalimantan dan nggak mau kembali. Hari ini dia berangkat. Mbak Ata dimana?” aku terkejut, apa Rey akan meninggalkan ku dan akan terus menggantungkan hubungan kami. Seketika aku lemas, terduduk dilantai.
“Aku dirumah.” Jawabku
“Kami on the way ke Bandara. Aku harap Mbak Ata datang, untuk merubah niatnya Mas Rey. Terminal 1B ya Mbak”
“Aku berangkat sekarang.”
Buru-buru aku berangkat, pikiranku panik, aku tidak ingin kehilangan Rey. Aku menghadang Arka yang baru saja sampai, “Antar Kakak ke Bandara.”
***
Saat sampai di Bandara dipikiranku hanyalah berharap dapat menemukan Rey di keadaan sesak seperti sekarang. Aku melihat sosok Syifa yang sedang berdiri bersama Ibunya. Aku berlari ke arahnya, “SYIFA!!” aku berteriak. Syifa membelalakan matanya. Saat dihadapannya, aku mengatur nafasku,
“Mbak Ata?”
“Mana Rey?” tanyaku,
“Mbak Ata nggak ganti baju?” tanya nya yang kemudian menyadarkanku, aku memakai jeans pendek, kaus putih polos dan sandal jepit. Saking kalutnya pikiranku, tidak terpikirkan untuk berganti pakaian. “Mas Rey Check In dulu. Mbak Ata tunggu disini aja.”
“Apa kabar Ata?” Ibu Rey menyapaku,
“Baik Tante. Tante apa kabar?” Ibunya Rey hanya tersenyum. Aku menatap Rey yang keluar lagi. Memeluk mereka Ibu dan adiknya, seakan tidak dapat bertemu lagi. Ia seperti menghiraukan kehadiranku yang berdiri disamping Syifa,
“Rey, Mama sama Syifa pulang duluan ya. Nggak bisa nemenin kamu sampai kamu boarding.” Katanya lembut, “Ata, Tante duluan yah.” Pamit Ibunya yang kemudian memelukku. Lalu meninggalkan aku dan Rey.
“Rey… Jangan pergi…” tidak ada jawaban dari Rey, “Kamu nggak bisa ninggalin aku kayak gini.”
“Ata.. maafin aku yang udah ngegantungin hubungan kita. Selama ini aku berpikir, mungkin kita harus berpisah dulu untuk tau yang namanya kehilangan dan saling meyakinkan diri kita.” Aku terkejut mendengarnya,
“Aku sayang sama kamu Rey…” aku mulai menangis, Rey memelukku,
“Aku juga..” ia mengelus rambutku, “tapi ini yang terbaik buat kita. Aku belum bisa melupakan kejadian kemarin...” tangisku tidak bisa berhenti, “jangan tunggu aku kembali Ta. Jangan pernah mencoba menghubungi aku.”
“Tapi kamu yang terbaik buat aku Rey…”
“Belum tentu Ta...”
“Kalo di saat kamu kembali, aku udah nemuin orang yang lebih baik dari kamu gimana?”
“Ya aku bisa apa? Berarti aku bukan yang terbaik buat kamu. Begitu juga sebaliknya, kalo aku nemuin orang lain-“
“Berarti aku bukan orang yang terbaik buat kamu.” Potongku,
“Tapi kalo di saat aku kembali kamu belum ada yang memiliki. Ijinkan aku kembali dan meminta kamu lagi.”
Rey melepaskan pelukannya, mengecup keningku dengan lembut. “Sampai nanti Matahari…” ia berjalan perlahan, meninggalkanku. Meninggalkan kenangan tiga tahun kami yang tidak mudah dilupakan. Aku akan tunggu kamu Rey, aku akan tunggu kamu kembali.
***
Tidak terasa sudah dua tahun sejak Rey memutuskan untuk pergi. Seperti permintaannya, aku sama sekali tidak menghubunginya apalagi sekedar menanyakan kabarnya pada keluarganya. Aku benar-benar hidup tanpa Rey dua tahun ini, menyebut namanya saja aku jarang. Tapi satu hal yang tidak bisa aku pungkiri, aku merindukannya. Tuhan, jika dia kembali nanti, berikan kami kesempatan yang kedua, pertemukan kami, aku sudah sadar betapa berharganya dia hingga aku ingin segera bertemu dengannya dan tidak akan melepaskannya.
Aku berjalan menyusuri zebra cross, hari ini hujan, aku ditemani payung merahku menuju Kedai Mama tempat aku janjian dengan beberapa teman, tiba-tiba seseorang menarik tanganku, menahanku untuk kembali berjalan, aku ingat wangi parfum ini, genggaman tangan ini, aku berbalik. Wajah itu, wajah yang sudah tidak kulihat dua tahun belakangan ini. Ia berubah, rambutnya gondrong sebahu, badannya sedikit berisi, namun tatapan masih tetap sama. Kemudian ia menarikku ke trotoar. Tak lama kemudian lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Aku menatapnya wajahnya,
“Hai stranger. Apa kabar?” Tanyaku,
“Baik. Apa kabar Matahari?”
“Aku juga baik. Mau kemana?” tanyaku, aku gugup, jantungku berdebar sangat kencang,
“Bertemu seseorang di ujung jalan itu.”
“Baiklah Rey, aku harus duluan karna udah ditunggu.” Aku sebenarnya ingin lebih lama dengannya, dan pikiranku dipenuhi pertanyaan tentang “seseorang” yang akan ia temui. Seseorang? Mungkinkah Rey sudah menemukan seseorang yang lebih baik dari aku, jika iya, syukurlah. Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kami berdua, jika memang begitu, jangan biarkan aku kesedihan yang berkepanjangan.***

Rabu, 18 Maret 2015

Runaway #3

0

[Raya]
Suara panggilan masuk dari telepon genggam ku menganggung hibernasiku di hari sabtu. Tunggu lima menit lagi, aku akan mengangkatnya. Suara itu terdengar lagi. Akh! Mengganggu!
“Halo..” jawabku,
“Raya! Masih tidur?! Pak Min udah dekat apartemen kamu katanya. Cepat rapi-rapi. Kamu harus pulang sekarang!!” suara Mama terdengar nyaring. Hingga aku kesal mendengarnya. Aku membesarkan mataku, baru sadar bahwa ini hari yang dijanjikan Mama. Tidak. Aku tidak mau pulang sekarang. Kututup teleponnya tanpa menjawab apa yang dikatakan mama. Buru-buru aku memikirkan sebuah tempat persembunyian. Ah! Yuda. Wajah besi, kepala batu, hati kutub utara pasti mau menerimaku dan menolongku.
Aku langsung keluar kamar, menuju kamar sebelah.
Kuketuk berulang kali pintu apartemen Yuda. Kemudian penyelamatku membukakan pintunya, tanpa ijin darinya aku langsung menerobos masuk. Yuda menatapku, aku memberinya isyarat untuk segera menutup pintu.
Lagi-lagi tanpa ijin darinya, aku duduk di sofa berwarna putih yang letaknya ada diruang tv. Yuda menatapku sambil bertolak pinggang. Tatapan kekejaman. Aku hanya bisa nyengir kuda didepannya, “Siapa yang nyuruh kamu masuk? Dan siapa yang nyuruh kamu duduk?” tanyanya. Lalu aku berdiri. Menunduk.
“Sembunyiin saya disini.. please..” aku mengepalkan kedua tangaku, menunjukkan mata kucingku, memohon agar dia mau menolongku.
“Sembunyiin?”
“Mama saya maksa saya untuk pulang ke Jakarta hari ini. Dia ngirim supir pribadinya buat jemput saya.” Aku duduk lagi, walaupun Yuda belum mempersilahkanku.
“Emang apa susahnya sih tinggal pulang.”
“Ya susah lah buat saya. Belum siap.”
“Trus, kenapa nggak diem aja didalem. Pas supir mama kamu dateng, jangan bukain pintu. Simple.”
“Dia pasti dikasih kunci serepnya sama Mama. Mama saya nggak sebodoh itu.” Jawabku. Mama memang bukan orang yang gampang aku tipu. Mama punya segala cara dan akal untuk memaksa aku pulang ke rumah, tapi Mama tidak mengerti aku yang belum ingin kembali. Kruyuk. Memalukan, kenapa suara perutku harus berbunyi disaat seperti ini. Yuda menaikkan alisnya, lagi-lagi aku nyengir kuda. Ia pun pergi ke dapur.
“Roti panggang sama telur mata sapi aja ya.” Katanya. Yuda memang sudah berubah, sekarang dia lebih baik padaku. Walaupun gaya bicaranya masih dingin. Tapi mungkin itu memang karakternya. Yasudahlah biarkan saja, yang penting dia mau menolongku diberikan sarapan pula.
Aku siap duduk di pantry. Di apartemennya tidak ada meja makan, hanya ada pantry dengan kursi berkaki panjang a la klub. Ia menyuguhkan roti tawar dengan telur mata sapi. Aku tersenyum, dia tidak. Sudah biasa. “Terimakasih makanannya hati kutub utara..” aku melahapnya. Dengan suapan yang besar. Tiba-tiba sebuah tangan yang besar menyibakkan poniku, menjepitnya dengan jepitan rambut, refleks aku menatapnya. Wajahnya jadi sangat dekat dengan wajahku sekarang, matanya yang tajam, hidungnya yang lumayan mancung dan bibirnya yang lebar.
Dadaku berdegup, seperti ada yang memukul gendang didalamnya. Deg-deg-deg berbunyi seperti itu, ditambah dadaku jadi sesak seketika saking kencangnya degupan itu. Dan juga, kenapa wajahnya lagi-lagi terlihat bersinar dimataku. Wajahku jadi terasa panas sekarang. Lagi-lagi dia menjitak pelan keningku, aku meringis tanpa suara. “Kalo gini kan poninya jadi nggak ikut makan.” Ia langsung melahapnya sarapannya.
***
[Yuda]
Aku tersenyum melihatnya melahap sepotong roti yang kubuatkan untuknya. Raya, gadis yang seminggu ini menemani hariku. Ada saja, kejadian yang membuatku selalu bersamanya. Contohnya saja hari ini, pagi-pagi dia datang mengenakan celana piyama bergambar astronot dan kaos berwarna hitam bertuliskan, “I wish i became an astronot.”
Begitu cintanya dia dengan astronomi. Dia pernah bercerita padaku, dia ingin tinggal di Saturnus, planet favoritnya. Bukan hanya itu, dia memiliki banyak julukan untukku dan tidak tahu kenapa aku senang mendengarnya memanggilku dengan sebutan, “wajah besi, kepala batu, hati kutub utara.”
“Ya Ma?” dia akhirnya menjawab telepon yang sudah berdering sebanyak tiga kali, “Aku lagi camping mam..” dia mondar-mandir, “Nggak bisa, maaf juga baru ngabarin. Oke bye.” Cara bicaranya cepat, dan langsung menutupnya.
“Pembohong.” Kataku, sambil membereskan piring, dan mencucinya
“Saya belum mau pulang.” Pernyataannya membuatku sedikit merasa dia menaruh kepercayaannya padaku,
“Saya nggak nanya.”
“Tapi saya mau bilang biar kamu nggak salah paham.”
“Kenapa saya harus salah paham.”
“Okey. Saya emang nggak pernah menang kalau debat sama kamu.” aku tersenyum, merasa menang. Lalu terdengar suara tv menyala.
“Siapa yang ngijinin kamu nyalain tv?” aku menggodanya. terdengar tv-nya dimatikan, “Saya bercanda. Nyalain aja, kasian.” ledekku.
“Berisik bibik Yuda!” teriaknya. Nada dering dari telepon genggamku berbunyi. Kulihat layarnya, Dhika. Aku ragu untuk mengangkatnya. Berpikir lama, hingga telepon itu mati. Dhika menelponku lagi. Kali ini kuputuskan untuk mengangkatnya di balkon,
“Halo.” Jawabku dingin, lebih dingin dari biasanya.
“Yud..” dia menyebut namaku, “Yuda.. Freya nanyain lo.” Aku diam, tidak tahu harus menjawabnya bagaimana, “Dia bilang, dia pengin kita bertiga kumpul lagi kayak dulu.”
“Menurut lo gimana?”
“Gue tau udah nggak bisa.”
“Itu lo tau.” Jawabku.
“Yud, harus berapa kali gue minta maaf sama lo.”
“Minta maaf untuk apa? Freya milih lo dibanding gue? Itu pilihan dia.”
“Itu karena dia,-“
“Cukup Dhik. Jangan sebut tentang itu lagi.” Kututup teleponnya. Aku tidak marah pada Dhika, aku hanya belum bisa menerima kenyataan yang ada kalo Freya memilih Dhika, dan lupa padaku. Lupa sama janji kita, lupa sama kenangan yang udah kita buat, dan lupa saat dimana aku memintanya sebagai istriku.
***
[Raya]
Aku menunggunya di lobby apartemen. Kami sudah berjanji akan bertemu disini. Hari ini aku dan Yuda–tetangga baruku akan pergi ke Boscha. Aku mengajaknya dari dua hari yang lalu, dan dia menyetujuinya tanpa basa basi terlebih dahulu. Kami akan melihat hujan meteor yang menurut pemberitaan akan terlihat di langit Indonesia pada hari ini. Aku tidak menganggap bahwa hari ini adalah sebuah kencan. Walaupun aku merasa sangat senang akan pergi dengannya hari ini sampai-sampai mata ini tidak mau terpejam tadi malam.
Aku merasa ada seseorang yang berdiri di belakangku. Harum perfume merk terkenal mulus lewat dihidungku. Kubalikkan tubuhku untuk memastikan tebakanku benar. Yuda berdiri dibelakangku, dagunya hampir saja menyentuh kepalaku. Aku terpaku melihat wajahnya yang semakin hari semakin terlihat tampan dimataku. Lalu ada rasa nyeri datang di keningku, lagi-lagi dia menjitaknya.
“Jangan bengong, ayo berangkat, nanti kita kejebak macet.” Ia berjalan menuju parkiran mobil. Aku mengikutinya dari belakang.
“Kamu nggak punya baju lain selain warna putih sama biru yah?” celetukku untuk memecahkan keadaan yang cukup lengang didalam kendaraan beroda empat milik Yuda,
“Saya merasa nggak cocok pake warna lain, selain warna ini.”
“Pantes kamu kaku.” Jawabku singkat, sambil memandangi pemandangan diluar jendela. Hingga tiba-tiba sebuah bus menyalip dari sebelah kanan dengan kencangnya, bus itu seperti akan menabrak mobil Yuda. Seketika aku melihat tubuh seorang gadis terhantam mobil Yuda dan terhempas jauh.
“JANGAAAN!!” aku berteriak sambil menggenggam sabuk pengaman dengan erat. Yuda menghentikan mobilnya. Aku memberanikan diri untuk membuka mata, tidak kulihat tubuh seorang gadis. Halusinasiku. Kemudian aku melihat wajah Yuda yang tampak kebingungan. Ia menempelkan tangannya di keningku,
“Kamu nggak apa-apa?” degub jantungku lebih kencang dari biasanya, nafasku satu-satu. Aku shock. Aku lupa mewanti-wanti Yuda agar jangan menaikkan kecepatannya, “Kita cari mini market dan beliin kamu beberapa minuman biar lebih tenang yah.” Aku menggenggam tangan kirinya, dia pasti merasakan tubuhku yang bergetar. Yuda tidak melepaskannya, malah menggenggam balik tanganku, untuk sekejap aku merasakan kehangatan pada kepribadiannya.
***
[Yuda]
Aku mengambil beberapa minuman hangat dari pembuat kopi cepat saji dan membeli beberapa roti selai untuk kuberikan pada Raya. Jujur, aku merasa bingung apa yang terjadi padanya. Pertama, dia pingsan saat lift yang kami tumpangi tiba-tiba mati, dan tadi, dia berteriak ketakutan karena sebuah bus yang menyusul mobilku. Aku ingin bertanya, tapi aku tahu, tidak sopan jika baru kenal langsung menanyakan hal yang menurutku itu bersifat pribadi.
Aku memandang wajah yang sudah tidak terlihat ketakutan seperti tadi. Dia terlelap saking shock-nya. Aku usap wajahnya, dia sudah tidak berkeringat. Mataku terfokus pada bibirnya yang tipis dan berwarna merah, seperti sedang menggodaku untuk menciumnya. Matanya terbuka dan mendapatiku sedang memperhatikannya, langsung aku berikan padanya hot chocolate yang masih hangat agar dia tidak menyadarinya,
“Terimakasih…” katanya,
“Lanjut?” aku menanyakan kesiapannya untuk melanjutkan perjalanan kami,
“Inget jangan ngebut.” Ia mewanti-wanti diriku. Ada perasaan ingin menjaganya setelah melihat ketakutannya tadi, jantungku pun ikut berdebar seirama dengan gemetar tubuhnya lewat tangannya yang menggenggam tanganku.
Hingga kami sampai di sebuah observatorium astronomi. Dia bilang, dia sering kesini, bahkan mengenal para staff maupun penjaganya, jadi mudah bagi kami untuk dipersilahkan masuk ke dalam. Saat kami datang, hari sudah gelap, dan Raya terlihat lebih tenang dibandingkan tadi.
Ia melampirkan jaketnya di atas rerumputan, lalu membaringkan dirinya, aku hanya duduk disampingnya. Kami sama-sama menatap langit yang diterangi bintang dan bulan,
 “Ada beberapa alasan kenapa saya ke Bandung” suaranya menyadarkan lamunanku akan hipnotis dari keindahan langit malam ini, “lebih tepatnya saya kabur kesini. Menghindari sebuah masalah yang orang tua saya pikir udah selesai, tapi perasaan bersalah sama sekali nggak bisa diselesain.” Ia menghela nafas, “Perasaan bersalah yang nggak tahu sejauh apa pun saya pergi nggak akan hilang. Sekalipun saya kabur ke saturnus.”
“Kamu punya trauma?” tanyaku pada akhirnya,
“Iya.”
“Jangan hindari traumanya.” Jawabku singkat. Sambil memandangi wajahnya yang menunjukkan ada beban yang tidak bisa dia bagi.
“akh!” teriaknya sambil menunjuk ke langit. Hujan meteor, indah. Aku ikut berbaring disebelahnya. Benda langit yang bercahaya putih beramai-ramai melewati langit. Ini pertama kalinya aku melihat hujan meteor. Hujan meteor yang biasanya hanya bisa aku lihat di televisi, sekarang bisa aku lihat secara langsung.
“Kita kayak lagi shooting meteor garden yah? Saya Sanchai.” Celetuknya,
“Saya Tau Ming Se nya gitu?” aku menjawab leluconnya,
“Bukan, kamu temannya Sanchai yang anak orang kaya baru itu.” Dia terdiam lagi, “Saya pengin banget liat aurora, tapi di kutub utara jadi bisa sekalian liat beruang kutub sama penguin dihabitat aslinya.” Dia seperti bercerita pada orang yang sudah mengenalnya berpuluh-puluh tahun, dan itu membuatku nyaman.
“Siapa tau aja dengan ngeliat aurora dan pergi ke kutub utara, saya jadi ada keberanian untuk pulang dan bisa sembuh dari trauma.” dia banyak bicara seperti biasanya.
“Bukan Cuma kamu yang jadiin Bandung tempat pelarian, saya juga.” Celetukku tiba-tiba, membuatnya menatapku dengan matanya yang baru aku sadari berwarna kecoklatan.***

Rabu, 04 Maret 2015

Runaway #2

0

[Yuda]
Aku keluar dari mini market dekat apartemen, membeli beberapa keperluan dapur yang belum sempat kubeli kemarin. Hingga sekumpulan berandal membuatku tertarik untuk memperhatikan mereka yang sedang menggoda gadis. Wajahnya gadis itu seperti mau menangis. Si bodoh, bukannya lari malah diam saja. Lelaki itu hampir meraba tubuhnya di bagian dada. Tanpa aku sadari, kakiku melayang ke arah pinggang si pengganggu hingga ia terlempar lumayan jauh.
Entah kekuatan apa yang kudapat, berandalan-berandalan itu masing-masing sudah terkapar di hadapanku, hanya tanganku yang merasakan sakit akibat pukulan-pukulan yang kuberikan pada mereka. Kulihat sekelilingku, kemudian mendapati gadis yang kutolong itu sedang memukuli berandal terakhir menggunakan tas yang ada di genggamannya.
***
“Aaww! sakit!” teriakku padanya. “Bisa pelan-pelan kan.” Kataku dingin, ia semakin menekan bagian lebam dipipiku.
“Bukannya bilang makasih, malah ngomelin, dasar wajah besi, kepala batu, hati kutub utara.” Jawabnya terdengar kesal. Banyak sekali julukanku darinya. Membuat aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya, wajahnya semakin tampak kesal. Ia meleparkan kakiku dari pangkuannya.
“aaawww!! Saakiiit!!” ia mengambil lagi kakiku, menaruhnya kembali pangkuannya, dan mengolesi salep pereda nyeri, “Terimakasih…” kataku pelan. Dia tidak menjawab, wajahku terasa hangat. Pasti memerah karena malu, jangan sampai dia tahu.
“Sama-sama.. Makasih juga udah nolong saya tadi.” Jawabnya, suaranya tidak sepelan suaraku, nada suaranya juga tidak terdengar galak seperti biasanya. Aku tersenyum. Memandangi seisi ruangan. Lampu gantung berbentuk delapan planet, karpet antariksa. Ia menyingkirkan kakiku dari pangkuannya pelan-pelan. Dan pergi ke dapur,
“Saya cuma ada telur sama nasi. Makan omurice aja ya.” Katanya.
“Nggak perlu, saya masak sendiri aja nanti.”
“Dengan keadaan kaki kayak gitu? Nggak ada! Diam disitu. Dua puluh menit lagi omuricenya jadi.” Tidak lama tercium aroma bawang putih dan bawang merah yang ditumis dengan margarine, membuat perutku semakin lapar.
***
[Raya]
Aku menata dua omurice yang sudah tertata rapih di atas piring makan, di atas meja makan berbentuk segiempat yang terbuat dari kayu, begitu juga dengan bangkunya. Kupapah tetangga wajah besi, kepala batu, hati kutub utara dan kududukkan dia. Kubuatkan dia makanan sebagai tanda terimakasih karena sudah menolongku saat hampir saja aku diperkosa oleh anak-anak berandal yang ada di depan mini market. Lain kali, lebih baik aku naik angkutan umum dibandingkan harus jalan kaki, lalu digoda lagi oleh para berandalan itu.
“Ini ucapan terimakasih saya buat kamu.” kataku. Dia menatap telur dadar yang membungkus nasi goreng didalamnya, “Silahkan dimakan tetangga wajah besi, kepala batu, hati kutub utara, sebelum dingin.” Kataku mempersilahkannya.
Ia menatapku begitu aku menyebutkan panggilan panjangku untukknya, matanya tajam, wajahnya terlihat ganteng saat kumis dan jenggotnya sudah dicukur. Tidak, aku tidak boleh suka sama si arrogant ini. “Saya punya nama.” Katanya dingin. Dia kembali ke dirinya, padahal kukira dia memang orang baik karena sudah menolongku,
“Saya kan nggak tahu nama kamu.” Aku langsung melahap omurice. Tapi aku tidak lagi kesal mendengar nada suara itu, seperti sudah mulai terbiasa. “Tangan kamu bisa megang sendok? Mau di suapin?” ledekku padanya, dia menatap,
“Bisa. Nggak usah lebay.” Tangannya gemetaran.
“Masa? Tangannya gemeteran gitu.”
“Biisaa.. nggak usah rese. Okay? Kita makan aja sekarang.” Aku senang melihat wajahnya yang sedikit kesal,
By the way.. Saya Raya.” Kataku, memperkenalkan diri duluan. Dia tidak menjawab, terus saja melahap makanan yang kubuatkan. ”Sabar Raya, kamu sudah tahu karakternya seperti apa, jangan terlalu emosi.”
Kuantarkan dirinya untuk kembali seusai menghabiskan sepiring bersih omurice, karena aku tahu, kakinya masih terlalu sakit jika berjalan. Kubantu dia duduk di kasurnya, dia menatapku. Lalu, dia menyuruhku mendekat, aku menurut. Dan sekarang wajahku menjadi sangat dekat dengan wajahnya. Dia menyingkirkan poniku, lalu jidatku dijitak olehnya. Aku meringis tanpa suara, dia tertawa. “Itu balasan karena kamu terus menatap saya daritadi.” Geram aku mendengarnya,
“Cuma karena itu?! Ini sakit tauk!” nada suaraku meninggi. “Kamu memang wajah besi, kepala batu,-“
“Hati kutub utara.” Potongnya, Ia tersenyum, aku baru sadar kalau dia punya lesung pipi, “Nama saya Yuda. bukan wajah besi, kepala batu, hati kutub utara.” Skakmat. Aku tidak bisa membalas ledekannya sekarang. Dia terlihat berkarisma, wajahnya seperti bersinar dimataku.
“Saya permisi dulu wajah be.. Yuda. Kakimu akan pulih besok, karena salep itu manjur.” Aku pergi dari planetnya. Hari ini berlalu begitu cepat, baru tadi pagi aku kesal dengannya, sekarang jadi akrab.
Terdengar nada dering dari telepon genggamku, buru-buru aku angkat, takut penting, dan bodohnya lagi aku tidak tahu siapa yang menelpon.
“Raya?” suara mama. Aku sebenarnya sedang malas berbicara dengan Ibu yang mengandungku selama Sembilan bulan sepuluh hari ini, karena obrolan kami akan berujung pada perdebatan.
“Ya mam?”
“Kamu darimana sih? Mama sudah telepon kamu sampai tiga kali, sekarang baru diangkat?” Suaranya terdengar khawatir, dan tidak ada jeda untukku menjawabnya.
“Habis nganter tetangga yang sakit Ma. Ada apa?”
“Sayang.. mama kangen.” Aku juga Ma, aku hanya bisa menjawabnya dalam hati. “Pulang yah sayang. Minggu ini Riani ulang tahun. Pengin kakaknya dateng.”
“Ma.. Maaf, Raya belum bisa Ma.” jawabku tidak tega.
“Sayang.. itu udah tiga tahun yang lalu. Bahkan dia sudah sehat lagi.”
“Tetap aja Ma. Aku gak bisa. Aku sangat merasa bersalah. Kalau bukan aku karna dia nggak akan,-“
“Raya cukup!” Mama membentak, “Mama mau kamu pulang minggu ini, atau mama minta Pak Min jemput kamu dan bawa paksa kamu!” nada terputus terdengar.
***
“Nyokap nyuruh lo pulang? Ya pulang lah, pake hak cuti lo.” Kata Taka, saat kami sedang menikmati makan siang di sebuah rumah makan sederhana, di daerah Taman Sari.
“Nggak bisa Ka.”
“Apa sih yang bikin lo gak mau pulang?” Taka melahap sushi buatan istrinya, “Bokap tiri lo? Atau trauma lo?” lanjutnya.
“Dua-duanya.” Jawabku singkat. Hanya bisa mengaduk-aduk soto ayam yang kucampurkan dengan nasi didalamnya.
“Dia udah baik gitu sama lo minjemin apartemennya buat lo.”
“Gue nyewa. Tiap bulan gue bayar kok uang sewanya ke dia.” Aku tidak pernah memanggilnya “Ayah” atau “Papa” selayaknya seorang anak memanggil orang tuanya. Sebaik apapun ayah tiriku, aku tidak bisa menerimanya sebagai pengganti Papa.
Please deh Ray.. Kepala batu banget sih lo!” Taka menjitak pelan kepalaku.
“Lo tau kan kecelakaan itu terjadi karena apa? Kecelakaan itu nggak akan kejadian kalo gue nggak ngedengar nyokap gue mau nikah lagi, yang waktu itu gue taunya kalo bokap nyokap gue belom cerai.” Emosiku meluap jika mengingat kejadian-kejadian buruk itu, “Tapi ternyata mereka udah cerai pas gue kelas enam, Ka. Mereka bohongin gue. Gue juga punya hati, tapi mereka gak mikirin perasaan gue.”
“Mereka mikirin perasaan lo makanya mereka nyembunyiin itu sampe lo siap dan dewasa buat nerimanya Ray.” Ucapan Raya sama persis dengan penjelasan yang Papa katakana padaku. Kemudian  ingatanku bermain ke tiga tahun yang lalu.
***
Aku duduk di ruang tv, membaca majalah yang menjadi langgananku setiap bulannya. Mama menghampiriku, membutkanku es jeruk peras. Aku tersenyum. Mama selalu tahu kesukaan putri semata wayangnya. Aku meminumnya, namun raut muka mama berbeda dari biasanya. Seperti ada yang ingin disampaikan,
“Raya..” Mama memanggil namaku dengan hangat
“Ya Ma?”
“Raya..” Mama menyebut namaku lagi, wajah Mama terlihat ragu-ragu
“Ada apa sih Mam?” tanyaku  penasaran,
“Dua.. bulan lagi.” Mama bicara terbata-bata, aku menunggu, “Mama mau menikah.” Aku tersenyum, beranggapan Mama bercanda, karena Mama suka bercerita hal lucu padaku.
“Mama bercanda kan?” Mama menatapku, menunjukkan wajah yang tidak bercanda. Pembicaraan ini serius.
“Maafkan Mama Raya..” Mama mengeluarkan bulir-bulir air dari matanya.
“Mama selingkuh?” Aku menggenggam bahu mama dengan erat, “Mama jawab aku!” tanpa sadar aku meninggikan suaraku, lupa akan sopan santun dan hormat pada wanita yang membesarkanku selama 21 tahun, “Siapa dia Ma?!” Mama hanya terus menangis, “Mama jawab aku!! Mama selingkuh?! Mama jahat!” Aku lari ke kamarku, meninggalkan Mama yang tidak berhenti menangis. Bahkan tidak mau mendengar Mama menjelaskannya.
Tanpa pikir panjang lagi aku menghubungi Papa yang sudah dari lima tahun yang lalu tinggal di Kanada. Telepon ini terhubung, tidak lama suara papa terdengar dari kejauhan,
“Pa..” aku menangis, aku tidak bisa lagi menahan air mataku,
“Raya, kamu kenapa?” Suaranya terdengar panik,
“Mama, Pa..”
“Kenapa Mama kamu?”
“Mama mau menikah lagi…” aku tidak bisa merahasikannya, papa harus tahu bahwa Mama mengkhianatinya. Lama tidak ada jawaban dari Papa, “Pa..” aku memanggilnya lagi, memastikan telepon antar Negara ini masih tersambung,
“Raya, dengarkan Papa, Sayang…” Papa terdiam lagi, “…Papa sama Mama udah bercerai, Sayang. Jadi, itu hak Mama buat menikah lagi…” Aku tidak mengerti dengan situasinya.
“Maksud Papa?” aku memastikan yang terjadi.
“Papa sama Mama sudah bercerai sejak kamu kelas enam sayang..”
“Kalian ngebohongin saya?!” suaraku meninggi lagi. Kututup teleponnya. Pikiranku kalut. Aku ambil kunci mobil. Ingin pergi sejauh-jauhnya dari rumah, tidak ingin melihat wajah Mama. Bahkan aku tidak ingin kembali kerumah ini lagi. Mereka tega, aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang telah mereka – orang tuaku rahasiakan selama ini. Pantas saja papa jarang pulang, pantas saja Mama banting tulang untuk menghidupi dirinya bahkan aku. Aku merasa dibohongi.
Pikiran yang kalut benar-benar merasuki otakku tanpa memberikan kesempatan pikiran jernih masuk untuk menenangkan hatiku. Aku pun melajukan mobilku dengan kecepatan diatas 100, hingga tiba-tiba hujan mengguyur dengan deras, gelap, aku tidak bisa melihat jalan, lalu berusaha menurunkan kecepatan. BRUG!! Aku menghantam sesuatu. Aku keluar mobil, memastikan apa yang kutabrak. Tubuh seorang gadis terkapar beberapa meter dari mobilku, kepalanya dipenuhi darah. Aku terduduk lemas, tidak bisa berpikir, banyak orang mengerubungi kami. Tiba-tiba semuanya gelap.
Kulihat Mama disampingku, menggenggam tanganku dan menatapku nanar. Aku ada ditempat tidur. Terakhir, yang kuingat aku menabrak seorang gadis yang umurnya mungkin lebih tua dariku. “Ma..” Mama hanya tersenyum. Mengelus rambut panjangku, aku menangis. Mama mendekapku dalam pelukannya, mencoba menenangkanku.
“Tenang Sayang…”
“Aku mau lihat dia Ma…”
Lalu Mama mengajakku ke sebuah ruangan, walaupun awalnya Mama melarangku. Disana ada keluarga korban. Gadis yang kutabrak terbaring lemah di atas tempat tidur. Kepalanya di balut perban, nafasnya di bantu oksigen, dan ada alat detak jantung. Aku menatap wanita paruh baya dan seorang laki-laki yang tampaknya lebih tua dariku. Laki-laki itu menatapku penuh dengan kebencian, aku tidak berani menatapnya. Aku berjongkok, memohon ampun pada wanita paruh baya yang ada dihadapanku.
“Ibu.. Saya mohon maaf..” aku menangis, aku sungguh tulus meminta maaf. Laki-laki tadi pergi dari ruangan dan membanting pintunya. Ibu itu menyuruhku untuk berdiri, menghapus air mataku, dan tersenyum.
“Sudah takdir. Mau dibagaimanakan lagi. Yang penting, anak Ibu selamat.” Ibu ini tidak menyalahkanku, namun perasaan bersalahku padanya semakin berkembang.
“Saya akan bertanggung jawab atas pengobatan anak Ibu..” Mama ikut bicara, Ibu itu hanya tersenyum.
***
Sejak itu, setiap hari aku mengunjunginya. Memastikan semuanya baik-baik saja. Sekalian menemani wanita yang sudah menunjukkan keriput pada wajahnya. Gadis ini akhirnya membuka matanya yang kemudian bergantian menatapku dan Ibunya. Aku memberikannya senyuman. Namun wajahnya terlihat bingung,
“Maaf, Ibu siapa ya?” aku dan Ibunya bertatapan.
“Ini Ibu sayang..” Perlahan aku mundur. Dia tidak ingat siapa Ibunya. Aku lari dari ruangan. Tidak bisa lagi melihat apa yang selanjutnya terjadi. Duduk dimobil, memukul-mukul dadaku, sesak rasanya karena dipenuhi rasa bersalah yang entah bisa digantikan oleh apa. Kalau saja pikiranku waktu itu tenang, tidak mengebut, gadis itu sekarang masih mengingat Ibunya. Raya penjahat!! Teriaku dalam hati.

“AAKKKH!!” Aku menangis histeris sambil memukuli diriku sendiri.***

Her Masks #2

0

Saat aku tiba dirumah, kulihat sebuah mobil Outlander hitam terparkir dengan rapi didepan rumahku. Aku menaik nafas panjang sebagai persiapanku menghadapi hari yang ternyata belum berakhir. Mempersiapkan mentalku atas kunjungan dari pemilik mobil itu. Gumaman suara wanita dan tawa pria menggema didinding-dinding rumahku. Kunjungan hari ini sepertinya tidak akan terlalu buruk, harapku.
“Lika. Apa kabar, sayang?” Suara seorang pria paruh baya menggelegar. Pria lain yang harus kuberi gelar ‘Ayah’ meski dirinya tak memiliki kontribusi apapun atas kelahiranku di dunia ini. Pria itu menghampiri dan memelukku.
“Baik, Yah. Ayah sama Ibu gimana?” Tanyaku santun.
“Baik juga kok. Ibu sama Mama kamu lagi didapur, nak.”
“Kalau gitu, Lika ke dapur dulu ya.” Suranya masih dipenuhi ekspresi tawa. Apa yang membuatnya begitu bahagia?
Percakapanku dengan kedua wanita yang kusegani ini berjalan hampir serupa, hanya saja mereka lebih teliti dan mengenali raut wajahku yang tak terlalu antusias atas kedatangan mereka. “Kamu kenapa, nak? Kok mukanya nekuk gitu?” wanita yang sudah sangat berjasa untuk melahirkanku menyentuh daguku.
“Nggak apa-apa, Ma. Cuma capek aja. Terus tadi juga waktu Dimas telepon agak ribut dikit.” aku tak berbohong. Hanya meninggalkan detail-nya.
“Tapi nggak sampai gimana banget kan ributnya?” tanyanya kemudian yang hanya kujawab gelengan dengan semanis senyuman tulusku.
Suara menggelegar memanggil kami para wanita untuk berkumpul diruang tengah. Aku berjalan didampingi oleh kedua wanita cantik. Hampir sama seperti dulu kala. Memoir rapuhku kembali namun masih dengan embun yang menyelimutinya. Perbedaan hari itu dan kini hanya ada padaku, pada usiaku.
“Lika, kamu masih simpan visa kamu kan?” Tanya Papa dengan seulas senyum menghiasi wajahnya. “Ada di Mama, Pa.” Jawabku polos.
“Kamu ikut sama kami ya, Lika.” Ayah yang kini berbicara, tatapan kosongku menjawab pertanyaannya. “Dimas kan sekitar 3 bulan lagi lulus, Ayah sama Ibu mau stay disana untuk 2 minggu kedepan.” Tatapan Ayah mengedar keseluruh manusia yang ada diruangan ini. “Ayah sama Ibu ingin kamu dampingi Dimas disana.” Wajahku tak beriak, namun jantungku rasanya berhenti berdetak meski pada nyatanya telingaku dapat mendengar betapa keras ia bekerja memompa darahku.
“Kuliah Lika gimana?”
“Mama sama Papa yang akan cutikan kamu, nak.” Mama menjawab dengan ringan, seolah pendidikan tak lagi hal utama.
“Papa tahu kamu ingin selesaikan kuliahmu…” Papa memotong pembicaraanya, “…tapi bagaimanapun Lika, Dimas itu suami kamu, dan kamu harus menjalankan tugasmu sebagai seorang istri.” Lagi-lagi kalimat itu. Meski otakku menolak, hati dan ragaku tahu pasti tugas yang sudah 2 tahun lebih kuabaikan.
“Lika nggak pernah ‘mengabaikan’ tugas Lika sebagai istri. Kalian yang maksa Lika buat berhenti menjadi seorang istri yang baik.” Aku sengaja menekankan kata ‘mengabaikan’. Aku muak mereka selalu menggunakan senjata itu sebagai alat untuk menyerangku. “Tapi okay… Lika ikut Ibu sama Ayah.” Aku menatap mereka tepat dimata. “Tapi Lika tetap mau kuliah!”
“Jadi kamu mau kuliah disana? Sama Dimas?” Tanya Papa seolah ia baru sadar bahwa putrinya sangat mungkin untuk tidak kembali menetap ditanah ini.
“Dimana aja Pa, yang penting lulus kuliah. Lika pengin punya gelar. Pengin kerja.”
“Tapi nak, kampus kamu memangnya bisa kirim rujukan?” Kini Mama merajuk dan hanya aku acuhkan.
“Kamu bisa mulai dari awal disana, Lika. Kamu ngerti kan, dulu Ayah nggak izinkan kamu ikut sama Dimas karena Ayah pengin Dimas bisa support kamu lahir batin.” Ayah… alasanmu itu mengapa terdengar sangat rancu ditelingaku?
“Lika ngerti, Yah. Yang nggak bisa Lika ngerti, kenapa Lika sama Dimas harus dinikah gantung dari kecil? Kenapa nggak nunggu kami dewasa agar kami bisa saling support dan nggak jadi beban kalian?” Aku tidak berteriak, tapi mereka bisa mendengar rasa kecewa dalam nadaku.
“Kami hanya ingin memastikan kalian akan terus bersama tanpa ada gangguan dari orang lain. Kami hanya ingin pastikan itu, nak..” Ibu berbicara saat yang lain hanya terdiam dengan air muka yang memucat.
“Apa kalian benar-benar yakin dengan keputusan kalian sekarang? Apa ini hasil yang kalian inginkan?” Aku menatap mereka dengan lekat. “Apa dengan menikahkan kami saat kami masih balita bisa mencegah itu semua? Saat Lika dimarahin Mama dan Papa karena Lika dekat dengan teman laki-laki dikelas 5 SD? Masa SMP dan SMA Lika nggak bisa Lika nikmatin karena status Lika yang sudah menikah sama Dimas, terus lulus SMA kalian bolehin kita tinggal satu rumah hanya untuk tiga bulan. Kalian membebaskan kami untuk melakukan seluruh kewajiban sebagai suami istri. Kami lagi bahagia, Ma.. Pa.. lalu Ayah sama Ibu datang dan bilang bahwa Dimas harus kuliah diluar! Lika nggak boleh ikut dan harus tetap kuliah disini!” Suaraku meninggi setiap aku menekankan seluruh kesakitanku. “Kalian pisahin Lika dari Dimas saat kami mulai kehidupan kami! Saat kami mulai bergantung satu sama lain! Saat kami mulai menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya!” Nadaku sudah berada dipuncak. Meneriakan segala frustasiku terhadap mereka yang kuanggap pantas menerima ledakan ini. Kutatap mereka satu persatu. Tak ada satupun dari mereka yang berujar.
Aku menghembuskan nafasku dengan keras, “Sudahlah.. kapan kita berangkat?” tanyaku muram.
“Besok jam 9 kamu ikut kita untuk ngurusin semuanya.” Akhirnya Ayah yang pertama menemukan pita suaranya kembali.

“Baiklah. Lika nggak bisa nolak juga, kan?” aku berdiri meninggalkan mereka tanpa menunggu jawaban. Kulihat kamarku sudah rapi dan bersih. Mama pasti menyelesaikan tugas itu untuk meringankanku. Empat koper sudah berjejer rapi didekat pintu kamarku. Kubuka lemari pakaianku dan hanya menemukan beberapa potong pakaian untuk kugunakan malam ini dan besok, serta beberapa pakaian yang tidak terlalu sering ku kenakan. Dengan seluruh koneksinya, Ayah bisa mengurus semua surat-suratku dengan sekejap mata. Lagi-lagi aku akan kehilangan kehidupanku. Kehidupan yang tak pernah benar-benar kumiliki. Kehidupan yang menjadi uji coba mereka yang menatas namakan gelar Orang Tua.***

Reverse #3

0

Aku berlari menuju ruangan Ibu, sudah ada dr. Jun, beberapa perawat dan Dimas. Aku menatap Ibu nanar, tadi saat aku tinggalkan Ibu, ia baik-baik saja malah memberikan senyumannya yang cantik, “IBU…!!” Aku berteriak memanggilnya, histeris, takut terjadi apa-apa padanya, Dimas menarikku keluar,
“Aku mau ketemu Ibu, Dimas.” Aku kalap, Dimas menghadang jalanku,
“Nggak sekarang Ata!” Aku berusaha keras untuk masuk, Dimas memelukku, menahanku agar tidak masuk lagi dan berteriak seperti tadi, aku hanya menangis dalam pelukannya. Dan berharap bahwa Ibu akan baik-baik saja.
Tidak lama kemudian dokter keluar bersama dengan perawat-perawatnya, aku langsung masuk untuk melihat Ibu. Dipasangkan oksigen untuk membantunya bernafas, dan juga infusnya bertambah satu. Bang Anda menyuruhku untuk duduk di sofa bersama Arka yang baru saja datang dengan kepanikannya,
“Kalian duduk. Dimas maaf, bisa tinggalkan kami bertiga?” Dimas lalu keluar ruangan,
“Bang.” wajah Bang Anda seperti beberapa hari yang lalu,
“Dokter salah prediksi, ada komplikasi.” Aku menangis lagi
“Komplikasi?” tanya Arka mengulang apa yang dikatakan Bang Anda
“Jantung koroner.” Bang Anda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mengusapnya kasar, lalu keluar.
***
Aku terduduk di taman Rumah Sakit, masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar, Dimas duduk disebelahku, tidak berkata apapun, aku menatapnya dengan mata sembab,
“Komplikasi…” Kataku, “Penyakit jantung koroner. Gimana bisa Mas?”
“Komplikasi penyakit bagi pasien yang mengidap darah tinggi itu mungkin terjadi Ta.” Jawab Dimas dengan tenangnya, selayaknya seorang dokter “ Jantung koroner itu karena akibat dari terjadinya pengapuran yang terjadi pada dinding pembuluh darah jantung. Penyempitan yang terjadi pada lubang pembuluh darah jantung biasanya menyebabkan masalah berkurangnya suatu aliran darah pada beberapa bagian otot jantung.” Dimas menghela nafas, “Sepertinya Ibu mu pingsan karena merasakan rasa nyeri yang sakit di dada. Dimana bisa berakibat gangguan pada masalah otot jantung, bahkan juga bisa menyebabkan timbulnya masalah serangan jantung.”
“Pengobatannya?”
“Untung saja Ibu mu masih dalam tahap ringan dan dokter tahu lebih awal, jadi dengan obat-obatan dapat membantu untuk mengencerkan darah supaya aliran darah nggak terganggu dengan adanya penyempitan pembuluh darah.”
Dimas mengelus punggungku, memberikan sedikit ketenangan. Caranya berhasil, aku sedikit tenang setelah mendengar penjelasan yang ia berikan, untung saja komplikasinya belum separah itu. Dimas beranjak, menarik tanganku, dan kami masuk ke cafetaria, “Satu teh manis hangat yah.” Katanya, lalu menarikku duduk, “Kamu harus minum sedikit teh untuk menenangkan pikiran kamu.”
***
Dua hari kemudian Ibu dibolehkan pulang, aku membantunya membereskan baju-baju, kemudian dr. Jun masuk bersama Dimas dan satu perawat, ia tersenyum padaku dan Ibu,
“Selamat ya Bu Ranti sudah bisa pulang.” Kata dr. Jun
“Terimkasih, Dok. Ini semua juga berkat dokter.”
“Ingat yah bu, sebulan sekali kontrol, jangan lupa minum obat dan jaga pola makan juga makanannya. Satu lagi, tidak boleh terlalu capek.”
“Duh gimana ya dok, saya ini orangnya pecicilan, nggak bisa diem.”
Dr. Jun tertawa, “Ibu boleh bergerak, boleh mengerjakan urusan rumah, tapi tidak boleh terlalu capek. Itu saja.”
“Baik, Dok, akan saya laksanakan agar tidak masuk ke rumah sakit lagi.” Ibu tersenyum. Kemudian pamit undur diri, kami berjalan ke parkiran mobil, diikuti Dimas,
“Terimakasih yah Dimas, sudah merawat Tante.” Kata Ibu sebelum masuk ke dalam mobil,
“Sama-sama, sehat terus yah tante.” Ibu mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Aku pun melajukannya menuju rumah.
***
Sejak itu, Dimas sering datang ke rumah bahkan kami juga suka main bersama. Jujur, aku tidak berpikir macam-macam atas hubungan kami. Aku senang kami jadi dekat lagi, tapi aku menganggapnya sebagai teman dan juga sahabat baruku. Aku nyaman dekat dengannya, karena memang sejak dulu dia memang selalu bisa membuatku nyaman.
Aku duduk di teras sambil meminum secangkir teh manis hangat ditemani roti selai coklat dan juga hujan yang menyisakan gerimis, hingga ibu duduk disebelahku, yang juga membawa secangkir teh hangat, “Gulanya berapa sendok bu?” Cerewetku pada Ibu
“Pakai gula non kalori kok Ta.” Jawab Ibu, kami berdua sama-sama diam. Menikmati dinginnya udara sehabis hujan, “Enak ya Ta. Coba Jakarta setiap hari udaranya kaya gini,” kata Ibu,
“Iya ya bu. Nggak perlu AC jadi listrik nggak akan mahal tiap bulannya.”
Euh kamu mah emang dasar itungan.”
“Bercanda bu.” Jawabku singkat,
“Ta…”
“Hmm?”
“Dimas udah tau kamu udah punya pacar?” aku menggeleng, “nggak kamu kasih tahu?”
“Dimas nggak nanya, ya aku juga nggak pernah cerita.”
“Kenapa harus nunggu Dimas nanya?” tanya Ibu lagi,
“Ya masa tiba-tiba cerita, Bu. Absurd banget.”
“Nanti Dimas salah paham loh.” Jawab Ibu,
“Kenapa harus salah paham? Toh aku nganggep dia hanya sekedar sahabatku sekarang.”
“Ya itu anggapan kamu, belum tentu Dimas menganggap seperti yang kamu anggap.” Jawab Ibu. “Sebaiknya jangan membuat benang yang tadinya tidak kusut menjadi kusut, nanti akan sulit diluruskannya lagi.” Kemudian Ibu masuk ke dalam. Aku jadi memikirkan hal yang tadinya tidak kupikirkan begitu serius, benar kata Ibu. Bagaimana kalau Dimas beranggapan lain atas kembalinya kedekatan kami.
***
Aku dan Dimas menyantap Sate Padang di pinggir jalan, Dimas menjemputku di museum, dia bilang akan membicarakan sesuatu padaku. “Ta…” ia memanggilku, membuatku berpaling padanya, jarinya mengusap pipiku. Aku terkjut, refleks menjauhkan tubuhku darinya, “Maaf. Ada bumbu sate di pipi kamu soalnya.” aku mengusap pipiku, berharap tidak ada sisa bumbu agar Dimas tidak mengulang kejadian tadi, “Kayaknya pipi kamu yang gembil itu juga lapar.” Katanya, aku tertawa.
“Pernah kebayang nggak sih Mas kalau kita hidup berdampingan sama binatang purba?” tanyaku padanya tiba-tiba, sengaja untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Nggak.” Jawabnya sambil menyantap sate padangnya, “Sekarang gini, Tuhan sengaja membuat hujan meteor dan membuat binatang purba menjadi punah, itu jalan yang dikasih Tuhan bahwa binatang purba dan manusia itu nggak bisa hidup berdampingan.”
“Bener banget. Baca nggak artikel tentang ada ilmuwan yang mau ngehidupin mammoth?” Dimas mengangguk, “Aku nggak setuju dengan apa yang mereka lakukan, kita hidup dijaman yang berbeda, ekosistemnya udah beda, apa nggak akan berdampak buruk nantinya. Lagipula emang menurut kamu mereka punah karna hujan meteor?”
“Jadi kaya film Jurassic Park ya?” kata Dimas yang tidak menjawab pertanyaanku padanya, “Itu kan ngingetin kita kalo, jaman kita sama jamannya dinosaurus udah beda. Udah nggak bisa lagi disatuin.” Jawab Dimas, yang dijawab dengan anggukanku, menghabiskan tusukan terakhir.
Kami menyelesaikan makan malam kami, dan akan menyebrang jalan, karna motor yang dikendarai Dimas berada di sebrang, Dimas menggenggam tanganku, jantungku yang mulai tidak berdebar saat menghabiskan waktu bersamanya, kini kembali berdebar seperti saat aku hanya mendengar namanya.
***
Dimas mengantarkanku hingga di teras Rumah. Aku merasakan tangan Dimas mencoba mraih tanganku, namun aku menolaknya. Tapi sebagai gantinya ia menatapku tepat kedua mataku, perasaan gugup menghampiriku dengan tiba-tiba,
“Ta..”
“Hmm?” jawabku, mengedarkan pandanganku kemana pun, yang penting tidak ke matanya.
“Pernah mikir nggak, kalau kita juga di kasih jalan sama Tuhan buat ketemu lagi?” tanya Dimas, aku tahu arah pembicaraan ini akan kemana,
“Mas…” Berniat untuk memberinya penjelasan agar tidak ada pembicaraan lebih jauh dan membuatnya tidak salah duga atas apa yang telah terjadi.
“Dengarkan aku dulu.” Sayangnya Dimas memotong pembicaraanku, menolak untuk mendengarkan “Aku memang bodoh pernah meninggalkan kamu demi obsesi impianku, dan aku nggak pengin menjadi bodoh lagi karna nggak memakai kesempatan kedua yang Tuhan berikan untuk memiliki kamu lagi.” Aku membelalak, benar kan, benar apa sedang kupikirkan, “Kamu mau kembali sama aku?” nafasku tidak stabil.
“Ata..” aku terkejut saat mendengar suara yang kukenal datang dari dalam rumah.

“Rey?”***
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com