Selasa, 03 Februari 2015

The Bride and Her Groom #4

2

Air mata yang untuk kesekian kalinya Arina coba tahan akhirnya jatuh juga. Naja terdiam, benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada istrinya yang tidak pernah sekali pun marah padanya selama ini. Naja memegang tangan Arina yang kecil, Arina menepisnya, “Kenapa kamu menikahiku jika memang menurutmu aku adalah anak kecil?” nada suaranya mulai merendah, “Selama ini aku terus berpikir, sekali pun kita tidak pernah berpacaran. Lalu tiba-tiba kamu memintaku menjadi istrimu. Apa kamu menikahiku hanya karena kasihan padaku yang sudah tidak punya orang tua?” Tangis Arina semakin tidak bisa dihentikan, “Aku tidak semenyedihkan itu Naja.” Arina menghapus air mata yang membanjiri pipinya, “Apa selama ini hanya aku yang mencintaimu? Kamu bahkan tidak menyentuhku selayaknya seorang suami. Aku bahkan jarang mendengar bahwa kamu mencitaiku.”
Naja terdiam, tidak berani menatap mata istrinya, “Bukan seperti itu Arina, aku..-“
“Lalu apa? Aku tidak pernah sekalipun protes atau menuntut apa pun darimu.” Arina memotong pembicaraan Naja, “Aku selalu menuruti apa katamu, tidak sekalipun aku mencurigaimu. Aku selalu percaya padamu sebagai suamiku. Tapi, perempuan dari masa lalumu datang dan dengan beraninya dia memintamu kembali dengannya dari aku, istrimu,” Naja membulatkan matanya, kaget dengan apa yang ia dengar,
“Maksudmu Orissa?”
“Iya, bahkan kamu sudah berani berbohong padaku kemarin. Bertemu dengannya diam-diam. Aku melihatmu kemarin, bertemu dengannya di kedai kopimu, dan terang-terangan tadi kamu mengangkat telepon darinya di hadapanku,” Arina bangkit dari duduknya, membereskan tasnya, dan bersiap-siap untuk pergi.
“Kamu mau kemana?” Naja membujuk Arina, “Jangan seperti ini, aku bisa menjelaskan semuanya padamu,”
“Apalagi?” mata Arina sudah sangat dipenuhi airmata. Arina keluar dari kamar meninggalkan Naja yang sama sekali tidak bisa mencegah istrinya yang tengah emosi keluar dari tempat mereka berlindung dari hujan dan panas selama ini. Naja mengusap-usap wajahnya dengan kesal dan menepis majalah yang diletakkan Arina di atas meja kecil, kemudian duduk lemas di lantai berlapiskan karpet. Naja tidak menyangka bahwa Orissa akan senekat itu, bahkan Arina tidak mau mendengar penjelasan Naja terlebih dahulu.
***
Arina terdiam dengan matanya yang bengkak di taman yang selalu ia datangi sejak ia kecil bersama Naja dan Dina. Menyapukan pandangannya keseluruh taman, ia bukan tipikal orang yang gampang marah, namun hatinya benar-benar hancur. Selama ini memang Arina selalu menyimpan rasa pada Naja, namun ia selalu mengira bahwa Naja menganggapnya sebagai adik.
Awalnya Arina menganggap perasaan yang ia simpan untuk Naja adalah hanya rasa kagum pada seorang kakak laki-laki karena ia adalah seorang anak tunggal. Namun rasa itu semakin dalam dan Arina sadar itu bukanlah perasaan kagumnya. Ia amat senang saat Naja memintanya sebagai istri beberapa bulan lalu, ia menganggap bahwa bukan hanya ia yang merasakan perasaan sayang bukan sebagai kakak-adik, melainkan perasaan sayang sebagai dua orang dewasa.
Arina kembali menangis, semakin kencang hingga beberapa pengunjung taman menatapnya bingung. Seorang anak kecil membawa permen duduk disebelahnya dan tangan kecilnya mengelus punggung Arina untuk memberikan kenyamanan. Arina menatapnya dengan tatapan nanar, anak perempuan kecil itu tersenyum padanya. Senyuman malaikat kecil. Kemudian Arina menghapus air matanya, “Kakak kenapa?” anak kecil itu menatap Arina dengan mata kecilnya, “Kakak tidak boleh menangis. Aku tidak pernah sekali pun menangis, karena kalau kita menangis, orang yang sayang sama kita akan lebih sedih melihatnya." Kemdudian ia merogoh kantung celananya, mengeluarkan permen kecil rasa jeruk dan diberikan pada Arina, “Jangan menangis lagi, Kak,” dengan gaya seperti orang dewasa, anak kecil itu mengelus rambut Arina yang panjang dan lembut, “Kinanthi.” Seseorang meneriaki nama anak kecil itu, kemudian ia pergi dari hadapan Arina untuk menghampiri ibunya.
Arina memandang permen kecil di tangannya. Seorang anak kecil memberinya nasihat untuk tidak menangis, bahkan anak kecil itu lebih mengerti dirinya dibanding Naja. Itulah yang ia pikirkan. Arina menghapus sisa air matanya dan beranjak dari duduknya, menuju ke suatu tempat yang sudah lama tidak ia datangi.
***
Langkah kakinya berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Arina menatap nanar rumah bertingkat yang di bangun dari kayu berwarna coklat tua, lalu di halaman depan banyak ditumbuhi rumput dan pohon-pohon kecil. Seorang perempuan paruh baya yang sedang menyirami pohon-pohon, menghampirinya, “Ada yang bisa dibantu?” suara itu menyadarkan lamunannya, ia tersenyum, “Tidak ada, Bu. Saya hanya rindu pada rumah ini.” air matanya hampir jatuh, namun Arina segera menghapusnya. Ibu itu tersenyum.
“Mau masuk kedalam?” tanpa sungkan Ibu itu mempersilahkan Arina masuk ke dalam rumah yang ia tinggali selama hampir delapan belas tahun itu. Rumah itu dijual begitu Arina menikah dengan Naja. Rumah yang arsitekturnya masih seperti dulu, tidak berubah, yang berubah hanya perabotan dan penghuninya. Arina mengikuti pemilik rumah itu, lalu duduk di ruang tamu, menyapukan pandangannya, dan air matanya kembali jatuh.
“Adik yang dulu punya rumah ini?” Tanya Ibu itu sambil menyuguhkan cangkir berisikan teh hangat untuknya, Arina mengangguk, “Adik namanya siapa?”
“Oh iya, maaf saya hampir lupa memperkenalkan diri,” Arina menghapus air matanya, “Nama saya Arina, Bu.” Lalu ia menyodorkan tangannya,
“Saya Rima.” Ibu Rima menjabat tangan Arina. Ia ikut menyapukan matanya ke seluruh ruangan, “Pertama kali saya melihat rumah ini, saya langsung jatuh cinta pada rumah ini, rumahnya nyaman.” Arina mengangguk. Rumah yang banyak menyimpan kenangan ini memang selalu menjadi tempat yang paling nyaman,
“Ini rumah yang banyak sekali menyimpan kenangan dengan kedua orang tua saya, Bu,” Arina terdiam, mengatur bicaranya, “Begitu saya menikah, saya memutuskan untuk menjual rumah ini, karena banyak sekali kenangan yang tersimpan hingga saya tidak bisa berhenti melupakannya,”
“Kenangan itu tidak boleh dilupakan, cukup diingat. Jika adik selalu jatuh dalam sebuah kenangan yang menyedihkan, adik tidak akan pernah bisa menjadi orang yang lebih baik. Buatlah kenangan itu sebagai sebuah cerita yang berharga.” Ibu Rima tersenyum lembut padanya. Arina menangis lagi, malah semakin kencang, Ibu Rima memeluknya dengan penuh kehangatan, pelukan seorang ibu, “Jangan pernah lari dari sebuah masalah. Bagaiman pun juga, masalah tidak akan berhenti jika kamu melarikan diri dari masalah itu. Sama seperti kenangan, kenangan tidak akan hilang jika kita sengaja menjauhkannya.” Ia menasehati Arina seakan tahu apa yang sedang Arina alami.
***
Naja berulang kali mengubungi Arina, namun telepon genggamnya sama sekali tidak aktif. Kemudian ia memutar arah ke rumah kedua orang tuanya, berharap Arina pergi ke sana. Naja menghentikkan mobilnya di rumah bergaya modern yang cukup besar dengan cat tembok yang didominasi biru dan putih, dengan segera Naja masuk. Panik. Hingga membuat Tante Tami kebingungan melihat anak laki-lakinya,
“Ma, Arina ke sini?” Tante Tami mengerutkan dahinya, bingung mendengar pertanyaan Naja.
“Tidak. Mengapa kamu mencarinya?”
“Sudah Ma, Naja pergi lagi ya.” Tante Tami menghadang Naja, membutuhkan sebuah jawaban, “Arina pergi dari rumah, Ma.” Tatapan Tante Tami menginginkan jawaban yang lebih, “Kami bertengkar.” Tante Tami menghembuskan nafasnya,
Sudah coba kamu cari ke taman yang biasa ia datangi?”
“Sudah Ma, dia tidak ada di sana.” Naja terlihat putus asa, ia duduk di sofa ruang tamu,
“Sudah. Mereka tidak bersama Arina.” Tatapan Tante Tami sedikit menyudutkannya,
“Mama tidak akan ikut campur urusan kalian. Lebih baik kamu terus cari Arina, Mama akan mencoba membantu dengan meneleponnya”
“Teleponnya tidak aktif, Ma. Sudah berpuluh-puluh kali aku mencoba.”
“Tidak ada salahnya untuk terus mencoba,” Tante Tami mengelus bahu Naja untuk sedikit menenangkan anaknya yang panik, “Kamu pergi cari dia lagi.” Naja mengangguk dan dengan segera pergi lagi untuk mencari Arina.
Nada sambung terdengar dari kejauhan, lama tidak ada yang mengangkat, lalu masuk ke kotak suara. Tante Tami mencobanya lagi, setidaknya kali ini telepon genggam Arina sudah diaktifkan kembali, hingga nada sambung itu akhirnya berganti dengan suara menantu kesayangannya, “Arina, kamu di mana Nak?”
***
Arina masuk ke rumah mertuanya dengan enggan. Berharap Naja tidak ada di sana seperti janji mertuanya yang tidak akan menghadirkan suaminya jika Arina pulang kerumah mertuanya malam itu. Tante Tami langsung memeluk menantu kesayangannya, diikuti Dina.
“Kamu kemana aja, Nak?” tanya Tante Tami penuh rasa khawatir dan penasaran.
“Mengingat kenangan, Ma,” jawab Arina “Sekaligus menenangkan hati dan juga pikiran.”
“Ke mana?” Tanya Dina,
“Ke rumah yang sekarang sudah memiliki penghuni lain, Din.” Arina tersenyum palsu. Dina memeluknya lagi,
“Bawa Arina ke kamar. Sebelum itu kamu mandi dan kita makan malam bersama, ya.” Tante Tami begitu memperhatikan dan menyayanginya.
Tidak ada satu pun dari keluarga ini mengeluarkan sepatah kata. Arina tidak bersemangat untuk makan malam, “Arina, bagaimana sudah lulus ujian universitas?” tanya Ayah mertuanya, Om Hendra. Arina mengangguk, “Oh ya? Universitas mana?”
“Universitas Bangsa, Pa.” Dengan singkat Arina menjawab kemudian menutup kedua sendok dan garpu nya diatas piring, pertanda menyudahi makan malamnya yang ia sisakan setengahnya, “Arina ke kamar yah Ma, Pa. Arina mengantuk.” Kedua mertuanya menjawab dengan anggukan,
Hingga terdengar Arina sudah masuk ke dalam kamar, Tante Tami mulai berbicara perihal menantu kesayangannya, “Pa, apa kita perlu mengajaknya bicara?”
“Selama Arina tidak ingin bercerita kepada kita atau meminta pendapat, biarkan dia dan Naja yang menyelesaikannya, karena hanya mereka yang tahu apa yang membuat mereka bertengkar.”
“Tapi Pa..”
“Ma, kita juga dulu tidak suka kalau kedua orang tua kita mencampuri masalah rumah tangga kita, kan?”
“Berumah tangga itu ternyata rumit ya..” Dina kemudian berkomentar. Hening kembali menyelimuti acara makan malam yang biasa di penuhi cerita itu.
***
Naja duduk di dekat jendela di kedai kopinya, menunggu seseorang datang. Emosinya tidak terkendali, perempuan yang sudah ia kenal selama tiga tahun itu duduk di sebelahnya dengan wajah tak bersalah, dengan santai ia menggenggam tangan Naja, lalu Naja menepisnya, “Jangan duduk di sebelahku,” suara Naja terdengar kesal,
“Ada apa Naja?” Orissa bertanya,
“Mengapa kamu menemui istriku?! Kamu sudah bertindak sangat keterlaluan dan tidak melakukan sesuai perjanjian!” suara Naja meninggi, hingga pengunjung yang lain melihat ke arah mereka berdua, namun Naja tidak perduli.
“Bisa kamu kecilkan suaramu?” tanya Orissa merasa takut akan Naja yang marah, “Jadi istrimu sudah cerita aku datang ke apartemen kalian? Perempuan comel.”
“Dari awal aku sudah bilang jangan ganggu istriku!”
“Tapi aku ingin kamu! Aku butuh kamu! Aku sakit karena kamu Naja!” suara Orissa tidak kalah meninggi,
“Kita hanya teman Orissa, tidak lebih! Aku selama ini selalu mengikuti maumu dengan perjanjian kamu tidak usah mengganggu istriku!”
“Aku butuh kamu, Naja. Kamu tahu aku sakit, kan?”
“Ya, kamu sakit Orissa. Jiwamu sakit! Kamu tahu itu!”
“Kumohon Naja, tetap temani aku”
“Maaf Orissa, aku tidak bisa lagi. Dari awal kamu tahu aku sudah menikah, kamu tahu aku tidak bisa. Tapi kamu mengiming-imingi untuk tidak mengganggu istriku.” Suara Naja mulai rendah, “Tapi sekarang bukan hanya istriku yang kamu ganggu, tapi rumah tanggaku. Seharusnya dari awal aku tidak menuruti apa maumu.”
“Naja, kumohon. Hingga aku sembuh.”

“Kamu tidak akan pernah sembuh, karena yang sakit itu jiwamu.” Kemudian Naja pergi dari hadapan Orissa. Meninggalkan Orissa yang menangis dan ditatap oleh hampir seluruh pengunjung kedai kopi mau pun staff.***

2 komentar:

  1. GREAT!!! Ada typo disana sini and miss story sih.. Tp so far, cool!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akan diperbaiki.. makasih masukannya dan makasih juga udah membaca yaaah...

      btw ayoook baca cerita yang lain...

      Hapus

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com