By: SHanifa_
Suasana
makan malam hari ini terasa sepi, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu
yang menyatu. Arina yang biasanya banyak bicara, kali ini
hanya diam sambil mengaduk-aduk makanan yang sama sekali tidak disentuhnya.
Naja yang menyadarinya sedari tadi, lebih memilih untuk tidak bertanya ada apa
dengan istrinya ini, “Kamu kenyang? Makan apa tadi sama Dina?” Naja menanyakan
hal lain. Arina menggelengkan kepalanya, “Trus kamu lagi
diet?” lagi-lagi Arina menggelengkan kepalanya.
Arina
tipikal orang yang selalu memikirkan perasaan orang lain dibandingkan
perasaannya sendiri. Naja membereskan piringnya yang sudah kosong dan piring
Arina yang tidak disentuh sama sekali makanannya.
Naja
menarik tangan Arina untuk ikut duduk bersamanya di ruang televisi, tidak ada pemberontakan darinya. Naja menatapnya tajam dengan pandangan menginterogasi. Arina
menundukkan kepalanya, menutupi matanya yang akan mengeluarkan bulir-bulir air
mata yang tidak ingin ditunjukkan pada suaminya,
“Kamu
kenapa?” Naja bukanlah orang yang suka berbasa-basi.
Arina terus menjawab dengan menggelengkan kepalanya, “Tidak mungkin tidak ada
apa-apa, Arina.” Naja mulai naik darah, karena
sejak ia sampai di rumah Arina hanya diam saja,
tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya yang kecil. Arina tidak dapat
menutupi air matanya yang jatuh. Naja
memeluknya, menenangkan istrinya. Ia sendiri
tidak tahu penyebab mengapa istrinya menangis seperti ini, “Kamu rindu ayah
sama ibu?” Arina terus menangis dan membalas pelukan Naja.
Ia membalas pelukan Naja dengan erat, seakan tidak ingin
Naja lepas sedikit pun darinya.
“Aku
sayang kamu. Jangan tinggalin aku.” Akhirnya Arina mengeluarkan beberapa kata
dari bibirnya. Namun,
tangis Arina makin menjadi. Naja terus
menenangkannya. Pelukan hangat
Naja selalu membuat Arina lebih baik.
***
“Maaf
Din, bisa tinggalin aku sama Mbak Orissa berdua saja?” wajah Arina berubah
menjadi dingin saat Orissa mengunjunginya, Dina mengerti dan berpamitan pulang
pada Arina,
“Jangan
pernah goyah yah, Na.” Itu pesan Dina sebelum ia meninggalkan Orissa
dan Arina sendirian. Orissa menilik setiap detail
isi apartemen yang ditinggali mantan pacar beserta istrinya itu.
Apartemen sederhana yang selalu terlihat rapi, karena
barang-barang yang ada ditempatkan sesuai pada tempatnya. Arina mempersilakan
Orissa duduk di kursi meja makan saat Arina membuatkannya teh hangat.
Kemudian
Arina duduk di hadapannya. Tidak
suka dengan cara pandang Orissa yang begitu menginvestigasi tempat yang ia
tinggali, Arina langsung menanyakan maksud kedatangan Orissa, “Saya belum
memperkenalkan diri, kenalkan..,” ia
mengulurkan tangannya lagi seperti di depan pintu
tadi, “Saya Orissa, mantan pacar Naja, yang masih sangat sayang pada Naja.” Senyumnya menyebalkan, sangat mirip nenek
sihir yang ada di dongeng, ucap Arina dalam hati.
“Saya
Arina, istri sah yang paling disayang sama Naja.” Arina membalasnya,
“Saya
akan menjawab pertanyaan kamu. Maksud
kedatangan saya kesini adalah saya ingin meminta Naja
untuk
kembali dengan saya,” Perempuan tidak tahu diri, lagi-lagi
Arina bergumam sendiri, “Kamu tahu? Naja dulu sangat sayang pada saya,” Arina
mulai geram,
“Mbak
Orissa yang terhormat, apakah mbak punya sopan santun? Perempuan berpendidikan
seperti Anda, tidak mungkin mengucapkan hal demikian buruknya
pada orang yang sudah berkeluarga,” Arina menjawab dengan hati tenang dan penuh
senyum walau pun ia sangat kesal melihat perempuan yang sedang
duduk di hadapannya sekarang. Orissa masih
tetap pada pendiriannya,
“Saya
akan membuat Naja kembali pada saya. Jadi,
kamu harus siap untuk kehilangan dia.”
“Tanpa
mengurangi rasa hormat saya pada mbak Orissa, silakan Mbak Orissa yang terlalu
banyak menonton sinetron keluar dari apartemen ini.
Saya tidak menerima orang yang tidak tahu sopan
santun seperti Anda.” Arina menaikkan nada suaranya, tegas. Orissa
dengan angkuhnya keluar dari apartemen Arina. Begitu pintu apartemen terdengar
kembali tertutup ia duduk lemas di lantai, menangis.
***
Arina
meminum lagi hot chocolate yang
disajikan Gusti untuknya. Tidak lama
kemudian perempuan berperawakan cukup tinggi duduk di hadapannya,
“Gus, aku mau hot mint tea yah.”
Gusti mengacungkan ibu jarinya tanda mengerti. Riri dan Arina bertemu di café tempat Gusti berkerja saat ia
menyelesaikan Ujian Negaranya untuk
mencari kegiatan yang lain.
“Kenapa
Na?” Tanya Riri yang kini menjadi sahabatnya,
“Kemarin
ada perempuan dewasa yang datang ke apartemen kami,
Ri,” Arina tampak sangat gusar, “Aku tahu perempuan itu, dia yang selalu
menghubungi Naja,” ia menghembuskan nafas penuh kesedihan,
Riri
terdiam tidak mengatakan sepatah kata pun, karena ia
beranggapan Arina tidak meminta pendapatnya, hingga Gusti mengantarkan
pesanannya dan duduk di antara dua sahabatnya, “Menurutmu bagaimana,
Ri?” tanya Arina kemudian.
“Jangan
memutuskan sesuatu yang belum tentu benar, Na.
Perempuan seperti itu hanya terobsesi pada suamimu.”
Riri meminum hot mint tea-nya, lalu
melanjutkan pendapatnya, “Coba kamu tanyakan pada Naja apa yang sebenarnya
terjadi antara perempuan itu dengannya. Kalian
sudah menikah, tidak ada yang perlu ditutupi,”
Arina
menangis, Riri menenangkan Arina yang dihantui rasa takut dan penasaran, “Aku
kembali kerja yah.” Gusti pamit dihadapan sahabat-sahabatnya.
Ia tahu seharusnya ia ikut menenangkan Arina,
tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapi Arina,
“Na, kamu harus bilang yang sebenarnya sama Pak Naja. Kamu harus bilang
apa yang sudah perempuan itu lakukan padamu kemarin,” Arina menggelengkan
kepalanya,
“Aku
masih terlalu takut untuk mengatakannya pada Naja.
Aku nggak
bisa, Ri.” Arina kembali menangis.
Riri tidak bisa berkata apa-apa lagi.
***
Maret 2014
Riri
bejalan ke arah toilet di sebuah restoran
keluarga yang sedang ia kunjungi bersama keluarganya pada
hari minggu. Langkahnya terhenti
begitu melihat dua orang yang ia kenal. Ia memperhatikannya dengan baik,
mengucek-ngucek matanya berharap salah lihat. Ia
menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang sedikit gembul.
Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya, Arina dan Naja.
Hari itu Arina dan Naja sedang makan siang bersama keluarganya dalam rangka
merayakan ulang tahun pernikahan orang tua mereka.
Riri
berdiam di lobby restoran bersama ibu
dan adiknya sambil menunggu mobil yang sedang diambil ayahnya karena
hari itu hujan. Riri masih terus berpikir ada hubungan apa antara
Arina dan Naja, tiba-tiba perhatiannya teralihkan begitu mendengar suara wanita
paruh baya di belakangnya, “Arina sayang, kalau Naja galak sama
kamu beritahu Mama yah. Dengan
segera mama akan memarahinya,” Arina tersenyum,
“Tenang
saja Ma, Naja baik kok. Dia suami yang perhatian dan penuh
kasih sayang, seperti suami-suami yang suka kita tonton di drama korea.” Riri
refleks membalikkan badannya menghadap Arina yang persis ada di belakangnya.
Arina membulatkan matanya, terkejut, sangat terkejut.
Keesokannya
di sekolah, Arina terus
mengikuti Riri yang sudah mengetahui antara Arina
dan Naja. Dan Arina bersyukur, ternyata Riri
tidak memberitahu satu orang pun di sekolah tentang
apa yang dilihatnya semalam, “Ri, aku akan turuti apa maumu asal kamu tidak
memberitahukan siapa pun. Kumohon.” Mereka berbicara berdua di taman
sekolah, Riri menghela nafas.
“Arina,
aku hanya mengagumi Pak Naja. Dia
terlalu tua untuk kujadikan seorang pacar. Aku juga
menghargai privasi antara kamu dan Pak Naja. Tapi sebagai permintaan tutup
mulut, aku mau foto-foto pernikahanmu dan Pak Naja ya.
Pasti Pak Naja terlihat sangat berkarisma saat ia
memakai baju pengantin.” Arina terkejut dengan apa yang didengarnya, tapi ia
jadi tahu bahwa ternyata Riri bukanlah orang yang menyebalkan seperti yang ia
kira selama ini. Sejak itu,
Arina dan Riri ditambah Gusti yang memang sahabat Arina sejak masuk SMU,
bersahabat.
***
Arina
berjalan lunglai dari halte Transjakarta
menuju apartemennya. Lalu ia menghentikan
langkahnya, terdiam di depan kedai kopi milik Naja.
Ia melihat Naja dan Orissa sedang bersama.
Arina mengambil telepon genggam dari dalam tas lalu menekan
panggilan cepat. Dari kejauhan
Naja melihat telepon genggamnya dan menolak untuk mengangkat telpon dari Arina.
Arina mencoba menghubungi
Naja
lagi, namun Naja tetap melakukan hal yang sama.
Arina
kembali berjalan. Langkahnya semakin lunglai. Ia masuk ke
apartemennya dan terduduk lemas di depan pintu.
Ia tidak dapat lagi menahan tangisnya yang keluar
dari dua matanya. Ia masih tidak
percaya, tidak biasanya Naja seperti itu. Naja tidak
pernah sekali pun memutuskan telponnya. Tak lama, tanda pesan
baru masuk,
From: Utama
Pranaja
Maaf tidak
mengangkat telpon darimu. Aku sedang ada
urusan, sepertinya akan pulang terlambat. Makan duluan saja ya.
Tangisan
Arina semakin menjadi. Ia kecewa pada
Naja yang berbohong padanya. Pikiran Arina mulai liar
memikirkan
hal-hal negatif yang belum tentu benar. Ia
sempat berpikir untuk merelakan suaminya untuk perempuan lain, bahkan Arina
berpikir bahwa Naja menikahinya karena kasihan
padanya. Rasa kasihan karena
di tinggal kedua orang tuanya. Bahkan, hingga umur
pernikahan yang hampir setengah tahun saja, Naja sama sekali belum menyentuhnya
selayaknya pasangan yang sudah menikah.
Naja
masuk ke dalam apartemennya, lampu sudah dimatikan. Padahal ini masih pukul
delapan malam. Saat ia menyalakan lampu
ia melihat bantal dan guling yang biasa ia pakai untuk tidur ada di sofa ruang tv begitu juga dengan bedcover. Naja mencoba
membuka pintu kamar tidurnya, tapi terkunci. Ia
mengetuk, “Aku tidur dikamar sebelah?” tidak ada jawaban. Naja duduk lemas di sofa sambil menghela
nafas panjang lalu ia menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal, berpikir keras apa yang terjadi pada istrinya sejak
kemarin. Semua membuatnya sangat frustasi.
***
Arina
menyiapkan sarapan untuk Naja dengan mulut tertutup sangat rapat, tidak sepatah
kata pun keluar dari bibirnya.
Naja mencoba untuk mengajaknya berbicara, namun tidak ada jawaban, “Kamu
kenapa?” Naja mendekatinya saat ia sedang menggoreng telur.
Tetap tidak ada jawaban. Telepon
genggam Naja berbunyi, Naja segera mengangkatnya, “Ya?” Naja kemudian duduk di
ruang tv, “Maaf aku tidak bisa,” Naja
menghela nafas, “Apalagi?” suara Naja terdengar kesal. Arina menyuguhkan
sarapan di meja makan, kemudian ia kembali ke kamar.
Naja memperhatikannya, “Nanti aku hubungi lagi.” Naja masuk ke kamar,
menghampiri istrinya yang terduduk di sofa di sudut kamar, sambil membaca
majalah yang sama sekali tidak Arina pahami apa yang tertulis
di dalamnya. Naja duduk di sebelahnya,
Arina berusaha untuk tidak menggubrisnya,
“Kamu
kenapa?” pertanyaan itu terlontar lagi dan lagi-lagi tidak
ada jawaban, “Jawab aku Arina, aku bukan peramal yang kalau kamu diam saja, aku
akan tahu apa yang salah,” masih tidak ada jawaban, “Jangan seperti anak kecil!”
suara Naja meninggi, Arina menutup majalahnya, menatap Naja dengan kedua
matanya yang akan mengeluarkan air mata yang entah keberapa kalinya sejak
kemarin,
“Iya
aku memang anak kecil. Lalu,
mengapa kamu menikahiku?!” suara Arina tidak kalah tinggi. Naja terkejut, tidak
biasanya Arina seemosi ini.***