Kamis, 26 Februari 2015

Runaway #1

0

[Raya]
Malam ini hujan deras, aku tidak bisa melihat jalan. Aku berusaha untuk berada di kecepatan normal, walaupun kecepatan yang kubuat sebelumnya lebih dari 100. BUG!! Aku merasakan mobil ini menghantam sesuatu dengan keras. Aku keluar dari mobil, memastikan apa yang sudah aku tabrak, kemudian aku terduduk lemas ketika melihat tubuh seorang gadis tak bergerak, kepalanya dipenuhi banyak darah. Semuanya menjadi menghitam.
Aku terbangun dengan nafas yang terengah-engah seperti habis berlari sejauh 200km, karena mimpi buruk yang seenaknya datang kapanpun dia inginkan. Aku keluar kamar, untuk meneguk air putih agar lebih tenang dan bisa kembali tertidur, walaupun ada perasaan takut bunga tidur yang tidak pantas disebut bunga tidur itu datang lagi. Sambil mengatur nafasku agar kembali seperti semula, aku mengecek telepon genggamku, ada pesan singkat, dari Mama,

Mom:
Riani seminggu lagi ulang tahun. Kali ini bisa pulangkan sayang?

Aku meletakkannya lagi, sedikit malas untuk membalasnya, bukan karena ada ketegangan antara kami, hubunganku dengan Mama baik-baik saja. Tapi aku hanya takut untuk kembali ke kota yang melihat pertumbuhanku hingga aku berumur 22 tahun. Karena di kota itulah mimpi burukku terjadi.
***
[Yuda]
Aku memandang gedung bertingkat yang memiliki ratusan ruangan di dalamnya. Ini tempat tinggalku sekarang, tempatku melarikan diri dari Ibukota yang meninggalkan banyak kenanganku dan dia. Dia, Gadis yang tiba-tiba lupa akan kehadiranku dan pergi kepada orang lain. Mungkin singkatnya dia terdengar jahat, tapi sebenarnya tidak. Kenyataannya adalah aku orang yang belum bisa menerima apa yang menjadi pilihan gadis yang awalnya kukira akan menjadi teman hidupku.
Jujur saja, kepergianku ke Bandung hari ini bukanlah rencana yang kutulis dalam agenda hitamku. Ini semua diluar rencana, seharusnya di tahun ini, akan menjadi tahun yang paling membahagiakan untukku juga untuknya. Untuk lari dari kenyataan yang diluar rencana itu, maka aku lari kemari. Mencoba kehidupan baru, cerita baru, tanpa ingin mendengar kabar bahkan namanya.
Aku memasuki lift yang mengantarkanku ke lantai dimana ruangan yang akan aku tinggali berada. Hingga tiba-tiba lift ini berhenti, lampunya mati dan aku merasakan ada tangan yang melingkari pinggangku, badannya gemetar. Aku tidak dapat melihat wajahnya, kucoba lepaskan, tapi genggamannya semakin kuat. Hingga dua menit kemudian lampunya menyala, kesempatanku untuk melepaskannya.
Matanya terpejam, tubuhnya tidak lagi gemetar, bahkan pelukannya tidak lagi sekuat tadi. Lalu, ia jatuh dalam pelukanku. Gadis ini pingsan. Kenapa lama sekali lift ini kembali beroperasi. Ada ketertarikan untuk menilik garis wajahnya, pipinya sedikit gembil, rambutnya pendek-dibawah telinga, wanita menyebut gaya rambut seperti ini dengan “Bob”, badannya tidak begitu kurus dan sedikit berisi. Aku singkirkan poni yang menutupi matanya. Tubuhnya berkeringat dan dingin. Bibirnya juga pucat.
Kubaringkan dia di lantai, untuk mencari bantuan. Berulang kali aku tekan tanda bantuan, “Tunggu Pak, lima menit lagi selesai.” Hanya itu yang mereka katakan. Sepertinya, dia satu lantai denganku, karena dia tidak menekan tombol lain saat melihat angka enam menyala.  Ada perasaan tidak tega untuk tidak menolongnya.
***
[Raya]
Samar-samar, penglihatanku tidak jelas. Aku baru bangun, tidak ada yang kuingat, selain aku masuk ke dalam lift, lalu semuanya gelap. Kusapukan pandanganku keseantero ruangan saat pandanganku kembali normal. Ruangan ini didominasi warna putih dan biru tua. Di planet mana aku sekarang? Saturnus? Bukan. Saturnus tidak berwarna biru. Aku bangkit dari kasur yang dibuat untuk dua orang. Kamar ini rapi sekali, seperti tidak ada debu yang berani menempelkan diri dimeja ataupun di rak buku yang terdapat disudut kamar. Sudah dipastikan ini bukan kamarku, karena kamarku tidak se-rapi dan sebersih ini.
Aku akan kembali ke planetku, ini bukan tempatku. Kubuka pintu kamar yang terbuat dari kayu, sama seperti penghalang kamar dan ruang tv yang ada di apartemenku. “Sudah siuman rupanya…” Aku terdiam saat sebuah suara yang menyadari keberadaanku. Pemilik planet. Dengan gelagat yang ragu-ragu aku mencari sumber suara. Seorang laki-laki sedang duduk di pantry dengan tangan kanannya yang memegang sebuah cangkir, memandangiku dengan matanya yang tajam. Aku berusaha tersenyum, tapi dia tidak.
Aku menghampirinya. Ia malah kearah yang lain. Ternyata mengambilkan tas dan juga jaket hijauku. “Punya kamu. Badanmu lumayan berat yah. Nggak suka olahraga ya?” Apa? Apa yang baru saja ia katakan? Apa itu kalimat yang pantas saat pertama kali bertemu. Aku berusaha menahan emosiku, mengingat bahwa dia sudah mau menolongku. Aku berikan senyuman terbaikku, lebih tepatnya berusaha menyunggingkan sebuah senyuman yang bagiku tidak pantas diberikan untuk orang yang tidak tahu sopan santun seperti dia.
“Terimakasih atas pujiannya, dan terimakasih juga sudah menolong saya.” Tanpa pikir panjang lagi aku langsung menuju pintu keluar, bahkan aku tidak berpamitan padanya. Aku harus segera keluar dari planet berpenghuni makhluk arrogant ini, sesegera mungkin. Tapi dia tidak menjawab apa yang kukatakan. Sudahlah, orang sombong seperti dia, mana mungkin akan menjawabnya. Kututup pintu apartemennya. 602? Ya Tuhan… kami tetangga sebelah. Ah bukankah sebelumnya kamar ini kosong? Penghuni baru rupanya. Gerutuku dalam hati.
Kubanting tas dan jaketku ke lantai berlapiskan karpet bergambar antartika, “Kalo aja gue nggak inget dia udah nolong gue. Udah gue terjunin dia dari balkon!! AAKKH!!” aku berbicara sendiri.
***
[Yuda]
Dari belakang aku melihat rambut yang panjang ikut berlari seirama dengan tubuhnya yang kurus, lehernya jenjang, matanya yang sipit memandang ke arahku, bibirnya yang berwarna merah tersenyum padaku, dia berdandan. Cantik sekali dia hari ini, apalagi mengenakan dress putih bermotif bunga-bunga.
“Kamu siapa?” ia bertanya dengan suaranya yang lembut. Aku menggenggam tangannya, dengan kasar ia menepis. Air wajahnya berubah, terlihat kesal. Ia berlari lagi, aku mengejarnya. Memeluknya. Lalu ia menampar pipiku.
Aku melihat cahaya matahari muncul dari balik kain yang menjadi penutup jendela kamar saat malam. Sudah pagi, sambil mengingat siapa yang hadir dalam mimpiku, aku berjalan ke kamar mandi. Kamu hadir lagi Frey. Maafkan aku belum bisa menghapus jejakmu dari ingatanku. Menatap wajahku di cermin. Rambut yang tumbuh di daerah dagu dan diatas bibirku sudah tumbuh lumayan lebat. Kucukur sendiri, walaupun yang suka melakukannya adalah kamu. Walaupun dari tiga tahun yang lalu aku sudah mulai membiasakan diriku untuk melakukan ini sendiri tanpamu, tetap saja aku tidak terbiasa.
Aku berjalan menuju lift, bersemangat untuk bekerja di suasana baru. Dari kejauhan kulihat seorang gadis berdiri di depan lift, memakai celana jeans cut bray, kemeja flanel yang diikat di pinggang, kaos berwarna hitam dan sneakers. Tomboy sekali. Ya aku tahu gadis ini, tapi tidak tahu namanya. Aku berdiri disebelahnya, dia menatapku dengan matanya yang besar. dan menghiraukan aku yang tampak seperti bayangan baginya. Sepertinya dia masih kesal karena ucapanku terdengar sedikit menyebalkan kemarin. Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir orang yang sikapnya sedikit dingin, yaitu aku.
***
[Raya]
Aku menatapnya dari belakang. Menatap punggungnya yang tegap, rambut yang rapi, dan tercium harum yang menyegarkan dari tubuhnya. Seperti dugaanku, dia orang yang rapi, bahkan lebih rapi dariku. Tidak akan aku lupa kejadian kemarin. Pertemuan pertama sebagai tetangga seperti itu? Dia memang tetangga yang buruk. Aku memicingkan mata, saat ia menatapku, mencoba memasang wajah galak, berharap dia takut padaku, reaksi yang diterima olehku justru sebaliknya, dia malah menertawakanku.
“HEY!!” aku berteriak begitu kami sama-sama keluar dari lift, ia berbalik, “Ngetawain saya?!” dengan geram aku menghampirinya.
Dia menengok ke kanan dan kiri, “Iyah.” Dengan dingin dia menjawab pertanyaanku, wajahnya tidak berekpresi, tidak ada rasa bersalah karena sudah menertawaiku, bahkan kemarin dia meledekku.
“Masalah kamu nolong saya udah beres yah kemarin. Kenapa kamu ngetawain saya?”
“Wajah kamu kayak landlady yang ada di kungfu hustle.” Dia pergi setelah mengucapkan kalimat menyebalkan itu. Aaakkh!! Dasar wajah besi, kepala batu, hati kutub utara. Awas saja, aku tidak akan meminta bantuan apapun darinya. Yang kemarin adalah yang pertama dan yang terakhir. Aku menghardiknya dalam hati.
Aku membanting pintu mobil. Bibirku manyun. “Jangan banting-banting pintu mobil gue dong Ray!” Terdengar Taka memarahiku.
“Maaf Ka, gue lagi kesel.” Taka melajukan mobilnya dari apartemenku ke daerah Lembang, tempat kami bekerja, memotret. Kami membuka usaha jasa foto pra-wedding hingga wedding, bekerja sama dengan istrinya Taka sebagai wedding organizer. Aku yang mengusung konsepnya sedangkan Taka sebagai fotografer-nya.
Taka, laki-laki yang ada disebelahku ini sahabatku sejak kami duduk di sekolah menengah pertama. Tidak ada terlintas di pikiranku untuk suka padanya, seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, dia sudah beristri punya anak satu, laki-laki berumur lima bulan, namanya Nata. Bukan hanya itu, Taka sepertinya tidak menganggap aku sebagai kaum Hawa. Dia juga merangkap sebagai supir pribadi, tidak aku bercanda, dia menawarkan dirinya untuk itu, karena aku yang masih trauma sejak kecelakaan itu, tidak bisa mengendarai mobil sendiri bahkan Taka tidak pernah berada di kecepatan lebih dari 100 jika dia membawaku dimobilnya.
“Nggak mau nyoba ngobatin trauma lo Ray?” lagi-lagi aku mendengar pertanyaan itu, entah sudah berapa kali ia tanyakan. Aku menatap keluar jendela, menatap pemandangan yang mulai berganti dengan pepohonan pinus.
“Lo udah tau jawaban gue kan? Kenapa masih ditanyain terus sih?” jawabku sedikit ketus. Aku tidak suka orang yang terus memaksaku melakukan hal yang tidak aku mau. Aku tahu dia berniat baik padaku, dia sayang padaku, dan mencoba membujukku untuk mau berobat agar  sembuh dari trauma dan melupakannya. Tapi tidak bisa.
“Mau sampe kapan Ray? Nggak kasian sama suami lo nanti?” dia sudah tahu adatku, jadi sedikit menghiraukan jawabanku tadi.
“Kalo gitu gue nggak mau nikah.” Tiba-tiba tangannya memukul bibirku, “Apaan sih Taka?!” kataku kesal, “Sakit tau!” aku mengelus bibirku, ada rasa nyeri karena tamparan tangan Taka di bibirku, walaupun tamparannya tidak sekeras yang dibayangkan. Inilah salah satu alasan kenapa aku bisa bilang dia tidak menganggap aku sebagai perempuan.
“Lagian ngomongnya nggak pake mikir. Inget ucapan adalah doa. Lo mau jadi perawan tua?!” lagi-lagi aku dimarahi Taka. Aku menundukkan kepalaku, tidak berani membantah apa yang dikatakan olehnya. Sebenarnya aku takut kalau Taka sudah marah, karena bagiku dia lebih dari seorang sahabat sudah seperti kakak laki-laki untukku. Dia adalah orang yang akan bilang salah jika aku salah dan bilang benar jika aku benar. Dia juga yang siap ditelfon kapan saja, jika aku butuh.
“Nggak mau.” jawabku dengan nada manja, “Lagian lo juga sih, terus aja maksa gue.” Jawabku tidak mau kalah.
“Terserah lo aja Ray. Trauma itu bisa diobatin kok, kalo lo mau.” Cuma itu jawaban Taka, kata-kata selalu membuat aku berpikir. Sebelumnya aku sudah pernah mengobatinya lewat pengobatan hipnoterapi, tapi tidak berhasil. Dokter bilang, itu semua karena aku menolaknya, penolakan ini terjadi karena rasa bersalahku atas Gadis itu. Gadis yang kutabrak tiga tahun yang lalu.
***
[Yuda]
“Kenalkan, ini copywriter yang baru, yang gantiin Fajar.” Sakti memperkenalkan keseluruh penghuni kantor ini, dari office boy hingga atasannya. Sakti temanku saat di kampus, dia sudah punya jabatan di kantor advertising ini. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Mereka tersenyum ramah padaku, inilah suasana kantor yang aku inginkan, kenyamanan. Tidak ada senoritas bahkan seperti saudara. Itu yang dikatakan Sakti padaku.
“Kenalkan nama saya Yudanta, mohon kerjasamanya semua.” Kataku, memberikan sedikit perkenalan diriku.
“Nggak usah tegang Yud. Ikut gue keruangan sebentar yuk. Okey semuanya balik kerja yah, inget deadline!” Raut wajah Sakti berganti tegas begitu mengucapkan kata “deadline.” Kami masuk keruangan yang dipenuhi storyboard yang menempel didinding, poster-poster produk dari kliennya,
“Ini semua pekerjaan copywriter sebelumnya, lo udah tahu basic-nya kan?” Sakti memberikan beberapa berkas dihadapanku. Aku membacanya sedikit,
“Iya ngerti. Kalo ada beberapa yang gue ganti karena nggak sesuai, nggak apa kan?”
“Nggak apa-apa kalo emang itu lebih baik dari yang Fajar buat. Karena ini project baru, dan gue pengen lo yang pegang project ini.”
“Okey siap. Gue urus ini.” jawabku mantap.
“Oya, apa kabar Freya sama Dhika?” aku tertegun begitu mendengar nama mereka disebut, aku memasang senyum, senyum keterpaksaan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
“Mereka baik. Gue kerja dulu yah.” Menghindar pertanyaan lain yang tidak ingin aku jawab tentang kedua orang yang itu.
“Selamat bekerja bapak Yuda.” Jawab Sakti santai.
***
[Raya]
“Maaf yaa Ray, gue turunin disini.” Kata Taka, dari balik jendela mobilnya.
“Santai Ka. Salam buat Danti dan cium untuk Nata ya.” Kataku. Taka menurunkanku di pertigaan Ciumbuleuit, lumayan jauh, tapi sayang juga kalau aku naik angkot. Jadi aku memilih untuk berjalan kaki, sekalian olahraga, biar nggak dibilang gendut lagi sama si wajah besi, kepala batu dan hati kutub utara itu. Aku sedang asik memperhatikan kakiku yang dibalut sneakers hitam berjalan menanjak, Ciumbuleuit berada didataran tinggi di Kota Bandung, hingga tiba-tiba tiga orang berpenampilan brandal menghadang jalanku didepan sebuah mini market tidak jauh dari apartemen.
“Sendiri aja teh malem-malem gini?” Tanya salah satu dari mereka dengan logat sundanya, aku memasang wajah galak.

“Eitss si teteh meuni1 galak.” Goda laki-laki yang satu lagi. Mencoba meraba wajahku, aku mundur, menatap sekeliling, mencoba mencari bantuan, tapi orang disekitarku sibuk dengan urusan mereka masing-masing, entah pura-pura tidak melihat agar tidak terlibat. Laki-laki dengan anting dihidungnya, tato ditubuhnya mendekatiku dengan wajah seperti ingin menerkamku hiudp-hidup. Aku tidak bisa lari, badan ini gemetar. Hingga seseorang menendangnya, dan ia terpental lumayan jauh dan terjatuh.***


Catatan:
1. si teteh galak banget.

Rabu, 25 Februari 2015

Reverse #2

0

Aku berlari menyusuri lorong rumah sakit. Aku panik bukan main saat Arka menelponku, memberitahu bahwa Ibu pingsan. Dengan segera aku pulang dan melajukan mobilku ke Rumah Sakit dekat rumah. Kulihat Arka duduk di ruang tunggu, aku memeluknya, badannya gemetar, dia pasti sangat panik. Tidak lama kemudian Bang Anda datang,
“Gimana ceritanya?”
“Aku nggak tahu pasti Bang, aku lagi kerja.” Jawabku,
“Salah aku Bang. Aku ada dirumah tapi gak becus jaga Ibu.” Suara Arka terdengar seperti orang yang merasa bersalah.
“Pelan-pelan. Ceritain sama Abang pelan-pelan. Gimana bisa Ibu kayak sekarang?” suara Bang Anda terdengar tenang, walaupun aku tahu dalam dirinya sangat panik,
“Waktu itu aku pergi sebentar untuk membeli beberapa peralatan untuk tugas kuliah, pas aku pergi, Ibu lagi bikin adonan kue.” Arka mengatur bicaranya, aku mengelus lengannya untuk memberikan sedikit kenyamanan, “pas aku sampe rumah, Ibu udah pingsan di lantai.”
“Mbak Pon?” Tanyaku yang baru saja ingat bahwa di rumah hanya ada Arka dan Ibu tadi.
“Mbak Pon gak bisa dateng, karna anaknya lagi sakit.” Kulihat pandangan Arka kosong, “Salah aku Bang, Kak… Aku gak bisa jaga Ibu.” Aku memeluknya lebih erat. Mencoba lebih menenangkan adik laki-lakiku.
Tidak lama kemudian Dimas keluar ruang pemeriksaan, kami menghampirinya. Wajahnya tenang, namun lama berbicara,
“Mas, Ibu ku?” tanyaku, Dimas menatap kami satu per satu,
“Bang Anda, ditunggu dokter diruangannya, ada yang mau dibicarakan.” Dimas akhirnya berbicara, aku sedikit kesal, mengapa salah satu dari kami harus bertanya dulu, baru dia mau berbicara,
“Mas, aku bisa lihat Ibu kan?”
Dimas mengangguk, “Tante sebentar lagi dipindahkan ke ruang inap. Kamu bisa menemaninya.”
***
Mataku tidak bisa lepas dari wajah Ibu yang mulai keriput dan rambutnya yang mulai memutih. Ditambah, aku tidak tega melihat tubuh ibu yang dipasangkan beberapa alat medis untuk membantunya. Telepon genggamku berbunyi, panggilan telepon masuk, dari Rey,
“Ya Rey?”
“Dimana?”
“Rumah Sakit.”
“Kamu kenapa?” suaranya yang jauh disana terdengar sangat panik,
“Ibu pingsan.”
“Rumah sakit mana?”
“Rumah Sakit Tiara Medika yang dekat rumah.”
“Yasudah. Aku kesana.”
Aku menutup teleponnya. Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar terdengar terbuka, Bang Anda. Wajahnya datar tidak memberikan jawaban dari rasa penasaranku atas penjelasan yang dokter yang berikan padanya, aku menghadangnya didepan kamar mandi, mengajaknya keluar lagi untuk mengintograsinya.
“Bang…” ekpresi mukanya berubah, bukan ekspresi yang biasa ia tunjukkan pada keluarganya. Wajah yang biasanya tenang itu, kini terlihat ada sebuah kesedihan, Bang Anda menyandarkan kepalanya dibahuku, lalu aku merasakan ada air jatuh, Bang Anda menangis, tidak bersuara, aku mengelus rambut Bang Anda, mencoba menenangkannya agar dapat menjelaskannya padaku.
Wajah Bang Anda kembali tenang seperti biasanya, saat aku memberikan teh hangat padanya. Kami bertiga terduduk di ruangan Ibu. Arka dan aku menunggu Bang Anda untuk siap bercerita,
“Ibu stroke.” Kami bertiga terdiam, suara tangisku mengisi ruangan, “Ata, apa Ibu minum obatnya?” Aku menjawabnya melalui komunikasi non-verbal, mengelengkan kepalaku, yang berarti, ‘Ibu tidak meminum obatnya,’
 “Ibu kena stroke ringan. Kemungkinan ada beberapa alat indranya tidak berfungsi dengan baik.” Lanjut Bang Anda,
“Apa ada pengobatan lain?”
“Untuk sekarang Ibu akan terus di pantau. Pengobatan lain, Ibu harus melakukan terapi dan juga meminum beberapa obat untuk mengurangi kemungkinan komplikasi.”
“Ini salah kami Bang, coba aja kami terus pantau Ibu.” Akhirnya Arka yang sedari tadi diam mengeluarkan suaranya,
“Nggak Ka. Tekanan darah Ibu memang sangat tinggi, hingga menyebabkan stroke, hal ini memang bisa terjadi pada orang yang mengidap hipertensi” Aku menatap Ibu, menatapnya dengan mata yang sudah dipenuhi air mata.
***
Kami duduk berdua di cafeteria Rumah sakit, aku terdiam, memandang keluar jendela. Rey menggenggam tanganku erat, “Sabar yah sayang. Ibu kan orang kuat.” Aku menangis lagi, Rey terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya,
“Aku tahu ini bukan saatnya aku bilang hal seperti ini sama kamu…” aku menatap Rey yang terlihat gelisah, “Besok, aku udah harus balik ke Kalimantan.” aku ingin marah, “Bukan sengaja ninggalin kamu lagi keadaan kayak sekarang, tapi gimana lagi.” aku melepaskan genggaman tangan Rey, “Aku janji akan terus telepon kamu, setiap hari, sampai Ibu sembuh, kalau perlu sepulang aku kerja kita video call, atau saat urusan aku selesai, aku balik lagi ke Jakarta. Ya Ta?” Ia membujukku, yang ia tahu bahwa aku tidak akan semurka itu untuk hal yang tidak-bisa-dibilang-sepele, karena kepergiannya beralasan.
Aku menatapnya nanar, “Janji kembali lagi? Karna sekarang, aku benar-benar lagi butuh kamu Rey.” Rey mengangguk mantap, “tapi besok aku gak bisa nganter kamu.”
“Nggak apa-apa sayang. Kamu jaga Ibu, tenangin Arka, terus kasih dia omongan, ini bukan salah dia.”
“Pasti kok Rey. Kayaknya kamu lebih sayang sama Arka yah dibanding aku?” aku sedikit menggodanya untuk sedikit mencairkan ketegangan, Rey tertawa,
“Untuk mendapatkan Kakaknya, aku harus mengambil hati adiknya juga dong.”
“Tapi hari ini temenani aku sampai aku tidur.” Aku menawarkan satu syarat padanya sebelum besok ia harus berangkat lagi ke Kalimantan, Rey mengangguk, menyetujuinya.
***
Aku tidak tertidur, hanya pura-pura tidur agar Rey bisa pulang karena besok dia harus kembali ke Kalimantan, ia mencium keningku, “Jaga kesehatan yah sayang, jangan sampai sakit karena kamu juga harus terus jaga Ibu. Aku sayang kamu.” Memberikan pesan, seakan tahu aku belum sepenuhnya tertidur. Tak lama kemudian terdengar pintu ruangan Ibu tertutup, aku membuka mata, mendudukkan badanku, menatap keluar jendela, pemandangan Ibukota pada malam hari, lampu kelap-kelip. Aku berpikir, dari sekian banyaknya penduduk di Jakarta, ada berapa orang yang sedang makan, ada berapa orang yang sedang mandi, ada berapa orang yang lagi nangis dan merasa sedih seperti yang aku rasakan sekarang. Tiba-tiba suara pintu terdengar terbuka, aku menengok.
Kami berdiri di atap Rumah Sakit, keheningan menyelimuti kami, yang terdengar hanya suara bising dari padatnya kendaraan dan angin malam. Dimas meneguk kopi hitamnya,
“Jaga malam?” tanyaku memulai pembicaraan,
“Iya.” Jawabnya singkat,
“Kamu ada apa ke ruangan Ibu tadi?”
“Hanya sekedar mengecek keadaannya,”
“Kenapa kamu?”
“Aku merasa harus menolongnya,” aku menatap Dimas, kami saling bertatapan, “bukankah peraturan kehidupan manusia untuk saling tolong menolong? Seperti yang Ibu mu lakukan padaku seminggu yang lalu.” Dimas menatap ke depan,
“Kamu sedamg balas budi?”
Ia tertawa pelan, “Kamu ingat kan dulu aku orang yang seperti apa, penyendiri, bahkan saat aku terkena masalah, aku hanya bisa diam. Tidak ingin berbagi, karna aku nggak mau menyusahkan siapa pun.” Dimas menarik nafas, “Trus kamu datang, seakan tahu apa yang sedang aku rasakan. Dengan mudahnya, aku cerita sama kamu, lalu kamu bilang, manusia itu makhluk sosial, saling bergantung adalah hal yang seharusnya, karna kita nggak bisa hidup sendiri, bahkan binatang purba aja saling membantu satu sama lain.”
Aku tersenyum, kagum, ternyata Dimas masih mengingat apa yang kukatakan padanya beberapa tahun lalu, perkataan remaja yang sedang mencoba menjadi dewasa, “Sejak itu aku merasa memang aku butuh orang lain untuk menjalani hidupku, menghadapi masalah ku, bebannya jadi hilang saat ada yang membantu. Itulah kenapa aku mau membantu Ibu mu.”
“Kamu cerewet yah sekarang,” Dimas tersenyum mendengar perkataanku,
“Kamu tahu kenapa aku mau jadi dokter?” aku menggeleng, “Karna perkataanmu padaku. Bahwa manusia itu harus saling bergantung.” Aku menatapnya penuh tanya, ingin jawaban yang lebih, “Orang sakit pasti bergantung pada dokter untuk menyebuhkan penyakitnya, bahkan keluarganya lebih bergantung pada kami untuk menyelamatkan keluarganya yang sakit. Aku ingin orang bergantung padaku, aku ingin menolong orang yang menaruh harapannya padaku.”
Aku mengangguk mengerti, tidak menyangka bahwa aku sudah berperan dalam hidupnya. Kami terdiam lagi, menatap lampu-lampu kota Jakarta,
“AAAKHHHH!!!” Aku berteriak pada hamparan luas kota Jakarta, sedari tadi memang aku ingin sekali teriak. Teriak karena aku masih sedikit kesal pada Rey yang pergi besok, Teriak karena ingin membagi bebanku pada kota yang sudah aku tinggali hampir 20 tahun ini.
“Aku akan berusaha menolong Ibu mu Ta.” Senyuman itu, senyuman yang pertama kali ia berikan padaku, senyuman yang membuatku jatuh cinta padanya.
***
Aku berdiri di depan meja kasir, bersiap untuk memesan, “Teh manis hangat sama roti panggang coklatnya yah.” suara itu mengagetkanku, aku menoleh, “masih suka kan?” tanya Dimas yang berdiri di belakangku, kami duduk bersama di pinggir jendela cafeteria sambil menikmati hujan yang turun di pagi hari.
“Belum tidur? Matamu sembab.” Kataku,
“Tidur, sejam aja cukup.”
Workaholic.” Aku meledeknya,
“Kamu sendiri nggak kerja?” tanyanya,
“Nanti siang. Ada anak SMP yang akan berkunjung.” Jawabku sambil melahap roti panggang isi selai coklat, “ini hari kedua Ibu dirawat.”
“Selain indra pendengarnya, semua alat vitalnya baik. Ibu mu orang yang kuat Ta.”
***

Aku berjalan menyusuri museum bersama anak-anak berseragam putih-biru, menjelaskan pada mereka satu per satu replika binatang yang hidup berjuta-juta tahun yang lalu, yang ada di hadapan mereka. Pak Gandi menghampiriku, mendekatkan bibirnya di telingaku, berbisik, “Tenangkan dirimu, cepat ke Rumah Sakit, jantung Ibu mu melemah.” Tanpa berpikir panjang, berlari meninggalkan rombongan.***

Selasa, 24 Februari 2015

Her Masks #1

2

Suara adzan berkumandang ditengah hari yang masih gelap, membangunkanku dengan terpaksa dan memaksaku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk menajalankan kewajibanku sebagai manusia, meski aku tak mengikuti segala perintahNya, yang satu ini tetap kupenuhi.
 Kini matahari menggelitik punggungku melalui cerah tirai yang tak pernah kusadari ternyata tak rapat. Bukan alat penunjuk waktu yang sengaja kubiarkan hidup disamping ranjangku. Aku tersenyum. Alat ajaib itu sudah bersarang dibawah mejaku. Sepertinya ia terjatuh lagi saat dengan terpaksa bernyanyi untuk telingaku, namun harus menghadapi sentuhan kecil tanganku yang belum benar-benar bernyawa.
“Lika… jam 7 nak! Mau kekampus jam berapa?” Pria yang menjadi perantara Tuhan dalam penghidupanku di dunia mengetuk pembatas kayu yang mereka sebut pintu. Aku mengerang. Tak ada sedikitpun dari bagian tubuhku yang siap menghadapi misteri hari baru. Akankah lebih baik dari kemarin? Atau justru memperburuk kekacauan otakku?
“Iya, Pa… ini bangun. Lika kuliah siang.” Jawabku asal. Kuliah, aku bangkit dari tidurku dan mengambil secarik kertas dari tas yang kemarin kupilih sebagai teman setiaku. Kutatap deretan nama mata kuliah yang telah selesai kutempuh beserta hasil penilaian yang diberikan oleh pembimbing mata kuliah tersebut. Entah dari mana dan atas dasar apa mereka berpikir. Not that I mind! Hasilku baik. Dengan IPK 3,62 rasanya aku bisa menjadi apa saja untuk menentukan angka penghasilanku. Kuberitahu kau rahasia terbaikku, aku tidak pintar. Aku hanya cerdik. Cerdik mengenai cara dan lokasi penyembunyian kunci jawaban yang kusiapkan malam sebelumnya. Yup! IPK 3,62 kuperoleh dari hasil kerjaku yang cerdik, dan aku bangga.
Tanpa melihat telepon genggam yang kini menggenggam hidupku, aku melangkah keluar dari gua pemulihanku dan bersiap menghadapi hari. Memakai segala jenis pakaian yang sedang trend diusiaku, tapi tetap membuatku nyaman. Hanya untuk hari ini. kupersiapkan segala jenis topeng mental yang akan membantuku hari ini. Aku siap menjadi si munafik lagi.
Kendaraan roda empat-ku membawaku kekampus biru. Salah satu gua pemulihanku yang bisa mengantarku kemanapun. Salah satu ‘hasil’ dari lelaki sebayaku yang orang sebut kekasih. Bibirku selalu tergerak membentuk senyum setiapku mengingatnya. Senyum yang mengandung terlalu banyak arti hingga akupun bingung. Bahagia, kecewa, bangga, rindu, membodohi dan dibodohi.
Ia tak disini. Tidak menghirup oksigen yang sama denganku, juga tak memandang langit yang serupa denganku. Keputusan orangtua kami lah yang membuat kami berdiri diujung bumi yang berbeda. Lelakiku terjebak di universitas yang ada di Seattle sana. Sedang aku terjembak di Universitas swasta Bandung. Mereka menyebutnya dengan Long Distance, entahlah. Saat ini, aku tak ingin mengikat diriku sekuat itu padanya. Meski kenyataannya dia memilikiku secara utuh. Baik raga maupun jiwa… meh! Otakku yang dulu begitu naïf atas seluruh kata cinta yang meluncur dengan lembut dari ujung lidahnya memberiku keyakinan semu atas indahnya cinta itu, dengan imbalan tahta kewanitaanku yang secara sadar kulepas padanya. Lihatlah kemana cinta itu membawaku. Ha! Seolah aku tahu cinta itu apa.
“Hey cantik.” Aku menoleh. “Kemana aja? Jarang liat ih!” Sesosok tubuh menghampiriku bersama dengan suaranya yang menggelegar. Seorang pria yang selalu muncul dihari-hariku kemarin. Raga pemuas nafsu saat lelakiku tak nampak. “Hahaha kan kemarin nggak ada kelas.” Sapaku ramah meski otak dan hati (jika aku memang punya) meneriakan nama seseorang yang entah sedang melakukan apa di ujung lain dunia ini.
“Loh kan kalau buat Reza, nggak liat kamu beberapa menit juga udah kangen.”  Tuhan… lenyapkan ia saat ini juga. Meski rasanya aku ingin memukul wajahnya, aku tetap memberikan senyum termanisku. “Saya duluan ya, Za. Sampai ketemu nanti.” Aku seolah mengambil langkah seribu agar Reza tak lagi menghantuiku. Beruntung kami tidak berbagi kelas hari ini.
Perjalananku dari lahan parkir menuju ruang kelas yang walau hanya berjarak 3 menit seolah mengambil 1/3 energiku. Banyak yang mengenalku, banyak yang menyapaku. Seolah sapaan mereka akan berikan bunga bagi hariku.
Mereka memanggilku cantik. Bagai aku tak tahu bagaimana rupaku. Salah satu alat yang kugunakan selain tubuh dan kebaikan serta keluguan palsuku. Tapi demi penokohan yang kini sedang kuperankan, aku kembali menyapa mereka yang menyapaku dengan topeng senyum mereka. Bangsaku. Ingin rasanya aku tertawa, aku tahu mereka yang bertopeng, karena topeng itu juga kukenakan. Lantas untuk apa mereka berusaha bergabung denganku? Oh! Benar… untuk membunuhku perlahan… sayang, aku tidak berniat mati secepat itu kawan.
“Hai, Lika…” lagi-lagi suara seorang pria, tapi kini, bibirku membentuk senyum tulus. Irvan. Lelaki pemuas ragaku yang lain. Aku tersenyum bukan karena kebaikannya yang diketahui banyak orang, melainkan atas kebodohannya yang keterlaluan. Bukan hanya raganya yang kumanfaatkan, tetapi juga kebaikan dan kepolosan hartanya. Ingin rasanya aku memberikan diriku seutuhnya pada pria ini. Tapi tidak, ragaku bahkan bukan lagi milikku seorang, dan sesungguhnya, hatiku pun sudah tak lagi milikku. Entahlah aku benar-benar memiliki hati atau tidak, mengingat hina apa yang kuperbuat dibalik topeng manis kesetiaanku yang sesungguhnya tak nyata. Tapi yang pasti, masa depanku sudah jelas tergambar, terlalu jelas.. dan aku tak mau ada kerusakan pada gambar itu.
“Hay, Van! Bapaknya udah ada?” dengan nada antusias yang terdengar sumbang ditelingaku, tapi tidak ditelinga manusia lain. Kali ini Irvan ada dikelasku. Entah karena dia memang mengambil kelas ini, atau hanya karena keinginannya bersamaku. Jika pilihan kedua adalah nyata, maka dia benar-benar bodoh.
“Bapaknya nggak masuk, Lik.” Aku mengangguk polos meski hatiku merutuk keras. Lantas untuk apa aku datang ketempat ini?! “Kamu udah makan?” Aku menggeleng polos dan menunjukan deretan gigi rapiku bersama dengan senyuman manis yang menurutku memualkan. Irvan tertawa dan mengelus kepalaku lembut. “Ya udah, kita makan aja yuk!” seperti yang kukatakan, kebaikan dan kepolosanya. Terima kasih Tuhan atas kebodohan salah satu adonismu ini.
Kami sampai disalah satu tempat makan disekitaran Riau. Hmmmph… makhluk berlimpah harta… selalu berusaha  membuatku terpana. Bukan makanan ditempat mewah dengan harga juice yang berlebihan yang kuinginkan. Makanan kantin kami pun tak jadi masalah bagiku. Tapi itulah Irvan, terlalu terbuai dalam harapannya agar aku melupakan pemilikku untuknya. Naif.
Telepon genggam yang tidak kutengok keberadaannya sejak tadi pagi berteriak kencang. Senyum tulusku kembali tercetak diwajah antagonisku. DIMAS. Nama itu tertera dilayar benda kecil ini bersamaan dengan datangnya makanan pesananku dan Irvan, tanpa peduli, segera kuangkat panggilan itu.
“Hallo…” kemana nafasku pergi? Suaraku tak lagi terdengar seperti Maharlika yang dikenal banyak orang. Suara ini adalah nada yang hanya kutunjukan pada satu jiwa. Pemilikku. Setidaknya, ini jawaban atas pertanyaanku mengenai hati. Aku memilikinya.
“Lika… apa kabar? Lagi dimana?” Tuhan… suara itu… suara yang sangat aku rindukan. Suara yang mengingatkanku atas luka ini. Luka yang menjadikanku begini.
“Baik kok… kamu gimana?” mataku melirik benda hitam penunjuk waktu ditangan kiriku. “Kok belum tidur? Disana udah jam 2 lewat kan?” pertanyaan bodoh. Tentu saja seorang Dimas belum memejamkan matanya. Runtukku dalam hati.
“Baru pulang, tadi ngobrol sama anak-anak dulu…” Yeah.. kurasa aku tahu perbedaan antara ‘ngobrol’ dan ‘bersenang-senang’.. “Kamu belum jawab, kamu ada dimana?” dan lalu dia kembali… aku merajuk dan hanya menghasilkan nadanya yang berubah mengeras. “Aku harus nanya kamu lagi dimana atau kamu lagi sama siapa?!” Ingin rasanya aku memutar bola mataku, namun aku hanya membeku. Seperti seekor kucing yang sedang disorot oleh lampu terang saat sedang mencuri ikan. Tapi bukan lampu yang menyorotku. Melainkan 2 pasang mata seorang pria yang duduk dihadapanku, dan suara sesosok manusia yang memiliku.
“Maksud kamu?” Nada dan nafas yang baru saja ku raih kembali menguap seketika. “Kamu lagi dimana? Sama siapa? Susah jawab gitu aja? Nggak ngerti?” Monster Dimas menyeruak.
Sorry… tadi nggak terlalu jelas. Aku lagi sama temen nih, sama Irvan… kamu inget kan yang waktu itu aku kenalin.” Mata Irvan berkeliling, mentatap segalanya kecuali aku. Tangannya tak lagi menggenggam alat makannya, melainkan bertaut bersama diujung meja.
“Yang dulu mau anterin kamu pulang? Yang dulu deketin kamu?” Sampai sekarang Dimas… sampai saat ini dia masih berusaha mendekatiku. Jawabku dalam hati. “Lika, kamu tahu saya nggak suka kamu gaul sama dia! Dia itu ngincer kamu! Atau kamunya juga ngasih harapan sama dia? Iya?!”
Aku menghela nafas “Nggak, Dim… Nggak kayak gitu kok. Kita lagi ngerjain tugas, dosennya ngacak gitu ngasih kelompoknya.” Alasan klasik yang selalu kugunakan untuk Irvan.
“Sering banget tuh dosen masangin kalian!” Sindirnya.
“Kan absennya berurutan, sayang…” kini tangan Irvan mencengkram tepi meja. Tangannya memutih menahan semua beban yang dipendamnya.
“Kamu dengar baik-baik ya, Lika…” nada Dimas sedikit menormal, mempercayai panggilanku padanya. “Kamu itu milik saya. Sampai kapanpun. Saya bebasin kamu main sama cowok-cowok bejat itu, karena mereka cuma pemuas nafsu kamu selama saya nggak ada disamping kamu. Kamu inget itu baik-baik!”
“Iya, sayang… inget kok. Ya udah, sekarang kamu tidur gih. Udah malam disana, nanti malah sakit, yaaa?” nadaku selembut sutra.
“Iya… jangan lama-lama sama dia! Langsung pulang!”
“Okay… night!”
“Hmmh… love you…” lalu sambungan terputus. Tak pernah memberiku kesempatan mengucapkan 3 kata sakral itu padanya dalam situasi seperti ini. Dimas hanya ingin aku tahu bahwa aku adalah miliknya. Sepenuhnya aku sadar atas itu.
“Tugas apa yang lagi kita kerjain sekarang?” Irvan menatapku tajam. Tuhan… berikan aku istirahat sebentar saja. “Dosen siapa yang kurang kerjaan masang-masangin kelompok tugas?!”
“Irvan… kamu kan tau Dimas, aku bisa dimarahin abis-abisan kalau ketauan makan berdua kamu.”
“Saya nggak takut, Lika! Saya bakal lawan pacar kamu itu!” Aku mengernyit mendengar kata ‘pacar’ terlontar dari mulut Irvan. Andai dia tahu kenyataannya.
“Tapi saya yang takut, Van!” nafas Irvan pendek-pendek dipenuhi rasa marah dan kecewa, yang aku yakin ditunjukan untukku. “Irvan, kamu tahu dari awal hubungan kita nggak bisa lebih dari ini—“
“Dari apa? Emang apa status hubungan kita? TTM? HTS? Sumpah Lika, kita bukan anak SMA lagi!”
“Apapun itu yang menurut kamu sesuai sama keadaan kita sekarang… apapun…”
“Apa saya se-nggak penting itu, Lika? Apa saya bener-bener nggak bagus buat kamu?” Tangan Irvan bergerak mencoba menyentuhku. Tapi aku menjauh.
Nggak penting lagi apa yang saya rasa dan pikir… ini bukan lagi tentang saya sama kamu, Van.” Tidak ada sungai air mata dipipiku. Ya Tuhan… sedingin itu kah aku?
“Jadi selama ini, semua yang saya lakuin—yang kita lakuin itu nggak penting? Bibir kamu, tubuh kamu yang udah saya rasakan nggak penting buat kamu?”
“Kamu tahu maksud saya, Van! Sangat tahu…” kuedarkan pandanganku kesekeliling resto ini. beberapa pasang mata bertumbuk dengan pandanganku. Mungkin diotak mereka, kami adalah sepasang kekasih yang sedang saling berargumen. Andai semudah itu…

Irvan menarik nafas panjang dan menghembuskannya kencang. “Sekarang kamu makan aja dulu pesanan kamu, udah itu saya anterin kamu ke kampus.” Kata maaf yang seharusnya mencuat, kutelan bulat-bulat. Kini aku merasa kata maafku saja takkan cukup memperbaiki apapun.***

Rabu, 18 Februari 2015

Reverse #1

0

Utami Matahari, nama panjangku diberikan karna aku lahir saat matahari terbit. Tapi anehnya, aku akan alergi kalau terkena sengatan matahari, apa Ayah salah memberikan aku nama, tapi kalau salah memberikan nama, pasti aku akan sakit-sakitan. Kenyataannya, aku adalah perempuan berumur 23 tahun yang hingga saat ini sakitnya kalau sedang stress saja.
Aku membawa satu cangkir teh hangat dan tiga potong roti tawar isi selai coklat kesukaanku ke teras depan, duduk disana, menikmati dinginnya udara saat hujan. Pagi ini hujan turun sejak pukul 7. Bagi aku yang tinggal di daerah tropis, udara dingin seperti sekarang sangatlah langka.
Sebuah motor berhenti tepat didepan rumahku, membuatku memperhatikannya, karna hujan cukup deras, aku harus meraba-raba apa yang orang itu sedang lakukan. Tiba-tiba saja orang itu terjatuh dengan mulusnya ke tanah dari motornya, yang awalnya sudah ia standarkan, “Ibu…!!” aku meneriaki Ibu ku yang sedang membuat beberapa adonan kue, “Ibu…!!” aku memanggilnya lagi,
“Ada apa Ta?” Ibu menatapku sedikit kesal,
“Ibu, itu liat ada orang pingsan, jatuh dari motornya.” Aku menunjuk ke arah yang dimaksud, Ibu berusaha memastikan apa yang kukatakan adalah benar, mata ibu yang sipit mencoba membulat karna ikut terkejut. Kemudian ibu masuk ke dalam rumah, tak lama keluar lagi membawa dua buah jas hujan plastik berwarna hijau dan putih. Kenapa Ibu malah membawa jas hujan bukan payung, dan terus menatap jas hujan yang ada di tanganku, “Kalau pake payung, akan susah membopong orang yang pingsan itu, cepat pakai.” Ibu berkata seolah tahu apa yang sedang ada di pikiranku. Lalu, aku menuruti apa kata Ibu, dan aku menyetujuinya.
Kami berdua berjalan menyusuri pekarangan bunga yang selalu dirawat oleh Ibu, orang yang pingsan itu sudah sangat basah kuyup walaupun ia memakai jaket yang cukup tebal. Belum sempat aku melihat wajahnya, Ibu langsung menyuruhku untuk membantunya menggotong lelaki tersebut, badannya yang tinggi namun kurus sedikit mudahnya kami bopong berdua untuk kami bawa masuk ke rumah.
Kami menidurkannya di kamar Bang Anda, kakak laki-laki ku yang sudah lama tidak tinggal di rumah karna sudah memiliki rumahnya sendiri, bersama keluarga kecilnya. Aku membulatkan mataku, saat melihat lelaki yang telah ditolong, “Dimas?” Suara Ibu terdengar lebih terkejut dibandingkan aku, “Ata cepat ambilkan handuk, dan beberapa bajunya Bang Anda dilemari, kasihan Dimas.” Aku menuruti perintah Ibu yang sedang melepaskan jaket dua lapis yang dipakai Dimas.
***
Aku melanjutkan kegiatan favoritku saat hujan karna tadi tersendat saat menolong Dimas yang pingsan. Aku memakan rotiku yang tinggal satu sambil membaca buku mengenai paleontologi untuk menambah pengetahuanku, karna sekarang aku bekerja di museum paleontologi di pinggiran Kota Jakarta.
Kesukaanku memang aneh, mempelajari tentang fosil-fosil binatang purba, mendengar kisah-kisahnya, dan bagaimana mereka hidup. Semua itu berawal dari almarhum Ayah yang seorang peneliti, dari kecil aku diceritakan mengenai binatang purba, sejak itu lah aku mengagumi binatang-binatang purba.
Aku sedikit mengintip kamar Bang Anda, lebih tepatnya ingin melihat keadaan Dimas, seusai aku membunuh waktu luangku tadi, Dimas sudah terbangun, ia menatapku, mau tidak mau aku harus menghampirinya.
“Kamu sudah enakan?” Tanyaku, Dimas hanya diam, menyapukan pandangannya ke seantero kamar Bang Anda, “Kamu ada dirumahku. Lupa?” ia menatapku, seakan-akan berharap aku ini hanya ilusinya, kemudian ia mendudukan tubuhnya.
“Bagaimana bisa?” akhirnya ia bertanya,
“Kamu pingsan di depan rumahku, lalu kamu jatuh dari motor.” Jawabku, “Aku panggil Ibu dulu.” Saat aku akan beranjak, Dimas menahanku, aku menatapnya, tepat kematanya yang sedikit sipit. Aku langsung menghindarinya, sadar bahwa aku seharusnya tidak lagi memandangnya seperti sekarang, pandangan penuh kekaguman.
“Tidak perlu. Aku akan pergi.” Ia mencoba beranjak, aku sedikit membantunya. Ia melihat pakaiannya berbeda, lalu menatapku,
“Baju Bang Anda.” Jawabku singkat,
Aku memapah Dimas keluar kamar Bang Anda, kududukan ia di kursi ruang tamu yang memang bersebalahan dengan kamar Bang Anda. Ibu menghampiri kami, menyuguhkan teh hangat untuknya, Dimas tersenyum tipis,
“Terimaksih tante.”
“Kamu mau kemana Mas?” tanya Ibu yang juga membuatku penasaran,
“Mau ke rumah nenek saya tante, ada di ujung jalan itu, saya lupa kalau dekat dengan rumah Ata.”
“Kamu lagi sakit?”
“Tidak tante, hanya belum tidur dua hari ini, karna harus jaga malam.”
“Yasudah.” Ibu menyudahi intograsinya, “Ata, berikan jaketnya Bang Anda dan juga celananya yah.”
“Tidak perlu tante, bajunya saja sudah cukup.”
“Jangan ditolak.” Ibu mewanti-wanti Dimas, ia tidak bisa lagi mengelak. Entah kekuatan apa yang Ibu miliki, setiap orang yang akan membantahnya, akan selalu menjadi kalah dan menuruti semua yang dikatakan Ibu.
Aku menghampiri Dimas sembari membawa satu potong jaket dan satu potong celana jeans panjang, kuberikan padanya. Keadaan ini terasa canggung,
“Apa kabar?” kami sama-sama mengeluarkan pertanyaan yang sama,
“Kamu dulu.” Dimas mengalah, selalu seperti itu. selalu mengalah untuk orang lain,
“Baik. Kamu sendiri?”
Not good” jawabnya sambil tersenyum, lesung pipinya terlihat. “Kamu kerja dimana?” tanyanya kemudian,
“Museum.” Ia mengangkat alisnya, aku mengangguk, “Jadi pemandu wisata disana,” kemudian ia tertawa,
“Masih suka mempelajari binatang purba?” aku mengangguk,
“Kamu sendiri kerja dimana?”
“Aku lagi magang, di rumah sakit dekat sini.” Dimas memang bercita-cita menjadi seorang dokter bedah sejak dulu, aku membentuk bibirku menjadi O tanda mengerti.
Kemudian Dimas meminta ijin untuk berganti celana di kamar Bang Anda. Selagi ia mengganti celananya, aku merekap ulang kejadian tujuh tahun yang lalu, saat aku berumur enam belas tahun begitu juga dengan Dimas. Dimas Tri Haryanto, walaupun aku sudah memiliki yang lain, nama itu selalu membuat jantungku tidak berhenti berdebar tiap mendengarnya.
Kami pernah memiliki hubungan yang spesial dulu, namun Dimas memutuskan hubungan kami karena dia bilang, dia ingin fokus pada sekolah kedokterannya. Alasan yang klasik memang, beberapa bulan kemudian, aku mendengar ia sudah punya pacar baru. Dia pacar pertama ku, dia orang yang sangat mengesankan, dengan semua perlakuannya yang sopan, dan menerima ku yang saat itu masih sangat egois.
***
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong museum, yang di kanan maupun kiri ku banyak replika binatang purba yang terbuat dari lilin, mulai dari Mammoth, T-Rex, sampai binatang-binatang laut. Lalu, aku masuk ke dalam kantor yang tepat berada di ujung lorong, seperti yang sudah kukatakan pada Dimas kemarin, bahwa aku menjadi pemandu wisata sekaligus PR Officer. Aku menyapa satu per satu rekan kerja ku yang sudah datang lebih awal.
“Ata, sudah tahu ya, kalau SD 301 hari ini akan datang berkunjung.” Aku mengangguk mantap, “Semangat yah, anak sekolah dasar terkadang lebih menyebalkan daripada pacarmu.” Ledek Pak Gandi, aku tertawa.
Aku menatap mereka yang menghampiriku, wajah mereka penuh kekaguman, mata mereka terlihat berbinar-binar begitu masuk ke area museum,
“Selamat pagi adik-adik. Siap menjelajah waktu?” aku berteriak, anak-anak itu bersorak sorai. Ia mengikutiku yang memandu mereka masuk ke area Dinosurus, mereka menatap setiap replika dinosaurus, aku berhenti didepan Dinosaurus yang berleher panjang, “Adik-adik tahu Dinosaurus ini kan?”
“Tahu!!” Teriak mereka bersamaan, aku tertawa,
“Dinosaurus ini namanya Futalognkosaurus Dukei. Dinosaurus ini hidup secara khusus di Patagonia. Dinosaurus ini termasuk binatang herbivora yang memiliki ukuran panjang sekitar 105-112 kaki. Ya.. sekitar 34 meter. Mulai dari kepala hingga ke ekornya, panjang lehernya 17 meter, sedangkan ekornya 15 meter dan beratnya 70 ton.”
“Wooow…” secara bersamaan lagi, mereka menunjukkan ketakjubannya, “Berarti lebih tinggi dari museum ini dong kak?” tanya salah satu anak berbadan gemuk yang berdiri dibarisan paling depan,
“Tentu saja.” Aku tersenyum, dan melanjutkan penjelasan ku, “Nama Futolognkosaurus Dukei ini berasal dari bahasa asli mapuche yang artinya kepala kadal raksasa dan nama perusahaan energi Amerika Duke Energy Corp, yang terlah berperan besar dalam pembiayaan penggaliannya di sekitar danau Barreales, 90 Km utara Neuquen, Argentina.” Aku menarik nafas, mengatur kembali cara bicaraku, “Kita pindah ke binatang yang lainnya…”
Hingga saat kami berhenti di depan replika T-Rex, seseorang yang ada di teras museum, melambaikan tangannya padaku, mencoba mengganggu pekerjaanku, aku sidik-sidik muka orang itu. Dia laki-laki, memakai Kaos bergambarkan personel Queen berwarna hitam, celana jeans bolong dan sneakers hitam yang melindungi kakinya, aakkh!! Aku tahu dia siapa!! Ingin rasanya aku berteriak dan segera memeluknya, karena rasa rindu pada orang asing itu sudah sangat menumpuk setinggi gunung Himalaya, tidak bahkan lebih tinggi dari itu.
Satu jam kemudian aku menyudahi tour dengan klien-klien kecilku. Menghampiri seorang laki-laki yang sedang asik bermain bersama gadgetnya di kantin museum. Aku berjalan mengendap-endap, tapi kalau dipikir-pikir untuk apa berjalan seperti itu, toh ia membelakangi ku. Aku menutup matanya, mencoba bermain tebak-tebakkan,
“Ata…” suaranya, aku rindu suara itu, harum tubuhnya juga, aku memeluknya dari belakang,
“Hai stranger.. Kapan mendarat di bumi?” tanya ku pada lelaki dihadapanku ini, lelaki yang sudah tiga tahun ini mengisi hariku
“Tadi malam. Saat kaki ku berpijak di bumi, aku langsung memutuskan untuk bertemu manusia purba, yang ternyata adalah kekasihku.”

Rey, dia kekasihku, namun kami harus menjalani hubungan jarak jauh karena dia kerja di Kalimantan. Kami berkenalan karena dijodohkan oleh Tuhan untuk berpatisipasi dalam acara kampus, dia perwakilan dari Fakultas pertambangan, sedangkan aku dari fakultas ilmu komunikasi. Hari ini dia sedang kembali ke kehidupan normal, aku beranggapan dia bekerja di planet lain, karna tempat kerjanya, seperti tempat pengasingan, jauh dari kota, masuk ke pelosok desa. Lelaki yang biasanya hanya aku bisa lihat melalui sebuah program komunikasi masa kini yang diberi nama skype, dengan gambar yang terkadang tidak jelas sehingga aku tidak yakin apa benar dia kekasihku, kini bisa aku sentuh pipinya, matanya, juga rambutnya yang mulai memanjang. Tapi satu hal yang penting, aku tidak ragu bahwa lelaki yang duduk didepanku saat ini adalah kekasihku.***

Selasa, 17 Februari 2015

20 Menit di 14 Februari

0

Aku memandangi dua buah coklat berbentuk lollipop di tanganku, sambil berulang kali menghela nafas dan menghembuskannya. Merutuk diriku sendiri atas kejadian yang telah terjadi, entah aku yang bodoh dan terlalu berharap dengan mudahnya berpikir lelaki itu suka padaku. Aku masuk lift di gedung bertingkat lebih dari sepuluh, dilantai sembilan aku tinggal bersama kakak perempuanku.
Lift ini berhenti tiba-tiba, aku panik. Apa yang terjadi padaku hari ini, sial sekali. Aku semakin benci tanggal 14 februari. Aku berjongkok, menutup mukaku dengan telapak tangan. Menangis. Aku benci hari ini. Benci menyetujui taruhan bodoh dengan kedua temanku. “AAAKKKH!!!” aku berteriak sekuat tenaga, melepaskan semuanya, berharap kekesalan itu berkurang sedikit.
“Mbak?” tiba-tiba sebuah suara menyadarkanku, ya aku sadar bahwa aku tidak sendirian di lift ini. aku menghapus sisa-sisa air mata, dan terkejut melihat siapa yang bersamaku sekarang.
“Kang Dirga?!” suara ku sedikit berteriak. Dirga, laki-laki yang sempat aku kagumi, dan menjadi bahan taruhan teman-temanku. Tapi hal yang paling memalukan adalah aku pernah memintanya untuk menjadi pacarku, padahal sebelumnya kami tidak saling kenal.
“Kamu Karisa kan?” Dia ternyata mengenaliku. Aku buru-buru memencet tanda bantuan, ingin segera pergi dari lift ini. Jujur, sejak kejadian itu, aku selalu menghindarinya. Menghindarinya karna malu. “Siapapun… toloong!!” aku berteriak, menggedor-gedor pintu lift, walaupun aku yakin tidak akan ada yang mendengar suaraku. Sebuah tangan menggenggam bahuku yang lebar, tubuh ini terlalu kaku untuk digerakkan.
“Saya udah minta tolong kok. Mereka bilang tunggu dua puluh menit aja.” Suara itu, jantungku tidak berhenti berdebar. Dua puluh menit itu terlalu lama untukku. Tuhan, ada apa sih sama hari ini. “Kamu yang waktu itu bilang suka sama saya kan?” to the point banget sih, dia nggak bisa basa basi sedikit dulu apa gitu. Aku memberanikan diri untuk membalikkan badanku, dan mencoba tersenyum,
“Mungkin ada sedikit kesalahpahaman” jawabku,
“Kesalahpahaman?” ia malah berbalik bertanya padaku,
“Iya. Waktu itu, ada sedikit permainan didalamnya.” ia membulatkan bibirnya,
“Jadi saya dipermainkan?” aku tidak berani menatap wajahnya,
“Bukan gitu, saya emang ngeceng akang, trus teman-teman menantang saya, kalau saya nembak akang, ya saya yang menang.” Entah kenapa aku malah bilang yang sejujurnya sama dia. Aku memukul kepalaku sendiri. Karisa bodoh.
“Jadi saya bahan taruhan?” kenapa setiap kalimat yang ia keluarkan membuat aku merasa bersalah padanya, walaupun memang sebenarnya semua ini salah.
“Ya salah memang. Maaf yaa Kang.” Aku masih menundukkan kepalaku, tidak berani menatapnya,
“Santai. Tapi sejak itu, saya jadi merhatiin kamu terus.” Ya ampun, beneran nih. Aku jadi senyum-senyum sendiri. “Ada perasaan nggak enak juga sih, nolak kamu pake cara gitu. Mempermalukan kamu didepan teman-teman saya. Saya juga mau minta maaf. Sekarang kita impas ya?” kami berdua sama-sama tertawa,
“Impas.” Menyodorkan telapak tanganku yang lumayan lebar, “Mari kita berkenalan dari awal. Nama saya Karisa.” Ia menyunggingkan senyuman dari bibirnya yang tipis untuk ukuran seorang lelaki,
“Saya Dirga.” Menggenggam telapak tanganku,
Dua puluh menit yang awalnya kukira akan terasa bagikan di sebuah pengadilan, kebalikannya, terasa sangat menyenangkan. Lift yang kami tumpangi akhirnya dapat beroperasi lagi ada sedikit rasa sedih karna waktu cepat sekali berlalu. Kami sama-sama keluar dari lift di lantai Sembilan,
“Saya ke arah sana Kang.” Kataku, menunjuk ke arah kiri,
“Saya ke sana” dia menunjuk ke arah yang berlawanan,
“Oya, tunggu sebentar.” Aku merogoh tasku, mengambil coklat yang tadi sempat aku masukkan, dan memberikan padanya. Ia menatapku, “Buat akang aja. Sebenarnya itu untuk orang lain. Daripada saya kesel ngeliat itu, saya kasih akang aja. Nggak apa-apa kan? Mau kan?” kukira ia tidak akan mengambilnya, tapi malah sebaliknya,

“Terimkasih. Pasti saya makan.” Jawabnya, “See you.” Kami sama-sama berjalan ke arah yang berbeda. Semoga ini awal yang baik buat aku untuk tidak lagi membenci tanggal 14 februari, karna di tanggal ini, jadi tanggal yang istimewa untukku, dan semoga istimewa juga untuk Dirga.***
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com