[Raya]
Malam ini hujan deras, aku tidak bisa
melihat jalan. Aku berusaha untuk berada di kecepatan normal, walaupun
kecepatan yang kubuat sebelumnya lebih dari 100. BUG!! Aku merasakan mobil ini menghantam
sesuatu dengan keras. Aku keluar dari mobil, memastikan apa yang sudah aku
tabrak, kemudian aku terduduk lemas ketika melihat tubuh seorang gadis tak
bergerak, kepalanya dipenuhi banyak darah. Semuanya menjadi menghitam.
Aku
terbangun dengan nafas yang terengah-engah seperti habis berlari sejauh 200km, karena
mimpi buruk yang seenaknya datang kapanpun dia inginkan. Aku keluar kamar,
untuk meneguk air putih agar lebih tenang dan bisa kembali tertidur, walaupun
ada perasaan takut bunga tidur yang tidak pantas disebut bunga tidur itu datang
lagi. Sambil mengatur nafasku agar kembali seperti semula, aku mengecek telepon
genggamku, ada pesan singkat, dari Mama,
Mom:
Riani
seminggu lagi ulang tahun. Kali ini bisa pulangkan sayang?
Aku
meletakkannya lagi, sedikit malas untuk membalasnya, bukan karena ada ketegangan
antara kami, hubunganku dengan Mama baik-baik saja. Tapi aku hanya takut untuk
kembali ke kota yang melihat pertumbuhanku hingga aku berumur 22 tahun. Karena
di kota itulah mimpi burukku terjadi.
***
[Yuda]
Aku
memandang gedung bertingkat yang memiliki ratusan ruangan di dalamnya. Ini
tempat tinggalku sekarang, tempatku melarikan diri dari Ibukota yang
meninggalkan banyak kenanganku dan dia. Dia, Gadis yang tiba-tiba lupa akan
kehadiranku dan pergi kepada orang lain. Mungkin singkatnya dia terdengar
jahat, tapi sebenarnya tidak. Kenyataannya adalah aku orang yang belum bisa
menerima apa yang menjadi pilihan gadis yang awalnya kukira akan menjadi
teman hidupku.
Jujur
saja, kepergianku ke Bandung hari ini bukanlah rencana yang kutulis dalam agenda
hitamku. Ini semua diluar rencana, seharusnya di tahun ini, akan menjadi tahun
yang paling membahagiakan untukku juga untuknya. Untuk lari dari kenyataan yang
diluar rencana itu, maka aku lari kemari. Mencoba kehidupan baru, cerita baru,
tanpa ingin mendengar kabar bahkan namanya.
Aku
memasuki lift yang mengantarkanku ke
lantai dimana ruangan yang akan aku tinggali berada. Hingga tiba-tiba lift ini berhenti, lampunya mati dan aku
merasakan ada tangan yang melingkari pinggangku, badannya gemetar. Aku tidak
dapat melihat wajahnya, kucoba lepaskan, tapi genggamannya semakin kuat. Hingga
dua menit kemudian lampunya menyala, kesempatanku untuk melepaskannya.
Matanya
terpejam, tubuhnya tidak lagi gemetar, bahkan pelukannya tidak lagi sekuat
tadi. Lalu, ia jatuh dalam pelukanku. Gadis ini pingsan. Kenapa lama sekali
lift ini kembali beroperasi. Ada
ketertarikan untuk menilik garis wajahnya, pipinya sedikit gembil, rambutnya pendek-dibawah
telinga, wanita menyebut gaya rambut seperti ini dengan “Bob”, badannya
tidak begitu kurus dan sedikit berisi. Aku singkirkan poni yang menutupi
matanya. Tubuhnya berkeringat dan dingin. Bibirnya juga pucat.
Kubaringkan
dia di lantai, untuk mencari bantuan. Berulang kali aku tekan tanda bantuan,
“Tunggu Pak, lima menit lagi selesai.” Hanya itu yang mereka katakan.
Sepertinya, dia satu lantai denganku, karena dia tidak menekan tombol lain saat
melihat angka enam menyala. Ada perasaan
tidak tega untuk tidak menolongnya.
***
[Raya]
Samar-samar,
penglihatanku tidak jelas. Aku baru bangun, tidak ada yang kuingat, selain aku
masuk ke dalam lift, lalu semuanya
gelap. Kusapukan pandanganku keseantero ruangan saat pandanganku kembali
normal. Ruangan ini didominasi warna putih dan biru tua. Di planet mana aku
sekarang? Saturnus? Bukan. Saturnus tidak berwarna biru. Aku bangkit dari kasur
yang dibuat untuk dua orang. Kamar ini rapi sekali, seperti tidak ada debu yang
berani menempelkan diri dimeja ataupun di rak buku yang terdapat disudut kamar.
Sudah dipastikan ini bukan kamarku, karena kamarku tidak se-rapi dan sebersih
ini.
Aku
akan kembali ke planetku, ini bukan tempatku. Kubuka pintu kamar yang terbuat
dari kayu, sama seperti penghalang kamar dan ruang tv yang ada di apartemenku.
“Sudah siuman rupanya…” Aku terdiam saat sebuah suara yang menyadari
keberadaanku. Pemilik planet. Dengan gelagat yang ragu-ragu aku mencari sumber
suara. Seorang laki-laki sedang duduk di pantry
dengan tangan kanannya yang memegang sebuah cangkir, memandangiku dengan
matanya yang tajam. Aku berusaha tersenyum, tapi dia tidak.
Aku
menghampirinya. Ia malah kearah yang lain. Ternyata mengambilkan tas dan juga
jaket hijauku. “Punya kamu. Badanmu lumayan berat yah. Nggak suka olahraga ya?”
Apa? Apa yang baru saja ia katakan? Apa itu kalimat yang pantas saat pertama
kali bertemu. Aku berusaha menahan emosiku, mengingat bahwa dia sudah mau
menolongku. Aku berikan senyuman terbaikku, lebih tepatnya berusaha menyunggingkan
sebuah senyuman yang bagiku tidak pantas diberikan untuk orang yang tidak tahu
sopan santun seperti dia.
“Terimakasih
atas pujiannya, dan terimakasih juga sudah menolong saya.” Tanpa pikir panjang
lagi aku langsung menuju pintu keluar, bahkan aku tidak berpamitan padanya. Aku
harus segera keluar dari planet berpenghuni makhluk arrogant ini, sesegera mungkin. Tapi dia tidak menjawab apa yang
kukatakan. Sudahlah, orang sombong seperti dia, mana mungkin akan menjawabnya.
Kututup pintu apartemennya. 602? Ya
Tuhan… kami tetangga sebelah. Ah bukankah sebelumnya kamar ini kosong? Penghuni
baru rupanya. Gerutuku dalam hati.
Kubanting
tas dan jaketku ke lantai berlapiskan karpet bergambar antartika, “Kalo aja gue
nggak inget dia udah nolong gue. Udah gue terjunin dia dari balkon!! AAKKH!!” aku
berbicara sendiri.
***
[Yuda]
Dari belakang aku melihat rambut yang panjang
ikut berlari seirama dengan tubuhnya yang kurus, lehernya jenjang, matanya yang
sipit memandang ke arahku, bibirnya yang berwarna merah tersenyum padaku, dia
berdandan. Cantik sekali dia hari ini, apalagi mengenakan dress putih bermotif
bunga-bunga.
“Kamu siapa?” ia bertanya dengan
suaranya yang lembut. Aku menggenggam tangannya, dengan kasar ia menepis. Air
wajahnya berubah, terlihat kesal. Ia berlari lagi, aku mengejarnya. Memeluknya.
Lalu ia menampar pipiku.
Aku
melihat cahaya matahari muncul dari balik kain yang menjadi penutup jendela
kamar saat malam. Sudah pagi, sambil mengingat siapa yang hadir dalam mimpiku,
aku berjalan ke kamar mandi. Kamu hadir lagi Frey. Maafkan aku belum bisa
menghapus jejakmu dari ingatanku. Menatap wajahku di cermin. Rambut yang tumbuh
di daerah dagu dan diatas bibirku sudah tumbuh lumayan lebat. Kucukur sendiri,
walaupun yang suka melakukannya adalah kamu. Walaupun dari tiga tahun yang lalu
aku sudah mulai membiasakan diriku untuk melakukan ini sendiri tanpamu, tetap
saja aku tidak terbiasa.
Aku
berjalan menuju lift, bersemangat
untuk bekerja di suasana baru. Dari kejauhan kulihat seorang gadis berdiri di
depan lift, memakai celana jeans cut bray,
kemeja flanel yang diikat di pinggang, kaos berwarna hitam dan sneakers. Tomboy
sekali. Ya aku tahu gadis ini, tapi tidak tahu namanya. Aku berdiri
disebelahnya, dia menatapku dengan matanya yang besar. dan menghiraukan aku
yang tampak seperti bayangan baginya. Sepertinya dia masih kesal karena
ucapanku terdengar sedikit menyebalkan kemarin. Kata-kata itu keluar begitu
saja dari bibir orang yang sikapnya sedikit dingin, yaitu aku.
***
[Raya]
Aku
menatapnya dari belakang. Menatap punggungnya yang tegap, rambut yang rapi, dan
tercium harum yang menyegarkan dari tubuhnya. Seperti dugaanku, dia orang yang
rapi, bahkan lebih rapi dariku. Tidak akan aku lupa kejadian kemarin. Pertemuan
pertama sebagai tetangga seperti itu? Dia memang tetangga yang buruk. Aku
memicingkan mata, saat ia menatapku, mencoba memasang wajah galak, berharap dia
takut padaku, reaksi yang diterima olehku justru sebaliknya, dia malah
menertawakanku.
“HEY!!”
aku berteriak begitu kami sama-sama keluar dari lift, ia berbalik, “Ngetawain saya?!” dengan geram aku
menghampirinya.
Dia
menengok ke kanan dan kiri, “Iyah.” Dengan dingin dia menjawab pertanyaanku,
wajahnya tidak berekpresi, tidak ada rasa bersalah karena sudah menertawaiku,
bahkan kemarin dia meledekku.
“Masalah
kamu nolong saya udah beres yah kemarin. Kenapa kamu ngetawain saya?”
“Wajah
kamu kayak landlady yang ada di kungfu hustle.” Dia pergi setelah
mengucapkan kalimat menyebalkan itu. Aaakkh!! Dasar wajah besi, kepala batu,
hati kutub utara. Awas saja, aku tidak akan meminta bantuan apapun darinya.
Yang kemarin adalah yang pertama dan yang terakhir. Aku menghardiknya dalam
hati.
Aku
membanting pintu mobil. Bibirku manyun. “Jangan banting-banting pintu mobil gue
dong Ray!” Terdengar Taka memarahiku.
“Maaf
Ka, gue lagi kesel.” Taka melajukan mobilnya dari apartemenku ke daerah
Lembang, tempat kami bekerja, memotret. Kami membuka usaha jasa foto pra-wedding hingga wedding, bekerja sama dengan istrinya Taka sebagai wedding organizer. Aku yang mengusung
konsepnya sedangkan Taka sebagai fotografer-nya.
Taka,
laki-laki yang ada disebelahku ini sahabatku sejak kami duduk di sekolah
menengah pertama. Tidak ada terlintas di pikiranku untuk suka padanya, seperti
yang sudah aku bilang sebelumnya, dia sudah beristri punya anak satu, laki-laki
berumur lima bulan, namanya Nata. Bukan hanya itu, Taka sepertinya tidak
menganggap aku sebagai kaum Hawa. Dia juga merangkap sebagai supir pribadi, tidak aku
bercanda, dia menawarkan dirinya untuk itu, karena aku yang masih trauma sejak
kecelakaan itu, tidak bisa mengendarai mobil sendiri bahkan Taka tidak pernah
berada di kecepatan lebih dari 100 jika dia membawaku dimobilnya.
“Nggak
mau nyoba ngobatin trauma lo Ray?” lagi-lagi aku mendengar pertanyaan itu,
entah sudah berapa kali ia tanyakan. Aku menatap keluar jendela, menatap pemandangan
yang mulai berganti dengan pepohonan pinus.
“Lo
udah tau jawaban gue kan? Kenapa masih ditanyain terus sih?” jawabku sedikit
ketus. Aku tidak suka orang yang terus memaksaku melakukan hal yang tidak aku
mau. Aku tahu dia berniat baik padaku, dia sayang padaku, dan mencoba membujukku
untuk mau berobat agar sembuh dari
trauma dan melupakannya. Tapi tidak bisa.
“Mau
sampe kapan Ray? Nggak kasian sama suami lo nanti?” dia sudah tahu adatku, jadi
sedikit menghiraukan jawabanku tadi.
“Kalo
gitu gue nggak mau nikah.” Tiba-tiba tangannya memukul bibirku, “Apaan sih Taka?!”
kataku kesal, “Sakit tau!” aku mengelus bibirku, ada rasa nyeri karena tamparan
tangan Taka di bibirku, walaupun tamparannya tidak sekeras yang dibayangkan.
Inilah salah satu alasan kenapa aku bisa bilang dia tidak menganggap aku
sebagai perempuan.
“Lagian
ngomongnya nggak pake mikir. Inget ucapan adalah doa. Lo mau jadi perawan tua?!”
lagi-lagi aku dimarahi Taka. Aku menundukkan kepalaku, tidak berani membantah
apa yang dikatakan olehnya. Sebenarnya aku takut kalau Taka sudah marah, karena
bagiku dia lebih dari seorang sahabat sudah seperti kakak laki-laki untukku.
Dia adalah orang yang akan bilang salah jika aku salah dan bilang benar jika
aku benar. Dia juga yang siap ditelfon kapan saja, jika aku butuh.
“Nggak
mau.” jawabku dengan nada manja, “Lagian lo juga sih, terus aja maksa gue.”
Jawabku tidak mau kalah.
“Terserah
lo aja Ray. Trauma itu bisa diobatin kok, kalo lo mau.” Cuma itu jawaban Taka,
kata-kata selalu membuat aku berpikir. Sebelumnya aku sudah pernah mengobatinya
lewat pengobatan hipnoterapi, tapi tidak berhasil. Dokter bilang, itu semua
karena aku menolaknya, penolakan ini terjadi karena rasa bersalahku atas
Gadis itu. Gadis yang kutabrak tiga tahun yang lalu.
***
[Yuda]
“Kenalkan,
ini copywriter yang baru, yang
gantiin Fajar.” Sakti memperkenalkan keseluruh penghuni kantor ini, dari office boy hingga atasannya. Sakti
temanku saat di kampus, dia sudah punya jabatan di kantor advertising ini. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.
Mereka tersenyum ramah padaku, inilah suasana kantor yang aku inginkan,
kenyamanan. Tidak ada senoritas bahkan seperti saudara. Itu yang dikatakan
Sakti padaku.
“Kenalkan
nama saya Yudanta, mohon kerjasamanya semua.” Kataku, memberikan sedikit
perkenalan diriku.
“Nggak
usah tegang Yud. Ikut gue keruangan sebentar yuk. Okey semuanya balik kerja
yah, inget deadline!” Raut wajah Sakti berganti tegas begitu mengucapkan kata “deadline.” Kami masuk keruangan yang
dipenuhi storyboard yang menempel
didinding, poster-poster produk dari kliennya,
“Ini
semua pekerjaan copywriter sebelumnya,
lo udah tahu basic-nya kan?” Sakti
memberikan beberapa berkas dihadapanku. Aku membacanya sedikit,
“Iya
ngerti. Kalo ada beberapa yang gue ganti karena nggak sesuai, nggak apa kan?”
“Nggak
apa-apa kalo emang itu lebih baik dari yang Fajar buat. Karena ini project baru, dan gue pengen lo yang
pegang project ini.”
“Okey
siap. Gue urus ini.” jawabku mantap.
“Oya,
apa kabar Freya sama Dhika?” aku tertegun begitu mendengar nama mereka disebut,
aku memasang senyum, senyum keterpaksaan untuk menutupi apa yang sebenarnya
terjadi.
“Mereka
baik. Gue kerja dulu yah.” Menghindar pertanyaan lain yang tidak ingin aku
jawab tentang kedua orang yang itu.
“Selamat
bekerja bapak Yuda.” Jawab Sakti santai.
***
[Raya]
“Maaf
yaa Ray, gue turunin disini.” Kata Taka, dari balik jendela mobilnya.
“Santai
Ka. Salam buat Danti dan cium untuk Nata ya.” Kataku. Taka menurunkanku di
pertigaan Ciumbuleuit, lumayan jauh, tapi sayang juga kalau aku naik angkot.
Jadi aku memilih untuk berjalan kaki, sekalian olahraga, biar nggak dibilang gendut lagi sama si wajah
besi, kepala batu dan hati kutub utara itu. Aku sedang asik memperhatikan
kakiku yang dibalut sneakers hitam berjalan menanjak, Ciumbuleuit berada
didataran tinggi di Kota Bandung, hingga tiba-tiba tiga orang berpenampilan
brandal menghadang jalanku didepan sebuah mini market tidak jauh dari
apartemen.
“Sendiri
aja teh malem-malem gini?” Tanya salah satu dari mereka dengan logat sundanya,
aku memasang wajah galak.
“Eitss
si teteh meuni1 galak.”
Goda laki-laki yang satu lagi. Mencoba meraba wajahku, aku mundur, menatap
sekeliling, mencoba mencari bantuan, tapi orang disekitarku sibuk dengan urusan
mereka masing-masing, entah pura-pura tidak melihat agar tidak terlibat.
Laki-laki dengan anting dihidungnya, tato ditubuhnya mendekatiku dengan wajah
seperti ingin menerkamku hiudp-hidup. Aku tidak bisa lari, badan ini gemetar.
Hingga seseorang menendangnya, dan ia terpental lumayan jauh dan terjatuh.***
Catatan:
1. si teteh galak banget.
Catatan:
1. si teteh galak banget.




