Selasa, 27 Januari 2015

The Bride and Her Groom #3

0

By: SHanifa_

Suasana makan malam hari ini terasa sepi, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang menyatu. Arina yang biasanya banyak bicara, kali ini hanya diam sambil mengaduk-aduk makanan yang sama sekali tidak disentuhnya. Naja yang menyadarinya sedari tadi, lebih memilih untuk tidak bertanya ada apa dengan istrinya ini, “Kamu kenyang? Makan apa tadi sama Dina?” Naja menanyakan hal lain. Arina menggelengkan kepalanya, “Trus kamu lagi diet?” lagi-lagi Arina menggelengkan kepalanya.
Arina tipikal orang yang selalu memikirkan perasaan orang lain dibandingkan perasaannya sendiri. Naja membereskan piringnya yang sudah kosong dan piring Arina yang tidak disentuh sama sekali makanannya.
Naja menarik tangan Arina untuk ikut duduk bersamanya di ruang televisi, tidak ada pemberontakan darinya. Naja menatapnya tajam dengan pandangan menginterogasi. Arina menundukkan kepalanya, menutupi matanya yang akan mengeluarkan bulir-bulir air mata yang tidak ingin ditunjukkan pada suaminya,
“Kamu kenapa?” Naja bukanlah orang yang suka berbasa-basi. Arina terus menjawab dengan menggelengkan kepalanya, “Tidak mungkin tidak ada apa-apa, Arina.” Naja mulai naik darah, karena sejak ia sampai di rumah Arina hanya diam saja, tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya yang kecil. Arina tidak dapat menutupi air matanya yang jatuh. Naja memeluknya, menenangkan istrinya. Ia sendiri tidak tahu penyebab mengapa istrinya menangis seperti ini, “Kamu rindu ayah sama ibu?” Arina terus menangis dan membalas pelukan Naja. Ia membalas pelukan Naja dengan erat, seakan tidak ingin Naja lepas sedikit pun darinya.
“Aku sayang kamu. Jangan tinggalin aku.” Akhirnya Arina mengeluarkan beberapa kata dari bibirnya. Namun, tangis Arina makin menjadi. Naja terus menenangkannya. Pelukan hangat Naja selalu membuat Arina lebih baik.
***
“Maaf Din, bisa tinggalin aku sama Mbak Orissa berdua saja?” wajah Arina berubah menjadi dingin saat Orissa mengunjunginya, Dina mengerti dan berpamitan pulang pada Arina,
“Jangan pernah goyah yah, Na.” Itu pesan Dina sebelum ia meninggalkan Orissa dan Arina sendirian. Orissa menilik setiap detail isi apartemen yang ditinggali mantan pacar beserta istrinya itu. Apartemen sederhana yang selalu terlihat rapi, karena barang-barang yang ada ditempatkan sesuai pada tempatnya. Arina mempersilakan Orissa duduk di kursi meja makan saat Arina membuatkannya teh hangat.
Kemudian Arina duduk di hadapannya. Tidak suka dengan cara pandang Orissa yang begitu menginvestigasi tempat yang ia tinggali, Arina langsung menanyakan maksud kedatangan Orissa, “Saya belum memperkenalkan diri, kenalkan..,” ia mengulurkan tangannya lagi seperti di depan pintu tadi, “Saya Orissa, mantan pacar Naja, yang masih sangat sayang pada Naja.” Senyumnya menyebalkan, sangat mirip nenek sihir yang ada di dongeng, ucap Arina dalam hati.
“Saya Arina, istri sah yang paling disayang sama Naja.” Arina membalasnya,
“Saya akan menjawab pertanyaan kamu. Maksud kedatangan saya kesini adalah saya ingin meminta Naja untuk kembali dengan saya,” Perempuan tidak tahu diri, lagi-lagi Arina bergumam sendiri, “Kamu tahu? Naja dulu sangat sayang pada saya,” Arina mulai geram,
“Mbak Orissa yang terhormat, apakah mbak punya sopan santun? Perempuan berpendidikan seperti Anda, tidak mungkin mengucapkan hal demikian buruknya pada orang yang sudah berkeluarga,” Arina menjawab dengan hati tenang dan penuh senyum walau pun ia sangat kesal melihat perempuan yang sedang duduk di hadapannya sekarang. Orissa masih tetap pada pendiriannya,
“Saya akan membuat Naja kembali pada saya. Jadi, kamu harus siap untuk kehilangan dia.”
“Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mbak Orissa, silakan Mbak Orissa yang terlalu banyak menonton sinetron keluar dari apartemen ini. Saya tidak menerima orang yang tidak tahu sopan santun seperti Anda.” Arina menaikkan nada suaranya, tegas. Orissa dengan angkuhnya keluar dari apartemen Arina. Begitu pintu apartemen terdengar kembali tertutup ia duduk lemas di lantai, menangis.
***
Arina meminum lagi hot chocolate yang disajikan Gusti untuknya. Tidak lama kemudian perempuan berperawakan cukup tinggi duduk di hadapannya, “Gus, aku mau hot mint tea yah.” Gusti mengacungkan ibu jarinya tanda mengerti. Riri dan Arina bertemu di café tempat Gusti berkerja saat ia menyelesaikan Ujian Negaranya untuk mencari kegiatan yang lain.
“Kenapa Na?” Tanya Riri yang kini menjadi sahabatnya,
“Kemarin ada perempuan dewasa yang datang ke apartemen kami, Ri,” Arina tampak sangat gusar, “Aku tahu perempuan itu, dia yang selalu menghubungi Naja,” ia menghembuskan nafas penuh kesedihan,
Riri terdiam tidak mengatakan sepatah kata pun, karena ia beranggapan Arina tidak meminta pendapatnya, hingga Gusti mengantarkan pesanannya dan duduk di antara dua sahabatnya, “Menurutmu bagaimana, Ri?” tanya Arina kemudian.
“Jangan memutuskan sesuatu yang belum tentu benar, Na. Perempuan seperti itu hanya terobsesi pada suamimu.” Riri meminum hot mint tea-nya, lalu melanjutkan pendapatnya, “Coba kamu tanyakan pada Naja apa yang sebenarnya terjadi antara perempuan itu dengannya. Kalian sudah menikah, tidak ada yang perlu ditutupi,”
Arina menangis, Riri menenangkan Arina yang dihantui rasa takut dan penasaran, “Aku kembali kerja yah.” Gusti pamit dihadapan sahabat-sahabatnya. Ia tahu seharusnya ia ikut menenangkan Arina, tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapi Arina, “Na, kamu harus bilang yang sebenarnya sama Pak Naja. Kamu harus bilang apa yang sudah perempuan itu lakukan padamu kemarin,” Arina menggelengkan kepalanya,
“Aku masih terlalu takut untuk mengatakannya pada Naja. Aku nggak bisa, Ri.” Arina kembali menangis. Riri tidak bisa berkata apa-apa lagi.
***
Maret 2014
Riri bejalan ke arah toilet di sebuah restoran keluarga yang sedang ia kunjungi bersama keluarganya pada hari minggu. Langkahnya terhenti begitu melihat dua orang yang ia kenal. Ia memperhatikannya dengan baik, mengucek-ngucek matanya berharap salah lihat. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang sedikit gembul. Ia terkejut dengan apa yang dilihatnya, Arina dan Naja. Hari itu Arina dan Naja sedang makan siang bersama keluarganya dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan orang tua mereka.
Riri berdiam di lobby restoran bersama ibu dan adiknya sambil menunggu mobil yang sedang diambil ayahnya karena hari itu hujan. Riri masih terus berpikir ada hubungan apa antara Arina dan Naja, tiba-tiba perhatiannya teralihkan begitu mendengar suara wanita paruh baya di belakangnya, “Arina sayang, kalau Naja galak sama kamu beritahu Mama yah. Dengan segera mama akan memarahinya,” Arina tersenyum,
“Tenang saja Ma, Naja baik kok. Dia suami yang perhatian dan penuh kasih sayang, seperti suami-suami yang suka kita tonton di drama korea.” Riri refleks membalikkan badannya menghadap Arina yang persis ada di belakangnya. Arina membulatkan matanya, terkejut, sangat terkejut.
Keesokannya di sekolah, Arina terus mengikuti Riri yang sudah mengetahui antara Arina dan Naja. Dan Arina bersyukur, ternyata Riri tidak memberitahu satu orang pun di sekolah tentang apa yang dilihatnya semalam, “Ri, aku akan turuti apa maumu asal kamu tidak memberitahukan siapa pun. Kumohon.” Mereka berbicara berdua di taman sekolah, Riri menghela nafas.
“Arina, aku hanya mengagumi Pak Naja. Dia terlalu tua untuk kujadikan seorang pacar. Aku juga menghargai privasi antara kamu dan Pak Naja. Tapi sebagai permintaan tutup mulut, aku mau foto-foto pernikahanmu dan Pak Naja ya. Pasti Pak Naja terlihat sangat berkarisma saat ia memakai baju pengantin.” Arina terkejut dengan apa yang didengarnya, tapi ia jadi tahu bahwa ternyata Riri bukanlah orang yang menyebalkan seperti yang ia kira selama ini. Sejak itu, Arina dan Riri ditambah Gusti yang memang sahabat Arina sejak masuk SMU, bersahabat.
***
Arina berjalan lunglai dari halte Transjakarta menuju apartemennya. Lalu ia menghentikan langkahnya, terdiam di depan kedai kopi milik Naja. Ia melihat Naja dan Orissa sedang bersama. Arina mengambil telepon genggam dari dalam tas lalu menekan panggilan cepat. Dari kejauhan Naja melihat telepon genggamnya dan menolak untuk mengangkat telpon dari Arina. Arina mencoba menghubungi Naja lagi, namun Naja tetap melakukan hal yang sama.
Arina kembali berjalan. Langkahnya semakin lunglai. Ia masuk ke apartemennya dan terduduk lemas di depan pintu. Ia tidak dapat lagi menahan tangisnya yang keluar dari dua matanya. Ia masih tidak percaya, tidak biasanya Naja seperti itu. Naja tidak pernah sekali pun memutuskan telponnya. Tak lama, tanda pesan baru masuk,

From: Utama Pranaja
Maaf tidak mengangkat telpon darimu. Aku sedang ada urusan, sepertinya akan pulang terlambat. Makan duluan saja ya.

Tangisan Arina semakin menjadi. Ia kecewa pada Naja yang berbohong padanya. Pikiran Arina mulai liar memikirkan hal-hal negatif yang belum tentu benar. Ia sempat berpikir untuk merelakan suaminya untuk perempuan lain, bahkan Arina berpikir bahwa Naja menikahinya karena kasihan padanya. Rasa kasihan karena di tinggal kedua orang tuanya. Bahkan, hingga umur pernikahan yang hampir setengah tahun saja, Naja sama sekali belum menyentuhnya selayaknya pasangan yang sudah menikah.
Naja masuk ke dalam apartemennya, lampu sudah dimatikan. Padahal ini masih pukul delapan malam. Saat ia menyalakan lampu ia melihat bantal dan guling yang biasa ia pakai untuk tidur ada di sofa ruang tv begitu juga dengan bedcover. Naja mencoba membuka pintu kamar tidurnya, tapi terkunci. Ia mengetuk, “Aku tidur dikamar sebelah?” tidak ada jawaban. Naja duduk lemas di sofa sambil menghela nafas panjang lalu ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, berpikir keras apa yang terjadi pada istrinya sejak kemarin. Semua membuatnya sangat frustasi.
***
Arina menyiapkan sarapan untuk Naja dengan mulut tertutup sangat rapat, tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Naja mencoba untuk mengajaknya berbicara, namun tidak ada jawaban, “Kamu kenapa?” Naja mendekatinya saat ia sedang menggoreng telur. Tetap tidak ada jawaban. Telepon genggam Naja berbunyi, Naja segera mengangkatnya, “Ya?” Naja kemudian duduk di ruang tv, “Maaf aku tidak bisa,” Naja menghela nafas, “Apalagi?” suara Naja terdengar kesal. Arina menyuguhkan sarapan di meja makan, kemudian ia kembali ke kamar. Naja memperhatikannya, “Nanti aku hubungi lagi.” Naja masuk ke kamar, menghampiri istrinya yang terduduk di sofa di sudut kamar, sambil membaca majalah yang sama sekali tidak Arina pahami apa yang tertulis di dalamnya. Naja duduk di sebelahnya, Arina berusaha untuk tidak menggubrisnya,
“Kamu kenapa?” pertanyaan itu terlontar lagi dan lagi-lagi tidak ada jawaban, “Jawab aku Arina, aku bukan peramal yang kalau kamu diam saja, aku akan tahu apa yang salah,” masih tidak ada jawaban, “Jangan seperti anak kecil!” suara Naja meninggi, Arina menutup majalahnya, menatap Naja dengan kedua matanya yang akan mengeluarkan air mata yang entah keberapa kalinya sejak kemarin,

“Iya aku memang anak kecil. Lalu, mengapa kamu menikahiku?!” suara Arina tidak kalah tinggi. Naja terkejut, tidak biasanya Arina seemosi ini.***

Senin, 26 Januari 2015

Sempurna #1

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

[Masa Sekarang]
Saat ini, aku duduk memandangi wajahnya yang meski banyak luka tetap saja terlihat cantik. Selalu ku sibakkan helaian rambutnya yang turun dan menempel di lukanya, tapi mereka tetap saja kembali. Aku menyesal pernah meninggalkannya selama 1 tahun lebih, membiarkan masing-masing dari kami terluka, menyiksa batinku dengan benci dan marah yang  tak tepat arah. Namaku Bima, suami dari Mayang. Istri yang teramat sangat kucintai, kini terbaring di ranjang rumah sakit… karena kesalahanku.
***
[3 Tahun yang Lalu]
“Saya nggak bisa ikut kamu, Bi…”
“Kenapa?”
“Kenapa?” Mayang menggelengkan kepalanya “Saya punya uang dari mana untuk kuliah di Singapore? Kamu tahu kan, untuk SMA aja Ayah harus mati-matian kerjanya, mana bisa biayain aku di Singapore? Dan lagi kalau aku pergi, siapa yang urus Ayah?”
“Mayang, lihat mata saya, apa kamu benar-benar percaya kalau Ayah kamu nggak bisa jaga diri?” Mayang menunduk “Kamu tahu pasti Ayah kamu nggak akan kesusahan.”
“Tapi Ayah juga bilang nggak ada uang untuk sekolah ke negara orang.” Dengusan Mayang membuatku menatap kearahnya “Jangankan ke negara lain, negara sendiri aja belum tentu ada biayanya.”
“Kalau kamu nggak ikut pindah sama saya, saya nggak tahu kita masih bisa lanjut atau nggak.” Nada bicaraku dingin, aku hanya menggertak Mayang. Kesalahan terbesarku. Mayang berdiri di hadapanku, kedua tangannya menyentuh pipiku,
“Kalau itu yang kamu mau, ya sudah. Aku nggak akan halangin kamu raih cita-cita kamu.” Tangan lembutnya membelai pipiku, “Tapi untuk kali ini, aku nggak bisa ikutin mau kamu.” Mayang mencium pipiku, dan pergi.
***
[Masa Sekarang]
Terbangun dari mimpi buruk yang berulang tentu bukan hal yang aku inginkan. Berkali-kali Om Iwan memintaku meminum obat penenang darinya, tapi selalu kuacuhkan. Bagaimana jika Mayang sadar saat aku sedang terlelap? Kupandangi lagi wajahnya yang tenang. Tanganku memeluk perut Mayang yang besar. Masih bisa kurasakan tendangan-tendangan kecil bayi kami, tidak seperti Mayang yang tahu apa arti setiap tendangan itu, aku hanya membelainya, menciumnya sesekali, memintanya untuk tidak terlalu aktif dan mengganggu istirahat ibunya yang entah sampai kapan.
Para dokter sudah memintaku untuk segera membuat keputusan, keputusan antara bayi dan istriku. Apa yang harus kupilih? Aku terlalu takut Mayang akan berhenti berjuang untuk hidup jika bayinya, bayi kami, tidak lagi bergantung padanya. “Mayang, sembuh sayang…” aku berbisik di daun telinganya lalu menundukan kepalaku ke perutnya yang bulat, “Nak, bantuin Ayah sama Ibu ya, jagain Ibu dari dalam, biar Ayah yang jagain Ibu dari luar… yang kuat ya…” air mataku jatuh, meski kutahan sekeras apapun, air mata ini akan tetap jatuh.
***
[3 Tahun yang Lalu]
“Anjar! Kenapa kamu putusin Mayang?” Mama lagi-lagi membela Mayang. Kadang aku ragu, siapa yang sebenarnya anaknya? Aku atau Mayang?  “Nak, kamu tahu sekali gimana keadaan Mayang… kamu nggak khawatir? Bisa kamu fokus belajar?”
“Ma! Mayang yang pergi ninggalin saya! Saya nggak serius waktu ngomong ‘nggak bisa lanjutin’! Harusnya Mayang ngerti itu!”
“Kenapa harus selalu Mayang yang ngertiin kamu? Kapan kamu ngertiin Mayang?”
“Sudahlah, Ma! Pokokya saya akan tetap pergi!” aku membiarkan Mama ternganga dengan nada tinggiku, “Saya juga nggak mau Mama ngabarin saya tentang Mayang!” sejak itu, aku tak pernah lagi mendengar kabar Mayang.
***
[Masa Sekarang]
“Gimana Mayang, Bi?” dulu aku selalu merasa terganggu dengan segala perhatian yang dicurahkan Mama untuk Mayang, tapi saat ini, perlakuan Mama seolah air dingin ditengah savana. Menyejukkan ku,
“Masih begini, Ma… tapi dedenya masih nendang-nendang, walaupun nggak seaktif kalau Mayang sehat,” dengan otomatis tanganku memegang perut Mayang. “Gimana kata Om Iwan? Masih harus di caesar?” Mama meremas pundakku, bukan kabar baik.
“dr. Anna ingin bayinya tetap di rahim Mayang sampai benar-benar matang dan siap, tapi kalau keadaan Mayang terus seperti ini, atau bahkan mungkin memburuk, bayinya yang harus diselamatkan lebih dulu…” ini yang kutakutkan. Sebuah kemungkinan bahwa Mayang akan benar-benar meninggalkanku.
“Terus kalau dedenya harus dilahirkan, gimana sama Mayang?”
“Kamu harus tegar, Bima… kita hanya bisa berdoa.” Berdoa, hanya itu yang dapat aku dan keluargaku lakukan, kenapa sekarang kata-kata itu terdengar lebih putus asa? Kenapa seolah kata-kata itu adalah akhir dari kehidupan Mayang? Mama hanya bisa memelukku dan memberikan dukungan-dukungan lembut.
***
[2 Tahun yang Lalu]
Untuk pertama kalinya setelah keberangkatanku ke Singapore, aku menginjakkan kakiku lagi dirumah masa kecilku. Di rumah yang penuh kenangan atas orang-orang yang sangat kurindukan, namun terlalu naif untuk mengakui. Mama memelukku erat, namun pandangan nanarnya membuatku ingin bertanya, ‘apa yang terjadi padanya saat ini?’
Malam hari selalu dijadikan keluargaku sebagai waktunya untuk berbagi, namun malam ini Mama dan adikku terlihat terganggu, bukan karena kedatanganku, mata mereka selalu berbinar saat menanyakan kehidupanku di negara singa itu. Adikku Briana duduknya tak tenang, makanan dihadapannya hanya ia aduk asal, Mama juga tak hentinya memandang ke arah jam dinding rumah kami, postur Papa terlihat tenang, tapi sesekali aku melihatya mencuri pandang ke arah Briana dan Mama, seolah menanyakan sesuatu.
Anggota keluargaku sedikit terlonjak saat telepon genggam Papa yang ada dimeja berbunyi, ‘sejak kapan Papa membawa telepon genggamnya ke meja makan?’ Papa hanya menjawab telepon itu dan bergumam sesekali,  memutus sambungannya, lalu mengangguk pada Mama dan berdiri meninggalkan makan malamnya yang masih bersisa. Aku melihat sekelilingku, Briana menundukan kepalanya dan menangis, Mama berlari menyusul Papa keluar rumah dan tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil Papa menyala.
“Ini ada apa sih?” aku menarik tangan Briana sedikit kasar, “Papa Mama mau kemana? Itu telepon dari siapa?” Briana menangis sebelum menjawab pertanyaanku.
“Itu telepon Om Iwan,” Om Iwan? Siapa yang sakit? Om Iwan adalah adik Ayahku yang berprofesi sebagai dokter. “Kakak nggak mau tahu tentang ini, lagian, Kakak kan yang milih buat ninggalin dia? Kakak juga yang bilang nggak mau ngedenger apapun tentang dia lagi kan?!”suara Briana semakin meninggi, tapi aku terlalu tertegun untuk terganggu dengan suaranya. ‘Apa yang terjadi padanya sekarang?’
“Mayang kenapa?” bersembunyi selama satu tahun dalam setiap doaku, akhirnya namanya kembali kusuarakan
“Ngapain mau tahu sekarang? Nggak penting buat Kakak!”
“Bri, kasih tahu sekarang…” emosiku mulai menanjak, air mata Briana yang semakin kencang tak membantu keadaanku sama sekali.
“Kakak tahu dari dulu gimana Ayahnya Mayang kan?! Tahu apa yang dijanjiin sama Ayahnya Mayang! Itu yang Ayahnya lakuin selama ini, Kak!” aku membatu. Tahu pasti apa yang diucapkan oleh adikku. Bayangan Ayah Mayang yang selalu membuatku merinding.
***
[Saat Mayang dan Bima Kecil]
“Itu kenapa sih jadi banyak lebam gitu tangannya?” tanyaku pada gadis yang selalu mencuri perhatianku. Gadis yang baru berani kusapa belakangan ini. Ia hanya menggeleng, “Kalau nggak apa-apa, gak akan lebam gitu,” ia hanya menatapku.
Nggak ada untungnya buat kamu, Bima.” Aku mengerutkan keningku.

Beberapa bulan kemudian…

“MAYANG! MAAYAANG!” aku memanggil namanya berkali-kali di depan rumahnya, namun sang empu nama tak juga keluar. “MA…” panggilanku terpotong saat kulihat Ayah Mayang keluar dan menutup pintu rumahnya dengan kasar.
“Heh, bocah tengil! Berisik sekali kamu siang-siang begini!”
“Cuma mau ajak Mayang main, Om.”
“HEH! Kapan saya nikahi tantemu! Nggak usah sok akrab kamu!” Ayah Mayang terlihat terburu-buru mengeluarkan kunci mobilnya.
“Mayangnya ada, Pak?” bibir kecilku tak ingin diam.
“Heh, bocah tengil! Nggak ada untungnya kamu main sama anak pembawa sial itu! Lebih baik kamu pergi sekarang!”
***
[2 Tahun yang Lalu]
“Mayang kenapa sekarang?” Tanyaku pelan tak siap dengan jawaban Briana.
“Kenapa baru pengin tahu sekarang? Setahun ini kemana aja?” Briana memang tak seharusnya  memarahi Bima, tapi saat ini ia tak peduli. Baginya, jika Bima tak pernah pergi, Mayang tak akan pernah seperti ini.
“Mayang di rumah sakit…” Briana mengusap hidungnya, “kemarin Ayahnya kumat lagi!” Bima bisa mendengar dengan jelas nada kebencian dari Briana, “lukanya Mayang parah, Om Iwan nggak yakin Mayang bisa lari lagi.” Tanpa sengaja aku tersenyum, Mayang memang tak pernah bisa berlari. Untuk berjalan di bidang datar saja dia kesulitan, apalagi berlari. Briana juga ikut mendengus kecil melihat senyumku. “Ya maksudnya, kaki Mayang nggak akan kaya semula lagi, Kak...” raut sedih kembali menghantui wajah adikku.
“Kenapa bisa sampai gitu?”
“Ayahnya pikir mainin tongkat kasti ke kakinya bisa bikin Mayang kerja jauh lebih baik!” kerja? “Mayang nggak pernah daftar kuliah, Kak... dia berusaha ngumpulin uang untuk nyusul Kakak, karena Mayang sebetulya keterima disana... tapi beasiswanya nggak full, makanya Mayang bilang nggak bisa ikut Kakak.” Aku tak pernah tahu Mayang diterima di kampusku, tahu dia mendaftar saja tidak. “Kakak mau anterin aku jenguk Mayang?” aku hanya pergi mengambil kunci mobil yang bergantung di tempat biasa Papa menggantungya dan menarik tangan Briana sedikit.
***
[Masa Sekarang]
“Bi... kamu pulang dulu gih, ganti baju, tidur sebentar, makan, istirahat, nak.” aku hanya menggeleng. “Ya sudah, Mama juga sebenarnya sudah minta tolong Briana membawakan kamu baju, habis itu kamu kebawah ya, beli makanan sama Briana, Mama yang akan menjaga Mayang.” Briana datang tepat setelah Mama mengatakan hal itu dan langsung menyuruhku untuk mengganti pakaian.
“Kakak mau makan apa?” tanya Briana basa-basi
“Apa aja lah, kamu maunya apa? Kakak ngikut.”
“Kita makan sate ayam aja ya.” aku tertegun.
“Itu kesukaan Mayang...” adikku hanya tersenyum dan menarik tanganku.
Selama makan, aku tak hentinya tertawa mendengar seluruh cerita Briana, rencananya terhadap anakku dan Mayang nanti, hingga kesulitannya sebagai mahasiswa tingkat akhir. “Nah, kakak udah ketawa, jadi tugas Briana ke Mayang selesai deh.” Briana nyengir. “Kak, carwash-nya nggak diurusin?” tanya Briana random.
“Kakak percaya kok sama pegawainya. Cafe juga stabil. Alhamdulillah rejeki si dedek.” kini giliranku yang tersenyum. “Udah kan makannya? Kita balik lagi yuk.” Briana mengangguk, bersama-sama kami berjalan menuju rumah sakit.
Masih tertawa dan bercanda, aku dan Briana menuju kamar Mayang, tapi kami dikejutkan oleh suara Mama yang nyaris berteriak. Istri Ayah Mayang berdiri didepan ruangan Mayang yang dihalangi oleh Mama. “Saya bilang nggak bisa ya berarti nggak bisa! Percuma kamu mau minta maaf, atau apapun itu! Mayang belum sadar gara-gara tingkah suami kamu!” aku mempercepat langkahku, dan menarik lengan wanita itu, menjauhi ruangan Mayang.
“Bima... saya hanya mau minta maaf atas apa yang dilakukan suami saya” ucapnya sambil menangis.
“Keluar! Dan nggak usah datang lagi!” Suara ku meninggi, mengesampingkan rasa sopanku,
“Saya serius, Bima... saya benar-benar minta maaf.” Wanita itu terus memohon,
“Seingat saya, saat anda di lokasi, anda hanya melihat apa yang suami anda lakukan terhadap Mayang! Hanya melihat! Berteriak memintanya berhenti saja tidak! Jadi maaf kalau saya tidak akan pernah mengijinkan anda mendekati keluarga saya lagi!”
“Bima, tolong cabut tuntutannya, Bima... suami saya hanya hilang kendali. Dia selalu lembut pada saya, Bima, saya mohon...”


“Selalu lembut pada anda? Karena yang dia kasari itu istri saya! Sejak dulu! Sejak Mayang dikembalikan pada suami anda saat ibunya meninggal! Sejak dulu!” seorang petugas keamanan datang menghampiriku dan menanyakan situasi kami. “Saya mohon ibu ini jangan diijinkan mendekat keruangan istri saya!” aku pergi meninggalkan petugas itu dan istri dari Ayah Mayang yang tak pernah benar-benar kuingat namanya.***

Rabu, 21 Januari 2015

The Bride and Her Groom #2

0

By: SHanifa_

Maret 2014
Arina mengeluarkan dua potong cake dari dalam kulkas yang ditancapkan beberapa lilin kecil di atasnya. Naja yang sedang asyik menonton acara kesukaannya sama sekali tidak menggubris. Arina duduk di sebelah Naja. Naja menatapnya bingung. “Selamat ulang tahun pernikahan yang keempat bulan.” Wajah Arina tampak gembira, namun Naja menunjukkan wajah datar dan meniupnya. Lalu secepat kilat Naja mengecup kening Arina. Arina tersenyum.
“Kamu tidak akan berkomentar? Kamu lupa yah?” Arina memulai protesnya.
“Aku hanya terkejut. Ini masih hitungan bulan, untuk apa dirayakan.” Jawab Naja, matanya masih terfokus dengan acara di televisi, “Terima kasih yah sayang.” Suaranya menjadi pelan saat ia mengucapkannya.
“Kamu bilang apa? Sayang?” Arina meledeknya. Naja adalah orang yang tidak mudah mengucapkan kata-kata romantis. Setelah mereka menikah empat bulan, bisa dihitung berapa kali Naja memanggil Arina dengan panggilan “Sayang.”
Naja mulai salah tingkah, namun Arina terus saja menggodanya. Ini lah mengapa Arina sangat mencintai suaminya. Kata-kata romantis atau panggilan sayang sangat berharga untuk di dengar.
Suara telepon genggam Naja berbunyi, Arina bergegas mengambilnya, tertera nama “Orissa Pramudya” ia mengerutkan keningnya. Lalu ia memberikan telepon genggam kepada Naja yang kemudian memilih untuk menjawabnya di teras apartement. Arina penasaran karena selama ia mengenal Naja, baru kali ini ia melihat nama itu. Perasaan cemburu mulai merasukinya. Tidak lama kemudian Naja kembali masuk. Arina menatapnya penuh curiga.
“Teman saat aku di Jogja.” Arina masih menatapnya, “Besok aku pergi yah.”
“Pergi bersama yang menelepon?” Suara Arina mulai terdengar cemburu. Naja tersenyum, lalu mencubit pelan hidung kecil istrinya itu. Arina meringis kesakitan.
“Sudah. Kita makan kuenya. Mau aku suapi?” Arina mengangguk. Namun Naja tidak menyuapinya.
“Suamiku menyebalkan sekali.” Arina mulai merengek, namun Naja tetap asyik sendiri memakan cake yang sengaja dibeli Arina.
***
Seorang perempuan bertubuh kurus dan tinggi mengangkat tangannya untuk memberitahu tempat duduknya pada Naja. Naja menghampiri perempuan itu. Hari ini ia berjanji akan menemui seseorang yang meneleponnya semalam di kedai kopi miliknya yang letaknya tidak jauh dari apartementnya.
Orissa adalah mantan pacar Naja saat berkuliah di Jogja. Namun, setelah beberapa bulan pacaran Naja memutuskannya karena ia tahu tidak hanya dirinya yang menjadi kekasih Orissa. Naja yang tidak suka dikhianati, kemudian memutuskan hubungan mereka. Namun, Naja juga mengerti posisi Orissa yang jarang diperhatikan olehnya.
“Hai, Sa. Bagaimana kabarmu?” Naja memulai pembicaraan. Orissa memutar-mutar cangkir yang berisikan Americano.
“Baik. Kamu sendiri?”
“Sangat baik. Lalu, ada apa?” Naja langsung menanyakan ke intinya.
“Aku mau minta maaf.” Jawabnya singkat.
“Perihal?”
“Aku menyelingkuhimu.” Naja meminum beberapa teguk Americano hangat yang baru saja disajikan oleh pramusaji, “Aku menyesal.”
“Sudahlah. Lupakan saja. Sudah dua tahun yang lalu.”
“Tapi,-“
“Kalau kamu mau membicarakan hal yang sudah lalu, lebih baik aku pulang saja.” Naja memotong pembicaraannya.
“Kudengar kamu sudah menikah.”
“Iya. Maka dari itu jangan hubungi aku lagi, karena istriku sangat pencemburu.” Orissa tersenyum, ia sedikit kesal mendengarnya. Naja sebenarnya tidak ambil pusing perihal mereka berdua putus, karena ia merasa ikut andil atas perselingkuhan yang dilakukan Orissa.
“Selamat.” Mata Orissa mulai berkaca-kaca. Naja tidak suka melihat perempuan menangis. Ia memberikan sapu tangan birunya pada Orissa.
“Hapus air matamu. Yang lalu biarlah berlalu. Lagipula aku juga jahat padamu karena aku tidak bersikap sewajarnya sebagai pacarmu saat itu.” Naja menghela nafas panjang. “Aku harus pulang. Istriku sendirian di rumah.”
“Tapi kita masih bisa bertemu?” Orissa menahannya pergi saat Naja sudah mulai berdiri, “Sebagai teman.”
“Maaf Sa. Aku tidak bisa.” Sesegera mungkin Naja pergi dari kedai kopi, karena ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Orissa padanya. Sebenarnya bukan hanya sekali ini Orissa menghubunginya, tapi sudah berkali-kali sejak sebulan yang lalu. Ia meminta Naja kembali padanya, walau ia tahu Naja sudah menikah.
***
Naja masuk ke dalam apartementnya. Ia terkejut melihat ruang tv begitu berantakan karena tisu yang bertebaran di mana-mana. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dua perempuan yang ia sayangi sedang menangis tersedu-sedu hanya karena menyaksikan drama serial Korea.
“Kamu sudah kembali? Cepat sekali.” Arina kembali menangis dan menghiraukan suaminya. Lalu, Naja mematikan televisi juga dvd player. “Kenapa dimatikan?” Arina merengek.
“Naja, kamu menyebalkan.” Tante Tami memarahinya.
“Mama kapan datang? Mengapa mengajak Arina menonton drama seperti ini? Aku sedang melarangnya karena sebentar lagi dia akan ujian.”
“Setengah jam yang lalu,” Tante Tami masih sesenggukan karena drama Korea, “Mama kasihan melihat menantu Mama stres harus terus belajar, bahkan di hari minggu.” Tante Tami memeluk menantu kesayangannya itu.
“Wajar Ma, Arina bulan depan akan menghadapi Ujian Negara untuk kelulusannya.” Naja memang tegas untuk pendidikan istrinya. “Aku lapar. Kamu masak apa?” Arina menghapus air matanya dan membuka tudung saji di atas meja makan kecil yang memang hanya untuk dua orang.
Naja kembali menggelengkan kepalanya saat melihat dibawah tudung saji tidak ada makanan apapun. “Maaf, Oppa.” Arina menunjukkan mata kucingnya. (Panggilan adik perempuan kepada kakak laki-laki, panggilan romantis .red)
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Menyebalkan.” Naja kesal sekali kalau Arina habis menyaksikan drama Korea, karena ia pasti akan mempraktekannya, “Ya sudah, kita makan di luar saja.” Arina dan Tante Tami bersorak mendengarnya. Naja tersenyum melihat tingkah Mama dan istrinya.
***
April 2014
Dina tersentak. Ia memukul-mukul dadanya. Menarik nafas untuk menormalkan keadaan. Ia terkejut dengan apa yang didengarnya dari Arina. Arina masih mengaduk-aduk cream soup-nya. Dua sahabat yang sekarang menjadi saudara ipar ini sedang bertukar cerita di apartemen Arina dan Naja, “Jadi, Naja sampai saat ini belum sedikit pun menyentuhmu?” Dina mengulang pertanyaannya. Arina menjawabnya dengan anggukan, “Sekedar mengecup bibir juga tidak?” Arina kembali mengangguk.
Dina benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar, “Kakak ipar, kamu tidak mencoba menggoda atau lebih agresif?” Arina membulatkan matanya.
“Pertama, sudah kubilang kamu jangan memanggilku dengan sebutan Kakak Ipar, itu menjijikan. Kedua, kamu tahu kan aku bukan orang yang agresif?”
“Kamu kan memang kakak iparku, tidak ada salahnya aku memanggilmu seperti itu,” Dina menjelaskan dengan cepat, “Tidak ada salahnya membuang gengsimu itu. Kalian sudah menikah, bahkan sudah lima bulan.”
“Kalau begitu panggil aku Unnie.” Pembicaraan mereka yang tadinya serius pada akhirnya berubah menjadi pembicaraan yang tidak penting. Dina dan Arina sudah bersahabat sejak mereka kecil. Mereka sebaya. Tidak ada satu hal pun yang bisa mereka rahasiakan satu sama lain. Keduanya hampir memiliki karakter yang sama. Yang membedakan adalah Arina orang yang tidak bisa berbicara secara blak-blakan sedangkan Dina sebaliknya. (Panggilan adik perempuan kepada kakak perempuan .red)
“Oh iya Din, kamu pernah dengar nama Orissa?” tanya Arina,
“Orissa?” Dina berpikir, mencoba mengingat nama yang disebutkan Arina, “Oh ya, aku ingat. Ada apa?”
“Beberapa bulan ini aku melihat nama itu selalu ada di panggilan tak terjawab di telepon genggam Naja. Siapa dia?” Dina berhenti menyuap. Kemudian ia mengatur kata-kata agar kakak ipar sekaligus sahabatnya ini tidak berpikiran macam-macam. Ia tak ingin jawabannya memicu pertengkaran di antara pasangan ini akibat ia salah berbicara.
“Dia teman Naja saat di Jogja.”
“Kalau teman mengapa Naja tidak pernah mau mengangkat teleponnya?”
“Mungkin Naja merasa terlalu sibuk untuk mengangkat telepon darinya,” Dina mengalihkan pembicaraan, “Tenang saja, Naja adalah orang yang setia walaupun ia menyebalkan.”


Bel apartemennya berbunyi. Dengan sigap Arina membuka pintunya. Di depan pintu ia melihat seorang perempuan dewasa. Rambut panjangnya membuat dirinya terlihat sangat menawan. Pakaiannya rapi dan sangat girly. Arina menatapnya dari atas sampai bawah, memperhatikan perempuan yang ada di hadapannya, “Kamu Arina ya?” Arina menunjukkan wajah bingung dan penuh tanya, “Saya Orissa.” Perempuan itu tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Arina. Arina hanya menatapnya.***

Senin, 19 Januari 2015

Oblivious #6 (Finale)

0

By: Ayara Ruby (@rubyaraaa)

Mereka sampai di tempat makan pilihan Kia tengah malam. Keenan sengaja memakirkan kendaraannya di bahu jalan.
“Abang aja yang beli. Kamu diem disini!” Perintah pada adiknya,
“Kia nggak akan lari kali, Bang…”
Nggak ada! Diem disini, atau nggak jadi beli.”
“Iyaaa iyaaa… siap pak bos.” Kia mengeluarkan telepon genggamnya dan menyalakannya.
Tempat pilihan Kia ternyata sesak dipenuhi pembeli lain sehingga Keenan harus menunggu cukup lama.
“Soto pecel ayam!” penjaga toko itu meneriakan pesanan Keenan dan langsung Keenan ambil lalu berjalan keluar.
“Ini! Udah ya! Kita pulang sekarang.” Keenan memberikan kantung keresek hitam pada Kia. Senyuman Kia menghangatkan hati Keenan yang tadi sempat muram saat dirinya hilang.
“Eh tunggu!” Kia menahan tangan Kia yang mau memindahan perseneleng mobilnya. “Kerupuk kuningnya mana?
“Ya ampun, Ki… kerupuk doang!”
“Iiih… kerupuk kuniiiing.” Kia merengek lagi. Keenan pun menyerah.
“Iya udah tunggu.”
Keenan datang kembali ke warung kecil tersebut dan membeli lima bungkus kerupuk kuning pesanan Kia. Dirinya baru saja akan menghampiri Kia yang berada di dalam mobil saat sebuah mobil lain melaju dengan sangat kencang dan sepertinya kehilangan kendali.
“Kia keluar, Ki!!” Keenan berteriak dan berlari ke arah Kia namun seorang pemuda menariknya tepat saat mobil tersebut menghantam mobil Keenan dengan sangat keras. Keenan dapat mendengar teriakan Kia yang melengking hanya untuk sesaat. Mobilnya melaju dan berputar jauh. Kia terlempar dari mobil melalui kaca depan, kini tubuhnya tergeletak di tengah jalan yang kosong, bentuk kakinya aneh, kepala Kia berdarah. Keenan berjalan lambat menghampiri tubuh Kia. Kenyataan membentur Keenan saat itu juga. tak terpengaruh dengan warga yang berlarian berhamburan, mengejar mobil penabrak atau mendekati adiknya, ia tidak peduli.
“Kiaaa…” Suara Keenan bergetar melihat keadaan adiknya begitu mengenaskan. Tubuhnya sendiri limbung disamping tubuh Kia. Takut untuk menyentuhnya. Ia dapat mendengar gumaman pengguna jalan untuk memanggil ambulance dan rumah sakit. Beruntung kantor polisi hanya bersebrangan dengan warung makanan yang didatangi Keenan demi Kia.
“Mas, Mas, saya butuh kontak keluarga korban, Mas.” Seorang polisi menyentuh bahunya.
“Saya kakaknya,” Keenan bergumam masih memandangi kondisi adiknya. “Saya kakaknya!!” teriak Keenan saat pertanyaan itu kembali terdengar. Keenan kembali fokus pada adiknya yang kini berani ia sentuh. Kedua kakinya patah. Tapi yang paling membuat Keenan sakit adalah keadaan kepala dan wajahnya. Dengan begitu banyak darah, Keenan tidak dapat mengenali wajah adiknya sendiri.
“Saya minta Mas menghubungi keluarga Mas sekarang. Sebentar lagi ambulance datang.” Petugas kepolisian itu pun menjauh dari Keenan. Keenan tetap memperhatikan adiknya. Sampai ambulance datang. Bagi Keenan waktu berjalan begitu lambat walaupun hanya 10 menit berlalu hingga akhirnya ambulance datang. Mendengar suara ambulance mengembalikan senyuman Keenan. Ia positif adiknya akan sehat kembali dan memakan makanan pesanannya.
Keenan baru menghubungi keluarganya diperjalanan menuju rumah sakit terdekat. Seperti yang dapat ia perkirakan, dr. Awang dan dr. Kinanti panik bukan kepalang. Kedua orangtuanya bersama Yara datang setengah jam setelah Keenan dan Kia tiba dirumah sakit. Kini Keenan hanya terdiam seperti batu. Ia tidak merespon pertanyaan orang-orang disekitarnya. Tapi tak banyak yang memaksa. Mereka semua mengerti tekanan yang sedang dialami Keenan.
“Keenan!” dr. Kinanti berlari kearahnya dengan air mata yang sudah sangat deras di pipinya dan tubuhnya yang gemetar. “Gimana ceritanya bisa gini?” Keenan hanya mengelengkan kepalanya dan menangis kencang. Emosinya meledak saat itu. Yara dan dr. Kinanti memeluknya dan membisikan kata-kata menenangkan. dr. Awang sendiri sudah memasuki ruang pemeriksaan Kia dengan menggunakan senjata ‘Saya dokter’ kepada petugas rumah sakit. Ia merasa wajib menangangi anaknya sendiri saat ini.
Pukul 4.00 dini hari dr. Awang keluar dari ruang operasi dia melihat keluarganya masih menangis dengan Keenan yang terlihat masih sangat shock, dr. Awang menghampiri mereka dan berhenti tepat dihadapan keluarga kecilnya. Keluarganya bereaksi saat melihat sang kepala keluarga berdiri dihadapan mereka.
“Kia bisa kan, Pa?” Keenan yang bertanya. Namun bukan suara yang menjawabnya melainkan Papanya yang sangat tenang itu ambruk terjatuh dan memeluk kedua kakinya, menangis dan menjerit. Jawaban yang sangat jelas bagi keluarganya. Keenan mundur dan kembali terjatuh di tempat duduk yang sebelumnya ia tempati. Dunia dr. Kinanti pun menjadi gelap dan Yara yang juga sangat terpukul namun tetap harus menguatkan keluarga kecil yang sangat ia cintai ini tetap tabah.
***
Keenan memeluk Kia dengan tiba-tiba dan erat. Ia dapat mengingat kejadian itu sejelas saat ia mengalami lagi kejadian itu. Kini air mata Keenan berjatuhan dengan deras.
“Maaf… maafin Abang, Dik.”
“Abang ikhlasin Kia ya sekarang…” Keenan melepaskan pelukannya dan memegang wajah Kia dengan erat.
“Kamu tahu Abang sayang banget sama kamu, kan?” Kia mengangguk. “Kamu bangga sama Abang kan?” Kia kembali mengangguk. “Kamu sayang sama Abang kan?”
“Banget, Bang. Kia sayang banget sama Abang.”
“Kamu nggak marah Abang nggak bisa ngeluarin kamu dari mobil?” Kia menggeleng. Keenan mengecup kening Kia dan kembali memeluknya. “Demi Tuhan, Ki… Abang sayang banget sama kamu.” Keenan kembali melepaskan pelukannya “Abang ikhlasin kamu, Ki… Abang ikhlas…” Keenan mencium puncak kepala adiknya dan pergi meninggalkan kamarnya.
“Yara… anter saya ke makam Kia sekarang.” Yara hanya menurut dan mengambil kunci mobilnya.
***
Disebuah pemakaman umum, sepasang pemuda berjalan berdampingan, mata mereka sama-sama sembap. Dilihatnya seorang pria paruh baya baru saja meletakan rangkaian bunga di makam yang mereka tuju.
“Pa…” dr. Awang membalikan tubuhnya, dilihatnya anak sulung kebanggaannya dengan mata sembap. Keenan memeluk papanya, ia membutuhkan topangan untuk tubuhnya sendiri. “Saya inget semuanya, Pa. Saya ikhlasin Kia.”
“Terima kasih, nak. Papa bangga sama kamu. Kamu lihat Kia sekarang.” Dr. Awang menunjuk makam dibelakangnya dan menepuk pundak Keenan beberapa kali. Matanya kembali meneteskan air mata.
“Dik… maafin abang, dik…” hati Keenan hancur melihat makam yang melindungi jasad adiknya. “Abang nggak bisa kuat buat Mama Papa… buat kamu… buat Yara… Maafin Abang karena Abang nggak ngebolehin kamu turun dari mobil buat beli makanan. Maafin Abang, Ki… maafin…” tangisnya kembali pecah. Yara memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu Keenan dari belakang. dr. Awang menepuk bahu Keenan yang kosong.
“Papa juga minta maaf, Ki… Papa nggak bisa nolong kamu malam itu… Papa nentang kamu. Dan sekarang liat Papa, Ki… Papa gagal lagi.” Suara dr, Awang bergetar air matanya jatuh satu per satu. “Papa gagal jagain Abang kamu… Papa nggak bisa bantuin dia… Papa minta maaf sama kamu, Keen.” Keenan merangkul dr. Awang.
Tiga sosok berangkulan bersama mengikhlaskan seorang anak manusia yang sudah lama meninggal. Meningatkan diri mereka masing-masing bahwa keluarga mereka adalah yang terbaik.
***
19 tahun kemudian
Seorang gadis bertubuh mungil memperhatikan display foto yang ada dihadapannya. Dipandangnya foto-foto itu dengan lekat tanpa ia sadar seseorang memperhatikannya dari jauh.
“Ternyata yang ulangtahun malah sibuk liatin foto disini.”
“Eh Ayah…” Gadis itu menyandarkan kepalanya dibahu Ayahnya
“Kenapa liatin foto tante kamu?”
“Kalung dari Ayah ini harusnya buat tante Kia kan?” gadis itu memandang ayahnya dengan tatapan penuh kagum.
“Iya… tante kamu pengin kalung itu sebelum dia meninggal. Umurnya waktu itu sama kayak kamu, 18 tahun.” Mereka menikmati foto yang menunjukan kebahagiaan itu.
“Kia…” suara Yara terdengar bersamaan dengan suara derap kaki yang mendekat. “Kalian disini rupanya… bentar lagi tamunya pada datang, nak.” Yara mengelus rambut anaknya dengan lembut.
“Nanti Kia kesana, Bu. Masih mau sama Ayah.”
“Ya sudah… tapi jangan terlalu lama ya. Eyang-eyang kamu udah pada nungguin juga tuh. Adik kamu juga udah nggak sabar pengin ngasihin kadonya.” Yara memandang Keenan yang masih tersenyum namun matanya memandang foto adiknya. “Keen, Mama Papa nyariin kamu, sayang.”
“Nanti aku kesana sama Kia, Ra.” Yara mengangguk dan mencium pipi kedua manusia yang penting dalam hidupnya lalu melangkah memberikan mereka privasi yang mereka butuhkan.
“Ayah pasti kangen banget sama tante Kia ya… sampe namain anaknya sendiri sama kayak adiknya.” Keenan tertawa.
“Ibu sama Ayah namain kamu sama kaya tante kamu, bukan hanya karena kita kangen sama adik Ayah.” Keenan meremas pundak anak sulungnya.
“Tapi Kia yang ini nggak bisa kayak Kia adik Ayah, Yah… semirip apapun fisik kami.”
“Kia anak Ayah…” Keenan memutar tubuh Kia jadi agar menghadap padanya. “Nggak ada satupun dari keluarga kita yang mengharapkan kamu menjadi Kia adik Ayah…” Keenan mengelus rambut gadisnya dengan penuh kelembutan. “Kamu mau tau alasan kenapa Ibu sama Ayah namain kamu seperti adik Ayah?” Kia kecil mengangguk. “Karena kamu mengisi kekosongan atas kepergian adik Ayah. Hidup Ayah, Ibu, Eyang Awang, Eyang Anti kehilangan kesempurnaannya saat adik Ayah meninggal.” Keenan menarik nafasnya dalam. “Tapi begitu kami gendong kamu, boom! Hidup kami sempurna lagi. Seperti dulu saat adik Ayah masih ada. Kelakuan kamu, fisik kamu yang ternyata mirip sama adik Ayah hanya berupa bonus… karena kami tahu, kamu bukan Kinaya Anindior. Kamu adalah Kinaya Mahezifa Anarghya. Anak Ayah, bukan adik Ayah.” Keenan mencium puncak kepala anak gadisnya dan memeluknya.
“Kia sayang sama Ayah.”
“Ayah jauh lebih sayang kamu.” Keenan melepaskan pelukannya dari Kia. “Kamu susulin Ibu kamu gih! Kan ulangtahunnya udah mau dimulai.” Kia mengangguk. “Selamat ulangtahun, Anakku.” Keenan kembali mencium puncak kepala Kia dan membuat Kia mencium punggung tangan Ayahnya lalu meninggalkan Ayahnya sendiri didepan memori baku tantenya.
Keenan kembali memandang wajah di foto itu dan membalikan tubuhnya 180 derajat dengan perlahan. “Hai Kia…” ucapnya pada sesosok gadis.
“Hai, Bang…” balas gadis itu.
“Abang kangen banget sama kamu, Ki…”
“Kia juga, Bang.” Keenan menunduk malu. “Abang jaga diri ya… biar bisa jagain yang lainnya.” Keenan mengangguk. Berat rasanya untuk tidak menghampiri dan memeluk sosok itu. Tapi Keenan tahu, itu semua hanya ilusi yang dibuat oleh dirinya sendiri. Bukan nyata.
“Abang sayang kamu, Ki…”


“Abang juga tahu kan kalau Kia sayang banget sama Abang.” Kia tersenyum, “Jangan lupa minum obatnya ya, Bang… Abang udah nggak butuh Kia.” Keenan mengangguk dan meninggalkan sosok yang mengikatnya dimasa lalu, berjalan menuju masanya kini dan masanya yang akan datang.***
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com