Air
mata yang untuk kesekian kalinya Arina coba tahan
akhirnya jatuh juga. Naja terdiam, benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi
pada istrinya yang tidak pernah sekali pun marah
padanya selama ini. Naja memegang tangan Arina yang kecil,
Arina menepisnya, “Kenapa kamu menikahiku jika memang menurutmu aku adalah anak
kecil?” nada suaranya mulai merendah, “Selama ini aku terus berpikir, sekali pun
kita tidak pernah berpacaran. Lalu
tiba-tiba kamu memintaku menjadi istrimu. Apa
kamu menikahiku hanya karena kasihan padaku yang sudah tidak punya orang tua?”
Tangis Arina semakin tidak
bisa dihentikan, “Aku tidak semenyedihkan itu Naja.” Arina menghapus air mata
yang membanjiri pipinya, “Apa selama ini hanya aku yang mencintaimu? Kamu
bahkan tidak menyentuhku selayaknya seorang suami. Aku bahkan jarang mendengar bahwa kamu mencitaiku.”
Naja
terdiam, tidak berani menatap mata istrinya, “Bukan seperti itu Arina, aku..-“
“Lalu
apa? Aku tidak pernah sekalipun protes atau menuntut apa pun
darimu.” Arina memotong pembicaraan Naja, “Aku selalu menuruti apa katamu,
tidak sekalipun aku mencurigaimu. Aku
selalu percaya padamu sebagai suamiku. Tapi, perempuan dari masa lalumu datang
dan dengan beraninya dia memintamu kembali
dengannya
dari aku, istrimu,” Naja
membulatkan matanya, kaget dengan apa yang ia dengar,
“Maksudmu
Orissa?”
“Iya,
bahkan kamu sudah berani berbohong padaku kemarin. Bertemu
dengannya diam-diam. Aku melihatmu kemarin,
bertemu dengannya di kedai kopimu, dan terang-terangan tadi kamu mengangkat telepon
darinya di hadapanku,” Arina bangkit dari duduknya, membereskan
tasnya, dan bersiap-siap untuk pergi.
“Kamu
mau kemana?” Naja membujuk Arina, “Jangan seperti ini, aku bisa menjelaskan
semuanya padamu,”
“Apalagi?”
mata Arina sudah sangat dipenuhi airmata. Arina keluar dari kamar meninggalkan
Naja yang sama sekali tidak bisa mencegah istrinya yang tengah
emosi keluar dari tempat mereka berlindung dari hujan dan panas selama ini.
Naja mengusap-usap wajahnya dengan kesal dan menepis majalah yang diletakkan
Arina di atas meja kecil, kemudian duduk lemas di lantai berlapiskan karpet.
Naja tidak menyangka bahwa Orissa akan senekat itu, bahkan Arina tidak mau
mendengar penjelasan Naja terlebih dahulu.
***
Arina
terdiam dengan matanya yang bengkak di taman yang selalu ia datangi sejak ia
kecil bersama Naja dan Dina. Menyapukan pandangannya keseluruh taman, ia bukan
tipikal orang yang gampang marah, namun hatinya benar-benar hancur. Selama ini
memang Arina selalu menyimpan rasa pada Naja, namun ia selalu mengira bahwa Naja
menganggapnya sebagai adik.
Awalnya
Arina menganggap perasaan yang ia simpan untuk Naja adalah hanya rasa kagum
pada seorang kakak laki-laki karena ia adalah
seorang anak tunggal. Namun rasa itu
semakin dalam dan Arina sadar itu bukanlah perasaan kagumnya. Ia amat senang
saat Naja memintanya sebagai istri beberapa bulan lalu, ia menganggap bahwa
bukan hanya ia yang merasakan perasaan sayang bukan sebagai kakak-adik,
melainkan perasaan sayang sebagai dua orang dewasa.
Arina
kembali menangis, semakin kencang hingga beberapa pengunjung taman menatapnya
bingung. Seorang anak kecil membawa permen duduk disebelahnya dan tangan
kecilnya mengelus punggung Arina untuk memberikan kenyamanan. Arina menatapnya
dengan tatapan nanar, anak perempuan kecil itu tersenyum padanya.
Senyuman malaikat kecil. Kemudian
Arina menghapus air matanya, “Kakak kenapa?” anak kecil itu menatap Arina
dengan mata kecilnya, “Kakak tidak boleh menangis. Aku tidak pernah sekali pun
menangis, karena kalau kita menangis, orang yang sayang sama kita akan lebih sedih melihatnya." Kemdudian ia merogoh kantung celananya, mengeluarkan permen kecil rasa
jeruk dan diberikan pada Arina, “Jangan menangis lagi,
Kak,” dengan gaya seperti orang dewasa, anak kecil itu mengelus rambut Arina
yang panjang dan lembut, “Kinanthi.” Seseorang meneriaki nama anak kecil itu,
kemudian ia pergi dari hadapan Arina untuk menghampiri ibunya.
Arina
memandang permen kecil di tangannya. Seorang
anak kecil memberinya nasihat untuk tidak menangis, bahkan anak kecil itu lebih
mengerti dirinya dibanding Naja.
Itulah yang ia pikirkan. Arina menghapus sisa air
matanya dan beranjak dari duduknya, menuju ke suatu tempat yang sudah lama
tidak ia datangi.
***
Langkah
kakinya berhenti di depan sebuah rumah sederhana.
Arina menatap nanar rumah bertingkat yang di bangun dari kayu
berwarna coklat tua, lalu di halaman depan
banyak ditumbuhi rumput dan pohon-pohon kecil. Seorang
perempuan paruh baya yang sedang menyirami pohon-pohon, menghampirinya, “Ada
yang bisa dibantu?” suara itu menyadarkan lamunannya, ia tersenyum, “Tidak ada,
Bu. Saya hanya rindu pada rumah ini.” air matanya
hampir jatuh, namun Arina segera menghapusnya. Ibu itu
tersenyum.
“Mau
masuk kedalam?” tanpa sungkan Ibu itu
mempersilahkan Arina masuk ke dalam rumah yang ia tinggali selama hampir
delapan belas tahun itu. Rumah itu dijual begitu Arina menikah dengan Naja.
Rumah yang arsitekturnya masih seperti dulu, tidak
berubah, yang berubah hanya perabotan dan penghuninya. Arina mengikuti pemilik
rumah itu, lalu duduk di ruang tamu, menyapukan pandangannya, dan air matanya
kembali jatuh.
“Adik
yang dulu punya rumah ini?” Tanya Ibu itu sambil
menyuguhkan cangkir berisikan teh hangat untuknya, Arina mengangguk, “Adik
namanya siapa?”
“Oh iya,
maaf saya hampir lupa memperkenalkan diri,” Arina menghapus air matanya, “Nama
saya Arina, Bu.” Lalu ia
menyodorkan tangannya,
“Saya
Rima.” Ibu Rima menjabat tangan Arina. Ia ikut
menyapukan matanya ke seluruh ruangan, “Pertama kali saya melihat rumah
ini, saya langsung jatuh cinta pada rumah ini, rumahnya nyaman.” Arina
mengangguk. Rumah yang banyak menyimpan kenangan ini memang selalu menjadi tempat
yang paling nyaman,
“Ini
rumah yang banyak sekali menyimpan kenangan dengan kedua orang tua saya,
Bu,” Arina terdiam, mengatur bicaranya, “Begitu saya
menikah, saya memutuskan untuk menjual rumah ini, karena
banyak sekali kenangan yang tersimpan hingga saya tidak bisa berhenti
melupakannya,”
“Kenangan
itu tidak boleh dilupakan, cukup diingat. Jika adik selalu jatuh dalam sebuah
kenangan yang menyedihkan, adik tidak akan pernah bisa menjadi orang yang lebih
baik. Buatlah kenangan itu sebagai sebuah cerita yang berharga.” Ibu Rima
tersenyum lembut padanya. Arina menangis lagi, malah semakin kencang, Ibu
Rima memeluknya dengan penuh kehangatan, pelukan seorang ibu,
“Jangan pernah lari dari sebuah masalah. Bagaiman pun
juga, masalah tidak akan berhenti jika kamu melarikan diri dari masalah itu. Sama
seperti kenangan, kenangan tidak akan hilang jika kita sengaja menjauhkannya.”
Ia menasehati Arina seakan tahu apa yang sedang Arina alami.
***
Naja
berulang kali mengubungi Arina, namun telepon genggamnya
sama sekali tidak aktif. Kemudian ia memutar arah ke rumah kedua orang tuanya,
berharap Arina pergi ke sana. Naja menghentikkan mobilnya di rumah bergaya
modern yang cukup besar dengan cat tembok yang didominasi biru dan putih,
dengan segera Naja masuk. Panik. Hingga membuat Tante Tami kebingungan melihat
anak laki-lakinya,
“Ma,
Arina ke sini?” Tante Tami mengerutkan dahinya, bingung mendengar pertanyaan
Naja.
“Tidak.
Mengapa kamu mencarinya?”
“Sudah
Ma, Naja pergi lagi ya.” Tante Tami menghadang Naja, membutuhkan sebuah
jawaban, “Arina pergi dari rumah, Ma.”
Tatapan Tante Tami menginginkan jawaban yang lebih, “Kami bertengkar.” Tante
Tami menghembuskan nafasnya,
“Sudah coba
kamu cari ke taman yang biasa ia datangi?”
“Sudah
Ma, dia tidak ada di sana.” Naja terlihat putus asa, ia duduk di sofa ruang
tamu,
“Sudah.
Mereka tidak bersama Arina.” Tatapan Tante Tami sedikit menyudutkannya,
“Mama
tidak akan ikut campur urusan kalian. Lebih baik kamu terus cari Arina, Mama
akan mencoba membantu dengan meneleponnya”
“Teleponnya
tidak aktif, Ma. Sudah
berpuluh-puluh kali aku mencoba.”
“Tidak
ada salahnya untuk terus mencoba,” Tante Tami mengelus bahu Naja untuk
sedikit menenangkan anaknya yang panik, “Kamu pergi cari dia lagi.” Naja
mengangguk dan dengan segera pergi lagi untuk mencari Arina.
Nada
sambung terdengar dari kejauhan, lama tidak ada yang mengangkat, lalu masuk ke
kotak suara. Tante Tami mencobanya lagi, setidaknya kali ini telepon genggam
Arina sudah diaktifkan kembali, hingga nada sambung itu akhirnya berganti dengan
suara menantu kesayangannya, “Arina, kamu di mana Nak?”
***
Arina
masuk ke rumah mertuanya dengan enggan. Berharap Naja tidak ada di sana
seperti janji mertuanya yang tidak akan menghadirkan suaminya jika Arina pulang
kerumah mertuanya malam itu. Tante Tami langsung memeluk menantu kesayangannya,
diikuti Dina.
“Kamu
kemana aja, Nak?” tanya Tante Tami penuh rasa khawatir dan
penasaran.
“Mengingat
kenangan, Ma,” jawab Arina “Sekaligus menenangkan hati dan
juga pikiran.”
“Ke mana?”
Tanya Dina,
“Ke rumah
yang sekarang sudah memiliki penghuni lain, Din.” Arina
tersenyum palsu. Dina memeluknya lagi,
“Bawa
Arina ke kamar. Sebelum itu kamu
mandi dan kita makan malam bersama, ya.” Tante Tami
begitu memperhatikan dan menyayanginya.
Tidak
ada satu pun dari keluarga ini mengeluarkan sepatah kata. Arina tidak
bersemangat untuk makan malam, “Arina, bagaimana sudah lulus ujian
universitas?” tanya Ayah mertuanya, Om Hendra. Arina mengangguk, “Oh ya?
Universitas mana?”
“Universitas
Bangsa, Pa.” Dengan singkat Arina menjawab kemudian menutup
kedua sendok dan garpu nya diatas piring, pertanda menyudahi makan malamnya
yang ia sisakan setengahnya, “Arina ke kamar yah Ma, Pa. Arina mengantuk.”
Kedua mertuanya menjawab dengan anggukan,
Hingga
terdengar Arina sudah masuk ke dalam kamar, Tante Tami mulai berbicara perihal
menantu kesayangannya, “Pa, apa kita perlu mengajaknya bicara?”
“Selama
Arina tidak ingin bercerita kepada kita atau meminta pendapat, biarkan dia dan
Naja yang menyelesaikannya, karena hanya mereka
yang tahu apa yang membuat mereka bertengkar.”
“Tapi
Pa..”
“Ma,
kita juga dulu tidak suka kalau kedua orang tua kita mencampuri masalah rumah
tangga kita, kan?”
“Berumah
tangga itu ternyata rumit ya..” Dina kemudian berkomentar. Hening kembali
menyelimuti acara makan malam yang biasa di penuhi cerita itu.
***
Naja
duduk di dekat jendela di kedai kopinya, menunggu seseorang datang. Emosinya
tidak terkendali, perempuan yang sudah ia kenal selama tiga tahun itu duduk di sebelahnya
dengan wajah tak bersalah, dengan santai ia menggenggam tangan Naja, lalu Naja
menepisnya, “Jangan duduk di sebelahku,”
suara Naja terdengar kesal,
“Ada
apa Naja?” Orissa bertanya,
“Mengapa
kamu menemui istriku?! Kamu sudah bertindak sangat keterlaluan dan tidak
melakukan sesuai perjanjian!” suara Naja meninggi, hingga pengunjung yang lain
melihat ke arah mereka berdua, namun Naja tidak perduli.
“Bisa
kamu kecilkan suaramu?” tanya Orissa merasa takut akan Naja yang marah, “Jadi
istrimu sudah cerita aku datang ke apartemen kalian? Perempuan comel.”
“Dari
awal aku sudah bilang jangan ganggu istriku!”
“Tapi
aku ingin kamu! Aku butuh kamu! Aku sakit karena
kamu Naja!” suara Orissa tidak kalah meninggi,
“Kita
hanya teman Orissa, tidak lebih! Aku selama ini selalu mengikuti maumu dengan
perjanjian kamu tidak usah mengganggu istriku!”
“Aku
butuh kamu, Naja. Kamu
tahu aku sakit, kan?”
“Ya,
kamu sakit Orissa. Jiwamu sakit!
Kamu tahu itu!”
“Kumohon
Naja, tetap temani aku”
“Maaf
Orissa, aku tidak bisa lagi. Dari awal kamu tahu aku sudah menikah, kamu tahu
aku tidak bisa. Tapi kamu mengiming-imingi untuk tidak
mengganggu istriku.” Suara Naja mulai rendah, “Tapi sekarang bukan hanya
istriku yang kamu ganggu, tapi rumah tanggaku. Seharusnya dari awal aku tidak
menuruti apa maumu.”
“Naja,
kumohon. Hingga aku sembuh.”
“Kamu
tidak akan pernah sembuh, karena yang sakit
itu jiwamu.” Kemudian Naja pergi dari hadapan Orissa. Meninggalkan Orissa yang
menangis dan ditatap oleh hampir seluruh pengunjung kedai kopi mau pun
staff.***
GREAT!!! Ada typo disana sini and miss story sih.. Tp so far, cool!
BalasHapusAkan diperbaiki.. makasih masukannya dan makasih juga udah membaca yaaah...
Hapusbtw ayoook baca cerita yang lain...