Selasa, 30 Desember 2014

Reuni #2

0

By: SHanifa_

Aku masih memperhatikan tangannya, hingga seseorang meneriaki namanya dan membuatku kembali berpaling pada bukuku, “DINAR..! NGAPAIN LO DI SITU? AYO KITA BALIK KE KELAS!” Teriak salah satu temannya. Dinar pergi tanpa mendengar jawaban dari mulutku. Tidak lama aku mengikutinya dari belakang. Tanpa sadar aku terus menatapnya tanpa berkedip dari belakang, saat kami lewat depan lapangan basket menuju kelas terdengar suara dari sebrang menggunakan pengeras suara, “Dinar, Ari, dan Sandy... Rapikan baju kalian ditengah lapangan.” suara seperti ini sudah biasa di dengar di sekolah tiap jam istirahat atau pagi hari sebelum bel sekolah berbunyi. Kepala Sekolah akan inspeksi didepan ruangannya dan memanggil murid-murid yang bajunya tidak rapih. Mereka bertiga terlihat seperti sedang saling menyalahkan tapi masih ada sela tawa. Aku tersenyum melihat tingkah mereka bertiga.
Pelajaran pertama Akuntansi. Aku adalah murid IPS. Aku tidak suka dengan fisika, biologi apalagi kimia. Aku lebih suka mempelajari ilmu sosial. Saat bu Yanti sedang menjelaskan, aku sedikit mencuri pandanganku ke arah Dinar, ternyata kami memang sekelas. Bagaimana bisa aku tidak mengenalnya, padahal sudah dua minggu aku sekelas dengannya. aku terus menatapnya, melihat setiap detail yang ia lakukan, lalu ia membalas menatapku, aku langsung buang muka dan menoyor sendiri jidatku karna sudah bertindak bodoh.
“Sehat Ya?” bisik Saka. Teman sebangku sekaligus sahabatku sejak SMP
“Emang gue kenapa Ka?” aku malah balik bertanya padanya. Saka hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan memperhatikan pelajaran yang sedang di terangkan.
***
Aku membaringkan kepalaku sebentar di meja saat pelajaran Akutansi selesai. Tiba-tiba sebuah wajah mengagetkanku saat aku membuka mata. Aku langsung memasang muka bingung, dia tersenyum, “Ada yang mau lo omongin sama gue?” wajahku masih bingung dengan pertanyaan yang ia berikan.
“Emang apa?” tanya ku balik
“Tadi lo ngeliatin gue. Ada yang mau lo sampein?”
“Oh itu..” aku tidak bisa berkata-kata karna aku ketahuan sedang memperhatikannya, “Cuma mastiin aja kalo emang lo temen kelas gue.” Lanjut ku sambil merapihkan poniku yang tidak berantakan. Kalau aku grogi hal ini lah yang akan aku lakukan. Dia tertawa, lucu, ucapku dalam hati.
“Okey. Gue kira kenapa.” Ia tersenyum dan beranjak dari tempat duduk Saka. Aku adalah orang yang canggung dan susah untuk berkenalan duluan, maka dari itu, temanku di sekolah tidak banyak.
***
“Maaf yaah Ya gue nggak bisa pulang bareng lo.” Kata Saka dengan muka memelasnya. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “Abisnya Sakti tiba-tiba minta anter nyari sepatu bola.” Aku pun mengangguk, dan beranjak dari tempat duduk sambil menggendong tas Jansport biru ku. “Hati-hati yaa sayangku Aya. Kabarin kalo udah sampe rumah yaa.” Teriak Saka, aku berbalik, “Berisik..” dan kembali berjalan.
Berjalan perlahan sambil sesekali beberapa teman menyapaku, sudah biasa pulang sendiri seperti ini sejak Saka pacaran sama Sakti. Aku menarik nafas lalu menghembuskannya. “Sendirian aja?” suara yang kukenal sedikit mengagetkanku. Kulihat Dinar ada disebelah sambil menaiki sepeda lipatnya. Aku tidak menjawab dan kembali menundukkan kepalaku. “kok pertanyaan gue nggak dijawab?”
“Keliatannya?” aku tidak bermaksud menjawab seperti itu, aku sedang grogi. Maafkan aku Dinar. Tapi Ia malah tersenyum.
“Mau gue temenin sampe ke gerbang depan?” Tanyanya lagi. Sekolah kami memiliki dua gerbang, gerbang utama yang menjadi jalan masuk dari jalan raya dan gerbang kedua yang menjadi pintu masuk ke sekolah. Aku terdiam lagi, tidak tahu harus menjawab apa. “Yaudah gue nggak maksa. Duluan yaa Ayasha.” Pipiku memerah. Baru kali ini ada teman laki-laki memanggil nama depanku. Aku selalu suka orang yang memanggil nama depanku dengan lengkap.
***
Hari ini aku datang seperti biasa dan aku duduk di tempat favoritku. Namun ada yang tidak biasa, Dinar ada disana dan dia sudah melihatku jadi tidak mungkin aku berbalik arah bisa-bisa ia mengira aku menghindarinya, walaupun kenyataannya memang seperti itu. aku tetap berjalan ke arah ayunan dengan menundukkan kepalaku, “Gue boleh duduk disini?” tanyaku secepat mungkin. Ia selalu tersenyum setiap mendengar kalimat yang keluar dari bibirku.
“Duduk aja. ini kan punya sekolah.” aku pun duduk dan membuka buku novel yang aku beli seminggu lalu dan baru ada mood untuk membacanya.
“Suka banget baca ya?” Ia mencoba memulai pembicaraan, “Kalo gue sih sukanya baca komik.” aku masih mencoba untuk fokus pada novel yang sedang aku baca, ia mengambil bukuku secara tiba-tiba, aku terkejut dan mencoba untuk mengambil kembali, “Novel romansa? Memangnya didunia  nyata ada cerita romantis seperti dibuku?” tanyanya. Kuambil kembali bukuku
“Lalu memang ada cerita seperti naruto atau sailormoon di dunia nyata?” Aku berbalik bertanya, aku masih saja gugup berbicara dengannya. Ya Tuhan, jantungku tidak bisa berhenti berdetak, bahkan detakannya lebih cepat dari biasanya.
“Kalau Naruto kan cerita fiksi, fantasi.” Jawab Dinar,
“Apa bedanya dengan novel yang lagi gue baca? Sama aja kan?” aku tidak mau kalah. Aku tidak pernah mau kalah kalau sedang berdebat mengenai hal apapun,
“Lo ternyata cerewet yah?” Ia menatap mataku dengan kedua matanya, aku salah tingkah, tidak biasa dilihat begitu hangat oleh seorang lelaki,
“Kalo lo ngajak ngobrol kapan gue bacanya?” mengalihkan suasana,
“Ayasha, lo cerewet.” Dinar mengulang pernyataannya, kemudian ia pergi sambil tertawa nakal. Ia terlihat senang karna sudah menggodaku dengan kalimat itu, ia seperti tahu bahwa aku sedang salah tingkah.
***
Okay class.. enough for today.. assalammualaikum..” Miss Riana mengakhiri kelasnya. Ketua kelas kami, Agung, maju ke depan kelas, ia mengetuk-ketuk papan tulis untuk mendapat perhatian karna suasana kelas selalu ramai jika tidak ada guru,
“Temen-temen.. gue kemarin dikasih tau sama ketua osis kita kalo sebentar lagi bakalan ada acara lomba-lomba kaya tahun-tahun sebelumnya, nah mereka butuh partisipan dari tiap kelas dua orang.. siapa yang mau?” Tanya Agung. Anak-anak yang lain sibuk berbicara. Saka mengangkat tanganku, aku terkejut,
“Aya mau katanya Gung..” kata Saka cepat,
“Apaan sih Ka?” Protesku
“Ini permulaan buat lo nyari temen yang banyak..” jawab Saka
“Oke Aya.. udah gue tulis yah.. yang lain?” Agung menyapukan pandangannya ke seantero kelas. Seseorang mengangkat tangannya, “Gue mau Gung..” suara itu. aku reflex menatapnya kaget, dan dia tersenyum sedikit nakal. Aku mulai gelisah.
“Udah kepilih yah Dinar sama Aya. Nanti sepulang sekolah lo berdua dateng aja ke ruang osis ya.” Agung mengakhiri pengumumannya. Aku semakin gelisah. Aku terlalu gengsi untuk berdua dengannya sehabis kejadian tadi pagi.
***
Bel sekolah berbunyi, pertanda sekolah berakhir. Keadaan selalu ricuh kalau jam sekolah sudah berakhir seperti sekarang. Aku membereskan semua buku yang ada di atas meja. Dinar berdiri di samping mejaku, menungguku selesai membereskan apa yang harus aku bereskan. Aku berjalan duluan, Dinar mengejar dan menghadangku, “Barengan aja sih, kan kita sama-sama panitia,” ia mengikutiku berjalan, seperti anak kucing yang mengikuti majikannya, “Punya ikat rambut?” tanyanya. Aku menatapnya bingung tapi tetap aku berikan padanya. Ia mengikat rambut lurusku yang menutupi wajah dengan ikat satu. “Kalo gini kan enak diliatnya, jadi lo nggak keliatan kaya sadako”
“Suka gue iket kok” bantahku dan aku kembali jalan.
“Iya. Gue suka kalo rambut lo diiket kaya gini.” Ia tersenyum dan kami berjalan beriringan, namun masih ada beberapa jarak.

---Ruang Osis..
Sudah lumayan banyak murid yang datang. Seseorang memanggil Dinar dan ia menghampirinya. Aku mulai bingung untuk duduk dimana, aku melihat bangku paling depan kosong, dan duduk disebelah seorang gadis berkerudung dan memakai behel, ia tersenyum padaku, “Dari kelas berapa?” aku hanya tersenyum. Aku bingung. Aku masih terlalu canggung.
Ketua osis membuka rapat, dan menjelaskan ada divisi apa saja yang diperlukan untuk acara lomba nanti. Ia juga meminta ide dari yang lain lomba apa saja yang akan dilaksanakan nanti. Aku malah sibuk menggambar karakter dalam novel yang sedang aku baca dan sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Saat selesai rapat tiba-tiba sudah ada namaku dipapan tulis, mataku yang belo semakin membulat, bagaimana bisa aku satu divisi lagi sama Dinar? Aku masih kaku didepan papan tulis.
Dinar menepuk pundakku, “nggak apa kan kita satu divisi?” aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “lo suka banget sih narik nafas.” Ledeknya dan ia meninggalkan aku yang masih terpaku dengan kenyataan bahwa aku masih harus terus bersamanya hingga acara ini selesai. Bukan, mungkin hingga tahun depan, saat tahun ajaran berakhir.
***
 “Jadi si Dinar naro lo di divisi lomba? Hahaha” kata Saka yang terlihat senang apa yang terjadi padaku. Aku adalah orang yang sangat canggung, aku orang yang takut untuk memulai segalanya duluan, aku tidak suka dijadikan pusat perhatian, aku juga tidak mau orang-orang beranggapan aneh terhadapku, sebenarnya aku bukan orang anti sosial, aku juga tidak ingin seperti ini.
“Iya. Entah dia dendam sama gue atau apa.” Jawabku sambil menggambar karakter lain yang ada di novel. Dinar tiba-tiba saja duduk di depanku, aku tidak sadar akan kehadirannya sampai aku merasa wajahnya terlalu dekat dengan wajahku karna ia sedang melihat apa sedang aku gambar. Aku langsung menjauhkan wajahku dari wajahnya.
“Wah.. lo pinter gambar juga yah ternyata.” Katanya yang kagum melihat gambarku. Saka hanya bisa tertawa melihat apa yang diutarakan Dinar padaku. “Ayasha.. nanti ke ruang rapatnya bareng yah.” ia tersenyum dan pergi dari hadapan aku dan Saka.
“Tuh liat Ka, aneh kan orangnya.” Kataku sambil melihatnya yang pergi bersama Sandy keluar kelas.
“Dia emang orangnya gitu kali. Pecicilan. Nggak mau diem.” Aku menghela nafas dan melanjutkan gambar.

---Ruang Osis..
“Ada yang bisa ngasih ide nggak buat gambar icon acara kita dan ada yang bisa gambar? Karna tiap tahun, pasti ada icon.” Aku hanya diam. Menganggap diriku tidak bisa membuat atau menggambar karakter, agar aku tidak masuk ke hal yang memiliki tanggung jawab penuh seperti itu.
“Ayasha.” Seseorang menyebut namaku, aku melihatnya dengan muka yang sedikit kesal, ia malah tersenyum padaku, dengan senyuman nakalnya yang menyebalkan.
“Aya? Kamu bisa?” aku grogi hampir semua panitia menatapku dan menunggu jawaban dariku. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
“Bisa kak.” jawabku singkat.
“Oke divisi publikasi joinan yah sama Aya.” aku mengangkat tanganku, dan mencoba untuk membela diri dan menghindari hal seperti ini,
“Tapi kak, saya kan divisi lomba. apa bisa?”

“Kalo untuk ide icon gue berharap semua panitia bisa mengeluarkan ide nya, kebetulan Krisna bilang staff nya nggak ada yang bisa gambar, makanya gue berharap banget ada panitia lain yang bisa ngebantu divisi publikasi” jawab kak Naya dengan kewibawaannya, “jadi Aya, gue harap lo nggak keberatan yaah ngebantu divisi publikasi.” Stuck. Aku nggak tahu harus menjawab apa. Aku tidak bisa lagi menghindar dan mundur. Aku menatap Dinar dengan tatapan sedikit kesal.***

Senin, 29 Desember 2014

Oblivious #3

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

“Kia nggak bisa ikut.”
“Kenapa? Kamu nggak dapet izin cuti?”
“Bukan gitu, Bang…”
“Terus kenapa?” Kia lagi-lagi diam. Keenan mulai kesulitan mengontrol emosinya. “Jawab Abang, Kia! Kenapa kamu nggak bisa ikut?” nadanya kini dingin.
“Ya Kia nggak bisa aja, Bang.” Kia menatap Keenan dengan air mata yang sudah mulai jatuh. Tapi emosi Keenan sudah tak terbendung lagi. Air mata Kia tak membantu meredakan emosi itu.
“Kamu keterlaluan ya, Kia.” Dingin. Tanpa emosi, Keenan berdiri dan dengan perlahan menjauh dari Kia yang tetap duduk di tepi ranjangnya. “Kamu tau segimana Mama sama Papa kangen sama kamu?! Kamu tahu segimana besarnya pengorbanan mereka buat ngasih 3 hari ini buat kita?! Mereka orang penting Kia! Dan saya! Saya udah rencanain liburan ini dari lama! Kamu masih bisa bilang kalau kamu nggak bisa?!” Keenan meledak. Suaranya menggema dalam apartemennya.
“Kita semua, itu kangen banget sama kamu, Ki! Selama ini, saya udah biarin kamu hidup tanpa aturan! 2 tahun, Kia! 2 tahun saya biarin kamu kerja serabutan nggak jelas, keteteran kuliah, pulang malam, apa saya terlalu manjain kamu?!” tangis Kia mengeras. Mata Keenan pun mulai panas. “Apa kami salah ingin merayakan ulang tahun kamu bareng sama kamunya?! Apa Mama sama Papa seburuk itu sampai kamu nggak mau liburan bareng sama kami?! Apa saya salah ingin liburan bareng sama adik saya yang sebetulnya tinggal serumah sama saya tapi sangat sebentar sekali ngabisin waktunya yang sangat berharga itu bareng saya?!” Keenan menarik rambutnya dengan kasar. Kia dengan pelan mulai bergumam ‘bukan gitu’ berulang kali. Tapi Keenan tidak memperhatikannya. Rasa kecewanya terlalu besar tehadap adik kesayangannya itu. “Abang nggak mau tau, Ki! Masukin baju-baju kamu ke dalam tas sekarang! Kamu tetap ikut sama kita semua!” Keenan mulai beranjak pergi dari kamar Kia.
“Bang! Kia mohon, Bang. Ngertiin Kia, Bang. Kia nggak bisa ikut.” Kia merajuk, menarik tangan abangnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Matanya masih membentuk aliran sungai deras. Sangat deras.
“Ngertiin kamu?! ‘Ngertiin kamu’ kamu bilang?! Kurang ngerti apa saya selama ini sama kamu?! Saya yang seharusnya minta kamu ngertiin saya sekarang ini!” Keenan meraih kedua bahu Kia dan mulai mengguncang tubuh gadis itu. Mata Keenan fokus tertuju pada sepasang mata adiknya. “Kia, apa saya salah ngedidik kamu selama ini? Apa saya terlalu ngebebasin kamu sampai kamu bingung mana yang harus jadi prioritas utama kamu?” Kia tidak membalas tatapan mata abangnya juga suaranya yang berubah menjadi lembut. Namun Kia tetap menggumamkan kalimat ‘bukan gitu’ dan kini, gumaman itu kembali menyulut amarah Keenan. “Kalau bukan gitu terus gimana?!” Keenan melepaskan genggamannya dari bahu Kia, membuat Kia sedikit limbung. Keenan mendengar sedikit keributan diluar kamar Kia. Keluarganya telah datang. Kia menatap ke arah pintu kamarnya dan abangnya dengan tatapan kaget yang teramat sangat. Keenan tersenyum dingin ke arah Kia, “Kamu nggak bisa ikut kan? Bilang sendiri sana sama mereka!”
“Mereka nggak akan dengerin, Kia!” Kia berteriak sekeras mungkin, membuat Keenan memandangnya dengan tatapan penuh kecewa dan marah.
“Kamu. Bilang. Sendiri. Sama. Mereka!”
***
Yara datang disaat yang bersamaan dengan orangtua Keenan. Orangtua Yara sendiri berencana langsung menyusul mereka ke Anyer dari Medan. Mereka bersama menuju pintu apartemen Keenan sembari berbincang mengenai hubungan yang terjalin diantara keduanya,  sampai saat melangkah keluar dari lift mereka mendengar suara teriakan Keenan.
“Yara, Keenan kenapa? Kok teriak-teriak begitu?” dr. Kinanti bertanya pada Yara yang sedang setengah berlari bersamanya.
“Yara nggak tau, Ma.” Yara memandang wajah calon ibu mertuanya dengan pandangan yang sama. Khawatir. Mereka mengetuk beberapa saat namun tak ada jawaban. Yara memenggerakan daun pintu apartemen Keenan dan beruntung, apartemen itu tidak dikunci. Mereka semua berteriak memanggil Keenan. Khawatir mengenai keadaan anak lelaki itu. “Keenan nggak dikamarnya, Ma.”
Dr. Awang sudah lebih dahulu berlari menuju lantai 2 apartemen itu diekori oleh istri dan calon menantunya. “Keenan!” dr. Awang melihat Keenan, seketika khawatirnya hilang. Lain ceritanya dengan ibunya, dr. Kinanti berlari ke arah Keenan dan menyentuh wajah Keenan dengan kedua tangannya. “Kamu kenapa teriak-teriak, nak?” ucapnya lembut.
“Kamu bilang sendiri sama mereka. Bilang sama mereka kamu nggak bisa ikut.” Keenan memandang adiknya yang kini duduk di kursi meja belajarnya. Duduk menangis. Terdiam.
“Kamu ngomong apa, Keenan?” Yara mendekati Keenan. Meraih tangan kanannya.
“Kia, kamu kasih tau mereka kamu nggak bisa ikut!” Keenan tiba-tiba berteriak. Dr. Kinanti tersentak. Ia melangkah mundur bersandar pada suaminya, tangannya yang tadi menyentuh wajah Keenan kini memeluk tubuhnya sendiri. “Kamu bilang sama mereka sekarang juga atau kamu masukin baju kamu dan ikut sama kita!” Keenan kembali berteriak. Panggilan Yara seolah tak didengar olehnya. Yara kini menggenggam kedua tangan Keenan.
“Keenan!” Yara berteriak. Keenan akhirnya memandang wajah cantik Yara yang kini sudah dibanjiri air mata. “Kamu kenapa Keenan?” Keenan mulai memalingkan wajahnya lagi kearah Kia dan mulai berbicara namun Yara memaksanya diam. “Keenan! Kia udah nggak ada.” Tapi Keenan masih tak mendengarkannya. “Kia udah nggak ada dari 2 tahun lalu, Keenan.” Mata Keenan menerawang kearah Yara. Memandangnya seolah Yara memiliki dua kepala.
“Kamu gila, Ra?! Kia ada disana!” Keenan menunjuk kearah Kia duduk. “Kamu ngomong sekarang, Kia! Ngomong!” Kia hanya menggeleng dengan airmata yang terus jatuh dari matanya. dr. Kinanti kini tersedu kencang dipelukan suaminya.
“Keenan, Kia udah nggak ada, nak. 2 tahun lalu Kia meninggal di-“
Nggak! Kia nggak meninggal! Kia ada disini sama saya! Kia tinggal disini sama saya!” Keenan memotong ucapan dr. Awang. Dirinya menatap lagi sosok Kia yang hanya menangis dan menunduk.
“Keenan, sayang… Kia udah nggak ada… terimain yaa…” Yara kini mengelus rambut Keenan dengan lembut. Tubuh Keenan berguncang hebat. Nafasnya tak lagi beraturan. Badannya ia sandarkan dipintu dan kakinya tak lagi kuat menopang raganya. Keenan jatuh bersama dengan ibunya yang terus memanggil namanya. Tapi Keenan tak peduli. Matanya mengikuti setiap alur air yang dijatuhkan oleh mata sendu Kia.  Otaknya dipenuhi memori kebersamaannya dengan adiknya selama 2 tahun terakhir didalam apartemen ini.
***
“Bang, Kia kangen banget sama abang. Kia tidur disini ya.”
“Nggak bisa, Bang. Kalau bisa pasti udah dari dulu Kia lakuin.”
“Abang percaya ya sama Kia. Kia kangen banget sama Abang, Mama, Papa juga. Kia sayang banget sama kalian.”
“Nahloh! Sekarang Abang yang pulangnya telat! Padahal tadi Kia udah berusaha pulang cepet loh, Bang!”
“Abang jangan terlalu nuntut dan berharap yah.”
“Abang bawa makanan nggak? Kia laper dari tadi nggak makan.”
“Kia nggak bisa ikut.”
“Mereka nggak akan dengerin, Kia!”
Ucapan Kia selama ini jadi berbeda artinya di otak Keenan. Dirinya tak lagi percaya mana yang nyata. Dilihat lagi Kia yang masih menangis dikursinya, lalu dunianya hitam.
***
“Selamat pagi, Keenan. Apa kabarnya hari ini?” Seorang wanita paruh baya menghampiri Keenan yang sedang duduk menatap taman dari balik jendela besar kamarnya. Keenan kembali menempati rumah orangtuanya. Percaya bahwa kenangan yang ada disana bersama Kia adalah nyata. “Ada yang mau diceritakan nggak? Kemarin gimana? Kia masih nemenin kamu?” tanyanya lembut. Keenan akhirnya menatap wanita itu.
“Saya nggak mungkin ketemu Kia kalau saya terus-terusan minum pil yang anda kasih.” Jawabnya dingin.
“Kamu masih merindukan adik kamu? Masih belum bisa menerima kepergiannya?”
“Gimana saya bisa terima?! Saya nggak bisa ingat kenapa dia meninggal! Mereka bilang saya ada disamping dia! Tapi saya nggak bisa ingat! Nggak ada sama sekali memori tentang itu!” Keenan menarik rambutnya lagi. Wanita itu menyentuh Keenan dan menarik tangannya.
“Keenan, saya disini, untuk membantu kamu. Kita mulai seperti biasa ya. Kamu ceritakan memori terakhir kamu bersama Kia.”
“Yang saya ingat, Kia lari dari rumah ini, saya sama Papa berusaha nyari, akhirnya saya yang nemuin dia lagi makan jagung bakar di  daerah Dago. Tapi Kia nggak mau pulang kesini. Dia ingin tinggal di apartemen saya… dan seperti itulah terus. Kia akan terus pulang ke apartemen saya.” Keenan terdiam. Lalu memandang wanita paruh baya itu. “Kia bukan hantu atau apapun itu! Saya bisa pegang dia, saya bisa peluk dia, kadang kita ngabisin weekend bareng! Tapi Kia memang nggak pernah mau pergi keluar apartemen sama saya lagi.” Air mata kembali menggenangi wajah tampan Keenan.
“Saya tau Kia bukan hantu. Jadi memori kamu belum bertambah?” Keenan menggelengkan kepalanya.
“Setiap saya tidur, saya akan mimpi. Tentang memori itu. Tapi saya akan selalu terbangun setiap kali saya menemukan Kia. Kenapa ngga ada yang ngasih tau aja sih? Itu akan jauh lebih gampang buat saya!” melihat Keenan yang terus berteriak, wanita paruh baya itu menyentuh bahu Keenan.

“Saya bisa menceritakan semuanya setelah pertemuan kalian itu. Tapi alam sadar kamu akan menolaknya. Kamu perlu mengingatnya sendiri… atau minta bantuan Kia.” Wanita paruh baya itu tersenyum meninggalkan Keenan dengan tatapan bingung. Meminta bantuan Kia?***

Selasa, 23 Desember 2014

Reuni #1

0

By: SHanifa_

WAKE UP!! WAKE UP!! WAKE UP!! Alarm hand phone ku berbunyi sangat nyaring. Ku intip sedikit jam digital yang tertera di layar hand phone, masih jam lima, mungkin lima menit lagi tidak apa-apa, pikirku. Lalu aku tekan snooze pada layar hp dan kembali tertidur untuk beberapa menit yang berharga. Aku sangat lelah, baru sampai rumah pukul sebelas malam, kampusku di daerah Jakarta Barat sedangkan rumahku dipinggiran kota Jakarta. Setiap hari harus bersahabat dengan macetnya Jakarta.
Seseorang membuka pintu kamarku, dan naik keatas tempat tidur dan mencium pipiku, “tante.. bangun..” suara anak kecil membuatku tersadar dan menyunggingkan senyum. Hagumi menarik tanganku agar aku bangun, “disuruh bangun sama Oma… tante bangun…” aku mengalah dan memutuskan untuk bangun dari tempat tidur. Hagumi masih memegang tanganku dan menyeretku ke kamar mandi.
Hagumi adalah keponakan perempuan dari kakak laki-lakiku. Ibunya meninggal saat ia berumur satu tahun, sekarang umurnya sudah lima tahun. Aku sangat sayang padanya dan sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. saat aku lelah, dia adalah obatku.
“Ayasha…” teriak bunda dari ruang makan. untungnya aku sudah selesai mandi. Aku keluar kamar sambil membawa hairdryer. “Kamu ngapain bawa-bawa hairdryer?”
“Saklar di kamar aku rusak bun..” aku colokkan pada saklar yang terletak di dekat tv, Hagumi memperhatikan aku yang sedang mengeringkan rambut yang basah.
“Tante.. itu apa?” tanyanya lugu,
“Ini namanya hairdryer, buat ngeringin rambut yang basah.” aku arahkan hairdryer yang menyala ke wajah Hagumi dan ia memejamkan matanya karna panasnya udara yang dikeluarkan dari hairdryer,
“Enakan pake kipas angin.. adem…” kemudian ia pun pergi ke meja makan. aku hanya tertawa.
***
Aku menyalakan motor matic ku, bersiap-siap pergi. Sebelumnya aku harus mengantar Hagumi kesekolahnya. Dia sudah masuk Taman Kanak-kanak sekarang, padahal baru kemarin aku suka mengurusnya dari mulai menyuapinya makan, memandikannya, dan sekedar mengajaknya bermain hingga teman-temanku mengira Hagumi benar-benar anakku.
“Kami berangkat yaa oma.. Assalamualaikum…” aku pamitan pada bunda.
Kulajukan motor ku ke arah sekolah Hagumi yang tidak jauh dari rumah. Hagumi memelukku dari belakang, “Tante… kenapa otou-san (Ayah dalam bahasa Jepang .red) nggak pulang yaa semalam?”
Otou-san lagi banyak pasien mungkin, nanti Otou-san pasti pulang.”
“Gumi kangen Otou-san…” aku sedih mendengarnya. Kak Aryo seorang dokter, sejak istrinya meninggal ia lebih memilih menyibukkan dirinya di rumah sakit. Itulah mengapa Hagumi lebih dekat denganku dan bunda. Kadang aku mengerti keadaan Kak Aryo yang ditinggal pergi istrinya, tapi Hagumi juga butuh ayahnya.
Kami sampai disekolah Hagumi. Ia mencium pipi dan tanganku. Wajahnya yang mirip dengan ibu nya itu mengulas sebuah senyuman seorang malaikat kecil, “Tante jangan pulang malam-malam yaa.” pintanya lalu berjalan masuk ke dalam sekolah. Aku memperhatikannya hingga ia masuk ke dalam kelas. Dan aku kembali melaju ke pangkalan bus.
***
“Neng Aya.. tumben pagi-pagi?” tanya Pak Eko penjaga tempat penyimpanan motor di dekat terminal bus. Tempat ini memang khusus untuk menyimpan motor bagi orang-orang yang akan berangkat kerja, kuliah atau sekolah menggunakan bus menuju daerah Jakarta. “iya pak, lagi ada kerjaan di kampus. Titip yaa pa. Terimakasih..” aku pun mencari bus yang biasa aku naiki menuju kampus.
Bus berwarna hijau yang dipadukan dengan putih ini berhenti didepanku. “kesiangan.. nggak dapet tempat duduk.. terpaksa berdiri..” kataku dalam hati. Ku pasang headset dikupingku. Lagu-lagu tahun 90an mengalun indah. Tiba-tiba seseorang mengganggu kesenangan pribadiku, dia mencolek tanganku berkali-kali, aku menoleh kearahnya, wajahnya familiar.
“Aya yaa?” tanya gadis berkerudung dan memakai behel disebelahku,
“Iza?” aku balik bertanya padanya
“Apa kabar?” tanya nya lagi,
“Baik. Kamu gimana?”
“Masih kurus. hahaha” kami tertawa. Iza adalah teman SMA ku, kami sekelas saat kelas 3. “Oya kamu udah denger belum kita mau ngadain reuni gede-gedean?” aku mengerutkan alis. Iza mengerti respon nonverbal ku padanya, “kamu nggak masuk dalam grup yaa? Aku invite ya? Apa nama Line mu?”
“Ayasha Dirga.” jawabku singkat.
“Sudah aku invite… aku masukkan dalam grup alumni yaa Ya..”
“Jadi reuninya gimana?” tanyaku penasaran.
“Kita mau ngadain reuni seangkatan Ya, tapi ngadainnya disekolah.. ada acara hiburan, dari mulai nayangin video waktu kita mau lulus-lulusan, band abal-abal anak-anak lagi jaman SMA yang mungkin sekarang udah bubar hahaha.. banyak deh pokoknya bakalan seru. Nah kebetulan nih, kita lagi kekurangan panitia. Mau bantu nggak?” aku terdiam. Sedikit berpikir. Reuni SMA? Apa kabarnya lelaki yang sampai sekarang masih membayangiku itu ya?, Tanyaku dalam hati.
“Hem.. boleh deh Za..” kataku sambil mengulas senyum lewat bibir tipisku yang berwarna merah karna diberi lip tint. Kami mengakhiri pembicaraan saat Iza harus turun di daerah Kebon Jeruk. Setelah Una turun, aku merekam ulang apa yang sudah terjadi tiga tahun yang lalu antara aku dan lelaki yang tanpa sadar selalu membuatku tersenyum.
***
Kuteguk air mineral dalam botol hingga tersisa setengahnya. Aku duduk di atas tembok yang hanya setinggi dagu ku dan terbuat dari batu sambil memperhatikan satu per satu mahasiswa baru yang memakai putih hitam, dan topi kerucut berwarna biru tua, masuk ke aula kampus untuk acara selanjutnya usai istirahat. Rengga menyapa dan ikut duduk disebelah ku. Meminum air mineralku yang tersisa setengahnya tadi, “cape yah marah-marah…” ia memulai pembicaraan.
“Lagian kurang kerjaan banget sih marahin anak orang..” jawabku santai,
“Lo juga kurang kerjaan banget ngurusin anak orang..” balas Rengga. Kami terdiam lagi. “Gumi apa kabar?” hampir semua teman-temanku mengenal Hagumi, karna aku pernah membawa untuk ikut kuliah di kampus karna saat itu tidak ada yang bisa menjaganya.
“Baik.. makin cerewet.. makin banyak nanya.. main-main lah kerumah..” jawabku excited kalo sudah membicarakan mengenai keponakanku yang memiliki wajah bulat, kulit putih dan mata sipit itu, perisis seperti orang Jepang.
“Nanti deh kalo udah resmi…” aku reflex melihat ke arahnya, dan menunjukkan mimik muka bertanya, maksudnya? Rengga tertawa melihat reaksiku, “bercanda.. nggak akan gue coba lagi.. cukup jadi temen lo aja gue udah seneng..” jawabnya sambil menatap ke segala arah. Aku menunduk, merasa bersalah, maaf yaa Ga, gue masih nyimpen rasa buat Dia, kataku dalam hati.
***
Ahmad Dinar Maliki, nama itu kulihat dalam daftar member di grup alumni. Entah mengapa hanya melihat namanya saja membuat jantungku tidak berhenti berdebar. Sudah hampir empat hari aku bergabung dengan grup alumni, tapi tidak sedikitpun dia muncul di chat grup. Aku penasaran seperti apa rupanya sekarang, apa dia berhasil mewujudkan cita-citanya membuat gudang album-album lagu jaman 80-an, dari mulai The Cranberries, Metallica, Guns n Roses dan yang lainnya. Aku juga ingin berterimkasih padanya karna telah membuatku menjadi orang yang berbeda dengan aku yang dulu.
***
Aku berjalan santai di lorong sekolah. Pukul 06.46 pagi, di hari senin. Tentu saja masih sepi, jadwal masuk sekolah adalah 07.30. Aku memang perempuan yang terlalu rajin untuk datang pagi atau lebih tepatnya kerajinan. Aku sudah seperti ini sejak dua minggu yang lalu, tepatnya hari pertama masuk sekolah di kelas dua. Letak sekolahku tidak jauh dari rumah, karna aku malas naik angkutan umum aku memutuskan untuk berangkat bersama Kak Aryo yang pergi ke rumah sakit jam setengah tujuh pagi.
Aku selalu suka suasana pagi disekolah. Tempat favoritku adalah taman belakang sekolah yang ditumbuhi pohon dan bunga yang berwarna-warni. Ada dua buah pohon besar yang tumbuh bersebelahan dan ditengahnya dibuat sebuah dua buah ayunan dari kayu yang akan kuat walaupun di duduki oleh orang yang memiliki berat badan 70 kilogram sekaligus. Aku duduk di atas ayunan, lalu membuka novel fiksi yang sudah aku baca hingga dua kali karna ceritanya yang membuatku sangat kagum.
Kubuka bab terakhir dari novel itu, karna terlalu serius membaca hingga tidak sadar kehadiran orang yang sedang duduk di ayunan yang satu lagi, laki-laki bertubuh jangkung itu menyapaku.
“Lo Ayasha kan?” tanyanya. Disekolah, aku adalah anak yang jarang bermain dengan teman laki-laki jadi sebenarnya aku tidak tahu siapa laki-laki yang ada disebelahku ini, “gue Dinar. Temen sekelas lo. Lo gak kenal gue?” Pandangan dari matanya yang besar membuatku sedikit kikuk. Aku menggeleng dengan mimik muka yang kebingungan. Dia menyodorkan tangannya yang panjang dan kurus, “Gue duduk kedua dari belakang di barisan paling kiri deket jendela..” aku masih saja menatapnya. Memperhatikan giap garis wajahnya. Hidung dan matanya sedikit kebesaran jika dibandingkan dengan wajahnya. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi tetap untuk ukuran laki-laki kulitnya sangat putih. Lalu kenapa jantungku tidak bisa berhenti berdebar mendengar suara beratnya menyapaku?***

Senin, 22 Desember 2014

Oblivious #2

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

Yara membantu dr. Kinanti di dapur bersama dengan assisten rumah tangga yang keluarga ini miliki selagi Keenan berjalan mengelilingi rumah masa kecilnya itu. Ia memandangi semua foto-foto keluarga mereka. Foto yang menggambarkan kebahagian mereka. Keenan tersenyum. Bahagia dan pedih. Seluruh foto itu melukiskan kebahagian mereka yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang telah membatu. Kebahagiaan yang tak dapat ia rasakan kembali. Observasinya terhadap wajah 4 manusia yang mengatas namakan keluarga diganggu oleh tepukan tangan dibahunya.
“Papa rindu sama kamu, Keenan.” Bahu Keenan menegang. Namun ayahnya meremas bahu itu. Memberikan Keenan terpaan kenyamanan lain. Kenyamanan yang tanpa sadar sangat ia rindukan. “Kalau saja Papa diberi pilihan. Papa akan memilih untuk tidak bertambah umur. Kalian akan masih tetap menjadi pangeran dan putri kecil Papa. Masih akan tetap tinggal ditempat yang tidak bisa Papa sebut lagi rumah. Papa rindu kalian, Keen. Terutama Kia.”
“Pa…” Keenan kehabisan kata-kata. Ini adalah kali pertama dalam 2 tahun terakhir Papanya menyampaikan kalimat lebih dari 8 kata. “Keenan juga rindu sama Papa. Tapi ini tetap rumah Papa. Rumah saya, rumah Kia. Ini masih rumah yang sama, Pa.”
“Beda, Keenan. Beda. Rumah ini hanya menjadi tempat singgah. Karena kekuatan Papa sudah tidak disini lagi. Kamu dan Kia.” Dr. Awang, papa Keenan, meremas bahu Keenan. “Sudahlah. Tidak perlu lagi dibahas. Yang Papa ingin sekarang, kita jaga hubungan baik terus ya.” Lalu dr. Awang pergi meninggalkan Keenan yang masih terpaku.
***
Dimeja makan, dr. Awang, dr. Kinanti dan Yara sudah menunggu Keenan sambil bercanda gurau. Meja makan itu penuh kehangatan meski 1 kursi tetap kosong. Kursi Kia. Keenan duduk di samping kirinya Yara, berhadapan dengan Mamanya dan di dampingi oleh Papanya yang duduk di ujung meja makan. Tak ada pembahasan yang dapat membunuh kehangatan mereka di meja itu. Hanya tawa dan riang yang tercipta. Meski tetap, kesempurnaan tak lagi membingkai pancaran yang mereka sebut bahagia. Ruang kosong itu tetap tercipta. Setidaknya bagi Keenan.
Yara sedang sibuk membantu dr. Awang membersihkan meja makan saat Keenan memutuskan untuk mengunjungi kamar lama Kia. Ia berencana untuk membawa beberapa barang yang dulu pernah disayangi Kia. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar isak tangis seseorang dari balik pintu.
Seorang wanita yang pernah ia tinggali rahimnya terduduk di sebuah ranjang yang dihiasi sprai biru langit. Senada dengan suasana kamarnya, terduduk dan membungkuk. Wajah cantiknya dialiri sungai air mata. Dan itu membuat tali-tali yang ada di hati Keenan mengencang. Ia tak nyaman jika melihat sala satu wanita penting dalam hidupnya menangis.
“Ma..” Keenan duduk disamping dr. Kinanti. “Mama kenapa, Ma?” Keenan tahu pertanyaan itu bodoh. Tapi kebodohan juga yang tak dapat membendung kalimat bodoh yang terlanjur keluar itu.
“Mama kangen sekali sama Kia, Keen.” Isak tangisnya membuat dr. Kinanti tak dapat berbicara dengan jelas. “Mama ingin sekali sisiri rambutnya lagi, mencium dahinya saat ia mau tidur, membuatkan roti selai kacang kesukaannya. Mama kangen Kia.” Dr. Kinanti yang selalu dihormati oleh seluruh staff dan pasiennya kini meruntuhkan segala topeng yang ia gunakan dihadapan anak sulungnya.
Fisiknya tak lagi dapat menahan beban rindu yang ia tanggung untuk anak gadisnya yang sudah lama tak ia lihat wajahnya. Keenan memeluk Mamanya dengan mata yang juga berkaca. Matanya liar melihat sekeliling ruangan, upayanya dalam menahan kaca yang ia tahu akan pecah seketika Keenan menutup matanya.
“Kia bahagia, Ma. Mama nggak usah khawatir ya. Percaya sama Keenan.”
“Mama pengin minta maaf sama Kia, dan bilang bahwa Mama sayang sekali sama dia. Kamu ngerti itu kan, Keen?” Keenan mengangguk. Tak lagi ia percaya akan suaranya. “Satu bulan lagi, Kia ulang tahun. Seandainya Mama bisa mengucapkan selamat ulang tahun langsung dihadapannya Keen sambil memeluknya erat biar Kia nggak bisa jauh lagi dari Mama..”
Tanpa mereka sadari, dibalik pintu yang tidak dibuka sepenuhnya itu, dr. Awang dan Yara juga mendengarkan curahan hati seorang ibu kepada anaknya. Mata mereka tak dapat menahan lelehan air yang terasa panas jika tak dijatuhkan.
Keenan sedang dalam perjalan mengantarkan Yara ke klinik setelah dr. Kinanti sudah lebih tenang. Mereka merencanakan untuk merutinkan acara makan siang bersama itu guna mendekatkan kembali tali silahturahmi yang sudah merenggang. Yara yakin, kebersamaan mereka ini sulit bagi Keenan karena tragedi 2 tahun lalu. Tapi Yara berusaha untuk tidak mengamatinya karena ia tahu itu akan membuat Keenan kesal.
“Keen, jangan diem terus dong. Kamu senang kan dengan rencana ini? Jadi kalian bisa dekat lagi, Keen.” Yara memulai pembicaraan di dalam mobil yang hening sejak menjauh dari rumah Keenan.
“Saya senang kok, Ra. Saya hanya bingung apa yang saya harus lakukandi ulang tahun Kia bulan depan ya?”
“Biasanya kita liburan bareng kan ya? Aku inget loh waktu kita liburan ke Anyer, waktu itu Kia bahagia banget keliatannya. Keluarga kalian juga lagi deket-deketnya kan. Aku seneng banget loh bisa ada diantara keluarga kalian.”
Keenan termenung. Otaknya memutar lagi memori indah bersama keluarganya di Anyer pada setiap ulang tahun Kia. Tawa renyah Kia, senyuman dr. Kinanti, canda dr. Awang, senyum Yara, dan kepuasan hatinya. Otaknya merekam memori itu dengan sangat sempurna. Kebersamaan. Ya! Itu yang dibutuhkan keluarganya. Maka itu yang akan Keenan ciptakan untuk keluarganya.
“Yara! You’re my best! Makasih banyak, sayang.” Keenan mengecup bibir Yara dengan cepat namun tetap memberikan Yara sengatan hangat yang sudah lama tak ia rasakan dari Keenan. Mata Keenan kembali bercahaya begitu juga dengan hati Yara yang melihatnya.
***
Malam itu Keenan pulang terlambat demi menyempurnakan rencananya untuk membawa keluarganya pergi berlibur ke Anyer. Seluruh keperluan sudah dengan sangat matang ia siapkan agar keluarganya mendapatkan kenyamanan sempurna saat berlibur nanti. Tak ingin menciptakan jurang jarang antara mereka.
 “Nahloh! Sekarang Abang yang pulangnya telat! Padahal tadi Kia udah berusaha pulang cepet loh, Bang!” Hati Keenan terasa hangat mendengar sapaan adiknya begitu ia membuka pintu apartemennya.
“Tumben kamu pulang cepet Dik. Gitu dong. Bilang sama boss kamu kalau kamu nggak bisa terus-terusan diforsir kerjanya.”
“Iya Bang, iya. Kia lagi usahain kok. Tapi Abang jangan terlalu nuntut dan berharap yah.” Diam. Keenan kembali terdiam. Mengapa Kia begitu mengagungkan pekerjaannya itu?! “Abang bawa makanan nggak? Kia laper dari tadi nggak makan.” Keenan membongkar kantong kresek yang dibawanya sengaja untuk makan malamnya. Kecewanya pun sedikit hilang saat itu.
“Abang bawa martabak, Dik. Ada yang manis sama asin. Kamu mau yang mana?”
“Semuanya!!” mereka tertawa bersama. Bahagia itu tidak mahal. Batin Keenan.
“Dik, tadi waktu makan siang bareng, Mama nangis kenceng banget loh. Papa juga. Mereka kangen banget sama kamu katanya..” Seketika wajah Kia jatuh. Termenung. Matanya mulai digenangi lelehan air yang tak ingin ia jatuhkan. Keenan mengabaikan genangan itu. Ia tak akan mundur dari keputusan yang sudah ia buat hanya karena demi menjaga perasaan adiknya yang sudah mulai terlalu terbuai. “Kamu kapan mau ketemu mereka, Ki?” Keenan menggigit martabak asin yang baru ia beli. “Mulai sekarang, Abang sama Mba Yara mau merutinkan acara lunch bareng sama Mama Papa, setiap minggunya. Abang harap kamu ikut.”
“Baaang…” Kia mulai merengek meminta pengertian abangnya.
“Abang nggak akan maksa. Abang bakal tetap kasih kamu waktu sampe kamu bener-bener bisa ketemu Mama sama Papa lagi.” Kia tersenyum kecil. Akhirnya ia bisa sedikit menikmati kudapan makan malamnya. “Satu bulan, Ki. Itu waktu kamu. Kalau dalam waktu itu kamu masih mau menghindar. Terpaksa Abang bakal maksa kamu.”
“Satu bulan, Bang?!” Kia kembali terlonjak kaget. Keenan Mengangguk.
“Sebetulnya kurang dari satu bulan sih. Abang mau, kamu ajukan izin untuk cuti dari tanggal 17 Maret sampai 19 Maret ke kampus sama boss kamu. Kamu punya waktu 25 hari. Dan selama itu Abang nggak akan maksa-maksa kamu ikut lunch bareng sama kita. Kamu ngerti itu?”
“Kita mau kemana 3 hari, Bang?”
“Sama seperti setiap tahun kamu ulang tahun. Kita ke Anyer. Dengan itu Abang harap keluarga kita bisa pulih lagi.”
“Memang Papa sama Mama bisa? Nggak harus ikut konverensi dimana gitu?”
“Itu urusan Abang. Kamu ngga perlu mikirin. Mulai besok kamu ajuin perizinannya ya.”
“Iya, Bang. Kia usahain.” Mereka kembali melanjutkan kegiatan makan malam bersama yang sedikit berubah muram.
***
10 hari sebelum rencana yang diciptakan Keenan terealisasikan, Keenan menyampaikan rencananya tersebut saat sedang makan siang bersama orang tua nya dan juga Yara, seperti janji mereka untuk selalu menyempatkan waktu makan siang bersama di setiap minggunya.
“Ma, Pa, Keenan minta kalian kosongin jadwal yah dari tanggal 17-19 Maret besok. Kita ke Anyer. Please… Keenan mohon banget.” Keenan menatapa kedua orangtuanya dengan penuh harap. Sedangkan dr. Kinanti dan dr. Awang saling tatap keheranan mendengar permintaan anak sulung mereka.
“Iya Ma, Pa. Sudah lama kita nggak bareng. Sekalian merayakan ulang tahun Kia kan.” Yara mencoba bergabung dalam pembicaraan penting itu.
“Kamu yakin, Keenan?” dr. Awang memandang putranya dengan tatapan yang sulit dijelaskan oleh Keenan.
“Yakin sekali, Pa. Bisa ya? Kita kumpul keluarga lagi.” Keenan mengalihkan pandangannya ke arah Yara. “Orangtua kamu juga ikut ya sayang.”
“Aku kabarin dulu mereka. Mudah-mudahan mereka bisa.” Yara tersenyum pada calon suaminya itu.
“Mama sama Papa akan kosongkan jadwal untuk tiga hari itu, Keenan.” dr.Kinanti tersenyum lembut pada Keenan. “Nanti Mama booking-in hotel yang biasa-“
“Saya udah booking-in, Ma.” Potong Keenan, “Nanti kita tinggal berangkat. Semuanya kumpul di apartemen saya aja ya. Saya udah booking-in mini bus juga buat kesananya.”
“Makasih ya sayang.” dr. Kinanti meraih tangan Keenan dan meremasnya dengan lembut. Tatapan keibuan yang Keenan rindukan terpancar dari matanya.
“Keenan yang makasih, Ma.”
***
Tepat 5 hari sebelum keberangkatan, Keenan mendapat promosi dari perusahaannya karena ide-idenya yang brilliant dan selalu memuaskan client-nya, Keenan memutuskan untuk membelikan sebuah kado yang ia tahu sudah sangat lama diinginkan oleh Kia. Sebagai pengucapan rasa syukurnya. Sebuah kalung manis dengan bandul kotak kecil yang didalamnya mengurung seekor burung kecil hitam. Entah mengapa Kia sangat menginkan kalung itu. Dan bagi Keenan, itu adalah hadiah yang sangat tepat untuk ia berikan kepada adiknya.
Hari yang Keenan tunggu telah tiba. Keenan menyimpan kado spesialnya untuk Kia di dalam tasnya dengan hati-hati. Kia sedang mengemas barang-barangnya sedangkan Keenan sedang sibuk menyiapkan sarapan bagi mereka berdua. Orangtuanya dan orangtua Yara akan tiba beberapa menit lagi dan mereka harus berangkat. Sedangkan Kia masih belum selesai mengemas barangnya. Membuat Keenan kecewa.
“Dik! Lama banget sih? Abang kan udah bilang dari kemarin supaya kamu packing. Nggak nurut sih! Mama sama yang lain bentar lagi sampai loh!” Hening. Tak ada sautan dari Kia. “Dik!” Lagi-lagi sautan Keenan tak berbalas. Keenan berlari menuju kamar Kia yang berada di lantai dua apartmentnya.
Keenang melihat Kia yang sedang terduduk lemas diantara tumpukan baju yang belum juga dimasukannya kedalam tas, membuat Keenan khawatir. Kepala Kia tergantung memandang ubin putih.
Dik, kamu kenapa?” Keenan mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang.
“Kia nggak bisa, Bang.” Mata Kia masih menatap lantai.
“Nggak bisa apa?” perlahan Kia menatap abangnya yang kini berlutut di hadapannya.***

Selasa, 16 Desember 2014

Penggemar No.1 Andra

0

By: SHanifa_


Hai perkenalkan, nama aku Isyana. Aku mahasiswa tingkat tiga yang masih saja sendiri. Orang bilang aku adalah gadis pemimpi dan selalu hidup di dunia khayalan. Mau tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang? Aku sedang duduk di atas motor matic yang berjalan menuju kampus yang letaknya di pinggiran kota Bandung. Aku merentangkan kedua tanganku, menengadahkan kepalaku ke atas sambil kupejamkan mata bulatku, merasakan sejuknya udara Bandung di pagi hari, kebetulan juga jalanan dekat kampus ku masih lumayan regang itulah mengapa aku berani melakukan hal yang dapat membahayakan jiwaku sendiri.
Hari ini adalah hari pertama aku kuliah di semester genap, dan kuliah paling pagi di kampus adalah pukul tujuh pagi. Tiba-tiba Andra membuyarkan lamunanku, “hai gadis pemimpi, kita sudah sampai. Hentikan dulu khayalan mu tentang pangeran berkuda yang nanti akan membuatmu jatuh cinta di pandangan pertama…” aku turun dari motor sambil memonyongkan bibir ku, “sudahlah tidak usah cemberut dulu… seperti biasa ayo temani aku makan bubur Kang Ndien…” senyumku langsung lebar selebar-lebarnya.
Andra adalah teman pertamaku di kampus biru ini. kami berkenalan saat masa orientasi mahasiswa baru universitas dan kami ternyata masuk di fakultas yang sama. Yakin tidak bahwa seorang perempuan dan laki-laki bisa bersahabat tanpa salah satu di antara mereka ada yang tidak menyukai? Aku tidak yakin, karna aku seseorang yang menyukai sahabat ku yang sedikit dingin ini, entah sejak kapan. Mungkin sejak tingkat dua, di tahun yang lalu. Aku saja bingung kenapa aku bisa merasakan hal seperti ini.
***
 “ISYANAAA…!!!” tiba-tiba seseorang meneriaki namaku di lorong kampus yang cukup ramai karna pergantian kelas. Kulihat seorang perempuan memakai kerudung model masa kini dan berkacamata dengan frame bulat datang menghampiriku dengan tergesa-gesa. Rianti, teman satu jurusan ku yang cukup cerewet ini berdiri dihadapanku dengan nafas yang terengah-engah, “kamu memanggilku Ri?” Rianti menaruh tangannya di bahuku sambil mengatur nafasnya,
“Iyalah Is… siapa lagi… kalau aku tidak memanggilmu untuk apa aku berdiri dihadapanmu sekarang…”
“Lalu… ada apa?” tanyaku
“Mau bantu aku? Kamu mau tidak jadi partisipan di acara bedah buku yang akan diselenggarakan anak BEM, kebetulan kami sedang kekurangan orang…” aku terdiam, sedikit berpikir, karna aku adalah tipikal orang tidak senang berorganisasi dengan organisasi yang terikat seperti hal nya mengikuti Badan Eksekutif Mahasiswa atau Himpunan Mahasiswa, aku lebih suka mengikuti kepanitiaan di event independent, seperti halnya ospek penerimaan mahasiswa baru ataupun diminta sebagai partisipan seperti ini,
“Aku mau Ri… acaranya kapan?” tanyaku lagi,
“Nanti sehabis zuhur ada rapat di ruang Bem, kamu datang saja ya… karena sepertinya kamu akan di taruh didivisi acara, menjadi staff ku… sebelumnya makasih yaa Is…” Rianti kemudian pamit undur diri dari hadapanku.
***
Aku menuju parkiran motor, tempat biasa Andra memarkirkan motornya. Aku mengeluarkan sekotak bekal berwarna biru yang kali ini berisikan chicken orange sauce dan nasi putih buatanku sendiri, ku taruh di tempat biasa ia menggantungkan tas nya, kusisipkan juga kertas berwarna biru muda yang kutuliskan pesan di atasnya,
Semoga harimu selalu menyenangkan…
Salam
Penggemar no.1 Andra
Aku sudah melakukan hal seperti ini sejak setahun yang lalu. Menaruh bekal di motornya dan menuliskan tulisan penyemangat yang ditulis di kertas kecil. Seperti yang sudah kubilang sejak awal, aku jatuh cinta pada sahabatku ini, tapi aku tidak pernah berani mengungkapkannya. Akhirnya yang aku bisa lakukan hanyalah ini.
***
“Andra kamu dimana?” aku mendengar suaranya dari speaker handphone.
“Aku dihadapanmu…” aku terkejut, nyengir kuda dan menutup telfonnya.
“Ndra… sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu hari ini…” ucapku. Kami tidak sengaja bertemu di depan aula kampus, lalu aku sedikit mengintip Andra sedang memegang kotak makanan yang aku berikan padanya, “kamu dari parkiran motor? Itu dari si penggemar nomor satu lagi?” tanyaku padanya,
“Iyaaa… tumben sekali kamu tidak pulang denganku?”
“Aku diminta menjadi partisipan di sebuah acara bedah bukunya anak Bem, Rianti yang memintaku, jadi aku harus datang rapat siang ini…”
“Baiklah… berikan salamku untuk Rianti yaaa Is…” katanya sambil memakai helm hitamnya.
“Hati-hati dijalan yaa Ndra…” kataku. Andra memberikan senyum termanisnya.
***
Aku mulai sibuk sebagai partisipan panitia bedah buku. Tapi aku tidak pernah lupa menaruh bekal makanan untuk Andra, dan Andra selalu memakannya di hadapanku di siang hari saat ia makan siang bersamaku. Kali ini di kertas biru aku menuliskan sedikit kata-kata yang panjang,
Bertemu denganmu adalah sebuah pengalaman terindah dihidupku… mengenalmu adalah anugerah…
Salam
Penggemar no.1 Andra
Lalu aku memberanikan diri menanyakan perihal kotak makanan ini saat kami menyempatkan waktu untuk sekedar makan siang bersama. Andra jarang sekali membicarakan perilah penggemar no.1 nya itu jika aku tidak bertanya padanya,
“Kamu nggak penasaran Ndra siapa penggemar nomor satumu itu?” tanyaku ragu. Wajah Andra datar,
“Penasaran. Tapi biarkan…. Nanti juga aku akan tahu siapa dia…”
“Apa kamu mulai menyukainya?” tanyaku semakin penasaran.
“Sedikit… karna dia adalah orang pintar menenun kata yang ia berikan padaku… aku selalu simpan setiap kartu yang ia berikan untukku…”  tanpa sadar aku tersenyum
“Tapi kamu rajin ya Ndra, tiap pukul setengah dua belas kamu pasti ke parkiran motor untuk sekedar mengambil kotak makan dari si penggemar nomor satu itu…”
“Aku menghargai niatnya Is.. karna dia lebih punya niat baik untukku…” jawab Andra masih asik dengan bekal yang aku berikan untuknya.
Aku tersenyum lagi. Aku cukup senang mendengar Andra menyimpan dan menyukai setiap kata-kata yang aku berikan untuknya dan juga menghargai niat baikku padanya walaupun yang Andra tahu itu bukan dariku.
“Oia Ndra… kamu mau bernyanyi di acara bedah buku nanti? Karna aku sudah merekomendasikanmu, dan Rianti sangat setuju…” kataku sedikit mengalihkan pembicaraan, aku takut aku tidak bisa menahan diriku untuk mengungkapkan bahwa selama ini aku yang menaruh kotak makanan itu dan menuliskan kata-kata untuknya.
“Boleh…” jawabnya singkat. Lalu aku tersenyum dan melanjutkan melahap soto sulungku.
***
Ini harinya. Dimana acara bedah buku akhirnya dilaksanakan, sebelum semua panitia berkumpul aku menyempatkan diri menaruh kotak makanan untuk Andra yang biasanya akan Andra ambil karena ia sudah terbiasa, dan pada kertas biru kutuliskan,
Bagiku kau seperti angin… Aku merasakan kehadiranmu disekitarku… Tapi sedikitpun aku tidak bisa menggenggammu…
Salam
Penggemar no.1 Andra
***
Aku menatap Andra yang sedang berjalan ke panggung kecil yang memang sengaja panitia sediakan untuk penampilannya. Siap menyanyikan sebuah lagu yang akan ia nyanyikan untuk mengisi acara bedah buku ini,
“Lagu ini saya persembahkan untuk penggemar nomor satu saya, Isyana…” aku menutup mulutku dengan kedua tangan, hampir seluruh panitia menatapku dan tersenyum. Aku sungguh terkejut Andra tahu bahwa aku yang penggemar nomor satunya. Bagaimana bisa? Pikirku.
Andra mengalunkan lagu cinta yang mendayu-dayu dengan suaranya yang berat. Aku masih diam terpaku sambil bertanya-tanya, Rianti menghampiriku dan tersenyum, “Ciee Isyana… selamat yaa…” katanya. Aku masih terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.
Andra menyelesaikan lagu kedua yang menjadi penutup penampilannya, dari arah panggung kecil ia berjalan ke arahku, menarik tanganku dan membawaku ke belakang aula. Menggenggam erat tanganku, menatapku dengan matanya yang hangat. Aku hanya menundukkan kepala karna malu,
“Aku tahu itu kamu Is..” katanya lembut
“Bagaimana bisa? Sejak kapan?” aku hanya bisa menundukkan kepalaku karena malu dan tidak berani melihat wajahnya apalagi menatap matanya.
“Dari beberapa bulan yang lalu. Aku tidak sengaja melihat kertas biru yang biasa diberikan oleh penggemar nomor satuku ada di tas mu, saat kamu menyuruhku untuk mengambilkanmu buku saat kita mengerjakan tugas di Perpustakaan…” aku masih menundukkan kepalaku karna malu, lalu Andra melanjutkan penjelasannya, “awalnya aku mau langsung menanyakannya padamu, tapi aku sangat menikmati setiap kata-kata yang kau berikan padaku, menikmati kegiatan yang kau rutinitaskan hanya untukku Is… dan saat itu pula aku mulai sadar kalau aku juga penggemar nomor satu Isyana…”


Aku mengangkat wajahku, mencoba memberanikan diri mentap mata Andra yang sedikit sayu dan mempunyai kantung mata yang cukup besar, lalu ia memelukku dengan hangat, “aku ingin kamu bisa menggenggamku dan selalu menjadi penggemar nomor satuku Isyana…”***
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com